hay, ketemu lagi dengan xita-chan di chapter 3. gomen updatenya lama. banyak tugas ey..

Yuuki : wokeh,, saya sudah menyisipkan 1 orang sebagai pendamping saku. tapi bukan artinya saku pacaran dengannya, melainkan hanya bikin sasu kesal dan cemburu.. hehe arigatou reviewnya

Maya : Arigatou, atas sarannya. saya sudah mengikuti sarannya.. bagaimana?

vvvv : haha.. tenang saja saku ntar juga bahagia kok, tapi untuk permulaan saya aniaya dulu hatinya *digaplok Sakura FC*

WinterBlossom Concrit Team : Ehm.. begini, berhubung saya author baru disini, jadi saya belum begitu mengerti maksud kejutannya seperti apa? mungkin bisa di perjelas lagi agar kedepannya bisa lebih baik. Arigatou, reviewnya :)

Kau pasti tau siapa aku : iya iya, aku ganti namanya jadi xita-chan.. arigatou reviewnya :)

Sandara : gomen, updatenya rada telat.. tapi chapter ini lumayan panjang kok..

Kenshin : haha.. iya dia itu belum sadar makanya bantuin sasu karena ia sebagai sahabatnya.. tapi seiring berjalannya waktu akhirnya ia sadar.. ikutin terus deh alur cerita yang gaje ini arigatou, reviewnya :)

Xita-chan udah berusaha agar di chapter ini bisa lebih baik, jika ada kesamaan cerita.. mohon maaf, tapi suwer ini hasil pemikiran xita-chan sendiri.

Happy Reading

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuino / Sasusaku

Warning : OOC parah,gaje,abal-abal,gak nyambung, pokoknya DON'T LIKE DON'T READ.

"Terima kasih," ujarnya berbisik di telinga Ino membuat gadis itu blushing berat.

Dibalik pintu yang sedikit terbuka, seorang gadis Emerald tengah menatap mereka dengan perasaan yang… entahlah ia juga tidak mengerti.

*My Best Friend Is My Love*

By : Onyxita Haruno

Sakura POV

Apa ini? Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa… sedih? Untuk apa aku sedih? Bukankah sebagai sahabat aku harus mendukungnya? Tapi… kenapa perasaanku.. aarrgghhh! Aku ini kenapa sih. Tidak seharusnya aku memiliki perasaan aneh ini. Sasuke sahabatku. Sekarang ia sedang menembak seorang gadis. Dan seharusnya aku pun ikut senang. Ahh, sudahlah… mungkin ini hanya perasaanku saja.

Sebaiknya aku kembali ke kelas sebelum mereka melihatku.

Sakura end POV

Sakura segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju kelas. Tapi, perasaan yang aneh terus menjalar.

*MBFIML*

Sesampainya di kelas, Gadis emerald itu segara menduduki kursinya. Keadaan kelas sangat sepi dikarenakan semua murid berkumpul di kantin dan halaman sekolah. Tinggallah dia dan para kursi yang berjejer rapi.

Tiba-tiba seseorang masuk mengusik kesepian kelas.

"Sakura!" teriak seorang pemuda riang.

Sakura menoleh ke sumber suara.

"Sasuke" gumamnya

Sasuke langsung mengambil kursi tepat di depan Sakura.

"Kau tahu?" tanya Sasuke yang membuat Sakura bingung.

Sakura menggeleng sebagai jawaban bahwa ia tidak tahu plus tidak mengerti.

"Ino…." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Sakura menaikan sebelah alisnya.

"Dia menerimaku!" teriak Sasuke girang.

"Sungguh?" tanya Sakura yang pura-pura tidak tahu.

Sasuke mengangguk.

"Selamat deh kalau begitu. Dengan begini, para fansgirlmu yang gila itu tidak akan mengerubungimu dan akhirnya aku menjadi mangsa mereka" ujar Sakura bergidik.

Sasuke tertawa kecil.

"Haha.. iya iya maaf" ujar Sasuke.

Hening.

"Mmm.. Sakura," panggil Sasuke.

"Iya"

"Nanti.. kau pulang sendiri tidak apa-apa kan? Soalnya… aku pulang dengan Ino" tanya Sasuke dengan sedikit tidak enak.

Sakura menghela nafas sebentar.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku mengerti kok. Aku pulang sendiri saja" jawab Sakura memaklumi.

"Benar, tidak apa-apa?" tanya Sasuke meyakinkan.

Sakura mengangguk mantap. Berusaha meyakinkan sahabatnya.

"Baiklah. Terima kasih, jidat" ujar Sasuke yang langsung berlari ke luar kelas.

Merasa di ejek, Sakura melayangkan death glare andalannya.

TEETTT.. TEETTT.. TEEETTTTT..

Bel masuk pertanda masuk telah di bunyikan. Para murid segera memasuki kelasnya masing-masing.

"SAKURA!" teriak Ino.

"Ino. Ada apa?" tanya Sakura yang keget mendengar teriakan Ino.

"Sakura, kau tahu?" tanya Ino dengan riangnya.

Sakura yang sudah mengetahui maksud Ino langsung memasang wajah jahil.

"Iya. Aku sudah tahu. Tadi Sasuke menceritakannya padaku. Selamat ya!" ujar Sakura sambil tersenyum manis.

"Ah, iya terima kasih. Mmm.. kau mau tidak jadi sahabat curhatku selama aku pacaran dengan Sasuke? Ya.. kau ini kan sahabatnya sejak kecil" tanya Ino.

"Tentu saja. Aku akan menjadi sahabatmu walaupun kau tidak pacaran dengan Sasuke" jawab Sakura sambil tetap tersenyum.

"Terima kasih, Saku.." ujar Ino senang sambil memeluk Sakura.

*MBFIML*

Saat pulang sekolah pun tiba. Para siswa dan siswi berhamburan keluar kelasnya.

"Sakura! Aku duluan ya!" ucap Ino dan langsung berlari ke arah Sasuke yang sudah menunggu di depan kelas.

Sasuke hanya tersenyum ke arah Sakura dan pergi sambil menggandeng tangan Ino.

DEG

'Ck. Perasaan ini lagi' batinnya meruntuk.

Ia segera merapikan buku-bukunya dan beranjak dari kelas.

"Sakura!" teriak seseorang memanggil gadis itu saat ia keluar kelas.

"Ah, Kakashi-sensei. Ada apa?" tanya Sakura.

"Begini, kau bisa tidak membantuku memasukan nilai kelas XII ke komputer?" jawab dan tanya Kakashi.

"Mmm.. tentu saja" jawab Sakura menerima.

"Terima kasih.. Baiklah, ikut aku!" perintah Kakashi.

Sakura segera menurut dan berjalan di belakang gurunya tersebut.

"Baiklah. Kau yakin ingin membantuku?" tanya Kakashi meyakinkan.

Sakura hanya mengangguk mantap.

"Baiklah, kau masukan nilai yang ada di buku daftar nilai kelas XII C dan XII D ke komputer, kemudian kau jumlahkan dan hitung rata-ratanya. Kau mengerti?"

Sakura kembali mengangguk mengerti.

Ia mulai memindahkan nilai dari buku daftar nilai ke file komputer tersebut.

Hening.

"Ternyata kau di suruh juga oleh Kakashi-sansei?" tanya seseorang yang berada di samping Sakura. Sakura menoleh ke sumber suara.

"Gaara? Kau di sini juga? Iya, aku di suruh oleh guru malas itu" jawab Sakura sambil mendengus kesal.

Gaara hanya tersenyum tipis dan kembali fokus pada layar komputernya.

Gaara adalah teman sekelas Sasuke. Sebenarnya ia cukup tampan. Hanya saja ia lebih senang menyendiri dan berkutat dengan buku-buku di perpustakaan, jadi ia tidak begitu punya banyak fansgirl.

Suasana hening. Yang terdengar hanya suara tombol keyboard yang di tekan dengan lincahnya.

"Kudengar ada murid baru di kelasmu yang sekarang menjadi kekasih Sasuke" ujar Gaara tanpa menoleh.

"Iya. Dia Yamanaka Ino" jawab Sakura yang masih fokus pada layar komputernya.

"Dan Sasuke baru menembaknya istirahat tadi" ujar Gaara lagi.

"Hahaha.. tak kusangka. Saking tenarnya Sasuke sampai-sampai saat istirahat tadi ia menembak Ino pun sudah tersebar luas. Padahal ia sengaja menembaknya di atap agar tidak ada yang tahu. Tapi, tetap saja" jawab Sakura sambil tertawa.

Suasana kembali Hening.

"Huhh, akhirnya selesai juga" gumam Sakura sambil memperegangkan jari-jarinya.

"Ya. Aku juga sudah" ujar Gaara kemudian.

"Kakashi-sensei! Kita sudah selesai!" teriak Sakura.

"Baiklah kau boleh pulang. Gaara masih ada tugas untukmu" ujar Kakashi menghampiri mereka.

Gaara memutar matanya bosan. Tapi mau bagaimana lagi, ia kan calon ketua OSIS pasti banyak pekerjaan kan?

"Gaara, aku duluannya! Ja~" ujar Sakura yang kemudian keluar dari ruang guru.

"Gaara! Kau bisa membantuku mengecek nama-nama di kartu ujian?" teriak Kakashi.

Gaara segera menghampiri gurunya itu dengan malas-malasan.

*MBFIML*

Sakura menendang-nendang kerikil di jalanan bosan. Terkadang ia menghela nafas berat. Saat ini ia sedang dalam perjalanan pulang.

"Hhh, sepi ya tidak ada Sasuke. Padahal setiap pulang kita sering bercanda" gumamnya dengan nada sedih.

"Ck. Mana panas lagi" lanjutnya sambil menengadah. Memang saat ini di Jepang sedang musim panas. Sakura merasa kulitnya bagaikan terbakar.

"Duuh, ayolah cepat sampai" runtuknya dan kembali berjalan.

Malamnya..

"Aarrrgghhh.. susah sekali sih!" teriak Sakura frustasi. Ia tengah mengerjakan tugas Fisikanya yang tadi di berikan oleh guru Asuma.

"Ck, dasar.. guru gila! Kalau kasih tugas itu kira-kira dulu tidak sih? Yang benar saja 50 soal harus di kerjakan semalaman dan di kumpulkan besok. Mana susah-susah lagi" runtuknya kesal sambil mengacak-acak rambut soft pinknya.

Ia terdiam sejenak lalu melirik jam di dinding kamarnya.

20.15

Itulah angka yang Sakura lihat pada jam Hello Kittynya.

"Ayolah, satu nomor pun belum" gumamnya

Ia kembali terdiam mengamati soal-soal di hadapannya.

'Tunggu!' batinnya. Ia merasa ada yang ia lupakan. Sakura mengerutkan keningnya. Mengingat sesuatu.

BRAAK

"Kenapa tidak minta tolong Sasuke saja? Ia kan pintar dalam pelajaran Fisika, pasti dia mau membantuku! Arrggh, bodoh!" ujarnya sambil menggebrak meja belajarnya.

Ia raih handphone yang tergeletak di sampingnya dan segera mengirim sebuah pesan.

'Sasuke, kau mau membantuku mengerjakan tugas Fisika tidak?'

From : Sakura

Lalu ia tekan tombol send untuk mengirim pesan tersebut. Ia tidak sabar menunggu balasan dari sahabatnya itu.

10 detik..

20 detik..

1 menit..

2 menit..

Sakura kembali meraih handphonenya. Mengecek apakah Sasuke membalas pesannya.

Tetapi hasilnya nihil. Sasuke tidak membalas pasan yang ia kirim.

"Apa dia sudah tidur ya? tidak biasanya ia tidak membalas pesan sampai selama ini" gumamnya. Karena merasa penasaran, ia berjalan menuju jendelanya dan mengintip dari celah-celah gordennya.

'Lampunya masih nyala. Berarti ia belum tidur' batin Sakura kemudian menutup kembali gordennya.

"Apa aku coba panggil saja ya?" tanyanya yang entah pada siapa.

Sakura menyibakkan gordennya lebar-lebar.

"Sasuke.." panggilnya.

Tidak ada jawaban.

"Sasuke!" panggilnya setengah berteriak.

Masih tidak ada jawaban.

"Haahh! Dia itu tuli atau apa sih?" runtuknya kesal.

Detik kemudian, sebuah ide terlintas di otaknya. "Aku tahu bagaimana cara memanggilnya" ujarnya dengan senyum jahil.

Ia tutup kembali gordennya lalu berjalan menghampiri tipe kesayangannya.

3..

2..

1..

Dan..

You can not run, and you can not hide..

Yeah you gotta face it baby things go bump in the night

Where ever you run and where ever you hide..

Yeah you gotta face it baby things go bump, bump, bump in the night..

Ia besarkan suara tipe itu yang biasa mengganggu ketenangan sang ayam di seberangnya.

Dan benar saja, tak lama muncullah wajah nan tampan yang menyibakkan gorden jendela miliknya lebar-lebar dan membuka jendela kamarnya.

Tapi yang membuat Sakura heran, Sasuke yang biasanya muncul dengan pulpen atau semacamnya tapi kini tidak. Melainkan sebuah…. Handphone.

"Heh, jidat! Berisik sekali sih! Kecilkan volume tipenya!" teriak Sasuke seperti biasa dengan wajah kesalnya.

"Memang kenapa? Suka-suka ku" jawab Sakura acuh.

Sasuke sedikit menyelusup kembali ke dalam untuk berbicara dengan orang di telepon tersebut dan kembali menatap Sakura tajam seraya menopang tangannya sebagai penyanggah tubuhnya.

"Kecilkan Sakura" ujar Sasuke berusaha tenang.

"Tidak" jawab Sakura.

"Kecilkan, Sa-ku-ra!" ujar Sasuke dengan penuh penekanan.

"Ti-dak ma-u" jawab Sakura mengikuti gaya lawan bicaranya.

"Ku bilang kecilkan! Aku sedang menelepon ino! Dan suara tipe mu sangat meng-gang-gu!" bentak Sasuke penuh amarah dengan penekanan di akhir kalimatnya.

Sakura terkejut akan bentakkan Sasuke. Tidak biasanya Sasuke membentaknya. Sesekalinya ia membentak pun tidak semarah Ini.

"M-Maaf, a-aku tidak tahu" ujar Sakura takut kemudian berlari untuk mengecilkan volume tipenya lalu kembali ke jendelanya.

"M-Maaf, Sasuke. Aku… tidak tahu" ujar Sakura penuh penyesalan.

"Kau pikir aku ini tuli, hah! Sampai-sampai kau harus membesarkan volume tipemu seperti itu!" ujar Sasuke yang masih dengan nada membentak.

"T-Tadi aku sudah coba memanggilmu. Tapi, kau tidak dengar" ujar Sakura dengan nada yang… ya, kalian tahulah seperti apa. Seperti sedih.

Sasuke memutar Onyxnya kesal. "Aku kan sudah memberitahumu, kalau kau memanggilku dan aku tidak jawab kau bisa melempar kerikil yang biasa aku lakukan. Kau masih menyimpan kerikil itu kan?" jelas Sasuke panjang lebar.

"M-Masih" jawab Sakura.

"Lalu kenapa tidak kau pergunakan? Tanya Sasuke.

"Aku-"

"Ahh, sudahlah. Karena ulahmu, sekarang Ino marah padaku karena ia kira aku yang menyalakan tipenya" ujar Sasuke memotong kalimat Sakura lau menutup kembali jendela dan gordennya. Ia matikan lampu kamarnya.

Sakura masih mematung di depan jendelanya. Menatap lurus ke arah jendela Sasuke.

'Sepertinya ia marah besar padaku' batin Sakura sedih kemudian menutup jendela dan gordennya. Sama seperti apa yang Sasuke lakukan sebelumnya.

*MBFIML*

Sakura masih berdiri di depan kelasnya sejak 5 menit yang lalu dengan kedua tangan di silangkan ke atas, menjewer telinganya sendiri juga kaki kanan yang di angkat.

'Huh! Coba saja tadi malam aku kerjakan walau hanya 10 nomor. Pasti aku tidak akan di hukum seperti ini' batinnya meruntuk diri sendiri.

Asuma, guru yang terkenal super killer itu melirik murid hukumannya dengan ekor matanya.

"Bagaimana Haruno-san? Apa lain kali kau bisa mengerjakan tugas yang ku berikan walaupun hanya 1 nomor?" tanya Asume sambil menatap Sakura tajam.

"I-Iya sensei" jawab Sakura sambil bergidik ngeri melihat tatapan sang guru.

"Apa kau berjanji akan mengerjakannya walaupun itu semua salah?" tanya Asuma lagi seperti sedang menginterogasi tersangka.

"J-Janji sensei" jawab Sakura yang mulai sempoyongan karena pegal.

"Apa kau bisa pegang janjimu?"

"Iya sensei"

Sakura mulai bosan dengan interogasi yang di buat gurunya tersebut.

"Baiklah silahkan duduk" ujar Asuma memberi izin Sakura untuk duduk.

"Tapi.." Baru saja Sakura menurunkan kaki kanannya, Asuma kembali berucap yang membuat Sakura mempunyai firasat buruk.

"Sebagai ganti nilai tugasmu, kau harus mengerjakan 20 soal yang aku berikan dan di kumpulkan saat pulang nanti." lanjut Asuma yang berhasil membuat Sakura membelalak kaget.

TEEETTTT.. TEETTT.. TEEEETTTT..

"Baiklah anak-anak, silahkan kalian istirahat. Dan untukmu Haruno Sakura.. kerjakan ini" ujar Asuma seraya monyodorkan selembar kertas yang berisi soal-soal Fisika.

Mata Sakura kembali terbelalak keget. "S-Sensei, ini… susah sekali" ujar Sakura.

"Itulah resikomu. Selamat mengerjakan!" Tukas Asuma kemudian beranjak pergi.

"S-Sakura-chan baik-baik saja? Apa perlu aku bantu?" tanya Hinata menawari.

"Tidak usah Hinata, aku bisa mengerjakannya sendiri. Ini tugasku" jawab Sakura berusaha agar tidak menyakiti Hinata yang berusaha membantu.

Ya.. bagaimanapun juga ini semua karena ulahnya. Mulai dari kemarahan Sasuke hingga tugas yang di berikan guru killer itu.

'Ah, iya. Aku kan harus bicara pada Ino tentang salah pahamnya itu" ujar Sakura yang langsung berlari menuju kantin.

"INOOO!" teriak Sakura memanggil Ino.

Ino menoleh ke sumber suara. "Sakura, ada apa?" tanya Ino saat Sakura berlari ke arahnya.

"Ino, apa kau sedang err... marah pada Sasuke?" tanya Sakura.

"Marah? Marah kenapa?" tanya Ino.

Sakura memiringkan kepalanya heran.

"Tadi malam kau teleponan dengan Sasuke, kan?" tanya Sakura.

"Iya, memang kenapa?" jawab plus tanya Ino.

"Bukannya tadi malam kau marah karena kau mengira Sasuke menyalakan tipe dengan volume besar. Dan kau marah karena menurutmu Sasuke tidak mau mendengarkan omonganmu?" jelas Sakura sambil bertanya.

Terlihat Ino terkekeh geli. Seperti sebuah hal yang lucu.

"Haha.. kau ini. Aku tidak marah dengan Sasuke, hanya kesal mendengar ada volume tipe yang di besarkan. Ya.. aku kira dia sedang menyalakan tipe dan sengaja ia besarkan saat aku sedang bicara serius. Tapi saat aku dengar Sasuke menegormu untuk mengecilkan volume tipe, aku tahu yang sedang menyalakan tipe itu kau" jelas Ino panjang lebar.

"Jadi kau tidak marah pada Sasuke? Lalu kenapa Sasuke bilang kau marah padanya?" tanya Sakura heran.

"Ketika aku mendengar suara volume di besarkan, aku langsung menuduh Sasuke dan memarahinya. Tapi kenyataannya bukan dia yang menyalakan tipe." Jelas Ino sekali lagi.

"Berarti Sasuke salah paham" ujar Sakura. Terlihat Ino mengangguk membenarkan ucapan Sakura.

"Oh, ya sudah. Terima kasih, Ino" ujar Sakura kemudian berlari ke arah perpustakaan untuk mengerjakan tugas.

*MBFIML*

Bel pulang telah di bunyikan. Para siswa segera berhamburan keluar kelas.

"Sakura aku duluan ya" ujar Ino kemudian berlari ke arah Sasuke yang telah menunggunya di depan kelas seperti biasa. Sasuke sempat tersenyum pada Sakura lalu menggandeng tangan Ino.

'Syukurlah ia tidak marah lagi padaku. Sepertinya Ino telah memberi tahunya' batin Sakura berjalan keluar kelas.

BRUMM

Sakura menoleh saat ada suara sepeda motor yang sedang di starter. Sakura terkejut melihat siapa pengendara tersebut.

'Sasuke?' batinnya. Tak lama Ino menaik di belakangnya.

Sakura tersenyum. 'Sepertinya Ino tidak biasa berjalan kaki' batinnya. Sakura terus tersenyum melihat canda yang di buat oleh Sasuke untuk menjaili kekasihnya itu.

Sakura teringat akan candaan ia dan Sasuke terakhir saat Sasuke bilang menyukai Ino. Senyum Sakura semakin mengembang.

DEG

Senyumnya pudar saat mereka melintas di depannya dengan Ino yang memeluk pinggang Sasuke erat dan mesra. Beberapa siswa menyoraki mereka berdua.

Perasaan aneh kembali menyinggapi batin Sakura. Tatapannya nanar saat Sasuke mengencangkan laju motornya dengan teriakkan Ino setelahnya.

Ia menunduk kemudian berjalan ke ruang guru untuk memberikan tugasnya pada Asuma. Untung saja ada Neji yang membantunya saat tak sengaja melihat Hinata sedang bersama Sakura di perpustakaan.

Sakura terus berjalan dengan pelan dan akhirnya ia sampai pada tujuannya yaitu ruang guru.

"Permisi" ujarnya sopan seraya melihat sosok guru yang ia cari.

"Sakura, masuk!" perintah Asuma yang sedang membereskan map-mapnya.

"Ini sensei" ucap Sakura sambil menyerahkan lembaran tugasnya.

"Hmm, bagus! Kau telah mengerjakannya. Kau boleh pulang sekarang" ujar Asuma.

Sakura mengangguk lemah. Saat ini moodnya sedang turun drastis.

Setapak demi setapak ia langkahkan kaki jejangnya. Membuat benturan pada sepatu dan aspal jalan. Tatapannya tertuju pada ujung sepatunya. Melamunkan sesuatu hal yang ia juga tak mengerti.

Dua hari ia berangkat dan pulang tanpa Sasuke. Tapi entah apa yang membuatnya sangat kesepian. Candaan Sasuke mungkin?

Tiba-tiba…

"Hai, nona cantik. Sendirian saja" ujar seorang pemuda dengan pakaian ala berandalan.

Sakura berusaha mengabaikannya dengan melewati pemuda tersebut. Tapi ia langsung di cegat oleh dua orang pemuda di depannya dengan pakaian yang sama.

"Ett, mau kemana nona cantik? Dari pada sendirian, lebih baik kita temani" ujar pemuda satunya.

Pemuda di belakang Sakura dengan kurang ajarnya memegang pipi ranum Sakura.

"Lepaskan!" bentak Sakura sambil menangkis tangan pemuda tersebut dan berusaha lari.

"Eee… kau tidak bisa lari nona" ujar pemuda berambut coklat sambil meraih tangan Sakura.

"Lepaskan! Lepaskan aku! Tolooong..! teriak Sakura saat ketiga pemuda itu mendekatinya.

Para pemuda berandalan itu saling berpandangan sambil memperlihatkan seringai mereka yang mengerikan.

BUK

Sakura di jatuhkan ke tanah. "Aww!" teriaknya sambil meringis. Sakura bergidik saat ketiga pemuda itu berusaha mengambil ancang-ancang.

Saat ini Sakura sangat takut. Bahkan buliran bening meluncur dari kedua emeraldnya.

Satu nama yang terlintas di pikirannya saat ini.

'Sasuke, tolong aku'

"Kau tidak bisa lari nona"

"Kyaaaa!" teriak Sakura saat ketiga pemuda itu mendekatinya. Apalagi saat ia di jatuhkan lututnya bergesekan dengan aspal dan menimbulkan luta yang cukup parah membuatnya tak bisa berlari.

'Sasuke!' batinnya berteriak. Ia memejamkan matanya erat.

BUKK

DUAGH

DUGH

Merasa aneh dengan keadaan, Sakura membuka kembali matanya.

"G-Gaara?" gumamnya. Dan yang membuatnya terkejut adalah ketiga pemuda yang ingin memangsanya telah tergeletak di tanah.

"Ayo" ujar Gaara mengulurkan tangannya. Membantu Sakura untuk berdiri. Walaupun kakinya terasa nyut-nyutan tapi ia berusa berdiri.

"Biar ku antarkan kau pulang" ujar Gaara kemudian menaiki sepeda motornya.

Sakura ikut menaiki saat Gaara memberi isyarat untuk naik. Dan segera pergi.

*MBFIML*

"Akh! G-Gaara pelan-pelan" ujar Sakura sambil meringis.

"Maaf" gumam Gaara.

Saat ini mereka tengah berada di taman. Gaara sedang mengobati luka Sakura yang lumayan parah. Lututnya robek lumayan lebar.

"Selesai" ujar Gaara kemudian merapikan obat-obatan yang biasa ia bawa dan duduk tepat di sebelah Sakura.

"Kenapa kau pulang sendiri? Biasanya kan dengan Sasuke" tanya Gaara.

Sakura terdiam. Kemudian tersenyum tipis.

"Kau lupa? Ia kan pulang dengan Ino" jawab Sakura

"Tadi ku lihat ia pulang dengan Ino menggunakan motor. Sementara kau.. pulang dengan berjalan kaki?" tanya Gaara yang semakin heran.

Sakura hanya diam.

"Dia pulang dengan kekasihnya menggunakan motor sementara sahabatnya pulang dengan berjalan kaki dan hampir menjadi mangsa preman-preman jalanan itu." Ujar Gaara yang terlihat heran dengan Sakura.

"Sudahlah Gaara, aku tidak apa-apa" ujar Sakura.

"Tidak apa-apa bagaimana? Lututmu robek, Sakura" tukas Gaara.

Sakura kembali terdiam mengamati lukanya yang cukum parah. Bahkan jalannya saja pincang.

"Ino itu kekasihnya, sementara aku hanya sahabatnya. Jadi bukan tidak mungkin Sasuke lebih mengkhawatirkan kekasihnya dari pada aku. Lagipula aku bukan kekasihnya" gumam Sakura.

"Kau ini. Walaupun kau sahabatnya, apa tidak boleh kau di khawatirkan olehnya" ujar Gaara.

"…"

"Sasuke itu sahabatmu sejak kecil, Sakura. Ia seharusnya menjagamu walaupun ia telah mempunyai kekasih. Setidaknya pesankan kau taxi kalaupun ia tak bisa mengantarmu pulang." Ujar Gaara.

"…" Sakura masih diam tak bersuara. Mendengarkan sepatah demi sepatah kata yang di keluarkan Gaara.

"Entahlah Gaara aku juga tidak mengerti" ujar Sakura menunduk sedih. Perasaan yang selalu ia rasakan saat Sasuke bersama Ino terus muncul kian hari.

Gaara bukanlah orang yang bodoh. Ia dapat menyimpulkan suatu hal dari tatapan sedih Sakura.

"Kau menyukainya?"

DEG

Dengan cepat Sakura menengadahkan kepalanya. Matanya melebar sempurna saking terkejutnya.

"A-Apa maksudmu? Tidak mungkin aku menyukai Sasuke" tukas Sakura sambil menatap Gaara heran.

"Kau bohong" ujar Gaara.

"A-Aku tidak bohong" tukas Sakura cepat. Tapi tidak menutupi keterkejutannya.

"Apa yang selalu kau rasakan sekarang?" tanya Gaara.

Sakura terdiam. Ia tahu pemuda di sampingnya bukanlah orang yang bodoh.

"Sudahlah, ceritakan saja" ucap Gaara sambil tersenyum simpul.

"Entahlah, Gaara. Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Suatu perasaan tiba-tiba datang saat Sasuke dan Ino sedang berdua. Seperti… sedih mungkin? Aku pun tidak tahu." Ujar Sakura.

Gaara tersenyum maklum.

"Itu artinya kau menyukainya. Mungkin kau memang belum menyadarinya. Tapi parasaanmulah yang akan menyadarkanmu nanti. Kau itu cemburu, Sakura" jelas Gaara.

Sakura kembali terbelalak.

"Ah, I-Itu tidak mungkin" ucap Sakura berusaha mengelak perkataan Gaara.

Gaara menoleh ke sampingnya. Menatap Sakura.

"Percaya padaku. Kau itu menyukainya. Hanya perasaanmulah yang dapat melampiaskannya sekarang. Suatu Saat kau pasti menyadarinya." Jelas Gaara.

Sakura terdiam. Tak dapat di pungkiri bahwa jantungnya berdetak kencang.

'Apa benar?' batinnya. Ia kembali menunduk.

"Apa kau tahu apa yang membuat Sasuke menyukai Ino?" tanya Gaara.

"Hmm, dia bilang Ino itu.. cantik, manis, pintar, dan lain-lain" jawab sakura sambil menerawang langit dengan nada polosnya.

Gaara terkekeh mendengar penuturan Sakura.

"Kau tahu apa artinya?" tanya Gaara.

Sakura menatap Gaara. Ia menggeleng yang berarti tidak tahu.

"Itu berarti Sasuke tidak mencintai ataupun menyukai Ino, melainkan mengagumi" jawab Gaara.

"Hah! Tapi Sasuke dan Ino mengatakan bahwa mereka menyukai" ujar Sakura.

"Begini, Sakura. Kalau kita melihat orang karena tampan, cantik, pintar, baik, itu namanya bukan menyukai atau mencintai. Tapi mengagumi. Sedangkan jika kita tidak tahu kenapa kita bisa cemburu, senang saat di dekatnya, nyaman jika ia di samping kita, marah saat orang lain mendekatinya, sedih saat orang itu marah pada kita itu berarti kita menyukai orang itu atau bahkan mencintainya. Seperti dirimu" jelas Gaara panjang lebar.

"Aku?" tanya Sakura sambil menujuk dirinya sendiri.

Gaara mengangguk.

"Apa benar?" tanya Sakura yang entah pada siapa karena saat ini ia menatap langit.

'Aku menyukai Sasuke?' tanya batinnya.

"Sebaiknya kita pulang. Sudah hampir sore" ujar Gaara berjalan ke arah motornya

"Ah, I-Iya" ucap Sakura menyusul Gaara.

Selama perjalanan Sakura terus melamun.

"Sudah Sampai" ujar Gaara membuyarkan lamunan Sakura.

"Ah, b-bagaimana kau.. bisa tahu alamatku?" tanay Sakura heran.

"Kau lupa? Aku ini calon ketua OSIS. Jadi, semua alamat siswa dan siswi aku tahu" jawab Gaara.

Sakura hanya ber-oh-ria. "Terima kasih ya, Gaara. Sudah mau mengantarku" ujar Sakura.

Gaara hanya tersenyum lalu segera beranjak pergi.

"Tadaima" ujar Sakura saat membuka pintu.

"Kau sudah pulang, Sak- Ya Tuhan, lututmu kenapa?" tanya Rin- ibu Sakura—terkejut melihat lutut Sakura yang mengenaskan..

"T-Tadi jatuh kesandung batu, Bu" jawab Sakura berbohong. Tentu saja karena ia tidak mau membuat ibunya khawatir.

"Apa sudah di obati?" tanya ibunya lagi dengan nada khawatir.

"Sudah, Bu. Ibu tidak usah khawatir. Aku ke kamarku dulu ya" ujar Sakura yang langsung menaiki tangga.

Saat sampai di kamarnya ia langsung mengambil handuk dan mandi. Pastinya dengan hati-hati agar tidak melukai lukanya.

15 menit sejak Sakura mandi, kini ia telah keluar dengan T-shirt berwarna pink muda bercorak hello kitty dan celana pendek 5 cm di atas lutut agar tidak menutupi lukanya.

"Sakura! Makan malam dulu!" teriak Ibunya dari lantai bawah.

"Iya bu!" jawab Sakura

Selesai makan Sakura kembali memasuki kamarnya yang bernuansa pink-putih itu.

Ia mendudukan diri di kursi meja belajarnya. Berhubung besok tidak da tugas maupun ulangan, jadi ia hanya membuka buku pelajarannya untuk di baca.

NYUT

"Ssshh" ringisnya saat lukanya bereaksi. Ditatapnya luka yang terperban itu.

'Itu artinya kau menyukainya'

Perkataan Gaara masih terekam di memori otaknya.

"Apa benar aku menyukai Sasuke?" tanyanya.

"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak boleh menyukai Sasuke. Selain dia kekasih Ino saat ini, ia juga sahabatku. Aku tidak boleh menodai persahabatanku dengan Sasuke" tukasnya tegas.

"Tapi, kata Gaara.. jika aku merasa sedih saat Sasuke bersama Ino itu berarti aku menyukainya. Tapi.. apa mungkin?" gumamnya yang masih bimbang.

Ia menoleh ke arah jendelanya. Tempat dimana ia dan Sasuke selalu bercanda seperti biasa. Sejak kecil hingga sekarang. Dimana tempat mereka saling bercerita dan menjahili satu sama lain.

Sakura tersenyum kecut mengingat memorinya. Sekarang bukanlah dulu.

"Eh, apa yang aku pikirkan?" gumamnya menyadari apa yanf barusan ia pikirkan.

"Sudahlah, sebaiknya aku tidur" ujarnya kemudian mematikan saklar lampu kamarnya.

*MBFIML*

"Sakura, kau yakin ingin berangkat sendiri? Kakimu belum pulih" ujar Ibu Sakura khawatir.

"Iya, bu. Lagipula sekolahku kan dekat. Jadi tidak apa-apa" serunya berusaha agar Ibunya tidak mengkhawatirkannya.

"Memang kau tidak berangkat dengan Sasuke?" tanya Ibu Sakura.

Sakura terdiam. "H-Hari ini ia ada tugas piket, jadi ia berangkat duluan" jawabnya ngasal.

"Apa tugas piket harus setiap hari?" tanya Ibunya lagi.

Sakura bingung harus menjawab apa. Kalau ia bilang Sasuke berangkat dengan kekasihnya menggunakan motor, entah apa yang akan dibilang Ibunya nanti. Karena saat Sakura berumur 4 tahun, Ayahnya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Berhubung keluarga Sakura dan Sauke sangat dekat, maka Ibu Sakura meminta Sasuke untuk menjaganya.

"Ah, aku hampir telat. Bu.. Aku berangkat dulu!" seru Sakura kemudian pergi sebelum Ibunya menjejalkannya pertanyaan-pertanyaan aneh.

NYUT

"Akh!" ringisnya saat luka di lututnya kembali bereaksi. Ia tahu bahwa lukanya belum sembuh. Bahkan jalannya pun masih sedikit pincang. Tapi, mau bagaimana lagi. Jadi ia harus menahan rasa sakitnya itu.

"Akhirnya sampai juga" gumamnya saat sampai di sekolahnya.

Ia berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya. "Oyahou" sapanya saat memasuki kelas. Hanya ada Hinata, Tenten dan beberapa teman lainnya.

"S-Sakura-chan kenapa jalanmu pin- Ya Tuhan lututmu kenapa?" tanya Hinata kaget saat Sakura berjalan ke arahnya.

"Kemarin tersandung batu" jawab Sakura berbohong.

"Tersandung batu? Mana mungkin separah ini. Lututmu bengkak, Sakura" ujar Tenten memperhatikan lutut Sakura yang memang bengkak.

"Sudahlah, Tenten. Aku tidak apa-apa" seru Sakura yang malas jika ditanya tentang lukanya.

"…Baiklah, aku duluan ya, Sasuke"

Sakura menoleh ke sumber suara. Tepatnya di daun pintu kelasnya. Terdapat Ino dan Sasuke disana. Sakura terdiam memperhatikan mereka.

"Ya sudah, aku ke kelas dulu" ujar Sasuke.

"Sasuke!" panggil Ino cepat sebelum Sasuk beranjak pergi ke kelasnya.

Sasuke berbalik. "Ada ap-"

CUP

Sakura terkejut dengan apa yang dilihanya barusan. Ino mencium pipi Sasuke.

Nafasnya memburu. Hatinya bagaikan tersayat-sayat pisau tajam.

'A-Apa yang terjadi denganku? Kenapa hatiku sakit sekali?' batinnya.


Apaan nih? gaje abis! *pundung*

kalo ada kesalahan pengetikan ataupun apalah itu..

Gomen, xita-chan berusaha agar chapter ini bisa lebih baik..

Xita terima kritik dan sarannya

mohon

R

E

V

I

E

W

Salam Xita-chan :)