Disclaimer: Mashasi Kishimoto

Warning: OOC, gaje, seting diluar dunia ninja

Pairing: NaruHina

"Hi, Hinata..." gumam Naruto lirih. Betapa tak percayanya ia dengan indra pengelihatannya.

"Ha, hai semua. Namaku Echo mulai sekarang akan menjadi teman sekelas kalian. Mohon bantuannya." kata Echo sambil tersenyum malu-malu.

"Akhirnya! Ada juga anak perempuan yang lembut disini. Kupikir populasinya sudah punah." Seru salah seorang murid cowok. Tentu saja dengan diiringi deathglare dari seluruh murid cewek dan seruan setuju dari para murid cowok.

Diantara keributan yang terjadi akibat perdebatan yang mulai berlangsung antara para murid cewek dan cowok, sepasang mata biru sedang beradu dengan pandangan sepasang mata putih yang seolah saling memantulkan pandangan yang lain.

Kakashi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkal laku anak didiknya. Sudahlah mereka tak akan diam iner Kakashi. Lalu Kakashi kembali memusatkan perhatiannya dengan gadis yang akan menjadi anak didiknya. Ternyata yang diperhatikan sedang sibuk bertukar pandang dengan anak blonde pembuat onar nomor satu disekolah ini.

Melihat pemandangan ini, seulas senyum akan terlihat diwajah tampan Kakashi jika tak tertutup masker hitamnya. Terbersit ide berlian dikepala guru hentai satu ini.

"Hinata, kau boleh duduk disamping Naruto." mendengar pengumuman Kakashi, seluruh isi kelas langsung akan memprotes tak terima. Namun akibat mendapat death glare dari Kakashi, seisi kelas hanya dapat tertunduk lesu. Mau bagaimana lagi? Jika Kakashi yang biasanya cuek mengeluarkan death glarenya hanya demi mempertahankan sebuah argumen, maka jangan berani melawan. Sudah ada sebuah meja rusak yang menjadi bukti nyata akan kekuatan Kakashi.

"Iya." lalu tanpa keraguan yang selalu ditunjukannya jika berhadapan dengan sesuatu yang baru saat bertemu dengan Kakashi, ia melangkah dengan pasti ke arah meja Naruto.

Kakashi terdiam melihat tingkah Echo. Dalam hati Kakashi berharap dengan begini Naruto, murid sekaligus anak dari orang yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri, dapat meraih kehangatannya yang sempat menghilang bersama perginya Hinata.

Kring... kring... kring...

Mendengar bel istirahat berbunyi, Kakashi pun pergi. Sontak seluruh kelas menjadi gaduh. Terutama fans girl Naruto dan cowok-cowok yang ingin kenalan dengan Hinata.

Meskipun Naruto kesal akan perbuatan teman-temannya ini, ia tetap memasang senyum palsunya. "Err... maaf nona-nona, bisa minggir? Aku ada keperluan diluar." Para fans girl Naruto langsung memberikan jalan pada sang idola. Tanpa menunggu lagi, Naruto langsung melesat pergi. Meninggalkan Echo yang masih dikerumuni orang-orang.

Naruto POV

"Hosh... hosh... sampai juga." Lalu akupun mengambil tempat untuk berbaring. Perlahan kututup mataku . Angin sepoi yang berdesir dan hangatnya matahari yang kurasakan membuatku hampir tertidur.

"Naru-chan, sedang apa disini?" Sebuah suara mengagetkanku. Hinata... saat aku membuka mata, seketika itu juga aku kecewa. Yang nampak dihadapanku sekarang bukanlah Hinata. Melainkan Echo, anak baru itu.

"Naru-chan? Ada apa? Kenapa melamun sih?" Kata sebuh suara memecahkan lamunanku. Tunggu? Dia memanggilku Naru-chan?

"ARGH... kau Echo kan? Mengapa memanggilku dengan sebutan seperti itu sih?" Seruku kesal.

Tanpa diduga wajahnya bersemu merah. Bukan seperti blushing karena malu seperti saat dikelas tadi, tetapi blushing karena semangat. Membuatnya lebih manis dan hidup dibanding tadi.

"Soalnya kamu manis sih." Kata Echo tersenyum. "Apalagi saat menyanyi suaramu bagus..." Belum selesai mendengarkan perkataan Echo, aku langsung berdiri dan berjalan pergi. Entah mengapa, padahal dari dulu aku selalu menjaga sikapku agar terlihat riang didepan teman-teman. Namun didepan dia aku tak dapat menyembunyikan perasaan kesalku.

Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan kecil yang lembut memegang erat tanganku. Saat berbalik kutatap mata Echo yang berwarna putih yang mampu mencerminkan warna mata biruku. Persis seperti iris mata seseorang yang telah menutup untuk selamanya.

"Naru-chan, kenapa tidak mau bernyanyi lagi sih? Apa karena temanmu yang bernama Hinata itu?" Jleb... tepat sasaran.

Kupasang senyum palsu yang sudah kuberikan pada orang-orang yang bertanya hal yang sama padaku. lalu dengan jawaban yang selalu sama, akupun menjawab. "Tidak begitu. Aku cuma tidak punya band untuk ikut audisi lagi. Sekarang berbeda dengan dua tahun lalu. Kami harus punya band untuk ikut audisi."

Terlihat raut kecewa diwajahnya. Bagus sekarang ia pasti menyerah.

"Baiklah... Tinggal mengumpulkan personilnya kan? Kalau begitu akan ku bantu." Seru Echo bersemangat. Lalu melesat pergi. Saat tiba didepan pintu, Echo berbalik ke arahku. "Kau masih belum percaya padaku ya Naru? Tapi tidak apa. Aku pasti akan terus menunggu jawaban sebenarnya dari pertanyaanku itu."

Entah mengapa, aku merasa kesal pada diriku sendiri saat membohongi Echo. Tanpa kusadari Echo telah pergi tanpa sempat kucegah.

Gawat lalu akupun pergi mengejar Echo.

End Naruto POV

Urgh... dimana anak itu pergi! Iner Naruto sambil menjambak rambut pirangnya.

"BENARKAH!" Suara teriakan seorang pemuda mengagetkan Naruto. Ternyata suara itu berasal dari kelasnya. Penasaran, Naruto pun berjalan memasuki kelasnya.

Pemandangan didalamnya membuat Naruto tercengang. Ucihiha Sasuke, seorang pria yang dikagumi oleh hampir seluruh wanita disekolah ini karena wajahnya yang tampan, kepintaran, dan kekayaannya. Bahkan sikap stoiknya pun menjadi nilai plus dimata para wanita. Ternyata adalah sumber dari suara teriakan tadi. Untungnya kelas sedang sepi, hanya ada Echo dan Naruto. Seandainya saja Naruto membawa kamera, pastinya ini akan menjadi adengan yang bagus.

"Be, benar Sasuke-kun." Kata Echo. "Itu dia dibelakang mu."

Sebenarnya Naruto sudah mengambil ancang-ancang untuk lari. Soalnya dulu ia pernah menggores mobil Ucihiha bungsu ini. Semenjak itu, ia berusaha lari dari Sasuke. Sayang... niatnya harus diurungkan begitu merasakan sebuah tangan mencengkram pundaknya.

Dengan gaya patah-patah, Naruto menengok ke belakang. Dilihatnya senyum evil mengembang di wajah stoik si pantat bebek ini.

"Nah... Naruto bukankah sebaiknya kita duduk dulu?" Tawar Sasuke dengan senyum lembut *?* namun beraura setan mengelilinginya.

Kami-sama help me... pinta Naruto dalam hati. Dengan amat sangat terpaksa, akhirnya Naruto tiba dalam posisi duduk di sebuah kursi dan menghadap Sasuke dan Echo. "Naruto benarkah kau bisa menyanyi?" Tanya Sasuke langsung to the poin. Sedangkan Naruto yang mencoba mengdeatglare Echo *yang gagal dengan suksesnya* hanya bisa mengangguk pasrah.

"Kalau begitu sekarang coba kau menyanyi."

"Heee... tapi akukan sudah lama tidak menyanyi."

"Lalukan saja!" Daripada harus menghadapi Sasuke yang teringat 'masalah kecil'nya dengan Naruto, akhirnya Naruto pun menghela nafas tanda menyerah.

Sanzan sora wo nottotte
Gangan hoshi ni nokkatte
Kaidan ketteagttekou!
Dame nara dame da sore de honmou?
Nanka maipeesu sou ne maineemu
Maji kattari toki ni kattari
Mada shimijimi sunna ikiiki
Kibikibi ike misero iji

Naruto yang awalnya ogah-ogahan, mulai terbawa lagu yang dialunkannya. Matanya mulai menutup seiring keinginannya yang membesar untuk membiarkan indra lain berkonsentrasi menikmati musik.

Naitemo warattemo toki ha tomattekunnai daro
Nakushite te ni irete naa motomoto zero da ze icchou doudai?

Dandan hare wataru ashita ga aru akirame nantenai ze
Minmin semishigure kikoeru ne minna no natsu da ze

Gerakan tubuh Naruto makin menyatu dengan musik. Dalam sekejap, rasa terpaksa yang tadi menghampirinya lenyap sudah. Yang ada hanya musik yang tengah ia lantunkan.

Ah! Ah! Yume ni mukatte Ah! Ah! Kunshou wakeatte
Ah! Ah! Kurushikanai ze! Nanbaawan mezashi hashitte
Ah! Ah! Ame no hi datte Ah! Ah! Kanjiaitai ze
Ah! Ah! Ashita myougonichi kinou kyou nandakanda maiuei

"Cukup." Naruto yang keasikan menyanyi lagu eyeshield 21 yang notabene anime kesukaannya, langsung terhenti begitu mendengar perintah Sasuke. Kesal karena dihentikan begitu saja, Naruto langsung membuka matanya yang rencananya akan dipakai untuk melihat *baca: mendeathglare* Sasuke dan Echo langsung tertegun melihat ternyata bukan hanya Echo dan Sasuke yang melihatnya, namun seluruh kelas ternyata melihatnya menyanyi.

"KYAAA... Naruto-kun keren sekali!" Suara teriakan salah satu fans girl Naruto telah memecah keheningan canggung. Kelas langsung ribut ada yang meminta tanda tangan, foto bersama, atau sekedar teriak-teriak gaje.

"Ternyata pilihanmu tepat sekali Echo." Puji Sasuke meskipun tetap dengan nada datarnya. Sedangkan Echo hanya tersenyum mendengar pujian datar dari Sasuke.

Urg... kenapa orang-orang ini. Kayak tidak pernah melihat orang menyanyi pikir Naruto kesal. Namun seperti kebiasaannya, ia tetap menyuguhkan senyumannya meskipun terasa dingin.

"Bagus. Kau diterima Naruto." Ucap Sasuke singkat. Membuat konsentrasi Naruto kembali ke Sasuke.

Diterima? Batin Naruto. "Echo jelaskan ini." Naruto tahu, pasti teman barunya ini yang membawanya dalam masalah ini.

"Umm... itu..." Echo nyengir gugup.

Melihat hal ini membuat Sasuke tak dapat menahan diri untuk tidak menaikan alis heran. "Apa? Bukannya kau sendiri yang mengajukan dirimu untuk ikut bandku-"

Proses loading...

"APA!" Teriak Naruto, bahkan sampai dapat membangunkan Shikamaru yang sedang asik tertidur *WUOH... keajaiban dunia! (digeplak)*

"Bukannya Naru-chan sendiri yang bilang kalau penyebab ia tak mau menyanyi karena tidak punya band?" Kata Echo *pura-pura* polos. Naruto yang teringat kata-katanya hanya bisa mengumpat dalam hati. Bagaimanapun menarik kembali kata-kata yang sudah dikeluarkannya adalah hal yang tabu bagi seorang Namikaze Naruto.

"Oke kalau begini masalah sudah beres tinggal-"

"SASUKE!" Tiba-tiba kemunculan seorang cowok berambut coklat tua memotong perkataan Sasuke.

Hah... Akhirnya chap ini selesai juga!

Mungkin chap ini akan menjadi chap terakhir yang aku pos sebelum berangkat...

Untuk para readers yang sudah membaca bahkan mereview fic air yang gak jelas ini saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya *Terharu*