Ch 4 datang~ layaknya pahlawan bertopeng #di lempar sendal# hahaha... Berapa bulan ini fic g publish, April, Mei, Juni, Juli WAHAT? Ehm maksudnya What? Lama sekali ya minna? #udah tahu malah nanya#

Gomen ya, sepertinya review-nya gak bisa dibales sekarang. Tapi nanti mungkin dibales, deh. *dilemparin sandal*

Hehehe, ini yang publish fic bukan Uzu ataupun Hana. Sebenarnya, saya Nadya Vert no Midori –ada di author search *gak tanya!*- hanya diminta bantuan Kak Hana untuk publish fic ini. Tapi gak ngerubah jalan ceritanya, kok! Suwer!*peace* #langsung diseret Kak Hana karena buang-buang waktu.

Kalau begitu, saya mewakilkan Kak Hana buat ngucapin, "Happy Reading".

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Friendship/Romance/Humor
Girls Vs Boys, Basic Hard!

.

.

Chp 4:

"Aku tidak ingin ranjangku kotor! Cepat lepas sepatumu dan baju seragammu! SEKARANG!" perintah Sasuke. Dan Sakura pun mulai melepas kancing seragamnya satu persatu.

'DEG'

Jantung Sasuke kini mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. "Apa yang ku katakan padanya tadi? Melepas seragamnya? Aduh ini kan yang pertama kalinya buatku," ucap Sasuke dalam batin dengan gugup.

"Cklek" suara pintu terbuka membuat kegiatan Sakura dan Sasuke terhenti untuk menoleh pada pintu kamar Sasuke yang kebetulan belum terkunci.

Dari pintu itu menyembullah dua kepala pemuda yang satu berambut merah bermata hazel, dan yang satu berambut hitam bermata onyx yang sama seperti yang Sasuke miliki. Mereka masing-masing nyengir kuda, yang mungkin saja akan membuat para kuda iri akan cengiran kedua pemuda itu (?). Ya, tepat sekali, kedua pemuda itu adalah kakak dari Sasuke dan Sakura, yaitu Itachi dan Sasori.

"Wah maaf kami telah mengganggu, kalian yang akan memulai permainan," ucap Sasori, dengan wajah baby face yang seperti dibuat-buat semenyesal mungkin.

"Haha... Kalian ini kan baru kelas X, masa mau berbuat hal yang belum seharusnya di lakukan, ingat Sasuke umurmu baru saja menginjak 17 tahun pada bulan Juli kemarin! Kakak saja belum berani melakukan perbuatan senekat kalian," sambung Itachi, semakin ngelantur. Dan lagi Sasori yang ada di sampingnya hanya mengangguk menyetujui.

Sakura dan Sasuke masih terdiam bingung akan ucapan kedua kakak mereka. Tangan Sakura masih berada di depan dadanya, kancing bajunya sudah ada sekitar tiga kancing yang berhasil terbuka, tampaknya Sakura masih belum menyadari kalau bra berwarna yang sewarna dengan rambutnya itu cukup terlihat, dan hal itu yang membuat Itachi dan Sasori berfikiran macam-macam akannya.

Sasuke? Anehnya, dan diluar sifatnya, ia malah asyik bengong seperti orang bego, menatap Itachi juga Sasori, yang katanya tadi meminta maaf karena telah mengganggu, tapi malah belum beranjak-anjak pergi.

"Apa sih yang kalian bicarakan, kami tidak mengerti, dan tolong tinggalkan kami!" ucap Sasuke begitu sadar, kalau dirinya tadi bersikap tidak cool dengan melamun seperti orang bakka.

"Ya, kami pergi, kau tahu Sasori, aku senang sekali karena akan segera mendapatkan adik ipar seperti Sakura, dan akan menggendong anak mereka nanti, kau lihat kan mereka akan membuatnya saat ini!" ucap Itachi menggebu-gebu, dan pintu pun tertutup, semakin lama, suara Itachi dan Sasori semakin jauh dan akhirnya hanya kesunyian yang tercipta.

Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Sakura dan semburat merah tipis tanpa diundang telah mampir di kedua belah pipi Sasuke.

"Apa yang kau lihat?" tanya Sakura bingung. Sakura perlahan mengikuti arah pandangan Sasuke yang ternyata pada dadanya.

'Deg'

"Kyaaa, chiken butt kau mesum!" teriak Sakura dengan segera menutup atau lebih tepatnya mencoba memasang kembali kancing bajunya yang membuat pemandangan indah tubuhnya terlihat oleh lelaki yang kini duduk seranjang dengannya.

"Heh? Kau sendiri pinky yang melepasnya bukan aku!" protes Sasuke. Padahal Sasuke yang tadi menyuruh Sakura untuk melepas baju seragamnya dengan segera, tapi Sasuke juga yang mengelak.

Hah... Pasangan ini, benar-benar payah!

Kita lihat di Rumah Sakit Konoha, di sana ada Naruto sedang duduk tegang di sofa ruang rawat pasien.

Tegang? Memangnya ada apa di sana hingga membuat Naruto tegang. Oh ternyata ada Neji, si sister complex _sebutan Neji dari teman-temannya_ sedang bergantian menatap Naruto, juga adik sepupunya yang kini sedang terlelap di atas ranjang pasien.

Hinata. Ya Hinata yang kini terbaring di ranjang pasien itu. Dan mengapa Neji terus-terusan menatap tajam Naruto?

Oh, benar juga, ingatkah kalian akan episode sebelumnya? Kalau tidak baca ulang sana! *plak*

"Setelah ku lihat apa yang kau perbuat pada Hinata, aku tidak akan mengizinkanmu berbicara sepatah katapun dengannya," ancam Neji, sepertinya dia marah. Well, itu pertama kalinya adiknya celaka hingga masuk ke rumah sakit dan pingsan. Tentu saja ia akan marah, apalagi Naruto, anak bodoh yang menurutnya tidak berguna itu yang telah menyebabkan perkara itu terjadi!

"Ta..." Naruto menghentikan ucapannya. "Well, aku pulang saja," sebenarnya Naruto ingin berkilah, tapi ia urungkan niatnya saat melihat tatapan lavender Neji yang teduh, memperlihatkan kemarahan dan ketegasan.

"Dasar sister complex," cibir Naruto sembari membuka pintu ruang rawat Hinata.

"PRANG"

"HUWAAAA!" Naruto berteriak terkejut bukan main, saat ia hendak membuka pintu ruang rawat Hinata, ada sebuah vas bunga merayap di dinding eh? Lho memangnya cicak merayap, bukan! Maksudku, vas bunga yang menabrakkan diri pada tembok di dekat pintu. Err lebih tepatnya, vas bunga yang di tabrakkan dengan tembok eh? Ah sudah malah ribet!

Naruto tanpa berkomentar lagi segera mendorong pintu ruang rawat itu dan ngeloyor pergi jauh-jauh, dengan berlari berusaha menghindar dari amukan Neji. "Gila, baru kali ini liat Neji ngamuk," batin Naruto.

Sekira sudah dirasakan aman, Naruto berhenti berlari. "Hah... Hah... Hah..." Naruto terengah-engah, "Aku mau pulang saja ah, kan besok-besok aku bisa SMSan sama Hinata, menanyakan Hinata tentang keadaannya, kalau sekarang kan gawat. Kalau-kalau Handphone-nya di pegang Neji? Bisa-bisa aku di amukin lagi!" batin Naruto, membayangkan Neji yang mengamuk saat di ruang rawat Hinata tadi. Bay the way tentang Neji, kita intip yuk ke ruang rawat Hinata. Biarin Naruto kita tinggal di sana, lagi mikirin amukan Neji tuh. *ngelirik Naruto*

"Kyaaa!" teriak suster yang baru saja akan memasuki ruang rawat Hinata. Sayangnya belum sempat ia melangkah lebih jauh mendekati Hinata, suster itu sudah keburu terkaget-kaget akan Neji yang menatap tajam padanya, juga pecahan-pecahan vas bunga yang tercecar kemana-mana.

"Aaa... Maaf..." ucap perawat itu sebelum kembali keluar dengan degup jantung yang kencang. "Berantakan sekali," sambungnya, di iringi gelengan kepala.

Perawat itu pun memutuskan untuk memanggil petugas bersih-bersih untuk membersihkan kamar rawat 201, ya itu ruang rawat Hinata.

Tak menunggu lama, perawat itu datang kembali bersama petugas kebersihan.

Rin, berjalan melintasi koridor kiri, hendak ke ruang rawat pasien dari keluarga terpandang yaitu clan Hyuuga. Betapa kagetnya Rin begitu ada seorang karyawan rumah sakit yang berdiri di depan pintu kamar rawat yang akan ia masuki. "Ada apa Mizuki?" tanya Rin dengan lembut. Seakan tersihir, Mizuki diam mematung menatap Rin. "Mizuki?" Rin mencoba menyadarkan Mizuki dengan mendekat padanya lalu memencet hidungnya. "Aku bertanya padamu hei!"

Seketika Mizuki tersadar dari sihirnya uhm... Dari acara melamunnya deh.

"Ah.. Iya.. Di dalam tuan muda Hyuuga mengamuk," jawab Mizuki dengan canggung.

"Eh?" tangapan Rin. Ia segera memasuki ruangan itu dan ia pun berdecak kesal, akan pemuda yan kini berdiri di samping jendela. "Syukurlah Hinata tidak bangun." batin Rin.

.

Mari Kita sorot yang lain, ini kan sudah malam, kira-kira malam-malam begini borgol siapa ya yang belum lepas. Mari kita ingat sama-sama.

Borgol Shikamaru yang Temari sudah terlepas. Naruto dan Hinata juga sudah. Lalu Neji dan Tenten. So ada berapa pasangan yang belum terlepas? Well semua tahu ada dua pasangan yaitu Sasuke dan Sakura dengan Sai dan Ino.

Bay the way, kita ke Sai dan Ino yuk!

"Plup"

"Plup"

Ino dan Sai sudah pindah ke danau atas permintaan Ino. Yeah, Ino kini sedang menghadapi stress dengan cara melempar batu-batu kerikil ke danau. Yeah walau tidak di jamin efektive tetapi masih tetap di laksanakan oleh Ino.

Sai? Haha... Sai sedang memperhatikan Ino dengan tatapan penuh kepolosan (?).

"Apa kau lihat-lihat!" Ino memelototi Sai yang masih menatap Ino dengan polos.

"Hei!" Ino makin jengkel karena Sai masih tetap menatapnya dengan polos. "Hah... Cowok aneh." dengus Ino pasrah.

"Ino." akhirnya Sai tersadar juga, buktinya ia memanggil Ino.

"Hm...?" gumam Ino menyahuti.

"Aku mau ke toilet, lihat di sana ada toilet umum." ucap Sai, menunjuk sebuah papan bertuliskan 'toilet umum' dengan arah panah ke kanan, memasuki sebuah gang kecil.

"Nani? Ke... ke toilet?" tanya Ino mencoba menyakinkan apa yang ia dengar tadi. Dan Sai pun hanya mengangguk mantap, sedikit terlihat oleh Ino ada keringat dingin yang mengalir di pelipis Sai.

"Sepertinya ia sudah tidak kuat menahannya, hah... Apa yang harus ku lakukan? Masa aku ikut dia ke toilet melaksanakan panggilan alam?" batin Ino gusar.

"Ino?" panggil Sai, wajahnya terlihat memohon.

"Err... Baiklah..." ucap Ino kemudian. Sai yang mendengarnya tiba-tiba merasa lega, lalu memeluk Ino.

"Thank Ino-chan~" gumam Sai, lalu melepas pelukannya dan berdiri di ikuti Ino.

"Apa tadi yang Sai-kun lakukan?" muka Ino merona merah mengingat hal barusan, sampai-sampai ia melupakan tujuan mereka setelah ini yaitu 'toilet umum'.

Ino masih melamun, memikirkan kejadian tadi, dengan pipi merona, kalau Sai sendiri ia senyum-senyum girang karena akhirnya dia bisa juga melaksanakan panggilan alam.

"Sampai," gumam Sai.

"Eh? Sampai di mana Sai-kun?" tanya Ino heran.

"Toilet Umum," jawab Sai dengan lancar, tak lupa senyum polosnya.

'Deg'

Ino mencoba mengingat sesuatu, dan ia pun membelalakkan matanya.

"Toiletnya sepi." beritahu Sai.

"Sama saja," dengus Ino.

Mereka pun memasuki toilet cowok. Ino mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toilet cowok itu. Keadaannya bersih, dan ia pun tersadar, akan apa yang mereka lakukan di sana.

"Kyaa Sai, aku belum siap." teriak Ino.

"Tapi aku udah gak tahan Ino-chan~" mohon Sai.

"Hei apa yang kalian lakukan!" teriak seseorang di pintu toilet cowok. Sai dan Ino terlihat pucat pasi.

"Lariiiii~" teriak Ino, suaranya melengking memekakkan telinga. Ino langsung berlari menyeret Sai, menubruk orang itu.

"Ino~" Sai yang sudah tidak kuat lagi akhirnya kencing di celana sambil berlari bersama Ino. Di belakang mereka ada 3 Hansip mengejar-ngejar mereka, karena Hansip itu menduga Sai dan Ino akan melakukan hal-hal yang aneh-aneh, dan lagi mereka masih mengenakan seragam sekolah.

"Hoi tunggu!" teriak para hansip itu, mereka belum menyerah mengejar Sai dan Ino.

"Kyaaa kita harus cepat Sai!" teriak Ino melengking, mencoba menambah kecepatan larinya.

"Itukan rumah Sasuke!" ucap Sai, menunjuk Uchiha Mansion, yang besar dan mewah. "Pak tolong kami~" ucap Sai, mengarah pada satpam keluarga Uchiha.

"Rumah Sasuke besar sekali!" kagum Ino.

"Hoi!" setelah mendengarkan teriakkan itu, Ino tersadar akan posisinya saat itu, ia sesegera mungkin menarik lengan Sai, memasuki mansion Uchiha.

Ino pun berhenti tepat setelah berhasil memasuki gerbang mansion uchiha. Ia pun mencoba mengatur nafasnya yang memburu bersama Sai.

"Hah... Basah." gumam Sai, menunduk melihat celananya. Ino yang mendengar gumaman Sai, ikut menunduk melihat celana Sai.

"Hmmhpp... Hahahahaha..." Ino tertawa kencang sekali, begitu melihat celana Sai basah. Sedangkan Sai sendiri dia malah masih memasang tampang polos, melihat celananya yang basah.
.

.
~TBC~

.

.

A/N: Jiahahaha... *tertawa nista* SasuSaku gemesin banget, apalagi SaiIno haha...

Oke dari pada banyak omong RnR Please! O.O