Apakah saya terlalu nafsu?

cepat juga ya saya update...heheheheh...

biasanya mahasiswa gak ada kerjaan ya gini deh...

heheheh

oh ya, soal yang kemarin review...saya jelaskan lagi deh disini...

sebenernya ini murni cerita saya. tapi selama proses pembuatan cerita saya pake nama orang lain sambil ngebayangi idola saya

*nosebleed*

makanya kalo ada yang salah saya mohon maaf segede-gedenya... *segede gunung merapi*

biasa... saya kan manusia biasa juga...hehehe

tapi suerrr dehh *disambarpetir**tepar*

ini beneran ide saya...heheheheheeh

ok dehhh...

yg review kemarin udah saya lemparin pake granat ke PM... *digebukin warga jeruk purut*

yoshhh! kali ini review lagi... saya suka kok ada yang review dan kasih tahu salah saya dimana...heheheheh

langsung dehhh...

disclaimer : lum berubah ama Tite Kubo...

warning : misstypo, gaje, AU, OOC, abal... segalanya dahhh...


Ada 2 pesan masuk kedalam ponsel Rukia. Dia tak bisa membuka ponselnya sama sekali karena ujian yang sangat sulit itu. Apalagi dengan dosen yang menyebalkan itu. Sama sekali tidak.

Satu dari ibunya. Hari sudah terlalu sore dan dia belum pulang juga tanpa kabar. Benar-benar membuat khawatir. Ibunya yang satu itu memang sangat overprotektif bila tak ada kabar dari Rukia.

Yang satu lagi dari Senna. Dia memang berjanji akan mengunjungi Senna dilokasi syutingnya. Tapi itu sulit karena hari ini begitu banyak pekerjaannya sebagai mahasiswa.

Perutnya sudah melilit sedari tadi menahan lapar. Dan sekarang Rukia bingung. Harus kemana dulu. Apakah pulang atau menengok Senna. Padahal hari sudah hampir malam. Dan tentu saja, dia tak suka berjalan dimalam hari sendirian. Kalau ada Senna setidaknya dia bisa sedikit aman. Sennakan pintar berkelahi untuk ukuran cewek.

Rukia memutuskan akan mengunjungi Senna kalau masih sempat. Sepertinya masih sempat. Tak mungkin kan syuting sudah berakhir? Biasanya membuat film setidaknya berlangsung sampai malam. Dan dia bisa meminta Senna menemaninya makan dimana saja mengingat sekarang ini perutnya tambah melilit tak karuan.

Begitu sampai dilokasi syuting, Rukia langsung merasa aneh. Bagaimana mungkin bisa syuting disebuah gedung tua? Sebenarnya cerita tentang apa ini?

Sewaktu Senna menceritakan tentang film yang akan dimainkannya itu, Rukia sama sekali tak fokus karena memikirkan begitu banyaknya ujian yang akan dia hadapi.

Tapi begitu sampai dilokasi syuting itu, dirinya seakan terkena lotre yang meleset.

Lokasinya sepi dan tak ada orang. Masa sih?

Dia ingat juga, Rukia sama sekali tak terlalu fokus membaca pesan dari Senna.

Dibukanya lagi ponselnya dan mencari pesan dari Senna.

Kau lama sekali. Aku sudah pulang sekarang. Oh ya. kau tak perlu menjemputku. Aku sekarang sedang ada acara dengan temanku. Kau langsung pulang ya. byebye.

Astaga! Sekarang hari sudah malam dan dia sama sekali tak bisa pulang karena sudah terlalu gelap. Akhirnya Rukia nekat menelpon Senna untuk menjemputnya disini.

Dengan gelisah dan terus mondar mandir tanpa arah, Rukia terus menghubungi Senna. Tapi tak diangkat sama sekali. Sudah hampir 10 kali tapi tak diangkat sama sekali. Sekarang ini bagaimana? Rukia takut malam hari!

vVv


" Kakak, aku kembali kelokasi… ya… cuma sebentar saja… ada yang ketinggalan. Bukan hal penting. Aku bisa kok… kemarin kan aku yang bawa mobilnya… kakak pergi keklub aja. disana banyak wanita cantik! Sudah ya…," ujar Ichigo langsung memutuskan earphone yang dia gunakan untuk menghubungi managernya yang kelewat aneh itu.

Dia baru saja keluar 10 menit tapi langsung ditelpon. Apa dia anak kecil? Yang benar saja. bukan seperti itu bukan? Mungkin karena sejak insiden kemarin, Ichigo jadi sedikit kesal. Karena reporter darimanapun ingin meliputnya. Bahkan tiba-tiba saja, dilokasi syuting ada paparazzi yang membuntuti dia sejak pagi.

Ichigo menyukai malam hari. Hari dimana tak seorangpun yang mengenalnya. Ataupun menguntitnya. Dimalam hari Ichigo bisa keluar kemana saja. didalam kegelapan tak ada yang mengenalinya. Sejujurnya Ichigo bosan dengan kehidupan sebagai seorang aktor terkenal. Membuatnya serba salah dalam melakukan sesuatu. Hari inipun, Ichigo hanya mengenakan celana jeans biasa, kaos oblong yang dia padukan dengan syal tipis berwarna hitam, topi hitam dan kacamata biasa. Setidaknya dia sudah seperti orang biasa umumnya. Bukan aktor terkenal.

Begitu melewati gedung tua yang digunakan sebagai lokasi syuting, Ichigo memarkirkan mobil sedan putihnya di depan gedung. Mobil sedan putih yang semi sport itu sengaja dikirim kemari dari Jepang. Ichigo tak mau menggunakan mobil lain selain mobilnya yang Cuma punya 2 pintu itu. Hari pertama membawanya memang terkesan janggal dengan jalanan Jakarta yang padat dan kecil ini.

Memasuki gedung itu, akhirnya Ichigo bisa menghirup udara malam. Baiklah, dia memang berbohong pada managernya soal barang yang tertinggal. Dia ingin menyendiri dulu. Pekerjaannya kali ini tak akan mudah. Apalagi pihak agensi dari Jepang mulai mempertanyakan gossip gay itu. Astaga! Ichigo 100% laki-laki normal. Mana mungkin dia gay apalagi pada managernya sendiri. Tentu saja Kyouraku Shunsui menyukai wanita seksi yang cantik. Lalu pandangan Ichigo berhenti pada gadis yang memasuki gedung. Gadis itu dari tadi celingak celinguk memperhatikan isi gedung dan membuka ponselnya berkali-kali. Lalu merutuk pada diri sendiri seolah kesal. Lalu gadis itu mondar mandir tak karuan sambil menatap ponselnya dan menelpon seseorang.

Tunggu dulu!

Ichigo mengenal gadis aneh itu. Gadis yang datang pada acara kemarin malam. Sekaligus yang membuat dirinya terlibat gossip murahan. Bukannya gadis itu adalah sepupu aktris yang menjadi lawan mainnya itu?

Ichigo mendekatinya tanpa suara. Mau apa gadis itu malam begini? Apalagi digedung tua yang tak ada orangnya? Apa dia tak waras? Baiklah sekarang Ichigo penasaran sekali dengan gadis ini. Kenapa sejak pertama kali bertemu gadis ini selalu melakukan hal yang sama sekali tak pernah diduganya?

Ketika Ichigo berdiri tak jauh dari gadis itu, Ichigo memperhatikan tubuh gadis itu yang sedikit gemetar. Apa dia kedinginan? Ketika Ichigo menepuk pelan pundak gadis itu bahkan terlalu pelan, gadis itu terlonjak kaget. Memutar tubuhnya menghadap Ichigo, lalu berteriak sekencangnya.

Otomatis Ichigo panik sejadinya. Kenapa gadis ini berteriak?

vVv


Rukia terus berusaha menelpon Senna, tapi tak ada jawaban. Kenapa tak ada jawaban? Apa yang harus dilakukannya?

Bukannya Rukia tak bisa pulang sendiri. Tapi dia takut malam hari. Terkadang banyak kejadian aneh dimalam hari. Apalagi dikota besar layaknya Jakarta. Sekarang dia menyesal kenapa Rukia sama sekali tak membaca dengan benar pesan dari Senna untuknya.

Baru saja akan menghubungi ibunya dirumah, Rukia merasa ada yang berjalan mendekatinya. Langkahnya memang pelan dan sangat pelan. Kenapa ada orang yang mengendap begitu dibelakangnya? Firasatnya tak enak. Apa mungkin? Cepat-cepat Rukia menghapus bayangan itu. Jangan panik. Bersikap biasa saja. mungkin hanya perasaannya saja. ketika Rukia hendak melangkah, seseorang menepuk pundaknya dengan pelan. Sekujur tubuhnya langsung merinding dan gemetaran. Siapa?

Rukia langsung berbalik dan berteriak sekencangnya. Rukia terduduk dan memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya. Siapa saja! tolong! Batin Rukia.

" Hei… hei… apa yang kau lakukan?," ujar orang tanpa identitas itu.

Wajar saja karena Rukia tak mengenalnya. Merasa orang itu tak melakukan apapun padanya, Rukia memberanikan diri mendongak menatapnya. Tubuhnya masih gemetar. Matanya sedikit kabur karena hampir menangis. Rukia mengerjap berkali-kali dan menyadari bahwa itu seseorang yang dia kenal. Seseorang yang hampir bermasalah karenanya.

" Kuro... Kurosaki... Ichi... go?," gumam Rukia perlahan. Kenapa ada dia disini? Batin Rukia. Ichigo bersedekap dada menatapnya. Tentunya dengan sinis sekali.

" Kau mau membuat masalah lagi denganku? Yang benar aja! Kenapa kau berteriak seperti aku mau melakukan sesuatu padamu?," cerocos Ichigo.

Rukia menunduk menahan malu. Kali ini dia pasti akan dipancung oleh Ichigo karena bermasalah dengannya lagi.

" Maafkan aku. Aku kira… tadi… aku benar-benar takut… suasana disini gelap dan hari sudah malam. Aku kira aku akan di… di…," Rukia gelagapan mengungkapkan alasan sebenarnya dia bersikap berlebihan begitu.

" Bangunlah…," ujar Ichigo sambil mengulurkan tangannya bermaksud membantu Rukia berdiri. Rukia menatap tangan yang terjulur kearahnya itu.

" Kau gak mau bangun? Kau berencana mau sampai kapan duduk disitu?," suara Ichigo menyentakkan Rukia yang bengong menatap tangannya itu. Setelah bersusah payah menelan ludahnya sendiri Rukia menyambut uluran tangan itu. Tangan Ichigo lumayan besar dan… hangat? Kulitnya juga halus sekali. Ya ampun! Kenangan gay itu muncul lagi! Rukia menggelengkan kepalanya menolak fantasi aneh ketika mereka bertemu pertama kali diruangan itu.

" Kali ini apalagi? Kuharap kau sama sekali gak membayangkan soal gay itu lagi!," ancam Ichigo.

" Gak... gak! Sama sekali nggak kok. Aku cuma… berpikir… kau mirip wanita…," ujar Rukia tanpa berpikir lagi. Ichigo langsung melotot menatap Rukia.

" Aku… aku mirip wanita? Hah? Bagian mana yang aku mirip wanita?,"

" Kulitmu halus sekali. Mirip wanita. Kulitmu mirip kulitnya Senna. Kau tahu, Senna itu selalu kesalon setiap 3 hari sekali untuk tubuhnya. Kau pasti selalu kesalon kan? Itu kan mirip wanita…," cerocos Rukia. Merasa kata-katanya mulai aneh, Rukia menutup mulutnya dan kembali meralat ucapannya.

" Maksudku… bukan kau memang gay atau—,"

" Berhenti bicara tentang gay! Kau tahu kau salah tentang hal itu! Aku ini pria normal nona…, lagipula, kulit halus atau tidak itukan semua pria atau wanita memilikinya!," Ichigo menunjuk kearah Rukia. Kali ini dia sedikit kesal dengan gadis itu.

" Maafkan aku…," Rukia menundukkan sedikit kepalanya.

Ichigo berjalan lurus dengan langkah lebar meninggalkan Rukia. Merasa ditinggal, Rukia berseru memanggilnya. Tapi sama sekali tak didengar, akhirnya Rukia berlari menghampirinya. Saat itu Ichigo sudah nyaris masuk kedalam mobilnya.

" Tu… tunggu dulu Ichi!," Rukia berteriak memanggilnya. Ichigo menoleh padanya. Ichigo bersedekap dada lagi dan bersandar pada pintu mobilnya. Karena berlari Rukia mengatur nafasnya yang tersengal.

" Apalagi?," suara ketus Ichigo membuat Rukia batal melakukan niatnya.

" Kau… kau mau pulang?," Tanya Rukia hati-hati.

" Tentu saja. aku gak mau semalaman disini! Kau juga pulang kan? Kalau begitu selamat malam!," Ichigo membuka pintu mobilnya.

" E-eh tunggu!," Rukia menarik lengan Ichigo. ketika Rukia menatap Ichigo, Rukia mengerti dan melepas pegangan tangannya dikaos Ichigo. saat itu Ichigo mendelik sinis pada tangan Rukia yang menarik ujung lengan kaosnya.

" Kau tahu ini malam hari kan?," ujar Rukia kembali hati-hati.

" Lalu?,"

" Aku tak suka malam hari…," ujar Rukia sedikit nyengir.

" Bukan urusanku!,"

" Sebenarnya aku bisa pulang sendiri, tapi aku tak suka berjalan sendirian dimalam hari, dari tadi aku menelpon Senna tapi sama sekali tak diangkat… jadi…,"

" Maksudmu, kau ingin aku mengantarmu pulang?," kata Ichigo menebak apa yang sebenarnya coba dijelaskan Rukia.

" Sebenarnya kalau kau gak mau juga gak apa-apa tapi—,"

" Kalau begitu aku tak mau… selamat malam!," seru Ichigo lalu masuk kedalam mobilnya. Rukia menggedor pelan kaca mobilnya tapi Ichigo tetap melajukan mobilnya. Rukia sekarang harus bagaimana? Berjalan sendirian dimalam hari benar-benar menakutkan!

vVv


" Mengantarnya pulang? Yang benar saja! Dia selalu membuat masalah setiap kali aku bertemu dengannya!," gumam Ichigo didalam mobilnya ketika dia berhasil meninggalkan gadis itu. Ketika menyalakan mobilnya, Ichigo masih melihat gadis itu yang berdiri mematung dibelakang mobilnya melalui kaca spion. Sebenarnya ada rasa kasihan meninggalkannya seperti itu. Namun, Ichigo tidak suka berurusan dengan wanita. Apalagi dengan orang yang membuatnya harus digosipkan yang menyebalkan begitu. Tapi, gadis itu bilang dia benci malam hari bukan?

Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya? Bagaimana kalau dia masuk kegedung itu lagi? Bagaimana kalau orang yang bernama Senna itu sama sekali tak menjawab telepon dan menjemputnya? Bukannya tadi, sewaktu Ichigo mendekati gadis itu, reaksinya terlalu berlebihan dan ketakutan luar biasa? Bahkan dia nyaris menangis?

Tunggu sebentar! Kenapa Ichigo memikirkan gadis itu? Ada apa dengannya?

Kalau dia memang peduli pada seorang gadis, tentunya bukan orang yang seperti itu bukan? Tidak… tidak… tidak… jangan melibatkan masalah terlalu jauh dengan gadis itu!

Gadis itu berbahaya. Bahkan ketika pertama bertemupun sudah berbahaya.

Ichigo nyaris keluar jalur lantaran terlalu banyak berpikir. Yang benar saja. kenapa harus memikirkan gadis itu?

Pasti dia sudah pulang dengan selamat. Pasti! Mungkin malah sekarang dia sudah tidur dirumahnya. Bagaimana kalau tidak?

Baiklah! Ichigo benci penasaran! Karena itu Ichigo memutar kembali arah mobilnya. Menaikkan sedikit kecepatannya. Bukan karena dia khawatir. Hanya memastikan saja. Memastikan gadis itu pulang dan dia tak memikirkannya lagi!

Rukia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat hati. Apa yang harus dilakukannya?

Ketika dia mencoba menghubungi Senna kembali, baterainya langsung kosong. Ya ampun!

Dia lupa men-charger ponselnya selama 2 hari. Pantas saja habis. Ingin rasanya Rukia melempar benda itu sejauh mungkin. Sekarang bagaimana?

Dia bertemu dengan Ichigo, tapi pria itu langsung meninggalkannya. Tentu

saja. Pastilah Ichigo membencinya karena ulahnya sendiri. Rukia berjalan tanpa arah. Dia hanya berjalan lurus saja. paling tidak masih ada cahaya lampu jalan dan satu dua orang yang melintas disampingnya. Perutnya lapar. Tentu saja. dari pagi sampai siang tadi, dia sama sekali belum mengisi perut. Akhirnya, karena lelah berjalan tanpa arah, karena halte bis tak nampak dan tak satupun angkutan yang lewat. Padahal ini masih belum terlalu malam. Rukia duduk dipinggir jalan. Menelungkupkan kepalanya diantara sela lututnya.

Entah berasal dari mana, Rukia mendengar deru suara mesin mobil yang lumayan berisik. Mobil siapa? Rukia mengangkat wajahnya dan melihat sebuah mobil sedan putih yang semi sport itu. Hah?

Secepat kilat Rukia berdiri dan melongo kearah jendela mobil yang dibuka itu. Masa sih?

" Ternyata memang belum pulang…," gumam Ichigo kesal.

" Heh?," hanya suara itu yang meluncur dari Rukia. Bukannya Ichigo sudah pergi? Lalu kenapa berhenti disini?

" Kurosaki Ichigo? Ada apa kesini? Kau lupa sesuatu?," Tanya Rukia dengan polosnya.

" Masuklah…," ujar Ichigo singkat sambil menatap lurus kedepan.

" Maksudmu… kau memberiku tumpangan?," lagi, Rukia bertanya dengan polosnya.

" Kalau kau tidak mau, aku akan segera pergi!," ancam Ichigo.

" Hei… hei… tunggu dulu! Aku mau. Siapa yang bilang tidak mau?," Rukia langsung masuk kedalam mobil sedan itu sambil menyengir selebar mungkin.

Ketika mobilnya berjalan, Ichigo hanya diam saja. tak mengatakan apapun hingga…

" Alamatmu dimana?," Tanya Ichigo. terkesan dingin dan menyebalkan!

" Hah?,"

" Aku Tanya alamatmu dimana? Atau kau mau aku menurunkanmu ditengah jalan?,"

" Oh… alamatku…,"

Belum usai dengan alamat yang dimaksud, perut Rukia berbunyi tidak karuan. Rukia mengutuk kesal pada bunyi perutnya yang tidak tepat waktu itu.

Kembali Rukia nyengir tak enak. Ichigo menatap Rukia melalui kaca spionnya. Apalagi yang dilakukan gadis ini? Batin Ichigo.

" Ehmm… bisakah kita berhenti ditempat makan sebentar?," ujar Rukia sambil menelan ludahnya dengan susah payah.

vVv


" Kau belum makan dari pagi tadi? Yang benar saja…!," keluh Ichigo begitu mereka berhenti disebuah rumah makan yang tak terlalu ramai. Ichigo hanya berharap tak akan ada yang mengenalinya disini. Ichigo hanya memesan cappuchino dan Rukia makan dengan lahapnya dengan pesanannya yang dia makan dengan sadisnya.

" Tadi aku ada ujian, sampai sore. Dan harusnya Senna menungguku dilokasi syutingnya. Nyatanya dia malah janjian sama temannya dan meninggalkanku. Lalu ponselku mati, dan aku gak bisa menghubungi siapapun. Aku benar-benar bingung saat itu! Untungnya kau kembali dan mengantarku. Terima kasih Ichi!," ujar Rukia bersemangat.

" Ichi? Kau memanggilku Ichi? Harusnya kau memanggilku Kurosaki Ichigo. mengerti!,"

" Kurosaki Ichigo terlalu panjang. Lebih enak Ichi. Tapi yang kutahu artinya Ichi itu satu ya? Berarti kau satu-satunya dong...," kali ini Rukia mengoceh tanpa arah. Ichigo hanya diam tak bersuara. Dia belum pernah menemukan gadis seperti ini sebelumnya. Tidak seperti yang dulu.

" Seharusnya kau sedikit terkesan bisa ditemani makan oleh aktor sepertiku!," rutuk Ichigo.

" Jadi maksudmu… aku harus histeris seperti kemarin?,"

Ichigo diingatkan akan kenangan buruk kemarin malam itu. Benar-benar memalukan!

" Tidak! Bukan yang seperti itu… memangnya kau sama sekali tidak berkesan sedikitpun? Didepanmu ini aktor terkenal," Ichigo sama sekali tak meminta dirinya digilai layaknya ketika dia bertemu dengan fans fanatiknya. Hanya saja…

" Nggak… karena aku gak suka aktor. Menurutku, kau seperti orang biasa saja. aku gak punya perasaan seperti itu… mungkin karena aku kenal seorang aktris ya…," ujar Rukia sambil berpikir sejenak.

" Aktris?," Tanya Ichigo,

" Ehm… Senna. Lawan mainmu difilm barumu. Dia sepupuku. Aku tinggal dirumahnya. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Jadi, bagiku, bertemu aktor atau aktris sama saja. Gak ada yang hebat…," jelas Rukia.

Dalam hati, Ichigo begitu bersyukur. Ada satu orang lagi yang memperlakukannya seperti biasa. Sama seperti Kyouraku yang memperlakukannya seperti orang biasa. Perlahan, Ichigo mulai tertarik dengan gadis yang makan didepannya ini.

Setidaknya, gadis ini bukan fans fanatic yang bertingkah layaknya paparazzi ketika bertemu dengannya. Tapi tetap saja, masalah kemarin tak akan hilang begitu saja lantaran gadis ini sama sekali tak memandangnya seperti aktor terkenal seperti umumnya.

Ichigo dan Rukia segera meninggalkan restoran kecil itu ketika menyadari bahwa penjaga kasirnya mengenali Ichigo. dengan sedikit sandiwara sederhana, Rukia berbohong pada penjaga kasir itu yang mengatakan bahwa Ichigo adalah kakaknya yang baru saja operasi plastik. Walau sepertinya alasan itu begitu konyol.

Ichigo mengantarkan Rukia pulang. Begitu tiba didepan rumahnya, sudah ada mobil Senna digarasinya. Rukia langsung merutuk kesal. Setelah melepas sabuk pengaman dan menutup pintunya, Rukia berdiri didekat pintu mobil Ichigo. Ichigo membuka kaca jendelanya.

" Terima kasih untuk hari ini. Lain kali aku gak akan merepotkanmu lagi. Terima kasih Ichi!," ujar Rukia sambil tersenyum.

" Tentu saja. Lain kali kalau kau merepotkanku lagi aku akan buat perhitungan!,"

" Tentu saja. Gak akan dua kali. Oh ya Ichi. Aku baru sadar. Ternyata kau memang orang baik!,"

vVv


naa minna...

apa semakin gaje?

saya terharu banget ada yang suka cerita ini... hiks...

*nangisbombay*

nah...

doain ya saya segera menuntaskan fic ini biar update cerita lain yang lebih abal...

*digorokpakegarpu*

Jaa mata nee...!

selalu ditunggu review berharga dari reader dan senpai sekalian...