Nee Minnaa!

Maaf ngaret... biasanya cepet terus...

kemaren sibuk ama kondangan... *gak penting*

trus kemarennya lagi malah akun saya gak mau uplod tuh fic...

*nangisgaje*

dan rupanya... *tengtengteng*

fanfic emang lagi ngradak...

jadi dapat tips sangat berarti dari senpai yang publish tips uplod fanfic.

*nangisterharu*melukmeluk*

jadi untung saya bisa publish...

nih chap mestinya 2, tapi kemaren bikin satu pendek amat, jadi saya gabung deh... heheheheheh

ada yang nanya soal setting nih...

kalo setting emang bener udah di Jakarta, Jepang tuh kan tempat awalnya Ichigo lahir, jadi dibawa-bawa deh~

jadi maklum aja nih kalo kepanjangan dan bikin pegal... hahahahahahah

*tuh udah tahu!*

nahh... happy reading minna... jangan lupa senantiasa RnR yaaa...

Disclaimer : Tite Kubo.

Warning : OOC, AU, MissTypo, Gaje, Abal, dan sebagainya silahkan dimasukkan...


Sudah 5 hari semenjak Ichigo mengantar Rukia pulang. Bahkan ketika ibunya dan Senna—ayah Senna, juga ayah Rukia kini, tak terlalu tertarik dengan masalah wanita. Dia hanya ikut mendengar saja—curiga kenapa Rukia pulang begitu malam dan nyaris tertangkap basah ketika mendengar suara mobil didepan rumah mereka, ibu dan anak itu langsung bertingkah layaknya interrogator yang menginterogasi apa yang dilakukan oleh Rukia. Niat Rukia yang ingin memarahi Rukia terlupakan. Yoruichi sampai begitu bahagia ketika menyadari bahwa Rukia diantar oleh seorang pria. Ya benar. Yoruichi memang tidak salah. Dia memang diantar seorang pria. Namun, jika mereka tahu seorang pria seperti aktor Ichigo mengantarnya, semuanya akan jadi heboh dan tak terkendali. Lebih baik diam saja.

Apalagi Senna sama sekali tak berdosanya mengoceh karena dia tak mengangkat telepon dari Rukia. Dia beralasan tak mendengarnya sampai pulang kerumah. Dan begitu Senna menelpon Rukia balik, ponselnya tak aktif. Pastilah saat itu baterai ponselnya sudah habis. Rukia tak jadi mengamuk karena dia bisa pulang dengan selamat sampai dirumahnya. Dan itu berkat seseorang.

Saat ini Rukia tengah melamun menatap papan didepannya. Seorang dosen tengah menjelaskan materi kuliahnya hari itu. Tapi pikirannya sama sekali tak fokus. Senna sekarang ini pasti sedang syuting. Dan menurut Senna, akan ada satu lokasi dimana ceritanya harus mengambil daerah lain. Mungkin diluar kota. Senna berharap Rukia bisa ikut karena Senna tak punya teman bercerita. Meskipun, pemainnya kebanyakan aktor luar negeri, Senna tak terlalu suka. Dia kesulitan berkomunikasi karena harus memakai bahasa Inggris. Sedangkan Senna malas bicara dalam bahasa itu meskipun Senna tak diragukan lagi kehebatannya dalam mengoceh ke bahasa tersebut. Akhir-akhir ini pun Senna selalu pulang kerumah dengan wajah sumringah.

Bagaimana kabar Ichigo?

Astaga! Kenapa dia memikirkan pria itu? Padahal dia hanya mengantar Rukia pulang satu kali. Dan itu sama sekali bukan masalah kan? Apalagi Ichigo mengancamnya jika lagi-lagi dia melakukan satu masalah lagi dengannya.

Entah apa yang dibicarakan oleh dosen itu. Rukia sama sekali tak mendengarnya. Namun, diakhir kuliah, dosen itu bilang akan melakukan riset diluar negeri untuk 3 bulan. Dan selebihnya sama sekali tak didengar Rukia. Mungkin mata kuliah kali ini akan diliburkan. Dia berharap seperti itu.

Jam sudah menunjukkan usainya mata kuliah. Sebaiknya kali ini dia segera pulang bila tak ingin bermalam dijalan lagi. Kenangan akan malam hari memang menyebalkan!

vVv


" Di luar kota? Itu jadi? Kapan memangnya?" Tanya ayah Senna ketika mereka makan malam bersama.

" Oh, mulai besok. Oh ya, bukannya besok ada libur ya? Lalu setelah itu hari Sabtu dan Minggu, kau libur kuliahkan Rukia?" ujar Senna sambil mengarahkan sendoknya ke Rukia. Baru saja sesuap nasi masuk kedalam mulutnya, dia nyaris tersedak karena makannya menyangkut.

" Memangnya kenapa?" Tanya Rukia dengan mulut penuh nasi.

" Hei! Aku udah bilang mau mengajakmu! Kenapa kau lupa! Bagaimana kau ini!" rutuk Senna.

" Memangnya kamu mengajak Rukia gak apa-apa? Bukannya itu syuting kalian? Nanti malah Rukia merepotkan kalian…" sambung Yoruichi. Dalam hati, Rukia bersyukur ibunya bilang seperti itu. Setidaknya jatahnya istirahat akan bertambah banyak.

" Tidak akan. Lagipula, hanya 3 hari. Hanya mengambil beberapa scene dan selebihnya liburan sebentar. Gak bakal apa-apa. Lagipula adeganku disana sedikit kok!" ujar Senna.

" Tapi kan kamu harus tanya Rukia dulu dia mau apa gak. Kan dia juga masih kuliah. Bukannya kamu yang gak ada kerjaan…" tambah ayahnya.

" Sudah pasti mau! Iyakan Rukia? Aku akan mengenalkanmu aktor yang tampan!" rayu Celine. Sesungguhnya itu sama sekali bukan alasan baginya ikut Senna.

" Terserah saja. Kalau ayah dan ibu mengijinkan…" ujar Rukia sedikit pasrah. Dia tahu keinginan sepupunya ini tak mungkin bisa dibantah siapapun. Apalagi dia begitu bersemangat mengajak Rukia.

Dan akhirnya, jawabannya adalah, Senna berhasil membujuk orang tuanya agar memperbolehkan Rukia ikut. Dalam hatinya Rukia, dia benar-benar mengutuk soal libur berturut-turut itu. Kenapa harus ada liburan?

Sejujurnya, bukan masalah Rukia ikut Senna atau tidak. Yang bermasalah adalah Kurosaki Ichigo. Rukia takut nanti dia akan menimbulkan masalah untuk Ichigo. masalah baru. Dan bagaimana reaksinya jika mereka bertemu? Pasti akan aneh dan canggung. Sejujurnya Rukia malu bertemu dengan Ichigo. entah kenapa. Apa yang sebenarnya dia rasakan? Padahal dia tak memikirkan pria itu. Tapi begitu mengingat namanya ada perasaan aneh masuk. Mungkinkah karena Ichigo mengantarnya pulang? Maklum saja, selama hidupnya, belum ada laki-laki yang mengantarnya pulang kerumah dimalam hari. Berbeda dengan Senna.

vVv


" Baiklah Ibu, Ayah. Aku pergi ya… oh ya, mobilku akan aku titip dibandara. Ayah jangan khawatir ya…" ujar Senna sambil memasukkan barangnya kedalam mobilnya.

" Ibu sama sekali gak mengkhawatirkanmu. Tapi Rukia. Dia kan belum pernah pergi dari rumah. Bagaimana kalau ada apa-apa?" ujar Yoruichi penuh cemas.

" Ibu jangan khawatir. Aku baik-baik aja…" sela Rukia.

" Lagipula, dia kan pergi denganku! Kenapa malah mencemaskannya? Disana banyak orang Bu. Lagian aku udah bilang mau mengajak saudaraku. Baiklah kami pergi…"

Hari ini, sesuai rencana, Rukia jadi ikut dengan Senna. Senna belum bilang mau kemana. Ibunya juga menanyakan berkali-kali mau pergi kemana. Tapi katanya tak terlalu jauh. Hanya daerah didekat sini saja. dan mereka cuma sebentar naik pesawat. Tak akan lama.

Begitu tiba dibandara, seluruh staff sudah berkumpul. Rukia terus berdiri dibelakang Senna. Jujur saja, Rukia sama sekali tak mengenal siapa saja yang ada. Yang dia tahu hanya staff dan manager yang menangani Senna. Dan manager Senna—tante Matsumoto Rangiku sudah lama dikenal oleh Rukia dan umurnya yang sudah 35 keatas punya 2 anak. Dia tante yang baik—sudah kenal baik dengan Rukia yang sering mampir ketempat Senna bekerja.

Senna nampak begitu ceria mengobrol dengan staff lainnya. Mereka kelihatan dekat. Ada beberapa pengunjung bandara yang sesekali melirik kearah rombongan ini. Mungkin karena rombongan ini semuanya adalah artis. Makanya dilirik. Lalu tak lama, dari kejauhan muncul seseorang dari jauh. Itu Kurosaki Ichigo. ada banyak gadis-gadis yang mengikutinya. Itukah fans fanatiknya? Gumam Rukia. Setiap kali Ichigo melangkah akan terdengar teriakan histeris dari fansnya. Pasti sebal ya diikuti begitu.

Sedangkan managernya, Kyouraku Shunsui terus menerus menebar pesona. Hari ini, Ichigo memakai kemeja lengan pendek dengan sweater cokelatnya. Kacamata hitam dan sebuah syal cukup tebal. Dari kemarin dia memakai syal? Pikir Rukia. Sedangkan Senna sudah berbinar-binar melihat kedatangan Ichigo.

Begitu sampai dirombongan kami, lagi-lagi Rukia hanya terdiam. Dia menunduk tak karuan. Bagaimana ini? Rukia cukup gelisah.

Ketika mereka saling memandang, Ichigo melepas kacamata hitamnya.

" Kenapa kau disini?" ujarnya sedikit terkejut.

" Aku yang mengajaknya. Rukia ingin bertemu denganmu…" sela Senna. Dan tentu saja, Rukia membelalakan matanya selebar mungkin.

" Hei Senna apa yang kau—"

" Rukia itu pemalu, makanya dia gak mengakui. Dia ikut juga sebagai teman mengobrolku. Lagipula kuliahnya libur. Apa kau keberatan aku mengajaknya?" ujar Senna sambil membekap mulut Rukia yang dari tadi meronta menahan mukanya yang memerah. Ichigo menaikkan sebelah alisnya. Sedikit terdiam agak lama.

" Asalkan dia tidak membuat masalah!" ujar Ichigo sinis lalu pergi untuk check in pesawat. Setelah melambai pada Ichigo, Senna melepaskan bekapannya.

" Hei! Apa yang kau katakan padanya! Dia pasti salah paham!" rutuk Rukia kesal.

" Memang kenapa? Kau emang pengen ketemu dia kan? Sudah kuputuskan dia bukan tipeku! Dia terlalu cuek dan dingin. Aku gak suka. Jadi aku akan menjodohkannya denganmu… kau mau kan?," tawar Senna.

" Sudah kubilang aku gak suka aktor!," geram Rukia.

vVv


Setelah sampai ditempat tujuan, pesawat lepas landas dan rombongan langsung dibawa ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi mereka adalah sebuah tempat dipinggir kota. Yang tentu suasananya pasti masih asri sekali. Dan disana sudah disediakan 3 vila khusus untuk beberapa pemain dan staffnya.

Begitu sampai divila mereka, Rukia dan Senna langsung bergegas naik kelantai atas. Baik Rukia maupun Senna sama-sama menyukai tempat tinggi. Begitu tiba, kamar mereka berdua cukup luas. Senna langsung tiduran dikasurnya. Mereka diberi waktu istirahat satu hari. Besok baru dimulai syuting. Rukia membuka jendela dikamar mereka. Meskipun sudah siang hari, tempat itu masih terasa dingin. Mungkin karena hawa pegunungan. Rukia menghirup nafas panjang. Dan anehnya, Rukia malah bertemu pandang dengan Ichigo. Vila mereka bersebelahan! Apalagi kamarnya! Ya ampun! Begitu Ichigo yang sudah memakai kaos longgar biasa melihat kearah seberang jendelanya, Rukia langsung mengalihkan pandangannya. Kenapa bisa begitu?

Baik saat makan siang dan makan malam, Rukia menghindari Ichigo. Bukannya dia sudah berjanji tak akan bermasalah dengan orang itu?

Kalau sampai dia membuat masalah Ichigo pasti akan menggantungnya.

Keesokan harinya, Rukia bangun agak siang karena begadang bersama para staff. Mereka bermain kartu semalaman dan menonton siaran langsung liga Inggris. Rukia memang termasuk penyuka olahraga, tapi tak terlalu hobi. Tapi nampaknya tadi malam Rukia menikmatinya karena semua staff terlihat ramah. Apalagi staff dari luar negeri itu. Mereka bicara dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Rukia juga bisa berbahasa Inggris tapi tak semahir Senna.

Rukia menyiapkan dirinya. Menurut staff tadi malam, lokasi syuting tak terlalu jauh dari vila mereka, jadi Rukia bermaksud menyusulnya.

Namun, begitu diluar vila, Rukia merasa pernah ketempat ini. Kenapa tak begitu asing?

Apa benar dia pernah kemari?

Di vila hanya ada beberapa staff yang sedang menyiapkan alat syuting. Akhirnya Rukia keluar dari vila mencoba berkeliling sejenak. Kenapa rasanya dia tak asing dengan daerah ini? Tiba-tiba ingatan masa kecilnya kembali terkuak. Ingatan akan keluarganya.

Secepat kilat Rukia mengambil tas tangannya. Tak peduli apa itu isinya. Dia hanya terfokus untuk menuju suatu tempat.

Hingga akhirnya Rukia sampai disebuah stasiun. Stasiun kereta api. Dimana terakhir kali ibunya meninggalkan dirinya. Rukia harus memastikannya. Memastikannya kenyataan selama 9 tahun ini. Kenapa tantenya menyimpan semua ini sendiri. Kenapa dirinya tak boleh tahu. Setidaknya. Jika ingatan masa kecilnya belum berubah, dia ingat betul kemana dia harus pergi.

vVv


" Kenapa gak diangkat? Anak ini kemana sih?" rutuk Senna. Awalnya Senna tak ingin meninggalkan Rukia yang masih tertidur tadi pagi. Tapi, syuting harus dilakukan pagi hari biar timingnya pas. Berkali-kali Senna menghubungi ponsel Rukia tapi tidak diangkat.

" Senna… giliranmu. Kenapa kau masih disana?" teriak tante Rangiku.

" Oh… iya…" Senna akhirnya mengirim pesan pada Rukia agar segera kelokasi syuting. Perasaannya tak enak.

" Ada apa lagi? Kau belum siap-siap?" Tanya tante Rangiku.

" Rukia. Dia tidak mengangkat teleponku…" ujar Senna.

" Mungkin dia sedang mandi. Oh ya. semalam dia men-charger ponselnya bukan? Kau jangan khawatir. Disana ada staff kita yang berjaga-jaga…"

" Semoga saja…" gumam Senna.

vVv


Tak butuh waktu lama untuk mencarinya. Rumah megah didaerah ini hanya ada satu. Dadanya kembali terasa ngilu dan perih. Kejadian naas 9 tahun yang lalu sejujurnya sudah menghilang dalam benaknya. Namun, trauma itu masih ada. Masih terasa menyesakkan nafasnya. Hari ini dia harus tahu kenapa kejadian mengerikan itu terjadi. Harus. Mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk menguak semuanya.

Rumah megah bertingkat 2 itu sudah tak layak huni lagi. Catnya sudah terkelupas dan menguning. Beberapa bangunan sudah tak terawat lagi. Ada banyak bekas pembatas polisi. Garis-garis kuning yang biasa digunakan untuk TKP. Kemana sebenarnya keluarganya? Apakah sudah tinggal diluar negeri? Lalu kenapa mengabaikan dirinya? Kenapa menitipkan Rukia pada tantenya dan mengubah segalanya? Kenapa?

Seribu pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.

Begitu membuka pagar setinggi 3 meter yang nyaris ambruk itu, Rukia bergetar. Sudah 9 tahun lamanya. Tempat ini tak dihuni siapapun dan jauh dari rumah lainnya.

Banyak semak belukar dan alang-alang tinggi membuat suasana rumah megah ini tampak seperti rumah hantu difilm-film. Rukia tak peduli dengan semak belukar berduri yang menusuk celana jeansnya dan tangannya sendiri untuk membuka jalan menuju pintu rumah itu. Berkali-kali dia menahan nafas ketika melewati jalan yang tertutup semak belukar itu. Tangisnya hampir pecah ketika dia sampai di depan pintu rumah itu.

Pintunya juga dililitkan garis berwarna kuning. Suasana rumah itu sungguh kacau. Benar-benar kacau. Banyak pecahan kaca dan beberapa balok kayu yang berserakan. Juga…

Tubuhnya bergetar dan terkesiap. Waktu itu malam hari dan ingatannya masih ingatan anak kecil. Dia tak tahu bahwa ada pembantaian disini.

Ada banyak bekas darah kering yang sudah menghitam. Sebenarnya ada apa disini?

Jadi… ibunya… ayahnya … bagaimana?

Matanya menangkap sebuah lukisan besar yang tergeletak dibawah sofa yang terbalik.

Itu lukisan dirinya, ayahnya, ibunya. Mereka bertiga tampak bahagia disana. Kira-kira umurnya saat itu masih 8 tahun.

Dengan tangan gemetar, dia mengangkat lukisan besar itu. Tangisnya pecah seketika.

Kemudian, Rukia kembali melangkah menuju lantai atas. Tangga itu kembali menyeramkan. Banyak darah kering yang mulai menghitam. Tidak! Ini bukan cerita pembunuhan! Bukan cerita mengerikan seperti yang dia baca dalam novel detektif. Bukan!

Ini rumahnya. Ini mengenai keluarganya! Kenapa…

Dengan langkah berat, Rukia menaiki tangga itu. Lalu matanya kembali berair. Miris. Itulah perasaannya sekarang ini.

Lantai 2 lebih parah. Banyak sekali senjata tajam disana yang lengket dan mengering karena cairan merah. Itu darah. Sudah menghitam. Kembali suasana mencekam 9 tahun lalu menghantuinya. Dia menutup kedua telinganya dan menggeleng kuat mengenyahkan bayangan mengerikan itu.

Rukia sampai dikamar orangtuanya. Bahkan disana banyak sekali peralatan yang hancur dan rusak. Dia tak mengerti apa ini.

Sesaat Rukia menjerit histeris karena ada bayangan hitam yang bergerak dilangit-langitnya. Rupanya itu kelelawar dan burung gagak.

Tubuhnya sudah tak kuat lagi menyaksikan pemandangan mengerikan ini. Terlalu mengerikan. Kenapa bisa begini.

Dan akhirnya Rukia melihat sebuah lantai, 3 ubin yang sejajar yang kelihatan tak beraturan itu. Apakah lantainya lepas? Masa bisa?

Karena penasaran, Rukia membuka 3 ubin itu. Dan benar. Memang ubinnya lepas.

vVv


" Rukia! Rukia! Kau dimana? Aku gak suka main petak umpet tahu!" teriak Senna gelisah. Siang itu Senna buru-buru pulang disela-sela jam istirahat. Sebenarnya dia belum diijinkan pulang. Apalagi syuting akan berakhir sampai malam nanti.

Senna sudah mengelilingi vila tapi tetap tak ketemu. Tante Rangiku ikut mencari. Namun nihil.

" Tante… sebenarnya dimana anak itu! Kenapa bikin cemas saja? perasaanku tambah gak enak!" rutuk Senna gelisah sambil menggigit kukunya.

" Sudahlah. Mungkin dia jalan-jalan. Dia kan sudah besar. Mana mungkin kesasar… kau terlalu berlebihan…"

" Tapi dia gak tahu daerah ini. Dia belum pernah ke luar kota manapun. Lagian, kalau sampai dia gak pulang pas hari gelap, aku takut dia gak akan pulang. Dia gak suka malam hari…"

" Dia kan bisa pake taksi dan telepon umum untuk minta dijemput kalau dia sadar gak membawa ponsel. Dia bisa tanya warga. Sudahlah kau ini berlebihan sekali… ayo kita kembali. Sudah saatnya syuting. Nanti sutradaranya marah…"

" Tapi—"

" Loh… Senna… kenapa belum kelokasi? Scene-mu akan dimulai…" ujar salah satu staff.

" Kau tadi pagi ada disini?" Tanya Senna menggebu.

" Iya…" staff itu ragu karena Senna tiba-tiba panik dan cemas.

" Ketemu Rukia?"

" Oh… Rukia. Iya. Pagi tadi dia keluar dari vila sambil membawa tas tangannya. Mungkin dia jalan-jalan disekitar sini. Bukannya dia bilang memang ingin jalan-jalan semalam?," ujar staff itu yang sekaligus membuat Senna lega.

" Benarkah?" Senna meyakinkan dirinya.

" Apa kubilang. Dia itu bukan anak kecil. Sekarang kita kembali karena sudah terlambat. Dia bilang gak akan menyusahkan bukan? Dia pasti ingin kau fokus pada syutingmu…" hibur tante Rangiku.

Dan Senna hanya berharap apa yang dikatakan tante Rangiku adalah benar.

vVv


Ada banyak map lusuh. Sepertinya sama sekali tak pernah dibuka oleh siapapun. Rukia mengumpulkan beberapa map lusuh itu. Lalu membawanya keluar. Karena dikamar orang tuanya amat minim cahaya. Kesannya terlalu menakutkan.

Map itu penuh debu. Berkali-kali Rukia batuk karena meniup sekaligus menghirup debu itu tanpa sengaja. Apalagi rumah ini sudah mulai dipenuhi oleh lapuk, debu, lumut dan segala macam apa itu namanya.

Rukia berdiri dibawah cahaya jendela ruang tamu dilantai 2 dengan map lusuh itu.

Satu persatu dibukanya. Kebanyakan arsip perusahaan ayahnya yang berharga. Dan…

Data pencarian orang?

Rukia meneliti map satu yang disegel itu. Banyak lem dan segala macam perekat untuk menyegel map itu. Begitu membukanya, jantung Rukia mendadak lumpuh. Sulit bernafas dan bergerak. Itu… salah satu gembong teroris dan mafia kelas kakap.

Sebenarnya apa yang dilakukan orang tuanya?

Apa pekerjaan orang tuanya? Kenapa ada daftar pencarian orang ini? Dan beberapa profil yang sudah disilang dengan spidol merah.

Lalu Rukia menemukan sebuah kertas yang melayang jatuh kebawah kakinya.

Berhenti menyelidikiku. Aku tahu apa yang kau lakukan. Meskipun intelmu banyak dan rahasia, aku bisa melacaknya. Jika masih kau lanjutkan, aku tak ada pilihan lain selain menghabisi anggota keluargamu. Ini peringatanku yang terakhir!

Tulisan itu ditulis dengan tinta merah pekat seperti darah. Jangan-jangan. Saat ini.

Keluarganya. Sudah tidak ada?

Jadi. Malam 9 tahun lalu itu adalah pembuktian ancaman surat ini? Apa yang sebenarnya dilakukan oleh ayahku? Bisik Rukia.

Seketika itu pula tangisnya pecah. Kalau memang benar apa yang terjadi 9 tahun lalu dan surat itu adalah benar, jadi… keluarganya sudah tidak ada.

Pantas saja… pantas saja… tantenya berulang kali mengatakan bahwa percuma saja mencari mereka. Ternyata mereka sudah tak ada lagi disini.

Rukia terduduk dilantai hitam itu. Perih sekali. Ketika harapan itu bersinar cerah, seketika itu pula harapan itu menghitam dan memudar. Sama sekali tak ada cahaya. Sama sekali pekat. Kali ini, Rukia sudah sebatang kara. Tak ada harapan lagi. Harapan itu sudah musnah. Sekarang kenapa ini terjadi padanya? Kenapa harus dirinya? Kenapa?

Ya Tuhan. Kenapa harus aku mengalami ini? Batin Rukia.

Tak ada lagi keinginannya untuk terus hidup. Siapa lagi yang membuatnya mampu bertahan. Siapa lagi yang membuatnya bersemangat untuk hidup.

Untuk sesaat Rukia terdiam dalam isaknya. Tak tahu harus melakukan apa. Mungkin memang benar. Seharusnya dia tidak kemari. Seharusnya dia tidak ada disini. Dan seharusnya lagi, dia tidak perlu tahu kebenaran ini. Seharusnya dia ikut mati dibantai bersama keluarganya dulu. Kenapa ibunya menyelamatkannya dan membuatnya merasa menyesal mengetahui kenyataan yang terlambat dia sadari?

vVv


" Apa? Belum pulang? Kau yakin? Dia menelpon kevila tidak? Tolong cari disekitar vila ya. nanti aku kembali 10 menit lagi…!" kali ini Senna panik sepaniknya. Dia baru saja menelpon staf yang berjaga divila. Kalau sampai Rukia tidak kembali, dia pasti akan dipancung oleh ibunya. Pasti dia akan mengalami masa suram kalau ibunya tahu dia kehilangan Rukia. Ceroboh sekali dia membiarkan Rukia sendirian!

" Tunggu Senna! Ada apa?" ujar tante Rangiku ikut panik melihat Senna yang menyambar apa saja dihadapannya mencari sesuatu untuk dibawanya.

" Tante! Rukia belum kembali! Hari sudah hampir malam! Bagaimana ini? Dia gak mungkin berani pulang semalam ini!" ujar Senna gelisah dan cemas.

" Hei nona-nona… ada apa ini? Kenapa panik sekali? Ayo kita keklub sebentar…" ujar Kyouraku Shunsui. Senna ingin mengamuk. Tapi segera diredamnya. Malahan sekarang dia menangis sendiri.

" Hei… ada apa ini? Kenapa dia menangis?" ujar Kyouraku merasa bersalah.

" Kau ini bodoh sekali! Rukia belum pulang! Dia menghilang dari pagi tadi… Rukia takut malam hari…" jelas tante Rangiku sambil mengelus punggung Senna menenangkannya.

" Apa? Menghilang? Bagaimana mungkin? Maksudku… mungkin dia hanya berjalan-jalan saja kan?" ujar Kyouraku.

" Kakak, kita segera pulang… besok kita juga akan kembali kan?" celetuk Ichigo tiba-tiba. Ichigo sedikit bingung melihat Senna menangis. Namun, sungguh, itu bukan urusannya. Dia tak peduli kenapa gadis itu menangis.

" Hei… kau ini dingin sekali… Rukia menghilang…" kata Kyouraku pelan.

" Rukia? Siapa itu?" tanya Ichigo tak terlalu peduli. Dia malas mendengar nama wanita.

" Hah? Masa kau lupa? Dia itu saudara Senna yang ikut sama kita tadi… katanya dari pagi sampai sekarang belum kembali… bagaimana?"
Ingatan Ichigo tentang wanita memang cukup buruk. Perlahan dia mulai mengingat siapa Rukia yang dimaksud itu. Saudara Senna? Apakah gadis yang membuat masalah dengannya berkali-kali itu? Tidak berkali-kali juga sebenarnya. Namun, ini sudah yang ketiga kali dia membuat masalah. Dia ingat beberapa waktu lalu bagaimana gadis itu ketakutan setengah mati karena dikejutkan oleh Ichigo. padahal hari belum terlalu malam. Dan katanya lagi, gadis itu tidak suka malam hari. Benar-benar bikin repot!

" Kakak, pinjam mobil yang dibawa kemari tadi…!" ujar Ichigo.

" Hah? Apa? Mobil? Tapi kan… setirnya ada dikanan kau tak bisa—"

" Aku sudah belajar tentang itu, sekarang cepat carikan. Suruh staff lain ikut mencari. Kalau sudah terlalu malam bisa gawat…" jelas Ichigo. Kyouraku langsung mencari kunci mobil.

" Kau mau… mencari… Rukia?," tanya Senna hati-hati.

Ichigo baru saja menyesali mengenai keputusannya yang diluar akalnya itu. Kenapa seperti itu? Kenapa dia mau mencari gadis itu? Gadis itu sudah menimbulkan masalah untuknya. Kenapa dia sendiri yang mencari masalah? Apa yang terjadi?

" Aku hanya tak ingin dapat masalah!," ujar Ichigo ketus.

Setelah menerima kunci dari Kyouraku, Ichigo langsung melajukan mobilnya.

Senna terbelalak kaget dan melotot saking terkagumnya. Kenapa Ichigo mau mencari Rukia?

Untuk sesaat mereka terdiam, Senna memutuskan ikut mencari bersama staff lain, Kyouraku, dan tante Rangiku.

vVv


Rukia sudah berjalan terlalu jauh. Dia memutuskan untuk pulang setelah menyimpan beberapa map berguna dalam tas tangannya. Pulang dari sini harus segera diselesaikan. Dia harus dapat kepastian.

Tapi hari sudah menjelang malam. Bagaimana ini? Rukia bergidik ngeri. Benar sudah malam. Kenapa dia sendiri lupa bahwa ini sudah malam?

Rukia naik kekereta selanjutnya. Dia sudah lelah berjalan.

Hingga akhirnya dia sampai distasiun dan memutuskan kembali pulang kevila. Rukia mengaduk tas tangannya. Dan ting tong!

Dia baru menyadari bahwa dia lupa membawa ponselnya. Pasti Senna cemas bukan main saat ini. Apalagi dia lupa pamitan pada Senna. Bagaimana dia pulang? Tentunya Rukia takut malam hari. Apalagi setelah melihat keadaan rumahnya tadi. Dia semakin takut malam hari.

Rukia keluar dari stasiun dan menyusuri jalan. Berharap bertemu kendaraan umum dan membawanya pulang kevila. Dirinya begitu pucat ketika dia berkaca pada salah satu etalase toko dipinggir jalan itu. Benar. Dia tak makan apapun. Kenapa dia begitu ceroboh?

Akhirnya Rukia terduduk dipinggir jalan melipat kakinya sambil menelengkupkan kepalanya diantara sela kedua lututnya. Siapa yang akan datang? Tak ada. Pasti dia sudah membuat masalah!

Dan pasti Ichigo akan bertambah benci padanya. Karena dia membuat masalah.

Tak lama kemudian, Rukia tersentak kaget. Ada suara mobil berhenti tepat didepannya.

Begitu pemilik mobil sedan hitam itu keluar, matanya membulat sempurna.

" Ichigo?,"

vVv


" Ichigo?," hanya kata itu yang keluar dari mulut Rukia. Rukia langsung berdiri dan membersihkan celananya lalu menatap Ichigo. saat itu. Entahlah dia kenapa?

Ichigo menggeram kesal begitu menemukan gadis itu lagi-lagi terduduk dipinggir jalan lagi. Sewaktu mencarinya tadi, ada perasaan cemas dan panik yang luar biasa. Dan setelah menemukan gadis itu ada perasaan lega menguar dari dirinya.

Karenanya Ichigo langsung keluar dari mobilnya dan bersiap memaki gadis itu.

" Kau! Sudah kubilang untuk jangan membuat masalah! Apalagi yang kau lakukan kali ini!" bentak Ichigo. Rukia hanya menunduk saja. dia sudah tahu hal ini.

" Maafkan aku… aku betul-betul minta maaf Ichi…" lirih Rukia.

" sekarang jelaskan padaku kenapa kau membuat masalah! Berikan alasan yang bagus! Kau tahu sepanik apa saudaramu tadi begitu menyadari kau hilang?"

" Senna? Senna panik? Karena aku? Astaga… dia pasti akan menggantungku…" gumam Rukia.

" Tapi, kenapa kau disini? Kau… mencariku?" lanjut Rukia yang mengabaikan pertanyaan Ichigo.

Ichigo terdiam. Benar juga. Kenapa dia disini? Kenapa dia mencari gadis ini? Ichigo terdiam sekian detik. Menyadari kebodohannya yang pasti akan ditertawakan gadis ini.

" Se… sebenarnya aku sama sekali tidak mencarimu! Tapi saudaramu sampai menangis karenamu! Aku benci wanita yang menangis seperti itu! Jadi aku mencarimu supaya saudaramu menghentikan tangisannya!" alasan bodoh yang terlalu dibuat-buat! Ichigo saat itu mengutuk dirinya yang terlihat bodoh!

" Oh… begitu… terima kasih. Karena kau menolongku sekali lagi… ternyata kau memang orang baik…," Rukia tersenyum kearah Ichigo.

Dan saat itu Ichigo seperti tersihir oleh senyum gadis itu. Kenapa mendadak hatinya seperti ini? Kenapa harus gadis ini?

" Kita pulang sekarang?" tanya Rukia yang membuyarkan lamunannya.

" Oh… ya. tentu saja. tapi… tunggu dulu…" Ichigo menahan lengan gadis itu.

" Kenapa wajahmu pucat begitu? Matamu bengkak? Kau… menangis?" lirih Ichigo. jujur saja Rukia tahu maksud Ichigo.

Baru saja akan mengatakan alasannya, tiba-tiba Rukia ambruk. Kepalanya bertambah pusing. Sepertinya ini adalah efek yang dia alami untuk beberapa saat tadi.

Ichigo bertambah panik. Seumur hidup dia sama sekali tak pernah membayangkan akan seperti ini. Kenapa sekarang keadaaannya jadi aneh?

Dengan terburu-buru, Ichigo membawa Rukia menuju rumah sakit terdekat. Kenapa gadis itu malah ambruk didepannya? Jantungnya terasa mau pecah dan meledak karena tiba-tiba begitu. Ada apa dengannya?

" tadi aku ada ujian, sampai sore. Dan harusnya Senna menungguku dilokasi syutingnya. Nyatanya dia malah janjian sama temannya dan meninggalkanku. Kemudian ponselku mati, dan aku tak bisa menghubungi siapapun. Aku benar-benar bingung saat itu! Untungnya kau kembali dan mengantarku. Terima kasih Ichi!"

Dia ingat gadis itu pernah berkata seperti itu. Dan Ichigo langsung membawanya kerumah makan. Tapi kali ini gadis itu sama sekali tak mengatakan alasannya kenapa dia sampai sepucat itu. Dan ditambah lagi, ketika Ichigo menyentuh kulit gadis itu dingin sekali. Darimana saja dia ini.

Begitu tiba di rumah sakit, Rukia langsung dibawa ke instalansi gawat darurat. Dan setelah beberapa saat, dokterpun memberitahukan keadaannya bahwa Rukia hanya terlalu letih dan sedikit demam. Ichigo bernafas lega. Untung gadis itu tak ada masalah.

Karena hari nyaris malam, Ichigo menghubungi Kyouraku agar kakak Rukia menjemputnya disini. Walaupun dia tahu Rukia sedang tak sadarkan diri. Setidaknya kakaknya tak akan sepanik dan sekhawatir itu lagi.

" Kali ini aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu bocah!" desis Ichigo begitu selesai menghubungi Kyouraku dan kakak Rukia.

Perlahan dia memasuki kamar rawat Rukia. Perasaan khawatir yang menyiksa itu sudah lewat begitu melihat gadis didepannya ini tidur dengan pulas. Dokter pasti sudah memberinya multivitamin dan obat pereda demam.

" Apa yang kulakukan?," bisik Ichigo.

vVv


Nee Minna...

tambah gaje nih?

hahahahahahahha *tawa laknat*

oiya... jangan lupa lagi RnR...

sangat ditunggu review berharga dari reader dan senpai sekalian...

salam...

Kin...

Mata nee...