Jadi Cowok? – Chapter 3

Disclaimer: Sama seperti di chap sebelumnya. Bukan saya yang bikin Bleach, saya cuma minjem tapi gak bilang hehe... :P

Author juga mau ngucapin MINAL AIDIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN (udah telat woi) Meskipun udah telat gak papa ya... Setelah author pikir dengan otak terbalik, akhirnya author memustuskan untuk membuat Ichigo POV. Kalau ada yang tidak puas, saya mohon maaf sekali. Ok, enjoy!

-o-

Ichigo POV di hari yang sama dan tempat yang berbeda.

Hei, namaku Kurosaki Ichigo, umur 16 tahun, tanggal lahir 15 Juli 19**, golongan darah AO (emang ada?), tinggi 186cm, berat 60 kg. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku semuanya perempuan dan kembar. Namanya Karin dan Yuzu. Mereka baru berumur 11 tahun, jadi masih di SD tapi sudah kelas 6.

Ayahku bernama Isshin dan orang yang sangat menyebalkan bagiku karena... kau tahu setiap pagi dia selalu membangunkanku dengan cara yang tidak wajar yaitu, menerobos pintu kamarku dan melompat tepat di atas perutku. Tidak hanya itu, dia sering menanyaiku apakah aku punya pacar atau tidak. Jika aku jawab tidak, dia akan menangis di depan poster ibuku dan berteriak bahwa aku adalah gay. Aku bisa menjadi gila jika terus seperti ini. Makanya sekarang aku memilih sekolah asrama tentara agar aku bisa pergi jauh dari rumahku ini. Dan kebetulan aku mendapat peringkat satu di dalam daftar.

Mengetahui aku akan masuk ke sekolah asrama, ayahku langung melarangku dengan tangisannya yang tidak mempengaruhiku. Dia bilang dia akan kesepian jika aku tidak ada di rumah, tapi aku tetap bersikeras. Ayahku pun mulai menangis gak jelas di depan poster ibuku. Sampai akhirnya, Karin menjitak kepalanya dengan keras dan membuat ayahku pingsan seketika.

Lalu aku baru tau dari Urahara dan Yoruichi, pasutri, tetangga kami yang mempunyai warung bahwa dulu ayahku adalah seorang dosen di sekolah tentara itu. Tapi dia berhenti dan memilih untuk membuka klinik setelah menikah dengan ibuku.

Mungkin kalian bingung saat aku cerita, ayahku menangis di depan poster ibuku. Ya, ibuku bernama Masaki, dia... dia sudah meninggal.. ketika aku berumur 9 tahun. Saat itu aku baru pulang dari latihan karate, ibuku datang menjemputku. Kami pulang bersama-sama lalu kulihat kucing berada di tengah jalan. Karena tertarik aku memungutnya dan menggendongnya. Tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melintas dan ketika akan mengenaiku, aku menutup mata dan...

CKITTT... (suara rem mobil) BRUAKK...

Aku merasakan tubuhku terlempar dan ketika aku membuka mata... Ibuku sudah bersimbah darah di tengah jalan. Truk yang menabrak itu sudah kabur entah kemana. Aku langsung berlari menuju ibuku. Ibuku tersenyum padaku dan menyentuh pipiku dengan tangannya yang dipenuhi darah.

"I...Ichigo... Ja-jaga... adi-adik... adikmu... dan hiduplah... ba-ha-gi-a..." Tangan Ibuku terjatuh dan ibuku menutup mata untuk selama-lamanya. Air mata menetes ke pipiku dan... maaf... aku tidak dapat meneruskannya lagi. Itu kenangan yang sangat menyakitkan bagiku.

Baiklah selanjutnya adalah Arisawa Tatsuki, dia adalah teman sepermainanku dari kecil. Dia dan aku sama-sama berlatih karate di tempat yang sama. Dia orangnya sangat tomboy dan agak galak. Kalau kau macam-macam dengannya, aku tidak tahu nasib apa yang akan menimpamu, entah tangan patah, kaki patah atau bahkan kau tidak akan berada di dunia lagi.

Aku sangat mengagumi William Shakespeare, kata-katanya mengandung arti yang sangat dalam dan menenangkan pikiran. Aku juga menyukai coklat dan makanan pedas. Makanan pedas kesukaanku adalah sambal tahu buatan Yuzu, adikku. Itu sangat enak... kalian harus mencobanya. (Sebenarnya itu makanan fav. Author *plakk*)

Aku masuk ke sekolah asrama tentara itu bukan hanya ingin jauh dari ayahku yang aneh itu. Aku juga ingin melindungi orang-orang yang kusayangi. Aku tidak mau gagal seperti kenangan bersama ibuku. Aku sudah gagal untuk melindungi ibuku. Aku juga yang menyebabkan kematiannya walaupun ayahku, Tatsuki dan yang lain tidak menyalahkanku. Tapi tekadku sudah bulat untuk masuk ke sekolah ini.

Sudahlah, lebih baik aku akhiri saja perkenalan ini. Aku selalu teringat dengan ibuku. Maaf ya kalau kalian merasa bosan dengan perkenalanku ini.

End of Ichigo POV

-o-

Normal POV

Ichigo keluar dari kamarnya dan beranjak ke ruang keluarga. Dilihatnya, kedua adiknya sedang menonton TV. Terlihat iklan pameran Dora dan Chappy di layar televisi. Yuzu dan Karin terlihat memperhatikan iklan itu dengan sangat serius.

"Ayah mana?" Ichigo bertanya.

"Sedang di klinik." Jawab Karin cuek.

"Ichi-nii..."

"Apa?"

"Besok, ke situ yuk." Yuzu menunjuk ke arah televisi. (maksudnya ke Karakura Mall yang ada pameran Dora)

"Ngapain?"

"Ya, liat pameran itu, Ichi-nii! Di sana juga ada pameran Chappy! Tahun ini Dora dan Chappy bekerja sama! Boleh ya, Ichi-nii?"

"Gimana ya...?" Garuk-garuk kepala yang kutuan eh yang tidak gatal : D

"Ayolah, Ichi-nii! Sekali ini saja.." *membuat puppy eyes* Yuzu memohon kepada Ichigo sampai menarik-narik celananya.

Ichigo yang tidak tega melihatnya, akhirnya mengalah.

"Baiklah.."

"Yey..." Yuzu bersorak kegirangan.

"Yah... Lagipula... ini juga jalan-jalan terakhir bersama keluargaku." Pikir Ichigo. Dia tersenyum dengan hangat.

-o-

Keesokan harinya, Ichigo dan keluarganya berangkat ke Karakura Mall. Ketika sampai di sana, Yuzu, Karin, dan Isshin langsung melompat-lompat dengan girang. Ichigo yang melihat pemandangan itu merasa terhibur ketika melihat Yuzu dan Karin tetapi setelah melihat ayahnya yang idiot itu *author ditendang ma Isshin*... dia langsung ingin kabur dari situ.

"Ichi-nii! Ichi-nii! Ayo cepat!" Karin memanggil dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Ichigo.

"Tunggu sebentar.." Ichigo menuju ke arah ayahnya yang sedang menari-nari balet dan menjitak kepalanya dengan keras hingga pingsan. Para pengunjung lain pun merasa ngeri dengan tindakan tersebut. Tetapi setelah melihat Isshin, para pengunjung pun sweat drop. -_-"

-o-

Sementara di rumah Rukia

TIK TIK TIK bunyi hujan di atas genteng (itu mah lagu) *pembaca sweat drop*

TOK TOK TOK

"RUKIAAA! Ayo banguuunnnn... Udah jam 8 nih! Kita kan mau liat pameran Dora & Chappy!" Panggil Byakuya dengan semangat '45. Dia sudah semangat untuk menggempur Belanda eh salah menggempur kamar Rukia dengan sekuat tenaga.

"Rukiaaaa...!"

Yang dipanggil bukannya bangun malah menarik selimutnya lebih erat dan menutup telinganya dengan bantal. Karena Byakuya yang maniak itu masih gentayangan di depan kamarnya sambil teriak-teriak, akhirnya Rukia mengalah dan bangun dari tidurnya.

"Ya ampun... aku ngantuk banget... Hoahmm..." Rukia bangun dari tempat tidurnya dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Matanya masih setengah terbuka. Rambutnya masih awut-awutan karena gaya tidurnya yang heboh. *author digeplak* dan mukanya masih kusut seperti baju yang belum disetrika.

"RUKIAAAA!" Panggil Byakuya.. lagi.

"IYA IYA! Aku udah bangun!"

"Ya udah, aku tunggu di bawah ya..."

"Dasar bawel..." keluh Rukia dalam hati.

Rukia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi (masa tidur lagi? Dasar kebo). Setelah selesai cuci muka, sikat gigi, mandi, boker, dll, dsb.. Rukia segera mengambil gaun berwarna biru muda sepanjang lutut dengan pita berwarna putih yang melingkar di bagian pinggang (Maaf, author gak pinter buat deskripsi.). Setelah menyisir rambutnya, Rukia segera turun ke bawah untuk menemui Byakuya dan Hisana yang sudah menunggunya di ruang keluarga.

Di meja makan sudah tersedia nasi goreng seafood dan telur dadar sebagai pelengkap. Susu ultra rasa vanilla yang baru dikeluarkan dari kulkas juga sudah tersedia di sana. *Author jadi laper*

Rukia langsung menuju ke meja makan dan memakan sarapannya dengan lahap. Lalu...

DING DONG

Hisana membuka pintu dan ternyata ada.. ada... ada.. ada.. *author mulai konslet* ada.. ada.. GENDERUWO di depan pintu! Hisana langsung menjerit dan memanggil Byakuya.

"Kyaaa! Byakuya! Ada genderuwo...!"

Byakuya langsung meraih tongkat dan berlari secepat de plesh *The Flash* ke arah pintu. Byakuya langsung memukul kepala genderuwo itu hingga muncul benjol yang cukup besar di kepalanya.

"Oww..." Sang genderuwo itu meringis kesakitan. Eitss, tunggu dulu! Rasanya suaranya sangat familiar di telinga Byakuya. Byakuya mencoba melihat sekali lagi ke makhluk yang sedang meringis ini. Genderuwo itu mempunyai kumis putih yang cukup tebal di bagian mukanya. Setahu Byakuya, genderuwo itu brewokan dan jenggotnya hitam karena Byakuya belum pernah menemukan cat rambut khusus genderuwo.

Lalu tiba-tiba lampu menyala di otak Byakuya! Cling! Jangan-jangan, dia adalah...

"Ehm... Kuchiki Byakuya..." Mendengar suaranya lagi, Byakuya langsung keringat dingin, keringatnya langsung membanjiri seluruh kota Karakura.

"Ha-hai, Go..gomen Yamamoto-san..." Byakuya nyengir dan langsung kabur dari hadapan Yamamoto. Byakuya sembunyi di balik selimut Doranya.

Hisana yang masih loading karena masih pentium 2 hanya bisa bengong-bengong dengan mulut 'O'. Akhirnya...

"ASTAGA! Yamamoto-san! Daijobou (Anda baik-baik saja?)" tanya Hisana. *seinget author tulisannya gitu*

Hisana langsung menghambur ke Yamamoto-san dan memperlihatkan tatapan cemas.

"Aha! Ini dia kesempatan!" Pikir Yamamoto dengan otak mesumnya. (WAT DE PAK? Yamamoto mesum!) *author dilempar sendal merek Swallow*

"Aduh... kepalaku masih sakit.. Hisana-san, maukah kau mengusap kepalaku?" pinta Yamamoto. Yamamoto memalingkan mukanya dan menyeringai.

"Wah... sepertinya ada maunya ni orang, akan kuhukum dia! Huahahahaha..." pikir Hisana dalam hati.

"Masih sakit ya..? Baiklah, sini kemarikan kepalamu, Yamamoto-san."

Ketika Yamamoto menyodorkan kepalanya, Hisana langsung menjitak kepala Yamamoto. Dengan sekejap, benjolan itu tambah besar sebesar bakso atom. (Lebay)

"Owww... kenapa kau memukulku?"

"Karena kau memikirkan hal yang tidak-tidak padaku. Benar kan?"

"Gomen, Hisana-san."

"Dasar kakek-kakek."

"Ya sudah panggil sana suamimu itu, kita harus cepat. Aku juga ingin melihat."

"BYAKUYAAA! Ayo kita berangkat! RUKIAAAA! Ayo!" teriak Hisana make toa. Yamamoto menutup telinganya untuk menghindari tuli mendadak oleh teriakan Hisana yang menggelegar itu.

"Siap bos!" Rukia dan Byakuya sudah berbaris berjejer di depan Hisana dengan hormat.

"Baiklah, mari kita mulai perjalanan kita.."

TBC

Waduh... garing ya? Author mulai kehabisan ide gokil nih. Hokeh, bocoran chap selanjutnya adalah belanja-belanja dan saat pertama kali Ichigo melihat Rukia. Kira-kira Ichigo sama Rukia ini dipertemukan dulu sekali atau gak usah? Saran dan kritik diterima dengan senang hati tapi kritiknya jangan pedes-pedes ya. Oh ya, udah pada baca "Lebaran ala Bleach" belum? Author lagi nyari-nyari ide nih buat chapter selanjutnya. PM aja ya sarannya.

Oh ya, author itu baru ngeliat Byakuya di komiknya. Secara author baru beli komik Bleach yg ke 7, 10, 11, 13, ama 19. Pas ngebayangin fanfic ini author ketawa-ketawa gak jelas. Jadi gomen ya semuanya kalau saya buat OOC semua.

Balasan review:

chikara kyoshiro: Ane sudah berusaha untuk tidak lama-lama. Ane sudah update sesuai request.

So-chand cii Mio imutZ: Terima kasih pujiannya atas kegilaan saya hehe.

ochibi4me: Fanfic ini ASLI ide saya. Saya juga tau memang ada fic yang seperti ini. Tapi saya jamin ini berbeda. Suwer... *tangan membentuk huruf V*

Rio males Log In: Rated M nya bakalan ada, tapi saya belum mastiin di chapter berapa. Soalnya masih panjang.

Ruki Yagami: Ane update kilat, Cin. Pake petir segala malah (?)

Minami Kyookai: Pertanyaannya banyak juga nih. Saya sih rencananya Rukia bakalan sekamar sama Ichigo tapi belum tau pake Ashido sama Kaien. Ichigo sudah ada di atas, monggo dibaca. ^^

mio 'ichirugiran' kyo: Daku update!

Chappythesmartrabbit: Byakuya suka Dora sejak saya yang buat! *nyengir*

Arlheaa: Harapanmu akan segera terkabul. Hehehe...

choCo purPle: Salam kenal kembali... Ichigo sudah muncul kok.

Kurochi Agitohana: Terima kasih atas ucapannya.. Arigatou *membungkuk-bungkukan badan* KRETKK *Oww, encok saya kambuh!*

kuraishi cha22dhen: Akan saya buat makin penasaran. Itulah hobi saya huahahahaha *tertawa menggelegar diikuti suara petir*

bl3achtou4ro: Ichi sudah muncul, teman..

dorami fil: Terima kasih...

Semuanyaaaaa... *teriak pake toa* Arigatou... sudah mereview dan membaca fanfic ini *nangis terharu*. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi kepada kalian... terima kasih...Dan jangan lupa review lagi...