Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

Genre: Angst, Romance

Rated: T

Pairing : SasuHina

Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?

Gaara kini sudah mulai ku singkirkan dari cerita ini. Namun, meski begitu Sasuke kini mulai berubah menjadi baik.

.

.

,

Title: Tuan Muda Uchiha

\ . /

Bagian Enam : Melodi Perpisahan Nona Temari.

,

.


Sasuke P.O.V

Bunyi lonceng kemudian menggema dan membuat seluruh murid di sekolah tersebut berseru gembira menyambutnya. Beberapa dari mereka segera membentuk kelompok dan berjalan pulang bersama, beberapa lagi terpisah dari rombongan dan berjalan sendirian. Aku adalah salah satu dari mereka yang berjalan sendiri karena aku benci diganggu oleh orang – orang seperti mereka. Aku menjadi penyendiri semenjak aku tinggal di asrama menyebalkan itu. Naruto sudah tidak pernah terlihat lagi, sementara sang gadis pelayan kini selalu berada di samping lelaki itu.

Aku tak suka melihat mereka bersama, namun aku tak bisa memisahkan mereka. Aku mengerti pelayan itu kini membenciku dan itu semua karena kesalahanku dulu. Aku mungkin terlalu kasar padanya. Tapi, itu semua kulakukan hanya untuk membuat dia sadar akan semua kesalahannya telah menggantikan posisi ibu saat ibu tiada.

Huh! Aku benci saat – saat memikirkan gadis pelayan itu. Aku tak tahu kenapa aku terus menerus memikirkannya. Mungkin aku merasa bersalah namun aku tak sudi jika harus meminta maaf terlebih dahulu. Bagiku semua ini tetaplah kesalahannya. Sebentar! Kenapa aku justru semakin memikirkan gadis itu?

Arghh! Ada yang salah dengan otakku. Tapi, bukan cuma otakku yang mengalami masalah. Dadaku terasa perih setiap saat. Mungkin ini hanya penyakit ringan yang akan segera sembuh.

"Sasuke!"

Siapa yang memanggilku? Karena penasaran, aku pun menoleh dan melihat orang yang memanggilku, "Temari?"

"Maaf mengganggu, tapi aku ingin membicarakan sesuatu padamu," itulah yang dikatakan gadis blonde itu padaku dan aku yang agak bingung pada sikapnya mengajaknya berbicara di taman.

Sunyi sesaat di taman dan aku mulai bertanya duluan, "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"

"Ini . . . sebenarnya ini tentang adikku dan gadis bernama Hinata itu. Aku sudah dengar dari Gaara sendiri bahwa dia hanya berteman dengan gadis itu, namun kenyataannya dia dan gadis itu terlihat seperti bukan teman biasa. Karena itu tolong bantu aku memisahkan mereka!"

Aku mendengar setiap kata – kata gadis blonde di sampingku. Nada bicaranya terdengar seperti orang yang bingung dan cemas. Aku pun terbawa suasana dan terdiam ketika mendengar keluhan Temari.

Aku bingung . . . .

Apakah aku harus setuju dan ikut membantunya, atau aku harus menolak dan berusaha melupakan semua tentang gadis pelayan dan lelaki itu?

Aku akhirnya berdiri dan berkata, "Lakukan saja dahulu tanpa aku, karena aku sedang sibuk," lalu aku meninggalkannya dan pergi menuju asrama. Namun, langkahku terhenti karena gadis blonde itu menghalangi jalanku seraya berkata, "Kalau begitu, aku minta usulmu!"

Tanpa pikir panjang aku menjawab singkat, "Katakan saja apa yang sebenarnya pada gadis itu tentang perjodohan adikmu itu."

Temari berpikir sejenak lalu dengan semangat ia berlari menjauhi taman dan meninggalkan aku yang melihatnya semakin menjauh. Tiba – tiba gadis itu berhenti dan menoleh ke arahku, kemudian dengan manjanya dia tersenyum padaku sambil berteriak dari kejauhan, "Terima kasih ya," kemudian dia kembali berlari.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Tak kusangka aku telah membantu seseorang hari ini. Mungkin ibuku akan lebih senang melihatku membantu orang setiap saat seperti sekarang ini. Ibu, apa kau senang melihatku sekarang dari surga?

.

.

.

Seminggu berlalu semenjak aku berbicara dengan Temari. Kini aku sudah mendapatkan seorang teman dari asrama bernama Neji. Orangnya baik dan sering membantuku menolong orang lain. Dia juga bernasib sama denganku yang kehilangan ibu. Mungkin nasibnya justru lebih buruk dariku karena dia juga kehilangan ayahnya. Ketika aku bertanya mengenai ayah angkatnya, dia selalu mengalihkan ke pertanyaan yang lain. Namun aku tak pernah peduli akan hal itu. Karena dia, sekarang aku sudah mulai lebih menghargai hidup. Dia memang teman yang baik.

Selain itu, Naruto juga sekarang sudah kembali berteman denganku. Dia sadar kalau aku dahulu adalah teman terbaiknya. Meski hubunganku dengan keluargaku masih berantakan namun keberadaan kedua temanku itu sudah cukup untuk membuatku merasa lebih baik.

Hari ini kami bertiga akan ke sekolah bersama – sama. Kelasku dan Naruto memang tidak sama dengan kelas Neji namun kami selalu berusaha untuk bersama setiap istirahat dan pulang sekolah. Namun, hari ini kelihatannya kami tidak akan pulang bersama. Naruto ada urusan kelurga sehingga tidak bisa menemani kami ke asrama walau hanya sebentar. Neji hari ini akan pergi menjenguk ayah angkatnya dan akan kembali nanti malam.

Jadi, aku memutuskan untuk ke taman. Aku ingin bersantai di sebuah bangku tempat aku dan Temari dulu berbicara. Aku bersyukur, ketika itu aku mau menolongnya sehingga aku akhirnya sadar menolong seseorang itu menyenangkan. Tapi, waktu itu apa yang kubicarakan dengannya ya?

Aku sudah terlalu banyak melupakan masa lalu. Aku bahkan lupa seperti apa wajah ayah dan kakak. Gadis – gadis yang pernah menjadi pacarku saja tak bisa ku ingat lagi siapa namanya. Hah! Mungkin lain kali aku tak perlu melupakan sesuatu sampai sejauh ini.

"Hiks! Hiks! Hiks!"

Aku tertegun sejenak kemudian bertanya dalam hati, tangisan siapa itu? Aku penasaran dan mencari asal tangisan tersebut. Hingga aku akhirnya sampai di depan sebuah pohon besar yang dianggap keramat oleh beberapa warga setempat. Aku melirik ke balik pohon tersebut. Dan di sana ada seorang gadis berambut biru yang menangis tersedu – sedu. Aku mencoba mendekatinya dan bertanya lirih, "Kenapa kau menangis?"

Gadis itupun terkejut melihatku dan berkata hal lain, " Ka-u Tu-Tuan Sasuke ka-n?"

Aku terpaku mendengarnya. Entah mengapa kalimat 'Tuan Sasuke' sepertinya sudah sering kudengar, namun aku tak tau dari siapa. Angin sepoi – sepoi bertiup menerpa wajahku dan mengingatkanku pada suatu hal, Hyuga Hinata.

Aku tercekat, ingatan – ingatan aneh berputar di kepalaku. Aku menjauhinya dengan melangkah ke belakang sebanyak tiga kali. Kemudian aku berkata, "Kau gadis pelayan kan?"

Gadis itu hanya menatap nanar padaku kemudian mengangguk perlahan dengan rasa penyesalan luar biasa. Suasana tenang. Angin bertiup kembali menggugurkan dedaunan di pohon. Beberapa daun terbang dan mendarat di rambut Hinata yang lembut. Ku tatap mata gadis itu. Kelihatannya dia sedang benar – benar sedih.


Hinata P.O.V

Aku bertemu kembali dengan Tuan Mudaku dahulu. Tubuhnya kini lebih kurus namun wajahnya kini lebih terlihat ramah. Pertemuanku dengannya membuatku sedikit melupakan masalah yang tengah menimpaku. Air mataku berhenti mengalir dan aku segera meminta maaf padanya. Meski Tuan Muda sedikit bingung melihatku. Lalu, Tuan Muda mengajakku untuk pergi menuju kamarnya.

Di sana, suasananya begitu sederhana. Ruangan kamar ini berantakan, buku – buku tergeletak sembarangan di lantai, baju – baju kotor juga menumpuk di bak. Namun entah mengapa rasa sedih menghalangiku untuk membereskan kamar Tuan Muda.

"Hinata, kenapa kau tadi menangis?" tanyanya padaku dengan tatapan simpati. Aku hanya mengeleng karena merasa Tuan Mudaku tak ada hubungannya dengan masalah yang tengah ku hadapi ini. Namun, Tuan Muda tetap memaksaku untuk menceritakan masalahku dan akhirnya dengan pasrah aku bercerita.


Flashback

Saat itu aku sedang berjalan – jalan sebentar dengan Gaara di sampingku. Katanya hari ini dia akan mengajakku ke rumahnya. Tentu saja aku senang. Baru pertama kali ini aku bisa menijakkan kaki di rumahnya. Namun, ternyata ketika sampai di sana semua tidak berjalan bahagia. Kakak pertama Gaara yang bernama Temari dengan kasarnya menjamuku dan meninggalkanku sendiri di ruang tengah. Gaara sedang berbicara dengan kakaknya yang lain. Sementara ayah mereka sedang tidur siang di kamar.

"Eh," ujarku bingung pada kakak pertama Gaara yang sedang membuat sesuatu di dapur.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada ketus padaku, membuatku kehilangan semangat.

"A-aku hanya i-ngin mem-bantumu," ujarku kemudian setelah berpikir harus bicara apa.

"Tak perlu, sebaiknya kau duduk saja di ruang tengah dan tunggu aku," begitulah yang dikatakannya dan aku menurut. Kalau tahu akan begini jadinya, aku pasti akan menolak untuk diajak ke rumah ini. Namun, bodohnya aku karena aku justru senang diajak kemari.

"Hei!" panggil Temari padaku sambil memberiku minuman dan kue.

"Ya?" balasku dengan gugup padanya yang kemudian berkata langsung pada pokok permasalahan, "Hinata, apa kau tak tahu kalau Gaara sudah dijodohkan?"

Mataku melebar mendengarnya. Jadi, kata – kata Tuan Sasuke dulu tentang perjodohan Gaara memang benar. Namun, aku tak mau percaya padanya. Kembali Temari bertanya padaku, "Hei, kau dengar kan aku tadi menanyak apa?"

Aku mengangguk lemah kemudian menjawab, "Jujur, aku tak tahu tentang perjodohan itu."

Temari menggelengkan kepala dan menjelaskan padaku, "Kau ini bagaimana sih? Gaara dijodohkan oleh ayahnya semenjak dia lahir. Itu karena Gaara adalah pewaris keluarga ini. Masa depannya sudah diatur oleh ayah kami. Kelak yang akan menjadi istrinya adalah putrid seorang bangsawan yang masa depannya sama cerahnya dengan Gaara."

Aku tak bergeming mendengarnya, hatiku terasa sakit karena menahan perih yang kurasakan. Aku masih tak percaya pada apa yang kudengar. Jadi yang dilakukan Gaara padaku selama ini apa? Tolong beritahu aku jawabannya. Ketika piknik di bawah pohon keramat dia pernah berkata ingin hidup selamanya di sampingku, lalu semua kata – katanya ketika di halaman sekolah dan semua perilaku baiknya padaku. Kenapa dia . . . . Arggghhhhh!

Tanpa pikir panjang, aku memohon diri untuk pergi dan kembali ke rumah. Temari mempersilahkan aku. Dan aku berlari sekencangnya menuju halte bis. Aku masih menangis di sana. Sampai Naruto menghampiriku dan bertanya apa yang terjadi padaku. Sayangnya, ketika itu aku tak mau menjawabnya dan Naruto hanya mengantarku kembali ke rumah menganggap aku menangsi karena aku tidak bisa pulang ke rumah.

Sampai datangnya hari ini, aku masih menangis mengingat kata – kata Temari. Aku benar – benar terpukul akan kejadian hari itu. Meski aku berniat melupakannya namun setiap kali melihat wajah Gaara semua ingatan itu kembali berputar di kapalaku. Berhari – hari aku tersiksa karena dia. Aku . . . .

Aku terlalu bodoh mau dipermainkan olehnya.

Flashback end


Aku menundukkan kepalaku, membayangkan seberapa bodohnya aku. Menyebalkan! Meski aku sudah bisa berkata 'Aku benci Gaara' namun aku masih belum rela jika harus berpisah dengannya. aku bingung dengan perasaanku sendiri.

"Hinata, kau mau the?" tawar Tuan Muda padaku sambil menatap dalam mataku. jarang sekali dia yang menawariku begitu. Aku yakin tawaran itu hanya supaya aku bisa lebih tenang. Ku rasa tak ada salahnya jika aku menerima tawaran Tuan Muda. Sore ini aku ditemani Tuan Muda. Terasa ada hal yang berbeda dengan Tuanku yang sekarang. setelah aku kembali ke rumah Tuan Besar, baru aku sadari perubahan apa itu. Tuan Muda berubah menjadi lebih baik padaku.

.

.

To be continued

.

.

.


~ lonelyclover : ada deh, kalau kamu baca ceritanya pasti tahu.

~ Lollytha-chan : iya ^_^

~ Shaniechan : iya deh.

~ purple girl : aku pikir – pikir semua kata – katamu memang benar. Makasih banyak buat semangatnya ya!

~ ika chan : aku susah bikin romance, maaf ya!

~ Miya-hime Nakashinki : kalau kamu mau silahkan saja jadi tunangan Gaara *plak!

~ UchihaHinataHime : gomen, aku UN dulu.

~ Uwi : hahaha! Ketipu Gaara ya? Nih udah update lagi.

~ ichsana-hyuuga : oke . . . . udah lanjut.

~ uchihyuu nagisa : semoga saja.

~ papillonz : aku usahakan untuk melebihi kilat kalau bisa deh.

~ OraRi HinaRa : makasih sudah mau mengerti. Sudah ku update lagi nih.

~ Yuiki Nagi-chan : aku yang bikin fic ini saja kadang bingung *plak! Sudah ku update nih.


.

I love everyone, because everyone is friends for me

.

,

.

RnR please