Classic Story
AL: Aloha semuanya... nggak nyangka kalau ceritanya bakal panjang banget *sambil bentangin tangan*
Mello: Berisik banget sih lo guekan mau mesra-mesraan ama yayangku Matt.
Al: Pergi lo ke alam mautmu... *tendang Matt ke neraka*
Mello: Tidaaaaaaak...
Al: Fufufufu pergilah kau pergi dari hidupku
Mello: Mattt tidak my lovely dog jangan tinggalkan aku...
Al: Ayo kita mulai ceritanya...
Mello: Baik *murung*
Al: Woi kita kan mau bikin cerita humor harus senyum
Mello: Baik Lady... *berusaha senyum
Al-chan: Senyum lo belum tulus... Kita harus senyum dengan gembira huahahahahahahahahahahahaha
Leximi I Luntur
(bahasa Albania)
Al: Di pagi yang cerah di hari ke-tiga dimana Ciel dan Sebastian berjanji akan bersama sudah berjalan. Sedangkan Ciel baru menemani Sebastian selama 2 hari saja tidak lebih dan tidak kurang. Hari ini Sebastian akan mengungkap rahasia Ciel dengan diam-diam tanpa ketahuan Ciel sendiri...
"Sebas kau mau kemana?"kata Ciel dengan nada menginterogasi pacarnya sendiri.
"Aku cuma mau jalan-jalan kok,"kata Sebastian dengan nada tenang yang agak disertai nada gugup.
"Aku ikut dooooong,"kata Ciel dengan mata memelas dengan muka yang sangat imut.
'Glek imutnya tak bisa daku menolaknya,' pikir si Sebastian,"Ya sudah kau boleh ikut,"kata Sebastian menyerah.
"Horeee aku ikut," kata si Ciel loncat-loncat nggak jelas.
Mereka pergi ke Undertaker tentu si Sebastian memaksa untuk Ciel diluar saja agar ia dapat bertanya di dalam dengan leluasa. Sebetulnya si Ciel udah berantem cakar-cakaran ama Sebastian karena gak dibolehi masuk tapi dengan senjata ampuh Sebastian akhirnya Ciel nggak jadi dan nggak mau masuk.
Al: Sebas senjatanya apa?
Sebastian: Loh kan ini elo yang buat...
Al: Kasi tau buat para readers*kitty eyes*
Sebastian: Glek elu itu tau aja gue lemah ama kitty eyes. Senjatanya permen lolipop ukuran jumbo.
Al: Aku juga mau... *ngences*
Mello: Nih dah lanjutin lagi...
"Wah,wah,wah selamat datang lagi Sebastian,"kata si Undertaker sambil memakan biskuit tulangnya.
"Aku ingin bertanya mengenai Mihael?"kata si Sebastian sambil mulai duduk di atas peti yang agak meragukan wujudnya.
"Siapa itu Mihael aku baru dengar nama itu,"kata si Undertaker yang sekarang sedang minum teh.
"Makanya aku mau tanya kepadamu!"kata si Sebastian mulai frustasi.
"Fufufufu seperti biasa beri aku humor,"kata si Undertaker yang sekarang asik memainkan boneka tiruan manusianya.
" piiiiipi piiiiiiiiiiiiii piip piiiiipi iiiiiiiiiipiii iiiiiiipiiiii iiiiiiipiiiiiiiiiiiip,"kata si Sebastian yang Al sensor karena tidak baik untuk didengar anak 13 ke atas dan 13 ke bawah.
"HWahahahahahahaha, apa lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Undertaker dengan senyum yang aneh.
Sedangkan di luar Ciel sedang memikirkan apa yang sedang mereka perbincangkan dengan baik. Bahkan ia sampai bosan di luar sana mulai menguping apa yang mereka perbuat. Sebentar-sebentar gak tau kenapa ia bersin sesekali padahal dia merasa nggak flu loh...
"Duh belum makan pagi lagi," kata si Ciel mengelus perutnya yang belum diisi apapun bahkan air bening yang paling kotorpun belum masuk ke dalam perutnya.
Al: Woi itu mah namanya air comberan kok dibilang bening jelas kotor.
Mello: Elu yang nulis elu yang tanggung jawab.
Al: Ah sudah balik ke laptop eh salah ke cerita... *sambil menunjuk komputer layar besar yang seharusnya tidak dimiliki author kita ini*
Di dalam ruangan si Sebastian mulai membuat catatan pertanyaan dari a sampai z secara berurutan dengan urutan angka dan huruf yang sejajar.
"Pertama berapa umurnya Mihael?"kata Sebastian layaknya menginterogasi seorang penjahat.
"Fufufu yang pasti lebih dari 10 tahun kurang dari 300 tahun silahkan kau kira-kira sendiri fufufufu,"kata si Undertaker tanpa takut malah balik menyeringai.
"Kedua apakah warna favoritnya Mihael?" tanya Sebastian dengan nada yang sama dataaaar.
"Fufufufufu yang pasti bukan pink,"kata si Undertaker lagi asik maenin bowling tengkoraknya.
Ciel : Eh... yang benar emang pink...
Al: Fufufufu aku sukanya malah putih...
Ciel: Makin lama elu mirip Undertaker.
Al: Diem lu kalau mau dapet gaji.
Mello: Lanjut ke fanfic...
"Kapan ia dilahirkan?"tanya Sebastian tetap mempertahankan nada datarnya.
"Fufufufu yang pasti bukan tahun ini,"kata si Undertaker mulai mengganti permainan sedangkan Sebastian sedang asik bersweetdrop ria.
"Terakhir apa pendapatmu mengenai Mihael saat ia bekerja di tempatmu?"tanya Sebastian
"Fufufu ia sangat menyenangkan untuk dijahili,"kata si Undertaker sedangkan diluar Ciel semakin keras untuk bersin.
"Terimakasih, mungkin aku lebih baik bertanya pada Mam Nanri,"kata si Sebastian keluar dengan langkah yang sangat panjang 0,5 meter perlangkah dan langsung sampai dimana Ciel sedang asik mengalami perut yang sedang kelaparan. Ia terlihat tidak sabar untuk melahap apapun yang berada tepat di depan matanya. Ciel melihat Sebastian sebagai seekor kalkun yang besar.
"Kalkun kau jangan lari...,"kata si Ciel sambil menggigit Sebastian yang ia kira kalkun.
"Mihael gua bukan kalkun! Kalau laper kasi tau aja kaleeee,"kata si Sebastian mulai ketularan kelebaiannya author yang sekarang baca fanfic ini. Inget bukan penciptanya.
"Maaf Sebas aku lapar sekali belum makan pagi,"kata si Ciel yang udah gak sabaran mengajak Sebastian makan.
Tiba-tiba seseorang melewati mereka orangnya berambut putih dengan pakaian daster putih yang kebesaran dengan memegang sebuah gundam datang melewati Sebastian dan Ciel. Sebastian si normal tapi si Ciel sepertinya sangat ketakutan saat melihat tatapan matanya yang dingin yang membekukan.
"Kau harus bersiap-siap Ciel waktumu akan tiba,"kata orang tersebut lewat begitu saja dan langsung menghilang.
"Ada apa Mihael?" tanya Sebastian yang memandang Ciel yang ketakutan.
"Tidak ada apa-apa. Ayo Sebastian aku lapar,"kata si Ciel sambil menarik Sebastian yang ingin mendalami Ciel.
Mereka seperti tak diharapkan Ciel ternyata mereka bertemu dengan Mam Nanri yang betul-betul tak ingin dan tak diharapkan Ciel tapi harapan baik bagi Sebastian. Dan ternyata si Mam Nanri kebetulan mau makan pagi juga. Klop banget mereka bertiga jadi mereka pergi ke sebuah restoran yang sudah cukup tua diantara bangunan yang baru-baru di Jalan Dersaika (jangan dicari).
"Sudah lama sejak aku dan temanku Ciel makan di sini saat dibukanya restoran ini pada tahun 1913,"kata si Lizzy melihat interior yang agak kuno dengan warna pualam yang sangat menenangkan. Terdapat sebuah lukisan sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan.
"Mam Nanri ayo makan aku lapar sekali sekarang,"kata si Ciel makan dengan lahap dan tak memperhatikan orang yang meliriknya karena tak tahu tatakrama.
"Mihael makannya yang benar,"kata si Sebastian mulai mengajarkan volume itu luas alas kali tinggi.
"Terimakasih makanannya," Ciel yang sudah kenyang malah kabur entah kemana. Sedangkan Sebastian baru sadar 5 menit kemudian saat si Mam Nanri dengan tidak elitnya menumpahkan jus stoberinya di kepala Sebastian yang sedang membuka mulutnya karena bengong.
"Maafkan aku,"kata si Mam Nanri yang tak dapat menangkap bahwa orang yang ia tumpahin jusnya sedang memandang dengan senyum yang menyeramkan alias tidak dapat memaafkan si Mam.
"Ah ya sudah toh yang penting bukan seorang lady yang harus kena tumpahan jusnya,"kata si Sebastian sekarang malah jadi doyan ama nenek-nenek.
Di saat itu Ciel sedang mencari lelaki kecil berambut putih yang melewatinya. Ciel dengan sangat hati-hati mengikuti segala langkahnya dengan sangat hati-hati agar dia tidak diketahui. Anak lelaki itu sih tenang-tenang aja celenang-celenung asik makanin coklat yang ia dapat secara sengaja. Dia sepertinya tahu kalau Ciel sedang membuntutinya.
Sedangkan di tempat Sebastian dan Mam Nanri...
"Ehem aku mau tanya nih...,"kata si Sebastian dengan agak kurang dihajar.
Al: Eh sini aku yang hajar biar kata kurangnya hilang.
Mello: Cep,cep,cep elo woi make nama gue seenak jidat lo...
Al: Baru sadar hah dari mana kau kemarin...
Mello: Cep,cep,cep elu tau sendiri gue tuh Mihael Keehl tau.
Sebastian: Mihael aku kangen kamu...
Al: Kita lanjut aja yuuuuk...
"Boleh silahkan mau tanya apa nak Sebastian,"kata si Mam dengan nada yang lembut selembut so****ner.
"Apa pendapatmu saat bertemu dengan Mihael?"kata si Sebastian dengan membuat area menjadi tegang...
"Aku merasa bertemu teman lamaku Ciel yang seharusnya kini telah meninggal kau tahu itu. Lalu caranya bicara dan hal yang lain membuatku mengingat cinta pertamaku pada saat umurku 14 tahun. Kau tahu sebetulnya aku yang membuat ia mati karena kalau tidak pasti ia tak akan diusir dan menjadi seorang penjual peti mati,"kata si Mam Nanri kini mulai menitikkan air mata.
"Maaf aku bertanya apa yang membuat ia diusir?"kata si Sebastian.
"Aku membuat kesal pemilik rumah namun Ciel membelaku namun hasilnya ia diusir lalu aku mendapat kabar bahwa Ciel telah mati ia terkurung peti pada saat sangat lelah,"kata Mam Nanri dengan tetesan air mata yang sudah jatuh berkali-kali.
"Ah aku baru tahu kalau anda memiliki masa lalu yang kelam...,"kata si Sebastian."Aku pergi dulu ya...,"kata si Sebastian.
Ciel pun gak tau kenapa bisa sampai dideket Sebastian lagi pada saat dia mau pulang.
"Mihael elu baru aja dari mana,"kata si Sebastian mengeluarkan aura yang nggak enak dari dalam dirinya.
"Dari membeli ini nih," nunjukin permen yang ia pengen emut setelah sekian lama.
'Cek,cek,cek sama aja pikirannya kayak anak kecil,"kata si Sebastian dalam hati.
"Emang kenapa hah Sebas?"kata si Ciel nggak pandang umur sama sekali.
"Woi elu panggil nama gue gak sopan amat di singkat lagi panggil gue dengan benar,"kata si Sebastian yang udah ngancurin aura sedih yang susah-susah dibuat Al.
Mello: Nasip...
Al: Apa lu bilang... *bawa keris*
Mello: Ayo... *bawa golok*
*terjadi pertarungan antara Al dan Mello*
Conan: Ehem lanjutkan...
"Dasar dogi Sebas,"kata si Ciel dengan menghiraukan Sebastian yang udah marah kuadrat kuadrat karena dilecehin ama Ciel.
"Apa yang kau katakan Mi...ha...el,"kata si Sebastian sebal tingkat tinggi.
Sebastian dan Cielpun pergi ke mansion dan kembali mulai bermain sampai sore hari dimana matahari kini sudah bertukar tempat dengan bulan yang ramah.
"Sebastian ini makan malamnya,"kata si Maylene sambil menaruh makan malamnya dan dengan diam ia menghampiri Ciel yang masih asik bermain. "Jangan kau ajak pergi Sebastian Ciel Phantomhive,"kata si Maylene tenang meninggalkan Ciel yang masih kaget karena semakin lama banyak orang yang tahu nama aslinya.
Makan malam kali ini adalah daging iris yang dipadu dengan lumuran saus barbeque yang dibakar setengah matang dengan kentang goreng. Lalu minumannya adalah jus stroberi (huek Al gak suka stroberi) dengan susu coklat b*****a. Dan untuk Sebastian diberi segelas wine yang berumur 1 abad.
Mello: Glek aku laper nih...
Al: Aku juga jadi laper nih yang nulis nih...
Mello: Cuapek deh makanya jangan mengundang air liur. Tuh lihat para readers juga pada ngiler tuh *menunjuk readers yang lagi ngiler 1 ember full.
"Mihael aku tahu bahwa kamu sekarang selalu berusaha mengalihkan kalau aku mau bicara mengenai Ciel anak yang sudah meninggal pada tahun 1913 pada saat umurnya yang ke-14. Emangnya kau adalah si Ciel tersebut Mihael,"kata si Sebastian yang selalu merasa kalau ia memang bukan Mihael tapi Ciel.
"Kau akan tahu esok hari. Sekarang aku lelah aku mau mandi dulu,"kata si Ciel yang merasa esok adalah hari terakhir ia akan bersama dengan Sebastian.
"Baiklah kalau begitu...,"kata si Sebastian mulai merasa tak sabar akan esok hari...
Merekapun tidur dengan tenang untuk menunggu hari esok yang mungkin berbeda 360 derajat daripada hari ini karena mereka kemungkinan akan berpisah karena esok adalah hari terkhir dimana Sebastian dan Ciel akan bersama lagi esok akan tidak ada lagi senyum yang merekah diantara mereka berdua hanya untuk hari ini...
to be continue
maaf aku potong karena aku udah pusing bikin ceritanya dan aku sedang lagi asik ama fandom lainnya. Bagi yang ngereview semuanya thanks ya udah mendukung bagi yang pengen reques lagi silahkan di review...
Mello: Quis nih... siapa cowok berambut putih yang ketemu Ciel ama Sebas?
Al-chan: Yang bisa jawab aku kasi deh ini cake favoritnya Ciel silahkan dimakan..
to be continue...
Dibalik layar...
Ciel: GOD gue capek nih aus lagi...
Sebastian: Tuan ini minumnya...
Ciel: Terimakasih Sebastian... Ah segernya besok mungkin kita harus akting semakin lama nih..
Al-chan: Ciel selamat kamu ternyata keren ya akting kayak gini...
Ciel: Mana gajiku...
Mello: Aku juga mana...
Sebastian: Aku juga nih mana...
Al-chan: Iya...iya silahkan ini itung dulu nanti di rumah kau yang tutup Ciel nanti kulempar seperti nasipnya si Matt.
Ciel: Baik Al-chan terima kasih ya sudah baca semakin banyak reviewmu cerita ini bakal cepet updatenya...
