Cinta Yang Pergi

By : CyeDessy Uchiha'cHan

Disclaimer :

Naruto selamanya punya om Masashi kok…:D

Pair :

Absolutely SasuSaku ^o^

Warning :

AU, Little bit OOC, dll

Genre :

Hurt/Comfort and Romance

Don't Like Don't Read


Chapter 3 (Final Chap)

Keesokan harinya mungkin bisa dibilang adalah hari terindah buat Sakura setelah kehadiran Sasuke, pasalnya hari itu Sasuke tidak masuk sekolah. Dan ternyata hari – hari yang dianggapnya indah itu berlangsung selama seminggu. Walau dia senang karena tidak bertengkar dengan Sasuke tapi ada juga rasa kehilangan yang ia rasakan. Walau ia lupa kalau Sasuke itu teman kecilnya tapi dia tidak bisa menyangkal kalau dia seperti mengenal Sasuke dan selama dia berada disamping Sasuke dia merasa nyaman. Keanehan juga terjadi pada kakaknya yang seminggu ini lebih sering keluar rumah. Dia bertekad kalau besok Sasuke tidak juga datang dia ingin menanyakannya kepada kakaknya, mana tau kakaknya mengetahui tentang Sasuke, secara dia kan teman baiknya Itachi.

Namun dia merasa lega ketika esok harinya dia menadapati Sasuke dengan santainya duduk dibangkunya sambil membaca buku setebal kira – kira 10 cm. Diapun memberanikan diri untuk menyapa Sasuke.

"Pa – pagi Sasu. Kemana aja kamu seminggu ini?", tanya Sakura setelah sampai dibangkunya yang terletak di samping Sasuke. Dia memperhatikan Sasuke yang sedang membaca buku kedokteran tentang kanker hati (Liver) dan dia juga menyadari sepertinya muka Sasuke sangat pucat walau memang aslinya kulit Sasuke itu pucat.

"Ma – maaf kalo aku ganggu kamu, aku cuma mau tau aja. Lanjutin aja bacaanmu", sambung Sakura dengan agak canggung setelah tak kunjung mendapat jawaban dari Sasuke.

"Ga kemana – mana, hanya ada urusan aja", jawab Sasuke dengan nada datar.

"Eh, oh gitu. Aku kira kamu sakit. Ngomong – ngomong kamu mau jadi dokter spesialis penyakit dalam?", ucap Sakura setengah kaget karena Sasuke menjawab pertanyaannya.

"Kenapa bisa berpikir kalau aku sakit? Hn, aku ingin bisa menyembuhkan orang yang menderita penyakit kanker terutama kanker hati", ujar Sasuke.

"Yah mana ada siswa yang punya urusan sampai tidak masuk selama seminggu penuh kalau bukan karena sakit. Lagipula mukamu kelihatan lebih pucat dari biasanya. Kecuali kalau kamu direktur sebuah perusahaan yang sedang bangkrut. Kalau aku sih lebih tertarik jadi dokter anak karena aku suka dengan anak – anak", ujar Sakura sambil tersenyum manis kepada Sasuke. Sasuke sedikit kaget ketika melihat Sakura tersenyum manis kepadanya, mengingat selama ini saat mereka bertemu hanya pertengkaran saja yang mengisi pertemuan mereka. "Ah iya, aku juga minta maaf ya udah bersikap egois dan kekanak – kanakan sama kamu. Aku ga maksud buat marah – marah sama kamu kok, cuma aku sedikit kesal sama sifat kamu yang suka bentak – bentak aku", lanjut Sakura dengan tulus.

"Hmph, akhirnya kamu akui juga sifat kamu yang egois dan kekanak – kanakan itu", Sasuke berkata sambil menahan senyumnya melihat teman kecilnya itu mengembungkan pipinya ketika mendengar perkataannya. "Lagian kamu ga perlu minta maaf, yang marah – marah itu kan aku, moodku lagi ga baik sejak balik dari London, jadi yah waktu lihat kamu aku jadi melampiaskannya ke kamu. Tapi masalahku udah selesai jadi aku minta maaf dan janji ga akan bentak – bentak kamu lagi kok, Sakura si cengeng", lanjut Sasuke sambil tersenyum tipis karena ledekannya. Walau tipis tapi sudah membuat Sakura salah tingkah.

"Ew, aku udah ga cengeng lagi tau. Kamu kira aku masih anak kecil apa?", sambung Sakura dengan nada yang dibuat – buat kesal. Lalu tanpa mereka sadari mereka berbincang – bincang lagi seperti dulu saat mereka masih kecil. Hanya ada tawa dan canda yang mengisi percakapan mereka.

-oo-

Ujian akhir sudah Sakura lewati bersama teman – teman seangkatannya. Sekarang dia akan mengikuti tes masuk universitas kedokteran yang terkenal dengan seleksinya yang ketat sembari menunggu pengumuman kelulusan. Hari ini dia akan berangkat bersama Sasuke yang juga akan mengikuti tes tersebut, sejak hari itu hubungan mereka telah membaik dan kini mereka selalu bersama – sama, bahkan Sakura merasakan perasaan yang berbeda kepada Sasuke. Tapi dia tidak mau mengatakannya karena takut hubungan persahabatan mereka yang baru saja terajut pecah karena masalah seperti itu. Tin. . .tin, bunyi klakson mobil menyadarkan Sakura bahwa Sasuke telah menjemputnya. Lalu ia langsung berpamitan dengan Bundanya.

"Kaa-san, aku pergi dulu yah, Sasuke-kun udah jemput. Doakan kami ya supaya sukses mengikuti tes nya", ucap Sakura kepada Bundanya.

"Iya, Kaa-san pasti doain kok. Oia bilang sama Sasuke-kun hati – hati ya bawa mobilnya, jangan kencang - kencang", ucap sang Bunda.

"Iya, Kaa-san ga usah khawatir. Dah Kaa-san", ucap Sakura lagi sambil mencium kedua pipi Bundanya lalu keluar rumah. Ia mendapati kakaknya sedang berbincang – bincang dengan Sasuke melalui kaca jendela mobil yang dibuka Sasuke.

"Jangan terlalu maksain diri kamu ya Sas, kalo merasa ga enak langsung pulang aja. Kamu ga lupa bawa obat kamu kan?"

"Iya, Saso-nii ga perlu khawatir". Itulah yang didengar Sakura dari percakapan mereka ketika dia berjalan menuju mobil Sasuke. 'Sasuke-kun sakit?', batin Sakura.

"Eh Ra, kamu udah siap. Yaudah berangkat gih ntar kalian telat lagi. Hati – hati ya", kata Sasori.

"Kami pergi dulu ya Nii-chan, doain kami ya", ucap Sakura. Dia lalu melambaikan tangannya kepada Sasori sementara Sasuke mulai menjalankan mobilnya. 'Semoga ga terjadi apa – apa', batin Sasori dalam hati ketika mobil yang dikendarai Sasuke dan imoutonya mulai menghilang dari pandangannya.

Di dalam mobil hanya keheningan yang menghiasi perjalanan mereka menuju tempat tes. Tidak satupun dari mereka yang membuka suara, padahal biasanya Sakura selalu cerewet. Tapi kali ini dia sedang khawatir dengan Sasuke karena sepertinya keadaannya sedang kurang baik, lalu dia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Sasuke.

"Sasuke-kun, kamu lagi sakit yah? Mukamu pucat", tanya Sakura dengan hati – hati takut memecah konsentrasi Sasuke mengemudi.

"Eh ga kok, mungkin karena aku telat tidur aja semalam, aku begadang ngerjai soal – soal yang mungkin di ujiankan hari ini", jawab Sasuke datar sambil tetap konsentrasi mengemudi.

"Kamu jangan bohong deh, tadi aku dengar kalo Saso-nii bilang sama kamu jangan lupa bawa obatmu. Maksudnya apa coba?"

"Hm, kamu emang ga bisa dibohongi ya. Aku cuma agak kurang enak badan aja kok, tadi malam maagku kambuh. Saso-nii tau dari Aniki, makanya dia nasehati aku"

"Beneran cuma sakit maag? Trus sekarang gimana? Harusnya kamu jangan maksain untuk ikut tes hari ini, muka kamu masih pucat, Sasuke-kun"

"Aku beneran ga papa kok, Ra, lagian kalo aku ga ikut tes hari ini, kamu mau aku ga lulus tes ini ya?"

"Bu – bukan gitu, tapi kan. . ."

"Udah, yang penting sekarang aku kan ga papa. Nah kita udah nyampek"

"Wah cepet banget, aku deg – degan nih, gimana dong, Sasuke-kun?", ucap Sakura kepada Sasuke. Namun dia terkejut ketika melihat Sasuke bersandar di pintu mobilnya sambil memegang perutnya, seperti menahan sakit. "Sasuke-kun, kamu ga papa? Maag kamu kambuh ya? Kamu sarapan pagi kan?", lanjut Sakura panik sambil memegangi Sasuke. Lalu tiba – tiba Sasuke memeluknya dengan erat, sangat erat.

"A – ku ga papa kok, cuma sedikit sakit aja soalnya tadi aku cuma makan roti. Mungkin karena itu perutku ngulah. Jadi kamu ga usah khawatir", Sasuke berkata sambil terus memeluk Sakura agar dia tidak tahu bahwa sebenarnya Sasuke sedang mati – matian menahan sakit di perut bawah sebelah kanannya. 'Kami-Sama, aku mohon jangan sekarang, setidakya jangan di depan Sakura. Beri aku waktu sedikit lagi untuk menyelesaikan urusanku', gumam Sasuke dalam hatinya. "Aku udah ga papa. Maaf tiba – tiba memelukmu, aku. . . "

"Ah ga papa, yang penting kamu udah enakan kan?", Sakura berusaha bersikap senormal mungkin, padahal mukanya sudah semerah tomat kesukaan Sasuke dan detak jantungnya sudah tidak bisa dikendalikannya. "Kita langsung ke ruangan aja, nanti telat", lanjutnya. Lalu mereka berpisah karena memang ruang ujian mereka tidak sama. Ujian pun dijalani Sakura dengan sedikit tegang walau sebenarnya dia bisa menjawab semua soalnya dengan mudah, tapi ada sedikit perasaan tidak enak yang menghinggapi hatinya namun langsung di tepisnya.

Setelah dua jam mengikuti tes Sakura pun keluar dari ruangan ujiannya dan menuju ruangan Sasuke. Ketika dia sampai di ruangan ujian Sasuke dia tidak menemukan Sasuke, yang dia dapati adalah kerumunan para peserta lain yang sedang mendiskusikan sesuatu. Lalu Sakura pun menghampiri mereka guna menanyakan keberadaan Sasuke.

"Maaf apa kalian tau dimana peserta yang bernama Uchiha Sasuke? Dia memakai kemeja kotak – kotak biru, aku temannya, Haruno Sakura", tanya Sakura kepada mereka.

"Oh cowok yang tadi yah, sepertinya dia sudah dibawa ke rumah sakit", jawab salah seorang di antara mereka.

"Ma – maaf, apa yang terjadi dengan Sasuke-kun?"

"Tadi dia sudah selesai menjawab soal ujian setelah satu jam ujian dimulai, tapi saat dia berjalan keluar ruangan dia mengerang kesakitan dan dia mengeluarkan darah dari mulutnya. Sepertinya sekarang ini dia udah berada dirumah sakit dekat gedung ini"

Tanpa pikir panjang Sakura langsung berlari keluar gedung itu dan langsung bergegas menuju ke rumah sakit yang dekat dengan gedung tempat ia ujian tadi. Sesampainya di rumah sakit dia langsung menanyakan kepada suster apakah ada pasien yang bernama Uchiha Sasuke yang baru saja masuk, dan ternyata memang iya Sasuke dibawa ke rumah sakit itu dan suster itu memberitahu bahwa Sasuke berada di ruang ICU. Sakura langsung menuju ke ruang ICU. Dan ketika dia berada di depan ruangan itu, dia bertemu dengan Itachi dan Sasori beserta Bundanya.

"Itachi-nii, Sasori-nii, Kaa-san, kenapa kalian bisa ada disini? Sasuke-kun kenapa? Tadi pagi dia memang bilang sama aku kalau maag nya kambuh, tapi kenapa sampai harus masuk ICU? Itachi-nii, sebenarnya Sasuke-kun sakit apa?", tuntut Sakura kepada Itachi.

"Saku, tenang dulu sayang, nanti Itachi-kun pasti jelasin ke kamu, tapi ga sekarang yah sayang", ucap sang Bunda sambil menenangkan sang putri. Sakura pun hanya menantikan penjelasan dari Itachi dan Sasori.

-oo-

Ruang serba putih itu sekarang ditempati oleh banyak alat – alat bantu yang dipasangkan kepada sesosok pemuda yang terbaring lemah diatas ranjang guna membantu sang pemuda untuk tetap bertahan hidup. Bunyi alat pendeteksi detak jantung pun meramaikan suasana ruangan itu yang memang sangat sunyi, namun kali ini bunyi itu berbaur dengan suara isakan tangis pilu dari seorang gadis yang duduk disamping ranjang tempat terbaringnya sang pemuda. Sang gadis hanya menangis dan terus menangis serta terus menyebut nama pemuda itu.

"Kenapa, kenapa kamu ga kasih tau aku Sasuke-kun? Kenapa cuma aku yang ga tau? Kenapa Sasuke-kun? Kamu kan udah janji mau jadi dokter dan nyembuhin banyak orang. Tapi kenapa malah kamu yang sakit Sasuke-kun, kenapa?"

Sakura terus menangis sambil memegang tangan Sasuke dengan erat. Sampai dia tersadar bahwa tangan yang sedang dia genggam saat ini sedikit bergerak, Sakura lalu mengarahkan pandangannya kepada Sasuke yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.

"Sasu, kamu udah sadar? Kamu ga papa kan? Apa ada yang sakit?", Sakura langsung menyerbu Sasuke dengan banyak pertanyaan. Raut khawatir tidak lepas dari ekspresi wajahnya yang manis.

"Hei, kalo kamu selalu nyerbu orang yang baru sadar dengan banyak pertanyaan kayak gitu, orang itu bisa pingsan lagi loh", bukannya menjawab, Sasuke malah menggoda Sakura dengan suara yang sangat lemah.

"Aku serius Sasuke-kun, sekarang bukan saatnya becanda!"

"Hei kenapa jadi serius gitu, kamu marah ya karena aku tinggal ke rumah sakit? Aku minta ma. . ." perkataan Sasuke terpotong karena Sakura menghambur ke pelukannya.

"Baka, mana mungkin aku marah karena itu. Justru aku marah kenapa kamu ga bilang sama aku tentang penyakit kamu? Kenapa Sasuke-kun? Kenapa cuma aku yang ga tau? Kenapa kamu bohong? Kamu jahat! Ternyata selama ini kamu ga pernah anggap aku teman kamu", ucap Sakura lirih dengan di selingi isak tangisnya.

"Maafin aku Saku, aku ga maksud bohongin kamu. Aku cuma ga mau menambah daftar orang yang bakal khawatir denganku dan buat kamu sedih kayak sekarang ini, Saku". Sakura tidak peduli dengan Sasuke yang berusaha menenangkannya. Yang dia tau saat ini bahwa orang yang dicintainya itu tengah menderita penyakit kronis yang mungkin akan merenggut nyawanya.

-oo-

Sudah tiga minggu Sasuke dirawat dirumah sakit dan selama tiga minggu itu juga Sakura terus dengan setia merawat Sasuke. Walau kakaknya kadang menyuruhnya pulang untuk sekedar berisitirahat sejenak, namun dia tetap tidak mendengarkan. Mungkin dia akan terus berada di rumah sakit kalau saja Sasuke tidak memaksanya untuk pulang. Dan sekarang Sakura tengah menemani Sasuke untuk berjalan – jalan di sekitar taman rumah sakit itu, karena Sasuke merasa bosan terus berada di ruang rawatnya.

"Disini aja Ra", Sasuke menghentikan Sakura yang mendorong kursi rodanya.

"Sejak kapan kamu suka melihat anak – anak bermain? Setauku kamu ga suka dengan anak - anak", tanya Sakura yang heran dengan tindakan Sasuke.

"Hahahaha, ga boleh ya? Hmm, mungkin sejak penyakit ini menggerogoti tubuhku dan sejak ketemu kamu lagi", ucap Sasuke lirih.

"Sasuke-kun, kamu harus semangat ya, aku yakin kamu pasti sembuh jadi kamu harus berusaha juga yah. Ganbatte ne!"

"Udah ga bisa, Ra, seusaha apapun aku lama kelamaan toh penyakit ini akan menguasai badanku"

"Kamu ga boleh nyerah gitu dong Sasuke-kun, kalo kamu ga mau lakuin untuk diri kamu sendiri lakuin untuk orang - orang yang menyayangi kamu Sasuke-kun, Itachi-nii, Otou-san mu, Saso-nii dan Kaa-sanku. Juga lakuin demi aku Sasuke-kun, orang yang sayang sama kamu. Kenapa kamu jadi Sasuke-kun yang ga aku kenal, Sasuke-kun yang aku kenal itu pasti ga kenal menyerah", ucap Sakura sambil menahan air matanya.

"Saku, jauh sebelum kita ketemu lagi, di London aku udah ngelakuin semua pengobatan yang katanya bisa nyembuhin aku, tapi apa sekarang yang terjadi, penyakit ini tetep ga sembuh kan? Satu – satunya yang bisa sembuhin aku cuma dengan tranplantasi hati, Ra. Dan sampai sekarang belum ada hati yang cocok buat aku. Darahku ga sama dengan aniki dan tou-san melainkan sama dengan kaa-san, tapi sekarang kaa-san udah ga ada. Lagipula alasanku kembali kesini itu supaya aku bisa melihat tanah kelahiranku yang selama ini aku tinggalin untuk yang terakhir kali nya. Dan juga aku udah ga sanggup untuk nunggu lebih lama lagi Ra, tapi bukan berarti aku nyerah Ra, cuma hanya itu yang bisa aku lakuin sekarang"

"Ga Sasuke-kun, kamu pasti bisa, kalau perlu kamu bisa pakai hati aku"

"Sst, kamu ini kan calon dokter, kamu pasti tau betulkan kalo ga semudah itu nerima donor organ", Sasuke berkata sembari menenangkan sahabat kecilnya itu. "Hei kamu tau ga alasan lain kenapa aku mutusin buat pulang kesini lagi? Aku pengen liat senyum bahagia sahabat kecilku lagi dan juga ingin tau apa dia masih cengeng atau ga, ternyata tetep aja cengeng yah", lanjut Sasuke kepada Sakura ketika dilihatnya Sakura sudah menangis lagi. "Tapi sepertinya keputusanku untuk kembali adalah keputusan yang salah ya", Sasuke melanjutkan. Sakura lalu mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke dengan pandangan 'kenapa?'. Lalu Sasuke melanjutkan, "Karena aku malah buat kamu sedih dan terus menangis". Sasuke lalu membawa Sakura ke dalam pelukannya. "Udah jangan nangis lagi, Cengeng, ga ada yang terselesaikan dengan menangis. Dan aku benci lihat kamu nangis, apalagi penyebabnya aku. Kamu harus janji ya Ra, kalaupun aku uda ga ada di samping kamu tapi yakinlah kalo aku selalu ada untuk kamu. Karena yang pergi nanti itu adalah tubuhku, bukan jiwa aku. Kau harus janji ya". Sakura memang tak mengatakan apa – apa karena tangisannya, tapi Sasuke bisa merasakan bahwa Sakura mengangguk di dalam pelukannya.

-oo-

Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan Sakura dan teman – temannya dan juga pengumuman tes masuk universitas kedokteran yang diikuti Sakura dan Sasuke. Karena pengumuman yang bersamaan itu Sasori menawarkan diri untuk mewakili mereka melihat pengumuman ujian masuk universitas itu, berhubung Sakura yang harus melihat pengumuman kelulusan di sekolahnya dan Sasuke yang masih di rumah sakit. Sudah hampir tiga jam Sakura menunggu pengumuman itu keluar sampai akhirnya seorang petugas terlihat sedang menempelkan kertas pengumuman itu di papan pengumuman. Berhubung Sakura sangat ahli di bidang atletik dan didukung dengan badannya yang mungil, dia bisa melihat pengumuman tersebut dengan mudahnya. Dia langsung mencari nomornya diantara banyak nomor itu dan. . .ada. Tapi dia tidak mau senang dulu karena dia masih harus melihat nomor Sasuke, walau sebenarnya dia yakin kalau Sasuke pasti lulus tapi setidaknya dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan setelah sekian lama dia mencari akhirnya dapat juga. Lalu dengan segera dia langsung keluar dari kerumunan teman – temannya yang sedang melihat pengumuman juga. Ia hendak menelepon Sasori ketika tiba – tiba handphonenya berdering dan ternyata panggilan tersebut berasal dari Sasori. Langsung saja Sakura mengangkat teleponnya.

"Nii-chan, gimana hasilnya? Udah keluar?", Sakura langsung bertanya kepada Sasori.

"Hahaha, udah ga sabar yah? Gimana dengan hasil kelulusanmu?", Sasori malah balik bertanya.

"Nii-chan jangan buat aku penasaran dong. Aku dan Sasuke-kun lulus nii-chan", jawab Sakura dengan semangat.

"Selamat yah Saku-chan, nii-chan memang yakin kamu pasti lulus. Yaudah nii-chan jemput kamu sekarang yah. Tunggu aja, bentar lagi nii-chan sampai", Sasori langsung memutuskan telepon begitu saja.

"Haduh Saso-nii ini buat aku penasaran aja, kenapa ga langsung bilang aja sih", kesal Sakura. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit dia melihat sebuah mobil sport merah memasuki gerbang sekolahnya yang dia tahu itu mobil kakaknya. Diapun langsung menghampiri mobil itu dan langsung mengetuk kaca mobilnya. Lalu Sasori keluar dari dalam mobil dan langsung mengacak – acak rambut Sakura.

"Selamat yah imoutoku sayang, atas kelulusan kamu"

"Uh, jangan di acak – acak jadi berantakan tau. Gimana hasilnya?"

"Menurut kamu gimana?", karena melihat ekspresi Sakura yang ingin mendampratnya dia langsung berkata, "Iya deh iya, selamat sekali lagi ya, kamu sama Sasuke berhasil masuk ke universitas itu dengan nilai tertinggi dan berita bagus lainnya nilai kamu diatas Sasuke"

"Wah yang bener nii-chan? Aku udah ga sabar ngasih tau Sasuke-kun, yuk kita langsung ke rumah sakit nii-chan"

"Iya iya, nih juga mau jalan"

Mereka pun langsung menuju ke rumah sakit namun di tengah jalan Sasori menerima telepon yang membuatnya terkejut bukan main. Dia hanya menambah kecepatan mobilnya tanpa menjawab pandangan tanya dari Sakura.

Sesampainya di rumah sakit mereka langsung ke ruang rawat Sasuke. Ketika mereka telah berada di depan ruang rawatnya Sasuke mereka mendapati Bundanya yang sedang menangis.

"Kaa-san, Kaa-san kenapa nangis? Sakura bawa kabar gembira loh Kaa-san", ujar Sakura dengan nada senang namun heran melihat Bunda nya menangis.

"Sasuke-kun, Ra, Sasuke. . .", ucap Bundanya tersendat – sendat.

"Sasuke-kun kenapa Kaa-san? Sakura bawa kabar gembira buat dia, Sakura mau ngasih tau Sasuke dulu ya Kaa-san", Sakura langung masuk meninggalkan Bundanya tanpa mau berpikir yang macam – macam. Saat masuk ke kamar dia langsung mendapati wajah Itachi yang sendu dan juga seorang pria paruh baya yang Sakura duga adalah Tou-san nya Sasuke. Dia melihat pria itu memeluk tubuh Sasuke yang diam saja, tubuh Sakura langsung saja membeku. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, lebih tepatnya tidak mau percaya. Dia berjalan perlahan ke hadapan Sasuke yang telah dilepas oleh Tou-san nya.

"Sasuke-kun, kamu kok tidur sih? Tuh liat Tou-san kamu udah datang dari London. Kamu ga sopan deh, masa Tou-san mu datang kamu malah tidur. Hei, aku juga bawa kabar bagus loh, kita lulus. Kita juga lulus ujian masuk universitas dan kamu tau ga aku berhasil ngalahin kamu loh. Nilaiku lebih tinggi dari kamu Sasuke-kun, walau beda tipis sih. Tapi tetep aku yang menang kan. Hei kamu kok diem aja, masa kamu ga mau ngucapin selamat buat aku. Sasu, Sasuke-kun bangun. Sasuke-kun!", Sakura terus bicara kepada Sasuke tanpa menerima respon dari yang di ajak bicara sementara tanpa Sakura sadari sedari tadi air matanya sudah mengalir.

"Ra, udah Ra. kamu ga boleh gitu. Kamu harus tegar Ra, Sasuke pasti ga suka liat kamu gini", ucap Sasori yang memeluk imoutonya guna menenangkannya.

"Ga nii-chan, nii-chan ngomong apa sih? Sasuke-kun cuma tidur aja, tadi malam dia bilang kalo dia capek. Nii-chan ngomong apa sih?", Sakura berontak dari pelukan kakaknya.

"Ra, Sasuke udah meninggal Ra. Dia udah pergi ninggalin kita semua Ra", kali ini Itachi yang angkat bicara.

Saat itu juga seketika Sakura merasa jantungnya seolah – olah di tusuk oleh ribuan belati tajam. Dia tidak bisa berkata apa – apa, tubuhnya kaku tidak bergerak. Dan hari itu ruang rawat Sasuke dihiasi oleh tangis pilu Sakura dan hujan yang tiba – tiba turun, seolah – olah ikut bersedih akan kembalinya salah satu makhluk Tuhan kepada-Nya.

-oo-

Seorang gadis dewasa yang memakai pakaian serba putih sambil membawa sebuket bunga lily berjalan perlahan memasuki sebuah pemakaman. Dia menuju ke sebuah makam yang diatasnya terdapat nisan berwarna putih yang bertuliskan nama orang yang dicintainya, "Uchiha Sasuke". Sudah limatahun sejak hari kepergiannya, kini gadis itu telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang anggun, dialah Haruno Sakura, orang yang mencintai dan dicintai Uchiha Sasuke. Gadis itu langsung berlutut dan meletakkan buket bunga itu di atas makam Sasuke.

"Hei maaf ya, belakangan ini aku ga bisa datang ngunjungi kamu. Banyak banget pasien yang membutuhkan jasa dokter cantik ini", ucap Sakura sambil tersenyum lembut ke arah makam itu. "Lihat, aku sekarang udah ga sedih dan cengeng lagi. Merelakan kamu pergi adalah hal terberat yang aku lakuin seumur hidupku, Sasuke-kun. Dan juga penyakit lupaku udah sembuh loh, aku ga kebayang apa ekspresi kamu andaikan penyakit lupaku ga sembuh, kamu pasti bilang gini, 'masa dokter suka lupa', iya kan? Trus aku juga ga pernah bangun telat lagi loh, karna kalo aku telat bangun bisa aja kan salah satu pasienku ikutan pergi kayak kamu, aku ga mau hal seperti itu terjadi lagi. Aku ngelakuin ini semua untuk kamu, Sasuke-kun dan aku akan selalu ingat kata – kata terakhir kamu yang kamu titip sama Itachi-nii", Sakura menghentikan ucapannya sambil mengingat kata – kata yang disampaikan Itachi setelah Sasuke meninggal, "Ra, walaupun Sasuke udah ga bareng kita lagi sekarang, tapi yakin ya kalo dia selalu pantau kamu dari atas sana. Sasuke titip pesan buat kamu sebelum dia pergi, dia bilang kamu ga boleh sedih dan tetep semangat kayak Sakura yang dia kenal. Dia ga mau liat kamu nangis lagi karna dia, kamu harus jadi dokter yang hebat, supaya ga ada lagi yang pergi karena menderita penyakit yang sama kayak Sasuke. Dan dia juga bilang kalau selama ini dia mencintaimu, Ra, sangat mencintaimu". Sakura tersenyum miris setelah ingatan itu tiba – tiba terlintas, lalu dia melanjutkan perkataannya, "Oia aku bawa kabar bagus, kamu pasti seneng deh dengarnya. Setelah aku pikir – pikir kalau aku jadi dokter anak aku ga bisa menangani orang yang menderita penyakit kronis, tapi kalau aku jadi dokter spesialis penyakit dalam aku tetap bisa mengobati anak – anak. Terutama anak – anak yang menderita penyakit yang sama dengan yang kamu alami Sasuke-kun. Aku akan jadi dokter spesialis penyakit dalam. Aku janji sama kamu, aku ga akan biarin lagi banyak orang yang pergi karna penyakit itu, cukup Mikoto baa-chan dan kamu Sasuke-kun. Aku akan pegang janji itu. Aku mencintaimu Sasuke-kun, sangat", lalu Sakura pun mencium nisan itu dan tersenyum sekali lagi. Setelah itu dia pun meninggalkan makam itu dengan wajah tersenyum dan bertekad untuk mewujudkan impiannya menyelamatkan hidup banyak orang yang mengidap penyakit yang telah merenggut seorang pemuda yang sangat dicintainya itu. "Walaupun waktu kita bersama hanya sebentar, terima kasih untuk kenangan terindah yang udah kamu berikan padaku Sasuke-kun. Aku akan selalu mengingat kamu dan selalu mencintaimu, selamanya, Uchiha Sasuke", gumam Sakura dalam hatinya.

FIN -


Cuap – Cuap Author :

Akhirnya selesai juga fic pertama qu *jingkrak2*

Padahal fic nya udah siap dari kapan2, Cuma aq nya aja yg ga sempat publish *sok sibuk*

Karna masih dalam suasana lebaran 'n saya selama seminggu ini hidup nomaden, jadi baru sempat publish sekarang

Semoga minna-san suka sama cerita nya yah…:D

Walau agak abal seh…hehehehehe

It's time to reply the reviews XD

To Ayhank-chan UchihArlinz :

Arigatou review nya *meluk2 ayhank-chan XD*

Iyah ne, aq jg ngerasa gtu…awal nya fic ne mau qu bwt jadi satu chappie ajah, tp kayak nya kebanyakan 'n takut capek bacanya, maka nya dibwt jadi multichap. Mw dibwt dua chappie bingung motong nya di mana, hehehehehe. Maka nya jadi lah tiga chappie..:D
Thanks yah atas saran nya…lain kali aq bakal lebih berusaha lg…Se x ge Arigatou Ayhank-chan..:D

Review lagi yak…hehe

To Dijah-hime :

Iyah ne Sasu-kun di sini aq bwt sakit2 an *di chidori sama sasu-kun*

Arigatou yah Dijah-chan review nya,,hehehehehe
Ne udah update chappie terakhir, semoga ga mengecewakan..

Review lagi yah *maksaXD*

To Arioka Natsuko :

Arogatou Arioka-chan review nya :D

Ne udah update, semoga ga mengecewakan yah..

Di tunggu review selanjutnya…hehehe^_-

Well sekian sepatah dua cuap dari saya, semoga minna suka dengan karya saya ne 'n akhir kata Can U Give Me Some Review Please?XD
Jaa nee on next fict...^^