FT Island Fan Fiction

Hate & Resentment

©MikiHyo

Jeongmal Mianhae, kalau paragraph sama kata" berantakan. Aku newbie disini, masih gak ngerti edit" biar rapi kya FF lain. Kalau ada yg tau format supaya bisa rapi, tolong tulis direview yah ^^

Jeongmal Gomawo udah review, aku gak tau review kalian bisa dibales pa gak, makanya aku gak pernah bales _

OK Happy Reading!

Chapter 3

"Wonbin ah…hari ini tidak apa-kan kalau tidak langsung pulang?"tanya Jonghun dengan wajah penuh semangat.

"Ha? Kenapa?"

"Yah…ayolah…temani aku dulu di tempat favoritku…"

"Sungai Han? Aigoo…kau mau apa lagi disana?"

"Tidak ada…hanya ingin menghabiskan waktu dengan sahabatku"senyum Jonghun.

"Sahabat?"kaget Wonbin.

"Hmm…tidak mau kupanggil sahabat yah? Tentu saja…mana bisa aku menggantikan posisi sahabat lamamu"Jonghun mempercepat langkahnya sedikit untuk mendahului Wonbin.

"Eh? Kau…?"Wonbin-pun mempercepat langkahnya juga untuk mengejar Jonghun.

Tiba-tiba Jonghun membalikkan badannya, menghadap kearah Wonbin.

"Iya, Lee Hongki. Sahabat lamamu-kan?"senyum Jonghun.

"Darimana kau tahu?"

"Hehe…itu rahasiaku…"

"Jonghun dengar, aku dan Hongki…"

"Aku sudah tahu kok…lagipula SMP Hongki sama denganmu-kan? Kau jahat sekali…waktu kutanya teman yang satu SMP denganmu, kau bilang kau tidak tahu. Padahal itu sahabatmu sendiri…"seketika raut wajah Jonghun berubah, seakan ia sangat kecewa terhadap Wonbin.

Wonbin terkejut dengan ucapan Jonghun, ia takut Jonghun kecewa padanya.

Jonghun melangkahkan kakinya mendekati Wonbin.

"Nee…Wonbin ah…kau harus minta maaf padanya"raut wajah kecewa yang Jonghun tunjukkan barusan langsung pecah saat ia mengeluarkan senyumnya.

"Aku rasa kalian masih bisa baikan, karena itu minta maaflah padanya"senyum Jonghun.

"Jo…Jonghun?"

"Baiklah! Kau tunggu aku di sungai Han, jangan kemana-mana! Aku akan segera kembali!"tanpa bicara lagi, Jonghun langsung berlari meninggalkan Wonbin.

"Jonghun!"Wonbin hanya bisa terdiam ditempatnya berdiri.

"Ya! Kau mau bawa aku kemana?"bingung Hongki yang tangannya terus ditarik oleh Jonghun menuju suatu tempat.

"Sudah…ikut saja! Ada orang yang mau bertemu denganmu. Aku sudah katakan semuanya padanya, sekarang Hongki sudah jadi anak baik, jadi dia bisa bicara denganmu, haha"senyum Jonghun.

"Haa? Aku tidak mengerti"

Mereka-pun sampai di pinggir sungai Han, tempat biasanya mereka menghabiskan waktu sepulang sekolah.

Hongki terkejut saat melihat seseorang yang sangat ia kenali berdiri disana.

"Hongki…"ucap Wonbin dengan suara pelan.

Jonghun-pun mendorong Hongki mendekati Wonbin.

"Ah…iya…"Hongki tak tahu harus memasang raut wajah seperti apa saat Wonbin memanggil namanya setelah sekian lama.

Suasana langsung hening saat keduanya bertatap muka. Jonghun hanya berdiri diam disamping mereka.

"Aku minta maaf atas sikapku selama ini!"

Wonbin terkejut saat mendengar permintaan maaf Hongki, begitu juga Jonghun. Kenapa dia yang minta maaf?

"Hongki ah…kau…"Wonbin berusaha mengeluarkan suaranya untuk bicara dengan Hongki.

"Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir dengan sikapku selama ini…aku bahkan bilang aku membencimu…aku benar-benar minta maaf…"Hongki terus-terusan mengucapkan kata maaf dan membungkukkan badannya. Seketika Wonbin-pun langsung mengangkat badan Hongki.

"Tidak…kau memang pantas membenciku! Aku yang sudah membuatmu kecewa…aku tidak bisa membelamu…aku bahkan membuatmu menjalani ujian didalam tahanan…Hongkia ah…maafkan aku…."tanpa ia sadari, air matanya mulai mengalir. Wonbin menangis didepan Hongki.

"Bodoh…dari dulu kau memang Silly…"Hongki menatap tajam mata Wonbin.

"Ng?"

"Laki-laki macam apa kau, masa minta maaf sampai menangis?"Hongki memukul pelan kepala Wonbin yang tidak bisa menghentikan airmatanya.

"Waktu itu aku tidak tahu harus bagaimana…aku…!"

"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya…aku mengerti…"senyum Hongki yang menghentikan kata-kata Wonbin.

"Bagaimana…?"

"Jonghun sudah menjelaskannya padaku"

Wonbin-pun menoleh kearah Jonghun, dan Jonghun hanya tersenyum.

"Tapi…tidak seharusnya aku bersikap mengacuhkanmu"

"Sudahlah, aku mengerti…pasti perasaanmu waktu itu sangat kacau, karena itu…tapi aku memang kesal sekali, ukh…aku benar-benar benci padamu"ketus Hongki, raut wajahnya langsung berubah marah.

Wonbin tersentak mendengar Hongki membencinya, itu berarti ia tidak dimaafkan?

"Ho..Hongki ah? Ucapanmu…"Jonghun-pun terkejut.

Tiba-tiba Hongki mengangkat tangannya dan menepuk punggung Wonbin.

"Karena itu, kau harus kembali padaku…kalau tidak sampai kapanpun aku akan membencimu…yah walaupun aku sudah minta maaf"senyum lebar Hongki.

"Hongki ah…"

"Sudahlah…lupakan saja masalah ini, aku malas mengingatnya…"gerutu Hongki.

Wonbin-pun langsung tersenyum dan mengangguk.

"Wah…akhirnya kalian baikan juga, syukurlah…aku lega sekali"senyum lebar Jonghun.

"Iya, ini juga berkat kau, terima kasih"Hongki mengacungkan jempolnya pada Jonghun.

"Jonghun…aku tidak tahu yang kau lakukan selama ini, tapi aku benar-benar berterima kasih padamu"senyum Wonbin.

"Nee…tidak masalah, aku hanya ingin lihat teman-temanku bersama lagi. Aah…jadi sekarang sahabat lama bersatu kembali, mungkin orang baru sudah harus pergi"senyum pahit Jonghun sambil memalingkan wajahnya.

"Ha? Apa maksudmu?"Hongki langsung terkejut dengan ucapan Jonghun.

"Jonghun? Ada apa denganmu? Aku tidak mengerti…"Wonbin-pun tak kalah terkejut.

Jonghun diam sejenak, tak lama ia-pun tertawa lepas.

"Hahahaha, lihat wajah kalian! Jelek sekali! Padahal aku baru bicara seperti itu, hahahaha"

"Buak!"Hongki-pun memukul Jonghun kemudian mencubitnya.

"Apa-apaan kau ini?"

"Jonghun, kau membuatku terkejut! Kau benar-benar orang yang menyebalkan!"Wonbin tak kalah memarahi Jonghun.

"Aaaa…haha, maafkan aku..maafkan aku..aku hanya bercanda kok"

"Ya!…dasar anak kurang ajar, aku sudah dibodohi olehmu, ck"

"Hongki, biarkan saja dia. Kita tinggal pulang"Wonbin-pun menarik tangan Hongki.

"Omo? Tunggu! Tunggu! Baik…aku tidak akan melakukannya lagi…"senyum Jonghun.

"Hmm…baiklah, mulai sekarang tidak ada lagi istilah sahabat lama dan orang baru, kau, Wonbin, dan aku adalah sahabat!"seru Hongki.

"Baiklah, aku terima tawaranmu"senyum nakal Jonghun.

Lagi-lagi sore dipinggiran sungai Han dipenuhi oleh tawa ceria ketiga sahabat itu.

"Apa-apaan foto ini?"marah wakil kepsek sambil menunjukkan sebuah foto.

Jonghun terkejut melihat fotonya yang sedang merokok.

"Apa? Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini pak!"Jonghun berusaha membela diri.

"Jangan membantah Choi Jonghun! Bukti ini sudah jelas!"

"Ini tidak benar! Foto ini pasti diedit! Siapa yang memberikan foto ini?"Jonghun terus melawan.

"Sudah cukup! Aku pikir selama ini kau anak yang baik, nilaimu selalu diatas rata-rata, kelakuanmu ini sungguh membuat kami kecewa! Kau akan diskors selama 2 minggu!"

"Apa? Kau tidak bisa melakukan itu! Aku tidak pernah melakukan perbuatan seperti itu, aku yakin! Kau tidak bisa menskorsku!"

"Choi Jonghun!"

"Aku tidak mau menuruti perintahmu!"Jonghun memukul meja wakil kepsek yang terkejut melihat Jonghun bisa membentaknya, ia-pun kehilangan kesabaran.

"Choi Jonghun! Kau akan kami keluarkan dari sekolah ini!"tegas wakil kepsek.

Jonghun-pun langsung terdiam kaku.

"A…apa? Dikeluarkan?"

"Sudah diputuskan, aku akan segera membuat surat pengeluaran untukmu. Kau akan segera dikeluarkan dari sekolah ini!"

"Ke…kenapa? Haruskah kau lakukan itu?"

"Sikapmu benar-benar membuatku kecewa, tidak apa…bukankah orang tuamu sendiri juga pernah bilang untuk memberhentikan sekolahmu…"wakil kepsek tersenyum tipis dengan raut wajah merendahkan.

Jonghun-pun langsung diam saat mendengar ucapan wakil kepsek. Ia tidak bisa membalas ucapannya.

"Lebih baik sekarang kau keluar dan kembali kekelasmu"

Jonghun hanya menatap dingin wakil kepsek kemudian keluar dari ruangannya.

"Dikeluarkan?"serentak Hongki dan Wonbin langsung terkejut mendengar pernyataan Jonghun.

Jonghun hanya terdiam dengan raut wajah kacau.

"Ke…Kenapa? Apa yang telah kau lakukan?"Wonbin berusaha mencari tahu.

"Dasar orang tua itu! Apa-apaan keputusannya ini?"Hongki yang kesal spontan memukul meja Jonghun.

"Sebaiknya kalian lihat dulu kelakuannya, fotonya terpajang rapi dimading sekolah"senyum sinis salah seorang teman sekelasnya. Teman-temannya yang lain-pun langsung memperpanjang omongan-omongan negative untuk Jonghun.

Hongki langsung melempar kursinya kearah gerombolan itu.

"Berisik! Mulut kalian memang harus kubungkam!"Hongki bersiap menghampiri orang-orang itu.

"Hongki ah! Tak ada gunannya mengurusi mereka, ayo kita lihat fotonya"Wonbin langsung menarik tangan Hongki dan juga Jonghun. Mereka menghampiri mading yang sudah dipenuhi siswa-siswi lain yang ingin melihat foto Jonghun.

Wonbin dan Hongki terkejut saat melihat foto Jonghun yang merokok. Jonghun hanya diam dan memalingkan muka, murid-murid lain tak henti-hentinya berbisik macam-macam.

"Tunggu…aku tahu foto ini…"Hongki memperhatikan tempat dimana foto ini diambil.

"Jonghun! Bukankah ini waktu kita di taman kota? Aku disampingmu-kan, disini! Tidak ada diantara kita yang membawa rokok!"Hongki mempertegas nada bicaranya sambil menunjuk-nunjuk posisinya yang waktu itu berada disamping Jonghun.

"Itu benar…aku rasa foto ini memang diedit…"ucap Jonghun dengan nada dingin.

"Apa wakil kepsek tidak mendengarkan penjelasanmu?"tanya Wonbin. Jonghun hanya menggelengkan kepalanya.

Hongki-pun langsung memecahkan kaca mading dengan kepalan tangannya, tak perduli dengan darah yang mulai mengalir ditangannya akibat goresan kaca. Ia mengambil foto itu dan pergi keruangan wakil kepsek dengan wajah penuh amarah.

"Hongki ah!"Wonbin hanya bisa memanggil tanpa mengikutinya.

"Haaah…akhirnya keluar juga sikap kasarnya itu…bagaimanapun dia tidak akan berubah, tetap saja berandal…hahaha"sorak murid-murid lain.

"Kalau temannya saja berandal, jelas saja orang yang satu komplotan dengannya juga sama!"sambung murid-murid lain.

"Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Seenaknya saja memfitnah orang lain!"Wonbin-pun termakan emosinya, ia langsung menghampiri salah satu dari mereka, mengangkat paksa kerah bajunya, menatap matanya dengan penuh kebencian.

"Hei…aku lupa…kau juga teman mereka ya…heh, mungkin kau bisa jadi korban berikutnya…hati-hati, jangan sampai kau dikeluarkan juga, murid teladan"senyum orang itu sambil melirik teman-temannya yang lain.

Jonghun terkejut mendengar ucapan orang itu, ia baru sadar, mereka bisa berbuat apa saja terhadap Wonbin.

"Wonbin! Hentikan!"Jonghun melepas paksa tangan Wonbin yang masih mengenggam erat kerah baju orang itu.

"Tapi…Jonghun…"

"Kubilang hentikan!"

Wonbin langsung terdiam oleh bentakan Jonghun. Keduanya-pun terdiam sejenak.

"Jo…Jonghun…"

Pikiran Jonghun sangat dipenuhi oleh berbagai macam persoalan, ia-pun menarik tangan Wonbin dan membawanya pergi.

"BRAK!"Hongki membanting keras pintu wakil kepsek.

"Lee Hongki?"kaget wakil kepsek saat melihat Hongki menghampirinya.

"Foto ini diedit!"Hongki langsung melempar foto Jonghun persis di wajah wakil kepsek.

"Apa-apaan kau..!"kesal wakil kepsek.

"Kau tidak lihat bagian ini? Jelas-jelas foto ini dipotong, aku ada disampingnya saat itu! Dan tidak ada diantara kami yang merokok!"

"Ha? Apa maksudmu? Jelas-jelas ini Jonghun…"

"Tidak! Foto ini tidak benar! Kami memang ada disana, tapi kami tidak melakukan hal seperti itu!"

"….."wakil kepsek hanya terdiam.

"Satu hal lagi…kalaupun kau tetap menuduh Jonghun merokok, aku sudah mengakui aku ada disampingnya, lalu kenapa kau tidak menghukumku juga?"Hongki mulai curiga ada yang tidak beres.

"Kau?...dengar…ini tidak ada hubungannya denganmu. Sekalipun kau disana, namun yang ada di foto ini hanya Jonghun…"wakil kepsek memalingkan wajahnya tak mau menatap wajah Hongki yang menuntut kebenaran.

"Alasan yang tidak masuk akal! Aku tahu, aku juga tahu pemikiran anak-anak itu! Hanya karena aku anak dari keluarga Lee yang memeggang sumbangan dana terbesar disekolah ini? Kalian semua tidak berani berbuat apa-apa padaku, iya-kan?"Amarah Hongki semakin menjadi.

Wakil kepsek hanya tersentak pertanda ucapan Hongki memang benar.

"Sudah kubilang ini tidak ada hubu…"

"Kalau begitu hukum aku juga! Tidak ada hubungannya dengan keluargaku! Aku temannya, kalau ia punya salah, berarti aku juga! Jangan hanya berani menghukum satu pihak pak tua!"Hongki memukul keras meja wakil kepsek.

"Lee Hongki sshi! Apapun yang kau katakan, Jonghun tetap akan keluar dari sekolah ini, orang tuannya sudah mengajukan hal ini"tegas wakil kepsek.

Hongki langsung terkejut saat wakil kepsek membawa nama orang tua Jonghun.

"Apa maksudmu?"

"Jadi kau belum tahu? Perusahaan milik orang tuanya mengalami kerugian, mereka terlilit hutang yang sangat besar, sebentar lagi mereka akan pindah ketempat lain…orang tuanya sudah bicara padaku soal pemberhentian sekolahnya"jelas wakil kepsek.

"A…apa?"Hongki tak percaya dengan yang dikatakan wakil kepsek. Ia tidak pernah mengatakan apapun padaku…

"Kalau saja Jonghun tidak bersikap seperti tadi mungkin ia masih kami izinkan bersekolah disini, karena ia termaksuk murid teladan yang nilainya selalu tinggi, dan bisa saja jika ada rekomendasi dari pihak atas, Jonghun tetap berada disini, walaupun Jonghun tidak harus membayar biaya sekolah, ia masih bisa mengandalkan beasiswa yang diberikan ketua komite…tapi aku rasa percuma, orang tuanya pasti membawanya pergi bersama mereka…"

"Ketua komite?"

"Ya…hanya itu, tapi aku yakin…Jonghun akan pergi bersama kedua orang tuanya…"

Hongki-pun langsung berlari pergi meninggalkan ruangan wakil kepsek.

"Ya! Kenapa kau tidak ceritakan hal itu padaku?"Hongki berdiri tegap didepan Jonghun.

"Untuk apa diceritakan? Itu masalah keluargaku"Jonghun hanya tersenyum pahit.

"Ta..tapi Jonghun…"Wonbin-pun berusaha bicara.

"Sudahlah…aku tidak mau membuat kalian repot. Tadi aku takut sekali waktu mereka mengincar Wonbin…Wonbin ah, aku tidak mau kau juga harus keluar dari sekolah gara-gara aku, hal itu akan membuat orang tuamu kecewa…"

"Jonghun! Ini tidak ada hubungannya!"
"Wonbin benar, kami akan berusaha membantumu! Akan kubungkam semua mulut orang-orang picik itu!"Hongki termakan amarah lagi.

"Sudahlah kalian berdua…aku menghargai niat kalian, mungkin aku memang harus pergi…lagipula ini keputusan keluargaku…"Jonghun hanya tersenyum pahit sambil menatap kedua sahabatnya.

Hongki dan Wonbin hanya bisa terdiam.

Tiba-tiba Handphone Jonghun berdering, ia-pun mengangkat teleponnya.

"Ayah?"

"…"

"Tidak bisa? Jadi begitu…"

"…"

"Sudahlah…aku mengerti…"

"…"

"Baik, aku pulang sekarang"

Jonghun-pun menutup teleponnya.

"Ada apa?"cemas Hongki.

"Ayahku bilang tidak ada lagi perusahaan lain yang mau membantu, haha…kami memang harus pergi dari sini"Jonghun hanya tertawa kecil.

"Jonghun ah…."Wonbin hanya bisa menatapnya lirih.

"Baiklah, aku harus pulang sekarang, banyak yang harus diselesaikan dirumah"Jonghun-pun pamit pada kedua sahabatnya dan pergi meninggalkan sungai Han tempat mereka berkumpul.

Hongki dan Wonbin hanya saling bertatap muka.

"Hah…bagaimana ini..."Wonbin hanya menghela nafas.

Hongki hanya diam dan memikirkan sesuatu.

TBC