Haihai *ngelambailambaipaketisu*

saya update lagi.

maaf kali ini saya gak banyak cingcong.

kalo ada yang bingung silakan lempar ke PM saya. ntar dibales kok.

sekarang waktunya mepet.

kelas saya udah mau masuk tapi saya masih diwarnet.

dan lagi dosennya hari ini gualak minta ampun.

ok deh...

silahkan baca ...

disclaimer : Tite Kubo

warning : OOC, Misstypo, Au, Gaje, Abal...


Begitu membuka mata pertama kali, yang dia lihat adalah Kurosaki Ichigo. Rukia membuka mata dan melihat Ichigo dan berdiri disamping ranjangnya sambil membelakanginya dan bicara dalam telepon. Kenapa dia?

" Ichigo?" gumam Rukia. Dia ingin bangun tapi kepalanya terasa dihantam palu besar yang menyiksa. Begitu namanya dipanggil Ichigo langsung mendekati tempat tidur Rukia.

" Cepat sekali. Kukira kau tak akan bangun sampai 3hari kedepan saking pulasnya kau tidur. Ini bahkan baru 30 menit" ujar Ichigo.

Rukia terdiam. Sangat diam. Entah apa yang harus dia katakan.

" Seharusnya kau mengatakan sesuatu. Kau nyaris membuat semua orang panik karena dirimu…" lanjut Ichigo.

" Maafkan aku. Aku lagi-lagi merepotkanmu. Maafkan aku" lirih Rukia. Tenggorokannya begitu sakit setiap kali bicara. Tentu saja karena seharian ini dia sama sekali belum makan dan minum sesuatu.

" Suaramu sampai serak begitu. Apa yang kau lakukan sampai—" Ichigo melirik kearah tangan Rukia yang terluka disetiap jarinya.

" Sebenarnya kau ini kemana? Kenapa dengan tanganmu?" Ichigo seperti orang panik begitu menangkap tangan Rukia yang terluka disana sini.

Rukia menarik tangannya dari Ichigo. Hatinya terasa aneh dan jantungnya berdetak tidak karuan karena Ichigo tiba-tiba menggenggam tangannya seperti itu. Ichigo langsung salah tingkah. Lagi-lagi dia merutuk dalam hati tentang sikapnya yang terlalu berlebihan.

" Aku tidak apa-apa…" kembali lirih Rukia dengan suara parau dan serak.

" Terserah padamu…" hanya kata-kata itu saja dan Ichigo pergi meninggalkannya. Tanpa sepatah katapun dia pergi begitu saja dan menutup pintunya dengan sedikit keras. Rukia nyaris menangis. Sesungguhnya bukan itu maksudnya. Dia hanya tak ingin memiliki perasaan yang lebih dari ini. Melihat Ichigo yang menolongnya setiap saat, ada perasaan lain yang memaksa masuk. Perasaan aneh yang sangat menyakitkan. Rukia hanya tak ingin orangnya Ichigo. Dia tak mau merasakan perasaan itu lagi. Sungguh. Perasaan itu begitu menyiksanya.

" Maafkan aku… aku benar-benar minta maaf…" ujar Rukia berulang kali. Didalam kamar rawat itu ada Senna, tante Rangiku dan Kyouraku Shunsui. Saat itu Rukia sudah bangun dari ketidaksadarannya. Dan Rukia merasa sudah sehat sepenuhnya. Begitu dia bangun, Senna langsung menghambur masuk dan memeluk Rukia yang masih tertidur. Setelah menjelaskan situasi sebenarnya pada Senna—dan yang pasti Rukia tak akan bicara soal dia kerumah lamanya—akhirnya Senna bernafas lega. Setidaknya Rukia tidak kenapa-napa.

Dan Ichigo tidak muncul disana. Setelah pergi beberapa menit yang lalu Ichigo tidak kembali. Mungkinkah dia marah padaku? Gumam Rukia.

Ya. Lebih baik seperti itu. Lebih baik seperti ini. Rukia tak ingin melibatkan Ichigo terlalu jauh dalam hidupnya. Tidak untuk saat ini. Setelah kenyataan menghantamnya begitu keras. Setelah dia tahu siapa sebenarnya dirinya. Tak ingin memimpikan terlalu jauh lagi. Baginya. Kenyataan yang dia ketahui hari ini sudah menghantamnya sedemikian keras.

vVv


Bahkan ketika pulangpun, Rukia sama sekali tak melihat Ichigo. Menurut Senna, Ichigo memilih pesawat pertama pagi tadi sendirian. Sedangkan mereka baru saja berangkat siang ini. Rukia menolak menunda penerbangan mereka. Senna tahu kondisi Rukia belum cukup baik, tapi Rukia memaksa pulang. Seandainya mereka terlambat pulang tentu saja ibu dan ayah akan mencemaskan mereka. Dan pernyataan tersebut langsung diiyakan oleh tante Rangiku. Tante Rangiku berpendapat, jika Rukia merasa baik-baik saja mereka tak perlu menunda penerbangan. Itu akan memakan waktu dan menyulitkan jadwal syuting.

Dan lagi… Rukia ingin secepatnya pulang. Dia harus bertanya langsung. Harus.

Rukia tak ingin menundanya terlalu lama. Tidak untuk sekarang.

vVv


Namun, setelah pulang dari liburan itu Rukia belum siap untuk menanyakan hal yang sebenarnya. Rukia hanya bisa memandang map lusuh itu saja. map yang melibatkan ayah dan ibunya sebagai mata-mata. Rukia ingin sekali tahu apa pekerjaan ibu dan ayah kandungnya sebenarnya.

Sudah seminggu berlalu dan Rukia belum juga bisa bertanya. Paling tidak dia harus menyiapkan mentalnya. Harus.

Senna bilang, filmnya sudah memasuki adegan terakhir. Film kali ini terlalu cepat. Hanya beberapa minggu dan bulan depan tinggal diedit saja. Film apa sebenarnya ini.

Saat ini dia tengah memasuki kelas mata kuliah berikutnya. Senna sudah terlalu sibuk. Padahal adegannya hanya sedikit. Tapi tawaran pemotretan yang datang begitu banyak.

Makanya Rukia jarang bertemu. Karena malam Rukia sudah tidur, Senna baru pulang dan pagi ketika Rukia berangkat kuliah Senna baru bangun. Selalu tak pernah bertemu.

" KYAAAA! ICHIGOOO!" salah seorang mahasiswi berteriak heboh. Rukia segera memutar kepalanya. Dan ternyata mahasiswi itu hanya membawa sebuah majalah bersama kawan-kawannya dan berteriak nyaring hanya karena melihat cover depan majalah lokal itu.

Oh ya. Ngomong-ngomong sudah lama dia tak melihat Ichigo. Semenjak dirumah sakit itu. Apakah Ichigo masih marah padanya? Tentu saja masih marah. Kenapa Rukia berharap dia bisa bertemu Ichigo? Demi Tuhan jangan lagi.

Begitu memasuki kelas, Rukia memilih kursi paling belakang. Hari ini dia sama sekali tidak bersemangat ikut mata kuliah manapun. Hanya datang saja.

Dan lagi-lagi Rukia melamun. Entah apa yang dia lamunkan.

" Yang duduk dibagian belakang sana. Apakah sudah jelas dengan penjelasan saya barusan?" seru dosen tersebut. Rukia masih tidak menyadarinya hingga teman didepannya memanggilnya. Ketika sadar, semua mahasiswa sedang memperhatikan dirinya. Kontan saja Rukia jadi kaku dan gugup.

" E-eh… iya… saya sudah jelas pak…" tunggu dulu! Bapak? Bahkan dosen itu lebih muda. Bukannya biasanya dosen yang mengajar mata kuliah hari ini agak tua ya?

" Jangan melamun lagi ya. Kalau anak gadis melamun biasanya berat jodoh…" begitu dosen muda itu berkata begitu, semua mahasiswa tertawa dengan laknatnya.

Rukia makin malu saja. Yang benar saja. Jodoh? Apa itu?

Setelah kuliah usai. Semua mahasiswi tampak mencari perhatian dosen muda itu dengan menanyakan materi mata kuliah tadi. Yang benar saja. Masa dia harus begitu juga?

Setelah kelas nyaris kosong, dosen muda itu membereskan laptopnya. Dan kemudian Rukia berjalan meninggalkan kelas menyebalkan itu.

" Tunggu dulu… namamu… Rukia bukan?" dosen muda itu menghentikan langkah Rukia. Rukia terdiam. Dosen itu menanyakan namanya? Aneh. Akhirnya Rukia mengangguk.

" Kau tak ingat padaku?" tanya dosen muda itu lagi. Baiklah Rukia mulai kesal. Dia malas sekali main tebak-tebakan! Apalagi dengan orang asing.

" Bapak dosen yang mengajar kami kan?" ucap Rukia sedikit bingung.

" Sudah kuduga. Kau lupa padaku. Aku Shiba Kaien. Temannya Senna dulu. Aku jamin kau pasti mengenalku. Senang bertemu denganmu lagi…"

Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Hah?

" Lalu... kenapa disini? Mengajar... kelasku?" tanya Rukia terbata-bata.

" Dosen pembimbingku sedang melakukan riset diluar negeri. Sekarang ini aku sedang menyelesaikan S2-ku. Pasti dosen pembimbingku sudah memberitahu kalian kalau aku sekarang ini sedang menjadi asisten dosennya untuk memberi materi pada kalian?"

vVv


Rukia sama sekali tak tahu tentang penggantian dosen itu. Pastilah saat itu dia sedang tidak konsentrasi pada ucapan dosennya waktu itu.

Rukia sebenarnya tak ingin bertemu lagi dengan Shiba Kaien. Tidak untuk saat ini. Kaien boleh dibilang adalah cinta pertamanya. Tak seorangpun yang tahu. Apalagi Senna. Karena Senna adalah sahabat terdekat Kaien yang sering berkunjung kerumahnya. Dulu itu Rukia masih duduk dibangku SMP dan Senna juga Kaien sudah SMA. Kaien tahu kalau Rukia menyukainya. Tapi saat itu Kaien hanya menganggapnya sebagai adik saja. Dan terakhir kabar yang dia tahu, Kaien menjalin hubungan dengan teman baiknya di bangku SMP. Mungkin hingga sekarang. Bahkan ketika mendengar dari Senna bahwa Kaien memutuskan kuliah diluar negeri. Rukia masih menyukainya. Namun sejak perasaannya dirasa bertepuk sebelah tangan, akhirnya Rukia tak ingin lagi jatuh cinta. Menurutnya, jatuh cinta hanya menyakiti perasaannya saja. membuat hatinya sesak setiap kali melihat orang yang tak mampu dia miliki. Dan perasaan itu nyaris dirasa untuk Kurosaki Ichigo.

" Kudengar Senna, sekarang sudah jadi artis ya? Hebat ya cita-citanya terwujud juga…" ujar Kaien ketika Kaien memutuskan untuk mentraktir Rukia minum dikantin kampus. Meskipun sudah ditolak dengan berbagai alasan, Kaien tetap ngotot memaksanya. Dan Rukia sama sekali tak punya pilihan.

" Iya… begitulah. Sekarang ini dia juga sedang melakukan syuting film…" sahut Rukia malas sambil mengaduk jus melonnya. Sungguh dia malas sekali.

" Oh… begitu… ternyata kau kuliah disini ya… tidak disangka… setelah tidak bertemu selama beberapa tahun kau tampak berubah ya…" kata Kaien sambil menatap Rukia. Namun, Rukia hanya menundukkan kepalanya. Malas.

" Tidak juga. Aku masih sam—" Rukia menghentikan kata-katanya ketika mendengar suara ponselnya yang berteriak sangat berisik. Rukia segera mengacau isi tas ranselnya. Kemana lagi benda menyebalkan ini. Rutuk Rukia. Rukia berhasil menemukan ponselnya dan menempelkan ponsel itu ketelinganya. Tanpa Rukia sadari, Kaien memperhatikan setiap gerak gadis itu.

" Senna… oh aku? Aku masih dikampus… sebentar lagi pulang… apa? Ketempatmu? Nanti aku kesana kau meninggalkan aku lagi… kau tahu aku tak suka malam kan… baiklah… aku segera kesana… iya… tidak akan kesasar lagi…" Rukiapun menutup ponselnya dan kembali melemparnya kedalam tasnya ranselnya.

" Senna?" tanya Kaien dan sukses membuat Rukia membelalakan mata selebarnya. Dia tak menyangka Kaien akan mendengar omelannya tadi.

" O-oh… iya… aku disuruh kelokasi syutingnya. Kalau begitu sampai disini ya… aku pergi dulu…" Rukia membereskan barangnya dan meminum habis jus melonnya.

" Tunggu dulu…," cegat Kaien. Rukia memandangnya bingung.

" Aku sudah lama tak bertemu Senna. Kuantar saja kelokasinya ya…" tawar Kaien.

" Hah?"

vVv


Rukia sudah berusaha untuk menolak ajakan Kaien yang tiba-tiba itu. Jujur saja, pria dengan tubuh tinggi, berkulit putih dan rambutnya yang sengaja dipanjangkan dan dipotong stylish layaknya artis luar negeri dan berwajah tampan yang tak mungkin pernah bosan dilihat ini sudah jadi masa lalu Rukia. Tapi kini dia datang dan menawarkan tumpangan. Rukia sama sekali tak mengerti kenapa Kaien begitu baik padanya. Mungkinkah dia masih menganggap adik pada Rukia? Mungkin saja. makanya dia bersikap baik padanya.

Rukia tambah tak bisa menolaknya saat Kaien menarik lengannya dan membawanya kemobil sedan biru metalik milik Kaien. Dan tentu saja saat itu semua mahasiswi apalagi teman sekampusnya melotot garang padanya. Seorang dosen muda yang tampan tiba-tiba menarikmu masuk kedalam mobil pribadinya. Tidakkah itu aneh? Pasti aneh!

Rukia hanya terdiam tanpa bisa berkata apapun. Apalagi Kaien juga tidak bermaksud mengajaknya bicara. Mereka hanya diam dan Kaien memutar musik didalam mobilnya. Rukia terkesiap kaget. Musik itu adalah musik favoritnya sewaktu SMP. Dan selalu diputarnya dalam kamarnya menjelang tidur. Sekarang tidak lagi karena kasetnya sudah hilang entah kemana.

Tidak butuh waktu lama karena mereka sudah tiba dilokasinya. Beberapa staff sudah ada yang mengenal Rukia dan segera mengantarnya ketempat Senna. Sepertinya syuting sudah berakhir karena beberapa staff sudah membereskan peralatan syuting.

Rukia dan Kaien diantar oleh seorang staff sampai ketempat Senna. Dan begitu tiba, Senna malah sedang latihan bersama Ichigo. Astaga! Jantung Rukia berdebar berkali-kali lipat merasakan kehadiran Ichigo. Kenapa malah ada orang itu! Gerutu Rukia.

" Oh udah datang! Eh… Kaien! Wow… kejutan ya! Kok bisa ada disini?" seru Senna bersemangat begitu menoleh kearah mereka berdua. Tentu saja Senna begitu bergembira setelah lulus SMA sama sekali belum bertemu Kaien dan kini secara kebetulan malah bertemu dilokasi syutingnya.

Ketika Senna dan Kaien asyik berbincang, Rukia melihat Ichigo yang terus menatap kearahnya. Rukia hanya menunduk saja.

Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja. Kenapa bisa gadis itu datang dengan orang lain? Laki-laki pula! Kenapa bisa? Gumam Ichigo dalam hatinya.

" Kau sudah datang kemari! Harusnya telepon aku. Nomorku kan nggak berubah sama sekali. Oh ya. Kukenalkan pada rekanku. Kurosaki Ichigo. Kau tahu kan dia artis yang terkenal didunia itu. Dan hebatnya dia bisa berbahasa Indonesia. Aku begitu kagum padanya. Dia juga baik karena pernah menolong Rukia…" cerocos Senna sambil menunjuk Ichigo. Dan Senna menarik Ichigo untuk berkenalan dengan Kaien. Begitu nama Rukia disebutkan dalam ocehan Senna, Kaien langsung menoleh kearah gadis itu. Tapi Rukia hanya menunduk saja. Entah kenapa.

" Oh… artis menghebohkan itu ya. Aku pernah mendengarnya pernah digosipkan dengan Paris Hilton…" sindir Kaien. Meskipun bercanda sebenarnya Ichigo sama sekali tak suka.

" Aku juga tak suka dengan Paris Hilton. Itu Cuma gossip murahan tanpa bukti" kata Ichigo ketus.

Mereka terdiam cukup lama karena tiba-tiba Ichigo jadi tidak bersahabat.

" Kau ini kenapa sih? Kenapa bicara ketus begitu?" gerutu Rukia pada Ichigo. Namun Ichigo malah menatapnya dengan tidak percaya.

" Kau yang kenapa, kenapa kau yang marah? Gossip itu memang murahan. Sama sekali gak benar. Aku Cuma memberitahunya saja…" elak Ichigo.

" Kau tidak dengar kalau dia itu hanya bercanda. Kau pasti tahu dari nadanya kan? Kenapa kau ini selalu menganggap orang lain merepotkanmu!" balas Rukia.

" Hah? Kau lupa kalau kau memang merepotkan! Kenapa kau marah-marah? Bukannya aku memang menolongmu dan kau sudah merepotkanku! Itukan kenyataan"

" Lalu siapa yang menyuruhmu menolongku? Bukannya kau bilang gak mau menolongku! Lalu kenapa kau muncul!" kali ini entah kenapa Rukia ikut naik darah.

Ichigo menatapnya dengan kesal. Baru akan menyampaikan kata-kata berikutnya Senna sudah memotongnya dan mendamaikan mereka.

Ichigo kesal kenapa gadis itu jadi marah-marah padanya. Bukannya kemarin-kemarin gadis itu masih baik padanya. Masih bicara dengan sopan dan lembut. Apa yang terjadi? Mungkinkah dia berubah kepribadian?

Senna merasa aneh dengan dua orang didepannya ini. Beberapa waktu lalu Rukia masih terlihat baik pada Ichigo. Lalu kenapa dia marah-marah pada Ichigo karena Ichigo bicara ketus dengan Kaien?

Rukia mengutuk kesal pada dirinya. Tak seharusnya dia bersikap begitu pada Ichgio. Pastilah Ichigo akan semakin membencinya. Tapi, bukannya itu bagus? Ichigo membencinya dan dia tak perlu menyimpan rasa apapun untuk Ichigo. Tidak perlu merasakan perasaan sakit dan menyesakkan itu.

" Oh disini rupanya! Kau ini kenapa menghilang tiba-tiba Ichigo… ada yang ingin bertemu denganmu…" seru Kyouraku Shunsui begitu menemukan Ichigo yang sedang berdiri didekat rombongan Senna.

" Wah… rupanya ada Rukia-chan juga…" tambah Kyouraku yang sumringah begitu bertemu dengan Rukia. Rukia hanya menyunggingkan senyum tipisnya.

" Siapa Kak?" kali ini hawa dingin dan ketus kembali memenuhi diri Ichigo.

Belum sempat Kyouraku menyebut namanya, gadis cantik—memang cantik—muncul dari belakang Kyouraku. Gadis berkulit putih itu sedikit mungil tapi tingginya bisa dikatakan tinggi untuk ukuran wanita. Pakaian tampak stylish sekali. Dengan sweater turtleneck berwarna pink dan rok mini ungu. Juga sepatu boot pendek berwarna putih. Rambutnya yang panjang berwarna orange sengaja digerai dengan indahnya.

Ichigo membelalakan matanya melihat gadis itu. Seakan begitu mengenalnya.

Termasuk dengan Rukia. Dia mengenal gadis itu. Mengenalnya dengan pasti. Kenapa gadis itu mencari Ichigo? Kenapa gadis itu mengenal Ichigo? Pertanyaan itu malah berputar dalam kepala Rukia. Sungguh dia tak tahu kenapa bisa begini.

" Ichigo… senang bertemu lagi denganmu…" suara gadis itu memecahkan keheningan diantara mereka yang tiba-tiba tegang. Setidaknya perasaan itu hanya dirasakan oleh Ichigo dan Rukia meskipun tak kentara sekali.

" Mau apa kau kemari?" suara dingin, tidak, sangat dingin itu ditujukan pada gadis cantik itu. Ichigo tampak malas memandang gadis itu.

" Mau apa? Tentu saja syuting. Mau apa lagi? Oh ya. aku juga ingin bertemu denganmu…" ujar gadis itu. Rukia merasa bersyukur gadis itu sama sekali tak melihat kearahnya. Dan jujur, Rukia sama sekali tak ingin dikenali oleh gadis itu.

" Syuting? Bertemu denganku? Sayangnya aku tak ingin bertemu denganmu!" kata Ichigo ketus.

" Masa managermu tak bilang apapun? Aku kan berperan sebagai kekasihmu disini? Hubungan kita belum berakhirkan? Aku berharap belum karena sejak meninggalkanmu perasaanku jadi tidak enak. Aku begitu merindukanmu. Dan aku senang akhirnya bertemu denganmu kembali…" jelas gadis itu. Dengan matanya yang berwarna abu-abu itu memandang penuh harap pada Ichigo.

Tentu saja Rukia membelalakan matanya. Masa sih, masa Ichigo punya masa lalu dengan gadis ini? Tidak! Sungguh jangan! Kenapa harus gadis ini?

" Kakak! Ada apa ini sebenarnya?" kata Ichigo berpaling pada Kyouraku.

" Kau pasti akan menolak kalau tahu dia pemeran kekasihmu. Jadi aku belum bilang apa-apa sampai dia datang… kau tidak boleh menolaknya karena ini sudah ditengah jalan Ichigo…," bisik Kyouraku.

Ichigo melempar naskah yang sedari tadi dipegangnya dengan emosi. Entah kenapa dia begitu marah saat itu. Kesal, marah, apalagi. Kenapa perasaannya tidak begitu baik. Tentu saja semua orang yang disana membelalakan mata saking terkejutnya dengan sikap tiba-tiba dari Ichigo.

" Masa lalu tetap masa lalu! Kakak… aku berhenti!" seru Ichigo kesal.

Kenapa dia marah?

Ichgio langsung pergi dari lokasi syuting yang langsung mendapat perhatian dari para staf disana. Gadis cantik itu tampak merasa bersalah dan menggigit bibir bawahnya.

Namun, melihat Ichgio yang pergi begitu saja membuat Rukia bingung. Kenapa dia marah bertemu dengan gadis cantik yang memang dikenal oleh Rukia ini?

vVv


Setelah insiden aneh itu, Senna segera mengajak Kaien dan Rukia untuk makan bersama. Kyouraku hanya bilang kalau Ichigo hanya mengambek saja untuk beberapa saat. Mungkin dia sedang kesal.

Dan entah kenapa lagi, Rukia tampak merasa bersalah juga. Padahal dia sama sekali tak melakukan apapun. Haruskah dia menemui Ichigo dan meminta maaf? Kenapa harus? Apa yang sebaiknya dia lakukan?

Setelah makan siang itu, Senna mengajak Rukia untuk pergi berbelanja sebentar. Belanja pakaian maksudnya. Entah kenapa Senna suka sekali belanja. Padahal ibunya sudah melarang membeli pakaian sebanyak-banyaknya. Tapi, memang Senna selalu mengikuti mode dan profesinya menuntutnya untuk tampil up to date.

Setelah menemani Senna, mereka bergegas pulang. Namun telepon dari agensi yang mengadakan pemotretan mendadak membuat Senna harus kembali kestudio. Dan tentu saja ditemani oleh Rukia. Hari padahal sudah menjelang sore dan… malam.

Tentu saja Rukia takut malam hari bukan. Jika bertemu dengan malam, rasanya kenangan buruk itu kembali menguar dalam kepalanya.

Rukia menunggu Senna diruang studionya. Sepertinya dia juga tidak melihat gadis itu. Gadis cantik yang mengaku punya masa lalu dengan Ichigo. Astaga. Kenapa dia memikirkan hal itu? Sungguh menyebalkan bukan?

" Apa? Belum kembali? Sudahlah… dia bukan anak kecil kan? Dia hanya kesal saja… aku tahu… aku mengenalnya. Mungkin dia butuh sendirian… apa? Dia tidak membawa ponsel dan dompetnya? Kenapa dia ceroboh begitu! Bagaimana kita menghubunginya?" tanya Kyouraku. Mungkin saat itu dia sedang menelpon entah siapa. Dan yang dimaksud dia disini adalah Ichigo yang menghilang tanpa arah semenjak siang tadi. Kyouraku menutup ponselnya dan mulai menggerutu kesal.

Rukia mendekatinya mencoba menyapa. Tapi segera dihentikan. Buat apa menanyakannya? Apa dia bodoh? Pasti akan terlihat lucu dia menanyakan Ichigo. Pasti!

" Oh, kau masih disini Rukia-chan?," tanya Kyouraku. Sepertinya Kyouraku menyadari bahwa Rukia tampak ragu berdiri tak jauh darinya.

" Eh… oh, iya, Senna ada pemotretan mendadak. Kakak kenapa?" tanya Rukia. Dia memanggilnya kakak? Hah? Mungkin karena Senna dan Ichigo memanggilnya seperti itu ya.

" Ichigo belum pulang. Padahal malam ini ada makan malam penting. Sepertinya dia memang ngambek masalah tadi siang. Mungkin benar dia marah. Aku juga keterlaluan. Itu adalah masa lalu yang ingin dia lupakan… aku malah membuatnya bertemu dengannya lagi… pasti dia kesal sekali—astaga! Jangan dihiraukannya. Aku bicara melantur tadi…," kata Kyouraku meralat ucapannya. Tentu saja mereka pasti punya masa lalu kan?

Setelah itu Kyouraku pergi karena harus dipanggil oleh beberapa staff. Pikirannya berkecamuk. Kenapa orang itu tidak kembali ya?

Tanpa banyak berpikir, Rukia mengambil tasnya dan segera pergi dari studio itu.

Ichigo sengaja meninggalkan dompet dan ponselnya. Dia hanya membawa mobil putihnya saja. Menyebalkan sekali kan bertemu sesuatu yang ingin kau lupakan?

Baginya bayangan gadis itu sudah punah bertahun-tahun lalu. Tak pernah sekalipun dia berharap bertemu kembali dengannya. Bahkan disaat situasi seperti ini. Sama sekali tak berniat. Setelah apa yang terjadi dengannya?

Sekarang ketika dirinya begini, gadis itu mencarinya. Ketika dia tengah dalam keadaan terpuruk kemana gadis itu? Ketika dia sendirian kemana gadis itu?

Apa yang kurang darinya? Tak cukup baikkah dirinya saat itu bersama gadis itu?

Lalu kenapa sekarang? Kenapa harus sekarang ketika dirinya sudah melupakan gadis itu dan… dia sudah memutuskan pilihan lain?

Ichigo memarkirkan mobilnya digedung tua. Gedung saat pertama kali mereka melakukan syuting. Karena disinilah dia bisa menghirup udara segar.

Hari mulai menjelang malam. Walaupun masih nampak matahari. Ingin sekali ada seseorang disini menemaninya. Meski hanya berdiri dan tidak melakukan apapun. Meminta Kyouraku Shunsui adalah permintaan konyol. Karena Kyouraku-lah pikirannya berkecamuk. Ichigo tidak sepenuhnya menyalahkan Kyouraku. Hanya saja.

Waktunya tidak tepat. Tidak untuk sekarang. Dimana Ichigo sudah mencoba hidup tanpa gadis itu dan sudah melupakannya.

" Adduhh… tanganku…" seseorang dengan suara yang kecil. Tidak terlalu kecil karena suaranya menggema. Ichigo langsung berkeliling mencari suara itu. Dan bingo!

Ichigo menemukannya dibelakang mobilnya yang terparkir.

Gadis itu duduk dilantai dan memegangi sikunya yang tampak memerah. Kenapa lagi dengannya?

" Kau buat masalah lagi?" ujar Ichigo. mendengar suara Ichigo, Rukia segera menyembunyikan sikunya tapi terasa sakit dan perih. Dia terlalu gembira karena menemukan mobil Ichigo dan berlari menuju mobil itu. Tapi karena tak melihat ada batu besar, akhirnya dia terpeleset. Dan sikunya jadi korban.

" Aku nggak buat masalah!" elak Rukia.

Ichigo menunduk kebawah dan berlutut didepan gadis itu menyamakan tingginya. Lalu menarik lengan gadis itu. Ketika ditarik Ichigo, Rukia sedikit meringis.

" Lukanya memang tidak parah. Tapi bisa infeksi. Sebaiknya kau masuk kedalam mobil dan kubersihkan lukamu…" ujar Ichgio.

Rukia hanya mengangguk saja.

Ichigo memarkirkan mobilnya disebuah taman yang jarang dilewati orang. Lalu keluar dari mobilnya dan membawa peralatan P3K.

Rukia duduk dibangku taman itu dan Ichigo mulai mengolesi obat. Berkali-kali Rukia meringis sakit. Memang sakit. Tapi Rukia hanya tersenyum saja dari tadi.

" Kenapa kau datang kegedung itu?" tanya Ichigo. Tapi dia masih fokus pada pekerjaannya.

" Oh… aku mencarimu. Kupikir kau marah padaku. Dan aku mau minta maaf…" kata Rukia.

" Minta maaf? Soal apa?"

" Karena aku marah-marah padamu tadi siang. Tapi ternyata kau tidak marah padaku. Sepertinya…"

" Tidak, aku tidak marah padamu. Bagaimana kau menemukanku?"

" Sewaktu aku sendirian digedung itu karena menunggu Senna kau ada disana tapi tidak melakukan apapun. Kupikir kalau sedang bermasalah kau ada disana. Tapi menurutku itu kebetulan…" kata Rukia lagi.

" Tidak. Kau benar. Aku memang selalu kesana kalau bermasalah…" kata Ichigo pula.

" Jadi… kau memang bermasalah?" tanya Rukia hati-hati.

Ichigo selesai dengan kegiatannya. Dia ragu sejenak. Haruskah dia memberitahu dengan gadis itu masalahnya? Tidak mungkin. Tidak bisa.

" Ya. karena kau selalu membuat masalah. Memangnya apa lagi?" ujar Ichigo. tapi saat itu Ichigo menghela nafas dan kemudian sedikit tersenyum. Sedikit!

" Maafkan aku… sepertinya aku memang bermasalah…" Rukia menunduk lagi. Menyesali pertanyaan. Kenapa dia harus bertanya seperti itu.

Terdiam agak lama, Ichigo berdiri dan menghembuskan nafas dengan kerasnya. Rukia kaget bukan kepalang. Kenapa lagi dengan orang ini?

" Kau harus bertanggung jawab karena bermasalah denganku. Hari ini kau harus temani aku berkeliling sebentar…!" ujar Ichigo. Mata Rukia membulat sempurna.

" Hah? Tapi… kau tahu kan hari sudah mulai malam? Aku yakin aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak suka malam…" ujar Rukia takut.

" Tidak perlu takut. Kan ada aku…"

Dan entah kenapa debaran jantung yang sedari tadi ditahan oleh Rukia kembali membludak. Seperti gendang yang dipukul berkali-kali.

Untuk pertama kalinya Kurosaki Ichigo tersenyum ramah padanya.

vVv


" Ichi… Ichigo! Tu… tunggu dulu…"

Ichigo meluncur dengan lincahnya diatas ice skating itu. Entah kenapa saat itu ice skating yang biasanya ramai gak ketolongan itu berubah jadi sepi bagai pemakaman.

Rukia tidak pernah sekalipun mencoba ice skating. Lain dengan halnya Senna. Wanita itu akan mencoba apa saja yang menurutnya menyenangkan. Namun, menurut Rukia, ice skating adalah sesuatu yang berbahaya.

Rukia berjalan bagai robot dan berpegangan pada pinggiran lahan es yang super dingin itu. Kini dia menyesal mengapa dengan mudahnya mengiyakan ajakan Ichigo berkeliling. Dan ini memang berkeliling seperti maunya.

" Hei… bagaimana kau ini. Masa berjalan saja susah? Kau selalu menimbulkan masalah setiap kali bersamaku. Kali ini kau harus membayarnya…" ujar Ichigo tetap meluncur bak penari balet terkenal. Rukia hanya merutuk kesal dan mencoba berjalan sebisanya. Namun, tetap nihil. Dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bagaimana caranya bisa berjalan dengan sepatu aneh ini? Apalagi dipermukaan licin seperti es ini? Dan bodohnya ini memang es!

Rukia berjalan sebisanya, dan dirinya hampir meluncur tanpa rem hingga akhirnya dia nyaris menabrak pembatas ice skating itu. Gaswat!

Rukia berteriak dan menutup matanya.

Namun, tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggangnya dan menariknya menjauh dari pembatas itu. Rukia menarik nafas lega dirinya tak jadi terkena dinding pembatas menyebalkan itu.

" Ternyata kau memang tidak bisa ice skating…" gumam Ichigo.

" Kau hampir membunuhku!" desis Rukia sambil memanyunkan bibirnya.

" Baiklah… coba pelajari ini…,"

Ichigo menarik kedua tangan Rukia dan berjalan didepannya. Menariknya selangkah demi selangkah. Tangan Ichigo terasa sangat hangat sekali. Ichigo terus tersenyum dan tertawa begitu melihat Rukia menggerutu dan ketakutan.

Ichigo banyak tertawa hari ini. Apakah ini Ichigo yang sebenarnya?

Bolehkah Rukia menyukai tawanya? Untuk sesaat Rukia benar-benar terhanyut dalam mimpi sesaat ini. Kurosaki Ichigo. Bolehkah menyukaimu bukan sebagai artis?

vVv


Hari sudah terlanjur malam dan Ichigo mengantar Rukia pulang. Kali ini Senna belum pulang. Rukia memang sudah mengirim pesan untuk tidak usah mencemaskannya. Mungkin Senna sedang jalan-jalan bersama temannya.

Setelah mobil Ichigo pergi, Rukia masih berdiri disana.

Setelah mendengar Ichigo menghilang, Rukia bergerak sendiri dan menuju gedung tua tempat pertama kali dia bertemu Ichigo dan dia mengantar Rukia pulang. Lalu Ichigo mengobati lukanya dan membawanya menuju arena ice skating.

Semua itu sudah berlalu bagai mimpi yang sangat indah.

" Rukia… kau sudah pulang?"

Yoruichi sudah menunggu dengan cemas didepan sana. Entah kenapa saat itu raut wajah ibunya berubah aneh. Tidak gembira menyambut kepulangannya.

Rukia mengangguk saja.

" Besok, kau tidak kuliah kan? Ada yang ingin ibu bicarakan… sekarang sudah malam, tidurlah…," ujar ibunya sambil masuk kedalam kamarnya.

Biasanya ibunya akan ikut menanyakan dimana Senna dan dia pulang dengan siapa sampai semalam ini. Tapi kali ini tak ada yang ditanyakan kecuali menyuruhnya tidur dan besok ada yang akan dibicarakan. Apa itu?

vVv


Kali ini Yoruichi bersikap sangat aneh. Benar-benar aneh. Setelah mengantar Senna sampai keluar rumah, Yoruichi meminta Rukia agar bersiap. Dan pukul 10 pagi, Yoruichi mengajak Rukia makan diluar. Tumben sekali. Ada sebenarnya. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Rukia masih terlalu bingung dan berniat tak ingin bertanya lebih lanjut sebelum Yourichi menjelaskan sendiri.

Mereka akhirnya tiba disebuah restoran. Saat itu masih terlalu sepi. Mungkin karena baru saja buka. Ya baru saja dibuka.

Yoruichi menyuruh Rukia memesan sesuatu tapi Rukia hanya memesan kopi hangat.

Yoruichi tampak ragu. Entah apa yang ibunya ragukan. Rukia semakin penasaran.

" Ada apa Ibu mengajak keluar? Apa yang ingin dibicarakan?" Tanya Rukia.

Yoruichi mengambil nafas panjang. Sangat panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Hingga akhirnya Yoruichi mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Dan Rukia mengenali map lusuh itu. Kenapa bisa ada pada ibunya? Apa yang terjadi?

" Kapan kamu menemukan map ini?" tanya Yoruichi. Dengan suara lirih.

" Itu… aku…" Rukia tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Lidahnya kelu.

" Kau sudah tahu apa yang terjadi dengan keluargamu?" lanjut Yoruichi.

Rukia bersusah payah menelan air ludahnya sendiri. Jadi ibunya yang satu ini memang tahu apa yang sebenarnya terjadi tentang keluarganya.

" Liburan lalu… bersama Senna, aku menemukan rumah lamaku. Keadaannya kacau. Dan map itu kutemukan tanpa sengaja. Sebenarnya… apa yang terjadi tante?"

" Karena kau sudah tahu… aku tak bisa lagi menutupinya. Baiklah… kuharap kau tidak akan menyalahkan siapapun disini. Kuharap kau bisa mengerti…"

Keadaan kembali hening karena Rukia mendengarkan semua penjelasan tantenya.

" Sebelum Kuchiki Byakuya, Ayahmu, menikah dengan Hisana, dia adalah seorang mata-mata. Agensi rahasia dibawah CIA. Pekerjaannya hanya mengawasi para mafia kelas kakap. Semua mafia diseluruh dunia adalah targetnya. Banyak mafia yang memburunya. Karena itu Ayahmu sering berpindah tugas dan menyamar jadi orang lain. Namun, sejak menikah dengan Hisana, Ibumu dan memilikimu, Ayahmu berniat menghentikan pekerjaannya sebagai agensi rahasia dan bekerja dengan normal…"

" Karena itu setelah menikah Ayahmu memutuskan tinggal disini. Aku tahu Hisana sangat mencintai Baykuya dan menerima segala resiko jika mereka menikah. Kau tentu tahu resiko sebagai agensi rahasia sangat berbahaya. Dan Hisana rela mempertaruhkan nyawa demi menikah dengan Kuchiki Byakuya. Aku mengerti perasaan adik bungsuku itu. Akhirnya ibumu menikah dengan Baykuya dan memiliki seorang anak perempuan…"

Saat itu, entah kenapa cerita berhenti. Rukia membelalakkan matanya. Anak perempuan? Bukankah dia anak tunggal?

" Kau pasti kaget. Tentu saja. ternyata… setelah kelahiran anak perempuan pertamanya, keluarga Hisana sangat bahagia. Sampai… seorang mafia… yang dendam dengan Baykuya… menculik bayi merah yang baru saja berusia satu minggu itu dan membunuhnya. Menurut surat kaleng yang diterima oleh Byakuya, itu adalah ancaman terakhirnya. Hisana sangat sedih kehilangan anak pertama mereka. Akhirnya Byakuya memutuskan untuk pindah kerumahmu yang dulu itu. Jauh dari keramaian. Baykuya berniat membalas dendam. Namun dihalangi Hisana,"

" Jika mereka bisa membunuh seorang, lalu bagaimana dengan lainnya? Hisana mengkhawatirkan keselamatan anak kedua mereka, yaitu dirimu. Mereka tak ingin lagi sampai terjadi 2 kali. Akhirnya. Byakuya menghentikan pekerjaannya. Namun lagi-lagi… Byakuya diminta oleh pusat untuk menyelidiki kembali mafia itu. Byakuya sudah menolaknya. Tentu saja karena memikirkan keselamatan ibumu dan dirimu…"

" Semuanya kembali aman dan bahagia. Byakuya dan Hisana bahagia sekali. Setiap bulan Hisana mengirimkan semua foto bahagia kalian. Sampai kau lahir. Aku tahu semuanya karena ibumu selalu mengatakan semuanya kepadaku. Termasuk tentang Byakuya. Hingga 9 tahun yang lalu. Beberapa bulan sebelumnya, ada surat kaleng lagi. Padahal Byakuya sama sekali tidak mengganggu mereka lagi. Ternyata teman Byakuya yang melakukannya, tapi mafia itu salah sangka hingga akhirnya melakukan pembantaian itu. Mafia itu sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Byakuya"

" Hingga malam itu, tengah malam sebelumnya, Hisana merasakan firasat yang tidak enak. Karena itu Hisana menelponku dan menjelaskan tentang firasatnya. Tepat pada saat itu, ada sebuah suara kaca pecah. Aku segera menyuruh Hisana untuk segera lari dan membawa semua keluargamu. Tapi terlambat. Byakuya. Byakuya berusaha menyelamatkanmu dan Hisana. Karena itu ibumu tengah malam itu segera membawamu kestasiun. Tapi terlambat. Ada yang mengikuti kalian. Akhirnya Hisana hanya menyelamatkanmu…"

" Dan setelah keretamu sampai kesini, aku mendengar ada orang yang mengatakan tentang ledakan dan bunyi letusan. Dan keesokan harinya dimedia ada kabar bahwa seorang wanita tertembak distasiun kereta api. Dan naasnya… itu adalah ibumu…,"

vVv


bagaimana?

masih gaje?

ok deh...

langsung review aja yaa,...

saya udah telat 10 menit!

mata nee

kalo ada yang salah maaf, buru-buru sih!

RnR plisssssssss