Disclaimer: semua tentu tau Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Genre: Angst, Romance

Rated: T

Pairing : SasuHina + GaaHina

Warning : OOC,

Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?

Ternyata membuat chapter ini waktunya lama sekali. Maklum, aku sibuk *dihajar*. Tapi, aku beneran sibuk lho. Ada UAN, ada banyak rapat, belum lagi ibuku yang menyuruhku belajar tiap harinya, dan juga sibuknya penerimaan siswa baru. Tapi, akhirnya aku bisa juga membuat fic ini.

.

Happy reading

.

,

Title: Tuan Muda Uchiha

, , ,

Bagian Lima: Hubungan yang Akan Retak.

,

.

Sasuke kini sedang meringkuk malas di tempat tidurnya. Sudah lima belas kali dia melirik ke arah jam dinding. Namun setiap kali dia begitu, raut wajah kesal akan muncul. Bosan dengan jam yang menurutnya terlalu lambat berjalan, Sasuke mencoba tidur. Sayang, matanya senantiasa terbuka seakan tidak mau istirahat walau hanya sejenak. Kembali dia mencoba tidur namun bayangan seseorang merasuki mimpinya dan membangunkannya. Bayangan itu berupa bayangan seorang gadis yang berambut biru, berwajah manis dengan mata berwarna abu – abu, namun sayangnya gadis itu tidak tersenyum. Gadis itu justru menangis. Sedikit pusing setelah bermimpi demikian dia mengerang kesal.

Handphone di atas mejanya mulai berdering membuat Sasuke merasa risih mendengarnya. Sambil mengeluh, ia meraih handphonenya. Dibacanya tulisan di layar tersebut, kemudian dia tersenyum tipis. Itu bukan pertanda ada pesan masuk atau baterai melemah, itu adalah peringatan bahwa ibunya berulang tahun hari ini. Membayangkan ibunya yang sedang berbahagia karena merayakan hari ulang tahunnya, hati Sasuke menjadi lebih tenang. Seluruh rasa kesal hilang. Suasana hening sejenak dan terlelaplah Sasuke.

Sementara itu, Kediaman keluarga Uchiha kini sedang sunyi. Tuan Itachi sudah mengatakan akan langsung pergi ke rumah teman jadi batal pulang ketika makan siang. Begitu pula dengan Tuan Besar yang akan langsung menemui teman lamanya dan akan pulang ketika makan malam, itupun jika tidak macet. Dan Tuan Sasuke sekarang sedang dalam hukuman dan mungkin baru akan kembali ke rumah ketika liburan jika Tuan Besar memperbolehkannya. Karena seluruh anggota keluarga Uchiha tidak akan pulang ke rumah secepatnya, Hinata memutuskan untuk pergi dengan Gaara selama ada waktu kosong.

Di perjalanan, Gaara mengajak Hinata berhenti sebentar di depan restoran. Gaara bukannya mengajak Hinata makan di sana, tapi ia hanya menyuruh gadis itu menunggu di salah satu meja di luar restoran. Dengan sabar Hinata menurut dan menunggu. Ketika Gaara keluar dari restoran, Gaara akhirnya memberitahu tujuan mereka hari ini. Mereka akan pergi piknik. Tentu saja Hinata sangat senang. Kapan lagi dia akan piknik bersama Gaara.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Sekitar setengah jam berlalu mereka akhirnya berhenti. Kali ini mereka berhenti di sebuah taman yang indah.

.

.

BRAAKKK!

Suara bantingan pintu dari kamar sebelah membuat Sasuke terbangun. Meski matanya masih berat namun akhirnya dengan lesu dia duduk di kasurnya dan melihat ke arah jam. Cukup lama juga dia tidur, namun rasa lelah masih mengikutinya.

Kruyuuukkk!

Perut Sasuke berbunyi kembali. Dengan pasrah dia mengelus perutnya. Daripada tersiksa karena lapar, Sasuke memutuskan untuk mandi supaya badannya lebih segar. Setelah mandi dia berencana akan ke taman di sebelah asrama. Mungkin saja dia akan menemukan gadis cantik yang mau menemaninya. Namun, sepanjang perjalanan tak ada satu pun gadis yang mau melirik ke arahnya. Sasuke jadi sedikit kesal. Karena itu dia memutuskan untuk duduk dan beristirahat saja dibawah pohon rindang.

Secara tidak sengaja Sasuke mendengar sebuah suara yang tak asing di telinga. Suara itu terdengar lembut. Karena penasaran dia mencoba mencari asal suara tersebut. Dan akhirnya dia menemukan sang pemilik suara. Pemilik suara lembut tersebut adalah sang gadis pelayan.

Sasuke merasa perasaan benci merasuk ke dalam hatinya. Dia benci gadis pelayan itu. Ingin dia mendekati Hinata dan memarahinya karena telah membuatnya berada dalam hukuman namun seluruh niatnya pudar ketika dia melihat Gaara berada di samping Hinata. Gaara begitu dekat dengan Hinata. Itu benar – benar membuat hati Sasuke diliputi rasa kesal yang mendalam pada Hinata . Tapi, apa benar hanya Hinata saat itu yang membuatnya kesal?

Jawabannya tidak. Karena alasan lain yang membuat Sasuke kesal adalah karena Gaara kini berada di samping Hinata. Kenapa? Sasuke pun tidak tau apa alasan dia jadi kesal melihat Gaara di samping Hinata. Dadanya jadi terasa agak sakit dan perih. Namun, Sasuke berusaha berpikir positif dan melupakan semua yang terjadi di taman hari ini. Sayangnya, semua ingatan tersebut selalu terbayang di pikirannya.

.

.

.

Satu hari berlalu, hari ini adalah hari yang sibuk. Sasuke masih mengantuk, namun matanya sudah tidak mau menutup kembali. Dibukanya jendela dan tak ada secerca pun cahaya mentari memasuki kamarnya. Ini masih terlalu pagi untuk bangun tapi rasa lapar membuatnya tetap terjaga. Sasuke memutuskan untuk pergi sekolah hari ini, karena di kantin sekolah semua dijual dengan murah untuk pelajar. Maka, dengan malas dia mandi dan bersiap – siap pergi ke sekolah.

Sekolah yang jaraknya tidak jauh dari asramanya membuatnya hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk jalan kaki. Diliriknya sekolah yang amat sunyi tersebut. Kemudian kembali dia berjalan dengan tenang menuju kelasnya. Ternyata di dalam kelasnya justru lebih sepi lagi. Yang sudah mulai ramai hanya kelas sebelah, kelas 12B. Itu kelas gadis pelayan, mungkinkah dia juga sudah datang ke sekolah? Sasuke terdiam sesaat kemudian mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia memikirkan gadis itu?

.

Sementara di rumah kediaman Uchiha, Tuan Besar kembali bekerja, Tuan Itachi dan Hinata harus sekolah hari ini. Hinata kini sedang menunggu bis dan untungnya Gaara lewat di hadapannya dan mengajaknya pergi sekolah bersama mengendarai motornya. Tentu saja Hinata mau dan pergilah mereka ke sekolah.

Di sekolah, kedatangan Gaara yang membonceng Hinata menjadi tontonan heboh di sekolah, termasuk bagi Sasuke yang tengah melihat ke luar melalui jendela kantin sekolah. Agak terkejut batinnya melihat hal tersebut. Bukankah yang membonceng Hinata adalah pemuda yang kemarin bersama Hinata di taman kemarin?

"Siapa yang dibawanya ke sekolah ini?" tanya sebuah suara bergumam entah pada siapa.

"Hei, kau kenal pemuda itu?" tanya Sasuke harap – harap cemas pada gadis yang bergumam tadi.

Gadis blonde yang ditanyai Sasuke memandang Sasuke dengan bingung, kemudian akhirnya dia menjawab, "Tentu saja, lelaki itu adikku."

Mendengar pengakuan gadis tersebut Sasuke jadi agak terkejut, karena dilihat dari manapun tidak ada kesamaan antara adik dan kakak seperti mereka. Ini berbeda seperti dia dan kakaknya yang terlihat sama persis. Agak ragu untuk bertanya Sasuke menatap dalam – dalam mata gadis yang mengaku kakak dari lelaki yang membonceng Hinata.

"Namamu siapa?" tanya gadis itu ketus ketika merasa tatapan Sasuke terlalu sinis padanya.

"Ekh, na-namaku Sasuke," ujar Sasuke gugup kemudian melanjutkan, "Kau?"

"Oh, aku Temari. Apa kau kenal dengan gadis yang dibonceng adikku itu?" tanya Temari sembari menunjuk ke arah Hinata yang masih setia mengiringi Gaara kemanapun dia berjalan.

Sasuke benci mengakui kalau dia kenal dengan Hinata, maka dia menjawab, "Aku tidak kenal dengan gadis itu." Setelah berkata demikian Sasuke pergi berjalan menuju kelasnya.

"Hei, tunggu dulu!" teriak Temari sambil menarik tangan Sasuke sehingga dengan terpaksa Sasuke menghentikan langkahnya. Kemudian Temari berkata, "Apa kau bisa mengatakan kepada adikku kalau aku menunggunya di kantin?"

Sasuke berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk pada Temari yang langsung memberikan senyuman sebagai pengganti kalimat terima kasihnya. Lalu, setelah itu Sasuke pergi dari kantin tersebut menuju lorong kelasnya. Tepat sekali pada saat itu, Gaara lewat tanpa Hinata di dekatnya.

"Hei kau!" ujar Sasuke cetus pada Gaara yang tidak memberikan ekpresi apa pun, "Kakakmu memanggilmu dan sedang menunggumu di kantin."

Gaara hanya menatap Sasuke kemudian pergi melewati Sasuke tanpa mengatakan apapun. Sikap Gaara membuat Sasuke kesal, namun Sasuke tetap mencoba menahan amarahnya pada Gaara dan menganggap tidak terjadi apa – apa. Entah mengapa rasa penasaran membuat Sasuke ingin mengikutinya menuju kantin. Maka secara diam – diam Sasuke membuntutinya.

Di kantin, Gaara segera mencari kakaknya. Sebenarnya bukan hal yang sulit mencari kakaknya yang berpenampilan paling mencolok namun karena pagi itu kantin ramai oleh siswi – siswi yang sedang menggosipkan kedekatan Gaara dengan Hinata, mencari kakaknya menjadi hal yang sulit.

"Hei Gaara!" teriak Temari sambil berdiri tegak di mejanya. Gaara yang dipanggil pun berjalan mendekati kakaknya tanpa mendengarkan sedikitpun ocehan siswi di sekitarnya yang tengah membicarakannya.

"Kenapa memanggilku?" tanya Gaara dengan nada datar.

"Aku ingin menanyakan tentang siapa gadis yang kau bonceng tadi," ujar Temari dengan tegas pada adiknya yang tetap tenang.

"Dia hanya temanku, tak lebih," jawab Gaara dengan nada datar.

"Baguslah!" puji Temari sambil tersenyum sinis, "Karena kau itu sudah dijodohkan oleh ayah jadi akan lebih baik jika kau tidak dekat dengan gadis manapun."

Gaara tidak mau mendengarkan lebih banyak lagi tentang urusan seperti itu dari kakaknya dan memilih untuk pergi keluar dari kantin kembali menuju kelasnya. Sedangkan Sasuke yang diam – diam juga mendengarkan pembicaraan antara adik dan kakak tersebut sedikit tertegun sejenak. Perjodohan? Lalu, apa Hinata hanya dipermainkan oleh lelaki tadi?

Gaara sudah berada di depan kelasnya. Kelasnya tenang dan sunyi sehingga membuatnya bosan dan malas untuk memasuki kelasnya. Pada saat yang sama Hinata keluar dari kelasnya. Segera saja Gaara mendekati Hinata dan mengajaknya ke taman sekolah. Di taman, Gaara mengajak Hinata duduk di bangku dan mulai mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak terduga oleh Hinata.

"Hinata."

"A-ada a-apa?"

"Boleh aku mengatakan sesuatu?"

"Te-tentu. A-apa yang ingin kau ka-katakan?"

"Hinata, aku menyukaimu."

Terkejutlah hati Hinata mendengarnya. Apa mungkin Gaara salah makan? Atau dia yang salah dengar? Namun, ketika Gaara menggenggam tangan Hinata dengan erat barulah Hinata mengerti bahwa yang didengarnya dari Gaara tadi memang benar. Masih diliputi rasa tidak percaya, Hinata bertanya, "A-apa kau se-serius?"

Gaara hendak mengangguk namun, sebuah suara menghentikannya. Suara itu berseru memanggil, "Hinata!"

Suara teriakan itu membuat Hinata terkejut dan menoleh ke arah orang yang berteriak tersebut. Itu, Sasuke. Rupanya Sasuke telah berlari dari kantin hanya untuk mengatakan satu hal pada Hinata, perjodohan. Gaara yang menyadari tujuan Sasuke kemudian bertanya.

"Kenapa kau memanggil gadis ini?" tanya Gaara dengan nada tidak senang pada Sasuke yang terengah – engah karena berlari.

"Aku hanya ingin membicara sesuatu pada Hinata," jawab Sasuke lantang tanpa melihat ke arah Gaara dan tetap menatap mata Hinata yang sedikit takut padanya, "Hinata, kenapa kau mau bersama dengan lelaki itu?"

Hinata yang ditanyai hanya diam dalam takut. Jujur dia tak sanggup menjawab pertanyaan Sasuke. Melihat Hinata tidak mau menjawab Sasuke kembali bertanya, "Apa kau tau, kalau lelaki itu sudah dijodohkan?"

Hinata diam dan tertegun. Ia bingung harus percaya atau tidak. Namun dari dalam hatinya, dia tidak bisa percaya sedikitpun kata – kata Tuan Mudanya itu. Maka ia menjawab dengan gemetar sambil memegang lengan Gaara dengan erat, "A-aku le-lebih per-perca-ya de-ngan Gaara."

Kali ini Sasuke yang terkejut. Padahal dia bicara dengan jujur namun kenapa Hinata tidak percaya? Barulah disadarinya, perlakuannya dahulu yang telah membuat Hinata tidak percaya padanya.

Gaara tersenyum puas mendengar pernyataan Hinata kemudian mengajak Hinata pergi meninggalkan Sasuke. Masih dengan gemetara Hinata mengangguk dan mengikuti Gaara. Kini tinggalah Sasuke yang terpaku sendiri di taman. Batinnya masih tidak percaya pada apa yang dikatakan Hinata. Rasa sakit kembali menyerang dadanya. Kini ia paham satu hal tentang dia, Hinata, dan Gaara. Dia merindukan pelayan itu, dan dia tidak mau gadis pelayan itu bersama dengan Gaara.

.

.

To be continued

..

.

.

Hinata : "Rin?"

Rin : "Ada apa Hinata?"

Hinata : "Aku dan Gaara akan berpisah suatu saat nanti ya?"

Rin : "Iya." *innocent

Hinata : sweatdrop

Sasuke : "Kenapa dengan Hinata?"

Rin : "Cuma sweatdrop kok." *plak!

Sasuke : "Gara – gara akan putus dengan Gaara ya?"

Rin : "Begitulah."

Sasuke : "Hn."

Rin : "Sasuke, bantu aku membacakan balasan review ya!"

Sasuke : "Enak saja, baca sendiri dong!"

Rin : Sweatdrop

~ purple girl, semua kata – katamu benar. Termasuk kangen masakan Hinata. Gaara sudah jalan – jalan dengan Hinata kok. ^_^

~ Yuiki Nagi-chan, salam kenal juga! Sejujurnya, aku belum memikirkan ending. Tapi, semoga saja happy ending.

~ Sora Hinase, terima kasih sudah menunggu kelanjutan fic ini ya *nangis bombay *plak!

~ ichsana-hyuuga, aku juga senang!

~ akasuna no hataruno teng tong, wah semangat sekali! Nih sudah di update lagi.

~ UchihaHinataHime, semoga sukses menepati janji ya!

~ sasuhina lovers, tentu saja iya! ^_^

~ ika chan : begitu ya *introspeksi diri. Ini sudah di update lagi.

~ hyugha nanako : terima kasih sudah memaafkanku dan menunggu *hug (plak!).

~ shaniechan : tenang, Sasuke akan ketemu dengan Hinata dimanapun sesuka Author *digampar.

~ uchihyuu nagisa : anggap saja itu ramen special jadi mahal, GaaHina sudah ku perbanyak kok.

~ Uwi, oke! ^_^

~ OraRi HinaRa : GaaHina sepertinya akan tragis nih, dan Sasuke memang terbukti kangen.

~ Lollytha-chan, ok!

Rin POV

Maaf semuanya, GaaHina mungkin akan berpisah

Aku juga agak sedih tapi cuma itu yang terpikir di kepalaku *dibantai. Maaf sekali lagi ya. Dan untuk yang sudah review, makasih banyak! Aku jadi lebih bersemangat melanjutkan fic ini walaupun waktuku banyak terkuras hanya untuk memikirkan kelanjutannya.

.

I love everyone, because everyone is friends for me

.

,

.

RnR please