Yoo Minna saya datang
*ngantu melulu ni orang*
akhirnya saya bisa update lagi. dan karena kondisi waktu yang sekarat,,,,
saya gak bisa banyak cincong seperti biasa.
jadi saya harapkan..
fic ini gak banyak salah coz lagi-lagi saya buru-buru mengetiknya
*alasan*
ya... silahkan dinikmati...
disclaimer : Tite Kubo
warning : OOC, Abal, Au, Gaje, dan lain-lainnya.
vVv
'Karena aku… kurasa aku mulai menyukai seseorang…'
Setelah mengatakan hal itu Rukia kembali salah tingkah! Perkataannya yang tidak-tidak kembali terungkap! Oh no~!
Didepan Kurosaki Ichigo!
Setelah mengatakan hal itu, Ichigo terdiam dan menatap Rukia tanpa berkedip. Ichigo bingung. Apa yang dikatakan gadis itu?
Namun, karena bingung pula, gadis itu lagi-lagi menghindari tatapan mata Ichigo dan kembali menunduk.
Bahkan saat Ichigo mengantarnya pulang, gadis itu masih menunduk dan diam.
Sekilas Ichigo tahu gadis itu kembali tersipu. Pipinya kembali memerah.
Bukan karena malu. Entah kenapa memerah seperti itu. Malam menjelang tidurpun Ichigo masih memikirkannya. Karena itu meskipun jam sudah menunjukkan jam 11 malam diapartemen mewahnya, Ichigo masih berdiri diberandanya.
" Ichigo, kau belum tidur?" Kyouraku menyalakan lampu yang dipadamkan oleh Ichigo tadi. Sepertinya Kyouraku baru saja pulang dari klubnya. Setiap malam managernya itu memang begitu. Dan untungnya bukan dalam keadaan mabuk.
" Mendadak tidak bisa tidur…" sahut Ichigo singkat.
" Tumben… biasanya setelah bekerja kau langsung tidur tak sadarkan diri… apa ada yang terjadi? Oh ya, bagaimana makan siangmu dengan Senna-chan? Menyenangkan? Sayang sekali aku tak bisa ikut…"
" Kakak… kau pasti paham tentang wanita kan?" tanya Ichigo.
" Seharusnya kau tak perlu meragukan hal itu…" ujar Kyouraku malas.
" Lalu… apa kau tahu, kenapa seorang wanita tiba-tiba menundukkan kepalanya ketika mata kami saling bertatapan?" tanya Ichigo.
" Hah? Itu sudah jelaskan? Wanita itu mungkin menyukaimu… dia tidak kuat menatap matamu yang indah itu…"
" Menyukaiku? Wanita seperti itu?" gumam Ichigo.
" Siapa? Senna-chan? Tapi tidak mungkin Senna-chan. Dia terlalu cantik untukmu. Atau Orihime… ahh~ mana mungkin kau menanyakan wanita itu kan? Apa kau mulai tertarik dengan gadis tropis? Hei Ichigo. Tampaknya kau sedikit berubah" goda Kyouraku.
" Lupakan saja…!"
Ichigo masuk kekamarnya. Sangat mustahil gadis itu menyukainya. Tidak. Tapi… kalau dari tingkahnya. Hah? Kenapa Ichigo serius sekali memikirkannya?
vVv
" Jadi sudah dipastikan akan pergi dengan siapa?" tanya Yoruichi pagi itu.
" Sepertinya dengan Kaien. Aku akan menghubunginya…" jawab Rukia sambil mengoles roti tawarnya. Sedangkan Yoruichi terlupa mengambil kopi suaminya.
" Kenapa tidak dengan Ichigo saja? Padahal aku sudah merencanakan makan siang itu untukmu" rutuk Senna.
" Aku sudah tahu itu! Aku sudah bilang kan aku nggak perlu bantuan seperti itu"
" Jadi kau mau berusaha sendiri? Minta antarkan dia saja… kenapa harus Kaien? Diakan pasti punya jadwal mengajar…"
" Seharusnya jadwalnya kosong. Aku juga membolos hari ini…"
Senna tahu mengenai hari peringatan kematian keluarga Rukia. Tapi dia sama sekali tak tahu tentang kejadian sebenarnya. Tentu saja baik Rukia maupun Yoruichi tak ingin menambah masalah dengan Senna.
" Kau yakin?" desak Senna.
" Iya… kenapa kau cerewet sekali. Sebaiknya kau cepat pergi kestudiomu itu…"
vVv
" Apa? Tidak bisa? Oh ya… aku mengerti. Maafkan aku yang minta mendadak begini. Iya… tentu saja. Sebelum malam aku sudah dirumah… iya… maafkan aku Kaien…"
Tantenya memang sudah mengijinkan pergi. Karena Rukia bilang akan pergi dengan Kaien. Dan tantenya tahu Rukia tak akan berbohong. Tapi, begitu dipertengahan jalan, ternyata Kaien tak bisa karena harus mengurus rekap nilai untuk dosen pembimbingnya yang berada diluar negeri itu. Kalau tidak dikirim hari ini Kaien akan dapat masalah. Dia juga masih harus mengurus soal studinya. Rukia tidak menyangka akan sesulit ini.
Baiklah… memang nasibnya pergi sendiri. Lagipula, kalau belum malam, dia bisa pulang sendiri. Memang agak jauh. Tapi seharusnya dia bisa pergi sendirian. Lagipula, tak perlu orang luar tahu tentang keluarganya.
Akhirnya Rukia memantapkan langkahnya dan menuju stasiun keretanya. Menuju pemakaman orang tua dan kakaknya.
Rukia juga diberi tahu bahwa disitu juga ada makam kakak perempuannya yang dibunuh sewaktu masih kecil itu. Hari ini, dia bisa kembali bertemu meski sudah 9 tahun.
vVv
Rukia sudah membeli bunga Lily kuning kesukaan ibunya. Dan beberapa bunga lain untuk ayahnya dan kakak perempuannya.
Tidak disangka pemakamannya memang jauh dari kota dan terkesan sunyi. Hanya ada beberapa makam ditanah yang cukup luas itu. Semuanya hijau. Ternyata makam keluarganya tak jauh dari pintu gerbang pemakaman umum itu.
Pemakaman ini memang ada dibawah kaki gunung. Cukup terasing. Sepertinya pemakaman khusus orang kaya karena semua makam dirawat dengan sangat baik. Tak ada rumput liar satupun disana kecuali rumput hijau yang sengaja ditaman dan dirawat dengan baik. Hati Rukia masih terasa sakit dan berdenyut. Apalagi mengingat tentang malam 9 tahun lalu. Rukia sama sekali tak bermaksud mengingatnya. Hanya saja airmatanya tumpah begitu saja melihat makam ketiga orang yang sangat disayanginya.
Hatinya begitu kesal mengingat mengapa hanya dia yang diselamatkan? Mengapa hanya dirinya? Selama 9 tahun dia menunggu saat bertemu kembali dengan keluarganya. Lalu kenapa setelah 9 tahun malah bertemu dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini.
" Siapa anda?"
Rukia menoleh. Ketika dia menangis didepan makam keluarganya, Rukia dikejutkan dengan suara seorang pria. Mungkin pria itu berusia pertengahan 40 tahunan. Sama seperti ayahnya jika ayahnya belum meninggal. Pria itu masih cukup gagah. Berbadan cukup besar. Rambutnya berwarna hitam pekat. Dan Rukia yakin itu warna rambut asli karena rambut dibagian kulit kepalanya sama. Diwajahnya ada janggut tipis disana. Dan bapak itu punya garis wajah yang terkesan mirip orang Asia sekali. Bukan Timur Tengah. Berkulit putih pucat. Pria itu nampak seperti orang yang tidak asing. Pakaian formalnya pastilah mahal. Dia datang sendirian?
Kenapa datang ketempat makam keluarganya. Siapa orang ini?
" Maaf… anda ini… siapa ya?" tanya Rukia balik.
" Saya tidak pernah melihat anda selama ini… apakah anda… tunggu dulu… anda Kuchiki Rukia?" Rukia terkejut. Kenapa bapak setengah baya ini tahu namanya yang dulu? Seingatnya dia tak mengenal sama sekali siapa bapak ini. Atau mungkin, rekan ayahnya sewaktu hidup?
" Benar… saya Rukia… bapak… siapa?" tanya Rukia bingung tapi tak seharusnya dia mengatakan namanya dulu. Terlalu beresiko. Tapi, orang ini tahu dia…
" Jadi… kau benar-benar… putri Kuchiki Byakya? Namamu Kuchiki Rukia kan?" kata bapak setengah baya itu lagi.
Tiba-tiba saja bapak setengah baya itu berlutut didepannya. Rukia bingung kenapa bapak itu tiba-tiba seperti itu. Rukia masih mematung.
" Apa yang bapak lakukan?" Rukia panik sendiri karena bapak itu mulai terisak tak jelas. Dia menangis?
" Maafkan aku! Maafkan aku Rukia! Aku benar-benar minta maaf! Aku tahu kau tak akan semudah itu memaafkan aku. Tapi aku mohon maafkan aku…! Aku benar-benar menyesal!" ucap bapak itu berkali-kali.
" Tunggu sebentar… saya tidak mengerti ada apa ini pak. Kenapa bapak menyesal? Memangnya apa yang bapak lakukan?"
Pria itu berdiri kembali. Setelah itu dia mengusap matanya. Dia tahu itu pertanyaan wajar. Tentu saja gadis yang tak tahu apa-apa ini bertanya seperti itu. Dia tahu, gadis ini masih kecil saat itu.
" Baiklah… asalkan kau tenang… aku akan menceritakan semuanya padamu. Dan aku akan menerima semua apapun yang kau minta… termasuk mengirimkan aku keneraka sekalipun…"
vVv
" Apa kalian sudah pulang?" ujar Senna. Saat itu dia sudah menyelesaikan tugasnya dan sedang ada dilokasi syuting bersama Ichigo. hari ini adalah hari terakhir syuting mereka. Dan Senna sedang dirias oleh asistennya sambil menelpon, sedangkan Ichigo masih membaca naskahnya.
" Pulang? Tentu saja belum. Tugasku masih banyak. Apalagi nanti sore aku harus pergi lagi mengurus studiku… memang kenapa…" jawab Kaien diujung sana.
Senna langsung tersentak.
" Hei… maksudmu… kau nggak pergi dengan Rukia?" kali ini suara Senna berubah jadi panik.
" Tidak… aku sudah bilang tidak bisa menemaninya… memangnya kenapa? Kupikir dia pergi denganmu…" sahut Kaien. Dan sepertinya Kaien ikutan panik.
" Tidak. Kupikir dia pergi denganmu karena aku tak bisa menemaninya. Jadi… dia pergi sendiri? Oh Tuhan! Ibu pasti akan memenggal leherku!" teriak Senna panik.
Seketika itu pula hubungan terputus. Senna bingung apa yang harus dia lakukan. Karenanya, Senna langsung menghubungi Rukia. Tapi tak ada jawaban walaupun sudah dihubungi ratusan kali.
" Ada apa?" Ichigo merasa aneh dengan tingkah Senna yang seperti kebakaran jenggot.
" Rukia pergi sendiri lagi! Kupikir dia bersama Kaien! Dia pergi menemui makam orangtuanya! Aduh bagaimana ini kenapa tidak diangkat!"
" Apa? Jadi dia pergi sendirian lagi? Lalu bagaimana? Sudah diangkat?" kali ini Ichigo ikutan panik juga.
" Tidak… haduh… bagaimana ini! Kalau sampai dia hilang… dia kan belum pernah kesana! Ayolah Rukia angkat ponselmu!" Senna panik sampai dia ingin menangis.
" Ichigo, sekarang giliran kita…" suara manja yang menyebalkan itu terdengar lagi… Orihime bergelayut manja disisi Ichigo. Namun, Ichigo mengabaikannya.
" Tidak diangkat? Segera sms ke nomorku alamatnya, aku akan mencarinya…" Ichigo mengabaikan Orihime dan segera mengambil jaket hitam dan kunci mobilnya dan segera pergi. Senna sampai melongo sendiri.
" Hei! Ichigo! Kau mau kemana?"Orihime mengejarnya hingga keparkiran tapi tak digubris Ichigo.
" Hei… ini sudah giliranmu kau mau kemana?" Kyouraku muncul dari parkiran pula.
" Kakak, beritahu yang lain aku ada urusan. Syutingnya kita tunda dulu…" ujar Ichigo sesaat setelah dia menyalakan mesin mobilnya pada Kyouraku.
Sebelumnya Orihime sudah mendengar dari jauh perihal kecemasan Senna. Dan Orihime tak menyangka Ichigo akan menanggapi serius kecemasan Senna. Apa mungkin?
vVv
" Jadi… anda yang sahabat lama Ayahku, membunuh Ayahku 9 tahun lalu karena takut kejahatan mafiamu terbongkar oleh CIA? Bahkan tanpa hati kau juga ikut membunuh kakak perempuanku yang masih merah… membuatku kehilangan keluarga… orang yang kucintai… dan sekarang… anda mau meminta maaf karena menyesal?" ulang Rukia. Matanya menatap nanar wajah pria setengah baya ini. Perasaan iba tadi yang menghampirinya karena pria ini tiba-tiba berlutut didepannya dan memohon maaf langsung memudar. Sekarang dadanya diisi oleh rasa benci. Sangat benci!
" Selama 6 tahun terakhir ini hidupku tak tenang. Meskipun aku sudah berkali-kali meminta maaf didepan makam Kuchiki Byakuya, tetap saja hatiku tak tenang. Setiap malam aku tak bisa tidur karena kesalahpahaman itu. Sungguh, aku sudah berubah. Aku tak menjadi mafia lagi. Ini semua demi anakku. Karena anakku, aku berhenti jadi mafia dan menjalankan perusahaanku dengan bersih. Kalau publik tahu anakku memiliki ayah seorang mafia, dia pasti akan malu… karena itu… aku bersedia menebus segalanya…" pria itu kembali menunduk.
" Apa dengan anda menebus dosa anda padaku semuanya akan kembali? Keluargaku akan hidup kembali jika anda menebus dosa anda walaupun anda keneraka? Terang-terangan anda tidak mau membuat hati anak anda terluka. Tapi kenapa anda tega membuat hatiku terluka? Kenapa membuat hidupku menderita seperti ini? Apa anda tahu bagaimana rasanya kehilangan?" Rukia tak tahan untuk tidak menangis. Sedari tadi, sejak pria tua itu menjelaskan semuanya pada dirinya mengapa dia melakukan hal keji itu Rukia sudah mencoba menahan airmatanya. Tapi tidak bisa. Tidak bisa.
" Aku tahu aku salah. Karena itu selama 6 tahun ini aku selalu mencarimu. Dan tanpa terduga aku bertemu denganmu disini didepan makam orang tuamu… aku akan menebus semuanya untukmu. Bahkan jika kau ingin membunuhku pun sekalian…" ujar pria itu lagi.
" Apa artinya jika anda terbunuh? Anda tak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan. Bagaimana rasanya hidup tanpa orang yang kita cintai… anda tak akan tahu itu…"
" Lalu bagaimana aku harus menebus dosaku? Apa kau tak percaya bahwa aku sudah berubah? Sungguh. Aku sudah berubah. Aku tidak akan menyakitimu lagi…, apa yang kau inginkan agar kau bisa memaafkan aku?" bapak itu mulai mengiba.
" Sejujurnya, saya tak mungkin bisa memaafkan anda. Tidak untuk selamanya. Namun… jika anda menginginkan saya meminta anda melakukan sesuatu, untuk menebus dosa anda… apakah anda rela kehilangan seluruh orang yang anda cintai?"
Pria itu terdiam. Seketika wajahnya menegang. Dia menatap Rukia tak percaya. Tak mungkin dia bisa mengucapkan sepatah katapun. Tentu saja. siapa yang ingin kehilangan orang yang dicintai? Siapa yang sanggup?
" Tak rela bukan? Tak ingin bukan? Sejujurnya, saya ingin sekali balas dendam kepada anda. Membuat anda merasakan apa yang pernah saya rasakan. Tapi anda tahu kenapa saya tidak melakukan hal itu?"
" Karena betapapun besarnya saya menyimpan dendam untuk anda, tetap tak bisa mengubah masa lalu saya dan mengembalikan keluarga saya. Karena itu, saya sudah mengambil keputusan. Saya tidak akan pernah memaafkan anda. Semua yang berhubungan dengan anda tak bisa saya maafkan… hal terakhir yang saya inginkan dari anda adalah… menjauh dari kehidupan saya. Selamanya. Itu kalau anda memang benar sudah berubah dan tidak ingin lagi menyakiti saya…!"
Rukia meninggalkan pria tua menyedihkan itu sendirian.
Sesungguhnya dia tak puas hanya mengatakan itu. Sejujurnya dia ingin sekali membuat pria itu merasakan sakit yang dia rasakan. Perih yang dia alami dan penderitaan yang dia simpan selama ini. Tapi tak bisa. Karena tak akan ada yang berubah. Dendam tak akan menyelesaikan segalanya.
vVv
" Aku tidak tahu alamat itu Senna…! Dimana tempat itu? Apa… kereta api? Maksudmu kau menyuruhku menunggu distasiun? Tapi ini sudah hampir malam… kau sudah mengecek kerumah?... baiklah… aku akan menunggu kabarmu…" Kaien memutuskan hubungan telepon itu. Earphone yang sedari tadi digunakannya untuk menghubungi Rukia terus terpasang tapi gadis itu tetap tak mengangkatnya. Setelah mendengar dari Senna bahwa Rukia ternyata pergi sendirian, entah kenapa perasaan cemas menyeruak dalam kepalanya. Akibatnya pekerjaannya menjadi terbengkalai dan meninggalkan semua rencananya hari ini. Dia lebih memikirkan alasan gadis itu pergi sendirian. Dan kenapa dia tidak mengatakan apapun. Teleponpun tidak diangkat. Ada apa sebenarnya.
vVv
" Ya… nanti aku akan menelponmu kembali… jangan cemas…" Ichigo tiba distasiun kereta. Dia tak memberitahu Senna bahwa dia disini. Firasatnya saja mengatakan karena menurut Senna, Rukia pasti naik kereta api.
Ichigo berlari menyusuri sepanjang stasiun. Dia tak peduli dengan semua orang yang memperhatikannya disana sini. Bahkan dia sampai mengabaikan fansnya yang kebetulan ada untuk mengabadikan moment itu. Hari sudah menjelang malam.
Dia ingat betul gadis itu benci malam hari. Dan sampai sekarang dia tak tahu kenapa gadis itu benci malam hari. Sangat benci.
Ichigo tak peduli dengan cuaca yang panas dan bajunya yang sudah basah oleh keringat karena berlari kesana kemari mencari gadis itu. Setidaknya dia harus menemukannya. Dia harus menemukannya. Dia takut bayangan gadis itu saat terakhir kali gadis itu tiba-tiba menghilang dan kembali dengan keadaan pucat membayanginya.
Demi Tuhan! Dimana dia? Apakah Ichigo harus membuat pengumuman?
Karena hari sudah terlanjur malam, terpaksa Ichigo menghubunginya. Senna memberikan nomor ponsel Rukia untuk dihubungi oleh Ichigo. Akhirnya Ichigo mengambil ponselnya dan mengetik beberapa nomor dan menunggu sambungannya. Lalu sebuah kereta baru saja tiba dan tampak beberapa orang sudah menuruni kereta.
" Halo…" suaranya! Ya suara gadis itu! Dia mengangkat teleponnya!
" Halo! Kau dimana! Kau dimana…" tanya Ichigo berkali-kali.
" Ini siapa?" tanya Rukia. Gadis itu bodoh! Tidakkah dia mengenal suaranya?
" Ini aku! Kau dimana… jawab aku…!" suara Ichigo terdengar panik.
" Ichi... go...?" suara itu terdengar ragu.
" Baiklah ini aku Ichiggo! Kau dimana? Jawablah…"
Suara itu terdiam. Tak terdengar dan hening. Mungkin hanya dilatarbelakangi oleh beberapa suara berisik saja.
" Aku… aku ada… dibelakangmu…" suaranya kembali terdengar pelan.
" Apa? Belakangku?" Ichigo memutar badannya kebelakang. Ada! Gadis itu memang ada dibelakangnya dengan wajah kusut dan pucat. Rukia masih terpaku diantara kerumunan orang yang lalu lalang disisinya. Ichigo terpaku pula. Namun segera memutuskan hubungan telepon itu dan berjalan cepat kearah Rukia.
Rukia masih tidak menemukan suaranya. Dia kaku dan terdiam.
Bagaimana? Bisa Ichigo ada disini?
" Bagaimana bisa kau disini?" suara serak Rukia terdengar begitu parau.
" Tidakkah kau tahu betapa cemasnya aku begitu mendengar kau pergi sendirian dan ponselmu sama sekali tidak kau angkat? Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu senang membuat orang cemas karenamu? Apakah kau—"
Ichigo terdiam. Tiba-tiba Rukia memeluknya sangat erat. Diantara kerumunan orang-orang distasiun itu mereka hampir jadi tontonan. Rukia menangis sekencangnya membuat Ichigo mendadak bingung dan tak tahu harus bagaimana lagi.
Karena banyak orang yang memperhatikannya, Ichigo menutup kepalanya dengan tudung jaketnya sendiri. Saat ini, dia memang lega Rukia tidak pingsan atau apapun itu. Tapi dia bertambah cemas mengapa gadis ini menangis tiba-tiba?
vVv
Mereka berpelukan. Apakah terlalu terlambat? Dia berharap dia yang menemukan gadis itu. Dan mungkin memeluk gadis yang menangis itu. Dia berharap dia bisa melindunginya sendiri. Tapi tidak bisa. Mungkin memang dia sudah terlambat.
Seharusnya dia menyadari sejak awal kalau gadis yang dia anggap tak lebih dari adik itu adalah gadis yang dia inginkan.
Lalu harus bagaimana sekarang ini? Mendadak hatinya dicengkeram rasa perih yang luar biasa. Ternyata begini rasanya kalah?
Tidak… dia belum kalah. Dia hanya kurang beruntung.
Dia yakin. Jika Senna benar soal kata-katanya direstoran kemarin itu, pastinya gadis itu masih menyukainya. Masih ada harapan. Masih bisa.
vVv
Setelah tangis Rukia reda, Ichigo membawanya kesebuah taman yang lumayan terang dimalam hari. Karena setelah menangis itu Rukia sama sekali tak mau mengatakan apapun.
Akhirnya Ichigo memarkirkan mobilnya dipinggir jalan didekat taman itu.
" Kau pucat sekali. Aku akan membeli sesuatu untukmu…" begitu Ichigo akan membuka pintu mobilnya, Rukia menahan sebelah tangan Ichigo. Gadis itu gemetar. Tangannya juga dingin luar biasa.
" Ada apa?" tanya Ichigo.
" Tidak… tidak apa-apa…" Rukia melepas tangannya dari Ichigo. Pandangannya kembali kosong.
Ichigo keluar sebentar dan berlari menuju apotik diseberang jalan itu. Setelah membeli beberapa vitamin dan obat entah obat apa, Ichigo mengeluarkan ponselnya.
" Ya ini aku, Senna. Dia tidak apa-apa. Hanya terlihat pucat. Dia memang agak aneh. Dan dia belum bicara sedikitpun padaku… iya… setelah ini aku akan membawanya pulang… tenang saja… dia sudah bersamaku…"
Ketika Ichigo kembali kemobilnya, dia terkejut gadis itu tidak lagi disana. Mobilnya kosong. Seketika itu pula perasaan panik kembali menghantuinya. Apakah gadis itu… tidak! Bagaimana mungkin dia membiarkan gadis itu sendirian.
Ichigo berlari mengeliling jalan dan taman mencari Rukia. Dia hampir kehabisan akal. Dan akhirnya dia berlari menyusuri taman didekat jalan itu.
Dan bingo! Seakan mendapat oase segar dipadang pasir yang luasnya minta ampun itu, akhirnya Ichigo menemukannya. Gadis itu duduk diayunan taman itu.
Lagi dengan pandangan kosong.
" Hei…" sapa Ichigo. Rukia menoleh.
" Apalagi yang kau lakukan? Kenapa kau selalu membuat masalah?" Ichigo berjalan kearahnya. Kemudian berdiri disamping gadis itu dan bersandar pada tiang ayunan itu.
" Maafkan aku… kau pasti membenciku…" lirih Rukia.
" Tidak… sama sekali tidak… jujur saja. Ini pertama kalinya aku merasa begitu mencemaskan seseorang. Dan karena cemasnya aku sampai tidak bisa memikirkan hal lain…" Ichigo menatap langit malam itu. Rukia mengalihkan pandangannya pada Ichigo. Pria itu tidak membencinya? Lalu apa? Bukankah dia bilang wanita itu merepotkan? Bukankah dia tidak mau berurusan dengannya lagi?
" Begitu? Kalau begitu… aku merasa lega karena kau tidak marah padaku karena aku menyusahkanmu…" ujar Rukia.
Mereka terdiam sekian lama hingga…
" Ichigo… bolehkah aku bertanya padamu…?"
" Tanya apa?"
" Jika seandainya, seandainya… jika kau memendam sebuah dendam yang sangat besar, dan kau tidak bisa memaafkan orang yang sudah menghancurkan hidupmu… apa yang akan kau lakukan? Akankah kau memaafkan orang itu?"
" Kalau dalam sudut pandangku, tentu saja aku tak bisa memaafkan orang itu… tapi… mungkin aku akan melupakannya dan memulai hidup baru… hanya itu yang terbaik…" ujar Ichigo.
Rukia terperangah. Tentu saja. seharusnya dia melupakannya. Tapi… benar-benar tidak bisa dilupakan. Tidak bisa. Baginya apa yang dilakukan orang itu padanya sangat menyakitkan. Apalagi… setelah apa yang dia lakukan pada keluarganya. Tidak bisa.
Ichigo memperhatikan gadis itu kembali. Ya. gadis itu kembali terdiam. Pikirannya pasti mengembara kemana-mana.
" Aku tidak akan bertanya tentang masalahmu… karena kau punya hak untuk tidak memberitahukannya padaku… tapi… bukankah aku sudah berjanji. Kau boleh memanggilku jika kau ada masalah…"
Ichigo bersikap begitu baik padanya? Kenapa?
" Kenapa?" tanya Elysia.
" Itu sudah jelas kan… kau tidak boleh membuat masalah dengan orang lain. Karena kau itu biang masalah! Kau paham…" kali ini Ichigo bicara dengan nada ketus yang sangat disukai oleh Rukia.
" Ichigo… kau memang seperti cahaya…"
vVv
Setelah percakapan singkat itu, Ichigo mengantar pulang Rukia. Didepan rumahnya berdiri didepan pagar Senna yang tampak mondar mandir tanpa arah. Saat itu orang tua Senna belum tiba. Sepertinya memang pulang malam. Dan setelah itu, Ichigo pamit pada Senna yang tampak cemas luar biasa itu. Ketika Rukia pulangpun Senna langsung menghambur memeluk Rukia.
Apakah melupakan semuanya adalah hal yang terbaik? Melupakan semuanya adalah keinginannya? Tidak. Itu bukan keinginannya sebenarnya.
Sebelum ini, dia ingin sekali melakukan hal yang sama dengan orang itu. Tapi… melihatnya berlutut didepan Rukia dengan menyedihkannya, gadis itu membatalkan niatnya. Dia masih punya hati nurani. Masih memiliki perasaan.
Lalu bagaimana dengan orang itu? Tidakkah dia punya hati nurani 9 tahun lalu?
Lalu sekarang karena anaknya, dia berhenti menjadi mafia. Sama seperti ayahnya yang diceritakan oleh tantenya. Ayahnya berhenti menjadi agen demi keluarganya. Mungkin perasaan pria itu pastilah sama dengan ayahnya kala itu. Pasti sama.
Tapi, dia hanya tak mengerti kenapa harus dirinya yang mengalami ini.
Kenapa Tuhan memberikannya cobaan yang begitu luar biasa? Jujur saja. selama Rukia hidup, bukan kehidupan seperti ini yang diinginkannya.
Namun, ketika Rukia mengingat wajah seseorang yang mengubah hatinya, hatinya mengijinkan untuk melupakan semuanya. Ketika tanpa dia sadari, malam dan kegelapan yang selalu menyelubungi kehidupannya perlahan diterangi oleh sebuah cahaya hangat. Cahaya yang melindunginya dan membuatnya bersyukur sudah hidup selama ini.
Tapi… cahaya itu akan bertahan sampai kapan? Sampai kapan cahaya itu bersamanya?
Jika nantinya cahaya itu harus pergi entah kemana, menghilang tanpa meninggalkan berkas, bagaimana dia bisa menerangi malam dan kegelapan yang menakutkan itu dalam hidupnya? Haruskah dia menunggu cahaya itu kembali? Ataukah kembali terpuruk?
vVv
Beberapa hari ini Rukia sama sekali tidak bernafsu untuk menambah berat badannya. Setiap kali dia selalu melupakan jadwal makannya meskipun Senna dan tantenya selalu memperingatinya. Pikirannya tentang pria itu masih berkelebat. Tentang fakta yang baru saja dia dapatkan kembali. Benarkah pria itu berubah?
Ataukah… hanya ingin menipunya? Sejujurnya Rukia belum memberitahukan tantenya perihal pria yang dia temui dimakam orang tuanya itu. Sepertinya, Rukia sudah bisa membayangkan reaksi tantenya. Pasti tantenya akan melarangnya kemakam itu lagi.
Dan anehnya lagi. Sikap Kaien berubah padanya. Kaien tak lagi mau bicara padanya. Kaien hanya akan menatapnya sinis selama kuliah berlangsung dan tidak menegurnya seperti biasa. Rukia sedikit merasa bersalah pada Kaien. Tentu saja. ada apa dengan orang itu? Apakah Kaien marah padanya?
Karenanya, hari ini setelah pulang dari kuliah, dia akan menunggu Kaien. Membicarakan ada masalah apa dengannya. Apa yang salah dengannya.
" Bisa punya waktu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan…" setelah kuliah usai hari itu, Rukia segera berlari menuju meja dosen dan mencegat Kaien.
" Katakan disini saja," ujar Kaien dingin. Sangat dingin. Berbeda dengan Kaien yang biasanya. Dan jujur, Rukia cukup kaget diperlakukan seperti itu.
" Baiklah… bisa kau katakan padaku ada masalah apa? Apakah aku berbuat salah padamu?" tanya Rukia.
" Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya itu kan?"
" Kalau tidak ada apa-apa kenapa kau berubah? Kenapa bersikap dingin denganku? Apa aku memang melakukan kesalahan? Kalau iya, beri tahukan aku…"
" Aku memang tidak ada masalah apapun denganmu. Tapi… aku hanya marah padamu. Dan aku tidak tahu kenapa aku marah denganmu!" kata Kaien kemudian. Dan seketika itu pula, Kaien pergi dan meninggalkan Rukia sendirian.
Kaien tidak tahu kenapa dia marah pada Rukia? Lalu Rukia sendiri?
Dia kembali bingung. Sangat bingung.
Setelah bicara dengan Kaien, Rukia segera keluar dan kelas kosong itu. Menyebalkan sekali.
Hari sudah terlanjur sore. Apa dia pulang saja? Sebaiknya pulang saja.
Rukia menghentikan langkahnya. Ponsel dalam saku jeansnya bergetar. Rukia mengangkat ponsel itu. Dan kemudian mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenal nomor itu.
" Ha-halo?" katanya ragu.
vVv
" Kakak… aku tidak punya jadwal lagi kan?" seru Ichigo sambil membetulkan pakaiannya didepan meja rias artis itu.
" Yayaya… setelah kau menyelesaikan masalah waktu itu tidak ada lagi. Semuanya beres. Oh ya, konser perdanamu akan diadakan minggu depan. Jangan lupa. Kau juga harus latihan… tiket akan disebar 2 hari lagi…" jelas Kyouraku sambil membolak balik beberapa kertas.
" Baiklah kalau begitu… oh ya, kakak tidak usah menungguku, aku akan pulang agak malam, oh ya, silahkan kakak bersenang-senang diklub kesayangan kakak…" ujar Ichigo sambil mengambil jaket kulitnya dan kacamata hitamnya. Lalu mengambil kunci mobil dan segera keluar dari ruangan itu. Sebelumnya Ichigo mengambil ponselnya dan menunggu sambungan sambil berjalan menuju parkiran.
" Ha-halo?" suara gadis itu terdengar ragu.
" Ini aku… kau dimana?" tanya Ichigo.
" Hah? Siapa ini?" tanya gadis itu lagi. Astaga? Ichigo menghentikan langkahnya dan mulai memasang suara tinggi. Gadis ini keterlaluan!
" Hei! Kau tidak menyimpan nomorku? Aku sudah pernah menghubungimu! Kenapa kau tidak menyimpan nomorku!" kata Ichigo marah. Dia sepertinya kesal sekali. Sampai amarahnya naik keubun-ubun.
" Oh… Ichigo. maafkan aku… aku lupa… ada apa menelponku?" tanya Rukia.
" Kau dimana? Sebenarnya aku ingin makan malam. Tapi berhubung ini masih sore, aku ingin pergi berjalan sebentar. Cepat katakan kau dimana!" suara ketus Ichigo yang disukai Rukia. Diseberang sana Rukia tersenyum bukan main. Ichigo mau mengajaknya pergi? Walaupun tidak bisa melihat ekspresi Ichigo, Rukia sudah bisa membayangkan wajah Ichigo yang sedang kesal itu.
" Kenapa mengajakku? Bukankah ada Senna dan kak Kyouraku? Mereka bisa menemanimu kan?" Rukia mengulur pembicaraan itu.
" Baiklah. Aku bodoh menelponmu! Sudah lupakan saja! Aku tidak jadi mengajakmu!" ujar Ichigo kembali ketus.
" O-oh! Baiklah! Aku ada dikampusku. Tapi kau tidak tahukan? Aku akan menunggu didepan halte didekat—"
" Tidak. Kau tunggu didepan gerbang kampusmu. Aku tahu dimana…"
Rukia terdiam. Ichigo tahu kampusnya? Oh, pasti dari Senna. Kenapa hatinya jadi berbunga luar biasa begini? Kenapa hanya karena Ichigo akan menjemputnya dirinya jadi gembira setengah mati? Dan ya. ketika mendengar nama Ichigo, hatinya jadi gembira dan ditimbuni oleh bunga-bunga yang sangat cantik bukan main.
Hatinya bahagia. Namun, Rukia baru sadar. Sampai kapan ini akan bertahan?
Dan… bila nanti Ichigo tahu siapa dirinya… bagaimana nanti?
Sungguh Rukia tidak ingin memikirkan itu untuk saat ini.
vVv
Ichigo benar-benar datang menjemputnya. Ichigo hari itu lebih tampan dari biasanya. Meskipun didalam mobil mereka sama sekali tidak bicara, tapi Rukia senang. Bisa satu mobil dengan Ichigo.
" Kau tahu tempat jalan-jalan yang bagus?" tanya Ichigo sambil melirik kaca spion untuk melihat Rukia.
" Oh… aku tidak tahu… tapi aku ingin melihat satu tempat…"
" Tempat? Tapi… bukankah ini sudah hampir malam? Bukankah kau tidak suka malam?" tanya Ichigo.
" Sebenarnya aku ingin melihat tempat itu ketika malam. Karena ada kau aku ingin melihat tempat itu… dan tentu saja kau tidak akan dikenali kalau malam,"
" Dimana?" ujar Ichigo singkat.
Rukia menyeringai senang. Ichigo sudah berjanji akan mengajaknya ketempat itu.
Karenanya, Ichigo begitu kaget dan shock. Ketika dia sadar Rukia mengajaknya ketempat arena bermain disana! Dunia Fantasi. Ya ampun yang benar saja!
Ichigo ingin membatalkan niatnya menemani gadis itu kesana. Tapi gadis itu malah menariknya kesana kesini mencari wahana mengerikan yang seumur hidup tak ingin dinaiki Ichigo. menurutnya permainan adrenalin itu cukup membuatnya mual dan pusing persis seperti orang hamil.
Tapi, Ichigo tidak bisa mengabaikan permintaan gadis ini. Dia kelihatan begitu polos ketika menginginkan kesana. Dan Ichigo hanya berharap tempat bermain ini akan segera tutup.
Ketika hari sudah malam, tempat permainan itu baru akan tutup 2 jam lagi, dan Rukia segera mengajaknya kesebuah permainan besar lainnya. Bianglala.
Astaga. Rukia ingin melihat ketinggian dimalam hari.
Setelah naik kedalam wahana itu, Rukia begitu bahagia dan selalu melihat keluar jendela. Menikmati suasana malam hari.
" Katanya kau tidak suka malam… tapi sepertinya kau sudah berani dimalam hari…" sindir Ichigo.
" Sebetulnya. Aku memang benci malam hari. Aku hanya takut hal itu terulang lagi ketika aku bertemu malam. Tapi…" Rukia menghentikan kata-katanya.
" Setelah bertemu denganmu, rasanya malam hari terasa sangat terang dan tidak menakutkan lagi…" ujar Rukia sambil tersenyum penuh arti.
" Ichigo… sepertinya aku menyukai cahaya yang selalu kau bawa itu…" gumam Rukia. Ichigo menoleh kearah gadis itu. Dia tahu gadis itu bergumam tapi dia bisa mendengarnya dengan jelas.
Dan saat itu Ichigo kembali perasaan yang sama dengan perasaan beberapa waktu lalu. Bedanya. Kali ini rasanya sangat menyenangkan dan meneduhkan. Ketika dirinya merasa dibutuhkan oleh orang lain. Ada orang lain yang melihatnya bukan sebagai seorang artis. Tapi seseorang yang menemani dikala ketakutannya muncul.
Ichigo tak bisa melupakan bagaimana ekspresi gadis itu tersenyum padanya. Dan mulai saat itu, Ichigo berjanji. Akan melakukan apapun untuk membuat gadis didepannya tersenyum dan melupakan ketakutannya akan malam. Meskipun, Ichigo begitu penasaran tentang misteri malam hari itu.
Tapi Ichigo sudah berjanji tidak akan bertanya bila gadis itu tidak ingin membahasnya. Hal yang perlu dilakukannya saat ini dan kedepannya, harus memastikan gadis ini tidak berada dalam masalah dan ketakutan. Meskipun dia tahu. Entah sampai kapan dia sanggup seperti ini. Sanggup menyimpannya seorang diri,
vVv
haduh apakah bertambah gaje?
maafkan saya...
hiks...
ok deh saya mau bales review disini aja... bolebolebole?
nakki desinta : Yoyoi... heheheh makasih udah review. yang jelas saya berusaha membuat ceritanya semakin menarik... *ngarep* review lagi yaaa.
Rukianonymous : Hehehe... soal mafia nya udah muncul kok... silahkan ditebak... *sokmisterius* makasih, julukannya saya juga asal. ternyata ada yang suka... review lagi yaaa...
Yamakaze Shizuka : maksud gak ada cinta selanjutnya itu... Rukia gak punya cinta selain cinta pertamanya. setialah... hahahahahah... Rukia gak boleh pergi sendirian soalnya Yoruichi takut kalo nyawanya Ruki diincer ama mafia itu loh... hahahahah... nih udah update. review lagi yaaa...
bl3achtou4ro : Gak papa kok... kan baca juga... heheheheh makasih. saya juga punya perasaan untuk Ichigo *loh* makasih udah review. nih udah update. review lagi yaaa...
Lily Hikari-chan : saya juga penasaran sapa yang jadi mafia *lohh* *authorbego* hahahahah... saya juga asal ngambil julukan. heheheh nih udah update... review lagi yaaa
mieya chappyberry : Hai juga *pelukpeluk* makasih udah review... makasih udah suka ama fic gaje saya *nangisbombay* nih udah update,.. review lagi yahhh...
mautauaja : makasih udah review. saya gak benci kok... jujur gak benci ama Orihime... heheheh... cuma karakternya emang pas yang kayak gitu... heheheheh nih udah update. review lagi yaaa...
delalice : Haduh makasih udah review... gak lah... kok tersinggung ama kekurangan kita. saya malah seneng. artinya orang perhatiankan ama kita? hahahahah... ehm... soal ntu ntar kita bahas di chap berikutnya... heheheheh nih udah update,,, review lagi yaaa...
yosh... udah semua... ok deh... kalo ada yang salah maaf yaaa,.,,
lagi-lagi saya telat masuk kelas mata kuliah hari ini... No!
Jaa mata neee
