Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuino / Gaasaku / Sasuino / Sasusaku
Warning : makin gaje, abal-abal, pokoknya yang baca bisa sweatdrop parah. DON'T LIKE DON'T READ
*My Best Friend Is My Love*
By : Onyxita Haruno
"Bagaimana? Apa kau sudah lebih baik,?" tanya Gaara dengan Sakura yang masih di rangkulannya.
"Ya. Sedikit lebih baik. Sebaiknya kita kembali ke bus, karena sebentar lagi akan pulang," jawab Sakura yang masih di selingi sesegukan. Gaara melepaskan rangkulannya dan membiarkan Sakura untuk menghapus air matanya. Mereka segera bangkit dari duduknya dan pergi kembali ke bus. Saat mereka kembali suasana sudah hampir sepi karena sudah pada masuk ke dalam bus. Yang tertinggal hanya para guru yang sedang mengabsen murid yang belum kembali.
"Kalian dari mana saja?" tanya Kakashi-sensei saat melihat Gaara dan Sakura yang menghampirinya. "Tadi, kami sempat keliling sebentar dan.. sedikit tersesat" jawab Gaara ngasal. Sakura hanya mengangguk lemah mengiyakan jawaban Gaara.
"Hhh.. lain kali jangan terlalu jauh bila ingin berkeliling. Ya sudah.. Masuk!" perintah Kakashi-sensei dengan isyarat agar mereka segera memasuki bus. Terdengar gaduhan para murid yang sedang tengah bercanda. Tapi, sebagian besar tengah bercanda bersama Sasuke dan Ino. Suara gelak tawa dan sorakan terdengar jelas di telinga Sakura saat salah satu dari mereka menanyakan adegan di lapangan tadi. Matanya kembali memerah yang jika ia lalai untuk segera menarik nafas maka cairan bening akan tumpah kembali. Namun, itu menyisakan mata yang sembab dan sedikit memerah. Yah.. kau tau kan menghilangkan tanda jika kita habis menangis itu sulit. Dan tanpa sengaja, Tenten melihat itu semua.
"Ya ampun, Sakura? Matamu sembab. Wajahmu kusut sekali. Kau sakit?" tanya Tenten dengan volume suara yang sedikit besar karena kaget. Namun, itu dapat mengundang mata satu bus untuk beralih menatap Sakura.
"A-Aku tidak apa-apa kok, Tenten," jawab Sakura sedikit canggung karena seisi bus memperhatikannya. Termasuk Sasuke dan Ino.
"A-Apa.. kau habis m-menangis?" tanya Hinata. Sakura yang terkejut segera menggeleng sedikit lemah karena sebenarnya ia sedikit capek dan segera duduk di kursinya. Gaara yang khawatir langsung menepuk pundak Sakura. Sakura segera menoleh.
"Aku baik-baik saja, Gaara" ujar Sakura seolah tahu apa maksud Gaara. Gaara sedikit tersenyum memberi semangat dan segera berjalan ke arah kursinya. Sakura kembali terdiam. "Mmm.. Hinata, apa boleh tukar tempat duduk?" tanya Sakura. "T-Tentu Saja" jawab Hinata dan segera berdiri. Sakura bepindah duduk tepat dekat jendela dan Hinata di pinggir.
"K-Kau baik-baik saja, Sakura-chan?" tanya Hinata yang melihat Sakura sedikit lemas. "Mungkin sedikit capek," jawab Sakura. Hinata hanya mengangguk.
Dan selang beberapa menit, bus melaju. Membawa para murid kembali ke Konoha.
"Hinata, ayo ikut bernyanyi" ajak Naruto di tengah perjalanan. Saat ini mereka tengah bernyanyi. Sama seperti waktu berangkat. "T-Tapi.. Naruto-kun-" sebelum Hinata menyelesaikan perkataannya, Naruto sudah menariknya untuk bergabung grup menyanyi di belakang. Sakura hanya terdiam memandang jalanan di balik kaca. Sedangkan yang lain, asik dengan acara mereka sendiri tanpa kenal lelah.
Iseng-iseng, Sakura melirik ke arah belakang. Terlihat Ino yang bersender pada bahu Sasuke dan Sasuke sendiri memainkan gitar dengan lincahnya. Merasa di perhatikan, Sasuke menoleh dan menatap Sakura sebentar kemudian kembali pada aktivitasnya. Sakura yang merasa di abaikan, mengalihkan tatapannya dan kembali seperti semula. Ia mengambil handseat dari tasnya dan menyambungkannya ke Mp3 yang ia bawa dan mendengarkan lagu-lagu yang terdaftar sambil memandang ke luar kaca jendela.
Samar-samar terdengar suara tepukan tangan menandakan mereka selesai menyanyikan lagu tersebut. "Baiklah, ada yang ingin meminta lagu?" tanya Naruto berteriak. "Bagaimana kalau Sahabat jadi Cinta? Aku sangat menyukai lagu itu" ujar Kiba dari arah depan. "Ya. kau benar! Aku juga menyukai lagu itu. Sasuke ayo mainkan!" perintah Naruto pada Sasuke. Yang di perintah hanya memutar bola matanya kesal. Dan mulailah lagu yang di pinta kiba tersebut. Sementara Sakura mesih terdiam memandang hamparan pemandangan di luar kaca jendela dengan handseat terpasang di telinganya.
Menit-menit berlalu. Merasa bosan dengan lagu yang di dengarnya, Sakura mematikan mp3 nya dan melepas handseat dari telinganya.
…Satu kata yang sulit terucap, hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta..
Sakura POV
A-Apa ini? Kenapa lagunya seperti itu? Menyindir sekali. Haduh.. kenapa mereka menyanyikan lagu itu? Tidakkah mereka sadar lagu itu sangat menyakitkan untukku? Begitu sangat menyindirku. Ya Tuhan..
…Tak bisa hatiku merapikan cinta, karna cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak, mataku t'rus pancarkan sinarnya..
K-Kenapa liriknya seperti itu? Aarrggg.. aku kesal sekali dengan lagu ini. Dengan segera aku bangkit dari dudukku kemudian ku tolehkan pandanganku ke arah segerombolan paduan suara di belakangku. Apa? S-Sasuke ikut menyanyikannya? Dan.. ia merasa santai? Ayolah, kumohon hentikan lagu itu. Haduh.. kenapa aku tak bisa mengucapkan sepatah katapun? Aku merasa lidahku terkunci sehingga tak bisa mengatakan apa-apa. Dengan perasaan yang mendebar-debar, aku kembali ke tenpat dudukku. Terdiam memandang keluar jendela dengan telinga fokus pada lagu tersebut.
…Ku dapati diri makin tersesat saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa teruskan
Persahabatan berubah jadi cinta
Satu kata yang sulit terucap, hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karna cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku trus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapakah kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin semua takdir Tuhan..
Sudah! Cukup! Hentikan nyanyian kalian. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Oh tidak.. air mataku! Kumohon jangan disini. Aku tidak ingin di lihat siapapun. A-Apa itu? Suara isakanku?. Ya Tuhan bagaimana ini. Aku tidak kuat. Hentikan lahu yang kalian nyanyikan. Kumohon! Hiks..
Sakura end POV
"Sakura, kau kenapa? kenapa menangis?" tanya Tenten yang terkejut saat melihat Sakura menangis. Sakura segera menghapus air matanya sebelum banyak yang mengetahui. "A-Aku tidak apa-apa, Tenten," jawab Sakura sambil berdehem agar suaranya tidak terdengar serak. "Kau yakin? Demi Tuhan, matamu sembab Sakura" ujar Tenten yang masih tidak percaya. "Sudahlah, Tenten. Aku hanya kelilipan serangga kecil tadi" jawab Sakura ngawur. Tenten yang masih belum yakin sepenuhnya kembali ke kursinya tepat di belakang Sakura.
"Kau kenapa lagi, huh?" tanya seseorang di samping Sakura. Sakura segera menoleh dan mendapati Gaara tengah menduduki kursi Hinata. "A-Aku tidak apa-apa" jawab Sakura. "Jangan bohong. Aku tahu tadi kau menangis" ujar Gaara menuntut. Dan mau tidak mau Sakura harus menceritakannya. "Lagu tadi.. sangat mengingatkan aku tentang perasaanku pada Sasuke. Aku.. Aku.. " Sakura menunduk sedih. Setitik air mata kembali menetes dari kedua Emeraldnya dan membasahi roknya. "Sudah, kau tak perlu menangis lagi. Kau tak ingin mereka melihatnya, 'kan?" ujar Gaara seraya menghapus air mata Sakura dengan ibu jarinya. Sakura menengadah dan memandang Gaara. "Terima kasih banyak, Gaara" ujar Sakura. Gaara hanya tersenyum menanggapi.
"Ehm" deheman seseorang mengagetkan keduanya dan segera menoleh ke sumber suara. "S-Sasuke?" ujar Sakura terkejut melihat siapa pemuda yang berdehem tersebut. Sasuke memandang kedua orang di hadapannya dengan pandangan tidak suka dan sinis. "Maaf, sebaiknya aku kembali ke tempatku" ujar Gaara yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kursinya. "kau kenapa?" tanya Sasuke yang tiba-tiba menduduki kursi yang baru saja Gaara duduki. "A-Aku? Aku tidak apa-apa" jawab Sakura sedikit canggung. "Kau yakin? Lalu kenapa matamu merah dan sembab?" tanya Sasuke dengan menatap Sakura tajam. "Tadi, hanya kelilipan serangga. Dan itu sakit sekali, makanya mataku merah dan sembab" jawab Sakura mengasal. Sasuke hanya terdiam dan menyender pada kursi. Tanpa sengaja, Sasuke melihat luka di lutut Sakura. "Lututmu kenapa?" tanya Sasuke segera bangkit dari senderannya dan menatap luka Sakura. Sakura terkejut dan melebarkan matanya. 'Ya Tuhan, aku lupa memperban lukaku' batinnya. "Sakura, lututmu kenapa?" tanya Sasuke sekali lagi karena merasa di abaikan. "I-Ini… cu-cuma- akh!" rintihnya saat Sasuke mencoba menyentuh lukanya. Sakura memegangi lututnya sambil meringis kesakitan.
"Sakura, jujur padaku. Lututmu kenapa?" tanya Sasuke sambil menatap Sakura tajam seolah menuntut jawaban dari Sakura. "L-Lututku… hanya luka sedikit kok, S-Sasuke. Nanti juga sembuh.. hehe," jawab Sakura cengengesan. "Luka sedikit bagaimana? Ini parah, Sakura. Dan aku yakin. Luka ini masih baru beberapa hari" ujar Sasuke. "Ahh.. sudahlah, aku tidak apa-apa Sasuke. Lagian nanti juga sembuh," ujar Sakura yang masih memegangi lututnya. "Tidak ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sasuke.
DEG
"T-Tentu saja tidak. Kau ini ada-ada saja" jawab Sakura menyengir lebar untuk mencairkan suasana. "Sudah, siapkan barang-barangmu sana. Sebentar lagi sampai" perintah Sakura sambil mendorong Sasuke segera pergi. Sasuke hanya menatapnya kesal dan segera bangkit dari duduknya. "Huuff.. hampir saja" gumam Sakura.
Tak lama mereka pun sampai kembali ke sekolah pada petang hari. "Huaahh, capek sekali. Sesampai dirumah aku mau langsung tidur" ujar Ino sambil meregangkan tangan saat turun dari bus. "Ku antarkan kau pulang" ujar Sai yang tiba-tiba berada di sampingnya. Ino menoleh. "Kau? Kau yang di museum seni lukis itu kan?" tanya Ino. Sai hanya mengangguk. "Bagaimana? Mau ku antarkan pulang?" tanya Sai menawar. "Mmm.. boleh. Memang kau membawa motor?" tanya Ino lagi. Sai hanya mengangguk. "Baiklah, ayo kita pulang. Aku sudah capek" seru Ino. Sai menggandeng tangan Ino untuk mengikutinya ke arah parkiran. "Pakai ini" ujar Sai menyerahkan helm pada Ino. Ino pu menaiki motor Sai dan kemudian beranjak pergi.
"Sasuke, kenapa kau tidak pulang dengan Ino?" tanya Sakura. "Tadi.. saat turun dari bus aku di panggil oleh Anko-sensei, ketika aku kembali ia sudah tidak ada" jawab Sasuke. Mereka tengah berada dalam perjalanan pulang. Sasuke tidak menggunakan motor karena tadi siang di ambil oleh kakanya, Itachi. Jadi mereka pulang dengan berjalan kaki. Sakura hanya ber-oh-ria.
NYUT
'Oh tidak! Lukaku!' Sakura berhanti dari jalannya dan memegang lututnya sambil meringis. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Sasuke yang merasa Sakura tidak di sampingnya segera menoleh ke belakang. "Kau kenapa?" tanya Sasuke. "Ah, eemm.. tidak. Tidak apa-apa" jawab Sakura sambil nyengir. 'Aduh, kenapa harus kambuh sekarang sih!' runtuk batinnya. Sasuke segera menghampiri Sakura yang berada di belakangnya. "Ada apa dengan lukamu?" tanya Sasuke menunduk untuk melihat luka di lutut Sakura. "Emm.. hanya sedikit bereaksi. Mungkin karena aku lupa memperbannya, jadi.. kena debu," jawab Sakura. Sasuke menarik tangan Sakura ke arah bangku yang terdapat di sana dan mendudukan dirinya. "Coba ku lihat" ujar Sasuke seraya menyingkirkan tangan Sakura untuk melihat lukanya. Sasuke memperhatikan luka Sakura yang baru beberapa hari itu. Sasuke segera membuka kotak obatnya yang selalu ia bawa. "A-Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura yang melihat Sasuke menuangkan Betadine ke selembar kapas. "Akh!" rintihnya saat Sasuke mengoleskan Betadine pada lukanya. Kemudian ia mengeluarkan gulungan perban dan memasangnya ke arah luka Sakura. "Tahan sedikit. Ini akan sedikit sakit" ujar Sasuke dan mulai melilitkan perban tersebut hingga menutupi luka di lutut Sakura.
"Sudah" ucap Sasuke kemudian memasukan kembali peralatan obatnya. 'Seperti saat Gaara mengobati lukaku' batin Sakura sambil memperhatikan Sasuke yang sedang memasukan kotak obatnya de dalam tas. Merasa di perhatikan Sasuke menoleh. "Kenapa?" tanyanya. Sakura segera menggeleng cepat dan kembali memperhatikan lukanya yang kini telah di perban.
"Sakura. Jujur. Padaku. Kenapa lututmu bisa luka separah itu? Dan aku yakin.. luka. Itu. Belum. Lama." ujar Sasuke penuh penekanan dengan nada menuntut. Karena di paksa, mau tidak mau Sakura menceritakan semuanya.
"W-Waktu… kau pulang dengan Ino memakai motor, terpaksa aku pulang… sendiri. S-Saat di jalan.. aku.. bertemu dengan segerombolan preman jalanan. Dan.. saat salah satu dari mereka memegang pipiku.. aku.. meronta dan.. mereka menjatuhkanku dengan keras ke tanah. Tapi.. untung ada Gaara yang menolongku saat itu," jawab Sakura menjelaskan dengan nada sedikit hati-hati.
Terlihat Sasuke sedikit terkejut. "Maaf, aku tidak tahu" ujar Sasuke dengan nada menyesal. "Sudah, tidak apa-apa. Lagi pula kau kan harus mengantar Ino pulang saat itu" seru Sakura yang mengerti akan penyesalan Sasuke. Sasuke hanya tersenyum lembut namun manis ke arah Sakura. Hal itu justru membuat Sakura buru-buru menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya.
"Eh? Sai? Kenapa kita kesini?" tanya Ino yang heran kenapa dirinya di bawa ke sebuah perbukitan. "Ada yang ingin aku tunjukan padamu" jawab Sai sambil menarik Ino menaiki perbukitan tersebut.
"S-Sai, i-ini… indah sekali" seru Ino saat sampai di puncak perbukitan dan di hadapannya terdapat hamparan kota dengan hiasan lampu malam. "Kita duduk disini" ujar Sai yang duduk dibawah sebuah pohon rindang dan kemudian diikuti oleh Ino.
Hening.
"Lihat!" ujar Sai seraya menunjuk ke langit yang terlihat luas itu. Ino segera mengikuti arah tunjuk Sai. Terlihat banyak bintang yang jatuh. Membuat suasana langit menjadi indah dengan taburan bintang jatuh. "Wahh.. indah sekali!" ujar Ino berdecak kagum melihat pemandangan di hadapannya. "Ayo buat permohonan" ujar Sai. Dan mereka pun menutup mata dengan mengatupkan kedua telapak tangan mereka.
2 menit..
"Sudah!" seru Ino dan membuka matanya kembali. Sai ikut membuka matanya dan kembali menengadah ke arah langit. "Indah sekali ya?" ujar Ino sambil terus-menerus memandang langit. "Ya, sangat indah" seru Sai sambil menoleh ke arah Ino di sampingnya begitu juga Ino. Onyx bertemu Aquamarine. Saling menatap dalam kedua bola mata di hadapan mereka. Perlahan Sai mendekatkan wajahnya ke wajah Ino. Saat wajah mereka berjarak 5 cm, Sai menutup matanya begitu pun dengan Ino. Ino dapat merasakan hembusan nafas Sai yang memburu.
4 cm..
3 cm..
Saat wajah Sai berjarak 2 cm dari wajanya, Ino segera mengalihkan pandangannya kekanan sambil mendorong tubuh Sai pelan. Sai yang sadar segera membuka matanya dan menarik kembali tubuhnya seperti semula. "M-Maaf" ujarnya dengan nada sedikit menyesal. "Ya.. tidak apa-apa" gumam Ino. Jantungnya berdetak kencang dan nafasnya memburu.
Hening.
"Sebaiknya kita pulang. Sudah hampir malam. Lagi pula kita harus istirahat, 'kan?" tanya Ino dengan nada yang ia usahaka setenang mungkin. Sai hanya mengangguk dan segera bangkit dari duduknya yang diikuti oleh Ino.
"Sakura, sebaiknya kita pulang. Sudah hampir malam" ujar Sasuke yang kemudian bangkit dan mulai berjalan. "Ah, i-iya," seru Sakura yang tersadar dan berusaha bangkit. "AKH!" teriaknya saat ia berusaha berdiri dan berjalan. Sasuke langsung berbalik dan melihat Sakura yang masih terduduk dan memegangi lututnya. Terlihat tetesan air dan terdengar isakan tangis dari Sakura. Sasuke segera menghampiri sahabatnya itu dan berjongkok membelakangi Sakura. "A-Apa yang kau lakukan? hiks.." tanya Sakura yang diselingi isak tangis. "Kakimu kan sakit, biar aku menggendongmu" jawab Sasuke. Sakura terkejut. Wajahnya kembali merona. "T-Ta-Tapi-"
"Sudah, ayo!" ujar Sasuke. Mau tidak mau Sakura mulai melingkarkan tangannya ke leher Sasuke dan kedua kakinya di pegang oleh Sasuke. "Akh! S-Sasuke.. pelan-pelan" ujar Sakura meringis saat lukanya mengenai tangan Sasuke. "Maaf" ucap Sasuke dan mulai berjalan.
Hening.
Sakura hanya bisa terdiam di balik punggung Sasuke dengan rona wajah yang tak hilang.
DEG.. DEG.. DEG.. DEG..
'Arrggg! Kenapa jantungku tak bisa di ajak kompromi sih? Ayolah biasa saja berdetaknya' batin Sakura.
"Emm.. soal tadi, aku minta maaf ya" ujar Sai dengan perasaan bersalah. Saat ini mereka telah sampai di rumah Ino. "Sudah, tidak apa-apa" tukas Ino sambil tersenyum. Sai pun ikut tersenyum. "Ya sudah, aku pulang dulu" ujar Sai seraya memakai helmnya. "Malam" gumamnya kemudian melajukan motornya. Ino hanya tersenyum memandang punggung Sai yang perlahan menjauh dan kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan jantung yang masih berdetak kencang. "Tadaima" ujarnya saat memasuki rumahnya. "Kau sudah pulang?" tanya Ibu Ino dari ruang TV. Ino hanya mengangguk. "Aku ke kamar dulu ya, bu," ujarnya kemudian berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai 2.
BLAMM
Ia segera menutup pintunya dan membanting diri di atas kasurnya. Bayangan saat di perbukitan tadi masih terekam jelas dalam otaknya dan itu membuat wajahnya merona. "Sebaiknya aku membersihkan diri dulu, setelah itu baru tidur" ujarnya kemudian berjalan ke arah kamar mandinya.
"Sudah sampai, Sakura," ujar Sasuke.
"…"
"Sakura?" panggilnya.
"…"
Merasa di abaikan ia berusaha menengok ke belakang dan mendapati Sakura tertidur dengan pulas di bahunya. Sasuke tersenyum. "Kau pasti kelelahan" gumamnya sambil berjalan ke arah pintu rumah Sakura.
TOK TOK TOK
"Iya sebentar," terdengar respon dari dalam rumah. Dan tak lama kemudian muncullah ibu Sakura dari balik pintu. "Ah, Sasuke.. kenapa, Sakura tertidur seperti itu?" tanya Ibu Sakura. "Sepertinya dia kecapekan" jawab Sasuke. "Oh, kalau begitu tolong bawakan ke kamarnya ya, Sasuke" ujar ibu Sakura. Sasuke mengangguk kemudian membawa Sakura ke kamarnya yang berada di lantai 2.
Sasuke segera merebahkan Sakura ke ranjang tidurnya. "Saya mau langsung pulang saja, tante" ujar Sasuke. "Ah, iya, terima kasih ya, Sasuke" ujar ibu Sakura. Sasuke hanya mengangguk dan pamit pulang ke rumahnya yang berada tepat di samping rumah Sakura.
*MBFIML*
"Nghh" gumam Sakura menggelayut di atas kasurnya. Berusaha menepis sinar matahari yang menyentuh wajahnya. Perlahan ia membuka matanya. "Eh?" Sakura terheran mengapa ia bisa berada di ranjangnya. "Bukannya tadi malam aku tertidur di.. err.. gendongan Sasuke? Kok bisa di sini?" tanyanya. "Tadi malam Sasuke yang membawamu pulang" ujar ibu Sakura yang kini berada di daun pintu sambil berkacak pinggang. Sakura terkejut. 'Berarti dia yang membawaku kekamar?' batinnya. Wajahnya kembali merona. "Sudah cepat mandi.. nanti kau telat" ujar ibu Sakura kemudian berlalu ke arah dapur. Sakura segera berjalan ke arah kamar mandinya dan mulai bersih bersih.
"Pagi Sakura!" teriak Ino saat Sakura memasuki kelasnya. "Pagi Ino" ujar Sakura dan menempati kursinya. "Kenapa hari ini harus masuk sih? Aku masih capek tahu~" ujar Sakura yang menaruh kepalanya di atas meja. "Huh! Lagian hari inikan pulangnya cepat. Tidak ada pelajaran pula. Hanya sekedar masuk" desis Ino. "Hn" gumam Sakura yang masih menenggelamkan kepalanya di tumpukan tangannya.
"Pagi semua!" teriak Tenten yang baru saja datng bersama Hinata. "Ya, pagi~" gumam Sakura malas-malasan. "Kau kenapa? lemas sekali?" tanya Tenten. "Aku masih ngantuk" jawab Sakura. "Sudah dari pada ngantuk, bagaimana kalau kita ke kantin? Lagipula hari ini kan tidak ada jam masuk" ajak Tenten. "Ide bagus. Ayo Sakura!" ujar Ino semangat sambil menarik Sakura segera bangkit dari ngantuknya.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Tenten.
"Aku minum lemon tea saja" jawab Ino.
"A-Aku.. green tea" jawab Hinata.
"Aku sama dengan Hinata" jawab Sakura.
"Baiklah tunggu sebentar" ujar Tentenkemudian memesan minuman.
Hening.
"Hai, Hime!" teriak Naruto sambil melingkarkan tangan kanannya ke bahu Hinata. Sementara ia sendiri blushing berat. Sakura dan Ino saling berpandangan. "Hime?" gumam mereka bersamaan kemudian kembali menatap kedua makhluk di depannya. "Kenapa kau memanggilnya Hime, Naruto?" tanya Sakura. Naruto menyengir lebar semenatar Hinata semakin blushing bak kepiting rebus. "Haha.. kalian belum tahu ya? mulai hari ini kita resmi menjadi sepasang kekasih" ujar Naruto sambil tertawa. Ino dan Sakura melongo terkejut. "Itu.. benar, Hinata?" tanya Ino. Yang ditanya hanya mengangguk malu-malu. "Uaahh… selamat ya, Hinata!" teriak keduanya menyerbu Hinata. "Hei! Hei! Pelan-pelan!" teriak Naruto karena di dorong oleh kedua sahabat kekasihnya.
"Hai, kalian sedang apa?" tanya seseorang. Mereka semua menoleh ke arah suara. "S-Sai?" ucap Ino terkejut. Sai hanya tersenyum manis yang berhasil membuat wajah Ino blushing. "A-Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ino. "Memang kenapa? tidak boleh?" tanya Sai seraya mendudukan diri tepat di samping Ino. Entah mengapa setiap berada di dekat Sai, jantungnya selalu berdetak puluhan kali. Mata mereka saling bertemu pandang.
Sakura hanya bingung melihat kedua orang di depannya saling bertatapan. 'Ada apa dengan mereka?' batinnya. Tak sengaja matanya menangkap sesosok Sasuke yang tengah memperhatikan Sai dan Ino dan berjalan menghampiri meja tersebut.
"Ehm" dehemnya sedikit keras sehingga kedua manusia yang sedari tadi bertatap mata mengalihkan pandangannya. "Eh? S-Sasuke? S-Sejak kapan kau berada di situ?" tanya Ino yang terkejut melihat kekasihnya sudah berada di sampingnya. "Sejak tadi" jawab Sasuke tajam. Ino hanya ber-oh-ria dan kembali duduk seperti semula. Sementara Sasuke mendudukan diri tepat di samping Ino. Jadi tepatnya Ino di apit oleh dua cowok.
"Minuman datang!" teriak Tenten yang membawa 4 minuman dengan nampah. "Terima kasih, Tenten" ucap mereka bersamaan dan mulai meminum minuman mereka.
"Sasuke, kau mau?" tanya Ino sambil menyodorkan sedotan ke arah Sasuke. Tanpa basa-basi, Sasuke segera meminumnya. "Terima kasih" ujar Sasuke dingin. Ino hanya tersenyum. "Mmm.. Sai? Apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Ino pada Sai. "Ya, tentu saja" jawab Sai. "Apa kau menyukai bidang seni lukis?" tanya Ino. "Ya, sangat malah" jawab Sai. "Memang kenapa?" tanya Sai. "Tidak, hanya bertanya. Pantas saja saat di museum seni lukis kau yang paling mengerti dari semua makna lukisan yang terpajang" jawab Ino. Sai hanya tersenyum.
"Oh, ya nanti siang. Kau mau tidak mengantarku ke toko lukisan? Besok adalah ulang tahun ibuku. Kali saja kau tau lukisan apa yang cocok sebagai kado untuk ibuku" ujar Ino. "Tentu saja. Lagi pula aku ingin mencari inspirasi untuk bahan lukisanku" seru Sai. "Kau bisa melukis?" tanya Ino. Sai mengangguk. "Wah.. hebat sakali! Berarti kau seniman dong?" tanya Ino. Sai kembali mengangguk dengan senyum khasnya.
"Ehm" Merasa terasingkan, Sasuke kembali berdehem dangan kedua alis mengkerut. "Kalian sudah akrab?" tanyanya dingin. "Ya, sangat malah" jawab Ino sementara Sai mengangguk menyetujui jawaban Ino. Raut wajah Sasuke berubah menjadi raut wajah tidak suka. Sakura yang melihat raut wajah itu hanya terdiam memperhatikan ketiga orang di depannya.
"Eh, Hime.. bagaimana kalau kita ke taman belakang? Disana banyak bunga lavender yang baru mekar, lho. Kau pasti suka" ujar Naruto pada kekasihnya karena merasa suasana sudah tidak nyaman lagi. Hinata hanya mengangguk malu dengan semburat merah di kedua pipi mulus nan putihnya. Naruto segera menarik Hinata dan berjalan ke arah taman belakang. "Daaa~ semua!" teriak Naruto pada teman-temannya yang masih berada di meja kantin.
"Oh ya, Sai, kau mau tidak mengajariku bagaimana cara melukis?" tanya Ino. Sai tersenyum. "Kalau kau berminat, aku mau mengajarimu" jawab Sai. "Yeaa! Terima kasih, Sai!" teriak Ino senang. Sasuke yang merasa kesal segera bangkit dari duduknya dengan kasar. "Sasuke, kau mau kemana?" tanya Ino dengan santainya. "Kemana saja" jawab Sasuke tajam dan kembali berjalan.
"Sakura, ada apa dengan Sasuke?" tanya Tenten pada Sakura di sampingnya dengan berbisik. Sakura menaikan kedua bahunya. "Entahlah, mungkin aku harus menemaninya. Mungkin saja ia mau bercerita" jawab Sakura kemudian bangkit dan pergi untuk mencari Sasuke yang telah menghilang dari beberapa menit yang lalu.
"Sasuke mana ya?" gumamnya sambil terus mencari sesosok raven di pandangan matanya. "Apa dia di atap ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Aku coba deh" ujarnya kemudian berjalan menuju atap.
"Ah, itu dia" gumamnya sesampainya di atap dan melihat sahabatnya sedang duduk di salah satu kursi panjang disana dan memandang hamparan kota di pandangannya. "Kau sedang apa disini?" tanya Sakura menghampiri Sasuke kemudian mendudukan diri di samping Sasuke. "Hanya mencari ketenangan" jawab Sasuke datar. Sakura hanya mengangguk mengerti.
Hening.
"Err.. Sasuke, kenapa.. kau meninggalkan kantin?" tanya Sakura hati-hati. "Aku tidak suka dengan pemandangan disana. Menyakitkan" jawabnya dengan nada yang dingin. "Mmm.. apa karena Ino akrab dengan.. Sai?" tanya Sakura dengan nada yang masih hati-hati.
"…"
Merasa pertanyaannya diabaikan Sakura berusaha rileks dan mencoba kembali bertanya. "Apa kau cemburu?" tanyanya dengan nada teramat hati-hati. Sasuke menoleh dan menatap tajam emerald Sakura. "Sangat" jawabnya kemudian kembali memandang ke depan. Sakura yang sedikit terhenyak saat Sasuke menatap matanya tajam kembali menghirup nafas dan membuangkannya perlahan namun panjang. "Kalau kau mau, cerita saja padaku. Aku kan sahabatmu" ujar Sakura berusaha tenang.
Sasuke terdiam sejenak. Menutup kedua matanya. "Kau tahu? Aku menyukai Ino?" tanya Sasuke tanpa membuka matanya. "Ya" jawab Sakura. "Dan kau tahu kan aku ini kekasihnya?" tanya Sasuke lagi. "Aa" jawab sakura. "Apa kau bisa merasakan bagaimana jika orang yang kau sukai akrab dengan orang lain? Apa lagi orang yang kau sukai adalah, kekasihmu" tanya Sasuke dengan mata yang masih tertutup. 'Ya, Sasuke. Aku bisa merasakannya. Bahkan merasakan lebih dari apa yang kau tanya'
"Tidak" jawab Sakura yang sangat berbanding terbalik dengan hatinya. "Sakit. Sakit, Sakura. Aku memang tidak pernah melarang ia berteman dengan siapapun. Tapi.. aku merasa maksud mereka bukan berteman akrab" ujar Sasuke yang mulai membuka matanya. "Apa kau bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat kekasih kita saling bertatapan dengan pria lain?" tanya Sasuke. 'Ya, Sasuke. Bahkan aku merasakan lebih dari apa yang kau lihat. Melihat orang yang kita cintai berciuman tepat di hadapnnya'
"Tidak," jawab Sakura lagi-lagi berbeda dengan kata hatinya. Ia menunduk. Menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan. Berusaha agar ia tidak menangis di saat yang tidak diharuskan.
"Sakit, Sakura. Itulah yang aku rasakan saat ini. Kau tahu? sekarang Ino lebih akrab dengan Sai di bandingkan aku, kekasihnya,"
"…"
"Aku tidak mengerti dengannya. Apa dia sudah tidak menyukaiku lagi?" tanya Sasuke pada diri sendiri.
Sakura yang kini bisa mengontrol emosinya menengadah. "Aku yakin, Sasuke. Sebenarnya dia tidak seperti itu. Kau jangan terikat oleh emosi. Semua ini wajar" ujar Sakura sambil mengelus punggung Sasuke. Berusaha menenangkan sahabatnya. Sasuke menoleh dan tersenyum lembut.
"Sakura," panggil Sasuke. "Ya" respon Sakura. "Terima kasih," ujar Sasuke. Sakura heran dengan ucapan terima kasih Sakura. Ia menaikan sebelah alisnya. "Untuk?" tanyanya. "Karena kau telah menjadi sahabatku sejak kecil" jawab Sasuke. Sakura terhenyak sedih. Namun ia segera menyamarkannya dengan senyum serta anggukan. "Sama-sama, Sasuke" ujar Sakura. "Baiklah, aku ke kelas dulu. Terima kasih sudah mau mendengarkan isi hatiku" ujar Sasuke kemudian beranjak dari duduknya lalu pergi menuju kelasnya.
Saat sosok Sasuke sudah hilang dari pandangannya, Sakura menunduk sedih. Ia merasa sangat egois karena telah mencintai Sasuke. Karena Sampai kapanpun, Sasuke selalu menganggapnya sahabat. Tidak lebih. Dan selamanya akan seperti itu jika ia tidak mengetahui perasaan Sakura sebenarnya.
Sayup-sayup terdengar suara Anko-sensei yang akan membagikan lembar jawaban saat study tour kemarin. Sakura manarik nafas dalan dan menghembuskannya perlahan kemudian bangkit dan berjalan ke arah kelasnya.
"Sakura, kau dari mana saja?" tanya Tenten. "Tadi, aku ke atap sebentar menemani Sasuke" jawab Sakura. "Bagaimana? Apa dia cerita sesuatu padamu?" tanya Tenten. "Ya.. dia bilang, dia cemburu dengan keakraban Ino dan Sai" jawab Sakura. Tenten hanya ber-oh saja. 'Apa aku cerita pada Gaara ya?' batinnya. Detik kemudian ia mengeluarkan Hp dari tasnya dan mulai mengetik sebuah pesan kepada Gaara.
'Gaara, ada yang ingin aku ceritakan padamu. Kita ketemu ditaman'
Setelah selesai, ia kemudian menekan tombol send dan pesan itu pun terkirim ke tujuannya. Selang beberapa menit, Sakura meresakan Hpnya bergetar. Segera ia membuka balasan dari Gaara.
'Oke. Siap bos! :)'
Sakura tertawa kecil melihat balasan dari Gaara dan segera memasukan kembali Hpnya ke dalam tas.
"Hai sudah menunggu lama?" tanya Gaara yang baru saja datang di taman. "Tidak, kira-kira 5 menit" jawab Sakura sambil tersenyum. "Itu sama saja" ujar Gaara kemudian mendudukan diri di samping Sakura. "Memang kau mau cerita apa?" tanya Gaara. Sakura terdiam kemudian menunduk sedih. Gaara yang mengerti hanya tersenyum maklum. "Tentang Sasuke? sudah ceritakan saja" ujar Gaara. Sakura menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan agar ia bisa lebih tenang. "Sepertinya.. Sasuke benar-benar menyukai Ino" ujar Sakura dengan nada sedih. Gaara yang tidak mengerti mengkerutkan dahinya. "Maksudmu?" tanya Gaara.
"Tadi saat di kantin, Ino dan Sai terlihat akrab dan.. itu membuat Sasuke kesal dan pergi ke atap. Aku segera menyusulnya dan menyuruhnya menceritakan isi hatinya padaku. Dia bilang…" Sakura menundukan kepalanya kembali.
"Dia cemburu" ujarnya dengan isakan tangis yang mulai terdengar. "Itu berarti Sasuke memang menyukai Ino" lanjut Sakura diikuti oleh isak tangisnya. Gaara hanya mengeluk punggungnya berniat menenangkannya. "Dan kau tahu, apa yang di bilang padaku?" tanya Sakura. Gaara hanya diam mendengarkan Sakura karena menurutnya pertanyaan itu memang tidak untuk di jawab.
"Dia bilang terima kasih karena aku telah menjadi sahabatnya sejak kecil, hiks.. Aku merasa sangat egois saat itu, Gaara..hiks," ujar Sakura dengan air mata yang mulai berjatuhan ke pangkuannya. Gaara masih mengelus punggung Sakura. Membiarkannya mengeluarkan isi hatinya. "Dia telah mempercayaiku sebagai sahabatnya sejak kecil, hiks.. dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Aku merasa sangat egois karena telah merusak kepercayaannya hanya karena perasaanku yang entah kenapa harus ada, hiks. Walaupun ia tidak mengetahui tentang perasaanku, tapi aku merasa telah mengecewakannya, hiks. Aku benci pada diriku, Gaara, hiks." Ujar Sakura panjang kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis.
Gaara yang iba langsung menarik Sakura ke pelukannya membiarkannya menangis di pelukannya. "Kau jangan merasa egois, Sakura. Aku kan sudah pernah bilang padamu, kita tidak tahu siapa cinta kita. Aku mengerti perasaanmu sekarang. Tapi kau jangan menyesali dan membenci dirimu seperti ini. Cinta adalah anugerah dari Tuhan, Sakura" ucap Gaara. "Hiks, hiks.. Huhuhuhuhu" Gaara mengeratkan pelukannya saat suara tangis Sakura pecah. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ia juga sedih akan keadaan Sakura. Bahkan raut wajahnya pun berkerut sedih.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka dengan pandangan yang amat tidak suka. Seseorang dengan rambut emonya berdiri memperhatikan pemandangan di hadapannya. Urat-urat kesal bermunculan di lekukan wajah tampannya.
"Sakura" gumamnya dengan geram dan kesal dan segera bebalik menaiki motornya dan pergi.
TBC
gimana? bukankah semakin gaje? *pundung di bawah bantal*
kemungkinan fic ini akan selesai pada chpter 6..
Uchiharu 'nhiela Sasusaku : haha.. iya nih ksian sakunya nangis trus.. xita jg sneng pas bkin gaasakunya.. biarin sasu ngrasa th gmna skitnya saku.. iya nih alurnya rada kcepetan.. *nangis gaje* ahaha mksh.. review lg ya!
Maya : mksh.. aduh xita jdi malu *plak* review lg ya.. XD
Rizuka Hanayuuki : mm.. mugkin di chpter dpan akan di bhas tntang perasaan sasu ke saku.. ttp ikutin alur nan gaje ini ya.. review lg!
Hikari Asuna-Chan : suka pair NaruHina ya? ini sudh xita tmbhin Naruhinanya.. tpi maaf klo msh sedikit krena mreka cma pengisi pair lain aja.. review lg..
UchiHaruno SasuSaku : Aaaaa~ #plak# mksh krena Nee-chan udh mau mereview fic gaje xita.. sama xita g ngenes bkinnya.. #hiks# oke! gmna apa di chpter ini sasusaku nya sdh pas? review lg ya nee-chan!
uchiha vio-chan : Ya ampun cinta segi berapa itu ya? haha.. tpi di chpter akhir piringnya gk ngacak gtu kok.. hehe ikutin terus ya.. tau th sasu geblek bngt! msa mslah kya gtu gk tau sih #dichidori#
threedeathangel : ini udh update.. review lg ya.. mungkin gaasaku dan sasusaku di chpter ini seimbang.. hehe
CherryBlossom Sasuke : waduhh.. pake ganjalan? pke plester aja biar melek #digaplok Sasu FC# tpi chpter ini adalh chpter ksukaan xita.. haha.. krna ada sasusakunya so sweatttt.. review lg ya..
Harun0nyi : haha.. ksian ya sakunya.. #hiks# ~lha, yg bkin siapa?*plak* mungkin akan slesai di chpter 6.. jdi chpter slanjutnya adalh chpter ending.. ikutin terus ya..
rierye : Mm.. pair ending msh di rahasiakan *nampang muka sok misterius* #plak# ikutin terus ceritanya ya..
me : oke ini xita sudh update.. ikutin terus ya.. review lg!
4ntk4-ch4n : ya.. ceritanya memang rumit.. ckckckc haha.. review lg ya.. XD
Chindra : hadu.. hbt ya saku bsa sbr menjalani smuanya.. hehe.. mksh fic gaje xita udh dblang bgus.. review lg ya
blue sakuchan : Mm.. sasu cmburunya dkit krena akan ada kjutan di chpter tersakhir. mau tahu? okis saja sndiri! #ditendang# ikutin terus ya..
Cahya Taro Misaki : ini xita udh update.. review lg ya..
satulisin12 : Mm miss typo apa ya? #plak# mklum sya author bru.. hehe XD iya nihh alurnya kcepetan.. tpi smoga chpter ini tidak.. yosh.. review lg ya..
Winterblossom Concrit Team : Aaahhh.. terima kasih sudah mau mereview lg #balas melambai# terima kasih atas sarannya.. smga di chptr ini xita bsa lbh baik.. haduuhh jgn nangis cup, cup #nyodorin keset, digaplok ke pelukan sasu# reviwe lg yaa...
yosh.. terima kasih msukannya.. xita tnggu reviewnya lg dari pra reader maupun pra senpai..
mohon
R
E
V
I
E
W
