Girls Vs Boys, Basic Hard! Chapter 3

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Typo, Gaje, Alur kecepatan, OOC, abal!

Genre: Frienship/Romance/Humor

.

.

Bales ripiuw dulu~

¤Hikaru Shinju

~Gak apa" kok, thank ya sudah bilang seru. Gomen kurang deskripsi TAT

¤Min Cha

~Yosh! ShikaTema *nyengir -di tendang-*

¤Matsumoto Rika

~Haha... Thank sudah bilang bagus dan romantis ;)

¤Meity-chan

~Hehe... Btul" aku suka bagian situ (?) *Authornya malah suka fanficnya sendiri* *biarin we ;p*

¤ChitanBlueicecream

~Haha... Bagian SaiIno aku sampai senyum" sendiri *lebay*

¤Ayumu to Miyako

~Salam kenal Miyako. Di samping Hana (?) ada Uzu.

Uzu: Salam kenal Miyako, dan Ayumu.

Thank sudah RnR~

¤Pink Uchiha

~Yosh sudah di update hehe...

¤Thia Shirayuki

~Oh... Tentu tidak *lebay* lihatlah chp ini -plak-

¤4ntk4-ch4n

~Sama saya juga hari senin ujian praktek, minggu depannya lagi UAS, lalu setelah UAS dua minggunya lagi UAN TAT *curhat mode:on*

¤Rei-Cha Ditachi

~Ok! But gak bisa di chp ini, may be di chp 4, coz ini kelanjutan chp 2 yang di potong. Gomennasai TAT

Yosh maaf kalau ceritanya kurang deskripsi, saya akan tambah deskripsi di chp 4. Coz di chp ini may be sama saja seperti chp kemarin *pundung*

.

.

Don't Like, Don't Read!

And

Happy Reading~

Chapter 3:

"Perempuan cerewet!" setelah bergumam demikian Neji pun berjalan melewati Tenten, otomatis Tenten pun jadi mengikuti Neji.

.

.

.

"Gomenne aku kan tidak sengaja Ino-chan, lihat bajuku kotor juga kan?" ucap Sai dengan tampang dan senyum polosnya.

"Tapi kan kotornya beda Sai-kun!" ucap Ino geram.

"Beda gimana sih?" tanya Sai masih dengan tampang dan senyum innocentnya.

"Huh, kau hanya kotor kena debu, sedangkan aku kotor gara-gara kau mendorongku hingga jatuh ke lumpur!" jelas Ino kesal, sambil berkacak pinggang.

"Kalau itu kan aku juga ikut jatuh di lumpur," ujar Sai dengan tenang.

"Ikh, kau menyebalkan Sai-kun!" teriak Ino frustasi, karena dari tadi ia selalu kena sial berdekatan dengan Sai. Ino pun langsung berdiri dan ia pun teringat akan tangannya yang masih terikat borgol bersama tangan Sai. Sontak hal ini pun membuat dirinya makin kesal, dan moodnya kini hancur sudah.

.

.

.

Sakura dan Sasuke kini sedang duduk termenung di bawah pohon ek, tempat mereka berciuman tadi. Oh iya, ada pemberitahuan, bahwa Sasori sudah pulang dan kini tinggallah mereka berdua. Tiba-tiba saja Sakura merasa sangat mengantuk dan karena ia tidak kuat lagi, ia pun tertidur.

''Pluk''

Sasuke pun menoleh setelah merasakan ada yang hinggap (?) di pundaknya. Tiba-tiba saja semburat merah tipis muncul di wajahnya ketika ia melihat wajah cantik dan damai Sakura yang sedang tertidur, apalagi bibirnya yang membuat Sasuke makin merasa ingin mencoba sekali lagi.

"Kau manis Sakura," gumam Sasuke tanpa sadar, memegang bibirnya sendiri.

"Habataki tara modolana hito..." Sasuke pun segera bangun (?) dari lamunannya setelah mendengar nada dering Hp-nya. Ia pun segera meronggoh kantung celananya, dan menerima telepon itu tanpa melihat nama siapa yang telah mengganggu acara melihat bibir Sakura yang menurutnya manis (?). Oh ayolah lama-lama menjadi rated T semi M, jangan sampai terjadi, kalau terjadi nanti sajalah(?).

"Moshi-moshi," ucapnya sedikit kesal.

"Oh Sasuke kau cepat pulang," ucap suara di sebrang.

"Hn," setelah bergumam demikian, Sasuke pun segera mengakhiri pembicaraan jarak jauh tersebut, benar-benar tidak sopan.

"Kalau aku pulang tangaku sedang di borgol," gumam Sasuke yang kini tampak sedang berfikir keras. "Ah! gak ada cara lain," setelah berkata demikian, Sasuke pun perlahan-lahan menyingkirkan kepala Sakura, lalu mengangkat tubuhnya ala bridal style, wah romanticenya~*author lebay*

"Gak begitu berat," gumam Sasuke, ia langsung berjalan ke arah tempat parkir, dengan Sakura yang kini berada dalam gendongannya.

.

.

.

"Aduh... gimana nih, bisa-bisa aku di hajar Neji..." gumam Naruto, ia sedang menunggu kabar dari dalam ruang UGD, ya dia menunggu kabar Hinata.

Tunggu! Kalau Hinata di ruang UGD, dan Naruto diluar UGD berarti borgol yang ada di tangan mereka sudah lepas? Yup betul, borgol mereka di lepas oleh sales rumah sakit, karena itu akan menyusahkan proses pemeriksaan(?). Eh saya malah ngelantur, ok back to stories~

"Ehm..." sebuah dehem-an keras terdengar di samping kiri Naruto. Naruto pun mendongakkan kepalanya dan melihat seorang yang iya khawatirkan kini berada di sampingnya. Tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat karena orang itu menatapnya dengan tajam.

"Ne... Neji kau jangan tatap aku seperti itu," pinta Naruto takut-takut.

"Setelah ini kau tidak boleh dekat-dekat lagi dengan Hinata, dan kau tidak ku izinkan berbicara sepatah katapun pada Hinata, camkan itu!" ucap Neji menatap tajam Naruto yang masih pucat.

"Ne, masa gak boleh bicara?" protes Naruto.

"Hm..." sahut Neji sambil mengangguk.

"Tenten ayo kita cari sales yang bisa melepas borgol ini," Neji dan Tenten pun berjalan kembali, dan setelah agak jauh mereka berbalik, eh lebih tepatnya Neji yang berbalik, dan ternyata hanya ingin mendeathglare Naruto saja (?).

.

.

.

Di pinggir pantai saat ini sudah sore, terlihat matahari sudah kembali ke peraduannya. Nampak dua anak muda yang satu cemberut dan yang satu tersenyum aneh (?).

"Kau menyebalkan!" ucap Ino dengan nada sebal.

"Kau sudah mengulangnya sejak tadi siang Ino-chan," ucap Sai sambil tersenyum pada Ino.

"Kau menyebalkan, sangat, sangat menyebalkan! Aku ingin pulang!" ucap Ino, airmatanya mengalir. Sai yang melihatnya pun tertegun, karena ini adalah pertamakalinya dirinya melihat cewek menangis tepat di depannya.

"Waw hebat!" tiba-tiba kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulut Sai yang masih tertegun. "Kau hebat Ino-chan, tangisanmu hebat." sambungnya lagi.

Ino mendongakkan kepalanya dan menghapus airmatanya, "Kau bilang apa tadi Sai-kun? Hebat?" tanya Ino heran masih sedikit sesengukan, "Masa orang nangis di bilang hebat," batin Ino heran.

.

.

.

Kediaman Uchiha kini sudah terlihat, padahal jaraknya masih 2 Km lagi. Sasuke yang kini sedang mengendarai mobilnya pun menoleh sedikit ke arah Sakura yang kini sedang tertidur di sampingnya. Sasuke pun mengangkat tangan kirinya yang terborgol bersama tangan Sakura, lalu mengelus pipi yang putih dan mulus Sakura. Sakura yang masih pulas pun hanya dapat menggeliat ke samping menjauhi tangan Sasuke.

"Hei pinky bangun!" ucap Sasuke mulai menepikan mobilnya, dan ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura dan berbisik.

"Kalau dalam hitungan ke tiga kau tidak bangun aku akan menciummu." ancam Sasuke menyeringai. "Satu.." Sasuke mulai menghitung, Sakura yang masih setengah sadar pun mendengar ada yang mengucapkan sesuatu di telinganya. Sakura pun membuka matanya dan ia pun hanya dapat celingak-celinguk gak jelas.

"Lho Chiken butt?" dengan kesadaran setengah Sakura bangkit dan menuding wajah Sasuke yang terlihat masam.

"Ck... si pinky seharusnya tidur lebih lama lagi!" ucap Sasuke dalam batin, para readers pasti tahukan apa maksud Sasuke? Sudah lupakan, kita kembali ke stories!

"Dimana aku?" tanya Sakura tampak kebingungan.

"Di mobilku," jawab Sasuke singkat.

"Aku tahu ini mobilmu, tapi kita sekarang berada di daerah mana Chiken butt!" ucap Sakura sedikit kesal.

"Oh di depan sana rumahku, kita kerumahku dulu, kita lepas borgol ini setelah itu kau ku antar pulang," jelas Sasuke.

"Oke, baiklah!" ucap Sakura santai,"Cepat jalan!" perintah Sakura seenaknya.

"Cih, aku bukan supir pribadimu!" ucap Sasuke memutar bola matanya bosan.

.

.

.

Tampaknya kedua pasangan ini jarang di sorot, mari kita sorot.

Temari sedang sibuk mengotak ngatik borgol di tangan kanannya "Ih susah banget sih! Sensei sialan!" gumam Temari kesal. "Hei Nara, bantuin dong, kau dari beberapa jam yang lalu enak-enakkan tidur, sedangkan aku repot membuka borgol ini seorang diri!" protes Temari.

"Engh..." gumam Shikamaru, tampaknya dia sedang pulas.

Temari terus memandangi wajah Shikamaru "Manis" batin Temari, semburat merah tipis kini menghiasi wajahnya. Tanpa sadar tangannya terangkat dan mengelus pipi Shikamaru.

"Ngapain kau pegang-pegang pipiku?" tanya Shikamaru masih dengan mata terpejam.

"Eh?" Temari yang baru sadar kalau dirinya tengah mengelus pipi Shikamaru pun hanya dapat Salting.

"Hah, sini aku pinjam jepitanmu," Shikamaru pun bangkit dan duduk berhadapan dengan Temari, menadangkan tangannya meminta jepit rambut Temari.

"Ini," Temari pun memberikan jepit rambutnya kepada Shikamaru. Shikamaru pun memulai aksinya, ia mulai mengotak atik borgol setelah Temari tadi mengotak atiknya.

"Cklek.." dan borgol pun terbuka, dan ternyata hanya punya Shikamaru saja yang terbuka sedangkan borgol yang di tangan kanan Temari masih utuh, masih terkunci.

"Sudah," gumam Shikamaru.

"Eh, tunggu lepaskan juga borgolku!" protes Temari.

"Biarkan saja, lagipula tangan kita sudah tidak terborgol bersama lagi." ucap Shikamaru santai.

"Menurutmu, tapi kalau menurutku tidak! Lihat borgol di tanganku belum terlepas! Kalau aku pulang seperti ini nanti bisa-bisa aku di kira orang gila yang lepas dari RSJ." ucap Temari tak tanggung-tanggung.

"Kau kan memakai seragam, mana ada orang gila sekolah!" ucap Shikamaru dengan santai.

"POKOKNYA GAK MAU!" teriak Temari, menatap tajam onyx Shikamaru.

"Hah... Oke terserahlah," ucap Shikamaru pasrah dan mulai mengutak-ngatik borgol di tangan kanan Temari, hingga terdengar suara "Cklek" dari sang borgol yang menandakan kalau borgol sudah terlepas.

Temari menatap borgol di tangannya dengan bahagia, yang membuat Shikamaru mengernyit heran. "Kalau ekspresinya seperti itu, dia benar-benar mirip orang gila." batin Shikamaru sweatdrop.

"Thanks Shika!" ucap Temari dengan mata berbinar-binar.

''Hm'' balas Shikamaru singkat.

.

.

.

Sakura dan Sasuke kini sedang berjalan memasuki kediaman Uchiha, tepatnya mereka kini sedang berada di dalam kediaman Uchiha. Saat melintasi ruang tengah, Sakura melihat ada seorang wanita, dan pria paruh baya yang sangat mirip dengan Kaa-san dan Tou-sannya, sedang mengobrol dengan wanita dan pria paruh baya yang mirip dengan Sasuke. Tak jauh dari sana ia juga melihat ada seorang lagi yang mirip dengan kakaknya sedang mengobrol dengan seseorang yang juga mirip dengan Sasuke tapi berambut hitam panjang, dan di sampingnya ada wanita berambut cokelat panjang yang sedang berpegangan tangan dengan seseorang berambut hitam panjang itu.

"Err... Kaa-san, Tou-san, Sasori-nii?" ucap Sakura canggung takut salah orang.

"Eh Sakura-chan, sini!" panggil Kaa-sannya, dan Sakura pun berjalan ke arah Kaa-sannya dan Sasuke pun ikut tertarik ke arah Kaa-san Sakura.

"Hmp.." sebuah suara tawa yang di tahan pun terdengar, emerald Sakura pun menangkap Sasori -Kakaknya- sedang tertawa.

"Sasori-nii! Ku hajar kau kalau tertawa lagi!" ancam Sakura.

"Hmpp... aku tidak tertawa Hahaha... gomenne," ucap Sasori yang tampaknya tidak kuat menahan tawanya. Sedangkan Sakura kini sedang mendeathglarenya.

"Pinky, ayo cepat aku nggak mau tangan kita seperti ini terus!" ucap Sasuke datar.

"Tangan?" semua mata pun menatap tangan kiri Sasuke dan tangan kanan Sakura terborgol kencang.

Sakura yang merasa perhatian semuanya teralih ke tangan mereka pun jadi salting, dan menyikut Sasuke sambil mendeathglarenya yang tidak di hiraukan sama sekali oleh Sasuke.

"Hn? Kau ingin melepasnya Sasuke?" seorang pria paruh baya -Fugaku Uchiha- tampak menaikkan sebelah alisnya.

"Hn, kalau iya kenapa?" tanya Sasuke dengan (sangat) tidak sopan.

"Kami ingin Sakura-chan menginap di rumah ini dan tidur bersamamu Sasuke," ucap Kaa-sannya Sasuke to the point. Sakura dan Sasuke kini hanya dapat membelalakkan matanya dan berseru, "Apa? Aku tidak Mau!" dengan kompak, yang membuat semua yang berada di ruang tengah itu tersenyum sambil bergumam, "Kompak sekaliii..."

.

.

.

Suasana kamar Sasuke hangat, dan cukup gelap. Di dominasi oleh warna biru gelap, Sakura segera melompat ke tempat tidur Sasuke dan lagi-lagi Sasuke hanya dapat tertarik dan untung saja tidak menindihi Sakura lagi.

"Ck, gadis bodoh!" ucap Sasuke kesal.

"Aku cerdas tahu!" protes Sakura.

"Hn, tapi ini kasurku, kau main melompat seenaknya, untung aku tidak menindihimu kayak tadi sore..." tiba-tiba saja muncul semburat merah tipis pada wajah Sakura dan Sasuke, seketika mengingat saat mereka berciuman. "Sudah-sudah jangan ingat-ingat yang tadi sore!" ucap Sasuke sedikit salting.

"Kau tahu Sasuke aku sekarang ngantuk sekali," gumam Sakura.

"Aku nggak mau tahu!" sahut Sasuke.

"Oke aku mau tidur!''

''Bugh!''

Sakura segera menjatuhkan tubuhnya dan tidur di ranjang Sasuke, beberapa menit Sasuke terdiam hingga terdengar suara deru napas Sakura yang teratur.

Sasuke menoleh ke arah Sakura dan di lihatnya Sakura yang sudah tertidur pulas. Sasuke pun mengulas senyum tipis yang baru kali ini ia tunjukkan kepada orang lain yang bukan keluarganya. Saat ia melihat ke seluruhan tubuh Sakura, senyumnya pun menghilang.

"Whoi pinky, bangun! Kau belum melepas sepatumu dan mengganti seragammu!" ucap Sasuke mengguncang-guncangkan tubuh Sakura.

"Engh...ada apa sih Sasuke, aku ngantuk sekali!" gumam Sakura.

"Kau belum melepas sepatumu, dan belum mengganti seragammu!" ucap Sasuke mencoba sabar.

"Kau sendiri eh?" tanya Sakura masih degan mata terpejam.

Sasuke pun melihat tubuhnya yang masih mengenakan baju seragam sekolah yang sama seperti Sakura, dan sepatunya pun belum di lepas. "Kenapa aku bisa lupa?" batin Sasuke yang salting.

"Hn, kau benar. Aku mau berganti baju dulu," Sasuke pun berdiri hingga tangan kiri Sakura tertarik membuat yang punya hanya menggerang sakit.

"Baka! Chiken butt!" teriak Sakura kesal.

"Aku tidak ingin ranjangku kotor! Cepat lepas sepatumu dan baju seragammu! SEKARANG!" perintah Sasuke. Dan Sakura pun mulai melepas kancing seragamnya satu persatu.

'DEG'

Jantung Sasuke kini mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. "Apa yang ku katakan padanya tadi? Melepas seragamnya? Aduh ini kan yang pertama kalinya buatku," ucap Sasuke dalam batin dengan gugup.

-Tsuzuku-

.

.

.

Boleh minta Review?