Maaf telat...
gak papa deh...hahahaha
nih chap selanjutnya sebelum diambang batas.
maaf kalo ada yang salah. lagi-lagi saya buru-buru *alasanterus*
ok deh... hepi reading minna.
DISCLAIMER : TITE KUBO
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, GAJE.
vVv
" Kemarin, Ibuku sudah menceritakan semuanya. Tentang keluarga Rukia. Tapi Ibu tidak tahu, kalau Rukia sudah tahu siapa yang melakukan hal itu pada keluarganya. Sampai, aku juga terkejut kalau kau… anak dari orang itu… aku tidak tahu…" jelas Senna setelah bercerita panjang lebar dengan Ichigo.
Saat ini, mereka berdua sedang duduk disebuah kafe yang lumayan sepi sambil menyesap kopi hangat. Kyouraku juga ikut. Walaupun sebenarnya, Ichigo sudah tahu mengapa Rukia menghindarinya selama ini.
Senna bermaksud menjelaskan semuanya pada Ichigo soal sepupunya itu. Senna juga terkejut karena akhirnya Ichigo tahu semuanya.
" Jadi maksudmu… Ayahnya Ichigo, punya andil dalam masalah ini? Lebih tepatnya, orang yang melakukan hal itu pada Rukia…" tanya Kyouraku sekali lagi. Maklum saja, Kyouraku sama sekali tak paham dari cerita Senna.
Senna mengangguk paham. Ichigo mendesah berat. Mungkin dia juga menyesali mengapa seperti ini.
" Kalau seperti itu, bukannya kalian harus menyelesaikan semuanya? Inikan masalah yang cukup besar. Harusnya kau menjelaskan pada Rukia bukan…?" pinta Kyouraku.
" Apa yang sebaiknya aku jelaskan kakak? Menjelaskan bahwa aku memang orang brengsek? Aku sudah cukup membuatnya menderita… apalagi yang bisa kulakukan? Sudah lebih baik dia menghindariku. Kalau sampai dia bunuh diri bagaimana? Aku memang hanya membawa masalah untuknya… jika kami bertemupun, itu hanya akan menghancurkan harapannya saja," ujar Ichigo panjang lebar.
" Jadi… kau mau disamakan dengan pembunuh? Jadi kau ingin Rukia membencimu sama seperti dia membenci Ayahmu…?" Senna mendelik sinis pada Ichigo.
" Jika itu membuatnya lebih baik, aku bersedia menjadi seperti itu. Sudah sewajarnya dia membenciku…" Ichigo sudah pasrah.
" Hei Ichigo. Itukan Ayahmu. Kau mau dianggap pembunuh walaupun kau tidak membunuh? Kalau kau mau dianggap pembunuh, paling tidak kau harus membunuh sesuatu…" celetuk Kyouraku.
" Aku sudah membunuh perasaannya," gumam Ichigo.
" Baiklah… kurasa kau memang sama bodohnya seperti sepupuku. Kau tahu… setiap hari dia mengurung diri didalam kamarnya. Menolak bicara dengan siapapun. Mirip mayat hidup. Kau pikir kenapa dia seperti itu?" tanya Senna.
Ichigo menggeleng.
" Karena kau sama sekali tidak berusaha menemui atau bicara padanya. Kalau kalian ingin seperti ini, paling tidak kalian harus memulainya dengan baik. Dia pasti juga ingin menemuimu kan? Harus ada salah satu dari kalian yang berhenti menjadi orang bodoh. Kalau kau memang menyukainya, kau pasti akan melakukan sesuatu untuknya. Kau mau dia kehilangan satu orang yang dia cintai?" pertanyaan Senna telak mengenai Ichigo. Sadarlah Ichigo. Seharusnya kau memang melakukan sesuatu.
" Senna benar. Aku sudah katakan padamu. Penyesalan itu selalu datang terlambat. Kenapa juga kau harus menerima takdir seperti ini? Jika saat itu Ayahmu melakukan hal itu padanya, apa kau juga akan melakukan hal yang sama pada Rukia? Jika Ayahmu membunuh keluarganya, apa kau juga mau membunuh Rukia? Takdir memang tidak bisa diubah, takdirmu memang menjadi anak orang yang sudah menghancurkan hidup Rukia. Nasib bisa diubah. Nasibmu bersama Rukia bisa kau ubah. Kau masih bisa memilih dari yang mustahil menjadi yang mungkin. Itu kalau kau memang masih memiliki perasaan. Senna sudah membantumu sejauh ini. Kalau kau mau berkorban sesuatu untuk Rukia. Paling tidak berkorbanlah untuk membuatnya bahagia. Bukan begitu?"
vVv
Hari ini kepalanya sedang tidak sinkron dengan otaknya. Sepertinya ada yang salah. Kalau dipikirnya. Kenapa hidupnya begini rumit?
Lupakanlah Rukia.
Anggap saja beberapa waktu lalu adalah mimpi indahmu. Dan sekarang kau harus kembali kedalam hidup nyatamu.
Rukia tahu, tak seharusnya dia membenci Ichigo. Dan tunggu dulu. Setelah mengetahui kenyataan itupun, Rukia sama sekali tak bisa membenci Ichigo. bahkan perasaannya semakin bertambah jadi. Bahkan Rukia mengaku, dia masih menyukai aktor itu. Dia tidak membencinya. Hanya saja. Hanya saja karena mengingat kenyataan itulah yang membuatnya berhenti berharap.
Jika dia tahu takdir akan begini, sudah lama Rukia menolak perasaan ini. Tapi semakin ditolak, semakin bertambah. Bagaimana lagi jadinya?
Setelah kuliah usai, Rukia segera pergi dari kampusnya. Seharusnya dia mencari suasana barukan? Yah. Betul itu. Suasana baru.
Dan baru saja, keluar dari gerbangnya, Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Bagaimana tidak? didepan gerbangnya banyak sekali mahasiswi yang berkumpul. Seakan sedang menyaksikan sesuatu. Dan itu yang membuat Rukia penasaran.
Ternyata sebuah mobil sedan semi sport berwarna putih sedang terparkir disana. Dan juga pemiliknya. Rukia mengenal mobil itu. Dari jarak yang jauh saja, Rukia sudah mengenalinya. Tubuhnya terpaku. Dia masih belum berani mengambil keputusan itu. apakah itu benar. Apakah ini bukan mimpi?
Saat pandangan mereka bertemu, pemilik mobil itu menatapnya dan langsung menggerakkan mobil itu mendekat ketempat Rukia.
Tubuh Rukia semakin bergetar. Mobil sedan putih itu kini berhenti tepat disampingnya.
Ichigo keluar dari mobil itu dan melepas kacamata hitamnya. Kontan saja mereka jadi sorotan mahasiswi disana. Banyak teriakan aneh yang terdengar.
" Aku mau bicara padamu…" ujar Ichigo singkat.
" Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi…" ucap Rukia balik.
" Jangan hindari aku untuk kali ini…" balas Ichigo.
" Aku tidak menghindarimu. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan…"
" Kalau aku ada. Sebaiknya kau segera masuk kesana…" Ichigo mendorong Rukia masuk kedalam mobilnya. Rukia meronta kesal. Dan sontak menjadi sorotan mahasiswi disana. Setelah memastikan Rukia didalam mobil itu, Ichigo menjalankan mobilnya menjauh dari kampus itu. bahkan didalam mobilpun, Rukia tak mengatakan apapun. Sama seperti Ichigo. Mereka bungkam.
vVv
Mereka sampai disebuah pantai yang sepi. Cukup sepi. Hanya ada satu atau dua orang. Ichigo memarkirkan mobilnya dipinggir pantai itu. Setelah menghentikan mobilnya, mereka kembali diam. Hingga akhirnya, Rukia melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil itu. menuju pantai dan mencoba menghirup angin sebanyaknya. Mencoba menenangkan diri.
Ichigo menyusul Rukia. Ichigo tahu gadis itu sedang memerlukan waktu. Karena itu Ichigo hanya berdiri dibelakangnya saja dengan jarak yang lumayan. Memperhatikan punggung gadis itu. gadis yang sekarang ini tak bisa dilepaskannya begitu saja.
" Bukannya aku menghindarimu atau apa…" suara Rukia memecahkan keheningan yang sedari tadi mencengkeram erat hatinya.
" Tapi aku hanya berpikir… mungkin memang salahku pernah mengenalmu. Mungkin salahku yang memiliki masa lalu yang menyedihkan. Mungkin juga salahku mengapa harus ayahmu yang akhirnya menjadi masa laluku—"
" Bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu…" Ichigo memotong kalimat Rukia yang belum usai itu. Lalu Ichigo berjalan perlahan agar bisa sejajar dengan gadis itu.
" Ini murni kesalahan takdir. Jika Ayahku bukan mafia, dan jika Ayahmu bukan seorang mata-mata, ini tidak akan terjadi. Ayahku, Ayahmu… mungkin sama sekali tak pernah menginginkan akhir yang seperti ini bukan?" Ichigo memandang penuh harap pada Rukia. Berharap gadis itu menoleh dan memandangnya.
" Apa kau mau berakhir seperti ini? Kau mau kita seperti ini selamanya? Jawab aku… apa kau… apa kau selama ini… memandangku sama seperti kau memandang Ayahku yang sudah membuat hidupmu hancur? Katakan…" Ichigo mencengkeram bahu Rukia agar gadis itu memandangnya sekarang. Namun, gadis itu tidak memandangnya melainkan menunduk dalam diam. Ichigo hampir putus asa. Nyaris menyerah.
Akhirnya Ichigo melepaskan cengkeramannya dan mendesah berat. Diam lagi.
" Tidak… aku tidak pernah memandangmu seperti itu… sama sekali tidak…" lirih Rukia. Namun, dia masih tak sanggup memandang Ichigo.
" Hanya saja. Ketika mengingat Ayahmu, kenangan buruk itu muncul lagi… mimpi buruk yang sebelumnya terkubur kembali terkuak. Aku hanya ingin menghapus kenangan itu. dengar, aku sama sekali tidak memandangmu sama seperti aku memandang Ayahmu. Tapi entah kenapa bayangan itu muncul begitu saja…"
" Artinya… kau melihatku seakan kau melihat masa lalumu?" Ichigo mengepalkan dengan erat tangannya disisinya. Jujur saja, bukan ini yang dia inginkan. Tidak. Membuat gadis yang paling berarti untuknya melihat kembali masa kelamnya.
Rukia tak bisa berkata apapun lagi. Memang benar itulah yang dia rasakan. Tapi menyakiti orang yang paling tidak ingin disakitinya terlalu menyesakkan nafasnya sendiri.
" Yang terbaik untuk kita saat ini adalah mencoba berpisah… kita harus berpisah seperti awal kita tak saling mengenal satu sama lain…" ujar Rukia. Ichigo membelalakan matanya seolah tak percaya apa yang baru saja dia dengar. Apa dia salah dengar?
" Apa! Tidak. Aku tidak mau. Apapun akan aku lakukan… tapi jangan berpisah!" bantah Ichigo.
" Tidak ada jalan lain. Mulai sekarang. Kau hanya perlu berpura-pura tidak mengenalku. Jika kita bertemu anggap saja kita tak saling mengenal. Yang perlu kau lakukan hanya jangan melihatku. Jangan melihatku apapun yang terjadi…"
" Bagaimana mungkin aku tidak melihatmu! Aku melihatmu dengan jelas! Kau berdiri didepanku! Aku melihatmu… kenapa kau bisa begitu santai mengatakan hal itu!"
" Lalu kau mau aku bagaimana? Kau mau aku menganggap hal itu tak pernah terjadi? Atau kau mau aku melupakan pembunuh keluargaku adalah Ayahmu? Jadi… aku harus bagaimana Ichigo…"
Rukia sudah lelah. Lelah sekali berdebat akan masalah yang tak ada ujung pangkalnya ini. Masalah yang setiap kali muncul. Seakan tak ada ruang untuknya mencintai dengan damai seseorang yang sangat disukainya.
Sama dengan Ichigo. Haruskah dia membuat Rukia sedemikiannya menderita?
" Pura-pura saja tak mengenalku. Jangan melihatku. Karena kisah kita memang tak pernah ada. Semua adalah mimpi yang terlalu sulit dan terlalu indah untuk jadi kenyataan. Beberapa bulan ini. Aku sangat bahagia. Terima kasih sudah memberikanku mimpi yang indah Ichigo. Kau pasti akan menjadi mimpi yang sangat indah yang tak akan kulupakan…"
" Apakah… apakah selama ini… kau hanya melihatku seperti mimpi?" tanya Ichigo. Rukia mengangguk dengan mantap.
" Ya… bertemu denganmu adalah satu-satunya mimpi yang sangat indah. Dan tak pernah terlintas didalam benakku, aku akan menyukai seorang bintang terkenal sepertimu… Ichigo. Aku menyukaimu…"
Seakan itu adalah kata perpisahan Rukia menatap Ichigo. Rukia sudah memutuskan akan mengakhiri segala. Rukia berjalan perlahan meninggalkan Ichigo. Tangisnya sudah susah payah dia redam. Kalau dia menangis sekarang semua itu akan sia-sia.
Baru akan melangkah selanjutnya, rupanya Ichigo berlari mengejar gadis itu dan memeluknya dari belakang. Rukia berhenti melangkah. Ichigo memeluk pinggangnya dengan erat sambil menangis.
Apa?
Ichigo menangis?
Rukia bisa merasakan airmata Ichigo yang jatuh tumpah kelehernya itu. Rukia mengepalkan tangannya disisi tubuhnya. Bagaimana mungkin dia bisa membuat orang yang dia cintai melebihi nyawanya menangis begini?
Takdir memang begitu konyol.
" Ichigo?" panggil Rukia.
Ichigo tak membalas panggilan Rukia melainkan mengeratkan tangannya dipinggang Rukia.
" Jangan menangis lagi Ichigo. Semuanya akan baik-baik saja... Semua…"
Ichigo membalik tubuh Rukia. Menatapnya frustasi.
" Apa yang akan baik-baik saja Rukia? Kau mau kita berakhir lalu apa yang akan baik-baik saja dari hal itu? Apa kau tak mau merubahnya? Apa kau tak bisa meminta hal lain selain berpisah? Bukankah aku sudah bilang akan melakukan apa saja asal jangan berpisah!"
Rukia menatap lekat mata cokelat Ichigo.
Yah mata cokelat yang menenangkan itu. Sangat menenangkan. Seolah itu adalah sebuah mata yang Rukia perlukan untuk menenangkan batinnya yang berteriak saat ini. Berteriak menyalahkan takdir.
" Sekalipun kau bisa mematahkan takdir itu Ichigo… mimpi ini tak akan pernah jadi kenyataan…"
"Apa kau tak bisa berhenti mengatakan soal mimpi itu Rukia? Aku nyata untukmu dan kaupun nyata untukku. Apanya yang mimpi..."
" Kau yakin mau melakukan apa saja untukku?" ujar Rukia perlahan.
Ichigo mengangguk mantap. Seolah itu adalah oase segar yang dia dapatkan ketika Rukia mengatakan hal yang mungkin bisa membuat mereka tak jadi berpisah.
" Kalau begitu rubahlah kenyataan ini untukku. Rubahlah kenyataan kalau Ayahmu adalah pembunuh keluargaku. Apa kau bisa Ichigo? Kau bilang kita seperti ini karena kesalahan takdir? Lalu apa kau bisa merubah takdir itu untukku?"
Ichigo terdiam.
Perlahan Ichigo melepaskan tangannya dari pundak Rukia.
" Maaf Ichigo... aku masih belum bisa menerima kenyataan kita yang sekarang..."
vVv
Rukia masih mencintai Kurosaki Ichigo. Sungguh dia masih mencintai laki-laki itu walaupun takdir berkata lain.
Sesungguhnya...
Jika dia mau... Rukia bisa saja melupakan masalah itu dan menganggap semuanya tak pernah terjadi sama sekali.
Tapi...
Kalau dia lakukan itu... bagaimana dengan mendiang keluarganya?
Rukia masih menghargai mendiang keluarganya.
vVv
Hari ini setelah pulang dari kuliah, Rukia mampir ke tempat Senna. Untungnya hubungan mereka tak memburuk. Senna mengerti keadaan Rukia yang sekarang. Kalaupun Senna ada diposisi Rukia, belum tentu Senna akan menerima dengan lapang dada peristiwa yang dialami Rukia. Rukia termasuk cukup kuat dan tegar untuk seorang perempuan.
Dan bisa dipastikan... Senna sendiri tak akan yakin dengan kelanjutan hubungan 2 orang ini. Ichigo dan Rukia seperti dipisahkan oleh laut yang sangat luas. Yang tak mungkin diseberangi bagaimanapun caranya.
Rukia berjalan mengitari studio Senna. Luasnya memang membuat bingung orang lain. Untunglah Rukia hapal daerah distudio ini.
" Maaf, " tanpa sengaja Rukia menubruk seseorang.
" Oh, tidak apa-apa... Rukia-chan?"
Rukia terpengarah begitu menyadari seseorang yang mengenalinya.
" Kak Kyouraku?"
" Apa kabarmu? Kelihatannya kau sudah lebih baik. Apa kau kemari mencari Senna-chan?"
Rukia mengangguk singkat. Kyouraku agak diam. Menimbang sesuatu. Seperti sedang berpikir sendiri.
" Baiklah... sebenarnya aku tak boleh mengatakan hal ini. Sebenarnya pada Senna-chan pun tidak boleh. Apalagi padamu. Tapi jujur saja... aku rasa kau perlu tahu..."
vVv
Sambil menahan sesak didadanya Rukia berlari sekencangnya tanpa mempedulikan hari mulai hujan. Entah kenapa hari itu hujannya tak terkendali. Dan malangnya Rukia sampai basah kuyup.
" Semalam Ichigo kecelakaan. Tidak parah. Mungkin semalaman dia pergi tanpa tujuan dan akhirnya menabrak tiang listrik. Oh! Tuhan tenang saja Rukia. Dia baik-baik saja. Tidak ada yang patah. Hanya perban dikepalanya saja. Dan... kurasa yang sakit itu bukanlah luka yang dia alami... hatinya... kau pasti tahu kan?"
Rukia tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi pada Ichigo. Rukia tak pernah ingin Ichigo terluka. Bukan itu alasannya.
Kalau mereka bertahan, justru mereka berdua bisa terluka karena masa lalu.
Dan Rukia sama sekali tak pernah inginkan hal itu. Tak pernah sama sekali.
Rukia sampai didepan apartemen tempat Ichigo.
Kyouraku bilang, Ichigo sedang istirahat dikamarnya.
Rukia segera naik kelantai atas apartemen itu. Begitu pintu lift dibuka, Rukia tak memperhatikan tempat lain kecuali didepannya.
Rukia hanya ingin melihat keadaan Ichigo saja.
Akhirnya… setelah menarik nafas cukup berat, Rukia tiba didepan kamar apartemen Ichigo.
Pintunya sedikit terbuka.
Rukia masuk perlahan.
Memang tidak sopan masuk tanpa ijin. Tapi Rukia tak ingin membuat keributan.
Apalagi Rukia melihat apartemen Ichigo sepi sekali.
Diam-diam Rukia berkeliling mencoba mencari dimana kira-kira Ichigo. Rukia masih peduli pada pria ini.
Yah sangat peduli.
Nyawapun akan dikorbankan kalau sampai terjadi apapun dengan Ichigo.
Akhirnya Rukia menemukan sebuah pintu dibelakang apartemen itu. Lagi-lagi sedikit terbuka.
Ada!
Ichigo ada disana. Terbaring ditempat wajahnya ketika tidur saja masih seperti orang marah. Rukia tersenyum singkat. Dia masih baik-baik saja meski perban ada dikepalanya.
Rukia perlahan mendekatinya.
Ichigo tidur. Dia tahu Ichigo tidur. Rukia mencoba mengelus dahi Ichigo yang diperban itu. Tapi Rukia langsung menarik tangannya kembali. Mengepalnya dengan erat.
Ichigo baik baik saja. Pasti dia akan baik-baik saja.
vVv
Ichigo duduk dipinggir kasurnya. Semua lampu dia matikan meski hari beranjak malam. Kelihatannya managernya belum pulang.
Ichigo tahu Rukia datang. Ketika Ichigo akan keluar sebentar mencari makanan dari kamarnya, dia melihat gadis itu berlari panik dari arah pintu lift. Dan Ichigo yakin gadis itu mengarah kekamarnya.
Ichigo lalu kembali masuk kekamarnya dan membiarkan pintunya terbuka sedikit. Lalu kembali kekamarnya dan membuka pintunya juga sedikit. Lalu berpura-pura tidur.
Ichigo tahu Rukia khawatir padanya. Tapi kenapa Rukia tahu dia ada diapartemennya. Dan yang jelas, Rukia tahu dia mengalami luka.
Pasti managernya yang usil. Padahal Ichigo sudah memperingatinya untuk jangan ember.
Kini Ichigo tahu dengan jelas. Rukia memang belum bisa menerima takdir mereka yang sekarang.
Itu sudah memberikan cukup bukti. Bahwa mereka... belum bisa bersama sekarang.
vVv
" Kau yakin?"
Rukia mengangguk tanpa ekspresi. Entah mengapa setelah pertemuan diapartemen Ichigo lalu, Senna bilang Ichigo memutuskan untuk pulang ke Jepang. Bersama Ayahnya tentu. Senna sudah berusaha meminta sepupupnya itu mengantar Ichigo. Tapi jawabannya tetap sama. Tidak. tekadnya melupakan Ichigo akan sia-sia. Tak akan ada artinya dia menahan perasaannya selama ini.
" Baiklah. Aku mengerti. Itu sudah jadi keputusanmu. Aku sama sekali tidak akan memaksamu…" ujar Senna kembali. Dan kemudian Senna mengambil tas tangan dan kunci mobilnya. Mendengar decitan mobil Senna, Rukia kembali menangis. Seakan airmatanya tak pernah kering. Membuatnya serba salah tidak karuan.
" Rukia… boleh Ibu masuk?"
Yorucihi, masuk kedalam. Mendengar suara tantenya, Rukia langsung mengusap airmatanya. Mencoba tegar.
" Ada apa Bu?" tanya Rukia.
" Semuanya sudah Ibu dengar dari Senna. Tentang apa yang kau alami sekarang ini. Ibu mengerti perasaanmu. Bagaimana rasanya. Ibu sudah tahu…" jelas Yoruichi sambil berusaha menenangkan Rukia. Dan akhirnya Yoruichi duduk disamping Rukia dan mengelus rambutnya penuh sayang.
" Apa kau benar-benar… menyukai orang itu?" tanya Yoruichi. Rukia tak mau berbohong. Dia memang menyukainya. Dan tanpa ragu Rukia mengangguk.
" Kau tak ingin kehilangan orang itu?" sekali lagi Yoruichi bertanya.
Rukia mengangguk lagi dan kali ini tangisnya sudah pecah tak karuan.
" Apakah orang itu, sangat berarti? Lebih berarti dari hidupmu sendiri?"
Saat itulah Rukia menangis dan langsung memeluk tantenya.
" Kalau orang itu benar-benar sangat berharga, kenapa kau melepaskannya begitu saja? kenapa membiarkannya pergi?"
" Lalu aku harus bagaimana Bu? Ayahnya… sudah membuatku kehilangan keluargaku…"
" Apa dia itu Ayahnya? Apa dia juga membunuh keluargamu?" Rukia berhenti menangis dan menatap tantenya.
" Dengar Rukia. Orang itu. bukan Ayahnya. Bukan orang yang menghilangkan keluargamu. Orang yang kau sukai itu tidak mungkin berbuat seperti itu. bukankah orang itu dan Ayahnya adalah 2 orang yang berbeda. Masa karena egomu sendiri kau memvonisnya sama dengan Ayahnya? Kau boleh membenci Ayahnya. Kau boleh tidak memaafkan Ayahnya. Tapi masa kau melakukan hal yang sama pada orang yang sama sekali tidak bersalah? Bukankah orang itu sama sekali tak tahu apa-apa tentang masa lalumu? Ibu tahu orang itu juga menyukaimu sama seperti kau menyukainya. Mengapa harus menyulitkan takdir? Ini tidak ada hubungannya dengan masa lalumu. Semua ini adalah masa depanmu. Orang itu juga tak ingin kan mengalami hal seperti ini. Apakah maunya memiliki ayah yang seperti itu? tidak bukan?"
Rukia terdiam mendengar kata-kata tantenya. Tentu saja. Ichigo sama sekali tidak seperti itu. Lalu kenapa dirinya merasa seperti itu?
Sekarang dia menyesal. Sungguh menyesal. Tapi mau dikatakan apalagi? Semuanya sudah terlambat. Memang dirinya terlalu bodoh. Sangat bodoh.
Ketika itulah, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk kesana.
Aku tahu. Tak mudah melupakan masa lalumu. Apalagi, karena ayahku. Dan jujur Rukia. Aku memang tak bisa mengubah takdir itu untukmu. Tapi... sampai kapanpun. Aku berjanji akan menunggumu. Menunggumu sampai kapanpun kau siap dengan masa depanmu.
Rukia terisak. Pesan itu memang ditujukan untuknya. Karena itu tanpa pikir panjang, Rukia menelpon nomor itu tapi tak aktif lagi. Dirinya kembali frustasi.
Ketika frustasi seperti itulah, ponselnya kembali berdering. Kali ini telepon Senna.
" Pesawatnya baru saja berangkat. Dia memintaku untuk menyampaikannya padamu. Kalau kau sudah sembuh dari masa lalumu… dia ingin kau menunggunya…"
vVv
Kayaknya semakin gaje yah. haduh...
ok deh bales review duluh...
Yamakaze Shizuka : hualoooeee jugaa... heheheh makasih udah review. makasih udah terharu. makasih banyak. hahahaha... iya ya? soalnya saya pecinta drama korea. kalo udah nonton drama korea bisa gak beranjak 3 hari 3 malem *lebai* saya cinta banget drama korea... hehehehe ntar review lagi yaaa...
Haza Haruno : makasih udah review. hehehe... haduh... sad ending ya? kita liat aja yuk... heheheh review lagi yaaa
mautauaja : makasih udah review... hehehe sebenernya sih saya sukanya sad ending. lebih nusuk aja. huhuahahaha... ok deh entar ichiruki disuruh baikan dulu... review lagi yaaa
yuuna hihara : salam kenal juga. duh jangan ngebut-ngebut entar nabrak... hahahahaaha... makasih udah review... ok deh... nih update. review lagi yaaa...
mieya chappyberry : welcome back... heheheheeh makasih udah review. ok deh karena dipaksa maka saya akan membuatnya jadi sad ending... *loh?* gak ding kita liat aja nanti yaa... sesuai konsep awal saya memang ingin sad ending tapi liat dulu deh... hehehe review lagi yaaa
Rukianonymous : makasih udah review... waduh ada pemaksaan nih... hehehe ok deh... kita liat next chapnya bakal jadi hepi ato sad. hehehe review lagi yaaa
Wi3nter : salam kenal juga. makasih udah review. hehehehe ok deh kita liat next chap. review lagi yaaaa
delalice : makasih udah review. aduh dibilang udah bagus... *merona* hehehehe ok deh kita liat next chap deh... review lagi yaaa
Lily Hikari-chan : makasih udah review. nih udah update. review lagi yaaa
Teukvhie Rukihime : makasih udah review... kalo gitu review lagi yaaa... heheheheheeh nih udah update...
ok deh... makasih udah review.
mungkin nanti saya udah uplod cerita senpai tolong review lagi yaa nanti hehehehehe...-
