Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

Genre: Angst, Romance

Rated: T

Pairing : SasuHina

Warning : typo. OOC, gaje. dan masih banyak yang lainnya yang bisa membuat sakit kepala dan sakit mata.

Sumarry : Sasuke berubah menjadi menyebalkan semenjak ibunya meninggal. Mungkinkah hal itu akan berubah jika seorang gadis pelayan di rumahnya seperti Hinata terus menyemangatinya? Meskipun terkadang hatinya selalu tersakiti?


Aku sudah mencoba mencari ide dari mana – mana namun, cuma ini yang bisa ku ketik untuk melanjutkan fic ku *digampar!*. Mudah – mudahan saja yang ini tidak terlalu pendek. Dan mudah – mudahan juga yang ini typo-nya berkurang.


.

.

,

Title: Tuan Muda Uchiha

...

Bagian Delapan : Tuanku Kini Berbaikan.

"…"

.


Hinata P.O.V

Hari ini Tuan Muda tidak datang ke sekolah. Pasti karena dia masih sakit dan sekarang mungkin sedang terbaring lemah di kamarnya. Tuan Mudaku yang malang. Apa Neji sekarang merawatnya ya? Oh iya, Tuan Besar juga sedang dalam kondisi yang sulit. Aku khawatir kalau aku pasti diusir lagi dari rumah karena kelihatannya masalah mereka belum selesai. Namun, itu justru bagus buatku, karena hari ini aku ingin menjenguk Tuan Muda lagi.

"Hei, kau yang namanya Hinata!"

Aku pun berbalik ke arah sumber suara ketika namaku dipanggil. Dan aku pun menjawab dengan senyum tersungging, "Eh, Ne-neji? Ke-napa tiba – tiba memanggilku?"

"Ada yang ingin ku katakan padamu, jadi tolong ikut aku sebentar," ujar Neji tegas padaku.

Aku pun mengikutinya entah ke mana sebenarnya kami berjalan. Hatiku berkata, semua yang ingin dikatakannya berhubungan dengan Tuan Muda. Kira – kira, apa Tuan Muda sudah merasa lebih baik ya? Mungkin hanya Neji yang tau dan bisa menjawab pertanyaanku barusan. Kini, kami sudah berada di perpustakaan. Tenang sekali, sama tenangnya dengan lelaki yang berada di sampingku ini. Mungkin memang Neji suka dengan tempat – tempat tenang seperti ini. Namun, keadaan yang tenang justru membuatku semakin tegang.

"Ne-neji bi-bisa kau katakan seka-rang, apa dari tadi i-ngin kau bi-bicarakan?" ujarku takut – takut padanya.

"Baiklah," kata Neji yang kemudian langsung duduk di salah satu kursi, "Aku tadi sempat ke kamar Sasuke, ku dengar dia mengigau dan menyebut namamu setalah dia menyebut nama . . . Mikoto."

Jantungku seakan berhenti berdetak. Namaku disebut setelah nama Nyonya Besar. Apa yang terjadi pada Tuan Muda selama dia tertidur? Kenapa ia bisa menyebut nama Nyonya Besar? Apa mungkin Tuan Muda bertemu dengan Nyonya Besar di alam mimpi?

"Hei, kau tidak apa – apa kan?" tanya Neji membuyarkan semua lamunanku.

"A-aku tidak apa – apa," jawabku sambil menggelengkan kepalaku.

"Kalau tidak salah aku pernah mendengar nama Mikoto namun aku lupa entah kapan."

"Ka-kau yakin?" tanyaku dengan nada agak tinggi.

"Tentu saja aku yakin, aku hanya perlu mengingat – ingat kapan aku mendengar nama itu," ujar Neji dengan nada agak sedikit kesal padaku. Mungkin dia benci jika ditanya dengan nada tinggi seperti tadi. Tapi, aku tadi tidak sengaja bicara dengan nada tinggi karena aku terkejut. Memangnya, apa hubungan Neji dengan Nyonya Besar?

"Sebaiknya kamu ke kelasmu sekarang, sebentar lagi pelajaran pertama akan di mulai," Neji mengucapkan kalimat yang rasanya tak asing di telingaku.

"I-iya," jawabku singkat dan kemudian aku langsung berlari menuju kelasku. Namun, tiba – tiba lariku terhenti. Ada sesuatu yang terlintas di pikiranku. Dadaku sedikit sesak. Perih. Itulah yang ku rasakan saat ini. Ku tatap lorong menuju kelasku dengan samar. Kami-sama, kenapa aku harus bertemu dengan Gaara lagi?

Aku berusaha tidak melirik sedikitpun pada Gaara, namun mataku sama sekali tidak bisa menuruti apa yang ku pikirkan. Aku ingin melihat wajahnya. Dan pada akhirnya, nafsu mengalahkan pikiranku. Aku tetap melihat wajahnya untuk yang kesekian kalinya. Dan untuk yang kesekian kalinya pula hatiku merasa sakit. Gaara lewat di sebelahku sambil menggandeng seorang gadis berambut oranye. Mereka berjalan dengan angkuhnya. Gaara bahkan tidak melihat ke arahku. Dia hanya lewat sambil mendengarkan celotehan gadis yang mengiringinya. Hatiku perih sekali. Aku ingin, ada seseorang yang bisa menyembuhkan sakit hatiku ini.

.

.

.

"Aku pulang duluan ya!"

"Iya, sampai ketemu besok lagi!"

Ku dengar percakapan singkat siswi dari luar ruangan hampa penuh buku ini. Aku pun melihat dari balik jendela berdebu. Aku jadi iri dengan mereka. Setidaknya mereka bisa tertawa lepas seperti itu. Sementara aku….

Neji bilang dia akan mengantarkan aku menjenguk Tuan Muda hari ini. Dan kebetulan pula Tuan Itachi ada urusan dengan Tuan Besar dan tidak bisa pulang siang ini. Aku bisa lebih lama berada di dekat Tuan Muda untuk merawatnya ketika dia dalam kondisi tidak sehat seperti itu.

"Hinata, ayo kita pergi!" panggil Neji padaku dan kemudian dia segera berjalan menuju pintu dan kami berdua melewati lorong sepi menuju keluar sekolah.

"Ne-neji, boleh aku ber-tanya se-sesuatu?" tanyaku ragu dan agak canggung padanya.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" Neji balik bertanya padaku tanpa menoleh melirik padaku sedikitpun.

"Te-tentang Mikoto yang kau katakan waktu itu, apa kau be-benar mengenalnya?" Neji agak terkejut dengan pertanyaanku barusan. matanya menatap tidak percaya padaku. Memangnya pertanyaanku tadi salah ya?

"Aku belum bisa mengingatnya dengan jelas, namun mungkin aku bisa ingat sesuatu jika aku pulang ke rumahku," Neji menjawab dengan nada melemah padaku.

"A-aku mengerti," jawabku kecewa. "Lain kali bo-boleh kan, ka-kalau aku ke rumahmu?"

"Jika kau mau, silahkan saja."

Saat itu aku benar – benar merasa lega. Mungkin jika aku pergi ke rumahnya, aku akan tau sedikit hal mengenai hubungannya dengan Nyonya Besar.

.

.

Kriiittttt

Neji membuka pintu kamar Sasuke dengan sangat perlahan sampai – sampai menimbulkan suara yang membuatku merinding. Aku tau ini dilakukan agar tidak mengganggu Tuan Muda yang sedang beristirahat namun, sebenarnya ini membuatku ngeri. Ku lirik Tuan Muda yang masih terlelap dalam mimpi. Wajahnya benar – benar polos. Nampak sama persis dengan wajahnya ketika kecil dahulu. Namun, itu hanya dahulu. Sekarang dia sudah mulai banyak perubahan. Bahkan perubahan yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku.

Aku pun langsung duduk di sebelah Tuan Muda yang masih tidur. Ku tatap lekat – lekat wajahnya. Pikiranku pun jadi melayang karenanya. Ku sentuh perlahan dahinya. Masih panas.

Hah, kenapa Tuan Muda harus sakit sekarang sih?

.

.

.


Sasuke P.O.V

Lagi – lagi mimpi ini. Aku selalu saja terjebak dalam mimpi yang sama setiap harinya. Ini mimpi ketika aku bertemu dengan ibuku. Dan saat aku sadar kalau dia ibuku, dia pasti sudah menghilang digantikan seorang gadis berambut biru yang sedang menangis. Memangnya apa hubungan gadis yang menangis itu dengan ibuku?

"Ekh, ada apa ini?" ujarku saat aku terbangun dengan mood yang sedang berantakan. Kali ini ada yang sedikit berbeda ketika aku bangun dari tidurku. Ada yang memegang dahiku. Dan dia… Hinata?

"Akh, ma-maaf Tu-tuan!" seru Hinata yang langsung menjauhkan tangannya dari dahiku. Tentu saja aku terkejut melihatnya. Sudah berapa lama dia ada di kamarku?

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"A-aku tadi ha-hanya…"

Ku lihat raut wajah Hinata yang ketakutan. Mirip sekali dengan wajah gadis yang menangis di dalam mimpiku. Hatiku mulai luluh dengan sikapnya yang seperti itu. Lugu, polos, dan terlalu pemalu. Namun, entah mengapa aku mulai menyukai sifatnya yang seperti itu.

"Sasuke, kau sudah bangun rupanya," sapa Neji dari balik pintu. Dia datang sambil tersenyum ramah dengan membawa toples makanan. Kemudian dia langsung duduk dan memperhatikan kami berdua yang terlihat seperti orang ling lung.

"Kalian berdua kenapa?" tanya Neji sambil menatap bingung pada kami. Aku menggeleng lemah, sementara Hinata langsung menutupi wajahnya dengan berbalik ke arah lain. Neji hanya tersenyum melihat tingkah laku kami yang seperti anak – anak tertangkap basah sedang mencuri apel di kebun orang.

"Oh iya, ini buatmu Hinata," ujar Neji sambil memberikan toples pada Hinata, "Dan ini untukmu Sasuke," ujarnya kemudian sambil memberikan obat padaku. Hah! Dasar Neji, dia memang teman yang baik. Lama – lama aku jadi menyukainya. Namun, hanya suka sebatas teman saja tak lebih. Aku ini kan masih normal. Aku mencoba melihat wajah Hinata yang dari tadi ditutupinya. Dan aku pun tau satu hal. Wajah Hinata benar – benar memerah.

"Hinata, kau sakit?"

"Eh, tidak kok. Me-memangnya ke-napa?"

Aku diam sesaat. Kemudian aku tersenyum dan pada akhirnya tertawa. Hinata agak kaget melihatku tertawa dan mulai terlihat kikuk di depanku.

"Ke-kenapa Tuan Muda ter-tertawa seperti itu?" tanyanya dengan cepat dan intonasi yang tinggi.

"Aku hanya ingin tertawa, itu saja," jawabku tetap sambil tertawa. Aku akhirnya berhenti tertawa dan menyentuh pipi Hinata dengan lembut. Secepat kilat Hinata menjauh dan memegangi pipinya sendiri. Wajahnya kini semakin merah.

"Hahaha… kalian ini seperti anak kecil saja."

Aku baru sadar kalau ada Neji yang dari tadi memperhatikan kami secara diam – diam. Kali ini, aku pun ikut menutupi wajahku. Rasanya memalukan sekali orang seperti aku melakukan hal aneh seperti tadi pada Hinata. Mungkin karena terlalu lama di asrama yang isinya hanya lelaki aku jadi rindu dengan belaian seorang wanita.

"Aku akan keluar, jadi nikmati saja waktu kalian di sini," ujar Neji yang langsung berdiri dan hendak berjalan menuju pintu. Aku hanya diam melihat dia berjalan namun….

"A-aku harus segera pulang ke rumah, jadi Neji bisa kan me-rawat Sa-sa-sa…" kalimat Hinata tak pernah bisa selesai mengucapkan namaku jadi Neji yang sudah tidak sabar berkata, "Sasuke kan?"

Hinata menarik nafas lega dan berkata, "I-iya."

Dan Hinata pun akhirnya pergi meninggalkan aku dan Neji yang kemudian jadi bertiga dengan Naruto yang datang sekitar jam tiga sore.

.

.

.


Hinata P.O.V

Apa – apaan ini? Pipiku terus terasa panas. Padahal sudah lewat satu jam semenjak Tuan Muda memegang pipiku. Kenapa juga Tuan Muda memegang pipiku tadi? Aku semakin tidak mengerti Tuan Muda yang sekarang. Aduh! Gara – gara memikirkan Tuan Muda, jariku jadi teriris. Untung hanya berdarah saja. Huft, tak bisa ku percaya aku jadi terluka sepreti ini hanya karena memikirkan Tuan Muda. Bagaimana jika…

Arghh! Pikiranku terlalu aneh. Aku yakin itu hal yang tidak mungkin. Tuan Muda bisa menjadi pengganti Gaara adalah hal yang sangat mustahil.

.

.

"Tu-tuan Besar, ini makanan tuan," ujarku sambil menempatkan piring di meja. Tuan besar langsung menutup laptopnya dan bersiap makan. Di samping laptop itu tergeletak album foto yang kelihatannya menarik. Ku baca tulisan yang terbaca jelas di sampul album tersebut.

Mikoto.

Hmm, jadi Tuan Besar yang terlihat garang ini bisa juga merasa rindu pada Nyonya Besar rupanya. Aku tersenyum kecil kemudian aku keluar dari kamar Tuan Besar. Ini sudah malam. Tuan Itachi juga pasti sudah tidur di kamarnya. Seharian ini, Tuan Itachi terlihat sibuk sekali. bahkan dia terlambat menjemputku pulang. keluarga ini benar – benar dalam kondisi yang kurang baik. Jika ini hanya cobaan, aku yakin keluarga ini bisa melewatinya.

.

.

Mentari pagi akhirnya muncul kembali. Tuan Besar segera masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi. Begitu pula Tuan Itachi, dan aku pun harus segera pergi karena aku piket kelas hari ini.

"Hinata, ingat! Aku akan menjemputmu lebih cepat hari ini," ujar Tuan Itachi padaku dan kemudian dia langsung melesat meninggalkanku di depan pintu gerbang. Aku menatapnya dengan kecewa. Hari ini kan, aku ingin menjenguk Tuan Sasuke lagi.

.

.

"Kau datang juga Hinata!" seru Naruto ketika aku sampai di kamar Sasuke. Aku pun membalasnya dengan senyuman kecil kemudian aku segera mendekati Tuan Muda seraya berkata, "A-aku hanya se-sebentar ke sini."

"Kenapa cuma sebentar?" tanya Naruto dengan wajah kecewa. Bukan hanya Naruto yang menunjukkan raut wajah menyedihkan itu, Tuan Muda juga begitu. Aku tau wajah kecewa seperti pasti akan muncul jika aku datang namun jika aku sama sekali tidak datang, Tuan Muda akan semakin kecewa.

"Aku harus cepat – cepat pulang karena ada urusan penting," ujarku tanpa berpikir panjang. Bodohnya aku karena telah berbohong dengan berkata demikian karena Tuan Muda pasti akan jadi penasaran.

"Urusan apa?" tanya Tuan Muda. Ternyata tebakanku tepat, dia pasti menanyakan hal itu. Aku segera menutup mulutku karena salah bicara tadi. Namun, aku sudah terlambat.

"Ma-maaf, maksudku tadi-" aku berhenti bicara. Tatapan mata Tuan Muda yang tajam seakan memotong pembicaraanku dengan 'berhentilah berbohong padaku'. Aku yakin bukan itu yang ingin dia katakan namun aku yakin itulah yang dia pikirkan.

Tuan Muda dan Naruto masih menatap tajam padaku. Aku ingin sekali lari dari ruangan ini dan untungnya Neji datang sambil berkata, "Maaf mengganggu kalian," aku menarik nafas lega kemudian Neji memegang pundakku dan berkata, "Ada seseorang yang mencarimu di luar."

Glek!

Aku yakin pasti itu Tuan Itachi, dan jika aku benar, aku harus cepat keluar dari asrama ini. Aku pun berlari menuju pintu namun kemudian aku berhenti sebentar.


.

.

Sasuke P.O.V

Aku menatap heran pada Hinata yang tampak aneh hari ini. Dia berlari namun kemudian berhenti. Pada awalnya ku pikir dia akan mengatakan sesuatu namun aku salah. Dia berbalik padaku dan tersenyum kecil kemudian melambaikan tangan sambil menutup pintu. Aku dan Naruto saat itu hanya diam tanpa kata, sementara Neji dengan santainya langsung duduk di dekat jendela. Aku tak bisa menahan rasa penasaran. Apa urusan yang dimaksud Hinata tadi? Dan siapa yang mencari Hinata sekarang?

.

.

Aku kini sudah di luar asrama. Neji dan Naruto sudah ku suruh untuk menunggu di dalam kamarku sampai aku kembali.

"Ma-maaf Tuan."

Ekh, itu kan suara Hinata. Tentu saja aku bisa mengenalinya dengan mudah. Aku berjalan tertatih menuju tempat suara itu terdengar. Namun, tiba - tiba kepalaku terasa agak sedikit pusing. Kakiku pun terasa letih untuk berjalan. Aku tidak kuat untuk menemui Hinata sekarang dan aku akhirnya terjatuh tepat di depan sebuah bangku taman di dekat pohon rindang.

.

.

"Akh, Tu-Tuan Sasuke sadar!" suara seruan seorang gadis membangunkanku. Aku pun dengan malasnya membuka mataku dan melihat orang kelihatannya tidak asing lagi.

"Minggir Hinata!" ujar orang tersebut sambil berjalan mendekatiku. Aku hendak memejamkan mataku untuk berpura – pura tidur namun orang itu justru membuatku terkejut dengan menempelkan tangannya di dahiku.

"Jadi sudah berapa lama kau sakit begini, adikku?"

Aku pun semakin terkejut. Adik? Jadi dia kakakku, Itachi. Aku pun bangkit dari tidurku dan melihat wajahnya yang nampak cemas. Meski dia terlihat cemas di mataku, dia tetap tersenyum ketika aku menatapnya. Hinata yang sedang berdiri di sampingnya juga ikut tersenyum. Apa yang sudah aku lewatkan dari tadi?

"Sasuke," ujar kakakku sambil berjalan sambil tetap memegangi dahiku, "Apa kau mau kembali ke rumah?"

Degg! Sungguh pertanyaan yang sulit ku percaya. Akhirnya ada juga tawaran kembali ke rumah. Dan yang membuatku semakin tidak percaya karena yang mengajakku kembali ke rumah adalah kakakku sendiri.

"Te-tentu saja aku mau!" seruku sambil segera memeluk kakakku. Aku tak peduli kalau saat ini Hinata sedang memperhatikan kami sedang berpelukan atau kakakku yang hendak melepaskan pelukan ini. Aku . . . benar – benar senang saat ini.

.

.

.

To be continued

.

..


Rin : "Yei! Satu masalah di keluarga Uchiha akhirnya selesai!" *lompat – lompat kegirangan*

Sasuke : "Kau terlalu berlebihan Rin, masa' aku memeluk kakakku."

Hinata : "Tapi, Sasuke kan jadi terlihat lebih-" *Sasuke siap menyumpal mulut Hinata* *Hinata diam*

Rin : "Hahaha… kalau begitu Sasuke gak keberatan kan kalau aku bikin kamu meluk – meluk ayahmu sendiri?" *dicidori*

Sasuke : "Gak akan aku biarkan kamu bikin cerita aneh seperti itu."

Hinata : *senyum – senyum gaje*


~ ichsana-hyuuga : ok. Kalau aku bisa nanti gak akan lama – lama updatenya.

~ purple girl : mungkin asal usul Hinata akan terungkap setelah yang berikut ini *plak!*. Maaf, Hinata gak bikin bento, lupa diselipin di ceritanya. Chapter ini sudah cukup panjang belum?

~ ika chan : hmm, yang pasti karena Neji sama Hinata belum pernah ketemu. Di cerita ini, Hinata kayaknya gak akan ketemu lagi dengan ayahnya deh.

~ Miya-hime Nakashinki : what? Sasuke sakit karena kurang makan *plak!* Mungkinkah apa Miya? *jadi penasaran*

~ Lollytha-chan : sekarang udah dilanjutin nih ^^

~ uchihyuu nagisa : Itachi pasti bisa bantulah. Hubungan Hinata dengan Neji itu . . . . .

~ Uwi : aku udah bingung gimana mau bikin mereka greget . . . gomen!

~ azalea : baru beberapa bulan kayaknya *akugakngitunginharinyasih*

~ hanata chan : me too ^^ iya deh. Nanti aku usahakan happy ending. Bentar lagi juga ending kok.

~ OraRi HinaRa : mungkin saja *jawabanyanggakpasti* *plak!* ok, nih sudah ku update…

~ Nerazzuri : aku sudah update, tapi aku gak tau chapter ini termasuk seru atau gak… tapi semoga saja tidak mengecewakan.


.

.

I love everyone, because everyone is friends for me

.

,

.

RnR please