KP: Aaah… pas nulis chapter ini, aku jadi pengen punya adek kayaq Naruto deh… (*cuma punya 1 sodara. Itu pun big brother, bukan little brother. sigh~*)
~Oh My Brother~
.
.
"Huweeeee! Kyuu nakaaaal!" kedengaran suara tangis Namikaze bungsu dari ruang tengah. Dia baru aja ditendang ama kakaknya, di pinggang. "Diaaaaam! Elo tuh udah 6 tahun! Segitu aja nangis! Dasar cengeng!" bentak Kyuubi, sambil mungut Gundam Exia-nya yang berantakan karna dimainin ama adeknya. Tadi dia tinggal bentar ke toilet. Gitu balik, hasil rakitannya malah pada lepas lagi. Dia udah makan waktu berjam-jam buat ngerakit tuh mainan. Makanya dia kesal gitu tau 'jerih payahnya' jadi ancur gini. Dua orang maid yang tadi lagi ngebersihin debu di dekat ruang tsb, menghampiri n berusaha nenangin Naruto. Tapi dia masih nangis juga.
Suara ribut-ribut di minggu pagi itu bikin Kushina yang tadinya lagi olahraga ringan ngangkat dumbbell, datang menghampiri mereka. Dia make baju olahraga kayaq biasa, dengan sweatpant merah n atasan kaos lengan pendek putih. Rambut merahnya juga diiket satu kebelakang.
Ngeliat Naruto yang nangis, dia jadi marah. "Ninetails! Elo apain lagi adek loe!" marahnya, meluk n membelai rambut Naruto. "Kenapa sih selalu aja gue yang disalahin!" Kyuubi nggak mau terima. "Dia duluan yang mulai!" tunjuknya ke sang adik.
"Mana mungkin Naru yang duluan? Dia bukan anak nakal!"
"Tapi beneran koq bukan gue!"
"Jangan bohong! Naru nggak pernah bikin masalah! Nggak kayaq elo yang selalu bikin masalah!" Kushina yang barusan ngomong, jadi tertegun ngeliat ekspresi sakit di wajah anak sulungnya.
'PRAK!'
Kyuubi ngebanting mainannya yang berantakan, jadi makin ancur. Dia lalu menyepak beberapa parts Gundam di dekat kakinya ke arah Naruto n Kushina, kesal. "Gue benci Naruto! Gue benci Kushina!" teriaknya sambil balik badan terus lari sambil mecahin barang-barang lain di sekitarnya. Kayaq lampu hias, guci, aquarium bundar, etc. Kedengaran bunyi 'PRANG! PRANG!' beruntun karnanya.
Kushina jadi kembali marah. Lebih marah dari yang tadi.
"NINETAILS!"
KucingPerak
Malamnya…
"Jadi… habis kamu pukul pantatnya, lalu kamu ngurung dia di locker sapu?" ulang Minato, terperangah. Dia baru aja pulang syuting. "Kushi-chan… itu agak keterlaluan, kan?"
"Anak macam dia nggak bisa dididik dengan lembut, tau." sahut Kushina, sambil ngetik laporan kasus di laptopnya. Sebuah laporan kasus pembunuhan yang lagi-lagi berhasil dia pecahkan. Terdengar bunyi 'kruk, kruk, kruk' cepat dari permen loli cola yang digigitnya dengan kesal.
"Memangnya kamu pernah nyoba…?"
"…?"
"…ngedidik Kyuu-chan dengan lembut…?"
"…"
"Belum pernah dicoba, kan?"
"Itu nggak mungkin."
"Kalo mau dicoba bisa aja, koq. Buktinya kamu bisa lembut kalo ama Naruto…" tegur Minato lagi, senyum. "Naruto sih beda…" gerutu Kushina, kecil.
"Beda apanya? Bukannya mereka berdua sama-sama anak kita?"
"Tapi…" Kushina memutar kursi putarnya supaya bisa menghadap sang suami di belakang. "…Naruto tuh anak yang baik, imut, manis, duuuh~. Gak ku-ku~…" Minato jadi sweatdrop ngeliat istri tomboynya ini yang lagi-lagi berubah jadi girly-mode kalo ngomongin si bungsu. "Beda jauh ama kakaknya yang nakal, nggak imut, n sama sekali nggak ada manis-manisnya itu." Sambung Kushina lagi, raut mukanya berubah sangar.
"Oh, jadi… kamu nggak sayang ama Kyuu-chan?" Minato angkat alis. "Hmm… apa sebaiknya dia dimasukkin sekolah khusus anak nakal yang ada asramanya itu aja, ya…?" usulnya, sambil ngelus dagunya yang nggak berjanggut. "Kudengar sih para pengajarnya disiplin n keras banget dibanding guru-guru sekolah biasa. N… ntar kitanya nggak bakal bisa sering ketemu ama dia. Mungkin setahun cuma dua kali…"
Kushina melotot. "Mana mungkin gue mau nitipin dia di sekolah macam itu! Ogah! Gue sayang banget ama Ninetails! Nggak mungkin gue-!" kalimat wanita tsb terputus gitu ngeliat senyum usil suaminya. Kushina jadi blushing. Si-sialan… gue kejebak…
"Tuh kan, tuh kaaan~?" Minato noel-noel pipi istrinya, becanda. "Ternyata Kushi-chan bisa ngaku sayang juga ama Kyuu-chan. Kalo anak itu denger, pasti senang, deh. Coba kamu bilang kayaq gitu di depan dia sesekali…"
"B-Bodoh! Mana mungkin gue mau ngucapin hal memalukan itu di depannya!" tepis Kushina, cemberut. Tapi masih blushing. Minato mencium pipi yang merona itu, dua detik. "Bukan hal yang memalukan, koq. Coba deh kamu bilang ke dia kalo kamu sayang. Mungkin selama ini Kyuu-chan bandel karna ngerasa kamu pilih kasih."
"Ah, paling dia bandel karna bokapnya jarang di rumah." Balas Kushina, ketus. Minato cuman tertawa perih. Yeah, doi emang jarang di rumah karna sibuk syuting. Kalo nggak pulang malam, ya bisa sampe nggak pulang sama sekali. Jarang banget dia bisa seharian ada di rumah. Tapi, kalo waktu luang itu ada, dia suka manfaatinnya dengan ngajakin Naruto n Kyuubi main. Walau selalu ditolak ama Kyuubi. Soalnya anak sulungnya ini nggak suka ama dia sih! Kyuubi nganggep tipe cowok takut istri macam Minato tuh cowok payah!
Sebenernya Kushina sendiri juga jarang di rumah. Tapi, gak sejarang Minato.
"Kushi-chan…" Minato merangkul pundak istrinya yang masih duduk di kursi. "Padahal kamu kan sering mecahin kasus orang lain? Ternyata bisa gegabah juga pas ngambil kesimpulan dalam 'kasus' anak sendiri, ya…?"
"Gegabah? Elo yang baru datang mana tahu soal itu?"
"Aku emang nggak tau… " Minato tersenyum sekali lagi. "Tapi… saat melewati gudang sebelum menuju ke kamar ini… aku sempet ngedenger keributan kecil dari sana… "
"…?"
"Memangnya menurutmu kenapa pas datang tadi aku langsung nanyain soal kenakalan Kyuu-chan hari ini, hm…?"
"Karna elo denger suara Ninetails yang ribut-ribut dikurung dalam locker…?" sahut Kushina, nggak minat.
"Tapi, dia bukan anak yang suka ribut minta dikeluarin kayaq gitu. Kamu tau, kan? Dia anti memohon maupun minta tolong…?" Minato ngelepasin rangkulannya, lembut. "Dulu dia juga pernah berkali-kali dikurung di sana, tapi nggak pernah berhasil meski digedor dari dalam juga. Dia bukan anak yang suka ngelakuin hal yang sia-sia…"
Kushina terdiam. Muncul ekspresi oh-iya-ya dari wajahnya. "Jadi…?"
"Jadi… keributan itu bukan Kyuu-chan yang bikin…" Minato meraih pergelangan tangan istrinya, lalu mengajaknya supaya ikut mengiringi langkahnya ke gudang, tempat locker sapu di mana anak sulungnya dikurung.
KucingPerak
'Crek! Crek!'
Naruto berusaha nyongkel lubang kunci locker dengan ujung gunting kertas yang dibawanya dari kamar. Di dekat kaki kecilnya berserakan beberapa benda lain kayaq penggaris, bolpoin, pensil, peniti, jarum, etcetera.
"Udahlah. Loe tidur aja sana. Loe nggak bakalan bisa ngebuka kuncinya segampang itu, tau." Ucap kakaknya dari dalam locker, ketus.
"Tapi… tapi… tapi Naru nggak mau Kyuu dikurung…"
"Che. Emangnya loe pikir ini gara-gara siapa?"
"Maaf…" Ucap bocah 6 tahun itu, capek. Tangannya sampe memerah gara-gara dari tadi dipake terus buat nyongkel lubang kunci.
'Crek! Crek!'
Naruto terus-terusan berusaha ngebukanya. Tiga jam sudah dia berusaha nyongkel, tapi gak berhasil juga. Kyuubi cuma duduk bertekuk di dalam locker yang sempit. Di situ gelap. Cuma ada 3 garis ventilasi angin di bagian pintu. Itu pun tinggi banget buat dia jangkau.
Setelah kurang lebih satu menit kemudian tanpa hasil, Kyuubi akhirnya ngomong. "Naruto. Masukin gunting n peniti yang loe bawa ke sini lewat ventilasi locker. Bisa kan?"
"Eh? kenapa?"
"Ya buat gue keluar, lah… . Biar gue yang nyongkel dari dalam…"
"Umm… tapi ventilasinya ketinggian…" Naruto mengernyitkan keningnya ngeliat ke lubang angin locker yang dimaksud. "Duh! Pake otak dong, dodol! Loe kan bisa make kursi or semacamnya di sekitar sini?" desis Kyuubi, kesel. Adeknya lalu manggut-manggut n toleh kanan kiri, nyari benda yang kira-kira bisa dipake buat pijakan.
Ada.
Di sudut gudang tsb terdapat sebuah tempat sampah plastik bertutup yang ada rodanya di bawah. Warnanya biru gelap. Lebarnya kurang lebih mirip Mirip ama tempat sampah dorong yang biasanya dipake ama Mas-mas tukang janitor di kampusnya author (hoe?). Tempat sampah itu cukup gede n kuat buat dipijak ama anak kecil yang ringan macam Naruto.
Gak lama kemudian, Naruto pun menarik tempat sampah beroda yang lebih tinggi darinya itu hingga berada di depan locker tempat Kyuubi dikurung. Dia lalu melompat-lompat buat naik ke atasnya, tapi pegangannya licin. Jadi susah, deh.
Ngedenger suara-suara lompatan itu, sang kakak jadi heran. "Ngapain loe?"
"Tempat sampahnya… ngh~ … ketinggian juga, nih..." Naruto nyoba naik sekali lagi, tapi gagal. Kyuubi menepuk dahinya sendiri, gak habis pikir. "Ya ubah dong sudutnya sampe loe bisa naik, bego!" desisnya, keras.
"Oh iya…?" Bocah blonde tadi menepukkan kepalan kanannya ke telapak tangan kiri. Dia lalu ngejatuhin tempat sampah tsb sampe berubah jadi horizontal, gak vertical kayaq tadi. Gak lama kemudian, Naruto naik. Kedua kakinya rada berjinjit buat nambahin tinggi supaya tangannya berhasil masukin benda-benda yang diminta kakaknya tadi.
Akhirnya… kira-kira kurang lebih lima belas menit kemudian, Kyuubi berhasil ngebuka pintu locker dari dalam dengan benda-benda sederhana tadi.
"Horeeee! Kyuu bebaaas!" Naruto langsung menerjangnya hingga Kyuubi jatoh ke belakang. Nyaris masuk locker lagi. Untung aja bocah bermata merah tadi refleks merentangkan tangannya buat pegangan ke kedua sisi locker yang terbuka.
"Kampret loe, Naruto! Awas aja kalo kepala gue yang berharga sampe jatoh n kenapa-napa!" Kyuubi menegakkan posisinya yang hampir terbaring itu buat duduk. "Kalo otak gue sampe ngalami kelainan, gue cekek loe!"
Naruto masih meluk dada bocah kelas lima tsb. Punggungnya bergetar. "Oey… kenapa loe?" tanya Namikaze sulung, heran. Naruto ngangkat mukanya yang tadi terbenam di kaos ungu kehitaman milik sang kakak. Big Blue eyes-nya keliatan berkaca-kaca, nangis. Kyuubi jadi nelen ludah.
"Maaf… Naru nggak bilang ke Mama kalo Naru duluan yang bikin Kyuu marah." Akunya, terisak. "Naru takut ama Mama yang marah…"
"…"
"Kyuu hebat, ya? Nggak pernah nangis meski sering dimarahin..."
"…"
Jeda sejenak.
"Ya eyalah… gue gitu loh…" Kyuubi nyombong. Dia lalu tersenyum, keren. Waah? Senyuman Kyuu mirip ama Papa kalo lagi main film. Naruto membatin, kagum. Kalo main film, Minato emang sering dapet peran tokoh utama yang cool n keren. Beda jauh ama sifat aslinya yang kelewat baik hati n kadang/seringkali rada kekanakan. Sikap bijaknya itu cuman kadang-kadang aja keluar.
"Jangan nangis. Elo cowok, kan?" Kyuubi menepuk-nepuk kedua pipi si blondie kecil itu, dua kali. "Cowok sejati dilarang nangis di depan orang lain!" tegasnya, serius. Naruto berkedip, air matanya tehenti. "Ayo berdiri, jangan loyo gini!" sambung kakaknya lagi, bikin dia otomatis bangkit berdiri. Trus ngehapus sisa air matanya dengan punggung tangan.
Setelah adeknya menyingkir dari pangkuannya, Kyuubi pun berdiri. "Mulai sekarang… elo bakal gue ajarin supaya jadi cowok sejati."
"Eh?" Naruto miringin kepalanya, heran. "Tapi, bukannya Naru emang udah cowok sejati…?"
"Belum!" Tuding Kyuubi, tangan satunya di pinggang. "Seorang cowok sejati nggak pake namanya sendiri buat kata ganti yang ngacu ama dirinya. Pake kata 'gue'!"
"Eeeh…? Nggak mau, ah."
Kakaknya langsung nge-Death Glare dia.
"Uh… i-iya deh. Naru ngerti…"
Dahi Kyuubi berkedut ngedengernya. "Udah gue bilang jangan pake kata ganti nama loe gitu. Terlalu imut! Yang macho, dong! Macho! Elo cowok bukan, sih!" tanyanya, mendekat sambil melotot. Naruto jadi agak tersinggung. "Cowok, koq!" sahutnya, sambil ngepalin kedua tangan. Kesal.
"Kalo gitu pake kata 'gue'. Ayo bilang 'Gue ngerti'!"
"O-ou … 'gue ngerti'…" ucap bocah pirang tadi, ngangguk. "Aargh! Letoy! Yang lebih tegas, dong!" Kyuubi menyepak dikit sebelah kaki adeknya, sebel.
"Gue ngerti!" ulang Naruto, lebih keras. Sang kakak manggut-manggut. "Gitu lebih bagus." Dia lalu jalan ngelilingin adeknya sambil merhatiin tuh anak dari ujung rambut sampe ujung kaki/selop rumah. Kyuubi pun kembali berdiri di hadapannya. Kedua tangannya bertolak pinggang.
"Kulit loe terlalu mulus n putih kayaq anak cewek. Kurang jantan!" Protesnya. Emang bener sih. Alamiahnya orang berambut pirang n bermata biru murni kan emang selalu berkulit putih dari lahir?. "Mulai besok elo musti sering-sering main di luar, biar warnanya gelapan lagi!"
"Hah? Emangnya di luar bisa main apa?" Ekspresi Naruto keliatan kurang setuju. Selama ini dia emang lebih sering main permainan yang bisa dimainin di rumah. Kayaq mobil-mobilan or pesawat-pesawatan yang dikendalikan lewat remote-control, kereta api, nyusun balok, ngegambar n mewarnai, etc. (*dia belum bisa main PS*)
"Di luar juga banyak permainan lain, tau! Ntar gue ajarin basket n sepak bola, deh!"
"Um." Naruto ngangguk. Dia emang pernah denger n baca permainan outdoor macam itu. Tapi belum pernah mainin. Selama ini kalo ada waktu istirahat di sekolah, dia sukanya baca buku bareng ama sobat sejak TKnya, Akamizu Gaara. Yah, gak cuman baca, sih. Kadang mereka suka ngobrol juga. Walau yang banyakan ngobrol tuh si Naruto. Coz, Gaara termasuk anak yang pendiam. Meski gitu, keduanya akrab banget n di sekolah ke mana-mana selalu berdua. Kalo udah di sana, mereka bagai anak kembar yang gak bisa dipisahin aja, deh. Apalagi tinggi badan mereka juga sama.
"Oh ya… elo juga musti ikutan klub Taekwondo si sekolah besok." Tambah Kyuubi, bikin adeknya terperangah. "Tapi, Kyuu… Naru-eh-'gue' nggak suka kekerasan…" keluhnya. "Heh! Kadang-kadang yang namaya Martial Arts itu perlu, tau!" Sela bocah kelas lima tsb. "Intinya bukan kekerasan or cuman bela diri, tapi buat ngebasmi musuh n ngelindungi orang-orang lemah. Wah, elo pasti belum pernah nonton Kamen Rider or Power Rangers, neh."
"Apa itu?" Naruto miringin kepalanya lagi, dahi mengernyit. Tontonannya si Naruto mah gak jauh-jauh dari Mickey Mouse, Donald Duck, Blue's Clues, Dora the explorer, sampe Teletubbies.
"Duh, ntar gue ajak nonton deh kalo filmnya lagi main." Sahut Kyuubi, males. Biasanya kalo tuh film lagi main, doi emang suka nonton di kamarnya sendiri. Naruto juga jarang main ke kamarnya. So nggak tau, deh.
Kyuubi ngehela nafas, panjang. Kadang ngomong ama adeknya yang masih terlalu polos gini bikin capek juga. Walau dia sendiri gak bisa dibilang bener-bener udah mateng, sih. Masih anak-anak juga.
"Ano… "
"What…" tanya sang kakak, datar. Rasanya sekarang dia mo balik ke kamarnya aja. Ngantuk. Bocah bermata biru di depannya keliatan lagi ngerogoh sesuatu dari saku celana selututnya. Sebuah kertas yang terlipat. Dia lalu nyerahin kertas tsb ke Mini-Minato, alias Kyuubi.
Kyuubi nerima kertas itu, ketus. Ngantuk, sih! Tapi, rasa kantuknya langsung ilang seketika pas ngeliat isi kertas tsb. Lebih tepatnya: ngeliat gambar yang ada di kertas tsb.
Sebuah gambar Gundam Exia hasil karya Naruto! Gambar itu digambar di kertas HVS A4 pake pensil 2B n diwarnai pake crayon.
Bukan gambar yang bisa dibilang bagus, sih. Tapi, lumayan lah buat ukuran anak berusia 6 tahun. "…Naru-eh-'gue' … nggak bisa ngerakitin Gundamnya Kyuu. Jadi… Na-um-'gue' cuman bisa ngasih ini…" ucap Naruto, agak nunduk. Nggak ngeliat muka kakaknya, rada takut. "Maaf…"
"…"
"…"
Jeda.
Tiba-tiba Naruto ngerasa ada tangan yang nepuk-nepuk kepalanya. Mata birunya pun ngelirik ke si pemilik tangan. "Kyuu…?"
Kyuubi kembali narik tangannya, cepet. "U-Udah deh. Lupain aja." Katanya, sambil jalan ngeloyor keluar gudang. "Eh? Jadi… Kyuu udah maafin Na-erh-'gue'?" kejar Naruto, berbinar. Biasanya tuh anak susah maafin orang sih!. Pasti dikerjain alias dibalas dua kali lipat dulu deh, baru bisa bener-bener ngasih maaf.
"Yeah… " Kyuubi mempercepat jalannya, nggak tau kenapa dia jadi ngerasa malu.
"Oiya…" Naruto masih ngejar dia. "Besok Gaara bakal nginap di sini lagi, lho." Katanya, ceria. "Soalnya Selasa kan tanggal merah? Libur." Sobat berambut merah n bermata aquamarinenya itu emang bisa dibilang udah sering banget nginap di kediaman Namikaze. Meski semua itu lebih karna Narutonya sendiri yang ngajak n kadang setengah memaksa. Keluarga Akamizu termasuk keluarga yang menengah ke bawah. Tapi, Naruto n keluarganya menyambut dia dengan hangat. Emang pada dasarnya keluarga Namikaze emang nggak peduli ama yang namanya status sosial, koq.
Ngedenger Gaara yang besok mau dateng, Kyuubi jadi menyeringai. "Bagus. Besok gue ajak dia main catur." Katanya, semangat. Meski Gaara sama ama adeknya, 4 tahun lebih muda, tapi otaknya itu loh… luar biasa. Tuh otak nyaris nyaingin Kyuubi yang kelas 5! Meski Kyuubi belum pernah kalah main catur dengannya, tapi dia sempet berkali-kali terdesak. Kalo main ama Gaara, rasanya seru!
"Aaah? Jangan catur mulu, dong. Ayo mainin game yang bisa dimainin 3 orang…" rengek Naruto, ngegoyang-goyangin lengan kakaknya yang terus jalan.
"Hoy! Cowok sejati nggak boleh ngerengek-rengek kayaq gitu! Pasang sikap yang lebih sangar!"
"O-ou!"
.
.
Sementara itu dari balik tembok sudut lorong ruangan…
Minato ngelepasin Kushina yang sedari tadi dia tahanin karna sempet berkali-kali mo keluar dari tempat persembunyian n nyaris nerjang Kyuubi. Why? Habisnya tadi tuh anak 'ngeracunin' Naruto, sih. Disuruh pake bahasa elo-gue lah, disuruh nggelapin kulit lah, disuruh ikut Taekwondo lah, etc. Bagi Kushina, Naruto itu bagaikan boneka yang manis. Nggak perlu macho-machoan segala.
Tapi tadi sang suami sempet ngasih nasehat: Biarin aja. Kadang-kadang obrolan antar adek-kakak macam itu emang diperluin, Kushi-chan. Asal ntar ditanamin juga nilai-nilai positif dari kita sebagai pihak dewasa. Ntar lama-lama Naru-chan juga bakal bisa memilah sendiri mana yang bener-bener baik n benar. Lagian, biar gimana pun manis or imutnya dia saat ini, Naru-chan itu cowok. Bakal tiba saatnya dia nanti tumbuh jadi lebih jantan, kan?
"Ternyata… yang bikin masalah duluan tuh… Naru-chan, ya…?" ucap Minato, senyum. Mereka tadi ngintip semua kejadian sejak Naruto make tempat sampah sebagai pijakan, dari dekat pintu gudang. Trus pas duo kakak-adek itu mau keluar, mereka buru-buru pindah sembunyi di sini. Di balik tembok sudut ruangan yang berlawanan dari arah menuju kamar Naruto maupun Kyuubi.
"Aaah~, padahal kalo dia bilang juga… gue nggak bakalan marah…" keluh Kushina, rada kecewa karna Naruto takut ama dia.
"Hahaha! Kalo gini… rasanya aku ngerti deh kenapa seorang polisi itu sebaiknya jangan nanganin kasus yang ngelibatin kerabat dekatnya langsung. Sama dengan seorang dokter bedah yang dilarang ngebedah keluarga dekatnya sendiri, or seorang psikolog yang sebaiknya nggak diperbolehkan nanganin klien yang merupakan kerabat dekatnya juga…" Minato ketawa sekali lagi sebelum kembali nerusin. "Rupanya itu semua karna dikhawatirkan ngerusak daya konsen n datanya nggak bakal objektif, ya…?"
"Maksud loe, tindakan gue ke Ninetails hari ini terkesan subjektif?" Kushina nyilangin lengan di bawah dada, angkat alis. "Gitu deh. Buktinya kamu jadi terlalu cepat ngambil kesimpulan n lupa bersikap netral, kan?" Pria blonde tadi nyengir. "Yaah, namanya juga manusia…"
"Yeah, yeah… terserah…" sahut Kushina sekenanya. Dia lalu balik jalan, mo kembali ke kamar. "Jangan lupa ntar minta maaf ke Kyuu-chan lho, ya?" susul Minato, mukanya masih aja senyam-senyum dari tadi. Istrinya cuman ber-ugh, terpaksa.
"Ahahaha! Gengsimu mirip ama Kyuu-chan, deh!"
"Hey! Kebalik, tau! Dia yang mirip ama gue!"
-End-
KP: Sekian buat kali ini.
Oiya, jangan terlalu berharap aku bakal rutin nulis fic kumpulan oneshot ini, ya? Ini kutulis cuman buat nyantai2 doang, koq. Padahal besok senin 10 January minggu Final-test di kampus udah dimulai. Tapi sempet2nyaaa nulis n ngupload fic… *siswa n mahasiswa yg baik gak boleh niru nih author*
Ayo belajar sana belajar! Jangan baca fic mulu! (*disiram Readers*)
