MInnaa...
GOMEN !
*nangisgajesampe5ember*
maaf ya... soal kesalahan *lagilagisalah* saya itu...
soalnya emang buru-buru banget. jadi lupa kalo masih ada satu nyelip... *hiks*
saya udah pasrah deh kalo ada yang komen dan gak suka *ngambiltisu5karung*
harus ditebus pake apa nih biar reader dan senpai mengampuni dosa saya *gakbakaldiampuni*
hiks... hiks... hiks...
ok deh... karena saya update lebih cepat, soalnya besok udah mid semester. saya juga gak tahu apa yang mesti dipelajari.
wong saya aja gak pernah nyatet... *mahasiswabejat*
makanya saya mohon doa reader dan senpai sekalian ya... biar saya gak dapet nilai yang memalukan. minimal A lah... *ngareptingkatdewa*
ok deh... saya gak bakal banyak cincang... eh... cincong...
kalo ada yg mau kasih kripik, kacang, popcorn *lokiranontonbioskop*
silahkan review yaa... review dari reader dan senpai sangat berharga buat saya...
Disclaimer : Tite Kubo
Warning : OOC, Galau *?*, AU, Misstypo, Gaje, Abal...
hepi reading...
3 hari ini, Rukia dan Ichigo selalu menghabiskan malam bersama ketika jadwal Ichigo sudah berakhir. Dan tentunya Senna sudah sangat amat curiga dengan hubungan kedua orang itu.
Namun, baik Kyouraku dan Senna hanya curiga saja tanpa berniat menanyakannya dengan pasti.
Yang jadi masalah adalah Orihime yang tidak menyukai rumor itu. Meskipun baru dikalangan staff saja, tapi itu membuatnya gusar. Bagaimana kalau sampai didengar oleh media? Bagaimana? Orihime tak ingin hal itu.
Dan karena kedekatannya dengan Ichgo, Rukia sedikit melupakan tentang Kaien. Kaien juga tidak terlalu memedulikannya lagi. Rukia paham. Kaien punya urusan sendiri. Tentu saja Rukia tak perlu ikut campur lagi. Itu bukan masalahnya. Sebaiknya tidak membuat masalah lagi dengan Kaien karena dia sudah tahu Kaien memang marah padanya.
vVv
Dan bukannya Kaien tak tahu perubahan gadis itu. Rukia memang terlihat merasa bersalah didepannya. Tapi gadis itu akan gembira setengah mati bila mendapat sebuah telepon. Dan dia yakin 100% itu bukanlah telepon dari Senna. Tapi seseorang yang mungkin sangat berarti untuknya.
Bagaimana caranya mendapatkan kesempatannya kembali. Sedangkan Kaien memang disibukkan oleh pekerjaannya sebagai dosen pengganti dan mengenai studinya.
Tidak bisa memilih keduanya.
vVv
Orihime berniat mendatangi langsung gadis itu. Seharusnya dia tidak menganggap remeh gadis itu. Tidak. Seharusnya dia sudah melancarkan serangan dari awal.
Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Orihime adalah kedekatan yang mungkin akan terjalin karena hal mustahil. Dia tidak menyangka Ichigo akan begitu memikirkan gadis itu. Selama ini dia yakin Ichigo hanya memikirkannya. Jika ini dibiarkan selama ini, tentu saja secepatnya Ichigo akan melupakan dirinya. Tidak boleh!
Rukia berjalan keluar dari kampusnya. Senna mengajaknya makan siang bersama. Dan tentu saja Ichigo akan ikut bersamanya. Senna sudah tahu hanya saja pura-pura tak tahu. Menutupinya. karena sejujurnya Senna yakin antara Ichigo dan Rukia pastilah sudah punya sesuatu chemistry. Dan tinggal menunggu tanggal mainnya saja.
Namun langkahnya terhenti kala melihat seseorang dengan pakaian sangat modis dan tentu saja laki-laki mana saja akan meliriknya dengan segera. Orang itu. Ubur-ubur!
" Apa kabar Rukia…" suaranya terdengar lembut bagai malaikat. Tentu saja itu hanya palsu. Dia tak mungkin selembut itu dengan Rukia. Tidak selama Rukia mengenalnya.
" Ada apa mencariku? Aku gak tahu kau tahu kampusku!" ujar Rukia dingin.
" Oh. Itu… tidak susah kok. Aku tanya dengan Ichigo. dan dia memberitahukannya padaku…" ujar gadis palsu itu lagi. Haha! Yang benar saja. Ichigo mana mungkin melakukan hal itu. Untuk apa? Kalau Ichigo tidak amnesia.
" Lalu ada apa?" Rukia memilih to the point!
" Seharusnya aku tidak mengingatkanmu lagi soal ini. Tapi… rupanya kau sudah mengacuhkan peringatanku waktu itu… aku sudah bilang kan, kalau Ichigo itu milikku… kenapa kau seperti lalat yang selalu mendekatinya?" suara Orihime sedikit meninggi.
" Aku seperti lalat? Kau pasti salah paham. Kami ini berteman. Lagipula, gak ada hubungannya denganmu. Ichigo sendiri bilang dia tidak ada hubungan apapun denganmu…"
" Tidak mungkin Ichigo mengatakan hal itu! Kau pasti berbohong! Kenapa kau selalu mengambil apapun yang kusukai?"
" Apa? Selalu? Tidakkah kau mengatakan kalimat itu padamu sendiri?" kata Rukia
" Cukup! Jangan memancing emosiku! Kalau kau masih berusaha menggoda Ichi—"
" Apa yang akan kau lakukan? Merebutnya dariku? Silahkan saja. Dan sepertinya aku harus mengatakan ini! Sejak lama harusnya aku bilang seperti ini. Kau tidak akan pernah bisa merebutnya lagi. Tidak lagi! Karena aku... sudah memutuskan akan menyukainya!"
Rukia pergi dari sana meninggalkan Orihime. Orihime terdiam.
Jika Rukia memutuskan seperti itu. Tentu saja… tidak boleh! Tidak boleh! Jangan sampai!
Ini tidak akan terjadi. Dia harus melakukan sesuatu untuk menyingkirkan musuh terbesarnya itu. Dia tidak boleh kalah. Selama ini dia tidak pernah kalah!
vVv
" Tentu saja. Aku akan datang… aku sudah bersama Senna didalam mobil… aku akan melihatmu! Kenapa kau cerewet sekali… jadi kau ingin pamer pesona artismu? Tenang saja aku tak akan tergoda! Sebaiknya kau bersiap-siap jika ingin mengesankanku!"
Rukia memutuskan ponselnya karena Ichigo marah padanya. Bukan marah kenapa. Ichigo ingin menunjukkan sosoknya yang amat terkenal itu. Karena Rukia belum sepenuhnya melihat Ichigo sebagai artis.
" Aku nggak tahu kalau dia begitu sombong!" rutuk Rukia.
" Aku nggak tahu apa masalah kalian. Sepertinya hubungan ini akan segera serius… kapan kalian akan meresmikannya?" goda Senna.
" Tidak seperti itu. Kenapa kau suka sekali menggoda orang lain?" gerutu Rukia.
" Hei… Ichigo sendiri yang memberikan tiket VIP untukku dan dirimu. Dia ingin memastikan kau datang… aku nggak tahu kalau gossip itu benar…"
" Gossip apa?" Rukia terdiam dan bingung.
" Ichigo akan menyanyikan lagu barunya untuk seseorang. Dan aku tahu itu…"
" Tidak mungkin aku…" jawab Rukia singkat.
" Sudah pasti kau. Bagaimana kau ini! Kau tidak melihat begitu terpesonanya dia padamu? Ahh~ kau ini tidak peka!"
Dan pertengkaran dalam mobil itupun terhenti untuk beberapa saat karena Rukia bingung.
vVv
Rukia baru begini menyadari bahwa begini terkenalnya Ichigo. Auditorium itu langsung padat dan penuh dari lantai atas hingga lantai bawah. Banyak fans fanatiknya yang membawa spanduk dan poster besar.
Banyak penyanyi lainnya bermunculan. Kebanyakan penyanyi lokal, dan beberapa artis lainnya. Para reporter dari berbagai negara mewawancarai konser perdana Ichigo disini. Banyak sekali fans yang menantikan konsernya. Apalagi penduduk lokal disini yang kebetulan mencintai artis Jepang. Begitu masuk auditorium, sejujurnya, Rukia sudah terpesona akan fans fanatik milik Ichigo ini. Mereka berteriak menggebu untuk bertemu dengan penyanyi idola mereka.
Sesaat Senna masuk, banyak reporter yang sudah mewawancarainya. Menanyakan kesuksesan filmnya, debut selanjutnya dan rencana kedepan. Juga pendapat tentang Ichigo. dan secara ajaib, Senna begitu jujur, dia menyukai Kurosaki Ichigo dan terpesona pada pria itu. Itu bukannya bisa menimbulkan gossip baru?
Akhirnya, Rukia dan Senna masuk kedalam. Mereka duduk dibarisan nomor 2 didepan. Ya ampun. Benar-benar VIP. Disana juga sudah ada Kyouraku yang meng-handle semua persiapan. Dan setelah auditorium itu penuh sesak dan berisik lantaran suara-suara jeritan dari fans fanatiknya Ichigo, lampu panggung dimatikan. Lalu musik pengantarpun sudah berbunyi.
Beberapa penari latar keluar dari layar panggung. Mereka memakai tuxedo hitam dan mulai menari hip hop. Setelah menari sekitar 3 menit, suara Ichigo terdengar. Dan lampu sorotpun menyinarinya kala itu. Dia mengenakan tuxedo hitam tanpa lengan dan topi hitam. Jujur saja, Rukia sampai terpesona melihat gaya menarik Ichigo yang terlihat casual. Dia tampak begitu berbeda ketika bernyanyi. Suaranya mengalun indah bagai malaikat. Merdu dan sangat jernih. Didalam hatinya, Rukia mulai menyukai suara itu. Suara yang menenangkan. Senna sampai berdiri karena terlalu semangat menyoraki Ichigo.
Rukia tak bisa melakukan apapun selain memperhatikan Ichigo. Astaga. Kenapa pria itu semakin memikat dirinya. Kenapa pesonanya terasa sekali?
Sebelumnya Rukia tak pernah tertarik pada aktor manapun. Lalu kenapa Ichigo?
Pria itu begitu mempesona diatas panggung. Banyak suara fans fanatiknya yang berjerit saking hebohnya.
Setelah lagu pertama dinyanyikan, Ichigo menghilang. Dan terdengar seruan 'huu' meminta Ichigo tampil kembali. Dan tak lama kemudian, Ichigo muncul dan melakukan dance break. Semua orang menahan nafas. Kenapa dia begitu pandai dalam segala hal? Itukah alasannya dia begitu terkenal?
Dipenghujung acara, Ichigo akan menyanyikan sebuah lagu. Lagu baru yang belum dirilisnya. Kenapa dia menyanyikannya?
Rukia masih tetap terpesona hingga sulit berkata-kata. Dan akhirnya, Senna sendiri menyadarinya. Namun Senna belum berniat menggodanya. Mungkin sehabis konser.
Tidak ada penari latar yang mengikuti Ichigo melainkan suara piano yang lembut. Ichigo keluar dengan balutan blazer berwarna putih yang dipadukan kaos tanpa lengan berwarna hitam, syal putih, celana kulit putih. Ichigo mengenakan kacamata dengan frame berwarna putih. Dia memegang mic dan belum berniat menyanyi.
" How Are You Today?" ujar Ichigo setengah berteriak dengan mic itu. Ichigo mengucapkan bahasa Inggris. Tentu saja Rukia paham. Para fansnya menjawab dengan penuh semangat yang menggebu. Termasuk Senna. Ya ampun. Rukia tidak ikut menjawab. Hanya menatap Ichigo saja.
" Kelihatannya baik-baik ya… kuucapkan terima kasih banyak karena sudah mau menyempatkan diri datang kekonserku ini… aku bicara dalam bahasa ini karena ada yang ingin kusampaikan pada seseorang… seseorang bodoh yang mungkin tidak mengerti bahasa lain…" canda Ichigo. Para penonton tertawa. Dan entah kenapa Rukia kembali sebal karena tingkah orang itu. Bukannya dia merasa Ichigo sedang mengerjainya. Hanya saja…
" Baiklah… dilagu terakhir ini, aku akan menyanyikan sebuah lagu berjudul Shine. Kenapa Shine? Apa kalian tahu kenapa lagu baruku ini kuberi judul Shine?" tanya Ichigo. semua penonton serempak menjawab tidak.
" Karena ada seseorang yang memanggil namaku dengan sebutan Shine. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia memanggilku begitu. Tapi, aku senang. Karena ketika bersamaku, dia tidak takut akan malam yang sangat dibencinya. Walaupun aku sebenarnya menyukai malam… baiklah… lagu terakhir… Shine…" Ichigo memang berkata seperti itu tertuju pada semua penonton. Tapi… matanya fokus akan seseorang yang duduk didepan itu. Matanya menatap sosok itu tanpa mengalihkan pandangannya dari manapun. Dan jujur saja. Ichigo menatap sosok itu bukan menatap seperti biasa. Melainkan…
vVv
Ichigo turun dari panggung dan segera menuju ruang ganti. Bertemu dengan Kyouraku. Ichigo langsung melepas syalnya dan duduk dimeja rias itu sambil tersenyum sumringah.
" Wah… wah… sepertinya ada yang baru saja menyatakan perasaannya ya…" sindir Kyouraku dari balik pintu ruangan itu.
" Apa sih kak… siapa yang menyatakan perasaan? Tentu saja orang itu terlalu bodoh untuk menyadarinya…" gumam Ichigo. meskipun sudah ditunjukkan, tapi ekspresi gadis itu sama sekali tidak berubah. Sepertinya dia memang tidak menyadarinya.
" Hah? Mana mungkin. Dari sekian fansmu tadi, pasti mereka menyadarinya. Kau benar-benar terpikat dengan gadis tropis ya… hhh… aku yang berniat mencari kenapa kau yang dapat…?" celetuk Kyouraku.
" Sudahlah kakak… kau kan sudah berkeliling klub. Masa tak satupun ada yang dapat?" ujar Ichigo. setelah mengatakan hal itu, Ichigo meneguk sebuah botol air mineral yang selalu ada dimeja riasnya. Tanpa curiga sedikitpun Ichigo meneguknya. Dan kemudian mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya. Apakah gadis itu akan sadar? Pasti… dia hanya perlu meyakinkannya. Meski dia tahu. Gadis itu tidak terlalu menyukai aktor.
vVv
" Hahaha… sumringah sekali. Aku sudah tahu siapa gadis itu. Wajar sekali kau tampak seperti orang gila…" celetuk Senna ketika mereka sudah tiba dirumah. Rukia sedang berguling didalam kamarnya. Sambil membaca beberapa majalah yang kebetulan dikoleksi oleh Senna. Termasuk majalah artis.
" Maksudmu?" tanya Rukia.
" Ihh~ kau ini suka sekali terlihat bodoh! Itukan kau. Bener nggak? Aku sudah tahu hal itu. Kenapa kau tanyakan lagi… haduh… jadi bagaimana… kau pasti menyukainya juga kan?" desak Senna.
" Menyukainya? Apa maksudmu…?"
" Masa aku harus katakan dengan jelas! Ichigo! Siapa lagi? Memangnya kak Kyouraku? Itu lebih tidak mungkin. Gimana kau menyukainya? Itu sudah pasti! Tugasku sebagai cupid ternyata berguna juga…"
" Senna… apa kau benar-benar berpikir Ichigo benar-benar menyukaiku?"
" Hmm-mm…,"
" Dan itu konyol!"
" Apa? Apanya yang konyol! Kau mau mengelak lagi? Sudah bagus ada artis yang menyukaimu. Sedangkan aku saja belum tentu dapat yang sebagus Ichigo!"
Ketika Senna asyik bicara sendiri, sebenarnya bicara dengan Rukia tapi, Rukia sama sekali tak menanggapinya. Baik Rukia maupun Ichigo sama sekali tak tahu bahwa takdir sudah membelitkan benang kehidupan yang akan menghancurkan mereka satu sama lain.
vVv
" Ayah datang kemari? Sejak kapan? Oh maaf… aku agak canggung dengan bahasa Jepang disini. Ayah akan memberikanku dispensasikan? Baiklah… hanya kali ini saja… apa Ibu juga datang? Tidak? Baiklah… aku akan datang 10 menit lagi…" Ichigo menutup teleponnya. Kebetulan hari ini tidak ada lagi jadwal yang padat. Dan pemutaran review untuk film barunya akan dilakukan malam Minggu ini. Rencananya dia akan mengajak Rukia. Walaupun dia tahu gadis itu pastilah sudah diseret oleh Senna meskipun dia tak mau. Dan bukti nyata, sesuai dengan kata-kata Senna. Rukiaa benar-benar datang diacara konsernya lalu. Tapi kenapa gadis itu tidak menghubunginya sama sekali? Apakah gadis itu tidak sadar atau kurang peka?
" Hei Ichigo mau kemana?" tanya Kyouraku ketika masuk keruangan Ichigo.
" Menemui seseorang…" jawab Ichigo singkat.
" Oo… apa gadis yang memanggilmu Shine itu?" goda Kyouraku sambil menyikut lengan Ichigo.
" Mana mungkin ayahku memanggilku Shine… aku pergi sebentar ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku…"
" Hei… Ichigo… ayahmu datang? Sampaikan salamku ya. Oh ya, satu lagi…"
Ichigo baru saja akan membuka pintu dan Kyouraku menahannya sebentar.
" Malam selesai konser lalu, kau kemana? Tidak pulang keapartemen?" tanya Kyouraku.
" Malam itu? Aku…? Oh… aku tidur dihotel. Saat itu tiba-tiba aku mengantuk sekali… bukankah kakak yang memesannya untukku? Kakak ini sudah lupa? Sudah ya.. aku buru-buru. Pasti orang tua itu akan marah kalau aku terlambat…" jelas Ichigo buru-buru. Kyouraku memandangnya dengan penuh tanya.
" Kapan aku memesan kamar hotel untuknya?" gumam Kyouraku ketika Ichigo sudah berlalu.
vVv
Laki-laki berambut hitam pekat itu memakai berjas mahal itu sedang menunggu disebuah kafe pinggir jalan. Setelah pertemuan yang mengejutkan itu, laki-laki itu belum memutuskan apapun lagi. Selain menunggu disini dan menemui anak semata wayangnya. Anak laki-laki yang sangat dia sayangi dan paling berharga untuknya. Orang yang paling dicintainya.
" sejujurnya, saya tak mungkin bisa memaafkan anda. Tidak untuk selamanya. Namun… jika anda menginginkan saya meminta anda melakukan sesuatu, untuk menebus dosa anda… apakah anda rela kehilangan seluruh orang yang anda cintai?,"
Kata-kata anak itu masih terngingang dengan jelas sekali. Benar. Kurosaki Isshin. Sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya 9 tahun lalu sungguh tidak manusiawi. Seharusnya dia memang menyerahkan diri dan mendekam dipenjara. Tapi… dia terlalu pengecut. Bagaimana dengan perusahaannya? Bagaimana dengan keluarganya?
Siapapun tidak ingin menyerahkan diri semudah itu. Tidak untuk sekarang. Apalagi, anaknya… Isshin terlalu memikirkan anaknya. Mungkin jika dia menyerahkan diri, tentu saja akan beresiko akan reputasi anaknya. Tidak! Itu juga tidak bisa. Lalu bagaimana caranya agar gadis itu memaafkannya?
" Sudah lama ayah?" suara laki-laki. Anak Kurosaki Isshin. Kurosaki Ichigo. Baru saja masuk. Ketika melihat dari pinggir jalan dengan jendela besar kafe itu Ichigo sudah tahu ayahnya sudah menantinya disana.
" Oh… tidak juga… duduklah nak…" Isshin meminta anaknya duduk didepannya. Ya. inilah anak yang selalu dibanggakan dan disayangi oleh Kurosaki Isshin.
" Ayah belum pesan apapun? Biar kupesankan sesuatu.."
" Tidak perlu. Ayah kesini hanya ingin bertemu denganmu,"
" Bertemu denganku? Itu pasti lelucon lagi. Katakan padaku. Sebenarnya sedang apa ayah kemari?" tanya Ichigo. Isshin menarik nafas panjang. Apa salahnya jika dia bicara jujur dengan anaknya? Mengingat anaknya sama sekali tidak mengetahui tentang dirinya dimasa lalu. Tapi tidak. Dia tidak bisa membiarkan Ichigo ikut terlibat dalam masalahnya. Bagaimana jika gadis yang dia temui beberapa minggu lalu membalaskan dendamnya pada anaknya? Tidak!
" Sebenarnya, ayah sedang mencari seseorang…" ujar Isshin membuka pembicaraan.
" Seseorang? Siapa? Apa mungkin cinta pertama ayah?" goda Ichigo.
" Bukan! Kalau Masaki mendengarnya dia akan mencekik leher ayah. Teman lama ayah. Tapi sudah lama meninggal. Dan ayah ingin menemuinya,"
" Menemui orang yang sudah meninggal? Sepertinya dia teman baik ayah. Karena ayah masih menemuinya. Orangnya seperti apa?" tanya Ichigo.
" Iya. Dia teman baik ayah. Orangnya baik. Sangat baik. Dan Ayah menyesal dengan apa yang terjadi padanya. Sebenarnya, teman Ayah itu memiliki anak gadis. Dan gadis itulah yang Ayah cari. Kebetulan ketika dimakam Ayahnya, Ayah bertemu dengan gadis itu…"
" Anaknya? Lalu, bagaimana gadis itu? Dia tinggal dimana?"
" Sebenarnya… gadis itu kehilangan semua anggota keluarganya. Karena pembunuhan. Ayah tidak bisa menceritakan detilnya. Ayah juga tidak tahu dimana gadis itu tinggal. Sampai sekarang ayah masih merasa sangat bersalah pada gadis itu…"
" Kenapa merasa bersalah ayah?"
" Karena… Ayah merasa… Ayahlah yang membuat gadis itu kehilangan orang yang dia cintai…" ujar Isshin miris.
" Ayah tidak melakukan apapun bukan pada gadis itu? Kenapa Ayah merasa bersalah? Kalau Ayah tidak melakukan kejahatan apapun, Ayah tidak perlu merasa bersalah. Mungkin Ayah hanya kasihan pada gadis itu karena kehilangan semua anggota keluarganya…" sahut Ichigo.
Sejenak pembicaraan itu terhenti karena tiba-tiba Isshin terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Seperti memikirkan semua kata-kata anaknya. Dalam hatinya, jika seandainya anaknya tahu bahwa gadis itu kehilangan anggota keluarganya karena dirinya, akankah Ichigo tetap mengatakan hal yang sama? Isshin ragu.
" Ichigo… seandainya… jika seandainya Ayah pernah melakukan hal besar yang begitu jahat, yang tidak bisa dimaafkan… akankah kau memaafkan Ayahmu dan tetap memanggilku Ayah seperti sekarang?"
Ichigo terdiam. Aneh. Pikirnya. Kenapa ayahnya mendadak seperti ini? Melihat ayahnya yang memandang penuh iba, Ichigo tidak sempat berpikir macam-macam. Mungkin ayahnya sedang pusing oleh perusahaan.
" Tentu saja. aku akan memaafkan Ayah dan tetap memanggil Ayah…"
vVv
Rukia masih bingung. Tentang Ichigo. Dan itu sudah jelas. Apalagi selain orang itu? Kenapa Ichigo membuatnya bingung setiap saat?
Namun, daripada Ichigo. Bagaimana dengan Kaien?
Meskipun sudah meminta tolong dengan Senna untuk menanyakan masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi, Kaien hanya menjawab pada Senna bahwa dia hanya ingin fokus pada studinya. Dan menurut Senna itu benar. Sejak dulu, Kaien memang orang yang serius. Mungkin saja dia tidak ingin diganggu dulu.
Dan tentu saja Rukia menerimanya dengan lapang dada. Benar juga. Tidak seharusnya dia mengganggu. Tidak mungkin bersama Kaien seperti dulu. Tidak. Karena waktunya sudah berbeda. Dan terlebih lagi. Kaien tak mau lagi bertemu dengannya. Seharusnya, Rukia sudah tahu. Bahwa tak mungkin lagi mengharapkan Kaien. Cinta pertama memang selalu jadi masa lalu. Tak mungkin bisa menjadi kenyataan.
Mungkin dia tak perlu memikirkan macam-macam dulu. Kenapa juga harus dipikirkan? Seharusnya saat ini dia pulang bukannya duduk-duduk ditaman kampusnya. Ada apa dengannya? Dasar bodoh!
Baru saja akan meranjak dari tempat duduknya, Rukia terlonjak kaget karena tiba-tiba ponselnya berbunyi disaku jeansnya. Dengan kesal sambil mengumpat dia membuka ponsel itu dan melihat siapa yang menelponnya. Senna?
Eh.. bukan… bukan Senna. Tertulis…
Shiny calling…
Ichigo? Hah?
Rukia menulis Ichigo dengan Shine karena sejak pertama kali bertemu, Rukia selalu melihat Ichigo sebagai cahaya. Dengan gugup, dia mengangkat ponsel itu.
" Ha-halo…" kata Rukia. Dia sadar suaranya terdengar aneh!
" Kenapa lama sekali mengangkatnya? Sepertinya otakmu ini memang lambat ya…" sindir Ichigo.
" Hei! Kalau kau menelpon cuma untuk menyindirku, jangan menelpon…" ujar Rukia ketus.
" Memang kenapa? Kau tidak suka teleponku?"
" Hei… sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau marah-marah begitu?"
" Aku tidak marah… kau sendiri yang sepertinya marah-marah…"
Rukia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan frustasi. Baiklah. Orang gila ini jangan diladenin. Bisa-bisa hipertensi!
" Lalu ada apa kau menelponku?" Rukia mengalah dan berbicara pelan padanya.
" Kau ada waktu tidak hari ini?" tanya Ichigo.
Rukia tampak berpikir lama. Seharusnya sore ini dia pergi dengan Senna kesalon untuk menemani Senna mengecat rambutnya. Tapi sepertinya Senna sibuk.
" Sebenarnya… Senna mengajakku kesalon. Tapi daritadi tidak ada telepon darinya jadi—"
" Tidak ada kan? Baiklah kau dimana?" potong Ichigo.
" Ehh? Aku… masih dikampus…"
" Tunggu 10 menit. Aku akan kesana…"
" Hah? Eh.. Ichigo… hei…!," Rukia menahan amarahnya lagi. Lagi-lagi aktor itu seenaknya. Dia menutup teleponnya. Dan… menyuruhnya menunggu 10 menit?
Sebenarnya ada apa dengan orang itu?
Ichigo tersenyum licik. Dia memang ingin keluar setelah bertemu dengan ayahnya. Kebetulan ayahnya memutuskan untuk tinggal sementara disini. Ayahnya berniat pulang bersama Ichigo. Sedangkan Ichigo belum memutuskan kapan akan pulang. Mengingat dia memang punya pekerjaan disini.
Ketika melihat wajah ayahnya yang depresi bukan main itu, Ichigo merasa ayahnya sedang memiliki sebuah beban dan itu tak bisa dikatakan pada Ichigo. Mungkin benar, ayahnya memiliki sesuatu yang tak bisa diceritakan. Pada dasarnya, Ichigo memang bukan tipe pemaksa. Dia tak akan memaksa jika memang tidak ingin dikatakan. Lagipula, Ichigo tak terlalu suka konflik dan dia benci masalah. Seandainya Ichigo tahu masalahnya, tentu saja akan memperumit masalah. Lebih baik dia tak perlu ikut campur.
Dan satu masalah yang membuatnya merasa begitu nyaman hanya gadis yang sedang menantinya saat ini. Yah. Gadis yang bermasalah dengannya dan kini menjadi sesuatu yang dinantinya. Ichigo berniat membuat gadis ini menyadarinya. Tapi lebih baik pelan-pelan saja. dia tak mau mengejutkan gadis ini. Dan tentunya tidak ingin membuat gadis ini terlibat akan kehidupan artisnya. Kehidupan artis penuh dengan masalah. Dan tentu saja Ichigo tidak ingin masalah.
Setelah bertemu dengan Rukia, Ichigo mengajaknya makan disebuah restoran. Mereka banyak bercanda gurau. Mungkin saling melempar sindiran, kemudian tertawa. Restorannya memang sepi. Karena itu Ichigo tidak terlalu diperhatikan. Awalnya Rukia menolak makan bersamanya, tapi Ichigo menariknya dengan paksa. Ini memang pemaksaan.
Setelah makan siang, Ichigo mengajaknya menonton dibioskop. Sesudah lampu gelap mereka baru masuk. Dan sepanjang perjalanan itu, Rukia menggerutu karena takutnya Ichigo yang akan dikerumuni oleh fansnya. Semuanya Rukia yang mengurus karena kemungkinan dikenali orang disiang hari memang merepotkan.
Setelah nonton itupun mereka langsung pergi secepatnya.
Ichigo kemudian mengajak Rukia kepantai yang sepi. Pantai itu memang sepi. Dia tahu dari managernya. Kebetulan managernya juga menyukai diving. Tapi hanya dilakukan jika memang sedang tidak ada kerjaan.
Rukia dan Ichigo berlarian kearah pantai dan menyerbu ombak. Kemudian menemukan beberapa kerang laut dan bintang lain. Baru kali itulah Rukia merasakan perasaan aneh yang berkecamuk. Ichigo hari ini terlihat begitu bersahabat. Mungkinkah hanya perasaannya saja? tidak. Ini memang Ichigo.
Setelah puas mengamati matahari terbenam dengan indahnya, Rukia tak henti-hentinya tersenyum. Sampai Ichigo menyindirnya. Tapi dia tak peduli.
" Oh… sudah malam.." ujar Rukia. Secara reflek dia melihat langit malam dan perasaannya bercampur takut. Entah kenapa dia semakin fobia pada malam.
" Kau… belum pernah melihat indahnya malam ya?" ujar Ichigo.
" Belum. Dan aku tidak mau… malam hari mengerikan…" sahut Rukia.
" Baiklah… kalau sudah kuperlihatkan jangan bilang tidak bagus ya?"
Rukia tidak mengerti, kemudian Ichigo melaju dijalanan yang agak sepi. Lalu Ichigo menekan suatu tombol dimobilnya dan kemudian perlahan, kanopi mobil itu terbuka lebar. Menampakan langit malam yang indah.
" Lihatlah keatas…" ujar Ichigo.
Karena Ichigo menyuruhnya, Rukia mendongak keatas. Bagus sekali. Malam itu langit sedang penuh dengan bintang. Rukia sampai ternganga luar biasa. Dia tidak pernah menemukan malam seindah ini.
" Apa karena malam hari tak ada cahaya kau jadi takut? Buktinya ada cahaya bintang dan bulan. Apalagi yang kau takutkan?" ujar Ichigo lagi.
Elysia terdiam. Memang bukan masalah cahaya yang dia khawatirkan dimalam hari. Bukan.
" Bukan masalah tidak ada cahaya atau adanya cahaya dimalam hari… hanya saja… aku takut… tentang masa lalu itu…" gumam Rukia tanpa sadar. Ichigo mendengarnya. Karena itu, dia menoleh kearah Rukia sebentar. Rukia sadar dia telah mengatakan hal aneh.
" Ahh! Maksudku… bukan seperti itu… tidak usah dipikirkan… terima kasih Ichigo. sudah menunjukkan cahaya padaku…," ujar Rukia.
" Nanti aku akan menunjukkan lebih banyak cahaya…" kata Ichigo pula.
vVv
Senna merutuk kesal pada Rukia karena langsung pergi begitu saja. Tapi akhirnya dia tahu bahwa lagi-lagi sepupunya itu pergi dengan Ichigo.
Yoruichi yang mendengar hal itu, merasa sedikit senang. Tidak! Terlalu senang. Selain karena Yoruichi tahu dari Senna akhirnya Rukia punya teman laki-laki, sepertinya perlahan Rukia mulai melupakan masa lalunya. Itu memang bagus. Karena itulah harapan Yoruichi. Setidaknya pikiran untuk balas dendam tidak lagi terpikirkan.
Dan sejujurnya Rukia baru kali ini diperlakukan sedemikian baik oleh laki-laki. Dia merasa sedikit senang. Apalagi dia adalah Ichigo.
Meskipun dia tahu Ichigo adalah aktor terkenal yang mungkin sulit untuk dijadikan kenyataan. Karena itu, Rukia tidak terlalu banyak berharap. Tapi nyatanya. Perasaan itu kembali datang. Perasaan aneh yang membuat dadanya bergetar tak keruan. Apakah Ichigo yang selama ini dicarinya? Apakah seorang aktor?
Astaga. Tidak mungkin. Tidak mungkin seorang aktor.
vVv
" Sepertinya kemarin sibuk sekali… sampai-sampai tidak pulang walau sudah malam…" sindir Kyouraku.
" Memang ada apa Kakak? Sepertinya hanya aku yang tidak boleh bebas…"
Ichigo dan Kyouraku sedang berada diruangan mereka sambil membaca kontrak lain yang sudah disiapkan untuk 3 bulan kedepan.
" Oh ya, dari kemarin ada yang ingin kutanyakan padamu…" tanya Kyouraku.
" Soal apa?" Ichigo tidak mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu.
" Hotel. Apa benar aku yang memesankan hotel itu padamu?"
Ichigo mengalihkan pandangannya kearah managernya itu.
" Tentu saja Kakak. Memangnya siapa lagi? Apa kakak lupa?"
" Hei… aku ini belum 40 tahun. Mana mungkin lupa… setelah konser itu dan bicara padaku kau langsung menghilang… aku sama sekali tidak tahu soal hotel,"
" Jadi siapa—"
Pembicaraan mereka terhenti karena seseorang masuk tanpa ijin. Baik Kyouraku maupun Ichigo sama-sama terkejut. Terkejut bukan main.
" Boleh kita bicara berdua?" ujarnya tanpa ragu. Pandangannya menusuk dan tajam meskipun kelihatannya terdengar ramah dan baik. Dan itu bohong.
" Maksudmu berdua dengan siapa?" ujar Ichigo dingin.
" Tentu saja denganmu. Ini masalah penting. Pasti penting menurutmu…"
" Tidak terima kasih. Aku banyak kerjaan. Lebih baik kau pergi!" Ichigo mengusirnya.
" Kau akan menyesal! Kita harus bicara!" teriak wanita itu lagi.
" Kakak, tutup pintunya!" perintah Ichigo.
Akhirnya Orihime keluar juga karena didorong oleh Ichigo keluar. Orihime kesal bukan main. Dia mulai naik darah. Kali ini dia akan membuat Ichigo berlutut dan menurut padanya!
Karena itu dengan menahan kesal dan marah dia mengirim mms keponsel Ichigo.
Ichigo terlihat kesal. Melihat wanita itu menaikkan tekanan darahnya. Baru saja akan fokus, ponselnya berdering. Pesan gambar. Ichigo mengerutkan kening dan matanya nyaris keluar. Kenapa foto ini—
Dan kemudian telepon Ichigo berdering. Kali ini panggilan masuk. Tanpa melihat siapa yang memanggil, Ichigo mengangkatnya.
" Kubilang ini penting. Kau tidak percaya? Atau kau mau aku menyebarkannya diinternet? Ahh… lebih baik kewartawan saja langsung… atau gadis itu?" ancam Orihime diseberang sana.
" Kau dimana?" ujar Ichigo menusuk dan dingin.
" Oh… sudah mau bicara rupanya. Terlambat… aku sudah didepan laptopku. Dan aku akan segera menyebarkannya…! Kau suka itu kan?" ujar Orihime.
" Cepat katakan dimana!" kata Ichigo frustasi.
" Baiklah… temui aku dikantor agensiku. Kupastikan tidak ada orang. Ok. 10 menit…" dan akhirnya gadis itu menutup teleponnya.
Ichigo frustasi dan melempar apa yang ada didepannya. Dia terlihat kesal dan depresi.
" Hei… ada apa Ichigo? Wanita itu bicara apa?" tanya Kyouraku panik.
" Maaf kak… aku pergi dulu… nanti kita bicara lagi…"
Ichigo mengabaikan Kyouraku dan segera mengambil kunci mobilnya. Lalu keluar dari kantornya dengan gelisah.
Jadi, tentang hotel itu sudah jelas sekarang. Dia mengerti kenapa Kyouraku sama sekali tidak tahu menahu soal hotel itu. Dan tiba-tiba saja… pikirannya dipenuhi oleh wajah seorang gadis yang saat ini, untuk saat ini, selalu dibayangkannya. Bagaimana ini!
vVv
Orihime tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah tahu Ichigo pasti akan datang apapun yang terjadi. Satu-satunya jalan untuk menarik Ichigo. Meskipun dia tahu cara ini sangat keterlaluan. Tapi keinginannya untuk menang dan mengambil kembali Ichigo membutakan nuraninya. Yang ada dipikirannya adalah seorang gadis. Seorang gadis yang mungkin akan merebut Ichigo darinya. Ini bukan lelucon garing. Karena Orihime sadar betul, cara Ichigo memperlakukan gadis itu lain sekali. Ditambah lagi mereka selalu bersama. Orihime tidak suka kalah. Dia selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Apapun. Termasuk Ichigo!
Orihime menunggu dikantor agensinya. Dia sudah meminta managernya untuk tidak mengganggunya. Jadi kantornya benar-benar kosong. Hanya dia seorang dan laptopnya. Orihime sibuk memandang foto-foto yang sudah direncanakannya itu. Ternyata memang semudah itu membujuk Ichigo.
" Seandainya kau menerimaku sejak awal, ini tidak akan terjadi. Sekarang kau akan menyakiti hatinya…" gumam Orihime. Dia tersenyum dengan liciknya.
Sebenarnya dia selalu mendapat peran sebagai gadis baik-baik. Tapi ternyata peran antagonis memang lebih menyenangkan.
Tiba-tiba saja lamunannya buyar. Ya. Ichigo membuka pintu kantornya dengan kasar. Ichigo sudah datang dan sedang menatapnya tajam dan sinis. Tatapan seorang pembunuh. Orihime sudah tahu. Karena itu dia hanya menyeringai saja.
" Oh… sudah datang… cepat sekali… apa kau benar-benar merindukanku? Ah~ tidak mungkin… aku sudah tahu…" Orihime seperti bicara sendiri karena Ichigo menatapnya dengan penuh kebencian.
" Apa maumu sekarang? Dari mana semua foto itu?" ujar Ichigo dingin. Dingin dan menusuk.
" Dari mana aku dapat? Tentu saja aku membuat sendiri? Kau lupa malam setelah konser itu kau tiba-tiba pusing dan aku membawamu kehotel. Bahkan kau tidak sadar bahwa aku yang membawamu… karena menurutku menarik, jadi aku melakukan ini…" Orihime menunjukkan beberapa lembar foto lagi yang sudah dicetaknya diatas meja.
Ichigo melihat dengan miris foto palsu itu! Jelas itu palsu. Mana mungkin dia melakukan hal memalukan begitu. Apalagi dengan wanita ini! Tidak mungkin!
" Bagaimana…? Terkesan? Setelah datang kesini bukankah kau sudah tahu apa mauku? Ichigo…" sambung Orihime lagi.
" Terserah apa maumu! Orang-orang tidak akan percaya…! Memangnya kenapa dengan foto itu? Bisa saja orang menduga itu foto latihan syuting… mereka tak akan percaya…"
" Sudah kuduga kau akan bilang begitu… baiklah… kalau begitu, mungkin akan ada satu orang yang sangat polos yang akan percaya padaku…"
" Apa maksudmu?" Ichigo mendadak bingung dan terdiam.
" Gadis itu… Rukia… dia pasti akan percaya… dia itu orang awam… mana mungkin tahu soal beginian… jika kukirimkan foto ini dia—"
" Jangan kirimkan kepadanya!" bentak Ichigo memotong kalimat Orihime.
Ichigo sudah yakin Orihime akan mengancamnya seperti itu. Entah kenapa, dia takut. Jika foto-foto ini beredar, dia tidak takut dan akan menganggapnya sebagai gossip murahan. Tapi, jika Rukia tahu? Gadis itu sungguh terlalu bodoh.
" Sudah kuduga kau akan bicara begitu. Baiklah. Kita buat perjanjian. Aku tidak suka ditolak kau tahu? Karena itu, besok malam setelah pemutaran film kita, aku ingin kau mengatakan bahwa kita pacaran… dan aku berjanji tidak akan mengatakan apapun pada dia…"
Ichigo terdiam. Kenapa harus begitu? Apa artinya ini? Kenapa harus dengan wanita menyebalkan ini?
" Bagaimana Ichigo?" desak Orihime lagi.
" Tapi aku tak akan pernah mengakuimu sebagai pacar. Kita hanya bersandiwara didepan kamera dan selama aku masih disini. Jika sampai dia tahu tentang ini, perjanjian dianggap selesai! Dan terserah apa yang mau kau lakukan!" seru Ichigo. kemudian, dia pergi dari kantor itu setelah membanting pintunya.
Orihime bersandar didinding kantornya. Sambil menatap foto fiktif itu. Matanya nyalang seakan mengingat sesuatu. Yah. Dulu Ichigo yang mengejarnya. Orihime tidak yakin karena Ichigo saat itu belum terkenal dan hanya seorang model lokal biasa. Ditambah lagi, sudah banyak aktor papan atas yang menginginkannya. Karena itu dia hanya mengabaikan Ichigo saja.
Tapi satu hal yang tidak diperhitungkannya. Ichigo berubah menjadi aktor dan penyanyi yang sangat terkenal bahkan diseluruh dunia. Saat itu dia menyesal sudah mengabaikan Ichigo. karena itu Orihime berusaha mendapatkan pria itu lagi. Tapi tak semudah itu. Berkali-kali Ichigo mengabaikannya. Saat itu Orihime sadar betapa bodoh dirinya. Kini dia menginginkan Ichigo.
" Aku tak tahu akhirnya aku memang jatuh cinta padamu. Tidakkah kau menyadari itu Ichigo?" gumam Orihime sambil menatap foto Ichigo dilayar laptopnya. Foto yang diambilnya diam-diam dilokasi syuting dulu.
vVv
Rukia duduk diam dibangku halte. Hari ini dia pulang cepat karena tidak ada dosen yang mengajar. Kalau pulang sekarang, dia hanya didalam kamar tanpa melakukan apapun. Karena tantenya sudah ada jadwal arisan dengan suaminya dikantor. Otomatis rumah sepi. Dia sudah menghubungi Senna, tapi artis satu itu ada jumpa fans disebuah mall. Dan jumpa pers untuk urusan filmnya yang akan diputar itu.
Rukia mendengarkan sebuah lagu diheadphone mininya. Rukia meminjam iPod Senna yang dipenuhi oleh berbagai lagu. Termasuk lagu Ichigo. Rukia memang merindukan Ichigo. Tapi dia tak berani menghubungi orang itu. Bagaimana jika Rukia menghubungi disaat yang tidak tepat? Dia pasti akan dimarahi oleh Ichigo dan dianggap biang masalah lagi. Jadi, mengobati rasa rindu dengan mendengar suara penyanyi itu. Suaranya yang jernih dan merdu. Apalagi lagunya bagus meski dirilis dalam bahasa Jepang. Dan 100%, Rukia tidak mengerti apa artinya.
Beberapa saat itulah, dirinya terlonjak dari bangku. Hampir saja jantungnya melompat keluar. Ponsel disakunya mendadak bergetar. Siapa yang menghubunginya?
Senna atau tantenya? Tidak mungkin keduanya. Mereka memutuskan akan pulang malam nanti. Dan Rukia dibiarkan sendirian. Sebenarnya tantenya sudah menyuruh menyusul, tapi yang benar saja. mana mau Rukia ikut perkumpulan suami istri itu. Dan Senna sudah ada janji dengan managernya untuk berkaroke.
Rukia melepas headphonenya sebelah. Dan kemudian langsung mengangkat telepon itu tanpa memperhatikan siapa yang menelpon itu.
" Halo?" suara Rukia.
" Kau dimana?" ujarnya singkat.
Oh no~… Rukia mendadak salah tingkah. Dia baru saja memikirkan orang itu. Lalu kenapa sudah muncul suaranya diteleponya? Apa dia berhalusinasi disiang hari? Mana mungkin.
Jadi… ini suara siapa kalau begitu?
" Ichi... go… kan?" kali ini Rukia tampak seperti orang bodoh.
" Aapa kau bodoh? Tentu saja ini aku. Jangan-jangan kau lupa menyimpan nomorku lagi?" Ichigo merasa curiga sekali.
" Tidak… aku sudah menyimpannya. Hanya saja ini terlalu kebetulan. Seperti cerita dinovel. Aku sedang memikirkanmu dan mendengar suaramu di iPod-nya Senna, dan tiba-tiba kau menelponku! Aku terharu…!" ujar Rukia gembira.
" Kau mendengar suaraku?" tanya Ichigo ragu.
" Tentu… lagumu. Ternyata suaramu memang bagus. Seharusnya kau bilang kalau kau bisa menyanyi. Oh ya, lain kali nyanyikan lagu untukku ya…" gurau Rukia.
" Tapi bayaranku mahal. Kau harus menyiapkan sejumlah uang untuk membayarku…" canda Ichigo.
" Kau kan sudah kaya raya. Kenapa masih meminta bayaran? Kau tidak tahu ya aku ini mahasiswa miskin? Apalagi aku belum makan…" rutuk Rukia.
" Baiklah… karena aku aktor kaya, dan kau mahasiswa miskin aku akan mengajakmu makan… katakan kau dimana?"
" Benarkah? Yey! Aku ada dihalte dekat kampus. Cepat ya…" kata Rukia girang.
" Tunggu 10 menit…"
Ichigo menutup teleponnya. Sungguh dia tak tahu harus bagaimana lagi. Pikirannya berkecamuk. Tapi, setelah mendengar suara gadis itu, hatinya lega bukan main. Seakan dia memang menunggu suaranya untuk menenangkannya.
Tapi satu hal yang harus dihadapinya nanti. Mungkin dia akan menyakiti gadis itu. Dan mungkin lagi, gadis itu akan membencinya. Dan kemungkinan lain, gadis itu tidak mau bertemu dengannya lagi.
Astaga! Kenapa Ichigo memikirkan hal itu. Tidak mungkin. Gadis itu adalah gadis baik-baik. Tidak akan menjauhinya hanya karena masalah sepele.
Dan yang dia takutkan hanyalah, jika gadis itu melihat foto fiktif menyebalkan itu.
vVv
astaga! kayaknya nambah gaje yaa... *hiks*
ok deh... saya balas review dulu disini... hehehehehe
*hematwaktu* *halah*
Yamakaze Shizuka : Yoi tuh... hahahaha... makasih udaah review ... review lagi yaaa *nagih*
bl3achtou4ro : GOMEN NASAI! *pundung* iya nih... emang ada salahnya tuh... haduh... gak teliti gara-gara dikjer waktu... akhirnya waktu hari publish ini malah saya dapet jackpot dari dosen *hiks* *kokcurhat* ntar semua pertanyaan senpai bakal dibahas dichap mendatang... *kayaksinetron* heheheh... makasih udah review... review lagi yaaaa...
Rukianonymous : Makasih *pelukpeluk* iya saya juga suka ada yang patah hati...hahahaha GOMEN NASAI...! iya tuh... kok saya gak teliti lagi ya *koknanya* maaf ya... ini emang dosa saya neehh pake salah-salah lagi... hehehehe... nih udah update... review lagi yaaa... makasih banyak...
mautauaja : aduhaduh... makasih ada yang ketawaketiwi baca fic gaje sayaa... heheheheh... nih udah update... review lagi yaaa...
delalice : Gomen nasai... iya nih emang rada gak teliti *alasan* ntar doain gak salah lagi deh... heheheheh kalo soal pov... saya rada canggung pakenya... gak biasa pake pov sih... ehehehh tapi ntar dicoba deh... oh gitu yaa... ok deh... ntar saya minimalisir lagi... sebenernya udah selesai dalam prosesnya... jadi tinggal diketik aja... makanya masih bnyak salah... heheheh nih udah update... review lagi yaaa...
mieya chappyberry : makasih deh... hehehehe... nih udah update... review lagi yaa... nih udah pada taunya si Isshin yang jadi mafianya? hahahahah... ok deh... makasih udah review...
Kyucchi : makasih udah review... akan saya usahakan seromantis mungkin... hahahaha *padahalgakngertiromantis* ok deh... nih udah update... review lagi yaaaa...
ok... udah pada dibales... tanggung jawab ntar review lagi yaa... *gakbagusnihanak* hehehe
Jaa mata neee...
