Disclaimer: yang membuat manga Naruto adalah kakakku *diseret sensei Masashi

Genre: Angst, Romance

Rated: T

Pairing : SasuHina + GaaHina

Warning : banyak typo yang berserakan dan lupa di-edit, banyak kalimat yang bikin pusing, bahasa campur aduk, EYD nggak bener. Jika mulai timbul gejala – gejala aneh pada mata ketika membaca, saya anjurkan untuk segera pergi ke psikiater terdekat.

Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?


Wahahah *plak!*. Maaf, aku terlalu bahagia. Ternyata yang mereview banyak juga ya. Terima kasih semua! Kali ini P.O.V-nya gaje. Kadang Hinata P.O.V, kadang Sasuke P.O.V (Author sedang rada - rada stres). Di chapter ini, Sasuke dan Hinata mulai terpisah dan lama - lama akan saling merasa rindu (kok aku membocorkan ceritanya? *digebug)

Nanti semakin lama, cerita dibocorkan semua. Jadi kita langsung baca fic-ku ya!


.

,

Title: Tuan Muda Uchiha

. . .

Bagian Empat : Kehidupan yang Akan Berubah.

. .

.

Hinata P.O.V

Aku masih belum pulang ke rumah, karena aku diperintahkan Tuan Besar untuk pergi dan jangan kembali ke rumah sampai Tuan Itachi menelponku. Aku tak tau kapan dia menelponku, namun dari tadi handphone yang diberikan Tuan Itachi padaku ini tidak berdering sama sekali.

Aku hanya sesekali melihat handphone ungu dengan wallpaper seekor panda yang sedang berjalan di bambu. Lucu sekali. Kadang aku tertawa sendiri ketika melihatnya. Panda itu mengingatkan aku pada seseorang. Tapi, kira - kira siapa ya?

"Hinata, kamu belum pulang?" tanya sebuah suara yang terdengar familiar di telingaku.

"Akh, Tu-Tuan Gaara?" jawabku tidak sengaja memanggilnya dengan 'tuan' karena gugup.

"Kenapa memanggilku dengan 'tuan'?" Gaara jadi ikut – ikutan bingung karena tingkahku.

"Ma-maaf, maksudku-"

"Tidak apa – apa kok. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu belum pulang?" ujar Gaara memotong perkataanku dengan pertanyaan yang akan sulit ku jawab.

Aku terdiam beberapa saat karena bingung harus menjawab apa. Aku menunduk lesu. Tiba – tiba, kurasakan suhu badanku naik dan terasa hangat sekali. Ku angkat wajahku dan kehangatan itu malah semakin menyebar. Aku tau sekarang kenapa badanku tiba – tiba jadi aneh begini. Ini karena Gaara sedang ada di dekatku, lebih tepatnya di sebelahku.

Oh tidak! Kenapa Gaara malah memegang tanganku? Aku jadi memerah karenanya. Hampir saja aku pingsan karena perlakuannya padaku. Aku jadi harap – harap cemas dan ingin agar waktu bergerak dengan cepat. 'Tuhan, semoga saja hal ini tidak berlangsung lama,' pintaku dengan lirih dalam hati.

"Ayo! Ku temani kau jalan – jalan sebentar kalau kau belum akan pulang," ujar Gaara dengan lantang padaku. Tidak mungkin, kalau begini pegangan tangannya bisa berlangsung lama. Untungnya Gaara mengajakku jalan – jalan dengan mengendarai motornya. Aku agak lega karena tidak perlu pegangan tangan. Tapi, kenapa aku malah disuruh pegangan lagi?

Aku bingung. Pegangan atau tidak ya? Dengan sigap Gaara menarik tanganku dan melingkarkannya di perutnya. 'Tidakkkk! Ini sih lebih mirip memeluk daripada pegangan!'

Sepanjang perjalananku dengan Gaara, aku hanya menundukkan kepala sambil sedikit melirik ke arah Gaara yang terlihat tenang – tenang saja walaupun beberapa mata gadis lain terus – terusan menatapnya dengan manja dan agresif. Bagaimana tidak? Gaara adalah lelaki yang keren, tampan, dan kaya. Semua wanita pasti suka dengannya.

Kami berhenti tepat di depan sebuah restoran sea food. Tepat waktu sebelum aku pingsan di motor karena pegangan tadi. Wajahku yang memerah aku tutupi dengan menundukkan kepala dan sesekali menutupinya dengan tanganku. Gaara mengajakku makan di sana. Tak terasa, malam datang dan mulai larut.

"Hinata, malam ini kamu tidak ada acara?" tanya Gaara tiba – tiba padaku.

"Se-sebenarnya, anu, gimana ngomongnya nih?" aku malah celingukan ketika ditanya olehnya.

"Kenapa?" tanyanya datar padaku, dan itu justru membuatku makin gugup dan bingung.

"Begini, aku-"

Trrrrrrrr . . . . . . .

"Telepon untukmu," ujar Gaara innocent sambil memperhatikan kantong sebelah kanan rokku yang bersinar karena lampu dari handphoneku.

"I-iya," jawabku dengan cepat sambil mengambil handphone dalam kantong rok seragamku yang dari tadi ku pakai karena lupa membawa baju ganti padahal aku tau Tuan Itachi pasti akan lupa menyuruhku pulang kembali ke rumah.

"Halo?" sapaku agak canggung di telepon.

"Ah, Hinata. Ini aku Itachi!" jawab Tuan Itachi padaku dengan sedikit tergesa – gesa.

"Ada apa?" tanyaku polos padahal aku tau, Tuan Itachi pasti menelponku untuk menyuruhku pulang.

"Kau sudah bisa pulang sekarang. Maaf aku tidak bisa menjemputmu, cari saja taksi atau bis, aku ada urusan dengan Sasuke," ujar Tuan Itachi dengan cepat, kemudian mematikan sambungan telepon dan terdiamlah aku dengan pose tetap memasang telepon di telingaku.

"Kau kenapa?" tanya Gaara bingung menatapku yang terpaku di tengah malam bersamanya. Bagaimana ini? Apa harus ku katakan kalau aku tidak bisa pulang ke rumah Tuan Besar?

"Kau tidak bisa pulang?" tanyanya kemudian. Aku sedikit terkejut. Bagaimana dia tau? Aku hanya menunduk lesu padanya. Dia kelihatannya paham maksudku. Dengan senyum dia berkata padaku, "Aku akan mengantarmu."

Aku menoleh padanya. Ku lihat di matanya sebuah ketulusan untuk membantu. Aku pun akhirnya luluh karenanya dan aku menggangguk dengan sebuah senyum tipis padanya. Malam itu, aku diantar pulang oleh Gaara dan aku akhirnya merasakan sesuatu yang mungkin semestinya tidak ku rasakan.


.

Sasuke P.O.V

Aku berjalan dengan lesu menuju kamar tidurku. Ayahku sudah memarahiku habis – habisan malam ini. Kakakku juga sudah puas tertawa melihatku dimarahi ayah. Sial! Kenapa aku jadi begini? Kemana pelayan yang membuatku terjebak dalam masalah ini? Arrghhh! Aku semakin membenci dia!

"Selamat malam, Sasuke. Semoga mimpi indah ya, karena mungkin hanya malam ini saja kau bisa mimpi indah," ujar Itachi dengan senyum tipis di bibirnya sambil sedikit menunjuk ke arahku yang sedang membuka pintu kamar.

"Diam kau! Pasti kakak yang mengadukan masalah ini pada ayah!" teriakku kesal menuduh padanya.

"Kau terlalu banyak berpikir yang aneh – aneh, mana mungkin aku mengadukannya," sangkal Itachi tetap sambil tersenyum dan mengangkat bahunya. Aku hanya menatapnya dengan sinis. Aku tak percaya lagi dengan setiap kata – katanya sekarang.

"Wah, jangan menatapku seperti itu. Oke, oke. Memang aku yang memberitahu ayah tentang apa yang kau lakukan pada Hinata. Tapi asal kau tau, Hinata menangis semalaman karena ulahmu dan sekarang kau harus menerima resikonya."

"Itu semua salahnya, kenapa aku yang dihukum?" aku protes dengan nada yang ditekankan pada Itachi.

"Anggap saja itu, hukum karma," jawab Itachi dengan santai kemudian, "Sudah dulu ya, aku mengantuk."

Setelah itu, Itachi pergi dari hadapanku menuju kamarnya dengan seringai yang tak pernah dihapus dari wajah. Aku menatap dengan sinis kakakku yang merasa senang melihatku menderita. Dasar kakak menyebalkan!

Kucoba melupakan itu semua. Aku punya waktu bebas mungkin hanya malam ini. Besok aku harus menjalani hukuman dari ayah. Aku yakin hukuman dari ayah tak pernah mudah, setidaknya pasti akan membuatku pusing menjalaninya. Kudengar kakak juga pernah dihukum dan itu membuatnya harus masuk rumah sakit selama seminggu karena mengalami depresi.

Bagaimana dengan aku nanti? Aarrgghh! Kenapa aku malah memikirkan hal itu. Aku kan tadi mau tidur.

Aku memejamkan mataku. Hampir saja aku terlelap, namun sebuah suara mengganggu tidurku.

"A-aku kembali!"

Aku dengan cepat membuka mataku kembali. Itu, suara gadis pelayan. Dengan cepat aku turun dari kasurku dan membuka pintu kamar. Aku menatap lorong kamarku yang gelap karena ayah dan kakakku sudah tidur. Dengan setengah berlari aku menuju ruang tengah dan di sanalah aku menemukannya.

Aku menatapnya dengan sangat benci. Namun, dia malah kelihatan simpati padaku. Dengan lugunya dia bertanya, "Tu-tuan Muda ke-kenapa? Le-lelah ya?"

Aku mendekatinya. Lebih tepatnya mendekati telinganya dan berbisik lirih, "Aku tertimpa masalah karena ulahmu, sebaiknya kau temui ayahku dan katakan bahwa kau yang salah."

Dia terlihat agak sedikit takut. Dia menatapku dengan semakin kasihan. Lalu dengan perlahan dia mendekatkan tangannya yang gemetar dan mengelus pipiku, "Me-memangnya a-apa yang di-dilakukan Tuan Besar?"

Aku melirik tangannya dan dengan kasar aku menjauhkannya dari pipiku. Terlihat matanya sedikit bergetar dan tegang ketika aku menjauhkan tangannya. Kini dia benar – benar paham apa maksud kedatanganku kemari menjenguknya. Dia kemudian berjalan melewatiku dan berkata dengan pelan, "Aku akan mengatakan bahwa ini salahku pada Tuan Besar."

Setelah berkata demikian, dia segera berjalan kembali menuju kamar Tuan Besar. Aku tersenyum karenanya. Kali ini, aku tak perlu memikirkan apa pun tentang hukuman dari ayahku.

Esok hari pun datang. Aku menyambutnya dengan semangat. Aku tak sabar melihat hukuman untuk sang gadis pelayan. Hari ini sekolah libur jadi aku bisa puas melihat gadis itu dihukum oleh ayah. Ah, itu dia ayah datang bersama Hinata di belakangnya. Namun, kenapa ada kakak di samping Hinata?

"Sasuke," panggil ayah dengan sedikit bergetar padaku, "kau benar – benar harus kuhukum!"

Aku terkejut mendengarnya. Kenapa yang dihukum tetap aku? Aku melirik Hinata dengan sedikit kesal. Namun, Hinata kelihatannya tidak merespon sama sekali. Akh, Hinata sedang dalam pengaruh kakak.

"Kau sudah keterlaluan, apa kau sadar itu? Aku yakin ini semua karena ibumu sudah memanjakanmu, oleh karena itu aku akan membuatmu berhenti bersikap manja,"

Aku merasa tenggorokanku sedikit kering, bahkan paru – paruku serasa tidak mau bernafas lagi. Aku terjebak dalam masalah yang kubuat sendiri.

"Sasuke, mulai hari ini kau akan ku kirim ke asrama dekat sekolahmu. Di sana kau akan belajar bagaimana kehidupan yang sebenarnya," itulah puncak kemarahan ayah padaku, sebuah hukuman akhirnya terucap juga dari bibirnya.

Asrama? Tempat apa itu? Apa aku akan bahagia di sana? Entahlah. Yang aku tau, aku akan segera pergi ke sana.


.

.

Asrama Konoha High School.

.

Ini adalah asrama yang aneh. Isinya hanya ada cowok, tidak ada cewek di sini. Lama – lama aku bisa bosan kalau terus ada di sini. Asrama ini bagiku hanya kumpulan ruangan berisi kasur dan lemari. Selain kasur dan lemari kita harus membeli sendiri. Makanan dan minuman pun tidak ada. Lemari yang ada dalam kamarku tak ada isinya. Bagiku, semua dalam kamar ini, hampa.

Ku lihat dari jendela, kakakku mengendarai motorku dan membawanya pulang. Aku di sini tidak ditinggali motor karena menurut ayah jarak dari asrama ini ke sekolah cukup dekat, sehingga pergi sekolah bisa dengan jalan kaki. Selain itu, motor yang ku pakai itu boros bensin sementara uang jatahku selama sebulan cuma satu juta. Rasanya mustahil aku bisa hidup di sini.

Aku mengelurkan handphone-ku dan mencari nomor Naruto. Mungkin dia dapat membantuku menenangkan pikiranku saat ini. Dengan putus asa, aku menelponnya dan mulai bercerita.

"Hai Sasuke, ada apa?" sapa Naruto dengan riang padaku ketika dia mengangkat teleponnya.

"Apa kau bisa ke asrama Konoha High School? Aku di sini sekarang."

"Kamu nge-date di sana?"

"Bukan, aku ingin kamu mengantarku nge-date hari ini."

"Mengantar? Kamu kan ada motor?"

"Motorku di sita ayahku."

"Oh begitu," hening sejenak, "Maaf Sasuke, ada seseorang yang mengajakku nge-date hari ini. Bye!"

"Naruto! Hei! Na-"

Tut tut tut

Aku menggeram kesal. Apa – apaan itu? Mematikan telepon di saat aku sedang bicara, apa itu yang dia sebut sahabat? Tak ku sangka bahkan Naruto pun akan berbuat demikian di saat aku sedang susah. Ini benar – benar menyiksa.

Hari minggu ini, aku tidak mau keluar dari kamarku. Aku malas keluar. Tak ada yang kukenal di luar. Di luar juga tidak ada cewek cantik. Di luar cuma ada orang – orang aneh dan menyebalkan.

Kruyukkkkk

Oh, sial! Kenapa aku harus merasa lapar sekarang? Aku melirik kanan dan kiri, tak ada apapun untuk dimakan. Kalau sudah terjepit begini, kurasa menggunakan uang sekarang tak masalah.


.

Hinata P.O.V

Aku tersadar tepat pada saat aku sedang ada di kamar tidurku. Kepalaku masih agak pusing. Ku ingat semua yang telah terjadi, namun sayang ingatanku terhenti ketika aku berada di depan kamar Tuan Besar. Apa yang terjadi selanjutnya setelah aku berdiri di depan kamar Tuan Besar?

Aku akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju dapur dan memasak. Di sana aku menemukan surat dari Tuan Besar dan Tuan Itachi yang ditempelkan di pintu. Surat tersebut berisi tentang kepergian mereka untuk sesuatu yang penting dan akan segera kembali tepat pada saat makan siang.

Aku tau ini pasti hari libur. Karena pada hari – hari bekerja, saat makan siang biasanya mereka belum akan kembali ke rumah. Aku menghela nafas panjang. Yah, selama menunggu mereka kelihatannya aku punya banyak waktu kosong. Maka, aku memutuskan untuk segera memasak makan siang, cuci baju, mengepel, dan pekerjaan lainnya.

Trrr trrr! Aku mencari asal suara tersebut dan ternyata itu adalah handphone pemberian Tuan Itachi padaku kemarin. Ku angkat telepon dan terdengarlah sebuah suara.

"Hinata, ini aku Gaara. Apa aku boleh ke rumahmu untuk menjemputmu sekarang? Aku ingin kau menemaniku jalan – jalan hari ini.," tanya Gaara tanpa basa basi padaku ketika telepon ku angkat.

"Akh, a-anu," aku kebingungan mencari alasan.

"Kenapa? Tidak boleh ya?" jawab Gaara asal.

"Bu-bukan be-begitu. Aku hanya a-ada u-urusan. Ma-maaf ya."

"Kalau begitu ku jemput kau sore hari ya."

"Wakh, a-aku-"

Tut tut tut! Sambungan telepon akhirnya diputuskan oleh Gaara.

Aku bingung bukan kepalang. Bagaimana ini? Apa mungkin Tuan Besar dan Tuan Itachi akan mengizinkanku? Huh, ini keputusan yang berat.

Aku berpikir dan berpikir untuk mencari suatu alasan. Pip pip pip! Akh, itu suara oven! Masakanku pasti sudah masak. Aku dengan segera mengambil kue dan menatapnya dengan senang. Hari ini kan harusnya Nyonya Besar berulang tahun. Pasti semua akan merasa senang hari ini. Aku menarik nafas panjang dan kembali mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.


.

Sasuke P.O.V

Kenapa semua masakan di sini rasanya tidak ada yang enak. Yang ada hanya sayur dan mi instan. Aku tidak suka makanan seperti itu. Makanan itu hanya akan membuat kerongkonganku sakit ketika menelannya.

Aku masih mencari makanan di tengah pasar. Ada sebuah kedai yang di depannya tertulis 'makanlah sepuasmu!'. Aku tertarik dengan tulisan tersebut. Dan dengan semangat aku masuk ke dalam kedai tersebut. Di sana aku memesan makanan terbaik yang ada.

Dan setelah satu menit menunggu, aku mendapati sebuah ramen yang terlihat enak. Dengan lahap aku memakannya. Ketika aku selesai makan, pelayan memberikan sebuah kertas padaku. Ku lirik kertas itu dan kubaca dengan rasa tidak percaya. Hanya sebuah ramen harganya lima ratus ribu.

Aku tidak mau image ku rusak hanya karena masalah harga. Aku tak ingin terlihat rendah seperti kebanyakan penghuni asrama lain. Aku akhirnya membayar meski hal itu mengakibatkan uangku hanya tinggal setengahnya.

.

Aku kembali berjalan menuju kamarku. Rasanya perutku sudah lapar kembali padahal baru sekitar tiga jam lalu aku makan. Aku merebahkan badanku di kasur dan menatap langit – langit kamarku. Ternyata ini sulit. Aku tak bisa hidup seperti ini terus.


.

.

Hinata P.O.V

Aku sedang menunggu kepulangan Tuan Besar dan Tuan Itachi. Mereka lama sekali. Meski mereka berkata akan pulang ketika makan siang, sampai jam dua tepat mereka belum juga pulang. Hatiku jadi sedikit cemas, bagaimana kalau kejadian yang menimpa Nyonya Besar terjadi pada mereka juga?

Aku berusaha berpikir positif. Mereka pasti hanya sedang terjebak macet. Hari minggu kan banyak orang yang berpergian dengan kendaraan masing – masing. Jadi pasti jalanan ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.

Tok tok tok!

Aku dengan cepat berlari, membuka pintu dan hendak tersenyum menyambut orang dibalik pintu yang aku yakin adalah Tuan Besar dan Tuan Itachi. Sayangnya, senyumku tertahan karena rasa terkejut. Ini bukan Tuan Besar, bukan juga Tuan Itachi atau Tuan Sasuke. Ini, Gaara.

"Aku kemari untuk menjemputmu," Gaara berkata dengan singkat.

"Ta-tapi-"

"Kenapa?"

Aku diam dan berpikir sejenak. Aku tidak mau Gaara jadi kecewa hanya karena aku tidak bisa menemaninya jalan – jalan hari ini. Tapi, aku juga tidak bisa membuat Tuan Besar dan Tuan Muda jadi cemas karena aku pergi tanpa izin dari mereka. Aku bingung, mana yang lebih penting untukku. Gaara atau Tuan Besar?


.

To be continued

.

..


Sasuke : "Hukumanku bikin aku capek! Sudah krisis uang, motor dibawa kakakku, kelaparan lagi!"

Hinata : "Kamu cuma menderita fisik. Aku malah menderita batin. Pertanyaan yang diujung itu susah sekali ku jawab."

Sasuke : "Kudengar kau memasak kue ya?"

Hinata : mengangguk

Sasuke : "Mana? Aku mau memakannya, sudah lapar banget nih."

Hinata : "Kuenya sudah di makan ibumu." *sweatdrop bersama

Rin : "Mereka semua sedang sweatdrop, jadi kita langsung baca balasan review kalian saja ya!"


Uchiahina, gomen lama update *bungkuk – bungkuk*. Makasih ya atas kejujuranmu, aku jadi terharu.

~ hyuuchiha prinka, kan udah ku bilang Hinata kelanjutannya di chapter selanjutnya. Sabar aja ya. Sasuke memang ku bikin gitu, tapi seru kan kalau ku bikin penyiksaan gitu? Silahkan kalau mau fav ^_^

~ OraRi HinaRa, oh aku paham sekarang. Memang Gaara. Chapter ini udah bikin kamu gak penasaran lagi? Atau malah sebaliknya?

~ UchihaHinataHime, udah gak sabar mau manghukum Sasuke ya?

~ aam tempe, baguslah kalau am sudah ngerti. Nih, ku update lagi.

~ Sora Hinase, sudah aku maafkan kok. Makasih udah nunggu.

~ aam tempe, waduh! am seneng banget ya sampai review dua kali. Tenang, Sasuke udah dihukun kok.

~ Miya-hime Nakashinki, Sasuke belum akan tobat sampai dia meninggal (digampar Sasu) chapter ini sudah mulai genre romance-nya terutama untuk GaaHina, meski angst-nya milik Sasu belum hilang.

~ uchihyuu nagisa, hukumannya kelihatan kurang menyakitkan sih tapi lihat saja kedepan pasti menyiksa juga. Gaara sudah mulai berperan banyak lho . . . .

~ Shaniechan, nggak berlebihan tuh hukum cambuk? GaaHina memang ada.

~ purple girl, hukumannya udah tau kan? Mungkin suatu saat akan tau, tapi baru kemungkinan saja. Tenang, GaaHina udah ku perbanyak.

~ aichan, nih udah update.

~ de chan, sabar. Hinata pasti aku buat bahagia kok.

~ hyuga nanako, gomen! Hukumannya kurang berat. Tapi, ketika menjalankannya Sasuke akan ku buat benar – benar menderita deh .

.

~Rin POV~

Aku bahagia *terbang ke langit* ternyata saking senangnya dengan cerita ini bahkan ada yang review dua kali. Aku jadi makin semangat bikin kelanjutannya. Terima kasih semuanya! *kiss (plak!)

.

.

I love everyone, because everyone is friends for me

.

,

.

RnR please