"SASUKE!" Teriak seorang cowok berambut coklat. Tersirat kepanikan diwajahnya yang berhiaskan tanda segitiga dimasing-masing pipinya.

"Woy pelankan dikit napa tuh suara." gerutu Sasuke.

"Itu gak penting. Ada yang lebih-" kata-kata si cowok tiba-tiba berhenti. Ketika ia melihat Echo, wajahnya yang penuh kepanikan berubah menjadi penuh senyuman.

"Hei Sasuke siapa gadis manis ini?" tanya pemuda itu sambil menjabat tangan Echo.

"Hai gadis manis siapa namamu?"*Untuk apa ia bertanya dengan Sasuke?*

"Ha, hai namaku Echo... aku murid baru disini" jawab Echo sambil berblushing ria. Sasuke hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang memang terkenal playboy. Berbeda dengan Naruto yang langsung menepis tangan pemuda itu.

"Kalau kau menanyakan nama orang, bukankah sebaiknya kau memberitahu namamu dulu?" tanya Naruto dengan penuh senyuman mematikan.

Melihat ini para fans Naruto langsung menatap sinis Echo. Bagaimana tidak? Naruto belum pernah terlihat seheroik itu pada seorangpun. Dan dalam hal ini ia melindungi seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya tadi pagi. Sedangkan yang lainnya menonton dengan penuh minat, menunggu reaksi sang raja playboy yang tak lain tak bukan adalah cowok itu.

Bukannya terlihat marah ataupun kesal, Kiba malah menyunggingkan senyum. "Oke, oke Naru-chan gak usah kesal gitu dong." "Grr... harus kubilang berapa kali sih Kiba? jangan memanggilku dengan panggilan itu!" geram Naruto kesal. Kiba tertawa melihat reaksi teman kecilnya itu. Sambil melirik Echo Kiba berkata "Naru, bisa kita bicara sebentar?" melihat keseriusan diwajah Kiba, Naruto menurut saja saat akan diseret keluar kelas.

Sayang belum sempat Kiba menyeret Naruto keluar, mereka disela lagi oleh kedatangan Kakashi. Kiba yang tidak mengikuti kelas sebelumnya langsung berkeringat dingin.

Perlahan tapi pasti Kiba berbalik mengambil ancang-ancang melarikan diri. Sayang, Kiba lupa bahwa Kakashi adalah penanggung jawab sekaligus pelatih ekskul bela diri. Hasilnya? Kiba tertangkap bahkan sebelum bisa melangkah selangkah pun.

"Berdiri didepan Kiba. Aku akan mengurus beberapa hal sebelum mengurusmu." Kata guru berambut silver itu singkat. Mau tak mau, Kiba harus rela diseret ke depan kelas sebelum menerima eksekusinya*?*.

Setelah itu, Kakashi pun memulai penyampaiannya, "Anak-anak hari ini akan ada rapat guru, jadi hari ini kalian boleh pulang cepat." Teriakan senang menggelegar dari kelas XII A. Setelah para murid cukup tenang, Kakashipun mengundurkan diri. tentu saja tidak lupa membawa Kiba yang sempat berteriak pada Sasuke dkk untuk pergi duluan saja ke tempat 'orang itu'. Tentu saja diiringi sweeddroped dari mereka semua.

Setelah Kiba tak terlihat lagi akibat diseret Kakashi pergi ke tempat eksekusi*?* bagi Kiba, Sasuke pun menghampiri kedua temannya. "Oi, ayo ikut aku. Kita harus cepat. Jangan sampai orang itu pergi." lalu tanpa memastikan Naruto dan Echo mengikutinya, Sasuke berjalan pergi ke luar kelas.

"Hei Teme, kita mau kemana?" kemarahan Sasuke langsung membumbung mendengar panggilan sayang*?* dari teman sekaligus rivalnya itu.

"Tak usah banyak tanya Dobe. Walau kujelaskan kau tak akan mengerti." Kata Sasuke kentus. Tentu saja, hal ini membuat kemarahan pemuda blonde kita juga mulai memanas. Hampir saja perang keseribu kalinya terjadi diantara si kuning dan si biru jika saja Echo tidak melerai.

"Sa, Sasuke apa tidak sebaiknya kau menjelaskannya pada kami? Bukankah aneh kalau kami mengikutimu tanpa tau ke mana kami pergi?"

"Benar juga katamu. Kita akan pergi ke kelas Uzumaki Deidara..." "UAPAAA!" teriakan Naruto membuat kedua orang disampingnya melangkah menjauh. Yah jika masih ingin mempunyai telinga yang sehat, menjauhlah saat Naruto berteriak.

"Dobe pelankan sedikit suaramu" jitakan Sasuke berhasil membuat benjol berwarna merah yang kontras dengan rambut kuning Naruto.

"Urg... Teme! Tentu saja aku kaget. Untuk apa kau mau bertemu Dei-nii?" Deidara adalah saudara sepupu Naruto. Ia memang sudah jarang bertemu dangan sepupunya yang satu ini. "Apa kau tak pernah mendengar kalau sepupumu itu baru-baru ini memenangi kontes drumer sekota Konoha?" tanya Sasuke heran. Sedangkan Naruto menggeleng pelan. Bukan salah Deidara tidak memberitahunnya kabar baik itu. setelah kematian Hinata, Naruto menarik diri dari dunia musik. Bahkan mendengar kabar, atau lagu-lagu terbaru saja ia sudah enggan. Ia mendengar musik juga hanya saat menonton anime, atau kalau ada orang yang memutar musik saat berada didekatnya.

Kebingungan terpeta jelas diwajah Ucihiha yang satu ini. Tapi ia tahu kalau lebih baik ia tak bertanya. Nanti ia bisa mencari tahu itu nanti. Sekarang lebih baik memikirkan cara membujuk Deidara agar mau ikut bandnya.

Rupanya Echo telah menangkap kegelisahan yang telah menggantikan ekspresi kebingungan diwajah Sasuke. "Err, Sasuke apa yang sedang kau pikirkan?" Naruto yang rupanya juga menyadarinya ikut mengangguk. Tanda bahwa ia juga ingin mengetahuinya.

"Deidara itu telah mendapat tawaran bergabung dalam band oleh banyak band yang akan mengikuti audisi yang akan diadakan sebulan lagi. Apa lagi audisi ini penting, karena kalau menang kita akan mendapatkan biyaya siswa ke luar negeri. Bahkan mendapat tawaran yang akan membuat kita mendapat kesempatan emas untuk masuk didunia musik. Tentu saja kemampuan Deidara pasti menjadi daya tarik banyak band untuk menjadikannya anggota. Hanya saja dia tidak pernah mau saat diajak masuk band. Bahkan orang yang memaksanya bakallan dapat bogem mentah darinya..." mendengar penjelasan panjang lebar dari Sasuke Ucihiha yang terkenal stoik, pasti membuat Echo dan Naruto cengo. Apalagi isinya tentang Deidara yang sangar padahal sejauh ingatan Naruto, Deidara merupakan orang yang lembut.

"Sampai kapan kau mau melamun Dobe? Ayo cepat!" bentakan Sasuke berhasil membawa Naruto kembali ke dunia nyata. Lalu merekapun melanjutkan perjalanan ke kelas Deidara. Untunglah dewi fortuna sedang menyertai mereka. Mereka tiba bertepatan dengan bubarnya kelas Deidara.

Setelah beberapa menit, akhirnya Deidara pun muncul. "DE- umph" Sasuke langsung membekap Naruto dan menyeret Echo dan Naruto kebalik tombok.

"Baka! Kenapa kau menarikku? Padahal Dei-nii sudah didepan mata." Gerutu Naruto. "Bodoh, kau tahukan Deidara itu sudah menolak banyak permintaan dari band-band lain? Menurutmu apa yang akan membuatnya mau ikut band kita?" perkataan Sasuke membuat Naruto terdiam. Dia tahu benar kalau Deidara bukan orang yang mudah berubah pendiriannya. Bahkan pada sepupunya sendiri.

"Sudah mengerti?" Naruto dan Echo mengangguk bersamaan. "Bagus. Ayo cepat, nanti dia menghilang." lalu merekapun mengikuti*baca: menguntit* Deidara.

Ketika tiba dipersimpangan jalan, Deidara mengambil jalan yang bertolak belakang dengan jalan menuju rumahnya. Tanpa perlu banyak bicara, mereka mengikuti Deidara dengan susah payah akibat banyaknya orang yang sedang berbelanja. Memang itu adalah daerah perbelanjaan.

Setelah agak lama berjalan, mereka tiba dikaki bukit. Tanpa ragu, Deidara menaiki bukit. Makin lama, daerah disekitar mereka makin sepi. Tiba-tiba Deidara berhenti berjalan. Tentu saja hal ini membuat Naruto dan yang lain langsung kelabakan mencari tempat persembunyian.

"Tak usah sembunyi lagi. Aku sudah tahu kalian mengikutiku sejak tadi." Kata Deidara bahkan tanpa menghadap pada mereka.

"Cih, sudah ketahuan ya." Sasuke melangkah keluar, diikuti Echo dan Naruto. " Ya, kami memang ada perlu denganmu. Jadi terus bersembunyipun percuma."

Lalu Deidara berbalik. Begitu melihat Naruto ia terbelak kaget. "Naru-chan? Apa yang kau lakukan disini?" senyuman hangat yang langkah yang dipertontonkannya karena bertemu dengan Deidara, sepupunya yang sudah lama tak bertemu tergantikan dengan alis yang hampir bertaut mendengar panggilan Deidara padanya.

"Dei-nii! Harus berapa kali ku bilang supaya jangan memanggilku dengan embel-embel '-chan' hah?" seru Naruto marah. Sebelum Deidara menimpali Naruto langsung menyela. "Dan jangan bilang karena kalau memanggilku begitu akan terdengar lebih manis. Aku tidak manis! Itu hanya alasan aneh buatan Hi-" tiba-tiba perkataan Naruto terputus. Lidahnya menjadi kelu begitu akan mengucapkan nama sahabat masa kecilnya itu. Sontak atmosfer disekitar mereka yang tadinya hangat, perlahan berubah menjadi dingin.

Bermaksud mencairkan suasana, Sasuke kembali angkat bicara. "Deidara, apa kau mau ikut band kami?" namun seperti yang kita ketahui bersama, Sasuke tidak punya sense untuk mencairkan suasana. Malah menjadikan suasana semakin dingin.

"Cih, kalian tidak pantang menyerah ya..." Deidara menghela nafas berat. "Kalau kau memang kalian serius, apa bukti kalau kalian tak seperti orang-orang berengsek itu?" mata biru Deidara menyiratkan luka hati yang mendalam. Sasuke terdiam mendengar perkataan Deidara.

"Maksud Deidara-senpai apa?" tanya Echo. Deidara yang awalnya sama sekali tidak menyadari keberadaan gadis yang satu ini, terbelak kaget begitu melihatnya. Tak mungkin... iner Deidara diliriknya Naruto yang sedang menatap Echo. Mata biru Naruto memancarkan kilat aneh yang hanya dilihat Deidara saat Naruto sedang memandang Hinata. Mungkin dia tidak hanya mirip...

"Dulu aku juga seperti kalian. Punya band dan bermimpi untuk memenangkan kontes. Ah, bukan. Kami bermimpi menjadi sukses." Deidara menatap mereka dengan pandangan menerawang. "Tapi mimpi dan janji seperti itu bisa saja dengan gampang dilanggar."

Flash Back

Deidara POV

"Deidara! Ada telfon." seru kaa-san memanggilku. Buru-buru kuambil keringkan rambutku yang lumayan panjang. Lalu akupun mengambil telfon yang diberikan kaa-san.

"Halo"

"Khu khu khu... akhirnya kau mengangkat telphone ini juga..." terdengar suara seorang lelaki diujung telfon.

"Hei siapa ini un?" tanya ku heran. Sepertinya aku pernah mendengar suara ini, tapi dimana?

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Tapi lebih baik kau lihatlah band yang kau bangga-banggakan itu. Aku khawatir mereka tak seperti yang kau kenal." Kata lelaki misterius itu dengan nada mengejek.

"Apa maksudmu un?" aku jadi semakin bingung dengan lelaki yang sedang bicara ini.

"Khu khu... nanti juga kau akan tahu sendiri." dengan kalimat yang menggantung itu, sang lelaki misterius itu menutup telphone.

"Cih, orang aneh un." meski berkata begitu, Deidara tak bisa menyangkal ada perasaan tidak enak yang melingkupi hatinya.

End Deidara POV

Keesokan harinya...

"Ohayou minna!" seru Deidara bersemangat. Ia tidak sabar lagi untuk berlatih bersama teman-temannya. Tapi...

"Hei kenapa kalian terlihat murung un?" tanya Deidara begitu melihat wajah teman-temannya yang tertunduk lesu mengelilingi sebuah meja bundar.

Mendengar Deidara memasuki ruangan, sontak ketiga teman Deidara tersentak kaget. Membuat rasa penasaran Deidara berambah.

"Kalian kenapa sih? Seperti dunia akan runtuh un?"

"Dunia memang akan runtuh Dei..." kata pemuda bertubuh mungil berambut merah.

"Tapi bukan untuk kami" timpal seorang pemuda berambut hitam yang serasi dengan kedua mata onixnya. Tampak jelas raut kesedihan diwajah kedua pemuda itu, seakan mereka sedang melihat kehancuran seorang teman.

"Hei, hei apa yang kalian bicarakan sih un?" jelas saja Deidara panik. Bahkan temannya, Sai. Orang yang paling sering tersenyum menampakan wajah seakan sedang melihat kehancurannya.

Namun yang dapat dilakukan kedua pemuda yang kita ketahui bernama Sasori dan Sai itu hanya memandangi Deidara.

Mereka bertiga tidak sadar bahwa seseorang diruangan itu sedang merasa dicuekin. "Oi kalau kalian tidak bisa menjelaskan, biar aku yang jelaskan." sahut seorang pemuda bertopeng lolipop *?* dengan gaya bicaranya yang *sok* kekanak-kanakan.

"Dei mereka ingin keluar dari band kita." dengan santai, pemuda pemilik topeng tak bermutu *digeplak* membeberkan kenyataan. Sangan berbeda jauh dengan ketiga pemuda dihadapannya. Sai dan Sasori langsung pucat. Mereka tak menyangka, Tobi pemuda bertopeng itu dengan sebegitu gampangnya memberitahukan itu pada Deidara.

"Kenapa..." tersirat kekecewaan dari Deidara, meskipun ia sedang menunduk tak menampakan wajahnya. "Sudahlah. Kalau kalian memang menginginkannya aku tak akan melarang." Tanpa melirik sedikitpun pada ketiga temannya, Deidara melangkah pergi.

End Flash Back

"Tunggu dulu Dei-nii. Mungkin saja mereka begitu, tapi kami tidak seperti mereka tau." Seru Naruto kesal dengan pandangan Deidara yang menyamakan mereka.

"Huh, mereka juga pernah berkata seperti itu. Menjanjikan janji-janji palsu! Jujur saja aku tidak keberatan kalau mereka mau berhenti, tapi kenapa tidak dari awal saja? Aku benci pembohong. Kalau kalian memang tidak seperti mereka mana buktinya?" bentak Deidara.

"Kalau memang kau mau bukti, ikutlah dengan band kami. Kalau memang menurutmu band kami tidak seperti harapanmu, kami tak keberatan kau keluar."

"Ta, tapi Sasuke bukankah Deidara adalah harapan akhir kita?" tanya Echo. Ia tak habis pikir dengan pemuda biru disampingnya.

Dengan datar Sasuke menjawab. "Aku tidak butuh personil yag dipaksakan keberadaannya."

Mendengar itu, Deidara menyunggingkan senyum sinis. "Ok kalau itu maumu Uchiha. Aku akan mempertimbangkannya."

"Sasuke."

"Apa?"

"Sasuke. Sekarang kau sudah masuk band kami meskipun secara tidak resmi. Sekarang kau tidak perlu memanggilku dengan nama belakangku. Jika kau sudah mengambil keputusan, pergilah keruang musik besok sepulang sekolah." Lalu Sasuke pun melangkah pergi, diikuti kedua temannya. Meninggalkan Deidara yang entah sejak kapan termenung sendirian.

To Be Continue

HUOOOO! Akhirnya selesai juga!

Oke, oke, saya tahu saya benar-benar telat mengapdate fic ini. Tapi entah mengapa virus-virus WB selalu menggangguku saat menulis.

Mana banyak PR, belum lagi ulangan yang ngantri satu-satu *emang pembagian BLT?*

Ok yang penting sudah update. Mulai chap depan Air usahakan alurnya lebih cepat. Meskipun untuk menunggu chap depan para readers harus nunggu sampai berlumut *ditimpuk batu*

Nah ini balesan reveuw untuk chap kemarin soalnya meles bales revieuw lewat pesan.

Riztichimaru, Akinari dan Namikaze:

Ini udah update kan? :D

ZephyrAmfoter:

Err, gimana ya? Em bisa dibilang kecerobohan penulis *bilang saja tidak bikin nama panjangnya Echo*

Chido Rokuro dan zzz:

Thank you very mach untuk sarannya Chido-san, zzz-san *boleh panggil gitu?* bagian itu emang benar-banar kesalahan yang lumayan fatal, nanti air perbaiki.

Tamaru ariki:

Ah... iya, ya lupa nulis TBC... terima kasih sarannya ya Tamaru-san *boleh panggil gitu?*

HinamE hiMe cHan dan Solid Gears:

Hina-chan lihat saja nanti perkembangannya. Dan memang setelah dipikir-pikir emang jauh banget ya perbedaannya Hinata sama Echo Solid-san.

Hah.. akhirnya selesai juga bales revieuw nya. Ok akhir kata

REVIEUW