Hmmmmmmmmmmmmmmm... apdet yang telat!

Huh...

Gpp deh... 2 ampe 3 hari ni eike lagi galau...

Jadi gak tahu deh... lupa ama apdet nih fic abal...

Btw... pas ngedit bagian chap ini entah kenapa eike jadi aneh...

eike jadi ikutan nangis gaje... *ngapain coba?*

Yaudah... hepi reading senpai...

DISCLAIMER : TITE KUBO

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, GAJE.


" jadi… jika aku menyukaimu… itu juga salah?,"

" karena aku… mulai menyukaimu… bukan sebagai adik lagi… tapi sebagai seorang gadis…,"

Rukia tak percaya dengan apa yang didengarkannya semalam. Semuanya terlalu tiba-tiba. Tahu bahwa perasaannya berbalas saja sudah senangnya bukan main. Kini, dia juga harus membalasnya. Tak mungkin bisa keduanya. Paling tidak dia harus memilih salah satu atau tidak keduanya. Mungkin lebih baik tidak kedua. Itu juga bisa.

Hari ini, Rukia diminta hadir oleh Senna kestudionya. Senna juga sudah tahu apa yang terjadi dengan sepupunya itu. Sudah bisa dipastikan dengan wajahnya sendiri. Senna paham betul bagaimana perasaan sepupunya. Tidak ada yang tidak Senna ketahui. Semuanya seakan terbaca. Namun, Senna sama sekali tak ingin menyinggung soal itu jika Rukia sendiri belum ingin membahasnya. Dan maksud Senna mengajak Rukia kestudionya untuk membuat sepupunya merasa lebih baik dengan berkumpul dengan orang lain.

Terkadang, bila seseorang memiliki masalah, orang itu cenderung ingin memiliki suasana baru terlebih dahulu. Dan itu lebih bagus.

Rukia memperhatika Senna yang sedang bergaya didepan kameranya. Rukia terkadang pernah menginginkan dirinya seperti ini. Tapi, kemudian, dirinya tak lagi menginginkannya. Ada banyak alasan terdahulu yang membuatnya urung melakukannya. Sepertinya memang menyenangkan melihat sepupunya itu bergaya dengan manis didepan kamera tanpa beban. Mungkin inilah sebab alasan mengapa sepupunya menyukai dunia entertainer. Perasaanpun dilepas dengan bebasnya. Dan sekarang, Rukia ingin sekali melepas perasaan itu.

Tapi, kepalanya sekarang serasa mau pecah. Sudah beberapa butir obat yang ditelannya sejak kemarin, karena dia hanya mengeluhkan sakit kepalanya saja. tapi sekarang, kepalanya serasa mau pecah. Mukanya masih juga pucat meskipun Rukia sudah menyamarkannya sebisa mungkin. Tapi tetap tak bisa. Banyak yang menyadarinya.

Rukia berusaha tersenyum saja.

vVv


" Tiket ke Jepang? Maksudmu… kau mau pulang sekarang?" ujar Kyouraku.

Kurosaki Ichigo mengangguk mengiyakan perkataan managernya tadi. Kyouraku tertawa pahit. Seakan sedang menertawakan orang bodoh yang penakut dan pecundang.

" Ada apa? Bukannya aku sudah bilang jangan menyerah begitu saja? Kenapa melarikan diri begitu… kau mau aku bilang kau ini pecundang?" tambah Kyouraku.

" Terserah kakak mau bilang apa… tekadku untuk pulang sudah bulat. Lagipula, urusanku sudah selesai disini… aku memang benci negara tropis…" kata Ichigo sambil membalik majalah style Asia itu.

" Lalu, apa yang akan kau katakan pada gadis itu—tentu saja kau tahu maksudku kan—kau akan meninggalkannya begitu saja?" tanya Kyouraku.

Ichigo mengalihkan pandangannya dari majalah itu kelangit-langit kantornya. Menengadah seakan mencari jawabannya disana. Lalu kemudian beralih menuju jendela kaca kantornya. Kemudian bersandar dan menghembuskan nafas seolah putus asa.

" Bagiku… keberadaanku disini hanya membuat masalah untuknya. Memang masalah belum muncul, tapi apa kakak tahu jika seandainya media tahu bahwa aku menyukai gadis lain selain pacarku? Bukan aku yang menderita melainkan dia… dan aku sudah cukup membuatnya menangis karena aku…" lirih Ichigo.

" Jadi kau akan meninggalkannya tanpa alasan? Itu justru lebih menyakitkan kau tahu…"

" Lalu aku harus bagaimana? Dia sendiri mengatakannya. Dia tidak mungkin menyukaiku. Dia tidak suka aktor kakak. Dan aku adalah alasan utama mengapa dia tak bisa menyukaiku…"

" Itukan konyol. Gadis mana yang tidak menyukai aktor?"

" Dia berbeda kakak. Aku tak mau lagi melihatnya menangis. Lagipula… semakin lama aku disini, semakin besar pula perasaan ini padanya. Ditambah lagi, wanita menyebalkan itu akan semakin meneror gadis itu…"

Kyouraku terdiam. Baiklah. Dia tak tahu lagi harus mengatakan apa.

" Kenapa Jepang!" seperti kebiasaan sebelumnya, Orihime masuk tanpa ijin lagi. Dan tentunya dia sudah terlebih dahulu menguping pembicaraan mereka. Kyouraku dan Ichigo sama-sama terkejut. Orihime menatapnya penuh amarah.

Seakan tahu maksud Ichigo, Kyouraku bergerak perlahan lalu keluar dari ruangan itu. Dia tahu benar, Ichigo membutuhkan privasi untuk masalah ini.

" Kenapa? Karena urusanku sudah selesai disini… apalagi yang harus kulakukan? Lagipula, menjadi pacar bohonganmu itu cuma didepan kamera dan selama aku masih disini. Diluar itu, kita bukan apa-apa. Bukankah aku sudah pernah bilang?" ujar Ichigo mengalihkan pandangannya kemajalah Asia itu lagi.

" Jadi maksudmu… kau mau menghindariku?" desak Orihime.

" Tidak… aku tidak menghindarimu. Aku hanya lelah saja. Sudah waktunya aku pulang… aku tidak berniat lama-lama disini…" ujar Ichigo lagi.

" Kau lupa! Kalau kau menolakku, aku akan melakukannya. Aku akan menunjukkan foto itu—"

" Silahkan saja. Jika kau lakukan itu, perjanjian kita selesai… aku menjadi pacar bohonganmu karena hal ini. Terserah saja… itu urusanmu…" Ichigo menutup majalahnya dan berdiri hendak meninggalkan Orihime.

" Tunggu Ichigo! Apa kau tidak paham juga? Aku benar-benar jatuh cinta padamu… apa kau buta? Apa kau tidak bisa melihatku?" mohon Orihime.

" Seharusnya kau katakan itu dari dulu. Sekarang perasaanku sudah berubah. Apa kau sendiri tak pernah menyukai seseorang dengan tulus? Kalau kau memang tulus menyukaiku dan ingin aku melihatmu, kau tidak seharusnya melakukan tindakan seperti ini… jika kita bahagia melihat orang yang kita sukai bahagia, itu baru namanya cinta… bukankah kau sudah mengerti karena kau artis juga? Kau sudah tahu kan, tidak ada cinta yang lahir dari keterpaksaan…" jelas Ichigo lagi.

Orihime terdiam. Dia merasa bersalah sendiri. Sekarang dia menyesal mengapa melakukan hal seperti itu. Bahkan, sekarang dia menyesal selalu membuat Rukia menderita karena menahan perasaannya sendiri. Apalagi... yang dikatakan oleh Ichigo. Yah. Perasaannya sudah berubah. Tak sama seperti dulu lagi.

" Sebaiknya kau minta maaf pada gadis itu… aku sudah tahu semuanya tentang masa lalu kalian… dan aku… sudah berniat akan melupakan semua yang pernah terjadi selama ini..." tambah Ichigo sebelum dia menutup pintu ruangan itu.

Orihime menangis sejadinya. Dia kesal. Dia kesal karena Ichigo tidak bisa melihatnya. Dan parahnya lagi, dia membuat satu kesalahan. Dia sudah membuat Ichigo semakin membenci dirinya.

vVv

Rukia merasa wajahnya terus menerus memucat. Memang dia merasa sakit. Tapi kemarin, dia benar-benar sudah meminum banyak obat. Tapi satu hal yang belum dia lakukan. Pergi ke dokter. Dan jujur, Rukia benci dokter terutama jarum suntik. Untungnya badannya masih bisa bertahan selama ini. Hanya saja, nafsu makannya terus berkurang. Yoruichi sudah merasa khawatir dan hampir membawa Rukia kedokter. Tapi Rukia malah menangis sambil memeluk guling karena tidak mau kedokter. Kalau bukan dalam keadaan sangat terpaksa, Rukia tak mau kedokter.

Dulu waktu dirumah sakit saat insiden penemuan rumah lamanya itu, dia tak sadar dibawa kerumah sakit. Kalau sadar, Rukia pasti sudah memberontak.

Suara tiba-tiba serak begitu Rukia bangun dari tidurnya. Disampingnya masih terlelap Senna. Senna tadi malam baru pulang pukul 3 pagi. Biasalah jadwal kerjanya yang menggila itu. Senna langsung ambruk tidak berganti pakaian lagi. Semalam dia mengeluh kalau kakinya terasa mau putus karena sejak pagi hingga malam memakai high heels.

Rukia membantu tantenya menyiapkan sarapan, sampai dalam keadaan pagi seperti inipun, ada-ada saja gangguan. Tiba-tiba pintu rumah diketok sepagi ini. Karena tantenya sedang sibuk, Rukia yang membukakan pintu. Dan alangkah terkejutnya dirinya begitu menemukan siapa yang didepannya ini…

" Apa kabar… Rukia…" suaranya lembut dan bersahabat. Tidak itu adalah suaranya yang tulus. Rukia tahu orang ini sedang tidak bercanda atau menatapnya sinis seperti biasa. Ataukah… lagi-lagi akting murahan?

" Oh… Orihime… ya… ada apa? Kau mau masuk dulu," Rukia tergagap menyambut salam Orihime.

" Tidak usah. Aku hanya sebentar… oh ya… sebenarnya kedatanganku kemari… karena aku ingin minta maaf…" lirih Orihime.

Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Seorang Inoue Orihime meminta maaf? Apakah dunia akan segera kiamat? Ataukah tanda-tanda kiamat memang sudah bermunculan?

" Hah?" hanya itulah yang keluar dari mulut Rukia. Dia terlalu bingung dan takjub.

" Maafkan aku selama ini jika aku selalu melakukan kesalahan padamu. Sekarang aku sudah sadar sepenuhnya kalau apa yang aku lakukan salah. Aku hanya mementingkan egoku tanpa melihat perasaan orang lain. Dulu aku memang egois. Sekarang, aku memutuskan akan berubah. Karena sifatku, aku baru saja kehilangan sesuatu yang penting…" cerita Orihime panjang lebar.

" Apa maksudmu?" Rukia masih tidak mengerti.

" Sebenarnya, aku dan Ichigo sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Akulah yang memaksakan hubungan ini. Ternyata begini rasanya menyukai orang yang membenci kita. Aku tidak akan mengganggu Ichigo lagi. Tapi aku akan tetap menyukainya sampai kapanpun… aku dulu memang bodoh pernah mengabaikannya. Dan aku menyesal. Tapi… aku tidak menyesal menyukainya seperti ini… aku, akhirnya aku paham apa itu cinta… ketika melihat orang yang kita sukai bahagia, cinta kitapun akan bahagia…"

" Jadi maksudmu… kau dan Ichigo sama sekali… maksudku… kalian… sudah…"

" Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Maafkan aku. Kuharap kita bisa jadi teman baik, meskipun aku tahu butuh waktu lama untukmu memaafkanku. Dan aku tak bisa begitu saja mengubah perasaan orang lain. Aku kemari hanya ingin minta maaf saja… tidak ada maksud lain. Kau pasti akan memaafkan aku kan?" mohon Orihime.

Saat itu, Rukia melihat ketulusan didalam mata gadis itu. Entah kenapa, meskipun Rukia tahu sebenci apa dia dengan gadis ini, tapi begitu gadis ini dengan tulusnya meminta maaf padanya, dirinya luluh begitu saja.

" Kau kan tidak melakukan kesalahan yang berarti. Kenapa harus minta maaf? Orang yang jatuh cinta tidak pernah salah dalam mendapatkan cintanya. Meskipun memang salah. Tapi aku sudah memaafkanmu…" ujar Rukia tulus pula. Rukia tak berencana menyimpan dendam manapun lagi. Mulai sekarang dia akan membuat hidupnya bahagia, sebahagia mungkin. Dan dalam hatinya, dia sudah memiliki keberanian untuk mendapatkan kembali cahayanya.

" Kalau begitu kau harus cepat. Apa kau tidak tahu 30 menit lagi Ichigo akan pulang ke Jepang?" ujar Orihime.

Apa? Jepang? 30 menit lagi?

Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Hatinya menangis. Astaga! Kembali pulang? Kenapa begitu…

" RUKIA! KITA HARUS CEPAT KEBANDARA!" teriak Senna dari dalam rumah.

vVv


Astaga! Tidakkah bunyi sialan itu paham? Aku baru saja tidur jam 3 pagi tadi, sekarang bunyi alarm mengamuk dengan kerasnya! Dimana bunyi itu! Jerit Senna dalam hatinya. Pagi-pagi begini ada bunyi aneh yang memekakan telinga. Senna sudah berusaha menutup telinganya dengan setumpuk bantal, tapi tak berhasil juga. Akhirnya, Senna menyerah dan mencari bunyi itu berasal dari mana. Begitu Senna yang setengah tidur menemukan jam weker dia langsung melempar benda tak berdosa itu terkapar dilantai. Ternyata bunyinya masih ada. Dengan kesal Senna melihat mayat jam weker itu. Jangan-jangan jam itu jam berhantu. Tapi begitu sadar, jam itu sama sekali tidak berbunyi, Senna beralih meraih ponselnya yang ternyata berbunyi sedari tadi. Kalau saja Senna kesal sampai mendidih, ponsel itu pasti akan bernasib sama dengan jam weker itu.

Tanpa melihat siapa yang menelponnya pagi buta begini—menurut Senna walaupun ini sudah jam 7 pagi—ponsel itu langsung ditempelkannya ditelinganya.

" Tante Rangiku kan tahu aku ini baru tidur jam 3 pagi memangnya tidak bisa nanti ya?" keluh Senna. Merasa kalau yang menelpon itu adalah managernya.

" Tante Rangiku? Bukan… ini aku… kau masih tidur Senna? Maafkan aku ya…" Senna mengerutkan keningnya. Kepalanya berputar mengingat suara pria ini. Siapa? Dan ketika melepas ponselnya melihat siapa yang menelpon, matanya langsung terbelalak.

" Oh! Ichigo… ada apa pagi-pagi begini? Tumben banget… iya… aku masih mengantuk… kau mencari siapa?" tanya Senna.

" Maksudmu?" sahut suara diujung sana.

" Kau itu jarang menelponku. Kau cari aku apa sepupuku? Sepertinya kalian ini masih bertengkar soal statusmu sekarang ya? kalau aku jadi Rukia, aku juga pasti akan marah kau tahu…" sindir Senna.

" Oh ya. Mungkin seperti itu. Tidak… aku tidak mencari dia. Aku memang ingin menelponmu… karena aku mau pamit…" ujar Ichigo.

" Pamit? Pamit apa maksudmu? Kau mau syuting kemana?" Senna tidak mengerti.

" Pamit pulang…" jawab Ichigo singkat.

" Pulang? Memang selama ini kau dimana?"

" Maksudku… aku akan pulang ke Jepang… pesawatku berangkat 30 menit lagi. Maaf aku mendadak memberitahumu. Aku sudah menyelesaikan segala urusanku disini… dan sampaikan pada sepupumu… aku minta maaf…" ujar Ichigo.

" Hei! Apa yang kau lakukan? Kenapa… apa maksudmu sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi…? Kenapa tidak menjelaskan pada Rukia? Kau tahu seperti apa dia setelah pengumuman bodohmu itu? Hei Ichigo! Kau mana boleh menyakitinya begitu! Setidaknya kalian harus bertemu dulu!"

" Tidak bisa… tidak bisa bertemu… maafkan aku…"

Ichigo menutup teleponnya. Seketika itu pula ngantuk yang dirasanya menghilang begitu saja. matanya nyalang menahan marah.

Karena itu sesegera mungkin, Senna mengambil cardigannya. Masuk kekamar mandi dan menggosok giginya, lalu dandan asal-asalan. Dia tidak bisa membiarkan hubungan mereka seperti ini. Tugasnya menjadi cupid kembali dibutuhkan!

" RUKIA! KITA HARUS CEPAT KEBANDARA!" teriak Senna.

Saat itu, Senna melihat Rukia berdiri didepan pintu rumahnya bersama seseorang. Senna tahu itu Orihime. Dia memandang sinis Orihime. Setelah bertatapan penuh sinis, Orihime memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.

Rukia masih terpaku didepan pintu masuknya.

" Hei… kenapa kau masih berdiri begini… kita kebandara!" paksa Senna.

" Aku… aku tidak mau…" gumam Rukia.

" Hah? Kau gila! Kau mau berakhir begini saja? hei… aku tak pernah bertemu dengan gadis sebodoh dirimu! Bukankah wanita ubur-ubur itu sudah mengatakan bahwa dia sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Ichigo? Masa kau mau membiarkan semua ini berlalu seperti masa lalu?" kata Senna sampai urat lehernya nyaris keluar.

" Dia tidak memberitahuku, bukankah itu artinya dia tidak ingin bertemu denganku? Aku sudah merasa bahwa perasaanku padanya memang salah dari awal…"

" Bodoh! Tidak ada perasaan cinta yang salah! Hei… kenapa aku punya sepupu sebodoh dirimu? Kalau dia yang tidak mau menemuimu, kau yang harus menemuinya. Setidaknya harus ada yang kalian katakan bukan? Bukankah kau menyukainya?" desak Senna. Rukia tetap menunduk pasrah. Perasaannya memang seperti itu. Tapi hatinya sepertinya mengijinkan bahwa jalan terbaik bagi mereka adalah perpisahan. Lagipula... dia harus bertanggungjawab untuk kata-katanya didepan Kaien malam itu.

" Sudahlah! Bisa-bisa dia berangkat duluan menunggumu membuat keputusan! Sekarang ikut aku mau tidak mau! Kalau kau menolak, aku tidak akan menganggapmu saudara lagi! Kau paham!" ancam Senna lalu menarik Rukia.

vVv


" Tidak menelpon? Kenapa malah menelpon Senna? Kau ini bodoh ya?" sindir Kyouraku dalam perjalanan kebandara. Kyouraku terus menatap jalan didepannya, tapi matanya terus mencuri pandang kearah Ichigo yang duduk disebelahnya.

" Aku memang bodoh. Apa kakak puas?" ujar Ichigo.

" Ya sudahlah. Aku sudah mengatakannya padamu. Penyesalan selalu ada dibelakang. Kalau nanti kau menyesal. Aku tidak bertanggung jawab…" ujar Kyouraku.

Ichigo bukannya tidak ingin menghubungi gadis itu. Hanya saja. mengingat gadis itu pernah mengatakan bahwa antara dirinya dan gadis itu tak ada apapun yang istimewa membuatnya kesal. Sepertinya gadis itu memang ingin melupakannya dan pergi dengan cinta pertamanya. Sepertinya memang harus diakhiri secepatnya.

Setelah sampai dibandara, Kyouraku segera mengurus imigrasi mereka dan data-data lainnya diloket. Sedangkan Ichigo menunggu dibangku tunggu didalam bandara. Tidak terlalu banyak orang hari ini dibandara. Ichigo lega. Setidaknya, dia tak perlu dikerubungi oleh banyak fansnya. Itu menyebalkan. Ditambah lagi, Ichigo tidak mengucapkan salam perpisahan. Hah? Menggelikan!

vVv


Menunggu managernya memang sangat lama. Ichigo kembali berpikir bahwa managernya itu sedang menggoda gadis tropis yang sangat disukainya.

Ichigo menengadahkan kepalanya. Mengingat sesuatu yang menurutnya sangat berharga. Mengingat beberapa penggal ingatan yang sulit dihapus.

" AHH! KAU PRIA GAY ITUKAN!"

" KurosakiIchigo terlalu panjang. Lebih enak Ichigo. Oh ya. bahasa Jepangichi itu satu ya? Berarti kau satu-satunya..."

" Tentu saja. tidak akan dua kali. Oh ya Ichi. Aku baru sadar. Ternyata kau memang orang baik!"

" Jika nanti… kalau aku ada masalah… bolehkah aku memanggilmu? Bolehkah kita melakukan ice skating seperti waktu kau punya masalah kemarin?"

" Tidak. Untuk saat ini tidak. Dan mungkin untuk kedepannya. Aku tidak mengharapkan dan menyukai cinta pertamaku lagi. Seharusnya itu sudah jadi masa lalu. Karena aku… kurasa aku mulai menyukai seseorang…"

" Ichigo… kau memang seperti cahaya…"

" Setelah bertemu denganmu, rasanya malam hari terasa sangat terang dan tidak menakutkan lagi…"

" Aku memang masalah. Aku tahu. Makanya, segera pergi dan lupakan bahwa kita pernah saling mengenal!"

" Apa hubungannya denganmu? Apa artinya aku? Ichigo! Sedetik kau berikan aku cahaya. Sedetik kemudian kau langsung melenyapkan cahaya itu! Kau sudah tahu aku takut malam dan kegelapan! Tapi kau malah meninggalkan aku diantara gelap dan malam itu! Kau selalu seenaknya sendiri! Apa karena kau aktor kau seenaknya begini padaku? Apa kau tahu bagaimana perasaanku? Kau bahkan tak pernah bertanya bagaimana perasaanku ketika bersamamu! Lalu kenapa kau membuatku begini sakit? Kenapa kau… selalu menyulitkan aku…"

Ichigo tersenyum pahit mengingat semua itu. Entah kenapa ingatannya begitu tajam sejak awal pertemuannya dengan gadis itu. Bagaimana ekspresi gadis itu tersenyum, tertawa, menangis, berteriak, sedih, seakan semua ekspresi itu tersimpan dengan rapat didalam memorinya. Seandainya dia bisa mengubah sebuah perasaan. Tapi, sangat terlambat. Mengapa harus menyadari saat ini?

Menyadari bahwa gadis itu memang sangat penting untuknya. Hampir semua yang dia lakukan, kekonyolan dan kebodohan yang dia lakukan akhir-akhir ini karena gadis itu.

Setelah selesai mengingat tentang masa lalu itu, Ichigo berjalan menuju pintu check in-nya. Kyouraku sudah menunggu disana. Ketika, Ichigo menyerahkan tiketnya pada petugas mata Ichigo terbelalak kaget melihat seseorang yang berdiri didepannya dengan jarak 3 meter. Gadis itu. Gadis itu berdiri mematung didepannya. Dan Ichigo tahu. Gadis itu baru saja menangis.

vVv


" Kau cari sebelah sana dan aku sebelah sini. Cepatlah. Pesawatnya berangkat 20 menit lagi. Kau tidak mau mengecewakan pengorbananku yang membawamu kemari pagi buta begini kan?" ancam Senna.

Sudah didalam mobil tadi, Rukia enggan keluar. Sebenarnya alasan mengapa Rukia tidak ingin bertemu dengan Ichigo, karena takut. Ichigo akan membencinya. Jujur saja. Rukia tak tahu harus mengatakan apa. Ditambah lagi, dia pernah mengatakan bahwa Ichigo sama sekali tak ada istimewanya.

Rukia merasa bersalah. Tapi tak tahu harus bagaimana. Rukia berlari kesana kemari. Seolah menyesal dengan apa yang dia katakan malam terakhir itu. Harusnya dia percaya pada Ichigo. Harusnya dia tak membuat keputusan yang begitu mendadak. Harusnya dia bisa memahami situasi mereka! Kenapa dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri karena keegoisannya? Padahal Rukia tahu dengan jelas. Dia menyukai aktor itu seperti orang bodoh. Menyukainya tanpa bisa berpikir apapun. Harus ketemu, tidak boleh tidak. Kalau saat ini, dia sempat bertemu dengan Ichigo, dia akan sejujurnya pada perasaanya sendiri. Akan mengatakan apa yang dirasakannya pada Ichigo kalau—

Rukia terdiam. Didepannya. Dengan jarak 3 meter, nyaris masuk kedalam pesawat, dia melihat orang yang dicarinya. Ichgio menengadahkan kepalanya menatap sesuatu diatas sana.

Tanpa terasa airmata Rukia mengalir dengan derasnya.

Kemudian, akhirnya Ichigo menyadari keberadaannya. Ichigo juga menoleh dengan cepatnya. Mata mereka bertemu kembali.

Sesaat terdiam. Akhirnya Rukia tak bisa menahan emosinya lagi.

" Aku… aku menyukai Kurosaki Ichigo!" ujarnya yang dengan sukses membuat Ichigo membelalakan matanya.

Belum sempat Rukia mengatakan sesuatu, kepalanya kembali pusing dan setelah itu keributan besar terjadi disana.

vVv


Rukia mengerjapkan matanya. Kepalanya bertambah pusing dan nyaris gelap begitu dia melihat sekelilingnya. Lalu kenapa tangan kirinya terasa sakit?

Keadaan disekelilingnya juga terlihat putih. Menyeramkan. Hal pertama yang membuatnya terbelalak, adalah tabung infus diatasnya. Rukia gemetaran melihat tangannya yang sakit itu kenapa, akhirnya, dia tahu penyebabnya. Pantas saja tangannya sakit tidak karuan! Rupanya ada jarum… jarum…?

Rukia berteriak histeris.

" Hei…! Apa yang terjadi?"

Rukia begitu kaget, melihat Ichigo masuk kedalam ruangan putih itu. Rukia baru sadar, tidak ada seorangpun didalam ruangan itu. Ichigo masuk dan langsung berhambur kesamping tempat tidur Rukia. Wajahnya panik dan tegang.

" Apa yang sakit? Kepalamu?" tanya Ichigo panik dan ditambah cemas.

" Ada jarum… jarum suntik ditanganku… aku benci jarum suntik…" keluh Rukia.

" Apa? Jarum suntik? Astaga! Banyak sekali yang kau takutkan ini? Bisa gila aku setiap saat mengawasimu seperti ini…" ujar Ichigo sambil mengambil kursi dibelakangnya dan duduk tepat disamping kasur Rukia.

" Kenapa… kau tidak jadi… pulang ke Jepang?" tanya Rukia hati-hati.

" Maksudmu… aku harus pulang dan membiarkanmu terkapar pingsan disana? Kau sempat membuat heboh bandara itu… kata dokter gejala tifusnya sudah ada sejak beberapa hari lalu, kenapa tidak langsung kedokter? Sekarang kau malah harus rawat inap!" gerutu Ichigo.

" Tifus? Aku sakit tifus?" ulang Rukia.

" Memang baru gejala awal. Dan sepertinya kau makan sembarangan lagi. Pasti karena kau sedang ada pikiran makanya makanmu tidak teratur ya? kalau aku tidak ada, siapa yang akan mengawasimu? Senna kan juga ada urusan… seharusnya kau perhatikan kesehatanmu dulu…" ceramah Ichigo.

Rukia memperhatikan Ichigo yang terus mengoceh. Karena merasa diperhatikan Ichigo kembali diam lalu menatap Rukia kembali.

" Kata-katamu terakhir dibandara itu… apa benar?" tanya Ichigo.

" Huh? Kata-kata apa?" Rukia berlagak bingung.

" Jangan mengelak lagi! Cepat katakan yang jujur… kau tidak boleh menarik kata yang sudah keluar…"

Rukia tersipu malu. Seharusnya dia tidak langsung mengatakan hal itu!

Rukia pikir Ichigo langsung akan masuk pesawat dan tidak kembali lagi. Makanya dia berteriak tanpa berpikir lagi. Dan saat ini, Rukia bersyukur dia pingsan saat itu. Kalau tidak, mukanya pasti akan memerah menahan malu!

" Kenapa kau tanyakan itu lagi? Aku sudah mengatakannya sekali…" gerutu Rukia.

" Jadi… kau sudah menyukai aktor?" sindir Ichigo.

" Yang kusukai itu, Ichigo, bukan aktornya. Lagipula… aku tak bisa menyukai yang lain, kecuali cahaya yang kau berikan itu… cahaya yang selalu menerangi malam yang menakutkan itu…"

" Berarti… kau tidak berharap lagi pada cinta pertamamu kan?" tanyanya lagi.

" Cinta pertama? Kurasa… masih menyukainya…" gumam Rukia malu.

" Apa! Hei… kau menyukaiku kenapa masih menyukai cinta pertamamu! Kali ini kau mau bohong lagi?" ancam Ichigo.

" Akukan bilang masih menyukainya. Lagipula… perasaanku padamu itu… bukan hanya sekadar suka… dan kurasa… mungkin lebih dari itu…" Rukia malu sekali mengatakan hal itu. Makanya setelah mengatakan hal itu, Rukia menutup kepalanya dengan selimutnya. Karena tiba-tiba Ichigo menatapnya dengan aneh.

Ichigo segera menarik selimut yang ditarik Rukia. Kemudian mereka saling tarik menarik selimut. Hingga akhirnya, Rukia menyerah dan tertawa bersama Ichigo yang mengelus rambutnya penuh sayang.

Tanpa menyadari kehadiran 2 orang yang terus memperhatikan tingkah mereka berdua.

" Baguslah tidak jadi berangkat. Dan berakhir bahagia. Setidaknya pengorbananku tidak sia-sia…" keluh Senna.

" Pengorbanan? Sebenarnya siapa disini yang berkorban?" tanya Kyouraku.

" Hei… aku berkorban tenaga, Kakak tahu tidak, aku baru pulang jam 3 pagi ini, dan mendengar Ichigo mau pulang tanpa bicara dengan Rukia lagi, membuatku mendidih…"

" Benarkah? Mungkin pengorbananmu belum sebanding dengan pengorbanan gadis itu…" Kyouraku menunjuk Rukia.

" Hah? Dia itu bodoh. Bukan berkorban…"

vVv


Setelah hari itu, tiba-tiba ada sebuah infotainment yang memberi kabar bahwa Orihime memutuskan untuk pindah ke Eropa dan memulai hidup baru. Dan berita mencengangkan lainnya, Orihime memberitahukan tentang putusnya hubungan istimewanya dengan Ichigo. saat itu Rukia sama sekali tidak memberitahukan apa alasannya memutuskan hubungan itu. Namun, yang jelas, Orihime hanya mengatakan tidak ada kecocokan. Itu saja. Kyouraku juga sedang menjelaskan pada agensinya mengenainya hubungan Ichigo itu. Tapi Ichigo sudah mengatakan pada agensinya, bahwa dia akan menyelesaikan masalah ini. Karena hanya kebetulan sesaat saja. Orang-orang pasti akan berpikir, bahwa ini hanya hubungan cinta lokasi yang terjadi sesaat saja. Banyak orang yang menerka apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, untuk fans fanatik Ichigo, ini adalah anugerah terindah.

Ketika mengetahui Rukia masuk rumah sakit, Kaien segera menjenguknya. Namun, alangkah kagetnya begitu menyadari disana ada Ichigo saja. mereka tampak akrab. Apakah masalah sudah selesai?

Ichigo akhirnya memberikan privasi pada Rukia. Kebetulan tantenya sedang mengurus suaminya dan mungkin nanti malam baru akan datang. Tantenya cukup lega karena ada Senna dan Ichigo yang menunggu Rukia.

Akhirnya, Rukia menjelaskan semuanya. Dimulai dari perasaannya, juga tentang Orihime.

" Kalau kau mau membenciku, aku tidak apa-apa. Sejak awal, memang aku yang salah…" ucap Rukia mengakhiri ceritanya.

Kaien terdiam. Diam dan tak tahu harus mengatakan apa.

" Jadi begitu… aku tidak bisa membencimu… mungkin ini juga salahku yang menyadarinya terlalu terlambat. Bukan salahmu. Aku sudah tahu bahwa kau hanya emosi saja kemarin itu. Aku tahu kau tak benar-benar menyukaiku lagi seperti dulu..."

" Kau sudah tahu? Bagaimana..." Rukia tak percaya.

" Aku tahu semua tentangmu Rukia. Kau pikir aku sama sekali tak memahamimu? Aku tahu apa yang kau rasakan dan apa yang kau inginkan. Aku sudah mengenalmu lebih dari 7 tahun. Bagaimana mungkin aku tak mengenalmu. Dan lagi, besok adalah hari terakhir aku mengajar dikampusmu. Dosenmu sudah kembali. Oh ya, lusa aku akan pulang ke Australia… melanjutkan studiku disana…" jelas Kaien.

Rukia tercengang.

" Kenapa… kenapa Australia?" hanya itu yang sempat ditanyakan.

" Mungkin begini lebih baik. Untuk kita bukan? Karena kau sedang sakit. Jadi… ini pertemuan terakhir kita… kapan-kapan, jika kau datang ke Australia aku akan menemuimu, dan jika aku ada waktu, aku akan menemuimu. Aku sudah bicara dengan Senna… kalau begitu aku… pulang dulu…" Kaien menarik diri sekarang. Dia percaya, gadis itu akan bahagia. Memang pertamanya dia pernah berharap kembali bahwa gadis itu bisa menyukainya lagi. Tapi… sepertinya ini memang yang terbaik. Lagipula. Bagaimanapun dia memaksakan perasaannya tetap tak akan sampai pada gadis itu. Perasaannya sudah berubah. Hati dan manusia akan berubah seiring dengan waktu.

" Kaien… mungkin… aku tak pantas mengatakan hal ini… tapi… bolehkah aku tetap menganggapmu sebagai kakakku? Sekarang dan selamanya?" pinta Rukia sebelum Kaien keluar dari ruangan itu. Kaien berbalik dan tersenyum penuh arti. Lalu mengangguk setuju.

" Selamanya…" gumam Kaien dan akhirnya benar-benar pergi.

Setelah keluar dari ruangan itu, Kaien bersandar dipintunya. Gagal lagi.

Harusnya dia bilang sejak awal bukan? Jika sudah terlanjur begini, apalagi yang bisa dilakukan selain mengharapkan gadis itu bahagia? Tidak ada lagi bukan?

Ketika Kaien hendak beranjak dari sana, Kaien bertemu dengan Ichigo yang baru saja datang sambil membawa sesuatu. Dan entah apa itu. Ichigo terdiam kala melihat Kaien memandangnya. Kedua pria itu saling memandang beberapa saat di koridor itu. Hingga akhirnya Kaien tersenyum ramah pada Ichigo dan mengatakan sesuatu.

" Peranku sebagai pria yang menyukainya sudah selesai sampai disini. Sekarang dia memintaku kembali menjadi kakaknya. Karena aku sudah menyerah, kau pasti akan membahagiakannya kan?"

" Tentu saja. Selamanya aku akan membahagiakan dia. Tidak akan menyakitinya lagi. Bila perlu, aku akan menyerahkan seluruh hidupku padanya agar dia bahagia, kau bisa percaya itu…" Ichigo menatap Kaien mantap.

" Baguslah… berjanji seperti lelaki sejati kan? Kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang. Tapi… sekali saja. Sekali kau membuatnya menangis… aku akan segera mengambilnya darimu. Tidak peduli apapun yang terjadi. Aku akan datang dan mengambilnya dari sisimu… karena aku masih belum bisa melupakannya…" ujar Kaien sambil berlalu. Kemudian menepuk pundak Ichigo pelan. Setelah Kaien benar-benar pergi, Ichigo tersenyum penuh arti.

" Tentu saja… satu-satunya masalah yang kusukai hanya ada satu…" gumam Ichigo.

vVv


Yoruichi tak bisa menemani Rukia selama sakit. Maklum saja, urusan suami Yoruichi lebih sibuk dari itu. Dan ditambah beberapa waktu lalu, Yoruichi terpaksa meninggalkan Rukia dan Senna karena kondisi ibu mertuanya sedang tidak baik. Dan harus dibawa kerumah sakit juga. Rukia meminta agar tantenya segera pergi menjenguk mertuanya saja. Karena Rukia sudah bahagia dirawat dengan Senna. Apalagi Ichigo. Tentu saja Rukia tidak keberatan. Dan sudah beberapa hari Rukia dirumah sakit. Hari ini, waktunya pulang. Rukia sudah bersiap, dan katanya Ichigo akan menjemputnya dirumah sakit. Senna tak bisa menjemput lagi-lagi karena urusan pekerjaannya. Rukia tak keberatan. Lagipula, Senna terkadang juga tidur dirumah sakit bersama Rukia walaupun dia habis bekerja dan pastinya capek sekali.

Lusa kemarin, Kaien sudah resmi terbang ke Australia. Dan diantar oleh Senna. Rukia tak bisa mengantarnya tapi mengucapkan selamat tinggal via telepon. Itu juga sudah cukup. Katanya Ichigo akan membawa kejutan padanya. Jadi Rukia menunggu didalam kamar rumah sakitnya sampai Ichigo datang menjemputnya.

Tak lama kemudian, pintunya diketuk. Rukia berlari penuh semangat menyambut tamunya.

" Ichigo!" seru Rukia gembira.

" Hai… semua sudah bereskan? Kau lapar tidak?" tanya Ichigo.

" Tentu saja… kau mau mengajakku makan?"

" Ya… dan oh ya, ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu. Seharusnya sudah lama sih, tapi karena berbagai hal, baru sekarang bisa aku kenalkan…"

Rukia terdiam. Siapa sebenarnya yang ingin dikenalkan Ichigo?

vVv


" Ayah harus menemuinya. Bukankah Ayah selalu menanyakan siapa pacarku? Aku akan mengenalkannya pada Ayah… hari ini kami akan makan siang bersama. Ayah pasti ikut kan?" pintu Ichigo melalui telepon.

Kurosaki Isshin tersenyum mendengar rengekan anaknya itu. Memang Isshin agak khawatir karena anaknya hanya mengurusi pekerjaan saja. Dan tentang skandalnya itu tambah membuat Isshin jadi semakin khawatir. Istrinya, Masaki, di Jepang pun menanyakan tentang kebenaran hal itu. Dan akibatnya Ichigo harus menjelaskan berkali-kali pada ibunya agar mengerti.

" Baiklah… tapi, apa gadis itu tidak keberatan Ayah menemuinya? Nanti dia canggung… kau ini harusnya memperkenalkan kami dengan formal. Tentunya Ibumu juga ingin tahu kan seperti apa gadis yang kau sukai…" ujar Isshin.

" Nanti aku akan menjelaskannya pada Ibu meski berkali-kali… tenang saja. dia pasti tidak keberatan. Lagipula, dia itu gadis yang baik. Ayah tinggal menemuinya saja. Nanti aku akan membawanya menemui Ayah…"

" Terserah kau saja…"

" Baiklah… aku tunggu direstoran biasa ya…"

Teleponpun ditutup. Isshin sama sekali tidak melarang anaknya mau bergaul dengan siapa saja. ditambah lagi profesi anaknya yang mengharuskannya berbaur dengan banyak orang dan tampil dimana saja. Tentu saja, Isshin harus menyeimbangkan profesi anaknya. Dan selama gadis pilihan anaknya itu baik dan tidak merepotkan, tentu saja Isshin akan menyukainya. Karena menurutnya, anaknya itu tipe yang susah langsung jatuh cinta. Jadi kemungkinan siapa yang dipilih anaknya pastilah gadis baik-baik.

Isshin sampai restoran yang dimaksud anaknya. Isshin penasaran seperti apa gadis yang akan ditemuinya.

Tidak butuh waktu lama. 10 menit kemudian, Isshin melihat dari kaca jendela restoran itu, sebuah mobil sedan putih baru datang. Isshin yakin itu anaknya. Apalagi, setelah sampai, anaknya langsung keluar dari mobil, memutar dengan cepat dan membukakan pintu penumpang. Ooo… pastilah gadis yang ingin diperkenalkannya bukan? Sekilas, Isshin merasa gadis itu tidaklah asing baginya. Seperti pernah bertemu entah dimana. Semakin, mendekat kerestoran, bayangan gadis itu semakin jelas. Semakin mengingatkannya dengan seseorang.

Ichigo melambai kearah ayahnya. Sedangkan Isshin makin penasaran dengan gadis yang dibawanya itu.

Ketika mereka akhirnya bertemu, Ichigo dengan senyum sumringah mendatangi tempat ayahnya sambil menggenggam tangan gadis itu. Gadis itu masih menunduk. Dan ketika Ichigo mengenalkan ayahnya, akhirnya pandangan gadis itu dan Isshin bertemu.

" Anda?" Rukia tak tahu harus bicara apa. Matanya membelalak kaget dan tubuhnya kembali bergetar. Dia memang baru saja sembuh dari sakitnya. Tapi… kali ini…

" Ichigo… apa… apa orang ini… adalah Ayahmu?" kata Rukia menahan nafasnya yang tercekat. Seakan dia kehilangan suaranya.

" Tentu saja. Dia Ayahku. Dan Ayah… dia adalah gadis yang aku sukai…" kata Ichigo sumringah.

Batin, Isshin terasa begitu terpukul. Sama seperti Rukia. Rukia ingin marah saking kesalnya. Dia tidak tahu jika harus seperti ini. Benar-benar tidak tahu.

Rukia menundukkan kepalanya sedikit memohon pamit dan langsung pergi tanpa memperdulikan panggilan Ichigo.

Sedangkan Isshin masih terpaku di restoran itu.

vVv


" Hei! Tunggu! Sebenarnya ada apa ini! Tunggu dulu!" bentak Ichigo setelah berhasil meraih lengan gadis itu. Ichigo tidak mengerti mengapa Rukia langsung pergi begitu dari ayahnya. Ditambah lagi, Rukia menangis dan tubuhnya lagi-lagi bergetar dan dingin sekali. Seakan baru saja mendapat sesuatu.

Ichigo menarik lengan Rukia kemudian membalik tubuh gadis itu agar menghadap padanya. Ichigo terdiam. Gadis itu menangis.

" Ada apa sebenarnya? Kenapa kau… menangis? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" lirih Ichigo.

Hati Rukia terasa perih. Seakan ada ribuan mata pisau yang menghantam jantungnya dan mengoyaknya hingga tercabik. Kesalahan? Satu-satunya kesalahan disini adalah, Rukia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan orang yang sudah menghancurkan keluarga dan hidupnya. Satu-satunya masa lalu yang ingin dilupakannya.

" Kau… sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun…" ujar Rukia menahan tangis dan emosinya. Berusaha mengendalikan amarahnya sendiri.

" Lalu kenapa kau menangis? Kenapa kau begitu kaget bertemu dengan Ayahku?" tanya Ichigo lagi.

" Karena Ayahmulah! Satu-satunya orang yang membuatku kehilangan keluargaku 9 tahun yang lalu!" bentak Rukia. Ichigo tiba-tiba melepaskan tangannya. Matanya membelalak kaget. Sama dengan Rukia. Rukia menutup mulutnya karena tanpa sadar emosinya kembali meledak.

" Apa… apa maksudmu? 9 tahun?" ujar Ichigo.

Rukia memilih berlari dan segera mencari taksi lalu meninggalkan Ichigo yang masih terbengong dan linglung.

Didalam taksi, Rukia menangis sejadinya. Dia tak menyangka bahwa satu-satunya yang kembali menghubungkannya dengan masa lalunya adalah orang yang dia cintainya.

Masa lalu yang seharusnya terlupakan dan terkubur. Dan kali ini masa lalu itu kembali menghantuinya. Menghantamnya dengan keras.

Ponsel Rukia berbunyi hampir ratusan kali. Tapi gadis itu mengabaikannya saja. sekarang ini. Rukia berusaha menyadarkan perasaannya kembali. Bahwa kali ini dia benar-benar menyukai orang yang salah.

Apa yang harusnya dia lakukan kali ini? Menyesali nasib? Karena hidupnya begini menyedihkan? Ataukah menyesali takdir? Karena akhirnya dia harus menyukai seseorang yang seharusnya tidak dia sukai?

vVv


Ichigo mengendalikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Nyaris 120km/jam. Berkali-kali dia menghentakkan tangannya diatas stir mobil itu. Entah apa yang sebenarnya saat ini berkecamuk dalam pikirannya. Dia sama sekali tidak tahu.

" Jika seandainya, seandainya… jika kau memendam sebuah dendam yang sangat besar, dan kau tidak bisa memaafkan orang yang sudah menghancurkan hidupmu… apa yang akan kau lakukan? Akankah kau memaafkan orang itu?"

" Kejadiannya sudah 9 tahun yang lalu… lagipula… tidak perlu diingat…"

" Karena Ayahmulah! Satu-satunya orang yang membuatku kehilangan keluargaku 9 tahun yang lalu!"

Ternyata alasan mengapa dia membenci masa lalunya dan setiap kali mengingat masa lalu itu Rukia selalu menangis. Itulah sebabnya. Itulah yang terjadi sebenarnya. Akhirnya, Rukia kembali mengendarainya mobilnya dan menuju apartemen ayahnya. Tentu saja meminta penjelasan yang pasti.

" Ichigo… seandainya… jika seandainya Ayah pernah melakukan hal besar yang begitu jahat, yang tidak bisa dimaafkan… akankah kau memaafkan Ayahmu dan tetap memanggilku Ayah seperti sekarang?"

Ichigo ingat ayahnya pernah menceritakan alasan ayahnya datang kemari. Tentang mencari anak gadis teman lamanya. Dan gadis itu kehilangan semua anggota keluarganya. Tapi ayahnya sudah bilang itu bukan salahnya. Kenapa?

Namun, jika dihubungankan, memang semuanya tampak cocok dan sesuai.

Ternyata gadis itu…

vVv


Isshin menghempaskan dirinya disofa apartemennya. Tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu lagi. Tidak menyangka malah anaknya jatuh cinta pada gadis itu. Sebentar lagi, pasti Ichigo menuntut penjelasan. Sepertinya kali ini Isshin sama sekali tak bisa mengelak.

Dan instingnya memang benar. Anaknya datang menemuinya. Matanya menatap dingin ayahnya dan seakan ingin menghantamkan sesuatu keayahnya sendiri.

Isshin sama sekali tak pernah melihat sosok anaknya yang seperti ini. Marah, sedih, kecewa, kesal, benci semuanya jadi satu. Dan itu.. karena kesalahannya.

" Sekarang ayah harus menjelaskannya padaku… apa yang sebenarnya terjadi…" ujar Ichigo. Dingin dan menusuk.

" Maafkan Ayah… sama sekali bukan maksud Ayah membuatmu seperti ini…" Isshin berdiri dari sofa itu, menatap anaknya dan bersandar diberanda apartemennya. Ichigo melihat ayahnya dengan tatapan penuh amarah.

" Kejadiannya memang 9 tahun yang lalu…" Isshin memulai cerita.

" Saat itu, Ayah masih menjadi seorang mafia. Dan kau juga Ibumu sama sekali tidak tahu tentang masa lalu Ayah yang ini. Saat itu, ada teman baik Ayah yang ternyata mata-mata dari CIA sedang mengawasi tindak tanduk Ayah. Ayah sudah mengirimkan ancaman untuk berhenti mengawasi Ayah. Dan akhirnya, Ayah menyuruh orang untuk membunuh anak mereka. Anak perempuan mereka yang baru lahir… saat itu Ayah sama sekali tidak merasakan apapun. Bagaimana perasaan teman Ayah saat itu. Tidak tahu…" Isshin mengambil jeda sesaat sebelum meneruskan ceritanya.

" Akhirnya, teman Ayah berhenti menyelidiki Ayah. Tapi… ternyata teman Ayah itu rupanya masih menyelediki Ayah. Ayah kembali mengirim ancaman yang kedua. Bahwa Ayah akan membunuh semua keluarganya kalau masih menyelidiki Ayah. Rupanya, peringatan Ayah sama sekali tidak digubrisnya. Jadi… 9 tahun lalu, tengah lama, Ayah mengirimkan orang-orang Ayah untuk membantai semua keluarga teman Ayah. Teman Ayah sama sekali tidak tahu tentang hal itu. tapi Ayah pikir teman Ayah pastilah berbohong,"

" Ayah membunuh semua keluarganya saat itu. Istrinya kabur membawa anak gadisnya. Tapi orang-orang Ayah menemukan istrinya dan langsung membunuhnya ditempat. Distasiun kereta. Anak gadisnya, sudah melarikan diri entah kemana. Beberapa tahun kemudian, Ayah akhirnya tahu, ternyata, bukan teman Ayah yang menyelidiki Ayah. Saat itu Ayah sangat menyesal. Rupanya teman Ayah tidak berbohong sama sekali…"

Isshin tampak menyesali semua yang terjadi.

" Akhirnya, Ayah berhenti menjadi mafia dan bekerja dengan wajar dan semestinya. Ayah sudah meninggalkan masa lalu Ayah. Dan itu semua demi dirimu. Karena akhirnya kau jadi seorang bintang terkenal, Ayah harus menjaga nama baikmu. Ayah berhenti menjadi mafia juga demi dirimu. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun tepat tahun ini, Ayah pergi menemui makam teman Ayah dan keluarganya. Saat itulah, Ayah bertemu dengan gadis itu. Satu-satunya yang selamat dari pembantaian yang Ayah lakukan…"

" Gadis itu awalnya kaget dan marah begitu tahu siapa Ayah. Gadis itu sama sekali tidak mau memaafkan Ayah. Ayah mengerti perasaannya kala itu. Ayah mengerti mengapa dia tidak mau memaafkan Ayah. Dan gadis itu juga tidak ingin berhubungan dengan semua tentang Ayah… gadis itu pernah bilang bahwa dia sama sekali tidak mau memaafkan Ayah. Gadis itu pernah menyimpan dendam dengan Ayah. Tapi, sama sekali tidak berniat melaksanakannya. Gadis itu memang persis seperti Ayahnya. Baik. Makanya, gadis itu hanya tidak bisa memaafkan Ayah,"

Ichigo menahan emosinya. Dan nyaris menangis pula. Melihat ayahnya yang sekarang, justru Ichigo sama bencinya dengan kebencian yang dialami Rukia. Sama seperti itu.

Melihat ayahnya yang ternyata membuat gadis itu begitu benci malam, begitu takut pada malam, dan masa lalunya, ternyata adalah karena ayahnya. Ayahnya yang membuat gadis itu kehilangan semua keluarganya. Saat itulah Ichigo merasa begitu membenci ayahnya.

" Maafkan ayah Ichigo. Ayah sama sekali tidak bermaksud membuatmu ikut dalam masalah ini. Ayah sama sekali tidak ingin melukaimu…"

" Siapa yang terluka disini ayah? Kalau Ayah tahu perbuatan Ayah itu sungguh rendah, kenapa Ayah melakukannya? Kenapa Ayah melakukan ini padanya? Tidakkah Ayah sadar betapa aku… Ayah membuatku harus kehilangan orang yang kucintai. Dan Ayah membuatnya membenci diriku sama seperti membenci Ayah!" Ichigo tak dapat lagi menahan emosinya. Jika seandainya orang yang melakukan kejahatan itu adalah orang lain, sudah lama, Ichigo melayangkan pukulan pada orang yang membuat Rukia begitu menderita. Dan sayangnya. Orang yang melakukan hal itu adalah ayahnya sendiri.

vVv


Seharusnya Rukia sudah mengubur keinginannya yang terdalam. Sejak awal, dia memang tak bisa memilih Ichigo. Sama sekali tidak bisa. Setelah sampai dirumahnya, Rukia segera masuk kekamarnya dan mengunci pintunya. Batinnya terasa sakit. Sakit sekali. Tak menyangka takdir membelitnya begini rumit. Seharusnya dia tahu. Seharusnya, tidak perlu menyukainya seperti ini. Tidak bisa.

Rukia pikir, penderitaannya cukup sampai dimana dia kehilangan keluarganya saja. kini, ditambah lagi, dia harus menyukai orang yang tak boleh disukainya. Kepalanya bisa pecah.

Bahkan setelah hari itupun, Ichigo sama sekali tak pernah menghubungi dirinya. Rukia berkali-kali melihat ponselnya. Ingin menyelesaikannya tapi dirinya terlalu takut menghadapi kenyataan. Karena itu, kebanyakan dia tidak mengaktifkan teleponnya. Paling tidak. hanya itu yang bisa dilakukannya.

Melupakan. Yah. Sejak awal, dirinya dan Ichigo sama sekali tidak berjodoh.

" Kita harus bicara…" ujar Senna sambil menarik Rukia keluar dari kamarnya.

Rukia menepisnya. Selama 3 hari ini, Rukia menghindari semuanya. Senna juga Ichigo. Dia menghindari semuanya. Setelah pulang kuliah, langsung mengunci pintu kamarnya sampai malam. Dan terkadang Senna tak sempat bicara dengan sepupunya itu.

" Kalau tentang Kurosaki Ichigo… aku sama sekali tak tertarik…" sahut Rukia dingin.

" Ya kau benar! Ini ada hubungannya dengan Ichigo! Katakan padaku. Kenapa kau menghindarinya? Bukankah hubungan kalian harusnya sudah membaik? Lalu sekarang apalagi ini? Kau mematikan ponselmu… jelaskan padaku… sekarang…!" pinta Senna. Sekarang akibat tarikan dari Senna, mereka sudah ada diruangan tengah. Rukia menatap lekat mata sepupunya itu. Ingin sekali dia berteriak kencang. Tapi tak bisa.

" Hei… ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" suara Yoruichi terdengar dari arah kamar utama. Memang selama ini, baik Rukia dan Senna selalu memiliki hubungan yang baik. Tak pernah terdengar mereka bertengkar sekalipun. Makanya Yoruichi agak aneh dengan hubungan mereka akhir-akhir ini.

" Katakan padaku! Kau tidak boleh begini egois Rukia! Kenapa mempermainkan perasaan orang lain! Kalau ada masalah selesaikan baik-baik. Jangan menghindar seperti ini. Kau tahu bagaimana perasaan Ichigo! Aku gak menyangka begini jahatnya dirimu!" bentak Senna. Jujur, Senna sekarang ini sangat marah pada sepupunya itu. Sangat marah karena sikap kekanakannya itu.

" Aku jahat? Haaaaaa! Ya benar. Aku jahat… kau puas dengan itu?" ujar Rukia. Dia hanya bisa berkomentar seperti itu. Tak tahu harus mengatakan apa.

" Jadi kau bahagia menjadi orang jahat? Seharusnya aku tidak membiarkanmu bersama Ichigo kalau kau hanya menyakitinya seperti ini… aku baru tahu kalau kau memang wanita rendahan!" Senna menatap sinis sepupunya.

" Hei… ada apa ini… kenapa kalian bertengkar seperti ini… ada apa sebenarnya?" Yoruichi tidak tahan untuk tidak ikut campur.

Rukia maklum saja Senna begitu marah padanya. Senna tak tahu kondisi sebenarnya. Sama sekali tidak tahu. Karena itu Rukia hanya menunduk dan membalik badannya bersiap untuk masuk kedalam kekamarnya.

" Rukia! Kita belum selesai! Setelah jadi orang jahat dan egois kau mau mengabaikan aku juga! Kau mau menjadi jahat denganku!" teriak Senna. Senna berusaha menarik lengan Rukia. Senna terkejut. Yang awalnya Rukia masih bersikap dingin dan judes, sekarang gadis itu menangis dengan derasnya.

" Apa yang kau tahu? Kau tak tahu apa-apa… apa yang kau tahu tentang perasaanku? Aku juga tak mau seperti ini! Siapa yang mau jadi aku? Siapa yang mau menjadi jahat pada orang yang kita cintai?" lirih Rukia sambil menahan tangisnya supaya jangan terlalu meledak. Sekarang Senna yang ikutan bingung.

" Lalu ada apa? Kalau kau memang tidak ingin menjadi jahat kenapa kau seperti ini?" sekarang Senna berusaha melembut.

" Pernahkah kau terpikir takdir begitu kejam? Mencintai seseorang yang tidak boleh kita cintai? Tahukah kau perasaannya seperti apa?"

Senna terdiam.

" Karena mencintainya aku merasa takdirku begini sulit. Karena mencintainya juga menyakiti hatiku sendiri. Karena mencintainya aku tak tahu harus bagaimana… karena aku… karena aku sudah mencintai anak dari pembunuh keluargaku sendiri!"

" Apa maksudmu? Pembunuh… pembunuh apa?" Senna bingung.

" Kau tak akan pernah tahu bagaimana perasaanku saat ini! Jadi… apakah aku salah menghindarinya? Apakah aku salah untuk tidak ingin menemuinya lagi? Hanya dengan melihat wajahnya saja aku bisa merasakan kembali ketakutan 9 tahun yang lalu. Dan aku tak bisa melupakan wajah pembunuh keluargaku… seandainya jika itu terjadi padamu… apa yang akan kau lakukan?"

Baik Rukia maupun Senna sama-sama terdiam. Sekarang Senna tidak mengerti tentang hal itu. karenanya Rukia masuk kedalam kamarnya dan menguncinya.

Sekarang semuanya sudah dia tumpahkan. Bahwa begini sulitnya merasakan cinta yang terlarang. Seandainya dia bisa mengubah takdir, dia akan berusaha melenyapkan kenangan penuh arti yang pernah didapatkan dari cahaya. Seandainya dia bisa memiliki mesin waktu, dia akan mengubah perasaannya pada Ichigo. Seandainya bisa untuk mengubahnya. Tapi apa manusia biasa seperti Rukia bisa mengubah takdir dan kenyataan?

vVv


yaudah seginilah...

sekarang paling bentar lagi the end dehh...

ada yang suka sad ending ato hepi? saya bisa buat keduanyaaa...hahahahah

bales review lahhh~~~~

Yamakaze Shizuka : haduh... kemaren ada ketemu Yumichika tuh... jadinya nular deh ngomong gini jeng... hehehehe makasih udah review... ditunggu selanjutnya... hahaha

Rukianonymous : eike gak tega sih nyindirnya... tapi itu tuntutan peran... hahahahaah iya maklum agak galau jadi salah ketik dehh... makasih banyak udah review... heheheh ditunggu jeng reviewnya lagi heheheheh

mautauaja : eike juga gak rela jeng mereka bertengkar... tapi namanya tuntutan cerita deh... kita doakan yg terbaik deh *?* makasih selalu review... review lagi yaaa

Rukiberry si Silent Reader : gpp kok jeng... heheheheh... makasih udah revview.. entar review lagi yaaa... nih mereka udah ribut tuh... hahahahah

delalice : sebenernya sih saya mau ngelupain emosi Rukia... tapi kayaknya jadi salah paham gitu yaaa? hehehe makasih udah review... review lagi yaaa...

mieya chappyberry : greget banget toh? eike aja sampe nangis gaje... *authorsarap* makasih udah review... nih udah update... review lagi yaaa...

udah segitu deh...

hehehehehe...

eike mau bikin cerita baru... jadi kayaknya eike bakal lama update... tapi tenang aja kok... nih cerita udah bakal selesai... tinggal beberapa chap lagi... 3 gak nyampe deh... eike bakal terharu banget kalo ada yang menantikannya... hiks *nangisbombay* *dilemparibom*

kalo gitu jaa nee minna...

Sincelery...

Kin.