Tujuh Keajaiban Cinta dalam Tujuh Menit
Genre: romance/family/slice of life
Disclaimer: Nuramago bukan milik luna. Luna hanya bermain dengan karakternya.
Warning: shounen ai, fluff
A/N: Yah, maaf menunggu! Ini dia cerita ketiga dari Seven Deadly Sins, Enyy~ Silakan dinikmati! XD
Sin 3: Envy—Kurotabo/Rikuo
Hari itu adalah salah satu dari hari-hari biasa, tipikal keseharian yang normal di mansion keluarga Nura.
Seperti biasa, Rikuo baru saja pulang dari sekolah, Yuki Onna 'Oikawa Tsurara' dan Aotabo 'Kurata' mengiringi perjalanan tuan muda mereka dengan kedok sebagai teman satu sekolah.
Melihat ketiga orang tersebut memasuki gerbang rumah utama, Kurotabo yang sedang menyiram bunga di taman tersenyum. Ia meletakkan pot air yang ia bawa dan segera berjalan mendekati ketiganya.
"Selamat datang kembali, Waka, Yuki Onna, Ao," sambut Kurotabo dengan senyuman hangat.
"Aku pulang, Kuro!" Rikuo, tuan mudanya yang sangat manis dan teramat baik itu juga tersenyum, membalas sambutan Kuro dengan wajah ceria.
"Kami pulang!" Tsurara sang siluman salju dan Aotabo sang biksu bejat pun membalas sambutannya.
"Tumben pulang lebih cepat dari biasanya. Apa tidak ada kegiatan klub?" Tanya Kurotabo sembari mengambil alih tas Rikuo untuk dibawakan.
Rikuo berterima kasih dan menyerahkan tasnya sementara keempatnya berjalan masuk ke rumah.
"Kiyotsugu bilang akan mencari informasi dulu tentang tujuan ekspedisi misteri selanjutnya," kata Rikuo sembari melepas sepatunya.
"Oh… Kalau begitu Waka ingin mandi atau ingin melakukan sesuatu yang lain dulu?" tanya Kurotabo lagi, mengikuti langkah Rikuo sementara Tsurara dan Aotabo berpisah jalan dengan mereka karena ada tugas lain yang harus mereka lakukan di rumah tersebut.
"Ah, karena ini masih siang, aku akan jalan-jalan dengan Tsurara atau Aotabo. Ada hal yang ingin aku periksa dahulu sebelum Kiyotsugu menjamah tempat berhantu yang dia incar," kata Rikuo sambil menggaruk sebelah pipinya yang tidak gatal. Wajahnya sedikit salah tingkah.
Lagi?—tanpa sadar hal itu terbesit di pikiran Kurotabo. Ia sendiri sedikit terkejut karena berpikir tidak menyenangkan begitu.
"Rikuo-sama, kalau Anda tidak keberatan, bagaimana kalau saya menemani Rikuo-sama kali ini?" pinta Kurotabo kemudian setelah menggeleng-geleng kepalanya untuk mengusir pikiran bodohnya.
"Eh?" Rikuo menoleh ke arah Kurotabo dengan wajah heran saat mereka berdua berjalan ke arah kamar Rikuo karena sang tuan muda harus berganti pakaian dulu dengan baju sehari-harinya.
"Habisnya… akhir-akhir ini Rikuo-sama lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama Tsurara dan Aotabo," kata Kuro dengan wajah sedikit sedih.
Saya juga… ingin bersama Rikuo-sama lebih lama…
"Kuro…," Rikuo terdiam sejenak saat menatap Kurotabo sebelum kemudian ia tersenyum. "Baiklah. Rasanya tidak adil kalau aku pergi dengan Ao dan Tsurara terus. Kali ini tolong kawal aku ya, Kurotabo," pintanya kemudian sambil memegang tangan Kurotabo yang tidak sedang memegang tasnya.
Kuro melebarkan matanya dengan kaget. Ia tak menyangka Rikuo akan setuju semudah itu. Padahal dulu dia sering menolak kalau akan dikawal. Sepertinya… akhir-akhir ini Rikuo lebih memahami perasaan para siluman yang sangat menyayanginya.
Mungkin… mungkin Rikuo-sama tahu kalau aku iri pada Aotabo dan Tsurara yang bisa terus berada di sisinya sepanjang hari….
Kurotabo tersenyum lembut sembari menggenggam tangan Rikuo lebih erat dan menarik sang tuan muda untuk memeluknya dengan hangat. "Terima kasih, Rikuo-sama," katanya bahagia.
Maaf karena saya egois, tetapi Rikuo-sama… saya selalu iri dengan mereka yang bisa selalu menemani Anda… karena sesungguhnya rasa sayang saya pada Rikuo-sama tidak kalah dengan mereka. Mereka hanya lebih beruntung mendapatkan tugas mengawal Anda setiap hari….
"Bodoh, harusnya kan aku yang berterima kasih, Kuro," Rikuo mendengus pelan sambil menepuk punggung Kuro yang masih memeluknya itu sambil tersenyum kecil.
Kurotabo masih tersenyum, meringis, memejamkan matanya dan mempererat pelukannya pada tubuh mungil tuan muda berambut cokelat-hitam dan berkaca mata yang sangat dicintainya itu. Untuk saat ini, ia hanya ingin lebih lama sedekat mungkin dengan Rikuo karena dengan begitu rasa irinya mungkin bisa terobati.
End of Sin 3: Envy
A/N: Gyaaah! Kenapa jadi super fluff beginih? XO Yah, sudahlah… yang penting irinya masuk *halah* Ahem. Maaf gaje lagi. Entah kenapa blok plot luna nggak beres-beres nih. Padahal alurnya sudah cukup jelas, tapi begitu mau nulis, entah kenapa langsung hilang begitu saja. Jadi bingung…. So, bagaimana dengan cerita kali ini? Bagus kah? Terlalu biasa? Yah, namanya juga drable… *sweats* Um, ditunggu pendapatnya, lho… Review ya! XD
