Classic Story
Wuuuuuuuuuuuuuu Al datang dengan sejuta kerinduan sama kalian semua. Aku merasa kok humornya makin ciut ya...
Ah udah tanpa basa-basi mari kita lanjutkan fanfic gaje yang masih aja gaje...
Mello: Disclainer - punyanya Yana Toboso...
Warning: typo yang kadang datang mengancam plus miss typo (kasi tau kalau ada)
gaje dan OOCness + OSness + OCness
dan tak sesuai genre bila kalian baca maaf ini bagian terkahir cerita 3
-Enjoy it-
Setelah pertemuannya yang pertama, lalu hari yang sudah dilalui bersama, sungguh tak akan ada yang sama namun selalu berbeda diiringi waktu yang berlewat. Bila dijelajahi tak ada waktu yang tak kita nikmati apabila semua berjalan dengan baik. Tepat pada saat itu belum ada ketentuan yang pasti bahwa mereka akan bersama lagi untuk mendengar keluh-kesah yang sedang dihadapi. Bila kita di posisi mereka tentu akan memilih untuk berlari ke masa lalu yang kelam.
.
.
.
Pada dini hari yang indah, masih terbungkus kelamnya malam tak berbintang. Selalu saja ada seorang yang melihat keajaiban yang lembut nan eksotis ini. Bila campurkan dengan melodi angin yang berhembus tenang dipinggiran jendela yang ada yang menemani hanya menunggu matahari datang dan menyinari kulitnya yang pucat dan berbinar. Tak seperti malam sebelumnya Sebastian kini baru saja terbangun karena malamnya yang kelam dan suram.
"Mihael kenapa kau tak tidur," kata sebastian yang tentu masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Aku hanya ingin menikmati pagi yang kelam berbeda dengan pagi yang cerah," kata Ciel melekatkan tangannya ke arah jendela untuk menikmati dinginnya aura jendela tersebut.
"Apa kau selalu begini pada saat pagi dini hari?" kata Sebastian.
"Yaaah tentu sambil melihat wajahmu yang sedang tertidur dengan tenang dengan cahaya rembulan," kata Ciel mencium pelipis Sebastian dengan lembut.
Sebastian terlihat kehabisan kata-kata berbeda dengan Ciel yang sudah mahir mengumbar kata manis yang membuat orang lain bungkam dengan cepat tanpa membuatnya repot.
"Tenang aku akan membawamu dan memberitahu dirimu mengenai diriku di masa kelamku," kata Ciel mulai menampakkan wajah sedih yang tersirat seperti tak ingin berpisah dengan Sebastian berapapun kuatnya ia mencoba.
Pada saat itu juga terdapat cahaya yang cukup terang diantara badan Ciel dan Sebastian yang membawa mereka ke sebuah tempat yang gelap di sebuah mansion yang memang sekarang masih dini hari. Terlihat mansion dengan batu pualam yang indah, obor yang menyala-nyala layaknya menyambut kedatangan pemilik rumah. Pohon-pohon yang lebat seperti tak ada yang mengurusnya, jendela-jendela yang tak pernah terbuka lagi untuk membagikan kehangatannya.
"Mihael dimanakah ini?" kata Sebastian dengan nada gemetar," kau tahu ini adalah tempat angker yang dulu orang tuaku bilang aku tak boleh masuk ke dalamnya," kata Sebastian mengenang saat masa kecilnya
.
.
.
"Mama, mama itu *Sebastian kecil menunjuk mansion*, mansion yang indah ayo kita masuk ke dalam," kata Sebastian kecil sedang menarik lengan baju ibunya.
"Tidak boleh, mansion itu berhantu dan cukup angker kau harus menjauhinya," kata si Mama.
Terlihat di sebuah kaca yang mudah terlihat orang, ada seorang anak kecil berambut biru dengan mata birunya yang indah mengajaknya untuk bermain. Ia mengenakan baju biru formal yang seharusnya sudah tidak digunakan atau dianggap kuno.
"Ma, lihat di situ ada anak kecil yang sedang bermain. Aku boleh ikut tidak?" tanya Sebastian kecil dengan semangat ke arah Mamanya.
"Tidak boleh itulah yang harus kau jauhi! Dia sudah banyak mengambil nyawa anak kecil untuk menjadi santapannya," kata si Mama dengan nada yang agak gemetar tak ingin kehilangan putranya yang tersayang.
"Baik Ma," kata Sebastian kecil pundung di tempat.
Merekapun pergi dari tempat itu dan berjalan ke rumah mereka sendiri sedangkan Sebastian kecil sedang sebal tidak dibolehkan bermain dengan anak kecil tersebut.
.
.
.
"Kau tahu siapakah anak kecil tersebut...?" tanya Ciel masih dengan nada yang sangat dingin.
"YA, namanya Ciel. Kata ibuku caranya meninggal sangatlah tragis untuk seorang anak kecil berumur 14 tahun," kata Sebastian menaruh sebuah bunga lili di makam Ciel yang ia ambil di taman.
"Kau mau tau inilah tempatku tinggal. Tak akan ada yang tau sebelum kau datang ke arahku," kata Ciel dengan nada yang tak terbaca.
"Kaulah Ciel itu? Kenapa kau berbohong padaku Mihael? Padahal aku sudah percaya padamu? Aku tak tahu harus bagaimana?" kata Sebastian mulai tak menerima kenyataan yang ada.
"Kau tahu bila aku memberitahumu aku tak akan bisa bersamamu kembali," kata Ciel dengan nada sedih yang mulai terasa di tenggorokannya.
"Aku ingin kau jujur sekarang bagaimana kehidupanmu di sini!" kata Sebastian memegang tangan Ciel sedangkan Ciel tak mau menatap Sebastian lagi.
"Baiklah aku akan memberitahumu...
Saat itu masih pada tahun 1910 pada saat itu aku masih senang untuk tinggal di sini, semua pembantu yang baik. Orang tua yang pehantian dan tak pernah membuatku sebal. Pada umurku yang ke 10 tahun, aku bangga memiliki mansion yang besar, orang tua yang bisa menyayangiku sepenuh hati, pembantu yang ramah dan selalu ada di sampingku, serta seekor anjing yang sangat setia. Yap namun setelah kekacauan yang terjadi di tahun itu, satu persatu orang yang kusayang menghilang untuk melindungiku.
'Mama..., Papa..., Petruna..., kalian ada di mana?' tanya Ciel kecil tanpa harapan berlari ke dalam Mansion yang sudah terbakar." Jangan lari bawa aku juga, aku tak mau hidup sendiri," kata Ciel kecil dengan kekuatan terakhirnya.
Aku mencari sisa-sisa ataupun kemungkinan besar aku hanya menemukan mayat mereka, aku ingin menemukan mereka dan melihatnya untuk terakhir kali. Bahkan ke arah apapun tanpa mempedulikan bahwa tubuh kecilku saat itu lelah untuk berlari. Aku tak sanggup hidup tanpa dengan orang yang kusayang. Aku tak ingin waktu menghapus ingatan pedih ini, biar saja aku ingin membalas semua perbuatan orang yang menghancurkan kebahagianku.
'TIIIIDDDAAAAAAAAAKKKKKK,' kata Ciel dengan kekuatannya ia berlari ke arah rumah yang ia kenal yaitu rumah Lizzy.
Ia berlari terus ke arah depan walau malam sudah benar-benar, bulan kini tak muncul juga dengan bintang yang selalu menemani malam. Sungguh malam yag tidak menyenangkan, tidak ada harapan, tidak ada ujung, tak ada cahaya. Namun Ciel kecil berusaha untuk mencapai tujuannya.
Di depan Mansion Lizzy, Ciel mengetuk pintu terus menerus sekuat tenaga yang masih ia punya. Sampai pintu tersebut terbuka, Lizzy terlihat berada di balik bundanya yang membuka pintunya. Setelah Ciel tahu bahwa ia aman di situ ia pun pingsan karena kecapaian pada saat lari ke arah Mansion Lizzy yang jaraknya cukup jauh untuk ukuran seorang anak kecil.
'Ciel bangun... Mama ayo bawa Ciel ke dalam sepertinya ia lelah,' kata Lizzy langsung menarik lengan mamanya.
'Ayo Lizzy, sepertinya ada masalah buruk yang dihadapi Ciel kita bawa ke kamarnya dulu,' kata Mama Lizzy membawa ke tempat biasa Ciel menginap.
Setelah itu aku kira aku sudah aman, aku kira saat itu aku tak perlu lagi beradu dengan kematian. Sepertinya saat itu aku betul-betul ingin mati kau tahu itu... Sekarang ayo kita pergi ke tempat lain dulu," kata Ciel langsung menyudahi ingatan lamanya.
Sedangkan saat itu Sebastian sangat kaku, kakinya sulit digerakkan dan sepertinya hatinya hanya berteriak untuk memanggil keluar apapun yang baru saja ia dengar. Memanggil keluar agar ia tak pernah mengulangnya. Ia memandang Ciel yang kini mulai memindahkan mereka ke tempat lain yang seharusnya tak ingin diingat lagi oleh Ciel. Namun apa daya ia sangat ingin tahu kelanjutan ceritanya. Bagai sebuah rekaman yang dipaksa untuk mendengar cerita gelapnya sendiri, namun ia tak dapat menolaknya. Bagai domba yang dicukur bulunya padahal sudah musim dingin tak ada yang bisa ia lakukan.
"Ciel..., kenapa kau beritahu aku semua ini. Kau tahu buat apa kau mengenangnya... orang yang kau benci mungkin telah mati. Biar saja mereka menghilang," kata Sebastian mengguncang punggung Ciel yang sudah tak peduli diri.
"Kau tahu, aku tak ingin melupakannya... Biar saja mengalir aku tak peduli, aku hanya ingin hidup sesuai keinginanku," kata Ciel melepaskan pegangan Sebastian, ia membuat mereka pergi ke arah sebuah Mansion namun disini terlihat sebuah kehidupan berbeda dengan mansion yang sebelumnya.
Mansion itu dipenuhi bunga mawar putih yang sekarang sedang bermekaran. Begitu hidup dan terdapat pula beberapa burung yang selalu hinggap di rumah tersebut. Jendela yang tertutup namun diterangi sebuah obor yang memperlihatkan bahwa ada orang di dalamnya. Di sini terlihat anak-anak kecil yang tertidur pulas karena jendela yang terbuka. Bukan Mansion yang dingin, sepi, dan menunggu pemiliknya untuk pulang.
"Dimanakah ini Ciel? Sekali lagi kau harus jujur!" kata Sebastian dengan nada yang pasti.
"Ini adalah rumah Mam Nanri," kata Ciel dengan muka tanpa ekspresi tanpa ada tanda bahwa ia pernah masuk ke dalam.
"Kau mau masuk sekarang sudah jam 7 loh...," kata Sebastian melihat jam tangannya.
"Kau saja yang mengetuk aku hanya ingin melihat rumahnya untuk terakhir kali," kata Ciel dengan senyum sedangkan tubuhnya seperti akan menghilang di depan Sebastian lalu ada lagi.
"Baiklah kalau kau yang menginginkannya," kata Sebastian langsung menuju depan pintu rumah Mam Nanri.
"Ingat kau harus menggunakan nama Mihael saat aku di dalam rumahnya," kata Ciel dengan muka menyeramkan dan hawa yang kurang enak.
"Tentu saja Ciel aku akan menggunakan nama itu saat aku berbicara dengan Mam tersebut," kata Sebastian dengan tenang.
Sebastian mengetuk pintu perlahan dengan ketukan yang tak terlalu membuat ribut. Sesuai perkiraan Sebastian yang membuka adalah Mam sendiri yang langsung mempersilahkan mereka biasa Mam selalu rapi walaupun ada di rumah, tidak berbeda dengan imejnya yang ia pertahankan saat kecil.
"Mmmm ada apa ya nak Sebastian dan Mihael datang ke Mansion saya. Bagaimana anda tahu bila ini adalah mansion saya?" tanya Mam dengan sopan tetapi sambil mempersilahkan mereka duduk.
"Ah kami tahu karena ada kenalanku yang pernah melihat anda masuk ke rumah ini berulang kali saat ia pulang ke rumah," kata Sebastian lihai berbohong.
"Ah kami hanya ingin melihat anda, apakah membuat anda terganggu?" kata Ciel dengan tenang menyeruput teh yang baru saja diterimanya dari pembantu Mam Nanri.
"Tentu saja tidak, kedatangan anda akan selalu saya terima. Maaf ya mansion saya masih sedikit berantakan," kata Mam tersebut juga mulai meminum morning teanya.
"Ah..., tidak apa-apa," kata Sebastian dengan senyuman khasnya.
Di dalam ruangan tamu terdapat sebuah lukisan besar seorang laki-laki dan gadis kecil, si laki cemberut dan memandang arah lain sedangkan si gadis tersenyum manis. Terdapat pula patung-patung arstistik yang terlihat sangatlah indah dan terjaga dengan baik. Sofa-sofa empuk yang sekarang sedang diduduki mereka, juga dengan beberapa foto hitam putih seorang anak laki-laki yang sama seperti menunggu kepulangan orang itu.
"Permisi Mam boleh saya tanya? Siapakah yang ada di lukisan besar tersebut," tanya Sebastian tetap menjaga kesopanan.
"Ah..., itu hanya lukisan diriku dan Ciel saat masih berumur 13 tahun. Kau tahu ia murung sekali saat itu tak mau mengajakku berjalan-jalan kembali," kata Mam menerawang saat mereka sedang dilukis.
.
.
.
"Ciel kemari kita akan dilukis," kata Lizzy dengan menarik Ciel yang sedang asik menyendiri di perpustakaan pribadi Mansion Lizzy.
"Ah buat apa toh kita sudah banyak foto. Tinggal minta saja lukis dari foto tersebut,Lizzy" kata Ciel yang masih saja sulit untuk dirayu oleh Lizzy untuk dilukis.
"Kasian pelukis itu, ia sudah datang susah payah agar bisa melukis kita loh," kata Lizzy tetap menarik Ciel yang sekarang baru mau berjalan beberapa langkah.
"Ya sudah Lizzy, hanya sebentar mengerti," kata Ciel akhirnya mulai berjalan ke ruang tengah.
Sang pelukis ternyata sudah membawa segala peralatan dengan baik. Iapun bisa langusung menggunakan catnya untuk melukis tak perlu menggunakan sketsa lagi. Ia sebetulnya menyuruh kedua orang tersebut tersenyum dan mengarah ke pelukis. Apa yang terjadi... Ciel menghadap ke samping sambil cemberut sedang Lizzy memeluk Ciel sambil tersenyum. Sebetulnya si pelukis mau memaksa Ciel untuk tersenyum namun menyerah.
"Yah sudah jadi silahkan dilihat," kata pelukis tersebut.
Saat melihat lukisan itu Lizzy cemberut berat gak bisa lihat muka tersenyum Ciel kembali. Namun ternyata akal-akalan pelukis si Ciel dibuat senyum kecil di sudut bibirnya yang cemberut. Lizzy pun senyum-senyum sendiri sedang Ciel tak memperhatikannya karena sedang asik membaca.
.
.
.
"Boleh saya tanya satu hal...?" tanya Sebastian kembali.
"Silahkan, semua pertanyaan anda terbuka selama anda masih berada di sini. Anda boleh bertanya dengan saya sepuas anda mau," kata Mam tersenyum ke arah Sebastian.
"Apakah anda ingin bertemu dengan Ciel walaupun anda tahu bahwa tidak akan terjadi?" tanya Sebastian dengan nada mantab.
"Aku mau, kau tahu aku sering sekali mendengar orang mengelus dahiku pada saat aku tidur . Kira-kira setahun setelah Ciel meninggal, ia mirip sekali dengan Ciel," kata Mam dengan tenang.
"Kau mau tau orang yang bernama Mihael ini adalah Ciel Phantomhive itu sendiri," kata Sebastian sedangkan Ciel sudah tak tahu harus bicara apa ia sedang sangat sebal dengan apa yang dilakukan oleh Sebastian.
"Ciel, aku tahu itu adalah kau aku rindu sekali padamu," kata Mam langsung memeluk Ciel.
"Cek,cek,cek kau sama sekali tak berubah ya...," kata Ciel mengacak rambut Mam sedang Sebastian hanya tersenyum melihat mereka dapat bercengkrama dengan baik setelah begitu lama. walau berbeda saat dulu. Kini mereka seperti nenek dan cucu kesayangannya.
"Ciel bagaimana kau bisa hidup?" tanya Mam tetap memegang tangan Ciel yang hangat.
"Yah kau tahu sendiri aku sekarang bukan manusia lagi. Aku adalah iblis yang selalu mencari kesenangan pribadi," kata Ciel melirik muka Sebastian. Ia menyentuh wajah Sebastian lalu mencium pipinya bahkan membuat Sebastian memiliki wajah yang merah.
"Dan tujuanku ingin tau seperti apa kalian pada saat masih di sini," tanya Sebastian dengan tenang dan tentu masih memerah.
Ciel dan Mam yang menatap muka Sebastian yang merah dan sekarang berusaha ke arah yang seharusnya hanya terkikik tak sanggup melihat hal tersebut.
"Maaf aku lupa, mungkin Ciel kau bisa memberitahukannya," kata Mam mengarah ke Ciel dengan muka tenang sedikit berharap.
"Tidak, terima kasih sekarang kami akan pergi dulu," kata Ciel sekarang menarik Sebastian yang masih berharap mendengar kelanjutannya.
"Ayolah Ciel beri tahu aku...," kata Sebastian memelas.
"Tidak mari kita pergi ke tempat lain. Sebelumnya kita makan dulu aku lapar," kata Ciel mengajak Sebastian pergi ke sebuah restoran tua di pinggir jalan.
Sekorasi ruangan itu sangatlah kuno, terdapat jam bandul, meja dan kursi yang diukir dengan indah, kertas menu yang sudah menguning, dan suasana ruangan kayu yang menguar dari restoran itu. Lagu-lagu lama pun mengudara diantara orang yang bercengkrama di dalamnya.
"Wah sudah lama aku tidak datang ke sini...," kata Ciel yang lansung duduk di tempat yang kosong.
"Kau sering ke sini?" tanya Sebastian dengan tenang.
"Pernah waktu umurku 10 tahun, saat itu semua yang awalnya bahagia menjadi keburukan. Ada seseorang yang mengikuti kami," kata Ciel mulai terlihat menghilang lagi lalu muncul.
Merekapun menjadi makan dengan diam di saat pagi itu. Saat itu Ciel mengajak Sebastian mengikuti seorang yang pernah mereka temui dulu. Saat ini berbeda yang dibicarakan oleh si orang tersebut.
"Ciel, ayo ikuti aku bila kau bisa. Aku akan menunggumu di tempat terakhir hidupmu," kata orang itu langsung menghilang, sedangkan Ciel tubuhnya bergidik tak tahu harus bicara apa kepada Sebastian.
"Ciel kita harus segera ke sana," kata Sebastian.
"Baiklah ini adalah sihir terakhirku untuk membawa kita ke sana," kata Ciel dan kembali ada cahaya di sekitar mereka dan mereka sampai di sebuah daerah kumuh yang sudah terlihat ditinggal orang.
Daerah ini dulu terbakar habis pada tahun 1925, 12 tahun setelah kematian Ciel. Mereka pergi ke sebuah jalanan yang sudah sangatlah asing bagi penduduk sekitar yang tak ingin melihat tempat terkutuk mereka menoleh, mereka melihat orang berambut putih dan berbaju daster putih serta memegang sebuah robot sedang duduk dengan tenang di sebuah peti mati.
"Kau tahu, aku sudah menunggu kalian sejak lama," kata orang itu mulai berbicara.
"Apa yang kau inginkan dari kami?" kata Sebastian dengan lancang.
"Wah anda lancang sekali bertanya dengan nada keras ya...," kata orang itu tiba-tiba ada di samping Sebastian." Kau tahu aku sangat ingin membenci anda bila bertemu dengan orang yang tak bisa bersabar," katanya menyentuh leher Sebastian, berusaha untuk menggigitnya.
Namun sebelum itu terjadi Ciel sudah mendorong orang itu dan membuatnya terpental merusak peti yang awalnya masih bersih. Terlihatlah sesosok mayat yang sangat mirip dengan Ciel.
"Inikah yang kau inginkan? Seorang anak muda yang tak tahu namanya dendam dan hanya berharap untuk tinggal bersama kedua orang tuanya," kata orang itu menyentuh mayat yang ternyata telah diawetkan dengan pasti oleh orang tersebut.
"Pergi kau dasar iblis," kata Ciel mulai marah dan tak membiarkan orang itu memegang dirinya lagi.
"Oh Ciel yang manis, dulu saja kau meminta pertolonganku agar kau tetap hidup. Mana balasmu?" kata orang itu menjilat leher yang pernah dihisapinya itu.
"Ini adalah orang yang kupersembahkan untukmu," kata Ciel membungkukan badannya.
"Wah,wah,wah, sekarang kau bebas Ciel dan sekarang kau harus pergi dari hadapanku selamanya," kata orang itu tersenyum menyeringai menatap kedua mangsanya.
"Sebastian tembak dia dengan ini," Ciel melempar sebuah pistol dengan peluru yang diisi air suci yang mudah didapatkan di sini.
Sebastian ternyata dengan lihai menembakannya ke arah orang itu dan tentu membuat orang itu pergi entah kemana.
Akhirnya Ciel dan Sebastian hanya tinggal berdua, mereka berhadapan satu sama lain dan dengan sedikit sentakan ternyata Ciel sudah menghilang. Namun karena rasa penasaran yang tinggi Sebastian menyentuh mayat Ciel dan menemukan sesuatu yang ajaib.
"Sebastian ingatlah aku dan jangan beritahu ini pada siapapun termasuk Lizzy tunanganku," kata sebuah suara.
"Baik Ciel maaf bila aku tak dapat melakukannya," kata Sebastian langsung memegang tangan Ciel dan mencium tangannya yang dingin.
-the end-
Al-chan: Ah akhirnya ceritanya selesai...
Mello: Ah padahal masih kurang 1 tuh...
Al-chan: Ah aku pegel nih Mell, pijitin dong.
Mello: Ogah...
Al-chan: Ciel chapter depan kau tak usah ikut jadi Alois aja
Ciel: YEY LIBURAN...
Mello: Nah terimakasih pada silent reader dan para pereview sudah di balas di PM
see you bye-bye
