Disclaimer: Masashi Kishimoto (Whooaaa! Foto bareng sensei! *dilempar ke jurang*)

Genre: Angst, Romance

Rated: T

Pairing : SasuHina

Warning : typo berhamburan, rada – rada bikin pusing, P.O.V ganti – ganti, ada beberapa event yang menjurus ke arah kekerasan dan sebaiknya jangan ditiru kekerasannya itu.

Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?

Aku kembali dengan chapter 3 yang berisi satu pemberitahuan yaitu cerita ini P.O.V-nya suka – suka aku. Jadi, terserah aku mau bikin Hinata P.O.V atau Sasuke P.O.V. Susah sih jadi Hinata, sedangkan kalau jadi Sasuke, aku kelewatan kasar.

Kalau aku dibiarkan ngomong terus, nanti ujung – ujungnya jadi gaje, karena itu kita langsung baca saja fic-ku.


.

. .

Title: Tuan Muda Uchiha

. . .

Bagian Tiga : Hukuman Setelah Hari Esok.

,

.

"Ma-maaf Tuan," ucap Hinata dengan bibir gemetar padaku yang masih memegangi pipi bekas tamparannya.

"Aku tidak se- akh!" kata – kata maaf Hinata terpotong karena tamparan kuat di pipi kanannya. Yah, aku memang balas menampar gadis itu. Aku menamparnya dengan amat kuat, sampai – sampai dia jatuh terduduk dan menangis sambil menundukkan kepalanya.

Aku benar – benar membencinya. Selain karena dia telah berani menamparku, dia juga telah sering membuatku muak dengan cara bicara dan sikapnya setiap kali mulai tersipu malu. Tapi, di antara alasan tersebut yang paling membuatku membencinya adalah saat dia mengambil posisi ibu semenjak ibu meninggal. Aku hanya ingin yang menjagaku adalah ibu, bukan gadis pelayan bodoh ini bahkan bukan ayah maupun kakak.

Aku melirik ke arah dia sekarang. Kelihatannya dia benar – benar menangis. Air matanya mulai membasahi lantai. Seakan tak ada rasa penyesalan di hatiku, aku malah tersenyum melihatnya. Dia, memang pantas diperlakukan seperti ini.

Aku mencoba mengangkat wajahnya, sehingga aku dapat dengan lebih puas menyakitinya. Aku mendekatkan tanganku ke kepalanya kemudian aku menarik poninya dengan kasar hingga dia dengan terpaksa mengangkat wajahnya. Ku lihat dia hanya pasrah dan terkulai lemah bersandar pada dinding saat aku menatapnya yang makin lama makin tak mampu mengeluarkan air mata.

Betapa senangnya aku melihatnya saat ini. Namun, dengan cepat dia menunduk kembali meski hal itu mengakibatkan beberapa helai poninya rontok dan tersisa di sela – sela jariku. Sedikit kesal karena itu, aku melempar semua helaian poni itu kearahnya. Dengan nada sedikit mengejek aku mengucapkan 'selamat malam' kemudian aku pergi menuju kamarku meninggalkan gadis itu sendirian di ruangan tersebut masih tetap menangis.

Malam cepat sekali berlalu. Kini aku telah terbangun kembali. Ku lirik jam dinding di kamarku, masih jam 4 pagi. Kenapa aku bangun pagi sekali hari ini? Biasanya jam setengah lima aku baru akan melipat selimut. Baru setelah itu jika aku ingin mandi aku akan mandi. Jika mood ku sedang buruk dan tidak ingin mandi aku akan menunda sampai muncul keinginanku untuk mandi.

Aku berjalan sempoyongan karena ternyata rasa lelah dan kantuk masih mengiringiku bahkan ketika aku merasakan dinginnya air dalam bak mandi dan menyentuhkan kulitku ke dalamnya. Aneh, meski dingin aku tetap saja mengantuk. Beberapa kali aku menguap saat berendam di dalam bak.

Sekitar beberapa menit aku keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kecil yang ku lingkarkan di pinggangku. Aku menuju lemari pakaian dan mencari keberadaan seragamku. Dengan cepat aku memakainya dan sekarang hanya tinggal sarapan.

Namun, ketika aku berada di dapur yang biasanya sudah ada makanan buatan Hinata, si gadis pelayan, aku tidak menemukan apa pun di sana. Aku menatap meja makan yang kosong dengan sedikit kesal. Namun aku mencoba melupakan hal itu karena aku sedang malas memarahi dan bertemu dengan gadis itu.

Aku berjalan menuju garasi dan mulai menghidupkan mesin motorku. Aku mengelus motor itu dengan perasaan bangga. Kemudian tanpa pikir panjang lagi aku menaiki dan mengendarainya dengan cepat. Meski banyak yang berkata aku mengendarai dengan cepat namun bagiku ini belum apa – apa. Aku bisa lebih cepat lagi. Namun, pasti akan ada masalah jika aku benar – benar mengebut.

Aku sampai di sekolah. Di sana pun tak kulihat adanya si gadis pelayan. Sebenarnya kemana dia saat ini? Aku melupakannya sejenak dari pikiranku dan berjalan menuju kelasku. Huh, bosan. Sepanjang jalan semuanya membosankan. Sepi dan sunyi. Apa yang berubah dengan kehidupanku ini?


.

Hinata P.O.V

.

Aku memasuki kelasku yang tertata rapi karena hari ini ada lomba kebersihan kelas. Aku melirik ke arah jendela, kemudian aku membuka jendela tersebut. Aku melihat ke bawah dari lantai dua sekolahku dan menyaksikan beberapa temanku masih asyik bercanda riang. Aku ini tipe penyendiri sekaligus pemalu jadi aku lebih senang berada di dalam kelas yang tenang dan sepi saat semua siswa lain berada di luar.

Aku senang sekaligus bingung hari ini. Tuan Muda Itachi menyuruhku pergi sekolah duluan dan meninggalkan semua pekerjaan di rumah pagi ini, begitu pula dengan Tuan Besar yang sepertinya juga memberiku izin untuk hal itu. Aku tak tau apa maksudnya, tapi aku merasa bebas hari ini walau mungkin nanti siang akan banyak sekali pekerjaan yang menumpuk untuk ku selesaikan.

Angin sepoi – sepoi meniup rambutku dengan lembut dan membuatku teringat kembali pada kejadian malam tadi saat Tuan Sasuke kembali ke rumah. Aku memejaman mataku berusaha melupakan kejadian tersebut dan menenangkan pikiranku. Kemudian sebuah tangan memegang bahuku.

"Akh, kamu kan yang kemarin," ujar lelaki yang memegang bahuku dengan ramah.

"Ka-kamu yang menyuruhku ke kelasku saat aku melihat – lihat kelas 12C kan?" tanyaku mencoba meyakinkan bahwa dia adalah orang kulihat kemarin.

"Benar, namaku Gaara. Namamu?" tanyanya to the point padaku sambil mengulurkan tangan padaku mengajakku berkenalan.

"A-aku Hinata," jawabku dengan sedikit gugup sambil menerima tangannya dan kami akhirnya berjabat tangan. Wajahku sedikit memerah, karena itu adalah pertama kalinya aku berkenalan dengan seorang lelaki dengan cara seperti itu.

Ku rasakan tangan Gaara yang kekar dan hangat hingga kehangatannya sampai ke seluruh tubuhku. Aku menunduk menutupi wajahku yang memerah sewarna tomat. Seakan tau kalau aku sedang tersipu malu, Gaara melepaskan tangannya dan mulai mengajakku bicara.

"Oh iya, kamu murid pindahan ya?" tanya Gaara padaku dengan tampang sedikit bingung.

"Ti-tidak,"

"Kenapa aku jarang sekali melihatmu? Memangnya kamu tinggal dimana?" tanyanya kemudian.

Mendengar pertanyaan tadi, aku sedikit tercekat untuk menjawab. 'Dimana aku tinggal?' Apa harus kujawab rumahku dahulu ketika bersama ayah, atau harus kujawab rumah Tuan Besar?

"Kamu kenapa?" Gaara menanyakan keadaanku ketika aku mulai terliaht bingung harus bicara apa.

"Ti-tidak kok. Hanya saja-"

"Kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak masalah," Gaara berkata sambil ikut melihat keluar jendela. Aku lega sekali dia berkata seperti itu. Kulirik dia sebentar. Tampan, dan baik. Itulah yang kupikirkan saat ini tentangnya. Semburat merah merona muncul kembali di pipiku dan karena takut ketahuan Gaara aku ikut menatap langit dengan senyum terkembang.


.

Sasuke P.O.V

.

Bel pulang sekolah berbunyi. Naruto adalah siswa pertama yang membangunkanku dari kantukku yang memang dari tadi datang dan tidak mau pergi dariku.

"Sasuke, ayo bangun! Kita ada janji date lagi hari ini," ujarnya sambil mencoba membangunkanku dengan menggoyangkan lenganku yang kupakai sebagai bantal.

"Lho, aku ketiduran ya?"

"Kamu ini, ayo cepat nanti kita terlambat!"

"Baiklah," jawabku dengan lesu karena bangun tidur. Kemudian kami pergi menuju taman dan mulai bersenang – senang. Kali ini cewek yang kami ajak kencan bernama Tenten dan Karin. Naruto dengan Tenten sementara aku dengan Karin. Aku tidak merasa rugi sama sekali ketika Naruto memutuskan untuk berkencan dengan Tenten, karena Tenten punya body yang tidak berisi menurutku.

Wajahnya memang rupawan, ku akui itu, namun sayang badan Tenten terlalu kurus untukku. Aku malah memilih Karin yang body-nya berisi, dadanya ukuran wanita dewasa, bajunya yang berbahan dasar tipis dan rok yang bahkan lebih pendek dari rok Sakura.

Karin adalah yang tampil paling seksi karena itu aku mau kencan dengannya. Sayangnya dia adalah tipe cewek yang terlalu minta perhatian. Tapi, cewek seperti inilah yang paling menyenangkan untuk dipermainkan. Aku mengajaknya ke taman, lalu singgah ke toko perhiasan dan yang terakhir aku mengantarnya pulang. Entah mengapa aku merasa sedikit bosan berjalan dengannya.

Aku akirnya mengantarkannya pulang kembali ke rumahnya. Dengan berat hati Karin mengucapkan selamat tinggal dan melambaikan tangan padaku yang sudah melesat jauh. Pikiranku agak kacau hari ini. Pasti karena aku bangun terlalu pagi. Berusaha meringankan beban di kepalaku, aku menambah gas dan melaju dengan semakin cepat.

CKIIIITTTTTTT!

Motorku terpaksa berhenti melaju karena ada gerombolan orang – orang aneh di hadapanku yang juga memakai motor namun bagiku lebih keren motorku. Aku menahan amarah dan memandang mereka dengan sinis, dan mereka pun balas memandangku dengan tatapan aneh sehingga kami mulai death glared. Aku merasa agak familiar dengan jubah mereka yang serba hitam dengan simbol aneh berwanra merah.

"Hei, siapa kalian? Kenapa kalian menghadang jalanku?" tanyaku dengan sinis pada mereka.

"Kami teman kakakmu, dan kami diperintahkan sore ini untuk mengantarmu kembali ke rumah." Jawab yang rambutnya berwarna merah dengan boneka aneh yang menghiasi motor bagian depannya.

Aku mulai merasa marah. Jadi ini ulah kakakku. Dari kemarin dia memang terlihat menyimpan dendam padaku meski dia memperlihatkan perilaku manis di hadapanku seolah tidak terjadi apa pun hari itu. Padahal kemarin pagi kami bertengkar hanya karena masalah kebiasaan pulang malam sehingga malas makan dan memilih segera tidur.

"Hei, ayo ikut kami. Kakakmu menunggumu di rumah!" teriak salah satunya yang berambut pirang dengan beberapa hiasan besi di wajahnya.

Aku mengikuti mereka sampai di depan rumahku. Sementara mereka sendiri langsung pulang ketika aku memasuki halaman rumah. Aku membuka pintu secara kuat dan keras dengan kesal. Suara pintu yang kubanting pun terdengar memenuhi ruangan membuat kakakku datang dengan santai sambil berkata malas dengan tangan disilangkan di depan dada.

"Kenapa kau selalu terlambat? Apa kau mengendarai motor dengan pelan?"

Aku merasa itu adalah hinaan untukku, maka dengan senyum tipis aku membalasnya, "Kau saja yang terlalu santai menantiku dan seakan – akan merasa bahwa waktu terlalu lama berjalan."

"Huh, kau ini. Paling juga kamu yang terlalu lama." Itachi seakan tidak mau mengalah padaku.

"Kakak yang terlalu cepat bosan, caraku mengendarai motor itu lebih cepat daripada kakak, kalau kakak mau tau," balasku dengan sedikit menyindir.

"Benarkah?" Itachi terlihat tersenyum puas entah apa penyebabnya.

"Sebenarnya kakak mau apa? Gara – gara percakapan tidak penting denganmu ini, aku jadi kehilangan banyak waktu," protesku karena aku tidak sabar.

"Akhirnya kau menanyakan hal itu juga. Sebenarnya, ayah ingin memarahimu hari ini dan mungkin juga memberikan hukuman padamu," jawab Itachi dengan enteng sambil tetap tersenyum.

"Yang benar saja." Ujarku tak percaya.

"Itachi benar Sasuke. Ku dengar kau menyakiti Hinata, apa itu benar?" tanya Ayah yang tiba – tiba muncul di samping kak Itachi.

"Benar," jawabku dengan percaya diri tanpa tau, apa yang selanjutnya akan terjadi jika aku menjawab demikian.

"Kalau begitu, kamulah yang harusnya kuhukum," ujar ayah dengan tegas sambil menatap tajam ke arahku. Aku membelalakkan mataku. Kenapa ayah malah menyalahkanku? Yang salah kan gadis itu?


.

.

Aku masih di ruang tengah kediaman keluarga Uchiha, rumahku sendiri. Di sini aku dimarahi habis – habisan oleh ayahku. Dan ini akan menjadi alasanku membenci ayahku sendiri.

"Dasar anak kurang ajar! Kau pikir kau itu siapa? Dia ada di rumah ini dengan maksud membantu kita, apa kau tau?" tanya ayahku dengan nada memakiku. Aku hanya terdiam mendengarnya, lalu melirik ke arah kakakku yang tersenyum mengejek padaku.

Betapa kesalnya aku saat itu. Entah pada kakakku yang mengadukan masalahku dengan gadis menyebalkan itu atau pada gadis yang memang menjadi masalah utama yang dibicarakan ayahku atau malah pada ayahku yang tak henti – hentinya memarahiku. Yang aku tau, aku benci mereka semua.

Aku menundukkan kepalaku sambil mendengarkan ocehan ayahku. Semakin lama aku mendengarnya maka semakin dalam rasa benciku pada mereka. Ibu, andai engkau ada di sini pasti engkau akan menghentikan ayah dan menyuruh kakak meminta maaf padaku kan?

"Sasuke, kau masih mendengarkan ayah kan?" tanya Itachi berusaha mengompori ayah supaya semakin marah padaku.

"I-iya kak," jawabku lirih penuh dusta karena pada dasarnya aku sama sekali tidak mendengarkan ucapan ayahku. Ayahku berhenti mengoceh padaku dan bertanya, "Sasuke, ulangi apa ayah katakan tadi!"

Aku terkejut bukan main. Bagaimana aku mengulangi perkataan ayah kalau aku sendiri saja tidak mendengarkan ocehannya? Karena itulah aku hanya diam tanpa kata.

"Sudah kuduga, kamu memang tidak mendengarkan ayah!" sindir Itachi sambil menahan tertawa.

Sial! Aku tidak bisa mengelak sekarang. Apa yang harus kulakukan sekarang.

"Sasuke, aku paham sekarang kalau kau begini karena ibumu terlalu memanjakanmu. Aku harus memberimu hukuman agar kau mengerti arti hidup ini dan tidak memandang rendah orang lain lagi," ujar ayah dengan nada sok bijak. Dia memejamkan matanya dan membuatku terpaksa menyimpan tanda tanya besar. Apa yang kira – kira akan dikatakannya?

"Sasuke, akan ku berikan kau hukuman besok." Aku sedikit lega mendengarnya, namun apa hukuman yang akan diberikan ayahku besok?


.

. .

To be continued

.

. . .

Hinata : "Kenapa bagianku agak nanggung, Rin?"

Rin : "Bagianmu akan ku lanjutkan besok."

Sasuke : "Iya Hinata, kamu nurut aja. Authornya kan Rin." *Hinata sweatdrop*

Rin : "Dengeri apa kata Sasuke tuh."

Sasuke : "Oh iya, kalau boleh tau hukumanku apa?"

Rin : "Eksekusi mati."

Sasuke : "Masa' cuma nampar aja aku dihukum gitu?"

Rin : "Terserah aku, aku kan Authornya."

Sasuke : "Tapi mikir dulu dong sebelum menghukum orang lain!"

Rin : "Diam aja kamu. Aku lagi mikirin hukuman lain untukmu."

Sasuke : "Kalau kamu yang ngasih hukuman, nanti malah ngawur jauh."

Hinata : "Ka-karena me-mereka mau bertengkar dahulu, ki-kita lihat reply review kalian semua saja ya."

~ Uchiahina, wah senangnya! Ini udah aku update lagi.

~ ichsana-hyuuga, maaf aku hampir lupa aku ada fic ini makanya lama update. Thanks ya! ^_^

~ UchihaHinataHime, bentar lagi aku akan kasih hukuman sama Sasu, tunggu saja di chapter selanjutnya. Kalau kamu setuju, Gaara udah aku masukin tuh.

~ purple girl, kalau menurut ceritaku gak ada yang tau selain Hinata, ibunya, dan ibu Sasuke. Sisanya udah tau pas baca belum? Chapter 3 udah update nih.

~ Keira Miyako, habis setelah ngetik langsung publish lupa ng-edit. Gomen Keira-chan, itu salah satu misstypo. Aku itu mau ngetik 'Aku dan dia kan calon satu universitas'. Soal Hinata tau Sasuke sama Sasame itu karena Hinata punya indera keenam (dibanting Hinata) maaf, ralat maksudnya Hinata udah tau apa yang kira – kira dilakukan oleh Sasuke. Tinggal serumah aja udah lama kan. Jadi pasti tau (ini cuma pemikiran Rin). Tenang kok, flame sekalipun kalau memang yang disampaikan adalah kebenaran aku terima kok (Rin sok bijak)

~ Miya Hime Chan, udah tau kenapa Sasu benci Hinata? Tenang sebentar lagi juga muncul adegan romantisnya. Ganbatte!

~ hyugha nanako, kelebihan 'atau' pun tak masalah kok, sekalian buat pertimbangan bikin chapter selanjutnya . chapter 3 udah ku update nih.

~ uchihyuu nagisa, aku juga kesel dengan mereka. Hinata mana mungkin melanggar janji. Karena banyak yang request Gaara, cowok itu namanya Gaara aja deh.

~ Sasa, Aku maunya juga bukan sad end, tapi aku sendiri gak tau kelanjutannya gimana. Habis aku asal aja buat fic. Nanti juga tau sendiri end-nya.

~ Haze kazuki, kamu dua kali review ya? Tapi tenang, nggak apa - apa kok. Tebakanmu tepat banget. Nggak meleset sama sekali.

~ OraRi HinaRa, kok Deidara? Yang rambutnya merah itu Gaara, Hinata tau karena dia memang udah paham apa saja yang pasti akan dilakukan Sasuke, kan udah lama tinggal bersama. Maaf kalau pendek, aku masih bingung melanjutkan cerita ini.

~ lonelyclover, cerita GaaHina (ingin coba – coba bikin cinta segitiga). Nih udah update lagi, lama gak?

~ Shaniechan (), siapa yang dipecat? Hinata? Nggak akan ku pecat kok. Makasih udah nunggu ya.

~ Lollytha-chan, nih udah update. ^_^


~Rin POV~

Semuanya, aku berterima kasih pada kalian! Walau fic ku banyak kekurangan yang tidak disengaja dan telah membuat kalian bingung *Rin dilempar ke laut*, kalian masih mau me-review dan fav. Tolong maafkan kalau dalam chapter ini typo malah semakin banyak. *sujud - sujud*

Huwaa~~ aku bingung mau bicara apa lagi. Pokoknya terima kasih banyak ya! *hug*

.

.

I love everyone, because everyone is friends for me

.

^.^

.

RnR please