Yoo minna!

Saya datang kembali.

untunglah Fanfic udah rebes bin beres...hahahahaha

silahkanb review lagi yaaa...

saya sangat senang ada yang mau review Fic gaje ini.

oh ya... maaf kemarin gak bisa bales review.

maklum saja... repot ngurus tugas kuliah dan ditambah lagi mau ada mid semester nihhh...

haduh jadi kacau nih... gimana coba?

males banget tuh buka catatan abal yang saya bikin. malah banyakan gambar dari tulisan.

ok deh.

keadaan mulai kacau... mari kita baca..

maaf ya kalo ada salah lagi. silahkan dikripiki... eh... dikritik...

disclaimer : Tite Kubo

warning : OOC, Au, MissTypo, Gaje, Abal. heheheheh


vVv

" Dan setelah keretamu sampai kesini, aku mendengar ada orang yang mengatakan tentang ledakan dan bunyi letusan. Dan keesokan harinya dimedia ada kabar bahwa seorang wanita tertembak distasiun kereta api. Dan naasnya… itu adalah ibumu…"

Seketika itu pula, tangis Rukia pecah.

Dia tak bisa lagi berkata apapun. Bagaimana ini bisa… bagaimana?

Kenapa harus keluarganya? Kenapa harus… astaga!

Jadi… bunyi letusan 9 tahun yang lalu ketika dia pergi, adalah bunyi tembakan ibunya.

Yoruichi diam menunggu Rukia sedikit tenang. Jujur. Kenapa harus seperti ini. Berulang kali dalam hatinya kenapa harus dirinya.

Setelah tangisnya reda, Rukia menarik nafasnya panjang. Setidaknya, setelah berlalu 9 tahun kini dia sudah paham apa yang terjadi dengan keluarganya. Setidaknya, dia tak perlu mencari tahu lebih banyak lagi. Karena hanya akan menyakiti perasaannya saja. setidaknya tantenya tak menutupi apapun lagi darinya. Meskipun kenyataan yang sebenarnya terdengar sangatlah menyedihkan. Sangat. Namun, apa lagi yang bisa dilakukannya selain menerima dengan lapang dada?

" 7 hari lagi adalah peringatan kematian keluargamu. Harusnya aku memberitahumu lebih cepat. Tapi karena sekarang kau sudah tahu. Setidaknya kau harus mengunjungi mereka. Nanti akan kuberitahu alamatnya…" ujar Yoruichi lagi.

Setelah kembali terdiam agak lama lagi, Rukia tidak tahan untuk tidak bertanya lebih jauh tentang pembantaian itu. Meskipun sejujurnya,…

" Apakah… apakah Ibu tahu… siapa mafia itu?" lirih Rukia.

Mata tantenya membelalak lebar. Baru saja akan mengambil secangkir gelas teh hangatnya, tantenya mengurungkannya dan berpikir. Memang pertanyaan yang wajar dan seharusnya Rukiapun tahu. Tapi… ini adalah mafia. Bukan sembarangan penjahat.

" Kenapa? Bukankah mengetahui kenyataan keluargamu saja itu sudah cukup? Kenapa harus tahu siapa yang membunuh keluargamu?" desak Yoruichi.

" Selama ini aku memang hanya ingin tahu apa yang terjadi 9 tahun lalu. Dan aku sudah terlanjur tahu tentang semuanya. Setidaknya aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini…" mata Rukia menyala sinis. Yoruichi tahu. Ada dendam didalam mata anak ini.

" Dendam tak akan mengubah segalanya Rukia. Semua sudah menjadi masa lalu. Kenapa kau tidak mencoba menerima saja semuanya? Aku sudah memberitahu apa yang seharusnya kau tahu. Tak perlu mencari-cari masalah lain… ingat Rukia… mungkin sekarangpun, para mafia itu masih mencarimu selama 9 tahun ini untuk menuntaskan dendamnya pada ayahmu. Tidakkah kau mengerti tentang itu?" mohon Yoruichi.

Rukia terdiam. Pikirannya kembali berkecamuk.

" Aku tahu Bu. Selalu tahu. Aku bisa jaga diri. Selama ini bukankah tidak ada yang terjadi denganku? Lagipula… cepat atau lambat. Aku akan mengetahui siapa mafia itu meskipun Ibu tidak memberitahukan padaku…" ujar Rukia mantap.

Kali ini Yoruichi menyerah. Ya tentu saja. Rukia pasti akan mencari tahu. Kemungkinan besar dia akan kembali kerumah lamanya dan mencari tahu diantara tumpukan arsip ayahnya yang disimpan sangat rahasia. Dan Rukia begitu mengenal rumahnya. Tak ada jaminan Rukia gagal. Dia pasti akan menemukannya.

" Asal kau berjanji tak akan berbuat ceroboh…"

vVv


Rukia sudah mengetahui siapa mafia yang dimaksud oleh tantenya. Setelah pembicaraan itu, Rukia berubah jadi pendiam. Lebih pendiam. Kebanyakan waktu dia habiskan didepan internet mencari tahu. Itu memang dilakukannya diam-diam. Sebenarnya apa yang dia cari? Tantenya benar. Dendam tak akan merubah masa lalu. Tak akan mengembalikan keluarganya. Tak akan. Lalu kenapa dia menginginkan orang itu bertanggungjawab?

Hari itu sudah pulang dari jadwal kuliah. Namun, Rukia sama sekali tidak masuk kedalam kelas. Hanya duduk dibangku taman fakultasnya dan diam. Seolah memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini?

" Rukia…" tiba-tiba suara Senna menyeruak masuk kedalam kamarnya. Rukia menuju laptopnya dan langsung meng-close window yang dibukanya dari tadi. Senna masuk dan duduk dipinggir kasur Rukia.

" Kau kenapa Rukia? Sudah 3 hari ini hanya mengurung diri? Ada masalah? Katakan padaku…" ujar Senna. Rukia tahu. Sepupunya itu sedang mengkhawatirkannya.

Rukia tersenyum, kelihatan senyum terpaksa. Dan menggeleng perlahan. Memang selama 3 hari ini—atau tepatnya setelah dia tahu kenyataan itu—Rukia tidak terlalu banyak bicara. Hanya diam dikamar dan tidak melakukan apapun. Entah kenapa sepertinya memang aneh. Seperti banyak sekali yang dipikirkan.

" Kau mau ikut aku?" tawar Senna. Rukia memandangnya dengan pandangan bertanya.

" Kelokasiku. Memang syutingnya bentar lagi berakhir. Tapi, kau jarang keluar. Dan aku hanya sebentar disana. Setelah itu kita jalan-jalan. Kau mau kan?" ujar Senna bersemangat. Rukia hanya tersenyum singkat saja.

" Baiklah. Itu sebagai jawaban iya… aku tunggu 10 menit lagi ya…" Senna bergegas keluar dari kamar Rukia dan menunggunya.

Mungkin bukan hal buruk keluar jalan-jalan. Lagipula, buat apa mengurung diri?

Toh untuk saat seperti ini, Rukia tak bisa berbuat apapun. Apa yang bisa dia lakukan?

Mulai saat ini, Rukia hanya berusaha menerima segalanya saja. Toh pasti itu yang diinginkan oleh keluarganya dialam sana. Benar kan?

Senna menarik-narik Rukia menuju lokasi syutingnya. Tepat pada saat itu para staff dan artis sedang istirahat. Senna menyapa semua orang yang ada disana. Dan Rukia hanya ikut tersenyum saja. Lagipula apa lagi yang bisa dilakukannya?

" Ichigo!" begitu nama itu terdengar, mendadak Rukia terkejut bukan main. Dadanya bergemuruh dan jantungnya nyaris melompat keluar. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Ichigo. Atau tepatnya setelah mereka melakukan ice skating bersama. Senna memanggil Ichigo dengan bersemangat. Tampaknya mereka cukup dekat. Meskipun Senna pernah bilang dia tak tertarik pada Ichigo, namun pesona artis terkenal itu tak bisa dipungkiri siapapun. Gadis mana saja pasti akan bertekuk lutut didepannya. Itu pasti.

Ichigo, tampak melambai pada Senna. Saat itu Ichigo tengah duduk disebuah kursi rias diluar ruangan bersama managernya Kyouraku Shunsui. Kyouraku tampak begitu sumringah melihat Senna. Dan mereka melakukan pelukan cium pipi kanan dan kiri. Sejak kapan mereka sedekat itu?

Rukia hanya berdiri agak jauh dari Ichigo, Senna dan Kyouraku.

Ketika pandangan Ichigo dan Rukia bertemu, tidak ada cara lain selain menunduk saja. Rukia tak bisa memandang Ichigo lama-lama. Takut jantungnya benar-benar akan melompat keluar.

" Hei Rukia! Kemari… ada apa denganmu? Oh ya! Setelah ini kalian ada jadwal apa?" tanya Senna sambil menggandeng Rukia mendekat mereka.

" Jadwal? Ehm… kurasa tak ada. Benar kan Ichigo?" ujar Kyouraku sambil mengetuk jarinya kedagu tampak berpikir dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Ichigo yang membaca naskahnya.

" Ya… kurasa tak ada…" sambung Ichigo datar. Tetap melihat naskahnya.

" Kalau begitu gimana kalau kita makan siang bersama. Kalian tahu sepupuku ini udah hampir 3 hari mengurung diri dan nggak melakukan apapun! Dia gak mau menceritakan apapun padaku! Entah kenapa dia berubah jadi pemurung!" celoteh Senna panjang lebar. Rukia membelalakan matanya tak menyangka Senna akan seember itu.

Ichigo langsung mengalihkan pandangannya dari naskah kearah Rukia yang masih menunduk saja.

" Mengurung diri? Memang ada masalah apa? Ceritakan padaku. Aku bisa mengerti perasaan wanita…" sahut Kyouraku.

" Tidak apa-apa! Sungguh. Senna berlebihan. Sebenarnya… memang hanya ada sedikit masalah… tapi… sungguh tidak terlalu besar…" elak Rukia.

" Lalu apa yang kau lakukan selama 3 hari ini? Oh.. tunggu sebentar…" Senna menghentikan kata-katanya dan melirik kedalam tas tangan pinknya. Ada telepon. Senna tersenyum singkat lalu menjauhkan diri untuk menerima teleponnya meninggalkan Rukia.

" Tapi… Senna benar… kau tampak lebih kurus… dan—tunggu sebentar…" Kyouraku ikut menghentikan kata-katanya dan merogoh kantung celana cokelatnya. Lalu sama seperti Senna tersenyum sebentar kemudian menjauh menerima telepon.

Rukia terbelalak! Lihat! Dia hanya berdua dengan Ichigo! Bagaimana ini!

Menyesal dia ikut dengan Senna. Tunggu… tidak terlalu menyesal. Setidaknya dia bisa melihat Ichigo dan sedikit melupakan masalah yang sedang dipikirkannya.

Ichigo menutup naskahnya dan memandang Rukia. Dan lagi Rukia menunduk saja.

" Kenapa kau menunduk?" suara ketus Ichigo. Entah kenapa meskipun ketus, Rukia justru menyukainya. Apa! Menyukainya? No Way!

" Ti… tidak ada apa-apa… hanya… memangnya kenapa?" kata Rukia salah tingkah. Dia baru saja membatin yang aneh-aneh!

" Astaga! Ternyata pembuat masalah sepertimu juga punya masalah?" sindir Ichigo.

" Hei Ichigo… kenapa kau selalu memanggilku pembuat masalah? Aku kan tidak membuat masalah lagi denganmu…" kata Rukia cemberut.

" Hm… mungkin karena kau jadi sedikit berbeda…" kali ini Ichigo menyesali kata-katanya. Apa yang baru saja dia katakan? Pasti gadis itu akan memandangnya aneh. Tentu. Dan kini ketika Ichigo melihat kearah gadis itu, gadis itu memang sedang memandang aneh dirinya.

" Maksudku… kau pasti akan membuat masalah lagi. Bagus sekali kalau kau tidak membuat masalah lagi!" sangkal Ichigo.

Rukia memperhatikan Ichigo yang tampak salah tingkah. Meskipun ditutupi, dia tahu Ichigo memang salah tingkah.

Mereka terdiam agak lama. Dan akhirnya Rukia tersenyum. Bertemu dengan Ichgio, adalah hal terbaik dalam hidupnya. Bebannya sedikit terangkat.

" Ichigo…," panggil Rukia lembut. Ichigo menoleh.

" Jika nanti… kalau aku ada masalah… bolehkah aku memanggilmu? Bolehkah kita melakukan ice skating seperti waktu kau punya masalah kemarin?" tanya Rukia.

Ichigo terdiam. Mengapa gadis ini memintanya seperti itu? Jujur saja, Ichigo melakukan ice skating waktu itu karena dirinya tak tahu lagi harus melakukan apa. Dan secara kebetulan gadis ini datang mencarinya. Dia tahu gadis didepannya ini memang punya masalah yang tak bisa dikatakan. Ichigo akan menjawab…

" Ichigo… rupanya kau disini… aku mencarimu…" suara manja seorang gadis terdengar dari belakang mereka. Ichigo menyipitkan matanya ketika menyadari yang datang adalah seseorang yang sama sekali tak diharapkannya.

Rukia segera mengalihkan pandangannya ketempat lain. Kenapa orang ini yang muncul.

" Bukannya sudah kubilang jangan menemuiku kalau bukan saat syuting!" suara dingin—bukan suara ketus yang disukai Rukia—Ichigo terdengar menusuk dan tidak bersahabat.

" Kenapa? Kita kan sepasang kekasih… bukan begitu?" tampaknya orang ini sama sekali tak menyadari kehadiran Rukia.

" Dalam mimpimu! Itu hanya didalam scenario. Kita sedang bersandiwara. Ini hanya acting. Apa itu kurang jelas nona?" Ichigo menaruh naskahnya diatas meja lalu pergi dengan langkah kesal.

" Hei… Ichigo kau mau kemana!" teriak gadis itu.

" Ketoilet! Dan itu bukan urusanmu!" ketika menyebut toilet, Ichigo agak merendah, namun, ketika bukan urusanmu nadanya jadi tinggi dan dingin.

vVv


Akhirnya, gadis itu menoleh kearah Rukia. Sudah lama sebenarnya dia memperhatikan keberadaan gadis ini. Dan ketika Rukia berada didekat Ichigo, pria itu selalu bicara santai. Kesannya mereka seperti sudah lama saling mengenal dan memiliki, hubungan yang sulit diterjemahkan. Selama ini, yang dia tahu, Ichigo tak begitu peduli dengan wanita manapun.

" Kau pasti masih mengenalku kan?" ujar gadis itu pada Rukia. Rukia tak bisa mengelak lagi. Tentunya dia kenal siapa gadis ini.

" Inoue Orihime… senang bertemu lagi denganmu…" kata Rukia malas. Sangat malas.

Tentu saja dia tak menyangka. Orang yang pernah satu kelas di SMA dengannya yang memang terobsesi menjadi artis terkenal ini, dan sekarang dia memang sudah jadi artis terkenal, punya hubungan dengan Ichigo. Orang yang pernah membuatnya menyerah akan cinta. Setiap kali, Rukia menyukai pria manapun, Orihime akan mendekati pria itu dan mengambilnya dari Rukia. Selalu seperti itu. Seakan-akan, bintang terkenal ini bisa melakukan apapun yang dia inginkan.

" Aku juga senang bertemu denganmu… bagaimana kau bisa mengenal Ichigo-ku?" tanya Orihime. Apa? Ichigo-nya? Lelucon apa itu?

" Kebetulan saja. aku tak tahu Ichigo punya hubungan denganmu…" dengus Rukia. Pasti Orihime akan melakukan hal aneh padanya.

" Tentu saja. aku dan Ichigo sudah lama punya hubungan. Mungkin sekarang ini dia masih kesal karena aku sedikit mengabaikan dulu. Tapi aku sudah disini dan tak akan melepaskannya lagi. Aku dan Ichigo sudah ditakdirkan untuk jadi pasangan selamanya…" kata Orihime. Mungkin memang terdengar seperti lelucon.

" Baguslah… aku tidak peduli soal itu…" kata Rukia balik. Namun dalam hatinya, Ichigo akan mengabaikan bualan gadis ini.

" Tapi kali ini, kau tak bisa menyukainya. Karena Ichigo milikku. Hanya boleh jadi milikku bukan?" sindir Orihime.

Miliknya? Ichigo miliknya? Konyolnya hal itu. Masa? Hah? Kenapa Rukia tidak terima ketika dengan bangganya Orihime mengatakan hal itu. Seperti pasti bahwa Ichigo hanya miliknya seorang. Lucu sekali!

" Nah… mari kita pergi…" suara Senna membuyarkan segalanya. Rukia begitu beruntung Senna cepat datang dan dia tak perlu meladenin kerjaan orang gila ini.

Senna datang bersama Kyouraku dan Ichigo.

" Kau masih disini!" suara dingin menyebalkan milik Ichigo terarah untuk Orihime. Tampak Kyouraku dan Senna mencibir kesal. Kenapa ada gadis itu. Pikir mereka. Orihime hanya tersenyum manis. Dan yakinlah. Senna hampir mencari kantung muntah karena melihat adegan menjijikan itu.

" Tentu saja… aku menunggumu kan?" suara manja menyebalkan.

" Baiklah. Apa kita pergi sekarang saja?" Senna mengalihkan pandangannya dan bertanya pada Ichigo, Kyouraku dan Rukia. Tanpa sedikit menoleh pada Orihime. Senna sudah tahu soal Orihime ketika Rukia masih SMA. Namun, sepertinya Senna sama sekali tak tahu tentang hubungan Ichigo dan Orihime.

" Kita pergi sekarang saja…" ujar Kyouraku pada mereka semua.

" Kalian mau pergi? Dengan Ichigo? Aku ikut…" rengek Orihime.

Percayalah. Kalau melihat wajah merengek yang menyebalkan itu pastilah kalian akan menyiapkan kantung muntah. Bahkan bila perlu sebuah baskom!

" Hei! Kami ini akan naik mobilnya Senna. Hanya bisa 4 orang. Tidak bisa ditambah lagi. Kau kan ada jadwal kesalon dengan managermu!" sindir Ichigo.

" Aku bisa pakai mobilku, dan kau bisa menyetirnya untukku," kata Orihime dengan percaya dirinya. Apa?

" Kau yakin sekali aku mau. Sayangnya aku tak mau!" lagi suara dingin seorang Ichigo. Dan saat itu Rukia sungguh pusing dan tak tahu mau bagaimana lagi.

" Mungkin lain kali saja. Aku sedikit pusing… aku pulang saja…" ujar Rukia menghentikan pertengkaran itu. Matanya semakin sakit melihat tingkah Orihime yang manja pada Ichigo itu.

" Oh… benar juga. Kau terlihat pucat… baiklah lain kali saja… aku pulang dulu Ichigo, Kak Kyouraku…" begitu melihat Orihime, Senna langsung berubah sinis.

Sebelum benar-benar pergi Rukia menoleh kebelakang dan melihat Ichigo. Dan sepertinya Ichigo juga melihat kearahnya.

" Tentu saja boleh. Kau boleh memanggilku!" teriak Ichigo. apa berteriak? Ichigo berteriak kearahnya. Senna sampai membelalakan matanya. Begitu Rukia berbalik, Ichigo tersenyum penuh arti. Apa tersenyum? Tersenyum padanya? Bukan senyum sinis? Baru saja Rukia akan membalasnya, Ichigo berbalik dan menjauh. Karena Orihime merengek padanya. Setelah punggung Ichigo menjauh, Rukia memegang dadanya sendiri. Ya. mungkin perasaan ini tak boleh. Tapi…

vVv


" Jujur padaku. Ada hubungan apa sebenarnya kalian ini? Jangan-jangan kau memang menyukai Ichigo ya?" goda Senna dalam perjalanan pulang mereka.

" Tidak…" jawab Rukia singkat.

" Ahh… terserahlah. Aku pasti akan mendukungmu. Apa aku perlu mencomblangkan kalian? Tampaknya peranku sebagai cupid dibutuhkan disini ya…" kata Senna asal-asalan.

" Hei Senna! Perhatikan jalanan saja…" perintah Rukia.

" Ibu pasti senang akhirnya kau punya pria yang kau sukai…" tambah Senna.

Dan dalam perjalanan pulang itu, Senna mulai meracau tak jelas. Sedikit membuat Rukia pusing tapi dia membenarkan apa yang dikatakan Senna. Bahwa dalam hatinya saat ini mulai memiliki perasaan yang dia sendiri tahu tak boleh dimiliki.

Ichigo pasti akan tertawa mendengar lelucon ini kalau sampai dia tahu.

Dan Rukia harus menjaganya agar jangan sampai lebih dari ini.

vVv


Sudah beberapa ini Rukia tak terlalu fokus dengan mata kuliahnya. Istilahnya jangan tidak mengisi absen. Rukia kembali duduk dibagian paling pojok. Besok adalah hari yang dikatakan oleh tantenya. Dan tadi malam, tantenya sudah memberitahukannya. Inginnya besok Rukia pergi sendiri. Tapi tantenya melarang akan hal itu. Dan sekarang. Tantenya memberikan 2 pilihan. Ditemani pergi atau tidak usah pergi. Dan Rukia jamin, tantenya tak akan rewel dengan siapa saja Rukia pergi. Masalah… siapa orang itu?

Dan Senna tadi malam sudah punya jadwal ekstra ketat. Mulai hari ini sampai lusa nanti, ada acara khusus mengenai film yang sudah rampung itu. Dan katanya akan dirilis minggu depan jika tidak ada halangan.

Sebaiknya dengan siapa? Tantenya juga tak bisa menemani karena ada urusan diluar kota dengan oomnya. Dan bisa dipastikan pulangnya pasti tengah malam atau keesokan harinya. Sekarang Rukia sangat bingung. Siapa?

" Rukia… nanti setelah pelajaran usai, bapak mau bicara dengan kamu…" tiba-tiba suara dosennya hari ini mengajar mengarah padanya. Tentu saja kaget. Rukia terbelalak kala yang bicara itu adalah Kaien. Dengan wajah yang menahan malu dan tak enak hati, Rukia hanya menggumamkan kata 'ya' dan menunduk lagi. Kali ini pasti dia akan dibantai.

Rukia ingat. Dia sudah beberapa hari membolos pelajaran Kaien. Dan kali ini dia tertangkap basah sedang melamunkan hal yang tidak-tidak. Pasti dia akan kena marah habis-habisan!

Setelah kelas bubar, Rukia masih mantap didalam kelas. Tentu saja dia sudah disuruh jangan kemana-mana karena akan diceramahin habis-habisan. Beberapa mahasiswi masih terlihat genit dan centil didepan dosen muda itu. Wajar saja. kalau Rukia menyukai tipe pria seperti Kaien, dia akan setengah mati mencari muka didepan dosen muda itu. Tapi, semenjak beberapa tahun, sepertinya tidak lagi. Meskipun Rukia tidak bisa memungkirinya, Kaien masih cinta pertamanya. Atau cinta monyet?

" Kemarilah Rukia…" suara Kaien memecahkan lamunannya. Baiklah. Kini saatnya kena marah. Bukan hanya Kaien yang menegurnya hari ini. Tapi sudah 2 dosen dari kemarin menegurnya karena melamun. Hidup bukan untuk melamunkan?

" Ya pak… maafkan saya yang tidak memperhatikan pelajaran bapak… dan saya—"

" Bapak? Hei… kita ini cuma berdua. Masa masih memanggil bapak padaku? Kau sungguh berharap aku setua itu?" ujar Kaien. Rukia terperangah. Kaien tidak marah?

Dia malah bercanda dan tertawa? Tawa yang sangat disukai Rukia dulu. Ya. dulu sekali.

" Jadi?" Rukia kini kembali bingung. Layaknya orang bodoh yang mengerjakan soal matematika kelas 1 SD dan masih salah.

" Beberapa hari ini kau jarang masuk kekelasku. Dan sepertinya kau juga sering melamun. Aku tak akan tanya kenapa kau seperti itu, tapi Senna sudah memberitahukanku penyebabnya. Dan tampaknya kakak sepupumu juga tidak tahu…" jelas Kaien sambil memperhatikan setumpuk kertas. Atau lebih tepatnya dia sedang mengoreksinya.

Rukia mengangguk mengerti. Meskipun tidak mengerti sepenuhnya.

" Oh seperti itu… lalu apa yang harus aku lakukan disini?" tanya Rukia mencoba menghilangkan rasa bodohnya itu. Bukan bodoh. Mungkin agak canggung.

" Duduk diam saja. Tunggu sampai aku menyelesaikan kertas ini…" ujar Kaien.

" Hah? Duduk diam? Tapi… bukannya… seharusnya ini dikerjakan diruangan dosen kan? Kenapa disini?"

" Ruangan dosen tidak nyaman. Disana banyak dosen tua yang obrolannya gak jauh dari soal negara. Aku malas ikut ngobrol seperti itu. Rasanya seperti orang tua. Umurku saja masih pertengahan 20. Atau… kau nggak mau menemaniku karena ada janji?" Kaien mengalihkan pandangannya ke Rukia ketika menanyakan kalimat terakhir.

" Hah? Eh… gak ada… aku tidak punya janji…" kata Rukia sambil menggeleng menegaskan bahwa dia memang tidak punya janji, atau belum ada janji.

Kaien tersenyum dan menyuruhnya duduk disebelahnya. Rukia tak bisa melakukan apapun. Entah kenapa, perasaannya berbeda dari yang dulu. Ketika ada Kaien dulu berkunjung kerumah, Rukia akan selalu duduk didekatnya dan berceloteh panjang lebar. Terkadang dengan manjanya minta diajarkan soal yang dia kurang mengerti sampai Senna terus menerus menggodanya. Tapi kini, ada perasaan asing. Perasaan yang menjaga jarak mereka. Kenyataan bahwa Kaien tidak sama seperti Kaien yang dia kenal dulu. Tidak.

" Kenapa diam saja? Dulu kau suka bercerita panjang lebar kan denganku?" celetuk Kaien meskipun pandangannya masih fokus kedalam lembar kertas itu.

" Eh? Oh… apa yang harus aku ceritakan?" tanya Rukia bingung. Kenapa hari ini dia seperti orang aneh? Baiklah dia memang kelihatan lugu dan terlalu polos!

" Apa saja… kalau kau diam seperti itu aku merasa aneh… dan juga—tunggu sebentar…" Kaien menghentikan kalimatnya dan merogoh saku celananya. Telepon? Oh… tentu saja Kaien pasti sibuk kan? Apalagi sekarang ini dia yang menghandle urusan perkuliahan untuk 3 bulan kedepan.

" Baiklah… dimana? Oh aku tahu… kau sudah disana? Baiklah… iya aku akan mengajaknya. Dia bilang tak punya janji apapun… yaya… aku tak punya kerjaan. 10 menit lagi sudah sampai… bye…" Kaien menutup teleponnya. Dan membereskan barangnya.

" Mau pulang?," tanya Rukia.

" Tidak. Aku tidak pulang. Kita pergi sekarang?" ajak Kaien.

" Hah? Kemana?"

" Ayo…" Kaien tidak memberikan penjelasan namun hanya membereskan barangnya dan mengajak Rukia keluar dari ruangan itu.

vVv


" Cepat-cepat…! Aku sudah lapar… katanya 10 menit… ini hampir setengah jam!" rutuk Senna kesal. Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Kini mereka ada direstoran Jepang favorite Senna. Kenapa ada disini? Senna langsung menggandeng Rukia dan tersenyum. Rukia tak bisa mengatakan apapun karena semuanya serba ekspres dan seperti direncanakan. Kenapa tiba-tiba makan siang seperti ini?

Ketika Senna membimbing Rukia dan Kaien menuju meja yang sudah dipesan Senna, Rukia tambah terbelalak mana kala dia melihat seseorang yang sudah duduk terlebih dahulu dimeja yang ditunjuk Senna sambil membolak balik daftar menunya. Hari ini, dia tak mengenakan topi, hanya syal tipis berwarna hijau dan kacamata dengan frame putih yang membingkai indah matanya, kaos longgar berwarna cokelat. Hari ini dia masih tetap menarik. Rukia menggelengkan kepalanya. Kenapa setiap kali berusaha melupakan pria ini, kesempatan bertemu selalu datang? Dia mengutuk dirinya kenapa mau saja ikut acara ini!

" Ichigo, mereka sudah datang. Ini temanku yang pernah kuperkenalkan kemarin. Dia dosen sementara dikampus Rukia. Dan aku pernah berjanji mentraktirmu makanan favoriteku kan? Ayo Rukia… kenapa diam saja?" Senna masih menggandeng Rukia. Kalau tidak ditarik oleh Senna, mungkin saja Rukia masih mematung dipintu masuk.

Rukia duduk disamping Kaien dan didepan Ichigo. Dia masih menunduk. Tapi dalam hatinya dia yakin ini pasti ulah Senna. Kemarin sewaktu pulang itu, Senna terus mengoceh soal menjodohkannya dengan Ichigo. Rukia sudah berjanji dalam hati akan membuat perhitungan dengan sepupunya itu!

" Senang sekali bertemu denganmu lagi… Ichigo…" Kaien membuka obrolan setelah mereka berempat memesan menu. Rukia hanya menunduk menatap piring dimeja makannya. Dia tak tahu bagaimana memulainya. Haruskah dia diam saja? Harus!

" Ya… senang juga. Senna bilang, kau sedang menyelesaikan mastermu ya? Kau teman sejak SMA dengan Senna kan?" kata Ichigo. Bagus. Dia ramah sekali kali ini. Entah kenapa Ichigo ingin menjaga image-nya didepan Kaien.

" Yayaya… kami sangat dekat… Kaien sering main kerumah waktu itu. Dan ketika kami SMA, Rukia masih SMP, Rukia senang sekali kalau Kaien datang. Dia selalu disamping Kaien dan mengusirku sejauh mungkin agar bisa berduaan dengan Kaien…" cerita Senna. Begitu memulai cerita itu, Rukia sudah memelototinya tapi sepertinya tidak berfungsi. Karenanya Rukia menendang kaki Senna tapi tidak sampai. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting yang kelewat direbus.

" Hei Senna… berhenti bicara soal itu! Kalau rencanamu mengajakku kesini buat menggodaku aku akan pulang…" ancam Rukia. Dia sudah tak tahu lagi harus mengatakan apa dengan wajah memerah itu. Apalagi Kaien hanya tersenyum saja mendengar ocehan Senna. Sedangkan Ichigo. Astaga! Pria ini sedikit kesal, kenapa pria yang duduk disamping Rukia itu hanya tersenyum dan tidak membantah sama sekali. Atau setidaknya dia juga menghentikannya. Digoda seperti itu, pria mana juga tak akan suka. Kecuali…

" Ahh~ kau ini mengancamku melulu… nggak apa-apa kan? Ini juga bahan obrolan sampai makanan kita datang. Ichigo pasti suka mendengarnya iya kan?" Senna melirik centil kearah Ichigo. Bukan lirikan centil menggoda. Lirikan mendukung pendapatnya. Ichigo tidak terlalu suka mendengarnya. Apalagi soal masa lalu Rukia yang sama sekali tidak dia ketahui. Tapi, dalam lubuk hatinya paling dalam dia benar-benar ingin tahu apa itu.

Rukia sudah menyerah. Dia tahu tak akan mudah menghalangi Senna berceloteh. Karenanya sambil menahan malu karena setiap hal kecil diceritakan pada kedua pria itu. Mungkin Kaien juga tanpa sadar ikut mendengarnya. Dan cerita soal siapa saja yang pernah disukai oleh Rukia. Sampai makanan datangpun masih dibahas tentang hal itu yang membuat Rukia menyesal pernah menganggap kakak sepupunya ini teman curhat terbaik.

" Dan kalian tahu… Kaien itu cinta pertamanya Rukia dulu…" kata Senna sebelum memasukkan satu sushi dalam mulutnya. Saat itu, ketika mendengar kalimat Senna terakhir kalinya, Rukia langsung tersedak. Karena tiba-tiba saja, dia memasukkan semua sushi itu kedalam mulutnya sendiri. Kaien membantunya dengan menepuk pelan punggung Rukia. Padahal saat itu, baik Ichigo, dan Kaien sama-sama menoleh kearah Rukia. Jujur saja, Kaien sama sekali tak tahu soal itu. Dan apalagi Ichigo. Dia cukup kaget. Entah kenapa dia kaget.

Setelah tersedaknya Rukia selesai, dia kembali melotot sadis pada Senna.

" Hei Senna… kau ini… kenapa itu juga dibicarakan!" bisik Rukia. Meskipun dengan jelas Ichigo dan Kaien bisa mendengarnya.

" Hah? Kenapa? Nggak apa-apa kan? Kau kan memang tidak punya cinta selanjutnya… Atau jangan-jangan kau masih suka dengan Kaien dan menganggapnya sebagai cinta pertama?" tanya Senna santai.

" Tidak! Tidak seperti itu…! Lagipula… Kaien kan…" Rukia menghentikan perkataannya dan kembali menunduk.

" Aku ketoilet dulu…" Rukia berdiri dari kursinya dan segera bergegas ketoilet.

Setelah Rukia pergi, Senna masih menganggap santai semuanya sampai…

" Maksudmu tentang tidak punya cinta selanjutnya itu apa?" tanya Kaien bingung. Sebenarnya dia tak bermaksud menanyakan hal ini, tapi, ini adalah kesempatan untuknya.

" Oh… itu… sebenarnya semenjak SMA dulu…"

vVv


Rukia membasuh mukanya! Dasar MENYEBALKAN! Rukia berteriak sepuas hati didalam toilet itu. Sebenarnya dia ingin sekali marah. Tapi tidak bisa. Kalau dia marah maka akan ketahuan bahwa itu memang benar. Tapi, kalau dia tidak marah inilah yang terjadi. Apa yang akan dilakukannya ketika bertemu dengan Kaien nanti? Dia pasti akan malu 7 turunan!

Meskipun itu memang cinta pertama, tapi tak seharusnya Kaien tahu. Apalagi, kalau ternyata Kaien masih menjalin hubungan dengan seseorang? Dia bisa jadi pemicu hancurnya hubungan orang lain. Tunggu dulu! Kenapa dia berpikir seperti itu? Bukankah Kaien hanya menganggapnya adik? Tentu saja. Dia tak perlu malu soal itu pada Kaien kalau memang Kaien masih menganggapnya adik yang baik kan?

Tapi… bagaimana dengan Ichigo? Astaga! Kenapa lagi dengan orang itu?

Rukia hanya tak ingin salah paham. Tapi itu memang kenyataan bukan. Kenyataan bahwa Kaien memang cinta pertamanya. Lalu kenapa Rukia seakan tidak terima Ichigo tahu itu? Rukia mengacak rambutnya kesal. Kemudian Rukia menatap cermin besar itu.

Tidak akan terjadi apa-apa. Toh Ichigo sama sekali tak memperhatikannya. Walaupun Rukia tahu dia memiliki sebagian hatinya untuk Ichigo. Namun pasti akan jadi cinta bertepuk sebelah tangan lagi. Tidak apa-apa Rukia!

Rukia keluar dari toilet dan kembali melanjutkan makan. Dia sudah memastikan wajahnya tak akan memerah seperti kepiting yang kelewat masak.

Senna tersenyum padanya. Senyum jahil. Tapi Rukia langsung memelototinya begitu saja.

Senna tahu Rukia marah, tapi itu tak akan lama. Karenanya Senna segera mencari bahan obrolan lain. Tiba-tiba ponsel Senna berbunyi dan dia agak menjauh mengangkatnya.

" Bagaimana denganmu? Masih sakit akibat tersedak tadi?," tanya Kaien. Rukia langsung salah tingkah melihat Kaien begitu perhatian padanya. Rukia hanya tersenyum saja. senyum tak enak. Apalagi Ichigo masih memperhatikannya walau Rukia tak melihatnya.

" Oh… maafkan aku… tiba-tiba agensi menyuruhku kestudio sekarang. Ada klien yang butuh bantuanku… sepertinya aku harus pulang duluan… tidak apa-apa kan?" kata Senna setelah kembali entah darimana. Senna tersenyum tak enak pula.

" Oh… begitu… ya sudah kita pulang duluan sa—" Ichigo bermaksud berdiri untuk ikut mengantar Senna. Tapi Senna segera mencegahnya.

" Oh… kau kan belum selesai makan. Lagipula aku sudah mengajakmu dan memintamu makan siang disini saja. Aku gak enak memintamu mengantarku pula… bagaimana dengan Kaien… kau bawa mobil kan?" tiba-tiba wajah Senna beralih kearah Kaien.

" Tentu saja aku bawa… tapi…" Kaien ragu sesaat.

" Bagus sekali! Sekarang kau harus menolongku. Aku sudah lama tidak berjalan denganmu karena kau sibuk. Kau gak akan keberatan kan?" Senna menepuk kedua tangannya dan melirik manja pada Kaien.

" Hei… lalu aku? Kau tidak bawa mobil?" Rukia menyela.

" Tentu saja tidak. Akukan menumpang mobil Ichigo. Kau bisa pulang dengannya. Kalian kan sudah pernah pulang sama-sama…" ujar Senna tanpa rasa bersalah.

" He-hei… masa kau—maksudku kalian pergi duluan? Kan Kaien juga baru datang?" Rukia berusaha memohon supaya bisa pulang dengan Kaien.

" Tidak-tidak… kau sudah terlalu sering diantar Kaien. Sedangkan aku belum… ayo Kaien… nanti kita terlambat…" Senna menarik Kaien untuk segera keluar. Tentu saja Kaien tak bisa menolak permintaan teman SMA-nya.

" Tunggu sebentar Senna… kalau kau tidak bisa pulang nanti, kau bisa menghubungi aku… aku akan menjemputmu…" kata Kaien sesaat sebelum dia pergi pada Rukia.

" Sudahlah… kan ada Ichigo. Ya kan…" sela Senna.

Rukia kembali menunduk bingung. Astaga. Bagaimana ini? Dia hanya berdua saja dengan Ichigo. Bagaimana dia akan bertindak?

Itu sudah pasti ulah Senna. Pasti! Pasti Senna mengarang alasan dan membuat situasi agar Rukia berdua saja dengan Ichigo. Kali ini dia pasti akan… Tuhan tolong!

" Tampaknya kau begitu sedih karena tidak jadi diantar cinta pertamamu itu…" sindir Ichigo sambil mengambil sisa sushinya.

" Hei… kenapa kau ikut-ikutan menggodaku?" ujar Rukia cemberut.

" Menggoda? Itu kenyataan kan? Pria itu memang cinta pertamamu. Ketika Senna bercerita tentang masa lalu kalian, wajahmu memerah seperti itu… kau pasti masih menyukainya…" sindir Ichigo lagi.

" Saat itu… aku malu. Lagipula… siapa yang masih berharap seperti itu?" Rukia marah. Sangat marah. Saking marahnya dia sampai lupa apa yang dia katakan.

" Jadi… kau tak berharap lagi pada pria itu?" tanya Ichigo ingin tahu.

" Ehm… sebenarnya… aku memang masih menyukainya… tapi… dia sudah punya orang lain… dan aku…" Rukia bingung menyusun kata-kata yang bagus.

" Jadi kau masih berharap?" kejar Ichigo lagi.

" Tidak! Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang aku masih menyukainya…"

" Artinya kau masih berharap padanya…"

" Ichigo. Aku gak tahu kenapa sepertinya kau suka sekali menyudutkanku. Tapi yang jelas, aku tidak berharap padanya. Masih menyukainya bukan berarti aku berharap padanya. Bukan seperti dirimu yang masih mengharapkan wanita ubur-ubur itu!" Rukia teringat dia baru saja mengatakan wanita ubur-ubur. Haduh! Pasti Ichigo akan marah!

" Kenapa kau mengalihkan pembicaraan. Siapa maksudmu wanita ubur-ubur itu? Oh… maksudmu Orihime? Bukannya aku sudah bilang aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya…"

" Lalu kenapa dia bilang kalian masih sepasang kekasih dan kau mungkin masih mengharapkannya? Dia bilang kalian itu pasangan yang sangatttt… serasi… bukan begitu?" ujar Rukia balas menyindirnya.

" Aku masih mengharapkannya? Yang benar saja! untuk apa aku mengharapkan wanita seperti itu setelah Senna—"

' Ichigo. kuharap setelah mendengar ini kau sama sekali tak memberitahu Rukia atau siapapun. Kalau dia tahu dia pasti akan sangat marah. Dia tidak suka cari masalah. Apalagi dengan wanita itu!'

Ichigo teringat ucapan terakhir Senna. Benar juga.

" Senna? Memang dia bicara apa?" tanya Rukia bingung.

" Tidak. Tidak ada apa-apa. Kukatakan sekali lagi dan ini terakhir kalinya. Aku dan Orihime sama sekali tak punya hubungan apapun. Sampai kapanpun. Kau percaya kan?" pinta Ichigo.

Rukia terdiam. Ichigo, memintanya percaya padanya?

" Kau percaya kan? Ahh~ jangan-jangan kau memang masih mengharapkan cinta pertamamu Karena kau masih menyukainya…"

" Tidak. Untuk saat ini tidak. Dan mungkin untuk kedepannya. Aku tidak mengharapkan dan menyukai cinta pertamaku lagi. Seharusnya itu sudah jadi masa lalu. Karena aku… kurasa aku mulai menyukai seseorang…," kata Rukia.

vVv


gimana ? nambah gaje?

ok deh. saya mau balas reviewnya disini aja yaa...hehehehe bolebolebole?

mautauaja : Yuph.. anda benar... itu si Orihime... hehehehe... makasih udah baca dan review. nih udah lanjut. ntar review lagi yahhh...heheh

Rukianonymous : Anda benar... hahahahah... kok pada tahu ya kalo itu si Orihime? apa jelas banget? yah. Ichigo gak suka ama tuh cewek hubungan mereka kayaknya *loh* ... mau dibilang apa ya? anne juga gak ngerti.*authorsarap*. soal film Ichigo. sepertinya sayapun mau nonton. kalo ada sutradara Indo yang mau . makasih udah review. nih udah update. review lagi yaa...

Yamakaze Shizuka : Hiks. *nangisbombay* iya... tapi udah dibunuh tuh... kejam amat yaa?hahahah makasih udah review nih udah update. review lagi yaaa

delalice : makasih udah review. saran yang bagus banget. iya nih kemaren gara" buru" jadi kelupaan. kalo mestinya kakaknya tuh cowok bukan cewek. tapi udah terlanjur apa boleh bautlah... hehehe ini udah diliat bener-bener kok...heheheh... makasih ya... nih udah update. review lagi ya...

Lily Hikari-chan : makasih banyak. heheheh nih udah update. review lagi ya. tuh cewek udah dijelaskan dichap ini kok...heheh

Kyucchi : saya yang bikin aja sampe ngesek. kok kelam banget yaaa? *lemotmodeon* kalo hubungan ma ichi ntar kita bahas dichap ... review lagi ya.

mieya chappyberry : makasih udah review kembali. gak papa kok...hehehe nih udah update. silahkan dinikmati *hah*heheheheh review lagi ya...

RnR