Tujuh Keajaiban Cinta dalam Tujuh Menit

Genre: Angst/Slice of Life

Disclaimer: Nuramago milik Shiibashi-sensei

Warning: darah, gore, angst, kesadisan dan kekerasan, tanda-tanda shounen ai, dll

A/N: Yup, cerita kedua dari seven deadly sins. Wrath atau amarah… kali ini luna membuat Kubinashi/Rikuo. Silakan dibaca dan dinikmati~


Sin 2: Wrath—Kubinashi/Rikuo


Apa yang sedang kau lakukan?

Kubinashi tidak mengerti harus bereaksi seperti apa ketika hal keji itu terjadi. Serangan demi serangan berdatangan. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh Rikuo-sama di depan matanya.

Apa yang kau lakukan Kubinashi?

Sesuatu memerintahkan tubuh sang youkai tak berleher itu untuk bergerak. Bertarung! Lindungi Rikuo-sama dari hantaman tanpa ampun Tsuchigumo!

Namun, tak peduli seberapa keras Kubinashi berusaha, kekuatannya tak sanggup mengimbangi siluman raksasa berambut merah itu.

Di depan matanya, tuan muda yang amat Kubinashi sayangi, tuan muda yang sangat ingin ia lindungi telah disiksa oleh musuh, tetapi ia tak dapat melakukan apa-apa untuk melindunginya.

Tak bisa apa-apa… seperti saat ini.

Ia begitu lemah sampai-sampai tak sanggup menghadapi dua siluman kelas teri yang menyerang manusia. Ditertawakan karena kelemahannya….

Begitu lemahnya… hingga Kubinashi tak mampu melindungi tuan muda yang sangat ia cintai.

Begitu lemahnya… hingga ia merasa muak pada dirinya sendiri.

Tuhan, jika seandainya Kau memang ada, Kau tak akan memperlakukan Rikuo-sama seperti ini.

Kau tak akan membuatnya terluka dan menderita begini.

Kau tak akan mengambil hidupnya… dan merebut dirinya dariku… seperti Kau merenggut hidupku dan kekasihku dulu… dan Rihan-sama dari keluarga kami.

Penyesalan dan kesedihan karena gagal melindungi tuan yang begitu dicintainya telah menyalakan kembali api kebencian dan amarah yang teramat sangat di dalam hati Kubinashi, kebencian dan amarah yang dahulu telah mengubah Kubinashi menjadi siluman tak berleher.

Kubinashi sangat murka, tak mampu lagi berpikir dengan jernih. Ia begitu emosi dan menyalahkan segalanya, termasuk ketidakberdayaannya sendiri. Padahal ia telah bersumpah untuk melindungi Rikuo-sama. Padahal ia begitu mencintainya. Namun, mengapa…? Mengapa Tuhan tidak melindunginya?

Karena Tuhan membenciku.

Kalau memang demikian, Kubinashi juga akan membenci segalanya.

Kemurkaan Kubinashi saat ini tak lagi dapat diukur. Ia hanya ingin mengamuk dan menghancurkan segalanya. Kalau bisa, termasuk dirinya sendiri.

"Semua siluman itu jahat, ya…? Kalau begitu, lebih baik semua siluman… dibunuh saja," bisik Kubinashi setelah ia selesai membantai dan memutilasi semua siluman di hadapannya dengan benang merahnya yang super kuat dan tajam karena 'Fear' yang ia masukkan ke dalamnya.

Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh saja semua!

Hanya kata-kata itu yang terus menerus mendengung di dalam telinganya, berkecamuk dalam kepala Kubinashi. Di tengah kobaran api angkara murka, tak ada lagi yang bisa ia dengar kecuali perintah untuk menghabisi semua siluman yang telah melukai Rikuo-sama. Semua siluman yang telah membuat orang yang ia cintai menderita.

Semua siluman yang membuatnya menderita.

Amarah dan kebencian itu memberinya kekuatan ajaib nan dasyat yang membuat Kubinashi mampu menghabisi begitu banyak siluman Kyoto yang normalnya tak mungkin bisa dihadapi sendirian.

Lebih baik semua siluman… dibunuh saja!

End of Sin 2: Wrath


A/N: Wah, yang ini jadi benar-benar drabble, deh. Kurang dari 500 kata sih… Daripada kegiatan, lebih mirip monolog pikiran, sih…. Yah, tapi setingnya kan, sewaktu Kubinashi sedang dalam keadaan tidak stabil. Sesaat setelah Rikuo dibawa Gyuuki, terus Kubinashi jalan-jalan sendiri di Kyoto. Ngamuknya keluar gara-gara tuan muda tersayangnya babak belur dihajar Tsuchigumo, tapi dia nggak bisa apa-apa dan itu dipicu siluman yang menyerang manusia di Kyoto itu. Ah… terkadang cinta memng bisa membawa amarah yang sangat menakutkan seperti Kubinashi…

Oke, sekarang pendapatnya, dunk! Saran, komen, kritik, apapun boleh!