Hola, readers…
Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Janji author yang update 3 bulan sekali bener kan? Walaupun mustinya 30 September, lewat seminggu gak papa kaaann…. *maksa*
Saking sibuknya author, klo ada typo atau kata-kata gak jelas, de el el.. author mohon maaf karena author gak ada waktu buat ngecek lagi. Kayaknya gak perlu ba bi bu lagi/ ngeles buat ngejelasin alasan author telat kan, karena yang penting author tetep update kan? Iya kan? Iya kan? *maksa.. lagi*
Then, presents…
Disclaimer: Don't own Bleach.
Pair: IchiRuki
Genre: Romance/Humor
Rated: T
Warning: OOC, abal, gaje, freak, dll.
.
.
Chapter 12 – Jadi Cowok?
Multi-chapter
Don't Like Don't Read
.
.
Recap!
"A-ada apa?"
"Ichigo, Ryuu..."
DEG!
End of Recap!
Ichigo's POV
Aku merasakan jantungku berdebar kencang di saat aku mendengar nama Ryuu disebut. Apakah sesuatu terjadi kepadanya? Apakah ini kabar baik? Atau kabar buruk? Begitu kulihat raut wajah Ishida, Chad, Yumichika-senpai, Ikkaku-senpai, dan Renji, aku yakin, aku tidak akan suka mendengar berita ini.
"Ichigo, Ryuu dalam bahaya... kita harus segera menolongnya!" ujar Yumichika-senpai dengan nada panik.
"Apa maksudmu dengan Ryuu dalam bahaya?" tanyaku.
"Ryuu dikeroyok oleh Grimmjow!"
Jantungku segera berdetak cepat begitu mendengarnya.
"Apa? Kau tidak bercanda kan? Bagaimana bisa?"
Kami-sama… apa yang telah terjadi?
"Aku tidak bercanda. Aku mendengar sendiri perkataan Nnoitora dan Yammy tadi di toilet," ujar Ikkaku-senpai. "Dan jangan menganggap aku mengintip mereka! Pokoknya kita harus segera menyelamatkan Ryuu sekarang juga!" sambung Ikkaku-senpai berapi-api.
"Dimana… dimana ia disekap?" tanyaku dengan nada panik. Kami-sama… semoga Rukia baik-baik saja.. Plis…
"Dia disekap di gudang belakang dekat toilet!" jawab Yumichika-senpai.
Otakku segera berpikir keras dan menyusun rencana-rencana yang harus kami lakukan.
"Senpai, tolong panggil ambulan! Renji, Ishida, tolong panggil Kuchiki-sensei! Dan Chad, bantu aku untuk mendobrak pintu gudang!"
Semua orang mengangguk dan segera beranjak dari kamarku. Aku sendiri segera berlari bersama Chad menuju gudang belakang.
Rukia, bertahanlah… Aku akan menolongmu…
End of Ichigo's POV
.
xxxxxxxxxxxx
.
Normal POV
Ishida dan Renji tengah berlari ke arah ruang guru. Mereka berlari dengan kecepatan yang cukup tinggi, setidaknya melebihi kecepatan kereta api express dari Tebet ke Bogor. Mereka yakin untuk berlari secepat itu karena tidak ada yang menghalangi laju mereka.
Namun…
Tak disangka-sangka ada sebuah halangan tepat di depan mereka, radius sekitar 150 meter. Ternyata halangan itu adalah Kenpachi-sensei dan Byakuya-sensei sedang membawa tumpukan kertas ulangan. Renji dan Ishida panik tingkat ujian nasional.
Mereka tambah panik lagi karena sudah menekan klakson (?) berkali-kali namun tidak juga terdengar oleh mereka. Dan terpaksa, saking congeknya kedua guru itu, mereka harus memakai klakson manual! Ishida menoleh ke arah Renji dan memberi sinyal kepada Renji untuk melakukannya bersama-sama. Ishida dan Renji pun mengambil napas dalam sebanyak yang mereka bisa hingga dada mereka membesar, bagaikan si jagoan wanita yang di film Kungfu Hustle yang akan mengeluarkan jurus teriakan macan, mereka pun berteriak untuk menghindari tabrakan maut,
"AWAAAAAAAASSSSSSSSS!"
Terlambat.
Mereka sudah keburu menabrak Kenpachi-sensei dan Byakuya-sensei.
BOOOM!
Begitulah suara tabrakan naas mereka. Kertas-kertas beterbangan layaknya bunga sakura yang gugur. Kenpachi-sensei jatuh terduduk, Byakuya jatuh tengkurap sementara itu Ishida dan Renji nyungsep ke got. Untung saja got itu kering.
"Apa-apaan ini?" tanya Kenpachi marah.
Renji dan Ishida yang baru saja bangun dari tabrakan itu tidak menghiraukan pertanyaan Kenpachi, mereka malah langsung menarik Byakuya untuk berlari bersama mereka. Kali ini giliran Byakuya yang bingung.
"Eh eh eh apa-apaan ini main tarik-tarik aja?"
"Sensei! Itu… anu… itu… anu…anu… itu… aakhh.. anu…" Renji mulai gagap lagi.
"Itu anu itu anu terus! Emangnya saya ngerti?" balas Byakuya marah-marah.
"Ryuu babak belur sensei!" Akhirnya Ishida angkat bicara karena penyakit gagap Renji belum sembuh sampai sekarang. *author diserbu pasukan babon*
"UAAAPPPAAA?" teriak Byakuya heboh.
Teriakan yang frekuensinya lebih dari 20.000 Hz itu berhasil merubuhkan jembatan yang baru saja akan diresmikan pembuatannya. Bahkan mengalahkan motor Yamaha-nya Komeng yang baru saja mau jalan. *sejak kapan Komeng ada di Jepang?* Akhirnya, Komeng pun mojok di pojokan karena lagi pundung. #korbaniklan
"Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang, sensei!" ujar Renji yang baru selesai sakit gagapnya.
"Kalau begitu, kemana kita sekarang? Kita harus menyelamatkan Ruki- eh Ryuu!" teriak Byakuya histeris.
"Ryuu disekap di gudang belakang, sensei! Ichigo dan Chad sudah duluan kesana," jelas Renji.
.
xxxxxxxxxxxxx
.
Ikkaku dan Yumichika berlari kencang bagaikan dikejar genderuwo. Mereka berlari secepat mungkin ke kantor guru. Membanting pintu (yang menyebabkan Kakek Yama latah) dan berlari ke arah telpon. Yumichika meraih gagang telpon dan segera menekan tombol nomor rumah sakit.
14045
Kok jadi 14045?
"Selamat siang, dengan saya Yumiko di McDonalds cabang terdekat bisa dibantu?"
"Saya pesan paket panasnya 8, kentang-" ucapan Yumichika terpotong saat Ikkaku membungkam mulutnya. "Mmmphh….kmmphh…"
"EH! Kok malah mesen McD, kita kan mau nelpon rumah sakit."
"Tapi gua laper coy! Gua yakin lo juga laper kan? Kita mesen makanan dulu baru nelpon rumah sakit," ujar Yumichika. Ikkaku nurut aja. Dasar! Bukannya nolong orang yang jadi prioritas utama malah makanan dulu… Ckckckck….
"Jadi, paket panasnya 8, kentang gorengnya yang ukuran large 3, sama burgernya 2 ya.."
"Alamatnya dimana?"
"Karakura's Army School, gedung 5!"
"Kalau begitu totalnya 45,000 yen. Harap tunggu setengah jam lagi."
Yumichika mengakhiri panggilannya dan kembali menekan tombol.
0123*****
"Selamat siang, terima kasih telah menghubungi Rumah Sakit Karakura. Dengan saya Emi ada yang bisa dibantu?"
"Saya butuh ambulan untuk datang ke sini sekarang juga!"
"Maaf, kesini itu dimana ya?"
"Oh iya! Maksud saya ke Karakura's High School! Tolong Emi-san, ini sangat gawat!"
"Baiklah, ambulan dari rumah sakit kami akan segera ke sana secepat yang kami bisa!"
Pembicaraan pun segera terputus. Ikkaku dan Yumichika memutuskan untuk menyusul Ichigo dan Chad. Pada saat mereka mau berbalik, tiba-tiba Kakek Yama berdiri di belakang mereka.
"Hei.. kalian sedang apa?" tanya Kakek Yama dengan nada seram bagaikan hantu yang muncul tiba-tiba.
"OH MY GAWWDD! Iih… Kakek Yama, kirain siapa~ Ngagetin aja deh, jantung eike hampir copot nih... Kalau jantung eike copot kan bisa rempong~" Yumichika memukul-mukul manja pundak Kakek Yama ala banci taman lawang. *tau kan maksudnyaa* (Author aja heran kenapa dia bisa masuk sekolah tentara :| )
"Kalian ngapain nelpon ambulan? Ada yang sakit?" tanya Kakek Yama penasaran.
"Ini, Kek.. Ryuu habis dikeroyok sama…" Ikkaku mengisyaratkan Kakek Yama mendekat. Ikkaku berbisik ke Kakek Yama tentang siapa pelakunya. "Trus kami disuruh Ichigo untuk nelpon ambulan," ujar Ikkaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak ada rambutnya.
"DEMI WHAT RYUU DIKEROYOK? Aku akan segera menghukum mereka semua! By the way, kok baru ngasih tau siiih?"
"Eh..eh.. ini kejadiannya juga baru tadi kalee…"
"Pokoknya kita musti ke sana! Sekarang!" Kakek Yama langsung nyeret Ikkaku sama Yumichika pergi dari ruang guru.
.
xxxxxxxxxxxxx
.
Ichigo dan Chad sudah sampai di depan gudang belakang. Tidak ada siapa-siapa di sana. Sepi. Kata yang tepat untuk menggambarkan suasana di sekitarnya sekarang. Ichigo segera berlari ke gudang dan mencoba untuk mendobrak pintunya.
BRAKK
Pintu tidak terbuka. Hanya sedikit celah yang terbuka, sisanya tertutup rapat. Rupanya mereka benar-benar berencana untuk membiarkan Rukia tidak sadarkan diri hingga membusuk di dalam sana. Sialan! Ichigo mencoba untuk mendobrak lagi tetapi hasilnya sama. Malah celah itu tidak tambah terbuka. Celah sekecil itu saja tidak cukup untuk melihat keadaan di dalam sana, apalagi mau masuk. Semut aja gak bisa masuk kali, pikir Ichigo jengkel.
Tidak cukup untuk badan sebesar dirinya maupun Chad untuk bisa masuk ke dalam sana. Ichigo mengintip sedikit ke dalam. Gelap. Tidak ada cahaya sama sekali yang menerangi. Pikiran Ichigo pun tambah kalut mengingat Rukia berada di dalam sana dengan tubuh yang habis dikeroyoki. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana kondisinya saat ini.
Chad yang daritadi hanya memperhatikan, berinisiatif untuk mengambil alih posisi Ichigo. Ia mengerti apa yang Ichigo rasakan saat ini, apalagi Ryuu adalah teman seasrama mereka. Chad menepuk pundak Ichigo dan menyuruhnya untuk minggir.
"Ichigo, tolong menyingkir."
Ichigo sadar akan kekuatan temannya ini. Ia pun menuruti permintaan Chad. Chad mengambil nafas terlebih dahulu, lalu menghantam bahunya ke pintu gudang itu.
BRUAAKKK
Pintu gudang itu roboh ke bawah dan menampilkan tubuh Rukia yang tidak sadarkan diri. Ichigo segera berlari ke arah Rukia dan menepuk-nepuk pelan pipinya, mencoba untuk membuatnya siuman.
"Rukia? Rukia?"
Rukia tidak memberikan respon apa-apa. Ia tetap tidak sadarkan diri.
Ichigo memeriksa kondisi tubuh Rukia. Dingin sekali. Namun, detak jantungnya masih terasa. Bedebah! Apa yang telah mereka perbuat ke Rukia? Ichigo memeluk Rukia mencoba untuk menghangatkannya. Ia mengelus-elus tangannya, mencoba untuk menurunkan suhu tubuhnya.
Di dalam hatinya ia mengutuki dirinya sendiri. Kenapa ia tidak ikut bersama Rukia tadi? Kenapa ia membiarkannya pergi sendiri? Kenapa? Kenapa…? Padahal baru saja, Byakuya memberikan kepercayaan kepadanya hari ini, kenapa secepat itu ia menghancurkan kepercayaan itu? Ichigo pun memeluk Rukia lebih erat lagi. Bibirnya menyentuh kening Rukia yang masih terasa lembab bibirnya.
Sementara itu, Chad merasa bingung dengan panggilan Ichigo kepada Ryuu barusan. Tadi, Ichigo memanggil Ryuu dengan sebutan Rukia. Apakah bisa terjadi salah sebut nama? Atau bisa saja lidah keseleo sehingga menyebut nama Ryuu menjadi Rukia. Mungkin Rukia adalah nama pacarnya dan mirip dengan Ryuu sehingga Ichigo salah sebut nama. Cukup dengan masalah salah menyebut nama.
Masalah itu bertambah lagi ketika Ichigo memeluk Ryuu. Kenapa musti pake acara meluk-meluk? Maksudnya, Ryuu kan cowok, masa Ichigo musti meluk-meluk dia saking paniknya? Mana tangannya Ryuu ikutan dielus-elus lagi! Hei! Jangan-jangan Ichigo itu… maho lagi? Tapi, masa sih? Ichigo… maho? Ichigo tidak pernah menunjukkan tanda-tanda jika ia maho. Membayangkan Ichigo maho saja membuat Chad bergidik ngeri.
Tapi masalahnya lain lagi jika Ryuu adalah perempuan.
Sekilas pernyataan itu terlintas di pikiran Chad. Cuma sedetik. Walaupun Cuma sedetik, pernyataan itu membuat hati Chad siap untuk byebye..Soalnya kemungkinan jika Ryuu adalah perempuan adalah 30% dilihat dari melihat tindak tanduk Ryuu yang agak mencurigakan setiap kali mau mandi. Bukan! Bukan karena Chad pernah ngintip Ryuu mandi! Bukan seperti itu! Chad anak yang baik, Chad tidak akan pernah mengintip orang mandi. Kakeknya tidak pernah mengajarkan hal itu kalau neneknya pernah… Nah loh…
Okeh, balik ke masalah tindak tanduk Ryuu yang mencurigakan. Pertama, *author ngacungin jari, (penting banget deeeh..)* Ryuu tidak pernah mau mandi bersama teman-teman di kamar mandi bersama. Ia lebih memilih menunggu antrian panjang dan setelah itu mandi sendiri. Mandi sendiri itu juga setelah ia menyuruh semua orang untuk meninggalkan kamar mandi dengan aura neraka tingkat 10. Lalu kedua, ketika ia menunggu antrian, ia selalu menunggu di luar. Ia tidak pernah mau disuruh menunggu di dalam.
Katanya, "Mendingan aku melihat wajah Sadako, kuntilanak, genderuwo atau apaan kek di luar daripada melihat tubuh kalian yang bau asem itu bertebaran di mana-mana!" Ketiga, ia juga selalu mandi malam-malam. Menunggu semua orang terlelap. Baru ia mandi. Jadi, setelah melihat keanehan-keanehan itu, kemungkinan Ryuu adalah perempuan bisa saja benar.
Pernah juga sekali, Chad melihat kumis Ryuu miring. Merasa bingung, Chad pun menutup mata selama beberapa detik lalu saat mengalihkan pandangannya ke Ryuu lagi, kumisnya sudah rapi seperti semula. Masa kumis yang miring bisa ditarik jadi normal lagi jika kumis itu bukan kumis palsu. Kadang-kadang juga, suka ada poni di rambut Ryuu, padahal setahu Chad, Ryuu poningnya itu sedikit jabrik dan berwarna sedikit kecoklatan, tetapi poni yang ini warnanya hitam. Apakah bisa rambut berbeda warna pada saat bersamaan? Itu berarti kemungkinan Ryuu adalah perempuan bisa terjadi!
Mengingat itu, Chad jadi inget sinetron-sinetron yang ceritanya cewek nyamar jadi cowok. Sekali lagi bukan karena Chad suka nonton sinetron. Tapi karena author yang suka nonton sinetron! Eh bukan! Salahkan nenek author! Salahkan dia karena tiap hari nontonnya sinetron! Back to da problem, intinya Chad inget itu aja! *gaje tingkat parah*
Tak lama kemudian rombongan Byakuya, Renji, dan Ishida datang. Diikuti para perawat dari rumah sakit dan rombongan Kakek Yama, Yumichika, dan Ikkaku pun ikut mengekor di belakang mereka. Ichigo segera bangun, menggendong Rukia ala bridal style, layaknya seorang pangeran yang menggendong kekasihnya yang sakit. Ichigo menempatkan Rukia di tempat tidur itu pelan-pelan dan ikut masuk ke ambulan.
Murid-murid lain pun mulai berdatangan. Penasaran dengan apa yang sedang terjadi hingga harus memanggil ambulan datang. Yumichika dan Ikkaku bertugas jadi body guard dadakan. Menghalangi setiap murid yang ingin melihat kejadian yang sedang berlangsung.
Byakuya dan Kakek Yama tidak tinggal diam. Mereka segera menyusul ambulan ke rumah sakit Karakura. Sementara itu, Renji dan Ishida yang masih ngos-ngosan habis lari, serta Chad ditinggalin begitu saja. Tidak ambil pusing dengan masalah ditinggalin-begitu-saja, Chad memutuskan untuk berbicara.
"Bro.." panggil Chad kepada kedua temannya.
"Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan Ryuu," sambung Chad.
"Janggal? Apanya? Kayaknya dia biasa-biasa aja tuh!" timpal Renji.
Ishida hanya mengangguk. Tumben amat dia gak ngomong. Biasanya dia yang angkat bicara duluan. Chad pun bicara lagi.
"Aku bisa merasakan tingkah lakunya sedikit lain dari biasanya."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu." Kali ini Ishida yang bicara.
Untungnya Chad itu selain baik hati dan tidak sombong, Chad juga sabar. Tentunya, sabar menghadapi kedua sahabatnya yang gak konek-konek juga diajak ngomong. Lagi serius-serius juga! Chad pun menceritakan semuanya, hipotesanya, alibinya, bagaimana terjadinya, dan nya nya nya yang lain.
Ishida dan Renji mendengarkan penjelasan Chad dengan seksama. Ishida mengangguk tanda mengerti sementara Renji mengangguk tanda tidak mengerti.
"Eh, serius deh, kita lagi ngomongin apaan sih?" tanya Renji sambil nyengir lebar.
GUBRAK!
Ishida nepok jidatnya. Emang susah ya punya temen kayak gini. Bawaannya itu pengen di….. pokoknya pengen diapa-apain deh. (Jangan mikir yang macem-macem!)
Akhirnya, Chad dengan kesabaran tingkat tinggi, kembali menjelaskan ceritanya tadi. Setelah selesai, Renji memekik gembira.
"Ooohhh… jadi maksud dikau.. Ryuu itu cewek?"
Chad mengangguk pelan.
"Yahh… setelah mendengar cerita Chad, aku juga rada ngerasa sih…" tambah Ishida.
"Tapi gak mungkin deh kayaknya…. Buat apa coba dia masuk ke sini? Masa dia mau ngintip kita-kita gitu? Kalaupun iya dia cewek, jangan-jangan dia cewek psikopat yang suka ngintipin cowok? Trus karna dia udah ngintipin kita-kita, dia nyebarin foto bugil kita di internet… OMG! Gimana ini, Ishidaaaa?"
"Gimana apanya?" tanya Ishida rada bego.
"Gimana kalau gua jadi terkenal gara-gara itu? Kalau tiba-tiba gua jadi artis gimanaaa? Apa kata bonyok gua ngeliat gua masuk tipi?" Ratapnya tanpa berhenti.
Renji dijitak ama Ishida.
"Plisss deh gak usah lebay gitu… Lo tuh kayak anak muda sekarang nih, lebay! Sesuatu banget deh.."
Renji ingin bales omongannya Ishida, tetapi Chad keburu melerai.
"Woi, bro.. Kayaknya kita susul Ichigo aja deh dulu, kita juga musti tau gimana kabarnya Ryuu sekarang. Urusan Ryuu cewek apa cowok bisa nanti-nanti. Intinya sekarang kita yakin dan percaya kalau dia itu cowok." Chad berusaha berpikir optimis.
Ishida dan Renji mengangguk setuju.
Mereka semua hendak meninggalkan gudang itu kalau Renji tidak menahan mereka.
"Eh tunggu, ada yang nyangkut di sepatu gua!"
Ishida dan Chad pun berhenti untuk menunggu Renji.
Renji pun menarik benda yang menyangkut di sepatunya itu.
Melihat benda yang menyangkut itu, matanya melebar seketika. Tidak hanya Renji, Chad dan Ishida juga.
Benda itu adalah sebuah wig. Wig berwarna kecokelatan dan sedikit jabrik.
Mereka semua berpandangan. Renji natap Chad, Chad natap Ishida, Ishida natap si wig. Lalu mereka mengangguk bersamaan dan segera berlari ke parkiran.
Arti dari anggukan mereka adalah… mereka harus ke rumah sakit sekarang juga…
TBC
*mengeluarkan nafas lega* Fiuhhh…. Akhirnya selesai juga chapter ini.. Ini udah author tahan-tahan dari bulan kemaren sebenernya, sayangnya author gak sempet ngelanjutin gara-gara begitu masuk sekolah langung ulangan. Bayangin author ulangan biologi, bahasa Jepang ama MTK, gimana gak otak author kejang-kejang?
Tetapi author tetap berniat melanjutkan karena author muak dengan rumus fisika, matematika, dan rumus-rumus yang lain. Alhasil, chapter 12 selesai juga. Chapter ini juga kado dari author untuk eps 342. Walaupun baru liat spoilernya di tumblr (gak sempet nonton), author seneng banget! Pengen teriak-teriak tapi malu ama tetangga jadinya teriak di bantal, jingkrak-jingkrak di kasur sampai senyum dipancarkan seharian. Lebay banget ya? Tapi author penasaran dengan gimana reaksi readers yang GO ICHIRUKI!
Balasan chapter sebelumnya….
Anezakibeech: Kayaknya saya musti sujud di depan anda, maaf ya… di chap ini gak ada romance sama sekali.. yang ada malah.. *ngintip chap 12* malah kejayusan tingkat tinggi! Tapi author janji, chapter depan ada romancenya! Full atau enggak itu urusan saya hehe =D Tapi makasih ya reviewnya… review lagi boleh?
nenk rukiakate: Hallo juga, nenk kate-san! (^.^) Nama saya kepanjangan ya? Kan sekarang lagi jaman nama panjang2 hehe… (apa hubungannya?) Panggil saya, Ou-chan atau Ou-kun, terserah sih yang penting ada namanya. Gak papa kok baru review asal selanjutnya review terus ya? Ichigo gak nolongin Ruki emang sengaja biar dramatis gitu.. saya lagi hobi bikin drama walaupun hasilnya ancur parah. Nah, yg full ichiruki saya bilang kemaren itu kan 'di chapter selanjutnya' berarti di chapter selanjutnya selanjutnya selanjutnya dan selanjutnya bisa dong? (baca: ngeles) Beribu-ribu maaf, ni chapter gak ada romance sama sekali, chapter depan ya? Ok? Setuju ya? Ikhlas kan? Hehehe… By the way.. makasih atas reviewnya… Review terus ya…
Kyucchi: Author emang sengaja biar gak ada yang nolongin Ruki (digiles pake bulldozer) biar jadi dramatis di saat2 Ichi nolongin Ruki ^^a Tapi kalau yang diatas gak dramatis… ya udah deh.. *pundung* Makasih ya.. Kyu-san.. atas reviewnya.. don't forget to review…
Zanpaku-nee: Hai jugaaa \(^.^)/ Boleh boleh.. manggilnya boleh apa aja.. asal jangan yang aneh-aneh.. Juju raja saya belum pernah nonton Hana Kimi lho.. pengen beli cdnya tapi gak ada waktu buat nonton hiks hiks.. Bener banget! Maid-sama, Dengeki Daisy, ama Bleach itu mirip2 bgt charanya *histeris* aku aja sempet ngira Maid-sama itu Bleach sebelum tahu nama pengarangnya tapi Bleach baru ngikutin tahun kemaren dan masih dibilang buta banget… Makasih reviewnya.. review lagi boleh..
Dina rukia kuchiki D'hollow: Mukaku menjadi merah merona melihat review anda. Membuatku ngefly sampai ke ujung dunia… LOL… Review lagi ya?
Reina Rukii: Jika anda muridnya Deddy kobotak, saya akan berguru ke Limbad kogondrong! Author emang tega! Author emang kejam! Author emang jahat! *konslet* Nih, saya udah update.. Jangan lupa review lagi.. :D
Purple and Blue: Okeh.. review aja yaahhh ^^/
HakuZuka: Update sesuai request.. Salam kenal ya… Review lagi boleh?
Vicky Schiffer: Aku dipanggil kakak? *nunjuk diri sendiri* Plis, jangan manggil kakak, saya belum setua itu hiks hiks.. Update kilat…
HAna RUna onNa: Update sesuai request…
Tsukiyomi Amu-chan Hinamori: Login dimanapun boleh asal direview hehe.. lanjutannya ada di atas… \(^.^)/
Semuanya makasih atas review anda dan waktu yang anda habiskan untuk baca fanfic ini, chapter ini… Saya berharap semua yang anda inginkan bisa dikabulkan oleh Allah SWT…
Buat yang mau UTS besok, belajar… jangan baca fanfic aja.. Author masih nyantai karena UTSnya masih minggu depan hehe d(^.^)b Pokoknya ganbatte!
Ja ne!
Outer Space Alien XV
