Disclaimer: Masashi Kishimoto (Kyaaa! Sensei Masashi! Minta komik Naruto dong! *Author dihajar*)
Genre: Romance, Angst
Rated: T
Pairing : SasuHina
Warning : Typo, gaje, OOC, memusingkan dan karena terlalu memusingkan saya anjurkan untuk menyediakan obat sakit kepala jika mulai muncul gejala – gejala aneh setelah membaca fic ini.
Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?
Inilah chapter 2 dari fic-ku yang sebelumnya. Chapter penjelasan lebih tepatnya, karena chapter ini akan menjelaskan kisah Hinata yang sebenarnya. Bagi reader yang sudah mereview mungkin pertanyaan kalian akan terjawab jika kalian baca story yang memang bikin agak pusing ini. Awalnya mau bikin Sasuke POV (Sasuke : "Woy, jangan aku lagi!") karena Sasuke marah, aku bikin semuanya Hinata P.O.V
Semoga readers gak keberatan ya. Mari kita baca ceritanya.
.
,
Title: Tuan Muda Uchiha
, , ,
Bagian Dua : Awal Tuan Muda yang Angkuh.
,
.
Suara ayam berkokok membuatku terbangun dari tidurku. Dengan malas aku melirik jam dinding. Huh, sudah jam 5.15 pagi. Aku terlambat bangun hari ini. Pasti karena kelelahan menunggu Tuan Muda Sasuke yang pulang kemalaman kemarin. Tapi, lupakan saja. Aku tidak mau mengingatnya lagi.
Aku melangkahkan kakiku dengan ringan menuju kamar mandi. Setelah mandi, aku memakai seragam sekolah putih abu – abuku. Aku merasa rok yang kupakai terlalu singkat bahkan lututku saja tidak tertutupi. Risih sekali memakainya, namun aku yakin tidak ada yang akan memperhatikan ini. Cowok playboy seperti Tuan Muda Sasuke saja tidak mau memperhatikannya.
Setelah aku memakai seragamku, aku berjalan menuju dapur dan mulai meracik makanan untuk Tuan Besar dan Tuan Muda. Sementara untukku, bisa ku urus nanti. Di tengah – tengah kesibukanku memasak, bayangan orang itu melayang dalam kepalaku. Dia . . . adalah Nyonya besar.
. . .
Flashback
.
Nyonya Besar adalah istri dari Tuan Besar dan ibu dari Tuan Itachi dan Tuan Sasuke. Tanpa diketahui siapa pun, Nyonya Besar punya nenek yang sama dengan ibuku. Hanya saja, semenjak Nyonya Besar menikah dengan salah satu keturunan Uchiha, dia jarang menjenguk nenek. Bahkan sampai saat nenek meninggal Nyonya Besar belum menengok nenek karena dia mengikuti Tuan Besar bekerja di kota seberang.
Sebulan semenjak kematian nenek, ibuku pun meninggal. Saat pemakaman ibuku, aku melihat Nyonya Besar ada di sana namun wajahnya ditutupi dengan kain sehingga tak seorang pun tahu keberadaannya. Waktu itu aku masih 5 tahun, jadi belum mengerti masalah keuargaku yang pelik.
Tiga hari setelah kematian ibu, ayahku berkata bahwa dia akan menjenguk Neji-kakak sepupuku dari keluarga ayah. Kak Neji yatim piatu jadi ayah ingin membawa kak Neji tinggal bersama dengan kami. Tapi tak kusangka ayah tak kan kembali ke rumah dengan cepat karena ayah bertemu dengan wanita lain yang kemudian menjadi istri keduanya.
Saat itu aku benar – benar terpukul. Aku mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar. Kemudian Nyonya Besar datang dengan wajah sedih ke rumahku dan mengetok pintu dengan keras sambil memanggil nama ayah.
Aku membuka pintu dengan perlahan. Wanita yang ada di balik pintu itu terkejut melihatku dan menyebut namaku dengan pelan, "Hinata?"
Itu adalah pertama kalinya aku bertemu secara langsung dengan Nyonya Besar, karena dari dulu aku hanya mendengar dirinya dari ibuku. Aku tak yakin dia memang saudara ibuku, namun sebuah foto yang mirip sekali dengannya membuatku yakin bahwa dia adalah saudara ibuku.
Dengan wajah yang lesu dia bertanya padaku, "Mana ayahmu?"
Aku hanya diam karena aku tidak mau mengingat apapun tentang ayah yang tiba – tiba menelantarkanku. Nyonya Besar saat itu hanya celingukan mencari sesuatu di dalam ruangan. Kemudian dia mengangkat wajahku dan tersenyum ramah seraya berkata, "Maukah kau ikut aku ke rumahku sebentar?"
Aku mengikutinya menaiki sebuah mobil mewah dan sampailah aku di rumah kediaman keluarga Uchiha. Ini pun pertama kalinya aku memasuki rumah kediaman Uchiha dan pertama kalinya pula aku bertemu Tuan Muda Sasuke. Saat itu, Tuan Sasuke hanya lebih tinggi sedikit dariku sehingga aku merasa akrab dengannya. Ketika Tuan Sasuke menatapku dengan penuh keramahan karena merasa punya teman yang sebaya, Nyonya Besar berkata pelan padaku, "Kamu bisa menemani Sasuke sebentar kan? Aku ada sedikit pekerjaan."
Aku mengangguk. Ku lihat wajah Tuan Muda Sasuke terlihat gembira. Dan hari itu kami bermain bersama. Hal tersebut selalu terjadi tiap harinya. Nyonya Besar akan datang ke rumahku dan menjemputku, lalu membawaku dan menyuruhku menemani Tuan Muda Sasuke selama Nyonya Besar pergi bekerja.
Sayang, dua bulan kemudian Nyonya Besar meninggal.
Pagi hari sebelumnya, dia mengajakku berjalan di pantai dan berkata padaku, "Hinata, apa ibumu dulu pernah membenciku?"
"Te-tentu sa-saja tidak," jawabku sambil tersenyum.
"Kalau begitu, apa kamu tidak membenciku yang sudah melupakan keluarga sendiri dan memilih bersama keluarga orang lain padahal keluarga sendiri ditimpa musibah?"
"A-aku tidak peduli akan hal itu. Nyo-Nyonya sudah sangat baik padaku kok."
"Jangan panggil aku Nyonya. Kau bisa memanggilku bibi kalau kau mau."
"Hmmm." Aku bergumam sambil tersenyum tipis.
"Bila nanti aku pergi menyusul nenek dan ibumu, apa kau bisa berjanji padaku?"
"Ja-janji apa?"
"Apa kau bisa merawat Sasuke dan yang lainnya di keluarga ini."
"A-aku yakin a-aku bisa." Ujarku dengan penuh keceriaan tanpa tau apa yang selanjutnya akan terjadi. Setelah itu, Tuan Besar memanggil Nyonya Besar dan pergilah mereka. Ku pikir Nyonya Besar akan kembali lagi ke rumah pada sore hari bersama Tuan Besar, namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Nyonya Besar pergi untuk selamanya.
Aku dan Tuan Muda Sasuke yang sedang bermain menanti kepulangan Tuan Besar bersama Nyonya Besar amat terkejut ketika melihat Tuan Besar masuk ke dalam rumah dalam keadaan sangat depresi. Badannya dipenuhi perban dan matanya menunjukkan bahwa dia telah menangis. Dengan pelan dia berkata, "Sasuke, ibumu . . . sudah tiada lagi."
Itu adalah yang paling menyakitkan dalam hidupku. Bahkan Tuan Muda Sasuke sampai tidak sadarkan diri 2 hari setelah mendengarnya. Pasti saat ini berat baginya menjalani hidup tanpa kehadiran sosok seorang ibu, aku pun tau rasanya.
Aku . . . kasihan padanya. Ini adalah salah satu alasan aku mau tetap ada di sini walau dianggap hanya sebagai pelayan. Karena menjaga mereka semua adalah janjiku kepada Nyonya Besar.
"Hinata?"
. . .
Flashback selesai
.
"Woy, Hinata?"
"Akh, Tu-Tuan Itachi! Ada apa?"jawabku gugup melihat Tuan Itachi yang berdiri dengan lesu di hadapanku. Tuan Muda Itachi terlihat masih mengantuk, namun kenapa dia tetap bangun pagi – pagi begini?
"Aku tidak bisa tidur. Aku lapar, mau makan," itulah yang dikatakan Tuan Itachi padaku dengan nada amat lesu. Kelihatannya dia memang lapar, gumamku dengan khawatir.
"Makanya setelah pulang, makan dulu jangan langsung tidur!" tebak suara menjengkelkan siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Sasuke –Tuan yang tidak pernah menerima kehadiranku di rumah ini semenjak Nyonya Besar meninggal.
"Kamu juga langsung tidur kan?" Tuan Itachi membalas dengan sinis.
"Hmm, tidak makan bagiku tidak masalah." Ujar Tuan Sasuke sok hebat.
"Benarkah?" Tuan Itachi seakan – akan malah menantang Tuan Sasuke. Lama kelamaan pertengkaran kecil mereka semakin tegang. Aku takut. Karena itu aku menghentikan pertengkaran mereka dengan berkata, "Ma-maaf, makanannya sudah jadi!"
"Wah! Aku menunggu di meja makan ya, Hinata," ujar Tuan Itachi dengan semangat sambil berlari ke arah meja makan.
"Aku akan langsung mandi. Aku sedang tidak mau pagi hari ini." Ujar Tuan Sasuke dengan dingin sambil berjalan memasuki kamarnya entah memang untuk mandi atau untuk tidur lagi atau mungkin dia malah menghubungi salah satu pacarnya.
Sarapan pun selesai dan sekarang saatnya mulai beraktivitas. Tuan Besar pergi bekerja dengan mengendarai mobilnya yang lebih mewah daripada mobil Nyonya Besar saat dia membawaku ke rumah ini. Tuan Muda Itachi pergi kuliah mengendarai motornya yang keren. Kalau Tuan Muda Sasuke pergi ke SMA naik motor yang bahkan lebih keren dari kakaknya. Sementara aku . . . . jangan diejek ya. Aku pergi ke sekolah naik bis, sampai di halte dekat sekolah lalu jalan kaki.
Lima langkah lagi aku melewati gerbang sekolah. Sekolahku sama saja dengan sekolah Tuan Sasuke. Kelas kami juga bersebelahan kok. Aku kelas 12B sedangkan Tuan Muda Sasuke kelas 12C.
Aku tengah berjalan menyusuri lorong menuju kelasku. Aku melewati beberapa kelas termasuk di antaranya kelas 12C, kelas Tuan Sasuke. Aku melirik isi kelasnya. Tak ada siapapun di sana. Memang kelas itu dicap sebagai kelas yang sulit diatur, jam 7.30 kelasnya saja masih kosong. Hal itu berbeda dengan keadaan kelasku yang jam 7.15 sudah mulai ramai, terlebih jika ada tugas.
Aku mungkin terlalu lama memperhatikan kelas Tuan Sasuke, sampai – sampai seseorang menepuk bahuku dengan pelan sambil berkata, "Jangan melamun di sini, nona!"
Itu adalah pertama kalinya seseorang selain kak Neji memanggilku nona. Aku yang terkejut segera meminta maaf dan membungkukkan badanku.
"Jangan seperti itu," ujarnya mencoba menghentikan sikapku yang terlalu berlebihan padanya. Aku menurutinya dan mulai mengangkat wajahku menatap pemuda yang tersenyum di hadapanku. Dia adalah seorang siswa yang sebaya dengan Tuan Sasuke, rambutnya berwarna merah cerah dan kulitnya putih, wajahnya terlihat dingin -(udah tau ini siapa?) namun menampakkan sebuah kecemasan padaku. Apa tatapannya itu memang diberikan untukku?
"Kamu siswi di kelas sebelah kan?" tanyanya sambil menunjuk ke arah kelasku. Aku mengangguk untuk menggantikan jawaban 'ya' karena aku terlalu gugup untuk menjawab pertanyaannya.
"Kembalilah ke kelasmu, sebentar lagi penghuni kelas ini akan masuk dan kamu mungkin bisa diganggu oleh mereka!" perintahnya padaku. Apa dia memang mengkhawatirkanku?
Ku singkirkan pikiran anehku dan memutuskan kembali pada tujuanku semula yaitu masuk ke kelasku sendiri. Hari – hari di kelas selalu sama dari hari ke hari. Kadang itu membuatku bosan. Dari pada memperhatikan kelasku yang membosankan bagaimana kalau kita lihat kelas Tuan Sasuke yang biasanya selalu berisik.
"Naruto, kemari sebentar!" perintah Tuan Muda dengan kasar sambil mengangkat handphone-nya untuk memperlihatkannya pada Naruto.
"Ada apa?" tanya Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat handhone milik Tuan Sasuke dengan cepat dia berjalan menemui Tuan Muda.
"Ada cewek yang mau ngajak kita nge-date siang ini. Kamu mau tidak?"
"Ceweknya seperti apa?" tanya Naruto dengan tampang mulai ngeres. Jangan tanya aku apa yang dipikirkannya karena akan lebih baik kalau kita tidak tahu. Hanya saja, perkataan Tuan Sasuke selanjutnya pasti memberi tahu kita apa yang dipikirkannya.
"Yah, yang berambut panjang dan berponi itu namanya Sasame. Sementara yang rambutnya lebih pendek dari Sasame itu namanya Isaribi. Mereka sama – sama bohai. Dada mereka montok semua kok. Pasti kamu suka," jawab Tuan Sasuke dengan sangat menyakinkan.
"Wah, kalau begitu kita harus datang!" Naruto berkata dengan sangat semangat. Saking semangatnya hidungnya sampai mengeluarkan darah. Dasar mereka ini! Pikirannya jorok sekali sih!
Bel berbunyi, saatnya pulang ke rumah. Itu memang kata yang tepat bagi kami yang akan segera kembali ke rumah, namun tidak tepat bagi Tuan Sasuke dan Naruto yang akan ke taman dulu menemui pacar baru mereka.
Sesame, gadis cantik berambut panjang dengan mata emerald yang pasti akan membuat lelaki manapun terpesona karenanya. Tapi, kelihatannya belum cukup mempesona buat Tuan Sasuke yang biasa saja didekati oleh Sasame dengan agresif. Begitu pula Naruto yang langsung di dekati Isaribi yang langsung memberi Naruto ciuman hangat di pipinya.
Sedikit kata untuk menjelaskan mereka saat ini. Hedonis. Itulah mereka. Mereka berfoya – foya dan menghamburkan uang dengan sangat mudah. Pokoknya kerjaan mereka cuma menghabiskan uang dengan membeli barang – barang yang tidak berguna. Sementara mereka sibuk berkeliling atau ngebut – ngebutan di jalanan dan berhenti cuma untuk beli boneka atau membeli kalung dan perhiasan lain, aku malah sibuk membeli sayuran di pasar. Dunia memang kejam, sementara mereka bersenang – senang, aku malah harus keliling toko untuk mencari makanan yang mereka sukai.
"Sasuke, mau mampir ke toko itu tidak?" tanya Sasame dengan suara sangat manis dan lembut.
"Kamu mau apa di sana?" Tuan Sasuke malah bertanya balik dengan nada sinis.
"Cuma mau beli baju di sana kok."
"Baiklah."
"Kita lama – lama di sana ya?" pinta Sasame dengan manja.
"Tentu Sasame, lagipula aku sedang tidak mau pulang ke rumah sekarang. Kakakku dengan pelayan itu pasti sudah ada di rumah."
"Apa yang kau bilang tadi Sasu?" tanya Sasame yang tidak mendengarkan perkataan Sasuke dengan jelas.
"Tidak kok. Oh iya, baju mana yang mau kamu beli." Tuan Sasuke justru mengalihkan pembicaraan.
"Yang itu."
Pulangnya mereka mengendarai motor dengan kecepatan di atas 60 km/jam. Ngebut memang biasa bagi Tuan Muda. Membawa cewek bersamanya pun bukan hambatan untuk tetap ngebut.
Sampai di depan rumah Sasame, Tuan Muda hanya memandang Sasame dengan tatapan kosong. Mereka berdua mabuk berat mala mini. Pasti mereka singgah di bar. Itu sudah biasa bagi Tuan Sasuke tiap malam karena jika telah sampai di rumah dia malas untuk makan malam.
Daripada memikirkan itu, kita langsung saja mempersingkat waktu ketika Tuan Muda Sasuke pulang ke rumah. Jam 11 malam, saat aku sudah hampir tidur pulas di sofa karena menunggunya pulang ke rumah. Tuan Sasuke mengetuk pintu dengan keras sehingga aku terbangun dan dengan segera membuka pintu.
"Tu-Tuan sudah pu- Kyaaaaa! Tuan Sasuke?"
Teriakku dengan histeris ketika ku lihat tubuh Tuan Muda terjatuh tepat di depan pintu dalam keadaan mabuk dan sulit untuk bergerak. Aku kasihan dengannya. Makanya aku membantunya berdiri dengan mengangkat badannya. Namun Tuan Muda justru . . . .
"Menjauh dariku!" ucapnya sambil mendorong badanku dengan kuat hingga aku membentur lantai dengan keras, "Dasar PELAYAN BODOH!"
Aku tertegun mendengar ucapan tadi. Aku tau dia mabuk. Namun, perkataannya tadi terlalu menyakitkan hati. Aku tak tahan akan perlakuannya padaku. Aku pun berdiri sambil menahan genangan air mata. Lalu, dengan amarah yang meledak – ledak aku menampar pipi kanan Tuan Muda dengan kuat.
PLAAKKKK
Kulihat Tuan Muda Sasuke hanya memegangi pipinya yang memerah sambil menatapku dengan benci. Jangankan dia, aku saja terkejut. Kenapa aku menamparnya sampai sekuat itu?
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku menahan rasa terkejutku yang terlalu berlebihan. Aku menatap balik Tuan Muda dan akhirnya air mataku tidak mampu ku tahan lagi. Apa yang akan terjadi padaku jika Tuan Besar dan Tuan Muda Itachi tau kalau aku menampar Tuan Muda?
.
.
To be continued
.
.
.
Rin : "Sasuke! Hinata! Bantu aku!"
Sasuke : "Bantu apa?"
Rin : "Bacakan balasan review readers kita yang baik dan sudi mereview."
Sasuke : "Males. Semua juga cuma mau ngejek aku jahat kan?"
Rin : "Memang kamu jahat kan?" *dicidori Sasuke*
Hinata : "Ri- Rin, a- aku saja ya-yang membantumu."
Rin : "Makasih Hinata!" meluk – meluk Hinata.
~ UchihaHinataHime : Gomen~ chapter 2 ini Sasuke belum dapat hukuman yang pantas tapi Rin janji deh akan memberikan hukuman buat si pantat ayam (Sasuke : "Siapa yang kalian bicarakan?"). Cowok keren? Gaara boleh nggak? Atau cowok lain saja ya?
~ Miya Hime Chan : kenapa aku bikin mereka playboy ya? (Rin innocent *dibanting Sasuke dan Naruto*). Awalnya aku ingin bikin Sakura nyium Sasuke tapi aku gak rela. Pertanyaanmu udah bisa kejawab pas baca ceritanya belum? Maaf soal kalimat dalam tanda kurung, aku lupa ini ber-genre angst. Udah aku ilangin tuh. Ganbatte!
~ Sabaku Yuki : aku juga lagi tergila – gila dengan mereka! Sasuke memang kasar nih! Btw, review-mu gak gaje kok.
~ uchihyuu nagisa : ini udah cukup panjang belum? Sasuke memang bukan kejam sih, cuma kasar. Mereka berdua itu SMA kelas 3. Bentar lagi kuliah. Maaf kalau agak membingungkan soal yang ini.
~ ichsana-hyuga : kamu bilang ini keren? Huwaaa! (Rin melayang saking bahagianya) semoga kamu tetap senang ya! He~he~he~ *abaikan saja*
~ aam tempe : penasaran? Baguslah kalau begitu. Hinata belum menonjol karena aku bingung gimana menampilkannya. Sekarang udah tau nasib Hinata? Kalau belum, maafkan Rin yang gak pinter menjelaskan suatu keadaan secara terperinci ini. Ganbatte!
~ purple girl : aku juga suka kok! Sasuke kamu dikatain jahat lagi sama readers gak kasihan sama Hinata (Sasuke : "Nggak.") itulah jawaban Sasuke kalau kamu mau tau. Hinata adalah pembantu yang bekerja karena berjanji dengan ibu Sasuke. Kamu gak ngatur, memang aku butuh pendapat seperti itu kok. Yah, semoga saja happy ending (Rin belum memikirkan ending).
~ shaniechan : Sasuke memang punya dendam keramat kayaknya dengan Hinata. Sifatnya yang judes sih jangan ditanya. Turunan keluarga mungkin. (Hinata : 'keluarganya yang mana?')
~ OraRi HinaRa : nih udah update, nggak penasaran lagi kan? Atau malah makin penasaran?
.
Rin : "Senangnya! Aku dapat banyak review! Semoga saja chapter ini review-nya tetap banyak (ngarep dot com). Terima kasih semua! Dan juga makasih makasih udah fav ya."
Terima kasih readers semua! *nangis terharu*
Boleh tanya sedikit, enaknya bikin siapa lagi yang nge-date sama Sasuke dan Naruto ya?
.
.
.
I love everyone, because everyone is friends for me
.
,
.
RnR please
