classic story
Al-chan: Aloha semua author imut kita datang untuk melanjutkan cerita... \(^.^)/ dan ini spesial SebastianxCiel yay..
maaf kalau nggak romantis aku nggak bisa bikin nih pengalaman pertama...
Mello: Ckckckck ternyata Author ini super payah...
Al-chaN: Whatzzzz elo ngehina gue elo nggak gua bayar lagi nih *ngambek kuadrat (?)*
Mello: Ampuuuun, gue harus ngapain sekarang.
Al-chan: Bacain disclainer ama warning ngerti lu...
Mello: ini punyanya Yana Toboso
warning OOC +OOS + selingan hangat Al dan Mello
Al-chan: Sana kocok kotak storiesnya... *masih ngambek*
Mello: Baik *ngocok kotak stories* kita dapat gadis penjual korek api...
Al-chan: Maaf klo beda banget ama yang asli... cerita asli nanti di chapter terakhir... :3
Mello: Karena ceritanya puaaaaaaaaaaaanjang maka akan dipotong abis beda ama yang dulu...
veel leesplezier
(bahasa belanda)
Lelaki penjual peti mati /(O.O)\ part 1
Mello: Ehem-ehem...
Pada malam paskah tahun 2011 yang begitu meriah, dimana semua orang kembali ke dalam keluarga mereka untuk mempringatinya secara bersama. Seorang anak kecil berambut biru kelabu, bermata biru laut, dan berpakaian kotor bernama Ciel yang ditugasi ayahnya (secara paksa) untuk menjual peti mati.
"Mana ada yang mau membeli peti mati pada hari paskah,"kata Ciel frustasi berat.
"Aku mau membeli dua,"kata seseorang dengan suaranya yang agak berat, ranbutnya yang belah tengah, bermata merah ruby, dan menggunakan baju berlengan warna putih.
"Untuk siapakan kalau boleh saya tanya?"kata Ciel dengan suara tenang.
"Untuk ayah dan ibuku yang meninggal secara mendadak,"kata orang tersebut yang langsung mengalirkan setetes air mata.
"Baiklah sebentar,"kata Ciel langsung berlari ke arah toko tua bernama "Undertaker".
Mello: Hah Ciel anaknya Undertaker.
A/N: Lumayan nambah tokoh sih...
Mello: Ah sudah lanjutkan.
"Fufufufu akhirnya kau menemukan pelanggan Ciel,"kata Undertaker sambil memakan biskuit tulangnya.
"Iya akhirnya aku bebas,"kata Ciel langsung kembali ke lelaki gagah tersebut.
Saat kembali ke arah lelaki tersebut ia langsung berlari menuju ke arah yang jauh dan menghilang entah ke mana.
"Tunggu,"kata si lelaki gagah tersebut.
"Apa ada yang bisa saya bantu,"kata Undertaker dengan tenang.
"Sepertinya aku pernah melihat anak lelaki itu entah di koran mana,"kata lelaki gagah tersebut.
"Tidak perlu dipikirkan. Tapi bila anda ingin bertemu lagi dengan anak itu kau harus membuat lelucon terbaik,"kata si Undertaker.
"Aku jatuh cinta pada anak kecil itu,"kata lelaki tersebut.
"Hwahahahahahaha tak mungkin,"kata Undertaker,"oke anda harus meminta 3 permintaan dari anak kecil itu,"kata Undertaker dengan tenang.
.
.
(Sebastian)
Sebulan setelahnya...
Sebulan setelah kedua orang tuaku meninggal. Aku Sebastian seorang dewasa berumur 28 tahun, masih berkepala dua. Setelah sebulan aku bertemu seorang anak kecil yang menarik perhatianku selama ini, sebetulnya aku tak memiliki keinginan apapun dalam hidup ini selain 2 orang tuaku. Hari ini aku akan mencoba untuk memanggilnya kembali. Awalnya aku berbaring di tempat tidurku dan mulai berkata..
"Aku ingin 3 buah pertanyaan,"kataku dengan tegas, dan tiba-tiba ada seorang anak kecil yag persis dengan anak yang menjual peti mati itu.
"Apa permintaanmu Tuan,"kata Ciel dengan pura-pura membungkuk."Aku tak dapat menghidupkan orang tuamu tapi aku dapat membunuh musuh-musuh yang membunuh orang tuamu,"kata Ciel dengan senyum seringai di mukanya.
"Tidak,tidak, aku sudah melupakan mereka karena merekapun kini telah mati,"kata Sebastian dengan suara yang hambar.
"Lalu apa permintaan pertama anda,"kata Ciel sambil duduk di kursi.
"Aku ingin kau menemaniku,"kata Sebastian.
Saat itu Ciel membelalakan matanya. Ia langsung berdiri.
"Itu tak mungkin, aku masih ingin bebas,"kata Ciel dengan suara yang keras hampir berteriak.
"Temani aku selama 4 hari,"kata Sebastian dengan suara memohon.
"Baiklah aku akan menemanimu selama 4 hari,"kata Ciel dengan suara yang kembali tenang.
"Permintaan keduaku kau harus berlaku seperti anak kecil seusiamu dan tersenyumlah,"kata Sebastian lagi.
"Baik namun sepertinya aku akan sulit untuk melakukannya,"kata Ciel dengan muka muram.
"Permintaan terkhirku kau harus menyebutkan namamu,"kata Sebastian langsung menghabiskan pertanyaannya.
"Baik, namaku Mihael,"kata Ciel berbohong.
Merekapun memandang jam yang sudah menunjuk malam hari yaitu jam 8 malam.
"Mari kita tidur...,"kata Ciel dengan tenang.
Tiba-tiba sesuatu hal terjadi Sebastian merasa semua hal yang dilaluinya adalah mimpi, Mihael yang seharusnya tidur disebelahnya kini menghilang entah kemana seperti kejadian itu tidak pernah terjadi.
"Mihael dimana kamu,"kata Sebastian dengan suara yang hampir tak keluar.
Saat itu tetap aja tak ada orang yang menjawabnya dalam kesunyian yang sangat mencekam tersebut. Hari itu sinar matahari dapat memasuki bagian dalam kamar tidur Sebastian yang membuat semua orang berharap untuk menambah waktu interval untuk tidur mereka.
"Mihael,"kata Sebastian tetap berusaha memanggil nama yang seharusnya tidak dimiliki siapapun dalam dunia ini. Ia bagai mencari orang yang kini telah mati setelah berabad-abad lamanya.
Karena Sebastian mulai lelah mencari maka ia melakukan pekerjaan yang sama pada yang waktu yang sama bagai robot yang sudah memiliki skejul dan terjebak arusnya yang besar dan tak dapat keluar kembali. Bermula dari pekerjaan yang membosankan, makan siang, bekerja kembali, pulang, makan malam, dan tidur sangat teratur dibandingkan manusia normal. Namun pada saat ia tertidur kembali...
"Hooooaaaaaam,"kata Sebastian mengembangkan tangannya karena ternyata pagi telah menyambutnya kembali.
"Selamat pagi Sebasnii-san,"kata Ciel dengan dingin layaknya es batu."Kau tertidur seperti putri yang sangat manis,"kata Ciel layaknya membangunkan sang putri salju dari tidurnya.
"Mihael mengapa kemarin kau tak terlihat? Aku berusaha mencarimu sampai ke kolong jembatan,"kata Sebastian sangat polos.
Sambil mencubit pipi Sebastian,"Emang aku apaan? Dicari sampai kolong jembatan. Itu hanya mimpi saja, aku kawatir waktu kau berteriak saat tidurmu,"kata Ciel dengan sangat romantis.
A/N: Eh yang seme Ciel aja ah...
Mello: Fufufufufu bukannya kau menulis Sebastian yang jadi seme
A/N: Terserah aku... lol.
Mello: Lanjut...
Pada saat itu wajah Sebastian sudah layaknya kepiting rebus campur saus tomat dibakar lalu dimakan oleh Al.
A/N: Aku jadi laper nih...
Mello: Aku juga hehehehe *makan coklat*
A/N: Ah lanjut...
"Kita makan pagi dulu ya...,"kata si Sebastian sambil malu-malu.
"Tenang aku sudah masak masakan paginya kok,"kata Ciel sambil mendekati Sebastian yang masih merah padam.
Di atas meja terdapat telur mata sapi yang bulat, irisan daging panggang yang menggunggah selera, dan segelas cangkir teh dajerling yang menenangkan hati. Harusnya itu yang Sebastian lihat di meja tapi... Ternyata telur mata sapi yang sudah mirip telur dadar, daging yang sebelah belakang gosong, dan teh dengan rasa sedikit asin didalamnya membuat Sebastian bangun dari mimpinya. Ia sadar kalau Ciel masih kecil kira-kira 13-14 tahun yang kemungkinan masih nggak bisa masak.
"Mihael...,"kata Sebastian menghadap Ciel yang dipanggil sebagai Mihael,"kenapa kau memasak tanpa memberi tahuku kalau kau mau memasak sedangkan kau tak bisa masak,"kata Sebastian mulai mengeluarkan aura yang buruk.
"Maafkan aku Sebastian,"kata Ciel dengan mata mulai berkaca-kaca.
"HAH, ya sudah kita makan dulu hasil buatanmu ini,"kata Sebastian masih nggak percaya harus makan buatan Ciel.
Makan pagipun berlewat dengan buruk. Sebastian dan Ciel nggak bisa berkata-kata mengenai makan pagi yang sangat buruk, dan Sebastian mengajak Ciel makan di pastry favoritnya.
"Sebastian aku nggak mau datang ke sana,"kata Ciel dengan tenaga ekstra menghindar dari sebuah cafe dengan pastrynya yang paling enak.
"Tapi di sini pastrynya yang paling enak nih...,"kata Sebastian tetap menarik Ciel yang masih ketakutan masuk ke dalamnya.
"Ya sudah kita makan,"kata Ciel mulai menyerah dengan keadaan.
Sampai di cafe yang terkenal terebut ada seorang nenek yang membawa Ciel dan Sebastian ke sebuah tempat yang istimewa.
"Kau tahu pada saat aku melihat wajahmu anak muda, aku merasa bertemu orang yang telah lama mati meninggalkan aku,"kata si nenek dengan muka memandang ke langit.
"Memang nenek siapa ya...,"kata Ciel dengan tenang.
"Aku, namaku waktu itu adalah Lizzy. Sekarang banyak orang memanggil sebagai Mam Nanri,"kata si nenek memandang Ciel."Kau sangat mirip dengan anak miskin yang kutemukan pada saat aku berjalan-jalan di masa mudaku,"kata Mam Nanri dengan tatapan menerawang dan kosong.
"Mungkin itu semacam kebetulan saja Mam,"kata Ciel dengan tenang seperti biasanya.
"Mihael apa kau mengenal Mam ini?" tanya si Sebastian menatap dengan penuh interogasi.
"Nggak kok," kata Ciel sambil meminum tehnya dengan tenang.
Selanjutnya alunan musik klasiklah yang mengisi kekosongan dalam perbincangan mereka yang tak kunjung selesai-selesai. Pada awalnya merekapun mulai berbicara kembali untuk memecah keheningan.
"Aku pesan cake stroberi,"kata si Mam Nanri itu.
"Aku milkshake coklatpuchino,"kata Ciel dengan tenang.
"Aku kopi pahit saja,"kata Sebastian masih sambil melihat-lihat daftar menu yang berada di samping meja.
Saat itu pesanan segera sampai. Si Ciel makan dengan sangat belepotan sampai kedua orang yang melihat Ciel itu terkikik-kikik.
"Mihael itu ada yang kotor di pinggir mulutmu," kata Sebastian mengelap mulut Ciel yang kotor.
"Kau sangat mirip dengan Ciel teman lamaku,"kata Mam Nanri dengan sedikit terbatuk-batuk."Aku sungguh ingin mengulang hari itu agar ia tak mati,"kata Mam Nanri mulai meneteskan air mata.
"Nah selesai ini mari kita kembali ke rumah. Terima kasih Mam maaf kami mengingatkanmu pada masa lalumu yang suram,"kata Sebastian dengan penuh hormat pada lady.
Sampai pulang Ciel masih termenung dengan apa yang dikatakan oleh Lizzy si Mam Nanry yang telah ditinggalkan oleh sahabat terbaiknya. Ciel tak mau berkata sepatah katapun mengenai kejadian tersebut. Sesampainya di rumah Sebastian mengajaknya bertemu dengan para pembantunya yang agak kurang waras *Al dibacok ama Bard, Maylene, dan Finnian*
"Perkenalkan ini Bard koki masak yang nggak ngerti cara masak yan baik dan yang benar,"kata Sebastian dengan tenang, lugas, dan terpercaya.
A/N: Emangnya berita...
Mello: Gak tau tuh... lanjut...
"Yang ini Maylene, maid satu-satunya di sini. Dia suka mecahin apapun yang terbuat dari kaca,"kata Sebastian sambil menujuk orangnya."Dan ini tukang kebun Finian, dia suka sekali mematahkan pohon dan merusak halaman,"kata Sebastian menunjuk Finian."Yang terakhir Tanaka orang yang sangat tidak berguna,"kata Sebastian menyelesaikan tur ke seluruh rumah sedangkan seluruh pembantu melotot karena dianggap jelek.
Makan siangpun datang Sebastian mengajak Ciel makan di dalam rumah dengan meja yang panjangnya 1 meter. Si Ciel kayaknya biasa aja gitu ngeliat meja sepanjang itu padahal dari kalangan bawah. Mereka makan makanan tradisional Indonesia seperti nasi bakar menggunakan mendoan. Ciel makan dengan sangat lahap seperti belum makan 15 tahun.
A/N: Kan tadi pagi makanannya nggak enak banget sedangkan sekarang top-top-mantotop.
Mello: Ya...ya... lanjut...
Pada sore harinya mereka duduk-duduk menunggu sang mentari turun ke tempat tidurnya dan bulan berjaga pada malam hari ini.
Sebastian membuat puisi yang sangat indah saat itu...
"Mihael kubuatkan puisi untukmu sekarang,"kata Sebastian.
"Baik silahkan,"kata Ciel yang mulai mengantuk...
"Matahari kini telah terbenam...
Tutup matamu dan ceritakan hari ini...
Dunia kini mulai menggelap...
Tinggalkan warna kekuningan di pelangi...
Ku ingin melihat bayanganmu di dalam mataku...
agar ku dapat terbangun esok hari di sampingmu...,"kata Sebastian sambil duduk di rerumputan yang hijau yang tertimpa cahaya oranye.
Malam itu Ciel tidur bersama Sebastian kembali untuk mengganti lembaran hari yang baru yang berbeda dengan hari ini...
.
.
.
Al-chan: Selesai dulu ya abis ini udah lama gak update...
Mello: Nah kita aka balas semua reviewan kalian sekarang...
Al-chan: buat Mousy Phantomhive lagi... Nih aku buatin yey dikit lagi selesai... selesai... mungkin selesai dalam 2-3 chapter kali...
Mello: Dan buat Debby-chan Phantomhive mmm acc itu chapter kan itu kan tinggal klik storynya aja trus klik chapter trus tambahin dokumen selesai deh...
Al-chan : terakhir buat laturn 1412 Pinokio bakal hadir setelah cerita ini berakhir mohon ditunggu karena otakku cuma ada satu jadi gak bisa banyak mikir-mikir.
Mello: Sekian ya jangan lupa kasi reques kalian mau cerita apa biar cerita Classic Story ini nggak berekhir dengan cepat.
Al-chan: Jangan lupa review ya jangan sungkan-sungkan mengkritik author
Mello: Ah jangan lama-lama gue mau ketemu Matt.
Al-chan: Baik bye... Mello dan para readers sekalian... *langsung tidur*
.
.
.
kreeeesekkresekkreeeseeek *bunyi stasiun tv yang selesai gak ada acara lagi...
