maaf telat... heheheheh... silahkan dibaca...

maaf ya kalo ada salah dan kurang berkenan... mata eike sampe jereng loh liatin mana yang salah... huff...

yaudin,,, eh... yaudah,,,,

silahkan dikasih kripik pedes manis pahit asem... monggooo...hhehehehehe

DISCLAIMER : TITE KUBO

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, GAJE, SEGALA MACAM DAH,,,,

hepi reading dehhh...

vVv


Setelah makan siang itu, Ichigo banyak tersenyum. Mendadak, Rukia jadi pelawak yang lucu. Apalagi siang itu sungguh berakhir dengan bahagia. Sekarang hari sudah malam. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tanpa disadari bahwa hari sudah malam. Setiap kali melihat malam, reaksi Rukia sama. Selalu mendadak gelisah dan takut. Tapi kemudian berlangsung menghilang ketika Rukia sadar dia tidak sendirian.

Kini, Ichigo memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, dan mereka duduk disebuah taman yang sudah sepi. Taman bermain. Rukia terus melihat langit malam hari itu. Langit malam yang tidak pernah dilihatnya selama 9 tahun ini. Karena kalau sudah malam, Rukia akan memilih diam dikamar dan langsung tidur. Takut bayangan 9 tahun lalu kembali teringat olehnya.

" 9 tahun ini… aku belum pernah melihat langit malam secara langsung seperti ini… ternyata memang bagus sekali ya…" kata Rukia sambil duduk diayunan itu. Dan Ichigo juga duduk disebelahnya.

" 9 tahun? Kenapa selama itu? Oh ya, aku penasaran… kenapa kau takut sekali malam hari?"

Rukia terkesiap. Dia tak menyangka Ichigo akan menanyakan pertanyaan itu. Meskipun dia tahu cepat atau lambat Ichigo tentu akan menanyakannya juga.

" Kejadiannya sudah 9 tahun yang lalu… lagipula… tidak perlu diingat…" lirih Rukia.

" Soal apa itu?" tanya Ichigo lagi.

" Keluargaku…" lirih Rukia lagi.

Ichigo terkesiap pula. Ada apa dengan keluarganya?

" Kalau kau tidak keberatan… ceritakan padaku… siapa tahu aku bisa membantumu…" kata Ichigo pelan.

Rukia sudah sebisa mungkin untuk menahan gemetar ditubuhnya. Ditambah lagi, matanya yang mulai memanas dan keringat dingin yang tiba-tiba saja datang. Dia berusaha mencengkeram sekuat tenaga rantai ayunan itu. Tiba-tiba saja kejadian malam 9 tahun lalu terputar didalam kepalanya. Bagaimana mengenaskannya rumah itu terakhir kali dia datang. Bagaimana keluarganya dibantai secara sadis. Tiba-tiba saja Rukia berteriak dan memegang kepalanya dengan tangannya. Dia menggeleng sekuat tenaga demi mengenyahkan bayangan sial itu.

Ichigo yang melihat kepanikan gadis itu beralih berlutut didepan gadis itu dan memegang kedua lengan gadis itu yang gemetar. Seakan gadis itu baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.

" Hei… ada apa? Apa yang terjadi…?" tanya Ichigo panik.

Rukia tersadar. Fantasi yang menakutkan itu segera menghilang dan diganti dengan wajah panik Ichigo. Rukia terdiam. Entah kenapa setiap kali bayangan mengerikan itu muncul kepalanya terasa mau pecah dan gemetar karena melihat pembantaian mengerikan itu. Dia tidak siap menceritakannya. Tidak untuk sekarang.

" Ichigo… kumohon… jangan tanyakan hal itu lagi… kumohon…" bisik Rukia. Dia terlalu lemah. Rukia sadar. Dia memang lemah dan rapuh.

" Baiklah… tidak akan… aku tidak akan menanyakan hal itu lagi. Aku janji… kau percaya padaku kan?" ujar Ichigo.

Rukia mengangguk sambil menyeka airmatanya yang tiba-tiba turun.

Saat itu, Ichigo ingin sekali merengkuh gadis itu. Dan mengusap airmatanya. Tapi niat itu diurungkannya. Tak bisa. Dia pasti akan membuat gadis itu lebih menderita sekarang. Karena secara tak langsung, Ichigo tak ingin gadis itu menangis untuknya. Melihatnya ketakutan tadi saja, sudah membuatnya panik bukan main.

Ichigo tahu gadis ini, mungkin tidak—bukan, belum menyukainya. Tapi tanpa sadar, justru dirinya yang merasa seperti itu. Mau disangkal seribu kalipun, hatinya tetap merasa takut setiap kali Rukia ketakutan seperti itu. Dalam hatinya dia ingin sekali melakukan apa saja agar gadis ini melupakan ketakutannya.

Ichigo mengantarkan Rukia kerumahnya. Sebelum Rukia benar-benar masuk kedalam rumahnya Rukia memutar badannya dan melihat kearah Ichigo yang berdiri disebelah pintu kemudinya. Rukia menunduk mengucapkan terima kasih.

" Hei…" panggil Ichigo. Rukia menoleh sebentar. Wajahnya seakan bertanya ada apa pada Ichigo.

" Kau tahu besok adalah pemutaran preview filmku kan?" tanya Ichigo.

Rukia mengangguk paham. Apakah Ichigo menyuruhnya datang? Seperti konser waktu itu? Rukia tanpa sadar tersenyum sendiri.

" Jangan datang. Aku minta kau… jangan datang…" ucap Ichigo. Rukia membelalak lebar. Apa katanya tadi? Benarkah telinganya masih bagus?

" Kenapa?" hanya itulah yang ditanyakan oleh Rukia.

" Hanya jangan datang saja. Aku tak bisa jelaskan. Keadaannya belum pasti… tapi… apapun yang terjadi nantinya… kau masih percaya padaku kan?" tanya Ichigo.

Saat itu, Ichigo sungguh berharap gadis itu akan mempercayainya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia tak mungkin mengatakan hal yang bakal membuatnya tertawa penuh kebencian. Apakah Rukia akan tertawa melihatnya? Tertawa oleh kemunafikannya?

vVv


" Hei! Kau belum siap-siap lagi? Astaga! Kita bisa terlambat loh…" rutuk Senna.

Dari tadi siang semenjak Senna menjemput Rukia dikampusnya, gadis itu tidak mengatakan apapun. Sepulang dari kampus langsung masuk kekamar dan berguling tidak jelas. Padahal hari mulai malam. Senna bersiap dengan gaun merah marunnya untuk pemutaran preview film perdananya malam ini. Dan sejak 2 jam yang lalu Senna kesal karena tidak berhasil membujuk sepupunya itu untuk berganti pakaian dan ikut dengannya.

Jujur saja. Rukia masih memikirkan kata-kata Ichigo yang menyuruhnya jangan datang. Walaupun alasannya masih membingungkan Rukia menurut saja.

Namun, dia juga ingin tahu alasan Ichigo tidak ingin dia datang malam ini.

" Hei… apalagi yang kau pikirkan bocah! Cepatlah bersiap-siap!" dengan kesal Senna menarik guling yang dari tadi dipeluk oleh Rukia.

" Senna… aku benar-benar nggak boleh datang…" ujar Rukia akhirnya.

" Hah? Mana mungkin orang itu nggak menyuruhmu datang! Mungkin dia hanya malu karena kau melihatnya difilm. Semua artis juga gitu kok… sudahlah kenapa hal itu aja kau pikirkan! Cepat ganti baju!" perintah Senna.

Rukia tak bisa membantah sepupunya yang keras kepala ini. Dia tahu membantah hanya membuang energi saja. karena Senna-lah yang paling kuat.

Ya. Mungkin Ichigo hanya malu saja. Kenapa melarangnya datang tanpa alasan. Apa salahnya datang? Bukankah Senna yang memaksanya? Bukan Rukia yang mau kan? Seharusnya dia datang saja. pasti tidak apa-apa kok. Ichigo pasti malu.

Berpikir positif saja.

vVv


Rukia mengajak Senna untuk tidak duduk terlalu depan. Karena biasanya disana banyak aktris dan aktor yang duduk disana. Juga para sutradara dan produser. Kalau Ichigo melihatnya, dia pasti akan marah besar. Dan menyebutnya pembuat masalah lagi.

Senna tidak mau mendengarkan Rukia dan memilih duduk didepan. Akhirnya, Rukia memilih untuk duduk memisah. Pemutaran perdana ini hanya dihadiri oleh orang-orang penting. Dan dirinya beruntung karena sepupunya adalah orang penting untuk malam ini. Meskipun dia sendiri agak canggung duduk sendirian. Dan syukurlah Ichigo sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Karena Ichigo duduk dekat…

Orihime?

Kenapa dengan gadis ubur-ubur itu? Menempel seperti siput didinding. Dan Ichigo sama sekali tidak keberatan? Bukankah Ichigo bilang dia dan gadis ubur-ubur itu tidak ada hubungan apa-apa? Lalu? Apa itu?

Rukia berpikir positif lagi. Didalam film ini mereka adalah sepasang kekasih. Wajar saja mereka bersikap begitu. Bukan berarti Ichigo menyukainya kan? Tidak mungkin. Namun… tiba-tiba, hati Rukia seperti terendam air panas yang mendidih. Sakit.

Sakit sekali. Melihat Orihime merangkul lengan Ichigo seperti itu. Kenapa mendadak terasa sakit dan perih? Apa ini?

Selama pemutaran film, Rukia bukan terfokus pada film, melainkan pada pasangan yang didepan matanya dengan jarak 5 baris bangku itu. Orihime merangkulnya, bersandar pada padanya, bicara sangat dekat dengannya. Apakah Rukia benar-benar menyukai orang ini? Benarkah dia akhirnya menyukai aktor ini? Kenapa harus aktor?

Setelah film selesai, Senna dan pemainnya lainnya maju kedepan untuk konferensi pers. Mereka banyak mengucapkan terima kasih. Dan banyak wartawan yang mengabadikan momen itu. Rukia tidak mengalihkan matanya dari Ichigo. Kenapa bersama orang itu terus?

Dan akhirnya, sesi tanya jawab pun dimulai. Para wartawan sibuk menanyakan perihal kedekatan Ichigo dan Orihime. Wartawan penasaran apakah mereka sedang cinta lokasi? Seperti kebanyakan artis?

Rukia terus berharap, Ichigo akan membantah rumor itu. Terus berharap…

" Benar… kami memang pacaran…" ujar Ichigo dengan senyum yang dipaksakan. Seketika itu pula beberapa pemain dan orang-orang didepan sana membelalak tidak percaya. Seakan Ichigo baru saja mengatakan hal bodoh!

Dan Orihime tersenyum dengan bangganya.

Terlihat Senna tengah bicara dengan Ichigo seakan menanyakan hal itu. Benar atau hanya lelucon murahan.

Ketika bertanya tentang hal itu dia jadi teringat Rukia. Senna menoleh dengan cepat, memastikan sepupunya tidak melihat kejadian itu. Walaupun dia tahu itu terlambat.

Rukia berdiri dari bangkunya. Walau jauh, Senna yakin sepupunya itu menangis. Dan tepat saat itulah, Ichigo ikut menoleh kearah Senna melihat. Hati Ichigo teriris begitu tipis, tatkala matanya bertemu dengan Rukia. Ichigo hanya diam sambil menatapnya. Menatapnya seakan dia meminta maaf. Ketika semakin banyak wartawan yang menanyakan gossip itu, Rukia memilih pergi dari sana.

" Kau tidak lihat banyak wartawan. Kalau mereka tahu kau pergi begitu saja, aku akan malu disini. Jangan buat aku malu…" bisik Orihime sambil tersenyum sinis. Ketika Ichigo berniat mengejar Rukia, Orihime semakin mempererat rangkulan dilengan Ichigo. Saat itu, Ichigo tak ada pilihan lain.

Dia mulai membenci dirinya yang membuat gadis yang paling tidak ingin disakitinya menangis untuknya.

vVv


Rukia pergi tanpa arah. Setelah keluar dari gedung itu yang dipikirkannya hanyalah pergi yang jauh dari sana.

Bodohkah dirinya? Benar. Dia bodoh. Sangat bodoh!

Itulah alasannya mengapa Ichigo memintanya jangan datang. Karena alasan itu. Karena hal itu!

Ingin sekali Rukia menjerit sekuatnya. Menjerit kenapa? Menjerit karena tak tahu harus bagaimana? Bagaimana mengatasi rasa menyebalkan ini?

Hari sudah terlalu malam. Dan iya. Dia takut malam ini. Seakan akan ada yang datang untuk membuat hatinya lebih sakit. Lebih teriris lagi.

Dia tahu, seharusnya dia segera pulang. Karena itu, Rukia memilih segera pulang. Tapi naasnya, hujan turun dengan lebatnya. Rukia kehujanan dan menutupi kepalanya dengan tangan dan tas tangannya. Rukia berusaha mencari tempat berteduh. Tapi...

Tempat berteduh yang bagaimana ada dijalanan begini? Sepi pula. Apa yang dia lakukan?

Rukia berlari diantara rintik hujan yang lebat itu. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah halte yang cukup jauh dari gedung itu.

Rukia mengatur nafasnya. Malam yang mengerikan dan hujan lebat. Cocok sekali.

Sebaiknya Rukia menunggunya reda.

Tapi tak kunjung reda malah bertambah lebat. Apalagi, pakaiannya sekarang basah kuyup. Menghubungi siapa?

Tidak mungkin Senna. Pasti sekarang dia sibuk sekali.

Apakah tidak ada taksi atau kendaraan umum yang lewat untuk saat seperti ini?

Hari semakin dingin. Baiklah Rukia tak ingin mati kedinginan. Masih ada satu orang yang mungkin mau menolongnya. Setidaknya dia harus mencobanya.

Hatinya bahagia ketika teleponnya diangkat. Dia tahu, masih ada satu orang yang peduli padanya. Karena itu, setelah telepon itu selesai. Dia menunggu dengan sabar.

Hujannya memang makin lebat. Tapi orang itu sudah memintanya menunggu.

Hingga akhirnya, setelah 15 menit menunggu, mobil sedan hitam itu sudah muncul.

Rukia tersenyum sumringah. Dia keluar sambil membawa payung.

" Syukurlah kau datang. Kupikir kau pasti tidak mau. Karena itu aku senang sekali kau datang. Oh ya, kau tidak sibuk kan Kaien?" ujar Rukia.

" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kaien.

" Aku… oh…sebenarnya, Senna mengajakku nonton, tapi karena ada kejadian buruk, aku pulang duluan, kau ingat tentang film perdana Senna? Karena itu aku…" Rukia sadar, dia sudah bicara yang aneh-aneh. Tentu saja. dia memang bodoh.

" Kuantar kau pulang…" ujar Kaien lagi.

" Aku tidak mau pulang!" bentak Rukia. Kaien terbelalak. Rukia sadar, lagi-lagi dia bicara bodoh. Kenapa dari tadi perkataannya aneh?

" Maksudku. Aku tidak mau pulang dulu. Aku hanya merasa… ingin sendiri dulu sebentar. Kalau aku pulang sekarang, tante pasti akan khawatir kan…" lirih Rukia.

Kaien tahu, gadis itu pasti baru saja mengalami kejadian aneh dan buruk. Dia tak bisa mengabaikan begitu saja. ternyata Kaien memang masih memikirkan gadis ini. Buktinya ketika gadis ini menelponnya dalam keadaan hujan lebat itu, Kaien langsung bergegas menjemputnya. Meskipun dia tahu seharusnya Kaien tidak begini. Tapi, perasaannya sudah tidak bisa diredam lagi.

Apapun dia akan lakukan mulai sekarang. Untuk gadis ini.

vVv


" Wah apartemenmu bagus sekali Kaien. Ternyata anak cowok juga bisa punya apartemen serapi ini…" komentar Rukia ketika masuk kedalam apartemen Kaien. Apartemennya terkesan rapi dan bersih sekali. Seperti ada seorang gadis yang tinggal disana untuk membersihkannya.

" Tentu saja. Aku tidak suka berantakan dan kotor. Jadi selalu dibersihkan…" ujar Kaien sambil menutup pintu apartemennya.

Kaien menyilakan Rukia duduk disofa putih yang besar itu. Rukia sedari tadi menyeka hidungnya yang tampak mengalir.

" Kuambilkan handuk dulu… oh ya, kau mau pakaian ganti? Aku ada pakaian yang kekecilan untukku…" kata Kaien lagi.

" Oh… Tidak usah. Tidak apa-apa. Setelah hujan reda, aku akan segera pulang. Senna akan menjemputku disini…" kata Rukia.

" Tidak apa-apa. Bajumu basah dan hidungmu berair. Kau mau masuk angin dan menyusahkan orang lain? Lagipula… aku bukan orang lain kan?" ujar Kaien lagi.

Rukia terdiam. Dia memang mengenal Kaien sudah lama. Dan buat apa merasa tidak enak pada orang yang sudah lama mengenal kita? Itu kan bodoh!

Akhirnya Rukia mengangguk setuju dan menunggu Kaien menyelesaikan tugasnya. Setelah keluar dari kamarnya, Kaien menyerahkan handuk dan bajunya yang ditawarkan kepada Rukia. Kaien menyuruh Rukia untuk berganti dikamar mandinya.

Rukia masuk kedalam kamar mandi, dan Kaien menyiapkan minuman hangat. Setelah menyiapkan minuman hangat, Kaien beralih keruang tamunya dan membuka siaran TV. Meskipun Kaien jarang menonton TV, tapi menurutnya untuk saat seperti ini, dia harus menonton TV.

Dan ajaibnya, channelnya berhenti diacara gossip. Dia melihat adanya wawancara eksklusif dengan seorang artis ternama. Dan Kaein yakin itulah acara yang dimaksud oleh Rukia yang dia datangi bersama Senna.

Lalu ada apa dengan acara ini? Rukia tidak memberitahu kenapa dia buru-buru pulang.

Tapi seakan ada yang memberitahukan jawabannya, mata Kaien terfokus pada sosok artis dengan rambut orange itu.

" Benar… kami memang pacaran…"

Suara itu memang suara aktor itu. Jadi inikah sebabnya? Dan disebelahnya lagi malah orang yang selalu membuat Rukia sedih. Entah kenapa dalam hatinya, Kaien terasa ingin menghantamkan sesuatu kewajah aktor itu. Kenapa mempermainkan perasaan orang?

" Aku sudah selesai…" seru Rukia setelah keluar dari pintu itu.

Kaien segera mengalihkan channel TV-nya.

" Oh… kau lapar tidak? Aku akan menyiapkan makanan…" ujar Kaien sambil beranjak dari tempat duduknya.

" Oh, boleh… perutku memang lapar.. hehehe… tapi… sepertinya kau agak berubah Kaien…" kata Rukia begitu dia berdiri didepan Kaien.

" Hah? Berubah bagaimana?" tanya Kaien bingung.

" Beberapa hari ini kau selalu mengacuhkanku. Dan terakhir kau bilang kau marah denganku. Aku tidak tahu apa sebabnya. Dan sekarang… kau sudah baik padaku… sebenarnya ada apa?"

Kaien terdiam. Beberapa hari lalu dia memang marah pada gadis ini. Entah kenapa dia kesal sekali melihatnya dekat dengan aktor itu. Dan sekarang gadis ini…

" Tidak apa-apa… duduklah… aku siapkan makanan dulu…"

Kaien tak tahu harus mengatakan apa.

Dia sudah mengirim pesan singkat pada Senna untuk jangan khawatir.

Ketika Kaien sedang memasak bubur, dia mendengar nada sering sebuah ponsel. Punyanya? Tidak. Punya siapa jadi?

Kaien beralih keruang tamunya. Tas tangan itu sedikit berkerlap-kerlip. Dan dilihatnya Rukia yang tertidur disofanya. Pantas saja. gumamnya.

Kaien mematikan kompornya sebentar dan beranjak kesofa tamunya. Dia mengambil selimut dan bantal kecil. Lalu memakaikannya pada Rukia yang tertidur pulas.

Kemudian, pandangannya beralih ketas tangan yang berbunyi terus menerus itu. Kaien membuka tas tangan itu dan mengambil ponselnya. Apakah Senna?

Shiny calling…

Shiny? Kaien sama sekali tidak tahu siapa dia ini? Mana mungkin Senna. Apa tante Rukia?

Sudah berkali-kali berdering tanpa henti. Akhirnya Kaien mengangkatnya.

" Kau dimana? Hei… jawablah… kau dimana?" suara gelisah dan cemas. Dan itu suara laki-laki. Kaien menjauhkan dirinya dari tempat Rukia. Suara aktor itukah?

" Maaf aku bukan Rukia…" jawab Kaien.

Suara diujung sana terdiam. Tidak ada kata-kata lagi. Akhirnya Kaien bicara lagi.

" Rukia ada ditempat yang tepat. Aku sudah memberitahu Senna dia ada ditempatku dan sedang tidur. Nanti setelah dia bangun aku akan mengantarnya pulang. Tidak usah cemas…" kata Kaien lagi.

" Suruh dia tunggu aku akan menjemputnya!" sahut suara itu lagi.

" Tidak usah. Aku yakin dia tidak ingin bertemu denganmu. Setelah apa yang kau lakukan padanya. Dan dengar. Mulai saat ini… aku akan mengambilnya. Aku akan membuatnya menyukaiku lagi dan melupakanmu. Karena kau hanya membawa masalah untuknya!"

" Apa?,"

" Terakhir kali aku meninggalkannya denganmu, kupikir dia begitu senang berada didekatmu dan memilihku menjadi masa lalunya. Sekarang… aku akan membuatnya memilihmu menjadi masa lalunya…" Kaien mematikan telepon itu dan kemudian beralih kearah wajah gadis yang tertidur dengan nyenyaknya itu. Dia yakin. Dia bisa mengambil kembali yang seharusnya menjadi miliknya. Apalagi tidak ada alasan lagi untuk mundur.

vVv


Setelah malam berlalu, dia terbangun lantaran Senna menjemputnya. Dan tentu saja Senna tak mengatakan apa-apa selain 'kau baik-baik saja' pada Rukia. Kaien sudah berjanji akan membantu Rukia kapanpun dia membutuhkannya. Hanya saja. sebenarnya Rukia butuh kepastian akan apa yang terjadi. Ditambah lagi, kepalanya seakan dihantam sesuatu yang sangat keras setiap kali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Astaga. Kenapa hatinya sesakit ini? Kenapa rasanya lebih sakit dari saat dia bertemu orang yang membunuh keluarganya dengan keji?

" Rukia… sebaiknya jangan kuliah dulu… mukamu pucat sekali…" ucap Yoruichi saat sarapan pagi bersama.

" Benar. Sebenarnya kalian kemana saja semalam? Pulangnya larut sekali. Dan Rukia sampai flu begitu…" tanya pamannya pula.

" Iya, Ibu benar Rukia. Jangan kuliah dulu ya…" pinta Senna.

Rukia mengangkat wajahnya. Jika dirumah saja justru akan membuatnya semakin sakit kepala. Bukankah orang flu jika banyak kegiatan justru semakin sembuh?

Lagipula, dia akan semakin memikirkan kejadian semalam. Benar. Dengan kuliah dia tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh.

" Tidak Bu, hari ini aku ada ujian mata kuliah. Dosennya galak. Kalau aku susulan nanti nggak bisa mencontek… lagipula cuma flu biasa. Aku sehat kok. aku berangkat…" seru Rukia sambil meminum susunya dan langsung pergi keluar dari rumah itu.

Kepalanya tambah pusing lantaran terlalu cepat keluar dari rumahnya. Menghindar itu memang menyebalkan. Tapi jika sudah sampai dikampus, tentu saja dia akan melupakan apapun yang terjadi.

vVv


" Hiks! Ichigo-ku, kenapa malah pacaran sih?" seru salah seorang mahasiswi.

" Benar! Padahal wanita ini lebih jelek dariku. Wanita ini selalu berganti pasangan! Bagaimana mungkin Ichigo mau dengannya!" timpal mahasiswi lain.

" Benar! Kudengar hubungan mereka justru sangat buruk! Ichigo selalu menghindari bersama dengan wanita ini…!" sambung mahasiswi lainnya lagi.

" Tapi… mereka sudah resmi pacaran! Huuuuaaaaaaaa!" teriak mahasiswi pertama.

Dan bingo!

Rukia hanya bertopang dagu sambil berusaha mendengarkan suara music dari ponselnya sendiri dengan earphone. Tapi ternyata suara ketiga mahasiswi itu lebih keras dari dugaannya. Padahal dia sudah sengaja duduk dibelakang menghindari orang-orang, nyatanya mahasiswi 3 orang ini malah duduk dibelakangnya sambil menjerit histeris karena aktor itu!

Rukia mengetuk dengan keras pulpennya kemejanya sendiri. Berharap bisa menghilangkan suara berisik dibelakangnya. Dan ternyata sia-sia.

Akhirnya Rukia memilih meninggalkan kelasnya yang tinggal jam terakhir itu. Lama-lama dia bisa gila kalau terus mendengar nama itu.

Rukia tidak menyangka, berita tadi malam begitu cepat meluasnya. Hampir seantero mahasiswi dikampusnya membicarakan pacar baru Ichigo. Apakah tak ada yang peduli padanya? Hatinya baru saja meledak seperti bom atom. Dan sekarang, seakan semua orang tidak peduli padanya, dengan seenak hati terus menerus menyebut nama orang itu! Grrrrrrrr!

Seandainya Rukia bisa berteriak! Jika dia memang bisa berteriak kencang dan tidak akan dikatakan orang gila, dia lebih memilih berteriak dengan hebohnya.

Dan sekarang, Rukia baru sadar. Ternyata hidup di Bikini Bottom-nya Spongebob sungguh menyenangkan. Semua hal konyol tak akan dianggap gila dan ditertawakan.

Rukia memutuskan membolos dan segera melenyapkan dirinya entah kemana.

Akhirnya Rukia sampai dihalte dekat kampusnya. Kebetulan tidak ada seorangpun. Memang seharusnya seperti ini. Menyendiri! Sampai, langkahnya terhenti tatkala ada sebuah mobil yang tepat berhenti disampingnya. Mobil sedan semi sport berwarna putih.

Tidak! Jangan katakan itu dia! Rukia segera berjalan cepat dan mengacuhkan semuanya.

Namun, naasnya, si pemilik mobil segera keluar dan menarik lengannya.

Rukia menoleh dengan cepat. Laki-laki itu segera melepas kacamata hitamnya dan menatapnya dengan sorotan tajam.

" Kita perlu bicara!" ujar Ichigo dingin.

" Kenapa harus bicara denganmu? Atau kau ingin aku mengucapkan selamat?" sahut Rukia sama dinginnya dan terus menghentakan lengannya. Tapi nihil.

" Kenapa kau datang malam itu! Bukankah aku sudah bilang jangan datang! Kenapa—"

" Kenapa menyuruhku jangan datang? Memangnya kenapa? Apa aku peduli? Tidak. Aku tidak peduli… kau selalu membuatku seperti orang bodoh!" Rukia memotong kalimat Ichigo.

" Dengarkan aku! Itu semua sama sekali belum pasti… aku ingin menjelaskannya padamu! Tapi kau malah pergi dengan orang itu dan bermalam disana! Kau tahu itu sungguh menyebalkan!"

" Lalu kenapa kau harus menjelaskannya padaku? Katakan padaku Ichigo! Kau selalu menganggapku masalah bukan?" ujar Rukia.

" Kau memang masalah! Kau selalu membuat masalah denganku! Tapi karena kau selalu membuat masalah denganku makanya aku tidak ingin kau tahu tentang ini!"

" Aku memang masalah. Aku tahu. Makanya, segera pergi dan lupakan bahwa kita pernah saling mengenal!" Rukia menghentakan lengannya tapi nihil.

Baru saja Ichigo akan bicara lagi, tangannya yang menahan lengan Rukia segera ditepis oleh seseorang. Rukia sama kagetnya dengan Ichigo.

" Jangan melakukan kekerasan pada wanita Tuan…!"

" Kaien?" gumam Rukia.

Mata Ichigo menyolot tajam pada Kaien. Demikian juga Kaien. Sekarang keadaan kacau. Rukia sungguh tidak tahu apa yang terjadi.

" Ini bukan urusanmu bukan?," ujar Ichigo.

" Bukan urusanku? Bukankah aku sudah bilang tadi malam… apa kurang jelas?" sahut Kaien. Rukia semakin tidak mengerti.

" Keputusan itu bukan ditanganmu! Kau tidak bisa membuat keputusan begitu saja…" kata Ichigo lagi.

" Kau tidak takut pada publik? Kau lupa kau sudah punya pacar? Seorang aktor yang mengejar gadis lain dan bukan pacarnya itu sama saja dengan brengsek!"

Entah kenapa Ichigo rasanya begitu marah. Hingga tanpa sadar, Ichigo melayangkan satu tinju kerahang Kaien. Rukia membelalak kaget. Kaien tersungkur jatuh. Sudut bibirnya berdarah. Entah kenapa Ichigo begitu marah karena Kaien menyebutnya brengsek!

" Ichigo! Kenapa kau melakukan hal itu!" Rukia berteriak kesal pada Ichigo. Rukia memeriksa luka dibibir Kaein. Lalu kemudian beralih pada Ichigo. Kali ini Rukia yang sungguh kesal bukan main. Akhirnya Rukia membantu Kaien berdiri kemudian menatap Ichigo dengan kesalnya. Sambil meredam amarahnya dan dengan bibir bergetar Rukia menatap aktor itu.

" Kau memang brengsek! Aku benci padamu! Kuharap ini terakhir kalinya melihatmu!" seru Rukia sinis.

Rukia menahan tangisnya. Kepalanya bertambah pusing bukan main. Rukia membiarkan Kaien menarik lengannya untuk menjauh dan meninggalkan Ichigo.

Saat mereka sudah tiba dimobil Kaein, Kaien tersenyum menyeringai dengan penuh kemenangan. Ichigo begitu kesal. Sangat kesal. Dan ketika mobil itu sudah menjauh pergi membawa gadis itu, Ichigo menendang ban mobilnya sendiri dan meninju kap mobilnya. Sekarang dia baru sadar. Dirinya memang bodoh dan idiot.

Membiarkan semuanya hancur begitu saja tanpa sempat dia perbaiki.

Haruskah menyerah sekarang?

vVv


" Kau baik-baik saja?" tanya Kaien. Meskipun sebenarnya dia bersama gadis itu, tapi sejak menjauh dari tempat Ichigo, gadis itu sama sekali tidak mengatakan apapun juga. Inilah yang membuat Kaien sedikit was-was.

" Bukankah aku yang harusnya berkata begitu?" ujar Rukia dengan senyum setengahnya.

" Tenang saja. Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil kok… dan… apa benar kau tidak apa-apa?"

" Meskipun kubilang tidak apa-apa, apa kau percaya? Lebih baik tidak usah dibahas lagi…"

Ya. Kaien tak akan percaya gadis ini baik-baik saja. Atau tidak apa-apa. Dia pasti sedang berusaha menahan emosinya sendiri.

" Baiklah… kalau tidak keberatan, malam ini mau makan malam denganku? Kita sudah lama tidak keluar kan?"

vVv


" Hei Ichigo. Ada apa denganmu? Kenapa mukamu kusut seperti itu?" sindir Kyouraku. Setelah kembali dari tempat kejadian perkara itu, Ichigo langsung pulang keapartemennya sendiri. Kepalanya serasa dihantam oleh batu koral yang besar.

" Kepalaku terasa mau pecah karena masalah ini!" ujar Ichigo kesal sambil berusaha memijat pelipisnya sendiri.

" Masalah? Oh… tentang itu. Tidak usah terlalu dipikirkan. Wanita memang masalah. Semakin dipikirkan semakin bermasalah. Anggap saja tidak ada apa-apa…" sahut Kyouraku sambil mengambil tempat duduk disebelah Ichigo dan menyalakan TV.

" Sepertinya kakak sama sekali tidak punya masalah dengan wanita…" ejek Ichigo.

" Hei… kau mengejekku… sebenarnya aku juga sering bermasalah dengan wanita. Tapi kalau kita mengerti mereka, tentu saja tidak akan ada perselisihan. Lagipula, aku tak akan membuat masalah dengan wanita yang aku sukai…" jelas Kyouraku.

" Wanita yang disuka? maksud kakak apa?"

" Hei… kau ini bukan remaja lagi kan? Masa yang begitu saja tidak tahu… apa kau mau ditinggalkan oleh wanita yang kau sukai? Percayalah padaku. Penyesalan itu selalu datang belakangan. Tidak pernah muncul didepan. Jika kali ini kau meninggalkan wanita yang kau sukai, lain waktu kau akan ditinggalkan lagi…" kata Kyouraku panjang lebar. Jujur saja. managernya satu ini memang selalu memberikan pendapat yang masuk akal meski terkadang, managernya ini tidak terlalu mengawasi pribadi Ichigo kecuali pekerjaannya. Ichigo cukup lama terdiam akan apa yang dikatakan oleh Kyouraku.

" Jadi aku harus bagaimana Kak?" tanya Ichigo dengan polosnya.

" Hah? Masa kau bertanya padaku? Itukan masalahmu…"

" Seandainya gossip sialan ini tidak ada. Dan wanita ubur-ubur itu tidak mengancamku. Tentu saja aku akan melakukan hal yang dikatakan oleh Kakak…"

" Masalahnya gampang. Kalau memang wanita yang kau sukai itu percaya padamu, tentu saja dia tak akan percaya pada apa yang dikatakan oleh Orihime kan? Lagipula, seperti katamu, Orihime itu memang selalu bermasalah dengan siapa saja…" timpal Kyouraku.

Tidak akan percaya? Percaya padanya?

Bukankah Ichigo selalu meminta gadis itu percaya padanya? Kenapa dia takut?

Jika gadis itu memang tidak lupa padanya dan selalu percaya… tentu saja…

Tapi ini sudah terlambat. Apalagi yang bisa dilakukannya? Lagipula, beritanya sudah meluas. Dan ini bisa jadi skandal buruk untuknya. Apalagi, agensinya di Jepang dan di Hollywood sudah mengklarifikasikan masalah itu. Sekarang mau bagaimana lagi?

Apakah harus berlalu begitu saja?

" Hei… kau ini kan laki-laki… apa yang kau pikirkan? Jika aku jadi kau… aku akan mengambil wanita itu sebelum terlambat. Masalah popularitas bisa diatasi. Lagipula kau tidak perlu takut kehilangan reputasi. Kau kan sedang memperjuangkan kehidupanmu sendiri. Apa kau mau seperti ini selamanya? Kau paham kan? Menyesal itu menyebalkan," lanjut Kyouraku.

Baru saja, Ichigo akan mengatakan sesuatu, ponselnya berdering. Melihat nama dilayarnya saja Ichigo sudah malas dan segera membanting ponselnya kesofa disebelahnya. Kyouraku mengambil ponsel Ichigo dan melihat nama pemanggilnya.

" Angkat saja. bisa merepotkan kalau kau mengabaikannya…" ujar Kyouraku.

" Aku malas. Aku sudah bilang aku hanya berakting menjadi pacarnya didepan kamera. Inikan tidak ada kamera…" sahut Ichigo malas.

" Dia benar-benar mendapat untung tentang foto itu…" gumam Kyouraku.

" Sudah kubilang itu palsu. Aku sedang tidak sadar. Kalaupun sadar, aku tak akan berfoto memalukan begitu. Apalagi pada wanita mengerikan itu…" jawab Ichigo. Dan ponselnya masih dibiarkan berdering dengan kencangnya.

" Teleponmu terus berbunyi. Kalau dia mengancammu lagi bagaimana?" tanya Kyouraku.

Dan tak lama dugaan Kyouraku benar. Ada pesan singkat masuk.

Hei Ichigo! Kau tidak mau mengangkat teleponku? Kau sudah lupa apa yang akan aku lakukan jika kau mengabaikan aku?

" Aku sudah bilang. Wanita itu mengancammu lagi…" kata Kyouraku malas pula.

Rasanya ingin sekali Ichigo melempar benda itu entah kemana. Kenapa pula wanita itu bisa tahu nomor ponselnya. Dan kemudian, wanita itu menelpon lagi.

" Ada apa?... makan malam? Tidak bisa aku—, baiklah… terserah padamu?" Ichigo menutup teleponnya dan kali ini benar-benar melempar benda itu.

" Hei kau mau kemana?" kata Kyouraku ketika melihat Ichigo sudah bersiap keluar.

" Jadi supirnya. Hari ini dia cerewet dan sangat menyebalkan!" gerutu Ichigo. Saat itu, dia sangat berharap hujan, badai, petir semuanya bermunculan diatas kepala wanita itu.

vVv


Senna berusaha sebisa mungkin tidak melibatkan Ichigo lagi. Melihat keadaan sepupunya saja Senna sudah tahu. Karena itu, ketika malam ini, Senna melihat Rukia berdandan—tidak bisa dibilang berdandan, karena Rukia hanya memakai baju sederhana saja. Kaos, sweater, jeans dan sneaker—dirinya curiga bukan main. Tapi begitu melihat siapa pangeran berkuda putih yang menjemputnya adalah cinta pertamanya, Senna yakin, gadis itu tengah berusaha melupakan sesuatu. Meskipun Senna agaknya sedikit kecewa karena sepertinya Rukia tengah lari dari kenyataan. Dan Senna belum berniat membahas mengenai Ichigo padanya.

vVv


" Kau serius mengajakku makan disini?" ujar Rukia begitu menyadari Kaien membawanya kerestoran mahal diatas sebuah gedung pencakar langit. Apalagi pakaian Kaien yang tampak sedikit resmi. Celana kain, blazer dan kaos.

" Tentu saja. Memang kenapa?" tanya Kaien.

" Kau lihat? Aku hanya begini. Harusnya kau bilang makan disini, Aku bisa meminta Senna membantuku berdandan…" keluh Rukia.

" Tidak usah seperti itu. Ini yang aku suka darimu…"

Rukia sedikit tersipu dikatakan seperti itu. Akhirnya Rukia tersenyum saja dan membiarkan Kaien menariknya masuk kedalam restoran mahal itu.

Dirinya masih tertawa dan tersenyum bahagia sampai dia melihat sepasang kekasih di bagian pinggir restoran dengan kaca super besar itu. Mereka sedang menikmati indahnya malam diketinggian restoran ini? Hah?

Rukia mendengus kesal tatkala matanya beradu pandang dengan Orihime. Namun, seakan tanpa dosa, gadis itu justru berlari menghampirinya dengan senyum laknat itu.

" Oh hai Rukia… kau juga makan disini? Bersama… cinta pertamamu ya?" ujar Orihime. Meskipun terdengar bersahabat dan sangat ramah, sebetulnya kalimat itu penuh ejekan dan sindiran.

Sebetulnya Ichigo malas menemani wanita yang paling dibencinya nomor satu ini makan malam. Apalagi direstoran mahal. Tidak mungkin!

Namun, matanya terbelalak kaget ketika menyadari sepasang pria dan wanita yang berjalan masuk kedalam restoran ini. Gadis itu penuh tawa dan bahagia. Dan akhirnya wanita menyebalkan didepannya langsung merusak mood-nya dengan berlari kearah mereka. Seperti sedang memancing emosi.

" Oh… ya. Kaien mengajakku kemari…" sahut Rukia malas.

" Benarkah? Ichigo juga mengajakku kemari… kalau kau tidak keberatan mau bergabung dengan kami?" tawar Orihime.

Dia gila? Bukan. Kelainan jiwa! Sepatutnya masuk ke rumah sakit hewan.

" Kalau kau tidak mau, kita bisa pergi dari sini… aku akan—," bisikan Kaien terpotong.

" Kenapa harus lari? Bukankah kita harus menghadapinya. Lagipula aku tidak sendirian bukan?" Rukia balik berbisik pada Kaein.

vVv


Ichigo semakin melotot sinis pada Orihime. Tapi sepertinya wanita itu sama sekali tidak mempedulikannya.

Bukannya Rukia ingin menebalkan mukanya. Hanya saja, jika dia menghindar kesannya seperti dia lari dan takut menghadapi kenyataan. Apalagi menghadapi wanita menyebalkan ini. Dia pasti akan mengatakan yang macam-macam.

" Kalian mau pesan apa?" tanya Orihime setelah menempatkan dirinya disamping Ichigo.

Kaien menyebutkan pesanannya. Dan Rukia sedari tadi memperhatikan menu tapi sama sekali tak menyadari bahwa sedari tadi semua orang dimeja itu menatapnya.

" Oh… samakan saja dengan Kaien…" ujar Rukia salah tingkah.

Ichigo memperhatikan gadis ini. Dia tahu gadis ini bimbang bukan main. Setiap kali matanya menangkap pandangan gadis ini, Rukia akan langsung menunduk.

" Jadi… bagaimana hubungan kalian? Apakah sudah diresmikan?" tanya Orihime lagi ketika makanan mereka sudah tiba. Rukia hanya menahan emosinya. Tidak bisa diledakkan disini. Itu akan membuat malu semuanya. Tidak mungkin.

" Kami tidak ada hubungan apa-apa…" sangkal Kaien. Rukia merasa bersyukur Kaien menjawabnya dengan baik. Seperti sedang ujian saja.

" Oh ya. kelihatannya Rukia memang suka sekali mendekati lelaki manapun ya. Dulu dengan Ichigo. Sekarang dengan Kaien… untungnya Ichigo sudah jadi pacarku…" Orihime terus mengoceh. Seandainya ada penyumpal toilet, Rukia sudah melemparnya kemulut wanita ini!

" Bukankah dengan Ichigo dulu, tidak ada hubungan apa-apa juga? Iya kan… Rukia?" tanya Kaien. Rukia sadar Kaein menanyakan hal itu dengannya. Baik Ichigo maupun Orihime sama-sama menoleh padanya. Setelah menarik nafas panjang, Rukia menatap Kaein dan tersenyum dengan terpaksa. Beban yang berat.

" Tidak ada apa-apa. Hanya kenalan saja. lagipula tidak ada yang istimewa…" ujar Rukia. Pada kalimat terakhir, pandangannya dialihkan pada Ichigo.

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

" Tidak ada yang istimewa? Benarkah? Aku ini aktor kau tahu…" ujar Ichigo menatap tajam kearah Rukia.

" Bagiku sama saja. Dan terlebih lagi, aku tidak suka aktor. Pekerjaan mereka selalu bersandiwara. Pembohong. Mereka tidak ada yang pernah jujur…" jelas Rukia sambil menahan getar bibirnya. Berkali-kali Rukia menarik dan menghembuskan nafasnya. Sekarang, dunia terasa sesak olehnya.

" Benarkah seperti itu? Jadi… sekarang ini… kau memilih Kaein dan melupakan Ichigo begitu?" timpal Orihime.

Tanpa ragu sedikitpun, Rukia menatap Ichigo.

" Ya… aku akan menyukai cinta pertamaku lagi… dan berusaha melupakan masa laluku mulai sekarang. Semua yang terjadi sekarang ini sudah menjadi masa lalu…"

Kaien sadar, Rukia sudah gemetaran dari tadi. Karena itu, Rukia sempat membelalakan mata ketika akhirnya Kaein menggenggam tangannya diatas meja itu. Lalu menatap Rukia penuh arti.

" Kalau begitu… biarkan aku memperbaiki semuanya. Dulu aku buta. Sekarang aku mengerti kalau kaulah yang aku inginkan… terimakasih menyukaiku kembali…" ujar Kaien.

Semua mata terbelalak. Kecuali Orihime. Seakan semua yang diinginkannya berjalan dengan lancar, Orihime tersenyum menyeringai.

" Wah… jadi kalian akan menjadi pasangan baru? Seharusnya kalian memberitahukan ini pada Senna. Dia pasti bergembira…" sambar Orihime.

Jujur, kepala Rukia semakin pusing. Ditambah lagi badannya terasa dingin. Apakah karena AC ruangan ini? Rukia perlahan melepaskan tangannya dari Kaien dan menunduk.

" Aku permisi ketoilet sebentar…" ujar Rukia sambil berlalu pergi.

Sekarang ini dia sudah melakukan hal bodoh. Hal terbaik adalah secepatnya terjun kelantai paling bawah kegedung ini!

vVv


" Kenapa panas sekali disini! Sebaiknya aku keluar sebentar…" keluh Ichigo sambil mengibaskan tangannya kearah lehernya.

" Aku ikut…" seru Orihime.

" Tidak usah… lanjutkan saja makannya. Bukankah kau mengajak Kaein kemari? Tidak enak meninggalkannya begitu saja. lagipula aku hanya sebentar…" ujar Ichigo.

Tanpa mempedulikan jawaban Orihime, Ichigo berjalan keluar restoran itu. Ketika yakin sudah keluar dari sana, Ichigo langsung berlari. Menerka kemana arahnya yang tepat. Yah. Tidak bisa begitu saja. hatinya sudah panas dan ingin meledak secepatnya.

Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya dia melihat gadis itu berdiri dikoridor gedung. Disisi sebelah koridor itu, ada sebuah kaca besar yang memagarinya. Gadis itu berdiri disana sambil melihat langit malam.

" Apa itu benar?" kata Ichigo setelah berdiri tepat dibelakang Rukia. Rukia terkesiap karena dikagetkan seperti itu. Dia segera memegang dadanya. Mukanya pucat. Dan ketakutan. Ichigo langsung merasa bersalah. Gadis itu terkejut sekali. Terlalu terkejut bahkan. Dan itu sungguh aneh.

" Apa yang kau lakukan disini!" ujar Rukia sinis.

" Apa benar aku tidak berarti apa-apa dan tidak ada yang istimewa dari pertemuan kita?" tanya Ichigo.

" Kau sudah tahu jawabannya. Kenapa menanyakan hal itu lagi?" Rukia langsung berusaha pergi dari sana, tapi Ichigo menahan lengannya lagi. Ichigo terkesiap saat menyadari tubuh gadis itu tengah gemetaran dan dingin. Mukanya juga pucat sekali.

" Tatap aku. Apa semua itu benar? Kalau kau menganggapku hanya masa lalumu dan kau kembali berharap pada cinta pertamamu?"

" Kalau benar kenapa? Apa ada yang salah? Tidak ada yang salah. Kita sama. Kau memang masih mengharapkan Orihime bukan! Dan hebatnya lagi kalian sampai meresmikannya. Aku salut. Apakah aku harus mengucapkan selamat padamu?" ujar Rukia lagi. Sebisa mungkin jangan ledakan perasaannya. Harus ditahan. Atau dia sendiri yang akan merasakan perihnya.

" Aku sudah bilang belum pasti kan! Kenapa kau selalu membuat masalah denganku!"

" Benar! Aku selalu membuat masalah denganmu! Bagimu aku tak lebih dari biang masalah! Seharusnya kau senang karena aku tak lagi menyusahkanmu!" teriak Rukia.

" Bukankah sudah kubilang kau tidak boleh membuat masalah dengan orang lain! Apakah karena kau tak ingin lagi membuat masalah denganku jadinya kau mau membuat masalah dengan Kaien!"

" Apa hubungannya denganmu? Apa artinya aku? Ichigo! Sedetik kau berikan aku cahaya. Sedetik kemudian kau langsung melenyapkan cahaya itu! Kau sudah tahu aku takut malam dan kegelapan! Tapi kau malah meninggalkan aku diantara gelap dan malam itu! Kau selalu seenaknya sendiri! Apa karena kau aktor kau seenaknya begini padaku? Apa kau tahu bagaimana perasaanku? Kau bahkan tak pernah bertanya bagaimana perasaanku ketika bersamamu! Lalu kenapa kau membuatku begini sakit? Kenapa kau… selalu menyulitkan aku…"

Rukia sudah tak tahan lagi. Airmatanya turun dengan derasnya.

Ichigo terdiam ketika gadis didepannya menangis dan meledakan emosinya.

Rukia sudah cukup menjadi orang bodoh. Sudah cukup rasanya menjadi orang bodoh didepan orang ini. Perasaan yang ditahannya sedari tadi sudah tak bisa dibendung lagi.

Ichigo menarik lengan Rukia, lalu menyentuh sebelah wajah Rukia dan menutup matanya. Rukia membelalakan matanya selebar mungkin karena sikap mendadak Ichigo. kenapa orang ini? Bibir hangat itu menyentuh Rukia. meredam ledakan amarah itu. Yah. Ichigo, tanpa pikir panjang langsung mencium Rukia. Rukia tak bisa berpikir jernih saat kecupan dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman hangat yang menenangkan. Lengan Ichigo beralih kepinggang Rukia dan mengeratkan pelukannya. Rukia ingin mendorong Ichigo, tapi tangan Ichigo yang lainnya menghentikan itu. Rukia jadi terdiam dan tak tahu harus apa lagi. Tak lama setelah ciuman mendebarkan itu, Ichigo mengalihkan wajahnya menatap lekat Rukia yang masih belum menemukan dirinya.

" Sudah cukup… jangan diperpanjang lagi. Ini memang salahku…" bisik Ichigo. Rukia ikut terdiam. Bagaimana mungkin… Rukia tak bisa bergerak didalam pelukan itu.

Ichigo melepaskan pelukannya dan menarik Rukia pergi dari sana. Rukia hanya menurut tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Mereka bukan kembali kerestoran entah kemana.

vVv


Ichigo membawa Rukia pergi malam itu. Bukan kembali kerestoran dan meninggalkan semuanya. Dalam diam, kepalanya terus berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalahnya sendiri. Tak bisa seperti ini. Kalau terus seperti ini, justru dia sendiri yang tak akan tahan. Harus bagaimana lagi?

Ichigo akhirnya menghentikan laju mobilnya yang sedari tadi melaju tanpa arah. Kini mereka berhenti disebuah taman yang cukup jauh dari kota dan restoran itu. Setelah yakin tidak ada seorangpun ditaman itu, Ichigo keluar dari mobilnya diiringi dengan Rukia. Ichigo bersandar disisi pintu mobil. Rukia menatapnya diseberang. Mungkinkah dia sudah mendatangkan masalah lagi untuk Ichigo. Sudah. Tentu saja sudah. Rukia mendatangkan masalah kembali pada Ichigo karena perasaan bodohnya.

" Kau tahu… aku tak pernah merasa begini bodohnya sebelum ini…" gumam Ichigo. Rukia tahu aktor itu sedang membicarakan dirinya sendiri. Ichigo berbalik dan menghadap Rukia. Mereka berdiri didepan mobil itu tanpa suara lagi.

" Seharusnya ini salah. Sungguh salah… kita tidak seharusnya—"

" Seharusnya bagaimana? Apa kau takut akan perasaanmu sendiri? Bukankah kau baru saja mengatakannya padaku?" potong Ichigo. Rukia tercekat.

" Aku ingin jujur. Tentang perasaanku sendiri. Tentang bagaimana rasanya jauh dari orang yang kusukai. Aku tahu ini sudah terlambat. Aku tahu ini salah. Tapi, apakah kita salah memiliki perasaan ini?" lanjut Ichigo.

" Bagaimanapun, tetap salah. Kita tak seharusnya seperti ini. Kau adalah aktor terkenal. Kehidupanmu tentu jadi sorotan publik…"

" Jadi… jika aku menyukaimu… itu juga salah?"

Rukia terdiam. Ichigo menatapnya dengan tulus. Sangat tulus. Seakan kata-kata sihirnya juga terdengar sangat tulus.

" Ya… itu salah… bagaimanapun, itu salah…" kata Rukia akhirnya.

" Kenapa?" tanya Ichigo.

" Karena kau seorang aktor…" jawab Rukia.

" Apa?"

" Karena kau seorang aktor. Aktor itu milik siapa saja. Aku tak bisa memilikinya sendiri. Lagipula, aku tak ingin berurusan dengan duniamu. Dunia yang berbeda denganku…"

Ichigo menghembuskan nafas yang sangat berat.

" Kau tahu. Dulu, aku sama sekali tidak menyesal menjadi seorang aktor. Sama sekali tidak. Tapi, sepertinya, sekarang ini aku sudah menyesal menjadi seorang aktor… sepertinya… justru yang membawa masalah adalah aku…"

Rukia tak pernah menyadari sebelum ini betapa dia ingin mengubah takdir itu. Rukia merasa menjadi orang yang sangat jahat saat ini. Seandainya dia bisa jujur. Jujur pada dirinya sendiri betapa dia menginginkan orang ini. Dan tepat saat itu, ponsel disakunya berdering dengan kencangnya.

Tanpa suara Rukia mengangkat teleponnya. Rukia tahu, Kaien pasti cemas bukan main. Karena itu, ketika Kaien memintanya menunggu untuk menjemputnya, Rukia sama sekali tidak menolaknya. Ichigo kembali diam. Dia tak tahu harus berbuat apalagi sekarang ini. Dirinya memang terlihat sangat bodoh. Bahkan terlalu bodoh.

Tak lama kemudian, mobil Kaien tiba. Disana juga ada Orihime. Dan sepertinya wanita itu memandang sinis kearah Rukia.

Orihime segera merangkul lengan Ichigo. namun, pria itu masih menatap Rukia. Ichigo baru mengalihkan pandangannya ketika Kaien datang dan menarik lengan gadis itu mendekat padanya.

" Sepertinya kalian sudah menyelesaikan masalah kalian sendiri. Kalau begitu, aku akan mengantar Rukia pulang…" ujar Kaien.

" Tentu saja. Ichigo pasti sudah menyelesaikan masalahnya dengan gadis ini. Lagipula, Rukia pasti mengerti kan. Sekarang ini Ichigo adalah milikku," sahut Orihime pula.

" Kalau begitu, ayo Kaien. Kita pulang…" Rukia berbalik dan pergi menjauhi mereka berdua. Sakit dikepalanya bertambah jadi. Badannya sudah lemas menahan beban yang sedari tadi dipikulnya sendirian.

Mungkin dia akan kembali stress.

Setelah mengantar Rukia sampai kerumahnya, Kaien menahan gadis itu. Rukia terdiam ketika Kaien menatapnya dengan sangat serius.

" Ada yang ingin kubicarakan denganmu…" ujar Kaien.

Rukia diam menunggu.

" Seminggu lagi, tugasku sebagai dosen pengganti sudah selesai. Kemudian aku akan melanjutkan studiku lagi… karena itu… sebelum aku pergi… aku ingin bertanya padamu…"

" Apa?"

" Apakah benar, kau akan menyukaiku lagi? Apakah benar kau masih mengharapkan aku lagi?" Kaien menatap Rukia dengan penuh keseriusan. Rukia hanya bisa diam saja.

" Aku tak akan memintamu menjawab sekarang. Aku tunggu sampai seminggu lagi. Aku yakin aku bisa mengubah perasaanmu. Aku tahu kau bisa melupakan semuanya. Aku akan membantumu mengubah segalanya. Aku akan hanya melihatmu saja. Sudah lama aku meninggalkan pacar lamaku karena ternyata kami tidak cocok. Karena itu… kali ini, aku akan serius padamu. Aku akan membuatmu menyukaiku lagi. Itu jika kau tidak menolaknya… dan aku menunggu jawaban yang baik darimu…"

" Maksudmu?" Rukia masih tidak mengerti kenapa Kaien memintanya begitu.

" Karena aku… mulai menyukaimu… bukan sebagai adik lagi… tapi sebagai seorang gadis…"

vVv


bales review ahh~~~

Yamakaze Shizuka : hahahaha makasih udah review... gpp kok... Ruki anak baik... heheheheh... jangan di-kill Orihimenya... eike masih butuh perannya neehh.. hehehehe *dikapak* ntar review lagi yaaa..

mautauaja : gimana ya kelanjutannya? eike juga bingung bok... heheheh makasih udah review... review lagi yahhh...

delalice : sebenernya sih fotonya kayak yang di sinetron gituloh... hahahah, eike gak tega bok nerangin foto gimana tuh... kagak rela deh... hehehe mending Ichigo ada affair ama eike ya nek... hehehehe makasih udah review... tapi typonya kayaknya emang selalu ada. udah diliatin sampe jereng masih aja nyelip... *kecewa* hehehe review lagi yaa

mieya chappyberry : eh bok... eike mah suka sama masalah... hehehehehe... makasih udah review... nih udah update... review lagi yaahh

Lily Hikari-chan : hehehe makasih udah review... nih udah update,,, yg jelas kita selesaikan satusatu deh... pasti selesai kok... heheheh review lagi yaaa

Rukianonymous : hmmm *gayasambilmikiralaprofessor* bener tuh bok... emang tuh hime sial... hahahahah *tawalaknat* soal itu, hanya Rukia yang memutuskan deh... eike gak ikut campur bok... Rukia kan Indo asli. kagak bisa bahasa Jepang bok... eike buat gitu aja... biar dia gak ngerti lagunya Ichigo... heheheh... makasih udah review... review lagi ya...

Kyucchi : iya bok... Isshin tuh kan pasti minta anak buahnya yang bunuh... Isshin tuh cuma dalang aja... *emangOVJ?* yah... ntar diterakhirnya bakal terlihat semuanya kok... heheheh makasih udah review... ntar review lagi yaaa...

ok deh... selesai. sekarang menjelang Mid... banyak kepala yang rada pusing. makanya mungkin fic gaje nan abal ini mungkin bakal selesai 3 ato 4 chap lagi deh... dan setelah itu saya mau mulai fic gaje lainnya... tentunya dengan masalah yang lebih mumet... hahahahahah *sayasukabangetmasalah*

kalo gitu... Jaa Nee...