FT Island Fan Fiction
Hate & Resentment
©MikiHyo
.
Cast : FT Island with Oh Wonbin
Genre : Friendship
Length : Part
.
Part 4
.
.
Sejak hari itu Jonghun tidak pernah lagi datang kesekolah. Handphonenya selalu sibuk. Surat pengeluarannya-pun sudah dibuat, hanya tinggal menunggu orang tuanya datang dan menyetujuinya.
Minhwan sedang bercakap-cakap dengan teman sekelasnya, Seunghyun di perpustakaan. Suasana sangat tenang dan hanya ada orang-orang yang sedang serius membaca ataupun bercakap-cakap.
Hongki melangkahkan kakinya memasuki perpustakaan, serentak semua orang-pun langsung melihat kearahnya. Untuk apa seorang Lee Hongki datang ke perpustakaan?
Ia-pun langsung mendekati Minhwan.
"Min…hwan…"sahut Seunghyun yang menyadari keberadaan Hongki. Minhwan-pun membalikkan badannya, dilihatnya Hongki berdiri tegap didepannya.
"Sun…bae?"
Hongki menatap Minhwan dengan matanya yang tajam. Tiba-tiba ia membungkukkan badannya. Serentak, Minhwan dan Seunghyun-pun langsung terkejut.
"Aku mohon…bantulah aku…"ucap Hongki.
Minhwan tetap diam dengan raut wajah bingungnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang Hongki ucapkan barusan.
"Selamatkan Jonghun…kau kenal padanya-kan? Aku mohon…bilang pada orang tuamu untuk mempertahankan Jonghun disini…"Hongki mengangkat wajahnya, kali ini tampak jelas, ia benar-benar membutuhkan Minhwan.
Minhwan hanya terdiam mendengar ucapan Hongki. Ia-pun melirik kearah Seunghyun, Seunghyun hanya diam tanpa ekpresi apa-apa.
Ia ingat bagaimana Hongki telah menyakiti Seunghyun hari itu. Bahkan Seunghyun hampir tak sadarkan diri seharian, badannya memang lemah, berbeda dengan anak yang lain. Karena itu…apa yang telah Hongki lakukan waktu itu benar-benar melewati batasnya.
"Aku…"Minhwan mulai membuka mulutnya.
"Bagaimana bisa aku membantu orang yang sudah menyakiti sahabatku"
Hongki-pun tersentak, begitu juga Seunghyun. Tak disangka Minhwan bisa mengatakan hal seperti itu.
"Aku mengerti…perbuatanku memang tidak bisa dimaafkan, tapi…ini demi sahabatku juga…tolong maafkan aku, tolong bantu aku, tolong bilang pada orang tuamu untuk mempertahankan Jonghun…"Hongki kembali membungkukkan badannya.
Sejujurnya Minhwan tidak mau sunbae yang ia kagumi harus membungkuk dihadapannya, memohon seperti pengemis, tapi memang sangat sulit untuk memaafkan Hongki yang sudah membuat sahabatnya hampir mati.
"Maaf…aku harus kembali kekelasku sekarang, ayo Seunghyun"Minhwan-pun memanggil Seunghyun, Seunghyun hanya diam dan mengikuti perintah Minhwan.
"Tunggu!"Hongki berusaha mencegah Minhwan.
Minhwan dan Seunghyun-pun membalikkan badannya, mata mereka langsung terbelalak saat melihat tubuh Hongki mendekat menyentuh lantai, semakin membungkuk dan akhirnya bersujud didepan Minhwan.
"Aku benar-benar minta maaf…Aku mohon…tolonglah aku…sekali ini saja, tolong aku…"ucap Hongki tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.
Perasaan Minhwan-pun langsung bercampur aduk melihat Hongki. Tiba-tiba tangan seseorang menggenggam tangannya yang mungil.
"Seunghyun?"
"Maafkan dia…"ucap Seunghyun sambil menatap dalam Hongki yang terus merendahkan tubuhnya dihadapan mereka.
"Tapi…"
"Sudahlah…aku tahu dia bukan orang yang seperti itu…kau sendiri yang bilang, karena itu aku percaya padanya…aku mohon, maafkan dia…aku tidak apa-apa"senyum Seunghyun.
"Seung…"
Seunghyun-pun mendekati Hongki dan berusaha membuatnya berdiri. Namun Hongki tak bergerak sedikitpun tetap pada posisinya sampai Minhwan mau memaafkannya.
"Hongki sunbae…berdirilah…aku yang akan bicara padanya…"ujar Seunghyun.
"Hongki Sunbae"Minhwan-pun langsung mengangkat badan Hongki yang sejak tadi merendah dihadapannya.
"Min..hwan….."kaget Hongki. Ia melihat Minhwan berdiri dihadapannya dengan raut wajah yang seolah mau menangis.
"Baiklah…aku mengerti…kau tidak perlu seperti ini…"lirih Minhwan.
"Minhwan…tapi aku…aku benar-benar minta maaf…padamu juga Seunghyun…"
"Sunbae…aku sudah tidak apa-apa sekarang, aku mengerti"Seunghyun hanya tersenyum tipis.
"Aku juga…aku sudah memaafkan Hongki sunbae…maaf, tadi aku termakan emosi…sebenarnya aku tidak mau marah…tapi…"
Hongki-pun hanya tersenyum melihat ekspresi kedua adik kelasnya itu.
"Aku akan membantumu, aku akan jelaskan masalah ini pada orang tuaku"jelas Minhwan.
"Benarkah? Kau akan membantuku? Ahh…Terima kasih banyak! Maaf selama ini aku selalu menyakitimu…"senyum lega Hongki.
Minhwan hanya menggelengakan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku akan berusaha membantu Jonghun Sunbae"tegas Minhwan.
Hongki-pun menjabat tangan Minhwan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya.
Hanya tinggal orang itu yang harus aku mintai bantuan…
Bel-pun berbunyi, ketiganya-pun langsung berdiri dan kembali kekelasnya masing-masing.
.
.
"Hnnggg…"berkali-kali Jaejin menghela nafasnya. Dokumen-dokumen sekolah yang ada ditangannya benar-benar membuatnya pusing.
"Buak"tak sengaja seseorang menabrak Jaejin yang juga sedang melamun, membuat dokumen-dokumen sekolah itu berserakan tak karuan.
"Ash…kau itu!"kesal Jaejin sambil membereskan lembaran-lembaran kertas penuh tulisan itu.
"Jae…Jin?"kaget Hongki.
Jaejin yang merasa sangat mengenal suara itu-pun mengangkat kepalanya, menatap orang yang barusan memanggil namanya. Seketika raut wajahnya langsung berubah lebih masam.
"Ck…ternyata si berandal…"sinis Jaejin yang melanjutkan membereskan kertas-kertas yang menjadi tanggung jawabnya.
Tanpa termakan amarah, Hongki langsung membantu Jaejin. Tak ada orang lain selain mereka di lorong halaman sekolah itu, jadi tak mungkin ada yang membantu Jaejin membereskan sekitar ratusan lembar kertas-kertas itu. Lagipula ini memang salahnya sudah menabrak Jaejin.
Jaejin hanya terkejut melihat sikap Hongki yang…yah…apa benar itu Hongki yang dia kenal? Membantu orang lain?
"Ada apa denganmu? Sikapmu menjijikan"sinis Jaejin lagi.
"Aku sedang tidak mood untuk menghajar siapapun, kau bilang apapun padaku tidak akan aku dengarkan"Hongki terus berjalan kesana kemari mengambil kertas-kertas yang bertebaran kemana-mana.
"Haa?"
"Ngomong-ngomong…berat sekali yah tugas ketua OSIS…kalau aku jadi kau, mungkin kertas-kertas ini sudah kubakar…"Hongki tersenyum meledek.
"Jangan samakan aku denganmu, berandal. Aku punya banyak kegiatan serius yang harus aku kerjakan, bukan hanya menghajar orang terus menerus"Jaejin berusaha mengambil 2 lembar kertas yang berada tak jauh didepannya namun angin menerbangkan keduanya dan kertas itu sekarang berada ditangan Hongki.
"Tapi aku bisa lihat wajah tertekanmu itu"senyum Hongki sambil memberikan lembaran kertas itu. Jaejin-pun mengambilnya dengan kasar dan juga raut wajah kesal.
"Kau tahu apa soal diriku. Kau mana tahu rasanya jadi pemimpin yang harus bertanggung jawab untuk banyak hal...aku memang punya kemampuan seperti itu, tapi kulakukan untuk menyempurnakan usaha bersama yang belum tentu semua orang yang terlibat didalamnya mengerahkan seluruh kemampuan mereka"jelas Jaejin panjang lebar.
"Hmm…aku kurang mengerti, maklum aku bukan orang jenius sepertimu…tapi aku tahu intinya…jadi kau sedang menceritakan masalahmu padaku?"Hongki-pun tersenyum lagi. Seolah-olah ia terus menggoda Jaejin dengan senyumnya itu. Ia-pun menyerahkan kertas terakhir yang dipungutnya kepada Jaejin. Lagi-lagi Jaejin makin menatapnya sinis, terlebih lagi setelah ia bicara seperti itu.
"Untuk apa aku menceritakan masalahku padamu? Aku ceritakan juga tidak akan ada yang mengerti!"Jaejin semakin kesal, ia-pun melangkahkan kakinya meninggalkan Hongki.
"Aku mengerti kok"ucapan Hongki berhasil membuat Jaejin menghentikan langkahnya. Ia-pun membalikkan badannya, kembali menatap Hongki.
"Aku mengerti kok, aku juga pernah jadi pemimpin"ucap Hongki.
"Ha? Mana mungkin…oh, tentu saja…kau pasti pemimpin para berandal liar dijalanan-kan? Heh…kepemimpinanmu itu jauh berbeda denganku!"tegas Jaejin dengan nada angkuh.
"Waktu SMP aku ini kapten klub basket selama 2 tahun berturut-turut, dan benar…tidak mudah mengurus orang lain yang menggantungkan tanggung jawab padaku"tanpa terpancing ejekan Jaejin, Hongki-pun menceritakan masa lalunya.
"Ha?"
"Yah…kau benar. Seringkali kita para pemimpin harus bertanggung jawab pada sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan bersama namun nyatanya tidak, dan pada akhirnya…apapun hasilnya, hanya kita yang merasa bertanggung jawab…karena kita pemimpin…kita harus bersikap lebih baik daripada yang lain…penuh dengan tuntutan, aku benar-kan?"tanya Hongki pada Jaejin yang berdiri mematung mendengar ceritanya.
"Tapi tetap saja! Kau dan aku jauh berbeda!"Jaejin menaikkan nada bicaranya.
"Jelas saja beda, aku kapten tim basket dan kau ketua OSIS, pekerjaan itu memang berbeda"ledek Hongki diiringi dengan tawa kecil.
"Ck…kau itu…benar-benar bodoh ya!"kesal Jaejin lagi.
"Tapi perasaan kita sama-kan…selalu dipenuhi oleh beban anggota lain…"
Jaejin-pun kembali terdiam.
"Tentu saja benar! Sejujurnya aku sangat stress mengingat masa-masa itu…walaupun berkemampuan, namun ada saatnya kita tidak mau mengeluarkan kemampuan itu untuk mengurus orang lain"ucap Hongki.
"Kau…"
"Tapi kalau ada yang mendampingimu dan selalu menyemangatimu, beban itu akan hilang sedikit demi sedikit…"senyum Hongki sambil menatap Jaejin.
"Selama ada orang yang mau mendengar keluh kesahmu…mencoba mengerti keadaanmu, tidak menuntut apapun...dan bersikap layaknya seorang Teman, beban itu akan hilang"
"Teman?"
"Nee, apa kau tidak punya? Ya ampun…selama ini kau bicara pada siapa kalau begitu?"
"Teman untuk apa? Kalau hanya disekolah, mendampingiku jalan-jalan ataupun membeli makanan memang ada, aku sering bicara dengan anggota OSIS lainnya bahkan para staff pengajar untuk mengurus masalah sekolah"jelas Jaejin dengan wajah serius.
"Akh…percakapan macam apa itu? Membuatku ingin muntah…ugh…apa perlu kupinjamkan Wonbin agar bebanmu hilang? Aigoo…"
"Wonbin?"
"Iya, orang yang kau mintai keterangan saksi atas pemukulan adikmu 2 tahun lalu"senyum Hongki.
"Hm…untuk apa aku butuh orang itu…"lagi-lagi nada bicaranya angkuh.
"Tentu saja bukan hanya Wonbin! Dia milikku! Intinya…siapa saja yang kau anggap teman, begitu juga orang itu. Aku yakin, kalau bersama…bebanmu akan hilang"jelas Hongki lagi.
Jaejin hanya diam tanpa komentar apapun.
"Aku tidak perduli"jawabnya singkat. Ia-pun melangkahkan kakinya meninggalkan Hongki yang hanya bisa diam melihat keangkuhan adik kelas didepannya.
.
.
"Ayah, aku mohon…"Minhwan merendahkan nada bicaranya, memohon pada laki-laki yang ada dihadapannya.
"Ada apa denganmu? Itu sudah keputusannya-kan…"sahut , Ayahnya.
"Tapi…Jonghun sunbae adalah salah satu murid teladan disekolah, sayang sekali kalau ia harus berhenti sampai disini…sebentar lagi mereka akan lulus"Minhwan berusaha menjelaskan.
"Minhwan…hal ini tidak ada hubungannya denganmu…" terus saja menolak permintaan Minhwan.
"Ayah…aku mohon…Jonghun sunbae adalah salah satu sunbae yang dekat denganku, aku-pun mengagguminya…"
"Alasan macam apa itu…dari dulu selalu saja itu yang kau ucapakan, sama seperti sunbaemu yang sebelumnya…" menyidir masalah Hongki.
Minhwan-pun hanya bisa diam dengan wajah menyesal. Bagaimana ini…apa aku tidak bisa menyelamatkan sunbaeku lagi? Ayah tidak akan mengerti alasannya…
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat, tak lama orang itu-pun menampakkan dirinya, Jaejin.
"Ayah? Kau sudah pulang?"bingung Jaejin saat melihat Ayahnya berada diruang tengah bersama Minhwan. Kelihatannya ada masalah diantara mereka.
"Ada apa?"tanya Jaejin.
Minhwan hanya diam tanpa melihat kearah Kakaknya, sebenarnya hubungan mereka tidak buruk, namun sekalipun Kakaknya tahu soal Hongki ataupun Jonghun, dia tidak akan perduli. Ia tahu, Jaejin sangat menbenci Hongki.
"Nah…kau sudah mengerti-kan? Ayah tidak bisa mengabulkan permintaanmu"tegas Ayahnya lagi.
"Tapi Ayah…!"
"Cukup Minhwan! Ayah tidak mau dengar lagi!"gertak .
"Sebenarnya ada apa Ayah?"Jaejin semakin penasaran, terlebih lagi ia belum pernah melihat adiknya memohon sampai seperti itu, terkecuali seingatnya 2 tahun lalu, saat ia membela Lee Hongki.
"Lagi-lagi adikmu ingin membela sunbaenya…"singkat .
"Sunbae?"
"Iya, kau tahu Choi Jonghun? Ia akan dikeluarkan dari sekolah karena kesalahan yang ia buat, selain itu orang tuanya yang juga mengalami masalah ekonomi memutuskan untuk memberhentikannya dari sekolah. Tapi adikmu meminta Ayah untuk mempertahankan orang itu sampai kelulusannya tahun ini…"jelas .
"Jonghun sunbae? Ah…aku tahu dia, dia mantan anggota OSIS tahun lalu. Anak yang pintar, ia sering membantuku saat aku baru menjadi anggota OSIS. Aku juga tahu permasalahan ia akan dikeluarkan…aku tidak menyangka ia berbuat hal seperti itu…"
"Foto itu diedit hyung! Jonghun sunbae tidak pernah melakukan hal itu!"bela Minhwan.
"Minhwan, Ayah bilang cukup! Jaejin, lebih baik kau bawa adikmu kekamarnya sekarang. Masih banyak yang harus Ayah kerjakan"perintah .
Jaejin hanya mengangguk dan mengajak Minhwan untuk kembali kekamar.
.
.
"Ada apa lagi? Kenapa tiba-tiba kau berbicara soal Jonghun sunbae?"tanya Jaejin yang duduk disamping Minhwan untuk meminta penjelasan adiknya.
Minhwan hanya diam tanpa melihat wajah Kakaknya yang menunggu jawaban. Ia bingung harus katakan apa pada Kakaknya yang membenci Lee Hongki.
"Ah…aku hanya tidak mau Jonghun sunbae berhenti ditahun terakhirnya ini, sayang sekali…sebentar lagi dia lulus…"Minhwan berusaha menjelaskan.
"Ha? Sejak kapan kau dekat dengannya? Kenapa kau bisa dekat dengannya?"Jaejin memperpanjang pertanyaannya.
Minhwan makin terpojok, mana mungkin ia bilang ia dekat dengan Jonghun karena masalah Hongki.
"Kenapa? Sepertinya ada yang kau sembunyikan…"Jaejin mulai curiga. Ia-pun teringat sesuatu.
"Jangan-jangan…ada hubungannya dengan Lee Hongki?...Jonghun sunbae itu dekat dengan dia-kan…"
Minhwan-pun terkejut mendengar pernyataan Kakaknya dan Jaejin langsung menyadari kebenarannya saat melihat ekspresi Minhwan.
"Minhwan! Mengapa kau selalu mengurusi orang itu? Dia sudah menyakitimu-kan…"kesal Jaejin.
"Hyung…berapa kali-pun aku jelaskan padamu kau tidak pernah mau mengerti…Hongki sunbae bukan orang yang seperti itu…"
"Kau itu…"
"Karena aku kenal dia hyung!"
Jaejin-pun langsung terdiam.
"Hyung…kau selalu menganggap Hongki sunbae seperti itu karena kau tidak pernah mau mengenal dia. Hongki sunbae…sebenarnya adalah orang yang sangat perduli pada orang lain, dia yang menghajar para berandalan itu walaupun itu bukan urusannya, dia berusaha melindungi Wonbin sunbae…jelas saja ia terpukul saat Wonbin sunbae terpaksa meninggalkannya. Aku sudah jelaskan semuanya-kan…tapi tetap saja kau dan Ayah tidak mau mendengarnya…"Minhwan menunjukkan raut wajah kecewanya dihadapan Kakaknya.
Selama ada orang yang mau mendengar keluh kesahmu…Beban itu pasti akan hilang…
Entah kenapa ucapan Hongki sore tadi langsung terlintas dipikiran Jaejin.
"Perduli?..."
"Jonghun sunbae adalah teman Hongki sunbae, dia juga dekat denganku. Kali ini aku ingin menyelamatkan orang yang kusayangi lagi, selama ada yang bisa kulakukan, aku tidak mau gagal …"
"Minhwan…"
Tanpa menatap Kakaknya, Minhwan langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar itu.
Aku yakin, kalau bersama…bebanmu akan hilang
Jaejin terus terdiam mengingat semua ucapan Hongki. "Lee…Hongki…"
.
.
"Minhwan"langkah Minhwan langsung terhenti saat ia mendengar seseorang memanggil namanya. Spontan ia langsung membalikkan badannya.
"Ayah?"bingung Minhwan saat melihat Ayahnya datang mendekat.
"Hm…aku mengerti alasannya sekarang. Baiklah, aku putuskan untuk mempertahankan Jonghun"ucapan Ayahnya otomatis membuat Minhwan terkejut. Baru semalam ia berdebat dan dapat hasil nihil, sekarang Ayahnya datang menghampiri untuk bilang "Baiklah"
"Apa? A…Ayah kau serius?"
"Ada apa? Apa kau tidak yakin?"bingung .
"Ti..tidak, bukan begitu. Bukankah semalam…"
"Kakakmu sudah menjelaskan semuanya padaku"
"Hyung?"
"Iya, Jaejin menjelaskan semuanya pada Ayah. Jadi Ayah putuskan untuk membantu Jonghun"
Minhwan hanya bisa diam dengan mata terbelalak. Benarkah Jaejin? Ia-pun langsung berlari meninggalkan Ayahnya dan menghampiri Jaejin yang masih berada dikamarnya.
"Braak!"Pintu kamar Jaejin dibuka dengan kencang.
"Mi…Minhwan?"kaget Jaejin.
"Hyung! Benarkah Hyung yang bilang pada Ayah?"tanya Minhwan dengan penuh semangat.
Jaejin diam sejenak dan menatap mata adiknya.
"Hm…yah…kau sudah tahu-kan…"Jaejin memalingkan matanya.
Minhwan-pun langsung memeluk erat Jaejin.
"Minhwan?"
"Hyung! Terima kasih banyak! Kau memang Hyungku!"seru Minhwan. Tak perduli alasan apa yang membuat Jaejin melakukan hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya, yang penting ia bisa memenuhi permintaan Hongki.
.
.
"Benarkah? Minhwan, terima kasih banyak!"ucap Hongki dengan penuh rasa terima kasih.
"Sunbae, yang berhasil menyelamatkan Jonghun sunbae adalah Jaejin hyung"Minhwan tersenyum sambil menunjuk Jaejin yang sejak tadi berdiri disampingnya dan selalu memalingkan wajahnya dari Hongki dan juga Wonbin.
"Jaejin?"bingung Wonbin.
Jaejin tetap diam, tetap dengan wajah angkuhnya yang sebenarnya menyembunyikan wajahnya yang malu saat Minhwan menyebut namanya.
"Kau sendiri yang bilang, kalau ada teman, bebanmu akan hilang. Karena itu aku menyelamatkan temanmu, kalau kau kehilangan dia, bisa-bisa kau berulah lagi, merepotkan"ketus Jaejin.
Hongki-pun tertawa kencang. "Hahahahaha, aku tidak percaya kau ingat kata-kataku! Hahahaha"
Raut wajah Jaejin semakin masam mendengar Hongki menertawakannya, benar-benar kesal namun ia akui ucapan Hongki membuatnya…
"Lagipula aku masih butuh teman, karena itu aku tidak mau kehilangan siapapun"dengan cepat Jaejin mengatakan hal yang tidak mungkin ia keluarkan dari mulutnya.
"Ha?"Minhwan kembali dikejutkan oleh ucapan Kakaknya.
"Jae…Jaejin?"Wonbin-pun tak kalah terkejut.
"Ha? Teman? Maksudmu…aku? Wonbin? Jonghun?"pertanyaan Hongki terdengar seperti pernyataan ditelinga Jaejin.
"Ash…kau sendiri yang bilang, siapa saja yang kau anggap teman dan orang itu juga menganggapmu begitu"kesal Jaejin.
"Hyung? Ucapanmu serius?"lagi-lagi Minhwan melambungkan pertanyaan.
"Ha? Aku tidak mengerti ucapan orang jenius…"Hongki tetap dengan raut wajah bingungnya.
"Akh! Kau memang berandal bodoh! Padahal itu kata-katamu sendiri, sudahlah! Aku harus pergi sekarang"Jaejin-pun langsung meninggalkan mereka bertiga dengan raut wajah kesal, namun dalam hatinya, Ash…dasar…cepatlah sadar dengan kata-katamu, aku rasa aku memang butuh teman. Jaejin-pun tersenyum tanpa menunjukkannya pada ketiga orang itu.
"Mwo? Dia marah padaku?"Hongki bertanya pada Minhwan.
"Hahaha, tidak apa sunbae…aku rasa hubunganmu dengan Jaejin hyung akan semakin membaik"senyum Minhwan.
"Ha? Aku juga tidak mengerti kata-katamu"ketus Hongki.
"Hongki ah, aku rasa kita akan dapat teman baru. Sudahlah, itu intinya"Wonbin memukul kepala Hongki.
Dasar kumpulan orang-orang pintar ini…atau sebenarnya mereka yang bodoh, memakai kata-kata yang tidak dimengerti orang awam. Hongki hanya cemberut.
"Tapi…walaupun Jonghun dipertahankan oleh sekolah. Bagaimana kalau orang tuanya tetap membawanya pergi?"ucapan Wonbin langsung meleburkan raut wajah cemberut Hongki.
"Aku sudah memikirkan hal itu…aku akan lakukan apa saja untuk menyelamatkannya"Raut wajah Hongki-pun langsung berubah menjadi serius.
"Sunbae…hampir seminggu,Jonghun sunbae tidak datang lagi…aku takut ia sudah pergi"cemas Minhwan.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya pergi"tegas Hongki.
.
.
TBC
.
Apa tampilannya terlihat lebih baik? Aku masih risih sama jarak enter yang gak ada! Aiish…
MAAF! Aku baru bisa bales reviewnya…
Natsume Yuka : Hmm…Wonbin juga dlm keadaan terhimpit sih, jadi terpaksa jahat T.T Gomawo reviewnya ^^
Sena : Mianhae! Ini emg bukan fic YAOI T.T waktu itu bikin emang udh friendship, ne Gomawo reviewnya! ^^
MaxAberu : Gomawooo~ ^^
Mako-chan : Mianhae aku gak jadiin YAOI~ ini ff lama…waktu itu gak kenal YAOI #plak , ne Insya Allah lanjut, gomawo reviewnya ^^
Seo Shin Young : Gomawo udah ngikutin FF ni ^^ ne ne, Hwaiting! ^^
