Classic Story...
Al-chan: Akhirnya setelah 2 bulan terlewati Al-chan mau membuat updatetan cerita ini karena ceritaku yang TGD juga belum kelar-kelar nih~~
Mello: Dan kali ini mengenai PINOKIO! requesan dari Laturn 1412`
Al-chan: Fufufu itu sebetulnya sebuah reques yang belum saya buat-buat gak ada ide nih... *pundung di pojokan*
Mello: Nah sekarang ayo kita mulai ceritanya hehehe~~
Disclainer: Tetap milik Yana Toboso kalau aku bilang saya jangan percaya!
Warning: YAOI! Aku lagi kejangkit nih gara2 Hetalia Axis Power..., OOC berlebihan, OC mungkin ada, typo harap tidak ada...
~vienkārši baudiet to~
(bahasa Latvia)
Hari itu dimana badai menerjang sangat keras, bahkan saking besarnnya dapat membawa banjir besar yang amat besar. Dan saat itu ada sebuah dahan pohon patah dan mengapung di banjir dan mengalir sampai di depan rumah seorang tukang kayu pembuat tongkat baseball. Sungguh disayangkan padahal jelas di ceritanya langsung ketemu pembuat boneka (tapi kan gede jadi dikecilin dulu). Dan awalnya ia menjadi sebuah tongkat baseball yang bagus dan indah, dan diakhiri dimiliki oleh seorang anak gendut ah panggil saja ia Asem.
Yap hari itu panas banget, tapi sepanas-panasnya masih aja ada orang yang mau jalan di siang-siang bolong buat nyari kayu yang berserakan di mana-mana katanya buat kayu bakar karena musim semi masih agak dingin.
Reader: Woi katanya panas?
Al-chan: Hehehe iya ya kan bisa dijual payah sekali sih pemikiranmu?
Reader: UP TO YOU!
Namanya ah panggil aja dia X, ah salah panggil saja ia Tuan Trancy (asal aja ambil nama =.="). Dengan tak sengaja atau terpaksa, ada seorang anak kecil lagi asik maen baseball melempar tongkatnya dan mengenai tepat di muka Tuan Trancy.
"Gooooooool!," kata anak lainnya sambil berlari dan tertawa sedangkan si Tuan Trancy hanya berho ria dengan gajenya, gak tau mau ngapain lagi sekarang dan berakhir ia pulang dengan muka benjol di bagian mata, seperti orang ngintip yang dipukul sama korbannya. Ia awalnya sama sekali tak tertarik dengan kayu yang ia temukan ini. Menjalankan kebiasaan yang biasa sampai ada sebuah suara dari kayu tersebut.
"Sialan kenapa gue tinggal di rumah jelek kayak gini," kata si kayu dengan sangat elitnya sambil duduk di sebuah kursi plastik (emang jaman dulu ada kursi plastik?).
"Apa gue mimpi? Gue mimpikan? Gue gak gilakan?" kata si Tuan Trancy gak trima ia mendengar suara dari sebuah kayu atau katakan tongkat baseball.
"Iya elu bisa denger suara merdu gue gak yang awesome ini? Kalau nggak berarti aku nggak ada di rumah dong," kata si kayu mulai meminum teh yang ada di depannya.
"Sialan lo daripada gue gila mending gue jadiin boneka aja ah biar gak terlalu gila," Tuan Trancy mulai membuat boneka dengan alat seadanya. Maka malam itu juga Tuan Trancy membuat boneka dengan kain seadanya, bahkan ia hampir putus asa saat membuat boneka itu. Wajahnya yang keren dengan bibir merah membabi buta (*plak* Al-chan: adaw), badanya yang sekseh menggoda para iman seme-seme sedunia. Bahkan Tuan Trancy aja ngiler melihat tubuh sekseh si boneka yang oh so awesome.
Pagi harinya ia mulai berbicara lagi pada boneka yang baru saja dibuatnya. Boneka itu menggunakan baju kemeja berwarna hijau dengan dasi berwarna pink serta celana panjang berwarna hitam. Sepatunya berwarna coklat beige, dan tentu dengan rambut yang tersisir rapi dengan mata berwarna biru langit.
"Hi Alois," kata Tuan Trancy memulai pembicaraan setelah kemarin ia mulai memperhatikan wajah si boneka.
"Siapa kamu bastard!" kata si boneka dengan nada menyebalkan alias kalau gampangnya nyolot.
"Namaku Trancy. Dan aku akan memberi kau nama Alois Trancy mengerti nak?" tanya si ayah yang ternyata hidungnya sedang dicubit oleh si boneka secara tiba-tiba.
"Buat apa aku menjadi anakmu bastardo?" kata si Alois dengan ah pengen gue penyek-penyek ampe matek (dihajar ramai2 ama Fan Guynya Alois)."Dan kenapa hidung gue panjang gini emang gue pinokio. Kata lu nama gue Alois bukan Pinokio," kata Alois menatap tajam Tuan Trancy.
'Gile ini anak udah nyebelin nyolot banget,' pikir si Tuan Trancy mesem-mesem melihat anak (tiri)nya yang sumpeh gak seru kalau ngajak berantem.
"Gue minta makan nih~~ mana makananku," kata si Alois dengan tenang duduk sampai hampir merusak kursi kayunya (seberat itukah?) yang sangat menyedihkan keadaannya.
"Iya nak ini makanannya kalau gak enak jangan protes atau gue gorok lehermu yang sangat menggoda itu," kata Tuan Arthur yang malah jadi kejem," Oke mulai besok Alois menjadi anak yang tinggal di rumah ini dan harus mulai sekolah," kata Tuan Trancy dengan tenang.
"Selamat makan," kata Alois dengan segera pingsan dengan tidak elitnya, abis kalau elit pasti dibawahnya sudah ada kasur penompang.
"Apa makanan gue segitu gak enaknya," kata si Trancy yang klepek-klepek nyobain makanannya sendiri dan berakhir mereka di Rs. Taman Lawang No. 13 Jl. Bengawan kecebur no. 4. Cek-cek-cek so poor they are~~
Hari demi hari berlalu, Alois kini menjadi anak dengan sifat terpujinya yaitu pemalas apalagi disuruh bersih-bersih, suka nggak tepat janji walaupun itu emang salah si Tuan Trancy, sering melarikan diri walaupun gak ada gunanya jelas gak bisa keluar, dan suka menertawakan Tuan Trancy apalagi saat lagi goyang ngebor saat asik masak di dapur dengan pakaian warna pink. Sejelek-jeleknya wajah Tuan Trancy (Tuan Tracy: What the heck?) akhirnya ia mengalami kebangkrutan gara-gara ia lupa mengelem sepatunya ke sebuah meja sebagai jimat keberuntungan. Alois yang hatinya luluh (karena uang) ingin sekali membantu Tuan Trancy yang makin lama makin jelek mukanya (Tuan Tracy: What the heck?).
Suatu hari ada bocah setengah serigala yang gak tau kenapa pada cebol-cebol padahal emang cebol (digampar ama Ciel dan Lizzy ). Mereka adalah 2 bocah setengah serigala yang suka iseng ke warga desa yang lagi bawa banyak duit (dasar mata duitan) dan bawa banyak makanan. Bahkan tak segan mereka akan mencurinya kalau tak diberi Rp 10.000,00 oleh para warga yang lewat disana.
Nah suatu hari dimana burung masih malas bersiul-siul dan kupu-kupu lagi asik kencan sendiri, hari ini adalah hari penting bagi para murid di sana. Hari pertama Alois sekolah, dengan kaos berwarna putih dan celana berwarna biru terang alias blue jin sedang membawa-bawa buku A,B,C bercinta (Alois: woi gue gak pervert). Salah ABC mari kita membaca, ia dengan santai menuju sekolah di mana para murid mulai belajar dengan tenang sambil berharap cepat pulang (Al-chan: Mirip denganku ya...).
Namun ia ternyata tertarik dengan sebuah tenda berwarna-warni yang dipenuhi oleh banyak orang yang mengantri untuk masuk ke dalam. Ia terlihat sangat tertarik dengan segala hal yanng ada di dalamnya. Tetapi ternyata ada seekor jangkrik sok tenang, sok gak mau senyum, tapi susah-susah mau bantu si Alois dengan tidak elitnya.
"Woi Alois ngapaen lo kesana (ceritanya ngerti bahasa gaul)? Bukannya lo cuma disuruh ke sekolah trus pulang?" kata si jangkrik panggil aja dia Claude.
"Gak jaman kale, kan kita bisa fun dulu baru pulang dasar jangkrik sok dingin tapi cerewetnya minta ampun," kata si Alois langsung memukul si jangkrik.
'Ah sialan kenapa juga gue harus jadi jangkrik, klo gue jadi orang gue embat lo,' kata-kata yang sungguh terpelajar dan sangat suci yang pantas ditiru. (woi itu namanya piktor dan tidak pantas ditiru!)
Dan tentu karena kini ukuran badan Claude sangatlah kecil bahkan anak kecil aja gak liat, maka ia gak dipeduliin ama Alois. Namun tiba-tiba ada anak yang mendatanginya dan...
"HI NAMA LO SIAPA NEH," kata si anak kuntet tersebut (dilempar ke jurang ama FGnya Ciel).
"Pliss deh tuh capslocknya matiin," kata Alois sok-sokan anak baik disayang YME.
"WOI CAPSLOCK ITU SENI TAU LO AJA BLUM TAU. YOK KITA KE DALAM ASOY LOOO," kata Ciel betul-betul kelewat ooc. Namun sebetulnya di dalam hatinya dia sudah menimbang-nimbang berapa banyak uang yang ia dapat setelah menjual boneka sialan ini ke sirkus boneka kayu tersebut.
Maka dengan polosnya si Alois mengikuti Ciel yang diam-diam ke toilet untuk memberitahu kira-kira dia dapet berapa dari penjualan boneka yang hidup tersebut.
"Hai Lau, gue punya barang bagus nih... Ada boneka yang bisa hidup dan bergerak tanpa seutas talipun, bahkan gak ada baterenya," kata Ciel dengan tenang duduk dan mulai meminum tehnya yang langsung disajikan oleh Lau di meja.
"Khukhukhu benarkah bisa mahal sih 100 £ kelihatannya cukup untuk boneka tanpa tali itu," kata Lau dengan tenangnya.
"Kau tahu 1 boneka tali saja butuh 90 £ tahu," kata Ciel mulai menimbang-nimbang harga yang seharusnya ia dapatkan.
"Ok deh kuberi kau 200 £ dan juga seperti biasa demi menjaga kehormatanmu itu bukan," kata Lau tersenyum ke arah Ciel yang memberi death glare dengan indahnya.
"Ah tentu saja aku akan berpura-pura akan menyelamatkannya bisa saja dia lumayan menjadi ukeku yang ke-20," kata Ciel tersenyum dengan laknat membayangkan betapa berharganya boneka itu untuk dirinya sendiri.
"Hahaha kenapa kau tak mulai mencari wanita saja untuk dikencani kenapa selalu pria. Kalau kau butuh kau tinggal minta saja dariku," kata Lau tersenyum menyeringai.
"Kau tidak akan mengerti aku yang sudah ditinggalkan oleh dirinya," kata Ciel menerawang waktu yang sudah berlalu.
"Kau masih menyukainya berarti anak kecil itu baru menjadi ukemu yang 1, karena kau yang selalu jadi ukenya," kata Lau tersenyum licik.
"Tutup mulutmu atau kau akan mendapatkan akibatnya," Ciel pergi sambil mengambil uangnya dan mengajak Alois masuk ke dalam tenda pertujukan dimana ia mulai aktingnya yang sudah biasa dilihat para orang dewasa yang tahu malu itu.
Awal yang menyenangkan, mereka tertawa dan saling mendiskusikan hal yang merupakan bagian hidup manusia normal. Mereka bermain dan bersemangat sampai ada seseorang berbaju china dengan cewek digendong secara kalau itu ceweknya temperamen udah ditampar tuh orang. Mereka datang sambil mulai menarik Alois yang juga ditarik oleh Ciel sebagai akting palsu.
"Woi dia itu temanku! Jangan dijual emangnya dia barang tak berguna," kata Ciel mulai menarik-narik namun pura-pura gak berhasil yang menyebabkan tangisan Alois dan Ciel secara bersamaan walaupun ada yang menipu dan ada yang tertipu. Dengan senyum kecil dibalik tangisannya ia berbalik pulang menikmati hasil yang ia terima.
"Mudah sekali membodohi orang yang tak berotak," kata Ciel kembali ke rumah dan menjalani hidupnya dengan biasa dan seperti hari sebelumnya.
Sedangkan di tempat sirkus, Alois resahn ia tak pernah memiliki bahkan ia tak pernah meminta punya teman. Tapi saat ia sudah memiliki teman ia harus pergi ke dunia tanpa teman dimana hanya dirinya teronggok di lantai sedangkan manusia lain sedang mempersiapkan diri mereka untuk pentas kecuali pria china itu ia tersenyum dan mengucapkan beberapa kata.
"Yap setelah ini kau akan jadi bintang pertujukan di sini," katanya dengan senyum menyeringai Lau memandang Alois yang merinding ketakutan menatap seringaian yang ada di wajah Lau.
TBC
Al-chan: Hiaaaa akhirnya gw bisa lanjutin cerita ini maaf blum selesai karena masih panjang nih mungkin chapter depan aku tamatin...
Mello: Ya sudah kami minta saran dan pendapatmu
Al-chan: reques cerita klasik juga boleh... ^O^
Mello: Terus baca ya... dan review... Ingat review adalah awal dalam menghargai karya orang...
Al-chan: see ya
