Tujuh Keajaiban Cinta Dalam Tujuh Menit

Genre: Romance/Slice of Life

Disclaimer: Nuramago kepunyaan Shiibashi-sensei

Warning: shounen ai, fluff, non-con? *digiles*

A/N: Cerita ke-4 dari Seven Deadly Sins. Kali ini dengan pasangan Zen/Rikuo sebagai fokus cerita dan dengan tema greed atau 'keserakahan'. Enjoy! ^_^


Sin 4: Greed—Zen/Rikuo


Zen tengah berjalan-jalan sendirian di koridor rumah utama keluarga Nura di sore hari ketika ia berkunjung untuk mengadakan cek-up kesehatan bulanan keluarga besar Klan Nura. Masih ada waktu sebelum pemeriksaan dimulai, jadi ia memilih untuk jalan-jalan dahulu sembari berpikir.

Bagi Zen, Rikuo adalah tuan tercintanya, seorang pria yang kelak akan menjadi pemimpin para siluman di dunia kegelapan dengan gagah berani.

Bagi Zen, Rikuo adalah saudara sesumpah, adik angkat yang sangat ia sayangi karena kebaikan hatinya dan kelucuannya yang tiada bandingannya.

Bagi sang siluman burung beracun dari Klan Yakushi/Zen-Ippa tersebut, Rikuo adalah orang terpenting dalam hidup Zen yang terlampau singkat dibandingkan siluman-siluman lain.

Rikuo adalah orang yang telah bersumpah akan mengakhiri hidup Zen suatu hari nanti. Oleh karena itu ia membuat Zen bersumpah juga untuk tidak akan mati sebelum Rikuo memutuskan untuk mengakhiri hidup Zen.

Keinginan dan hasrat Zen hanya satu, yaitu menjadi kekuatan dan siluman yang berguna bagi Rikuo yang ingin melindungi keluarga dan teman-temannya.

Begitulah seharusnya, tetapi… akhir-akhir ini Zen mulai merasakan sesuatu yang lain ketika ia memandang saudara angkatnya itu. Baik sosok siluman Rikuo maupun sosok manusianya, Zen merasa kalau Rikuo menjadi jauh lebih menarik dibandingkan sebelumnya. Mungkin ini karena pengaruh kekuatan Rikuo yang semakin meningkat, atau hanya karena ia semakin dewasa.

Zen menjadi sedikit merasa aneh. Padahal ia sudah berusaha keras untuk memenuhi segala hasratnya untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi saudaranya itu. Ia telah bertukar sakazuki dengan Rikuo di malam Rikuo menyelamatkannya, resmi menjadikannya sebagai saudara angkat sekaligus siluman pertama yang menunjukkan loyalitasnya pada Rikuo dengan mengakui dirinya.

Zen juga menjadi alasan Rikuo berubah menjadi youkai setelah empat tahun Nurarihyon tersebut bersembunyi di dalam diri manusia Rikuo karena Rikuo belum mengakui sisi silumannya. Dia jugalah yang menjadi sayap Rikuo ketika sang pemimpin Hyakki Yako tersebut menggunakan Matoi untuk pertama kalinya, sekaligus membangunkan insting Rikuo untuk menguasai teknik 'kesurupan' itu.

Padahal seharusnya Zen sudah cukup berguna, cukup membantu…, tetapi mengapa? Mengapa Zen masih merasa belum puas?

Ada yang kurang.

Ada sesuatu yang belum Zen lakukan… bukan, mungkin bukan hanya itu. Betapa banyak pun Zen berusaha untuk menjadi sesuatu yang spesial di mata Rikuo, Zen tidak pernah merasa puas… menjadi yang pertama bagi Rikuo. Perubahan silumannya… pertukaran sakazuki-nya… Matoi-nya… apa lagi yang belum? Ciuman pertamanya?

Zen terperanjat dan melebarkan matanya saat pikiran itu terbesit di benaknya.

Apa-apaan yang barusan? Apa aku sudah sinting?—pikir Zen dengan wajah sedikit memerah malu pada pikiran tak pantas itu. Ia sendiri tak mengerti dari mana ide aneh itu muncul. Mungkin dia kelelahan karena terlalu banyak berjalan.

"Aku kembali saja ke ruang utama…" Zen menggaruk belakang kepala yang tertutup rambut berwarna kelabu keperakan itu sambil menghela nafas panjang.

Ia berbalik arah dan hendak berjalan kembali ke ruang utama ketika ia melihat pintu kamar Rikuo. Zen mengerjapkan matanya amber kemerahannya sekali. Ia tidak sadar kalau jalan-jalannya berakhir di depan kamar Rikuo. Apa dia mulai pemeriksaannya sekarang saja mulai dari sang Tuan Muda?

Zen memiringkan kepalanya, mencoba menimbang-nimbang. Akhirnya ia mengangkat bahu dan memutuskan untuk menjalankan pemeriksaan kesehatan pertama dimulai dari Rikuo.

Zen mengetuk bagian kayu pintu geser kamar Rikuo dan mengucapkan salam, "Permisi, Rikuo," sebelum mebuka pintu tersebut. Ia melebarkan matanya, terkejut saat mendapati sang tuan muda berkaca mata dan berambut cokelat itu tengah membuka baju seragam sekolahnya.

Rikuo kontan menoleh kea rah Zen, semua kancing depannya sudah terlepas, bagian atas seragamnya sudah cukup renggang hingga melorot ke lengan atasnya, memperlihatkan tulang selangka dan dada putih Rikuo yang terlihat sedikit berotot, dengan kulit halus dan lembut itu.

"Zen-kun? Sudah mau mulai ya, pemeriksaannya? Aku dengar dari Kejorou saat baru sampai tadi," kata Rikuo sambil tersenyum, membiarkan bagian atas pakaiannya jatuh ke tatami.

Jujur saja, Zen sekarang sedang tidak bisa memproses kata-kata Rikuo karena perhatiannya sedang terpusat pada lekuk tubuh Rikuo yang entah sejak kapan telah terbentuk dengan lebih indah dibandingkan tubuh seorang anak SMP yang dulu sering dia periksa karena jatuh sakit.

"Zen-kun?" Rikuo memiringkan kepalanya dan menghampiri Zen dengan wajah sedikit heran karena Zen membeku di pintu masuk kamarnya.

Zen menelan ludah saat pandangannya meneliti senti demi senti tubuh Rikuo, hingga ia kembali menatap mata cokelat gelap anak itu yang terlihat heran.

Aku ingin menyentuhnya…—pikiran gila iu pun berbisik kepada Zen. Entah mengapa sekarang ia sedikit memahami rasa tak puas yang menghantuinya.

Zen tidak hanya ingin menjadi sesuatu yang berguna bagi Rikuo atau menjadi yang pertama berpartisipasi dan melihat seluruh perkembangan kekuatan sang Sandaime. Ia ingin Rikuo benar-benar mengandalkannya, bergantung padanya. Ia ingin menjadi dunia Rikuo yang ia lihat dengan kedua matanya. Ia menginginkan perhatian itu hanya tertuju padanya. Ia ingin menjadi yang pertama baginya dalam segala hal. Ia ingin menyentuhnya dan melngkupinya dengan sayapnya.

Zen ingin memiliki Rikuo.

Ingin…

Ingin…

Ingin…

"Zen-kun…?" Rikuo meraih wajah Zen yang mungkin saat ini sudah berekspresi sangat aneh.

Zen tersentak kaget dan untuk pertama kali betul-betul melihat ke arah Rikuo. "Ah…?" Ia baru sadar betapa menyeramkannya perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.

"Zen-kun, kau kenapa? Kau sakit? Apa penyakitmu kambuh? Kau butuh istirahat?" tanya Rikuo dengan nada dan wajah yang sedikit cemas saat melihat ekspresi Zen yang memucat itu.

"A-aku…," Zen tidak tahu harus bagaimana saat mengenali perasaan yang baru saja ia rasakan itu. Rasa tak puas karena belum mendapatkan segalanya dari Rikuo.

Keserakahan….

Zen merasa serakah. Ia menginginkan Rikuo dan segalanya dalam diri anak itu.

"Zen-kun…?" Rikuo menatap mata Zen dengan benar-benar cemas sekarang .

Zen merasa akan pingsan jadi dia meraih bahu Rikuo dan masuk ke dalam dengan sempoyongan.

"Zen-kun!" Rikuo mencoba menangkapnya, tetapi karena ia sedikit tak siap untuk menahan beban tubuh Zen dan dirinya sendiri secara bersamaan, keduanya pun terjatuh ke tatami.

"Oww…!" Rikuo mengerang pelan, punggung dan pantatnya sakit terbentur tatami dan Zen perlahan mengerang juga karena tangannya sakit saat mencoba menahan beban jatuh tubuhnya.

Ketika Zen membuka matanya, ia melihat wajah Rikuo yang ada di bawahnya dan kendali dirinya seakan terputus melihat ekspresi kesakitan dan rona merah di wajah Rikuo. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rikuo dan mengecup bibir anak itu sehingga membuat sang Pewaris Ketiga membuka matanya dengan kaget.

"Zen…kun…?" Rikuo menatap mata Zen dengan wajah tak percaya ketika Zen mundur sedikit.

"Aku menginginkanmu… Rikuo…" bisik Zen dengan wajah serius.

Biarlah ia serakah… asalkan ia bisa memiliki Rikuo seutuhnya….

End of Sin 4: Greed


A/N: Aih, Zen… tahan diri dong, kamu kan dokternya, masa mau menyerang pasien sendiri…? *lol* So, bagaimana menurut Anda sekalian untuk cerita kali ini? Oke kah? Luna tunggu komentarnya, lho!