Uwaaaaah! Gomen, minna-san! Natsu gak sempat bikin chapter 2 ini dengan cepat seperti yang readers mau. Dikarenakan:

Menunggu laptop baru #pamer hehehe

Ulangan kenaikan kelas

Otak mandet

Maaf juga karena di chapter yang pertama, alurnya terasa dipercepat. Ya gak? Gak ya? Oh…

Ah, sudahlah… Natsu juga mau ngebalas review-review dari:

Mugi-chan: makasih review-nya~ maaf ya gak bias secepat yang diharapkan ^^

NaLu hanami: makasih review-nya~ maaf ya gak bisa updet cepet

Neyta Minaira: makasih review-nya~

Scarlet Edolas chan: makasih review-nya ~:D

edogawa luffy: gomen! Gomen! Hontou ni gomen neee gak bias updet cepet-cepet! Nih, sudah Natsu buat chapter 2 yang panjaaang :D

roronoalolu youichi: makasih review-nya~ gomen ne gak bias updet cepet..

Sketsa Gelap: makasiih review-nya~

Okeh! Silakan nikmati chapter 2 ini :D

Fairy Tail is not mine, it's Hiro Mashima's sensei

.

.

.

.

Sunshine and Light

"Tidak ada pilihan lain. Natsu tidak akan datang…"

"Yosh! Arigatou, jii-san!"

"Apakah… apakah Lucy-san begitu berharga bagi Natsu?"

"Yah, Lucy adalah nakama bagi Natsu. Jadi, wajar saja dia seorang yang berharga"

.

.

.

.

.

Fairy Tail, Guild memiliki banyak penyihir berbakat. Fairy Tail juga merupakan Guild yang ribut, dan pembuat masalah. Tapi, Guild yang terkenal akan keributannya kali ini tidak seperti yang dikenal.

Guild ini sangat hening –jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya-. Hanya terdengar suara-suara pelan orang berbisik. Anggota Guild ini cemas memikirkan nasib Lucy yang menjalani sebuah misi sulit tanpa didampingi 'bodyguard'-nya.

Ya, Lucy Heartfilia, sang penyihir selestial yang 'seharusnya' penyihir terlemah di tim Natsu pergi melakukan sebuah misi. Misi tanpa ada yang mendampingi, misi tanpa Gray, Erza, Happy… dan Natsu.

Bias dilihat seorang gadis berambut biru panjang ditemani seekor kucing putih, sedang duduk menaruh kepala di meja.

Air matanya menggantung di sudut mata. Bibirnya bergetar menahan tangis.

"Kira-kira… ba-bagaimana hiks keadaan… Lucy-san sekarang ya? A-aku… hiks! Me-… Mencemaskannya". Wajah sang Sky Sorceress ini sangat menyedihkan. Kepalanya tersandar di meja. Rambut birunya menutupi setengah wajah manisnya itu. Air matanya meleleh jatuh ke meja, meninggalkan bekas tetesan air di situ.

"Kau tidak perlu khawatir, Wendy. Natsu-san pasti segera tiba di sisinya."

Wendy semakin sedih mendengar perkataan Charle. Dia hanya takut, kalau-kalau Natsu-san tidak sempat berada di sisi Lucy-san. Baginya, Lucy sudah seperti kakak perempuannya sendiri.

"Wendy, Natsu pasti akan segera menyelamatkan Lucy. Aku yakin itu." Ucap Erza dengan yakin. Walaupun hati Erza terasa sedih dan cemas, tapi sebisa mungkin ia tidak akan memperlihatkan perasaan itu kepada Guild tersayangnya ini. Seberat apapun suasana, sebagai penyihir yang paling dipercaya oleh Master, ia harus bersikap tenang.

Charle mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui perkataa Erza.

"Kuharap begitu…"

.

.

.

.

.

.

"Hosh"

"Hosh… Ugh!"

Seorang gadis berambut pirang sedang berlari terengah-engah. Rambut dan pakaiannya kotor akan lumpur. Tubuh penuh memar biru dan darah.

Gadis itu berhenti berlari. Dengan nafas yang terputus-putus seperti itu, ia duduk sejenak di bawah pohon lebat yang besar. Dijulurkan kaki mulus –yang kini sudah penuh lumpur- di tanah. Baju putih dengan desain garis biru di dada itu kini sudah kotor. Rok mini yang ia sukai pun telah robek pinggirannya.

"Mereka… ku-kuat sekali…"

Mengarahkan tangan kanannya ke pinggul, ia mengambil kunci emas –Leo- miliknya. Sambil tersenyum kecut, ia berkata; "Bahkan Loki pun kalah. Kenapa… aku lemah sekali?".

Melihat ke langit sore itu, ia segera berdiri. Ia harus melanjutkan lari sebelum malam tiba. Karena kalau tidak…

Penyihir-penyihir itu akan segera menangkapnya.

Menghela nafas panjang, ia mengencangkan pita biru yang mengikat rambutnya di sisi kanan kepala. Matanya menunjukkan pemberontakan terhadap nasibnya kali ini.

"Tidak ada pilihan lain. Natsu tidak akan datang…"

.

.

.

.

.

.

"Permisi, apa kau pernah melihat gadis ini?"

Pemuda berambut pink ini menunjukkan sebuah foto berisi seorang gadis berambut blond bermata coklat karamel dengan senyum cerah berlatarkan matahari pagi. Siapapun yang melihat foto itu, pasti berpikiran bahwa gadis cantik ini seorang yang beruntung. beruntung karena memiliki paras yang cantik, dan beruntung karena…

"Oh? Apakah dia pacarmu, anak muda?" Tanya pria tua itu.

"Bukan, dia-…" Natsu tersipu mendengar pertanyaan pria tua ini. Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil memajukan bibir.

"Sungguh gadis yang beruntung, memiliki pacar yang tampan! Kau pun rela mencarinya dari tempat yang jauh! Benar-benar romantic! Harold, andaikan kau seperti itu padaku. Oooh!"

Wanita tua itu memukul-mukul pelan lengan suaminya. Tawa riangnya memenuhi telinga Natsu. Sang suami pun tertawa sambil merangkul pundak istrinya. Menyadari Natsu yang sudah pergi menjauh, pria tua itu mengejarnya.

"Kalau tidak salah, ia pergi kearah selatan. Kejar dia, nak!"

Mengeluarkan toothy-grin ala Natsu, dia mengancungkan jempol kearah pria itu.

"Yosh! Arigatou, jii-san!"

.

.

.

.

.

.

Lisanna dan Mirajane.

Kakak beradik take-over mage –selain Elfman tentunya- yang sama-sama memiliki rambut putih dan bola mata sapphire yang indah.

Dua orang yang sama-sama bersifat sweet and caring-person-type.

Dua orang yang sama-sama menyayangi Fairy Tail Guild dan isinya seperti keluarga sendiri.

Dua orang yang sama-sama menyayangi Natsu.

Tapi, hanya salah satu di antara mereka yang menyayangi Natsu bukan sebagai keluarga pada biasanya. Gadis itu Lisanna. Dia menyayangi, bahkan mencintai Natsu sebagai seorang lelaki.

"Ne, Mira-nee…"

"Hmm? Nani, Lisanna-chan?"

Lisanna diam sebentar. Melihat Lisanna diam, Mirajane mengelus pelan kepala adik bungsunya tersayang. "Ada apa, Lisanna?" Tanya waitress ini dengan lembut.

"Apakah… apakah Lucy-san begitu berharga bagi Natsu?"

Adik bungsunya menatap dengan nanar. Seolah-olah Lisanna akan meneteskan air matanya sebentar lagi. Sebagai kakak, Mirajane bingung harus menjawab apa. Ia tahu maksud Lisanna bertanya seperti ini. ia tahu, Lisanna mersa cemburu. Tapi… jawaban apa yang harus ia berikan?

Jawaban bohong…

Ataukah jawaban jujur?

Kalau jawaban bohong. Bukankah hal yang buruk untuk seorang kakak menjawab dengan kebohongan?

Kalau jawaban jujur, maka jawaban itu akan menghancurkan hati Lisanna. Alasannya?

Alasannya.. Bukan rahasia lagi bahwa Lucy dan Natsu tertarik satu sama lain. Tapi, mereka berdua terlalu bodoh untuk menyadarinya.

"Yah, Lucy adalah nakama bagi Natsu. Jadi, wajar saja dia seorang yang berharga"

"Bukan dalam artian seperti itu, Mira-nee…"

Bingung dengan tanggapan Lisanna, Mirajane segera menaruh orange juice di hadapan Lisanna. Gadis berambut putih pendek ini terkejut. Dilihatnya wajah manis kakaknya itu, dan ia tersenyum lembut.

"Arigatou, nee-chan!"

Menaruh kedua tangannya di pinggul, demon-take-over ini tersenyum lepas. Mira-nee benar-benar cantik. Aku juga ingin tersenyum seperti itu saat Natsu kembali.

"Sama-sama, imouto-chan. Kau tahu? Orange juice dapat memberimu semangat lagi!"

.

.

.

.

.

Hari sudah menjelang malam. Langit menggelap, dan awan hujan terbawa angin. Lucy mendongakkan kepalanya ke atas. Hujan akan segera datang…

Sambil berjalan di tanah tandus itu, Lucy memperhatikan sekitarnya. Tidak ada pepohonan sama sekali… yang ada hanyalah semak-semak. Tentu saja semak-semak itu tidak akan berguna melindunginya dari hujan.

Untung saja…

"Lucky!"

Ada sebuah rumah kayu kecil yang tampaknya masih digunakan. Mungkin saja ada pemiliknya. Pikir Lucy.

Tanpa menunda waktu, Lucy berjalan kearah rumah itu berada.

Tok tok tok

Pintu rumah itu terbuka, menunjukkan seorang gadis keil dan seorang wanita tua berambut coklat pendek dengan mata crimson yang indah.

"Ara? Kau terluka, nee-san". Ucap gadis kecil yang juga memiliki warna mata merah itu.

Wanita yang sepertinya ibu dari gadis kecil itu menarik tangan Lucy untuk masuk ke dalam rumah. "Masuklah, ojou-san. Kau terluka." Wanita itu menutup pintu rumahnya dan mendudukkan Lucy di sebuah sofa usang berwarna coklat.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambil air hangat dan antiseptic. May, jaga nee-san ini ya"

Gadis kecil bernama May itu memperhatikan Lucy dengan seksama. Tentu saja, si penyihir selestial ini merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu. Lucy mengeluarkan batuk kecil sebagai tanda kepada gadis cilik ini.

Bukannya berhenti menatapnya, gadis bernama May ini terlonjak kaget mendengar batuk dengan suara serak milik Lucy. Melihat si gadis kecil terkejut, Lucy tertawa kecil.

"Daijoubu, May. Aku tidak akan menyakitimu."

"Kenapa kau berdarah onee-san? Kenapa kau membawa begitu banyak kunci? Apakah rumahmu banyak sampai-sampai kau membawa kunci rumahmu? Atau kau seorang penyihir? Ata-…" belum sempat May bertanya lebih banyak lagi, ibunya telah kembali dengan kotak obat dan sebaskom air panas.

"May, daripada kau menanyakan pertanyaan terlalu banyak, lebih baik kau bantu ibu membawa kotak obat ini.". May berlari kecil kearah ibunya. Summer dress milik May yang berwarna kuning cerah itu berlubang-lubang dengan banyak tambalan.

"Ibu, bolehkah aku merawat onee-san itu?" Tanya May dengan senyum lebar. Melihat sang anak yang tersenyum begitu cerahnya, ibunya mengelus kepala May dengan lembut. "Boleh?"

"Tentu saja, May."

Wanita itu menoleh dengan tersenyum. "Siapa namamu, ojou-san?"

Lucy terkejut. Benar juga, aku belum memperkenalkan diri! Berusaha untuk berdiri dengan kedua kaki lemahnya, Lucy membungkukkan diri.

"Lucy Heartfilia-desu! Maaf tidak memperkenalkan diri lebih cepat! Gomen!" wanita itu Cuma tertawa kecil melihat tingkah Lucy. Wanita ini memiliki senyum yang sama seperti putrinya, senyum bahagia yang menhangatkan rumah ini.

"Daijoubu, Lucy-san. Perkenalkan juga, putriku May, dan namaku Layla."

Penyihir selestial ini terdiam. Nama wanita ini… Layla?

Layla…

"Lucy-san? Ada apa?"

TES

TES

"I-ibu! Lucy nee-san menangis!"

Lucy tertawa kecil. Wanita ini sungguh mengingatkannya akan ibu tersayangnya. Nama yang sama, senyum yang sama, dan aura lembut yang dipancarkannya benar-benar sama.

"Mama.."

Mereka tidak berkecukupan, akan tetapi senyum selalu ada di rumah ini. Rumah ini… hangat.

Seperti di Fairy Tail…

.

.

.

.

.

.

Hoh, akhhirnya selesai juga chapter 2. Gimana? Bagus gak? Kurang panjang ya? Hmmm…

Oke, di chapter 3 nanti, Natsu janji bakalan bikin chapter yang lebih bagus dan panjang.

Nah supaya lebih perfect lagi, review banyak-banyak yaaaa :D

Oke deh, segini aja ngocehnya.

Ingat ya, review!