Disclaimer: Naruto itu punya Masashi Kishimoto

Genre: Angst, Romance

Rated: T

Pairing : SasuHina

Warning : Typo yang berhamburan karena dibikin terburu - buru, super gaje, OOC, bikin sakit kepala pas baca bahkan Author yang membuat cerita ini kadang pusing sendiri pas baca.

Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?


Gomen, update-ku selalu lama. Kalau bisa, nanti nggak akan lama lagi deh. Tapi, kalau bisa saja ya….

Chapter kali ini, Sasuke P.O.V memang terlalu dikit *digampar!* habis chapter ini memang cocoknya Hinata P.O.V

Udah deh, makin lama nanti aku makin gaje aja. Jadi, kita langsung saja baca fic-ku.


.

..

Tittle : Tuan Muda Uchiha

.

Bagian 7 : Kegelisahan Tuan Muda.

..

.


Sasuke P.O.V

Baru kemarin aku bertemu dengan Hinata dan merasa lebih tenang karena aku telah membantunya, namun hari ini aku merasa gelisah kembali. Apa mungkin ini sebuah perasaan menyesal telah membantunya? Atau mungkinkah ini karena aku telah salah membantunya? Huh, aku yakin bukan itu yang membuatku gelisah sepanjang hari ini.

Aku mencoba untuk menghilangkan semua perasaan gelisah yang menyelimutiku. Mungkin mengatakan semua perasaan gelisah ini langsung pada Hinata bisa membuatku lebih tenang. Karena itu, sekarang aku sedang sibuk mencari sosok gadis berambut biru dari luar jendela di daerah sekitar taman namun tak ada satu pun di sana seorang gadis yang bernama Hinata.

Aku menghela nafas panjang dan merenung sebentar. Lalu, aku memperhatikan foto ibu yang ku tenggerkan di atas meja. Aku tersenyum sejenak kemudian aku tertegun. Kenapa rambut ibu dan rambut gadis itu warnanya sama? Kami-sama, apa ibuku memang ingin Hinata yang menggantikan posisinya?

Bodohnya aku berpikir begitu. Mana mungkin ibu menginginkan itu. Kematian ibu pun pasti bukan karena dia sendiri yang menginginkan agar Hinata sekarang menggantikan posisinya. Aku tak pernah bisa melupakan kematian ibu, namun semua itulah yang justru menyiksaku dan melampiaskan semuanya pada gadis pelayan itu.

.

.

.


Hinata P.O.V

Dapat ku lihat raut wajah kesal pada Tuan Besar. Meski kini ia terlihat sedang membaca buku tebal di samping jendela, sebenarnya Tuan Besar tidak membacanya sama sekali. Ia sekarang sedang berpikir keras. Perusahaannya sedang merugi dan terancam bangkrut. Sungguh menyedihkan. Aku ingin membantu, namun aku tidak tau caranya. Ini terlalu sulit.

"Ma-maaf Tuan Be-sar, i-ini minuman un-tuk Tu-Tuan," ucapku sambil menyuguhkan secangkir kopi di atas meja. Tuan Besar tidak bergeming sama sekali. Bahkan Tuan Besar tidak melirik sama sekali pada cangkir itu.

"Hinata, bisa kau panggilkan Itachi sekarang?" tanya Tuan Besar lirih padaku.

"Te-tentu sa-ja, Tu-Tuan," jawabku sambil segera berjalan menuju kamar Tuan Itachi.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan keadaan Tuan Besar. Jujur, aku khawatir padanya. Andai saja kalau aku bisa membantu. Tidak, aku bisa membantu Tuan Besar. Dengan memanggil Tuan Itachi aku sudah membantu Tuan Besar walau mungkin hanya itu saja yang dapat ku lakukan. Aku yakin, Tuan Itachi bisa membantu lebih dari aku.

Akh, itu dia Tuan Itachi.

"Tu-tuan!" aku berteriak dari jauh menuju Tuan Itachi yang segera menoleh ke arahku ketika aku memanggilnya. Tuan Itachi kemudian bertanya padaku, "Ada apa Hinata?"

"Tu-Tuan Besar me-manggil-" belum selesai aku bicara, Tuan Itachi memotong dengan berkata, "Hinata, bisa kau pergi sebentar dari rumah ini?"

Aku agak bingung dengan kata – kata tersebut, namun aku tetap menurut dan mengganti pakaianku lalu keluar dari rumah menuju entah kemana.

.

.

.

Aku masih berjalan tak tentu arah. Akhirnya setelah sekian lama aku berjalan sambil tetap mengkhawatrikan keadaan Tuan Besar aku sadar kalau aku telah sampai di taman. Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku bisa sampai di taman yang pernah menjadi kenanganku dengan Gaara?

"Hinata!" panggil seseorang dari arah belakangku. Aku pun segera menoleh dan berkata tak percaya, "Tu-tuan?"

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"A-aku hanya berja-lan – jalan di se-kitar si-sini," jawabku asal padahal sebenarnya aku disuruh pergi oleh Tuan Itachi.

"Mau ikut aku sebentar?" ajak Tuan Sasuke padaku. Aku hanya menggangguk kecil dan kemudian Tuan Sasuke langsung menggandeng tanganku berjalan bersamanya. Bergandengan tangan dengan Tuan Sasuke adalah hal yang tak pernah terpikirkan olehku. Apalagi jika itu dilakukan di tempat umum seperti taman. Namun, keberadaan Tuan Sasuke bisa membuatku melupakan Gaara sementara waktu ini.

Kami pun akhirnya sampai di depan sebuah pintu. Tuan Sasuke akhirnya melepaskan gandengannya dan membuka pintu seraya menyuruhku masuk terlebih dahulu.

Aku merasa agak canggung dan menggeleng lemah padanya. Mungkin Tuan Sasuke paham tentang perasaan yang campur aduk saat ini, jadi ia masuk duluan. Aku mengiringi di belakang dan melihat betapa berantakannya kamar Tuan Muda.

Saat pertama kali aku kemari, kamar ini belum seberantakan ini. Aku menatap Tuan Muda yang langsung merebahkan diri di kasurnya. Pasti dia benar – benar lelah, bahkan kamarnya sendiri tidak dibereskannya. Kasihan Tuanku.

"Tu-Tuan!" panggilku tiba – tiba sehingga Tuan Sasuke langsung duduk di kasurnya dan memandang bingung padaku, "Ada apa Hinata?"

"A-aku ingin mem-bantu mem-membereskan ka-kamar i-ni," jawabku dengan ragu pada Tuan Muda yang kelihatannya sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan ku lakukan sebenarnya pada kamar ini.

"Silahkan saja," ujar Tuan Muda dan kemudian kembali merebahkan diri di kasurnya dan menutup matanya seraya merasakan angin semilir memasuki kamarnya melalui jendela yang terbuka lebar. Aku yang juga diterpa angin semilir itu ikut terbawa suasana, namun aku sadar ada banyak pekerjaan di sini yang bisa ku lakukan.

.

.

.

.

Jam 4 sore, harusnya Tuan Itachi sudah menyuruhku pulang kembali ke rumah. Namun sampai sekarang tak ada perintah dari Tuan Itachi. Padahal, aku telah sabar menunggu sampai – sampai aku telah selesai merapikan kamar Tuan Sasuke yang awalnya sangatlah berantakan kini menjadi rapi dan lebih nyaman. Hah, apa Tuan Itachi lupa kalau aku sedang tidak ada di rumah?

Ku tatap kembali Tuan Sasuke yang masih tidur pulas di kasurnya. Kalau melihat Tuan Muda yang seperti itu rasanya dia benar – benar terlihat . . . . err . . . . sulit untuk ku akui tapi inilah yang sejujurnya. Tuan Muda kelihatan lebih tampan. Aku tau, pikiranku pasti sedang kacau karena memikirkan pulang saat ini jadi wajar kalau aku berpikiran aneh tentang Tuan Muda seperti ini.

Aku berjalan perlahan menuju Tuan Muda yang masih terlelap. Pasti benar – benar kelelahan. Angin yang berhembus perlahan menggoyangkan perlahan rambut Tuan Muda. Aku tersenyum sendiri karenanya. Andai kalau Tuan Sasuke selalu terlihat seperti ini.

Trrrr… itu suara handphone-ku.

"Ekh, ha-halo," sapaku gugup di telepon.

"Hinata, kau sedang di mana? Aku akan menjemputmu pulang sekarang," ujar Tuan Itachi padaku dengan nada tergesa – gesa.

"A-aku-" sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku ada di asrama Tuan Sasuke tapi aku takut akan terjadi keributan karena hubungan Tuan Itachi dan Tuan Sasuke sampai sekarang belum membaik. Maka, aku menjawab singkat namun penuh dusta, "Aku sedang ada di halte saat ini."

"Baiklah, tunggu saja aku di sana," ujar Tuan Itachi kemudian langsung mematikan sambungan telepon.

Aku terdiam terpaku. Matahari sudah mulai merendah dan akan segera menghilang. Sinarnya menerpa diriku dan mengingatkanku, bahwa aku belum memasakkan sesuatu untuk Tuan Sasuke. Pasti setelah bangun tidur dia akan kelaparan. Sayangnya aku harus segera ke halte terdekat sekarang.

"Sasuke!" teriak seseorang sambil membuka pintu kamar Tuan Sasuke, "Eh, siapa kau?"

Aku yang ditanyai demikian hanya terdiam bingung harus bicara apa. Orang ini kan dulu pernah membantuku, namun aku takut orang ini justru berbahaya.

"Apa yang terjadi, Hinata?" tanya Tuan Muda yang baru saja terbangun karena suara teriakan yang memanggil namanya tadi. Aku menatap takut pada Tuan Muda dan keliahatannya Tuan Muda paham akan maksudku. Dengan segera Tuan Muda melihat siapa yang sekarang ada di depan pintu kamarnya.

"Neji, kenapa kau datang ke sini?" tanya Tuan Muda tenang pada orang yang tersebut.

"Aku hanya ingin mengajakmu ke kamarku sekarang, ada sesuatu yang ingin ku bagikan denganmu," jawab lelaki yang dipanggil Neji tersebut.

"Hn," balas Tuan Muda datar kemudian bertanya padaku, "Hinata kau mau ikut?"

Dan tentu saja aku menjawab singkat, "Ma-maaf, tapi a-aku ha-rus pulang se-sekarang," ku lihat dengan jelas Tuan Muda tampak kecewa namun aku segera tersenyum dan berkata, "Be-besok aku pas-ti ke sini la-gi."

Tuan Muda pun balas tersenyum padaku. Kemudian ia langsung berdiri dari tempat tidurnya dan mendekatiku lalu berkata pada Neji, "Sekarang aku ingin mengantar Hinata dulu."

Aku terkejut sesaat. Kalau Tuan Sasuke yang akan mengantarku, Tuan Itachi pasti tau aku dari asrama Tuan Sasuke. Maka aku segera berkata, "A-aku bisa pergi sen-diri kok," namun Tuan Muda malah tertawa dan mengelus perlahan rambutku. Segera saja pipiku merona karenanya.

"Sebentar lagi kan malam, berjalan sendirian pasti bahaya buatmu," ujar Tuan Muda sambil tetap mengelus rambutku. Namun, tiba – tiba sebuah suara membuatku terkejut.

Brukkk!

"Ah, Sasuke! Kau kenapa?" seru Neji sambil segera berlari mendekati Tuan Muda yang tersungkur di lantai.

"Tuan!" teriakku histeris melihatnya.

Aku yakin Neji yang mendengarkan aku berteriak 'Tuan' tadi tidak sadar siapa yang ku panggil Tuan karena dia juga sedang cemas. Jadi, tak kan terjadi apa – apa jika aku memanggil Sasuke dengan sebutan Tuan sekarang, sekalipun Tuan Muda tidak menginginkannya sama sekali.

"Sasuke, badanmu panas sekali!" Neji berkata dan kata – katanya itu malah membuatku makin cemas. Pantas saja dari tadi Tuan Muda terlihat sangat lelah. Neji segera membawa Tuan Muda kembali berbaring di kasurnya. Kemudian Neji berkata, "Istirahatlah dulu Sasuke!"

"Tapi, Hinata-"

"Biar aku yang mengantarnya pulang," ujar Neji mantap pada Tuan Muda. Aku tau itu semua hanya agar Tuan Muda bisa merasa lebih tenang. Namun . . . .

"Hinata, tak apa – apa kan kalau Neji yang mengantarmu?" tanya Tuan Muda lirih padaku. Dan aku mengangguk lemah. Di sisi lain, aku tidak mau ditemani orang yang bernama Neji ini. Namun, di sisi lainnya, aku tak ingin Tuan Muda jadi cemas karena aku pulang sendirian.

.

.

.

.

Ini dia halte terdekat dari asrama Tuan Sasuke. Tak ku sangka, lelaki yang bernam Neji akan mengantarku sampai sini karena ku pikir pada awalnya dia hanya bercanda ingin mengantarku.

"Jadi, mana yang katamu akan menjemputmu sekarang?" tanya Neji dengan sinis padaku. Dan aku yang juga agak bingung kemana perginya Tuan Itachi yang harusnya sudah ada di sini hanya menggeleng perlahan.

Neji terlihat sedikit kesal namun ia berusaha menutupinya dengan tetap bersikap tenang. Aku jadi iri dengannya. Di saat Tuan Sasuke dalam keadaan kurang bagus seperti itu, dia tetao bisa menjaga diri dan bersikap tenang. Andai aku juga seperti itu.

"Hinata!" panggil seseorang dari balik kegelapan malam. Aku pun menoleh dan tersenyum puas. Itu Tuan Itachi, "Maaf membuatmu menunggu, jalanan tadi mengalami kemacetan."

Aku tau itu hanya alasan Tuan Itachi namun aku tetap merasa senang karena setidaknya Tuan Itachi telah menjemputku.

"Ayo kita pulang sekarang!" perintah Tuan Itachi padaku dan aku kembali menurut dengan segera duduk di motornya. Sebelum Tuan Itachi pada akhirnya membawaku pergi, aku sempat melirik Neji sekali lagi dan mengucapkan 'sampai jumpa'. Dan pada saat itu lah aku menyadari sesuatu.

Mata Neji sama dengan mataku….


.

.

.

To be continued

.

.

.


Sasuke : "Huh, badan udah kurus kok sekarang ditambah sakit lagi?"

Rin : "Suka – suka aku dong. Authornya kan aku."

Hinata : "Rin be-nar."

Sasuke : "Author sepertimu terlalu seenaknya pada kami."

Rin : "Kamu mengeluh ya?"

Sasuke : "Sepantasnya kan kalau aku mengeluh."

Rin : "Hinata yang sampai sekarang masih ku jadikan pelayan saja tidak mengeluh."

Hinata : *sweatdrop*

Sasuke : "Daripada kamu membuat lebih banyak orang sweatdrop, lebih baik kamu membacakan reply review para readers."

Rin : "Oh iya, Sasuke mau membantu?"

Sasuke : "Tidak. Baca saja sendiri, kamu kan Authornya."

Rin : "What? Kenapa gara – gara aku Authornya aku yang jadi serba sibuk?" *plak!*


~ ichsana-hyuga : baguslah kalau kamu seneng… susah mau update kilat nih….

~ UchihaHinataHime : aku hadir untuk bikin kelanjutan fic-nya.

~ ika chan : kalau aku lagi ingin bikin Hinata jatuh cinta pada Sasuke pasti aku bikin, mungkin sebentar lagi. Gomen kalau ceritanya pendek… ide lagi susah dapat sih *plak!*

~ purple girl : aku aja gak yakin dia bisa bikin the *dibantai*. Sayangnya aku bingung gimana supaya Hina bikini Sasu bento…

~ Lollytha-chan : ok ^^

~ OraRi HinaRa : maaf soal typo itu. Nih udah di update lagi.

~ uchihyuu nagisa : gak tau kenapa Hina terus menderita nih. Hmmm, makasih sudah bilang bagus ya.

~ Shaniechan : udah gak penasaran lagi kan?

~ Miya-Hime Nakashinki : hahahahaha…. Kalau gitu Gaara dengan siapa kalau kamu saja gak mau? *gubrak!* update kilat susah nih. Tapi, aku usahakan deh.

~ Uwi : yup! SasuHina udah banyak belum di chapter ini? Masa' Sasu yang sudah ku bikin kejam, gak berperasaan, dan suka menyiksa orang *plak!* dibuat canggung. Tapi, kalau aku mampu nanti aku ubah sifatnya 180 derajat.

~ hana-chan : memang sasuhina kok, dan mudah – mudahan saja happy ending ^_^

~ Botol Kosong : iya… makasih ya udah bilang bagus .

~ Nerazzuri : gomen kalau panda-kun munculnya cuma sekejab *plak!*

~ Monster Rawr : kamu tertinggal sangat jauh rupanya. Maaf kalau baru ku reply sekarang. Tenang saja, kamu gak aneh kok ^^


.

.

.

I love everyone, because everyone is friends for me

.

.

.

RnR pliz