Disclaimer: Don't own Bleach.
Jadi Cowok? – Chapter 10
Hallo minna-san~ Sorry sorry sorry sorry ane updatenya telat gomen gomen gomen gomen *nari sorry2* Gomen yah, updatenya telat. Habis ulangan *ngeles tingkat satpol pp* jadinya author gak sempet bikin fic. Dan yang pasti udah pada baca pengumuman kan? Maaf banget kalau ternyata hiatusnya lebih dari yang dijanjikan. (keterusan malah :P) Nobody's perfect. *ceilah*
Trus juga tadinya author pengen update malem minggu kemaren, taunya error gak bisa ngupdate trus author berinisiatif buat bikin new story malah gak bisa juga. Jadinya author tunda untuk beberapa hari. Jadilah author update siang ini huahahahaha *joget Inul* Cukup curcolnya deh.. And now.. gladly.. present...
.
.
Chapter 10
-o-
.
.
Rukia, Ishida, dan Chad berpencar untuk berjaga-jaga kalau kalau Kenpachi-sensei akan mengejar mereka juga. Rukia berlari sambil menengok ke belakang. (gak punya spion sih..-_-") Kakinya terus membawa tubuhnya berlari ke arah perpustakaan. Namun tak disangka-sangka, ia menabrak seseorang.
Rukia jatuh terduduk dan meringis kesakitan. Korban yang ditabraknya saja terpental sejauh 15 meter. Tak ingin berlama-lama lagi, Rukia berdiri sambil mengelus-ngelus pantatnya dan melihat korban tabrakannya itu.
"Ya ampun! Nanao-senpai!" pekik Rukia setelah melihat korban tabrakannya. Nanao-senpai jatuh terduduk dengan buku-buku yang berserakan. Dengan sigap, Rukia membantu Nanao berdiri dan membereskan buku-buku yang berserakan di lantai.
"Aduh.. maaf ya Nanao-senpai... gomen.. gomen.." ucap Rukia sambil membungkuk hormat.
"Tidak apa-apa kok, Ryuu-chan... Memangnya ada apa sih kok tadi lari-lari?" tanya Nanao heran.
"Ehh? Oh itu tadi.. aku sedang melarikan diri dari Kenpachi-sensei.. hehe.." ucap Rukia sambil menggaruk kepalanya yang ketombean *dilempar Ruki*
Nanao tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Pasti ada yang bikin masalah sampai-sampai Rukia harus ikut kabur dari Kenpachi-sensei.
"Mau kubantu, senpai?" tanya Rukia.
"Wah.. boleh deh.. Nih hati-hati bawanya," ucap Nanao setelah memberikan beberapa buku kepada Rukia. Rukia dan Nanao pun berjalan beriringan.
"Boleh aku bertanya sesuatu, senpai?" tanya Rukia.
"Tentu saja, Ryuu-chan.."
"Ano...Nanao-senpai ini perempuan asli kan?"
"Apa?"
"Maksud saya, Nanao-senpai benar-benar perempuan?"
"Tentu saja. Kenapa bertanya seperti itu?"
"Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama ingin saya tanya tapi belum sempat. Begini Nanao-senpai itukan perempuan, mengapa bisa jadi alumni di sini? Inikan sekolah cowok."
"Ohh mengenai itu.. sebenarnya aku bukan benar-benar alumni di sini. Aku adalah anak angkat Kyoraku-sensei. Mengenai asal-usul aku bisa menjadi anak angkat Kyoraku-sensei adalah..." tiba-tiba raut muka Nanao menjadi sedih.
"20 tahun yang lalu ketika sedang hujan deras, waktu itu Kyoraku-sensei sedang berjalan pulang ke asrama. Tiba-tiba Kyoraku-sensei mendengar suara teriakan wanita dan bunyi tembakan. Kyoraku-sensei pun segera mencari sumber suara tersebut. Ketika ia sudah tiba di sumber suara, ia terlambat. Seorang wanita sudah tergeletak mati tertembak di kepalanya. Kyoraku-sensei segera mendekati wanita itu dan menemukan seorang bayi perempuan di dekapannya. Bayi perempuan itu adalah ... aku."
(A/N: Usia Nanao sekarang ini 20 tahun.)
Begitu mendengar cerita Nanao, Rukia menjadi iba dengannya. Seharusnya ia tidak menanyakan hal ini kepadanya.
"Kyoraku-sensei segera membawaku ke rumahnya. Mengingat, Risa oba-chan yang belum punya anak, akhirnya Kyoraku-sensei memutuskan untuk mengadopsiku dan merawatku. Mereka merawatku dengan penuh kasih sayang. Lalu saat aku berumur 10 tahun, mereka memberi tahu tentang asal usulku. Namun saat itu aku tidak merespon apa-apa, aku hanya tersenyum dan berterima kasih kepada mereka karena sudah merawatku dengan baik dan penuh kasih sayang." Nanao menghela napas saat mengingat bagian yang tidak ingin ia ceritakan.
"6 tahun kemudian Risa oba-chan sakit parah dan untuk menyembuhkannya membutuhkan biaya besar karena saat itu kami membawanya ke rumah sakit pusat Tokyo, waktu itu fasilitas rumah sakit terdekat belum begitu memadai. Padahal di waltu yang sama, mereka harus memasukkan aku ke SMA yang khusus putri. Aku berkata kepada Kyoraku-sensei aku tidak apa-apa tidak sekolah asalkan Risa oba-chan bisa selamat. Akhirnya, kami memakai uang itu dan Risa oba-chan bisa dioperasi. Namun penyakit Risa oba-chan sudah terlalu parah dan tak lama kemudian akhirnya ia meninggal dunia.."
Air mata Nanao menetes ke bawah. "Aduuhh, maaf ya Ryuu-chan.. jadi nangis gini saya.." ucap Nanao sambil mengelap air matanya.
"Tidak apa-apa, Nanao-senpai. Sebaiknya tidak usah dilanjutkan.. gomenasai sudah membuatmu bercerita tentang hal ini.."
"Mungkin lain kali akan kulanjutkan.. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
"Hai."
.
.
-o-
.
.
Ruang guru – Byakuya
Kakek Yama *ditimpuk Yamamoto* (Enak aja manggil kakek, emang gue kakek lo?) tengah memimpin meeting di ruang guru. Meeting itu sedang membahas tentang persiapan lomba ketangkasan. Para guru pun segera memikirkan hal-hal apa saja yang diperlukan dalam lomba itu.
"Jadi bagaimana menurut kalian semua tentang lomba ini?" tanya kakek Yama.
"Menurut saya, karena lomba ini akan berlanjut ke lomba tingkat kota, dimana kita akan berhadapan dengan musuh bebuyutan kita, Vizards High School, kita harus mengirimkan murid kita yang mempunyai nilai bagus. Kita sudah berkali-kali kalah dari mereka. Jadi, menurut saya, tahun ini kita harus rebut gelar itu!" ucap Byakuya berapi-api sambil membuat beberapa catatan kecil.
"Wah benar juga itu. Kita sudah berkali-kali kalah dari mereka. Kalau begitu Kenpachi, kau yang bertugas untuk menilai para murid," titah kakek Yama.
"Siap kek!" Kakek Yama mendeath glare Kenpachi. "Maksud saya sensei!"
"Ada usul lagi?" tanya kakek Yama.
Hening. Masing-masing guru saling melototi satu sama lain.
Tiba-tiba...
do-do-do-do-dora!
do-do-do-do-dora!
dora dora dora the explorer!
boots, that super cool explora, dora!
Semua mata segera tertuju ke arah sumber bunyi tersebut. Mereka menatap sang sumber bunyi dengan tatapan shock. Helloooo... jaman sekarang masih jaman ringtone Dora? Sang guru berhati dingin segera dijadikan terdakwa oleh semua saksi karena sumbernya berasal darinya. Byakuya segera panik, bingung, plus malu karena reputasinya sebagai guru berhati dingin hancur gara-gara ringtone Dora. Tak ingin menambah malu, ia lansung kabur dari tempat duduknya.
Kakek Yama bersama guru yang lain pada cengo. Mungkin heran karena guru yang berhati dingin ini hobinya ternyata...
Sementara Byakuya...
"HALLO? Siapa sih ini? Ganggu aja!" Byakuya teriak-teriak ke si penelepon.
"Nii-sama! Ini aku! Rukia!" Rukia ikutan teriak-teriak.
"Ya ampuuunnn... ini Rukia? Ada apa sih? Memangnya kamu gak tau kalau guru-guru lagi ada rapat!" tanya Byakuya.
"Maaf deh, Nii-sama tapi ada yang gawat.."
"Gawat? Rukia! Ada apa?"
"Ano... Itu...Dia.. Kurosaki... dia... dia mengetahui rahasiaku.." ucap Rukia lirih.
"UAAAAPPPPAAA? Kok bisa? Apakah dia mencoba memperkosamu?"
"Duuh... Nii-sama! Ya gak lah, kalau sampai dia mau perkosa aku, udah kuhajar dia sampai mati. Trus juga Nii-sama jangan teriak-teriak! Nanti kedengaran orang lain!"
"Oh iya maaf-maaf. Kalau begitu ceritakan padaku kenapa Kurosaki bisa membongkar rahasiamu."
Rukia pun menjelaskan semuanya pada Byakuya.
"Ya sudah kamu tenang saja, nanti Nii-sama yang ngurusin okay?" ucap Byakuya mencoba menenangkan.
"Baiklah.. makasih ya.. Nii-sama.."
"Ya.."
Setelah menutup telpon, Byakuya segera melesat ke arah rumah kelompok 5. Ia sedang mencari Kurosaki Ichigo. Ia benar-benar butuh bantuannya sekarang. Hanya ia yang bisa ia percaya, Byakuya tahu Kurosaki Ichigo akan menjaga rahasia Rukia dan menjaga Rukia dengan baik.
Saat ia tiba disana, ia menemukan Ichigo yang sedang mengunci pintu rumahnya. Segera ia berlari ke sana dan berhenti tepat di belakang Ichigo. Ichigo menyadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Ketika ia berputar dan menemukan Byakuya yang sedang terengah-engah di belakangnya.. ia hampir terkena serangan jantung mendadak. Siapa kira sensei galak ini akan berdiri di belakangnya?
Namun, Ichigo segera menutupinya dengan bertanya.
"Ada apa, sensei?" tanya Ichigo.
"Kurosaki..." panggil Byakuya. "Saya butuh bantuanmu..."
.
.
-o-
.
.
Pelajaran Olahraga – Kenpachi-sensei.
Priiiiiiitt..
Suara peluit yang melengking dengan serentak mendapatkan perhatian dari semua orang yang mendengarnya. Semua murid segera berbaris dengan rapi. Pakaian mereka sudah lengkap semuanya. Topi, kaus, celana training, sepatu kets sudah lengkap dipakai. Tak ada yang berani mencoba melanggar jika tidak ingin terkena hukuman latihan fisik 10x lipat. Berlari melewati rintangan, lalu merayap di tanah sejauh 200 m, lalu memanjat dinding setinggi 4 m, dan terakhir melompati ban. Apakah anda bisa membayangkan betapa beratnya latihan fisik seperti itu?
Kenpachi-sensei berdiri di depan barisan dan berjalan mengitari murid-murid.
"Siapa yang belum hadir?" tanya Kenpachi-sensei.
"Abarai Renji, sensei!" Ishida menjawab dengan lantang.
"Oh.. Abarai Renji.. Dia sekarang sedang mendapat hukuman. Ia sedang menanam pohon pisang bersama pesuruh sekolah."
Beberapa murid tertawa begitu mendengarnya dan beberapa murid segera bergidik ngeri membayangkan betapa luasnya kebun belakang sekolah ini.
"Baiklah, hari ini kita latihan militer berpasangan. Sekarang cari pasangan dua-dua!"
"Satu!" Semuanya langsung bubar dan mencari pasangan masing-masing. Ichigo menoleh ke arah Ishida, ia berpasangan dengan Chad.
"Dua!" Menoleh ke Hitsugaya, udah pasangan sama Kira. Satu-satunya yang tersisa cuma midget kecil ini yang berdiri seberangnya. Sepertinya dia juga bingung karena tak ada pasangan.
"Tiga! Sekarang buat barisan yang rapi di depan saya!"
Dengan serentak, mereka semua sudah berbaris di depan Kenpachi-sensei.
"Lho? Kok Kurosaki dan Kuchiki hanya sendiri?"
Yang tersangkut hanya diam, melipat tangan, dan saling memalingkan muka.
"Baguslah! Kalian kan murid favorit saya kalau begitu Kurosaki dan Kuchiki, kalian berdua cepat berpasangan dan baris."
Rukia dan Ichigo langsung berteriak dalam hati, "WTF? Pasangan ama dia?"
"T-tapi.." Ichigo mencoba mengelak.
"Tidak ada tapi-tapian! Ayo cepat kalau tidak kamu saya suruh bantuin Abarai di kebun belakang! Mau kamu?" ancam Kenpachi-sensei.
"Tidak, sensei," Ichigo langsung nyiut sementara Rukia ketawa sendiri.
Akhirnya dengan berat jantung (bosen ama hati -.-), Ichigo segera berjalan ke sebelah Rukia yang masih tertawa dan menyikutnya untuk mengikutinya. Rukia pun cemberut setelah disikut Ichigo. Rukia dan Ichigo berdiri bersebelahan di barisan paling depan. Secara murid favorit Kenpachi-sensei gitu loh.. Selalu jadi contoh bagi murid-murid lainnya. Sementara Rukia dan Ichigo hanya pasrah menerima takdir, murid-murid lain berbisik-bisik memakai telepati.
"Woiii! Lo tau gak sehh... Kurosaki ama Kuchiki tumben lohhh gak berantem..." ucap Kira lebay.
"Bener lu coy! Kesambet apaan ya tuh orang berdua? Jangan-jangan insyaf kali ye?" Hisagi jebe.
"Weleh weleh bukannya merhatiin guru malah sibuk ngegosip di sini... ckckck... mau jadi apa kamu kalau sudah besar nak? Jaman sekarang anak-anak gak ada lagi yang mau dengerin guru." Ishida mulai ceramah gak jelas.
"Waduh pak ustad ceramahnya salah tempat nih! Kalau mau ceramah itu di masjid. Jadi, pak ustad jalan lurus trus belok kanan, mentok, belok serong kiri, mundur, serong kanan, serong kiri, maen seorang wa ahaahahahah... (?)"
Ishida sweat-drop melihat Hisagi yang agak konslet.
"Anak-anak, hari ini kita akan berlatih fisik dan belajar bekerja sama dengan partner. Kerja sama kalianlah yang akan dinilai oleh saya. Mengerti?"
"Mengerti, sensei!" jawab murid-murid serempak.
Namun ada suatu hal yang masih mengganjal di dalam hati Rukia dan Ichigo. Tentang kejadian semalam. Itu yang membuat mereka agak canggung.
Kini keduanya saling berpandangan satu sama lain dan saat mata mereka bertemu, mereka segera memalingkan wajah mereka kembali.
Ichigo POV
"Kurosaki," Ryuu memanggil namaku.
"Apa?" tanyaku.
"Kau... tidak bertanya soal itu?" tanya Ryuu.
"Hal ini bisa kita bicarakan lain kali, sekarang kita harus serius," ucapku tanpa peduli dengan responnya.
Lalu ia mulai berceloteh ria dan aku pura-pura tidak mendengar. Aku agak malas menanyakan hal ini walaupun sebenarnya cukup banyak pertanyaan yang ada di kepalaku. Kenapa Ryuu bisa ada di sini? Kenapa ia menyamar jadi cowok? Kenapa Ryuu sekolah di sini jika kenyataannya ia adalah perempuan? Kenapa ia tidak masuk sekolah perempuan saja? Kenapa...? Kenapa... oh kenapa...? *author ditimpuk*
Aku tidak jadi bertanya kepadanya karena percakapanku tadi dengan Byakuya. Sungguh aku tidak menyangka kalau sensei yang menurutku itu berhati sedingin es di kutub utara akan memohon padaku.
Flashback
"Kurosaki..." panggil Byakuya. "Saya butuh bantuanmu..."
Merasa arah pembicaraan ini menjadi serius, Ichigo pun ikutan memasang wajah serius. (ceilah.. *author dibankai Ichigo*)
"Bantuan apa, sensei?"
"Kurasa anda sudah tahu tentang kejadian yang kau alami semalam bersama Ryuu.
Aku sebagai kakak iparnya bertanggung jawab tentang kejadian ini. Aku memohon kepadamu untuk menjaga rahasia ini," ucap Byakuya.
"Lalu kenapa ia bisa ada di sini? Jadi benar ia perempuan?" tanya Ichigo.
"Ya benar, Ryuu adalah perempuan. Nama aslinya adalah Rukia. Kuchiki Rukia. Mengenai alasan kenapa ia berada di sini mungkin bisa kau tanyakan kepadanya. Aku sangat memohon kepadamu untuk menjaga rahasia ini dan menjaga Rukia."
"Lalu apa imbalannya untukku?"
"Kau bisa meminta apa pun walaupun kenyataan bahwa kau sudah melihat tubuh Rukia yang sebenarnya tidak bisa kutolerir tetapi demi rahasia ini, aku akan membiarkanmu. Baiklah apa yang kau minta?"
Byakuya membiarkan Ichigo untuk berpikir. Ichigo bingung apa yang harus ia minta ke Byakuya. Ia mengingat-ingat apa saja yang ia butuhkan. Dan akhirnya setelah 5 menit berlalu, ia menemukan jawabannya.
Ichigo berjalan mendekati Byakuya dan berbisik kepadanya.
"Sip!"jawab Byakuya dengan seringai seperti Hiruma.
End of Flashback
Aku begitu tidak sabar menunggu libur musim dingin tiba. Akan kubuktikan kalau aku mempunyai pacar! Huahaha...
End of Ichigo's POV
Rukia menatap Ichigo heran. Kenapa pemuda ini? Kok tiba-tiba tertawa sendiri? Karena kesal Rukia menyikut perut Ichigo.
"Awww! What the-! Hei Ryuu! Apaan sih?"
"Kau tidak mendengarkanku ya? Aku sudah bicara panjang lebar, kau malah asyik dengan duniamu sendiri. Pasti kau berpikir yang tidak-tidak ya? Dasar mesum!" ucap Rukia sebal.
"Enak saja kau chibi! Seenakmu saja mengataiku mesum. Bukannya yang bertanya itu biasanya yang mesum ya?" balas Ichigo.
"Kau ini malah mengelak, aku tahu kau tidak mau mengaku ya? Dasar kepala jeruk!"
"Grr.. chibiii!"
Sebelum Ichigo dapat membalas lebih jauh lagi, Kenpachi-sensei sudah memotong duluan.
"Hei kamu, Kurosaki, Kuchiki! Kalian tidak dengar peluit saya? Sekarang waktunya jalan tahu! Cepat jalan sana!"
Rukia dan Ichigo langsung memasang wajah tuh-kan-gara-gara-kau-sih.
"Semua siap! Hitungan ke 3 mulai!"
"1!"
"2"
"3!"
Satu per satu murid segera berlari meninggalkan tempat mereka sebelumnya. Mereka semua berusaha saling mendahului pasangan lain. Namun, Ichigo dan Rukia masih lesu-lesu saja. Mereka berlari dengan santai tak mempedulikan teriakan Kenpachi-sensei untuk berlari lebih cepat. Tetapi begitu mendengar Kenpachi-sensei teriak memakai toa, Rukia menyeret Ichigo untuk berlari lebih cepat.
Ichigo mengimbangi kecepatannya dengan kecepatan Rukia. Kini mereka sudah mendahului semua murid. Mereka akan mulai memasuki rintangan pertama. Mereka harus merayap di lumpur sejauh 200 m. Rukia menoleh ke arah Ichigo dan mengangguk. Ichigo pun mengangguk dan segera merayap dengan cepat.
Ichigo sudah berada di ujung saat menyadari Rukia tidak berada di sampingnya. Rupanya celana Rukia menyangkut di salah satu kawat di sana. Padahal di belakang sudah ada pasangan Hitsu-Kira dan Ishi-Chad. Ichigo segera merayap mundur *emang bisa?* dan membantu Rukia melepaskan kaitannya itu. Beruntung, masalah itu bisa cepat diselesaikan.
Rintangan selanjutnya adalah memanjat dinding setinggi 4 m. Bukan hal yang mudah karena permukaan dinding itu sangat licin. Butuh kerja sama yang bagus untuk menyelesaikannya dengan cepat. Namun, hal itu bukan menjadi masalah bagi Ichigo dan Rukia. Dalam waktu kurang dari 2 menit mereka sudah berada di puncak dan siap melompat turun ke bawah. Padahal murid lain butuh waktu lebih dari 5 menit untuk menyelesaikan rintangan ini.
Kenpachi-sensei sampai takjub melihat kerja sama Ichigo dan Rukia. Padahal mereka sering bertengkar tetapi jika serius mereka juga dapat serius. Kini mereka sudah berada di tantangan terakhir yaitu, melompati ban. Cukup mudah rintangan itu. Rukia dan Ichigo mulai berlompat-lompat melompati ban itu. Namun di ban terakhir, tiba-tiba Rukia terpeleset.
Rukia memejamkan matanya menyangka tubuhnya akan jatuh ke tanah. Namun tak disangkanya, sepasang tangan kekar menahan tubuhnya. Ia pun membuka matanya dan melihat sepasang mata amber yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Wajahnya begitu dekat, hanya terpaut 5 cm jauhnya.
DEG!
Pipi Rukia memanas... tanpa seizinnya jantungnya berdetak kencang...
Perasaan apa ini?
Rukia bertanya-tanya ke hatinya, mengapa ia bisa merasakan hal seperti ini. Hal itu segera buyar karena Ichigo sudah melepaskan pelukannya.
"Hey midget, kau tidak apa-apa?" tanya Ichigo.
"Y-ya.. Aku tidak apa-apa.. Terima kasih.." ucap Rukia tanpa melihat ke arah Ichigo.
Ichigo beruntung karena Rukia tidak menoleh ke arahnya. Wajahnya tadi sudah merah sekali saat merasakan Rukia berada di pelukannya. Jantungnya juga ikut berdetak kencang.
"Ayo kita lanjutkan.. tinggal sedikit lagi.." ucap Rukia, memecah keheningan.
"Ya.."
Mereka pun akhirnya menyelesaikan latihan ini sebagai pasangan pertama. Pasangan kedua adalah Ishi-Chad. Dan yang ketiga Hitsu-Kira. Kenpachi-sensei memutuskan untuk memasukkan Rukia dan Ichigo ke daftarnya. Daftar nama yang akan diajukan ke kakek Yama.
Setelah latihan selesai, Rukia meminta izin untuk ke toilet. Ia ingin membasuh mukanya yang masih panas. Jujur saja, detak jantungnya yang berdetak kencang ini tidak mau mereda. Daripada ia dikira sakit lebih baik ia menenangkan diri dahulu.
Namun, ia tidak menyadari ada 2 orang yang mengikutinya dari belakang. Ia juga tidak menyadari orang tersebut sudah mengendap-endap di belakangnya. Ia hanya menyadari kalau tiba-tiba ia dipukul dari belakang dan pingsan seketika...
.
.
TBC
Akhirnya selesai juga ni chapter. Tapi sebenernya ni chapter jayus amat yak? Iya gak sih? *tidak percaya dengan kejayusan sendiri*
Ane juga yakin reader banyak yg kangen ama saya... *GR mode on*
Eitt... jangan ngeclose dulu dong.. becanda.. yang kangen itu saya.. saya kangen dengan review dan membayangkan muka kalian pas lagi baca ni fic. Pasti ada yang ketawa, ada yang kesel, ada yang nangis (?) macem2lah.. namanya juga ngayal.
Daripada ane curcol melulu mendingan bales review. Yosh.. balesan chapter sebelumnya:
Chap 7
Nonichi: Nah jujur review anda membuat saya tersentak. Namun semoga cerita di atas bisa diterima dengan tawakal wwkwkwk :D
Chap 8
Rossi D'scHiffer sUgar: Makasih ya udah review.. mind to review again?
Chap 9
AngelTeuk Airi Kuchori Akiyama: Rukia bakal diapa-apain ama Ichigo! Saya yakin itu! *ditampol Ichi* Hehehe, saya rasa alasannya ada di chap 8. Silahkan dibaca dan jangan lupa review lagiii…
Shino-xXxXx : Speechless mau bales apaan.. ya sudahlah review aja lagi yaaa
Arum: Makasih doanya supaya banyak ide. Maaf kalau idenya tidak seperti yang diharapkan yang penting review lagi yaaa
Pengumuman (chap 10)
Rakha Matsuyama: Gak nyangka aka nada yang sampai setia menunggu author sampai seperti ini *nangis bawang putih* author udah balik lagi kok.. maaf ya sudah membuatmu menungguku… *korban sinetron* dan review lagi
ichiyama qalbi-neechan: Salam kenal juga. Makasih udah ngefave :D Review lagi ya…
HakuZuka : Salam kenal juga ya Haku-san.. Saya tak menyangka cerita saya unik.. *lebay* boleh difave kok makasih ya.. asal jangan direport aja hehe saya akan bertanggung jawab untuk kelanjutan cerita ini. Tapi kalau makin jelek jangan tinggalkan saya… review lagi?
AngelTeuk Airi Kuchori Akiyama: Waktu itu saya hiatus gara2 mau ngejer ketinggalan pelajaran karena sakit cacar jaha**m! Jadi dengan berat hati *kurang lebih 5 kg* saya terpaksa hiatus. Saking keenakan hiatus jadi kelebihan dari yang dikira. Gomen ya.. mind to review? Oh ya nama FB : Andira Wulandari.
Buat para silent reader, semuanya deh.. author mengucapkan beribu-ribu maaf karena kelebihan hiatus hehe.. trus juga author mau minta pendapat dari para reader nih. Kira-kira mendingan author ngupdate fic satu-satu trus cepat atau mendingan lama tapi sekali update langsung semuanya update? Nah menurut reader gimana tuh?
Trus juga ada yang tahu cara yang sadis buat nyiksa Rukia di chap selanjutnya? *dilempar Ruki ke ciliwung*
Bagi yang tahu silahkan jawab di review! =D
