Tujuh Keajaiban Cinta dalam Tujuh Menit
Genre: Humor/Romance/Slice of Life
Disclaimer: Nuramago milik Shiibashi-sensei. Luna hanya meminjam para karakternya untuk bermain~ ^_^
Warning: bahasa kasar, shounen ai, fluff lagi *lol*
A/N: Yosha, cerita kali ini bersama dosa terakhir dari series bertema Seven Deadly sins, Sloth atau 'kemalasan' dan dengan pair utama Kappa/Rikuo! Selamat menikmati~
Sin 7: Sloth—Kappa/Rikuo
Hari ini adalah Hari Valentine. Hari di mana seluruh dunia merayakan pembantaian St. Valentine karena menentang perintah Raja dan nekad menikahkan para prajurit yang akan pergi berperang, dengan wanita-wanita yang mereka cintai.
Kappa masih belum mengerti kenapa hari yang asal-muasal diperingatinya sangat membuat orang depresi begitu disebut sebagai hari kasih sayang. Para gadis membuat cokelat untuk diberikan ke lelaki yang disukai mereka. Manusia memang aneh….
Namun, yang lebih aneh lagi, budaya tersebut rupanya juga telah menular ke keluarga Nura yang kebanyakan adalah siluman. Rupanya Tsurara menyebarkan berita tentang perayaan hari itu di rumah setelah mencuri dengar pembicaraan gadis-gadis di SMP Rikuo-sama.
"Rikuo-samaaa! Tsurara membuatkan cokelat beku yang enak untuk Anda lhooo!" Suara penuh semangat Tsurara terdengar dari arah lorong.
"Rikuo-sama, Kubinashi membuat gula-gula kapas rasa cokelat untuk Anda nikmati dengan segelas teh hangat hari ini!" Sekarang Kubinashi yang berseru.
"Rikuo-sama! Tolong terima kue cokelat cinta dari Kejorou ini!" dan Kejorou juga tak mau kalah.
"Tunggu! Aku sudah membuatkan Rikuo-sama permen cokelat dengan segenap hati dan perasaanku! Terima hadiah dari Kurotabo ini, Rikuo-sama!" Lalu Kurotabo pun menyusul.
"Hei! Kalian antri yang benar! Rikuo akan mencoba minuman cokelat hangat dengan ramuan rahasia Klan Yakushi/Ippa dari Zen-sama ini lebih dulu sebelum menyentuh milik kalian, tahu!" Zen-sama tiba-tiba muncul dari gerbang bersama Shouhei-sama yang membawa sebuket besar bunga mawar merah.
"Aku ingin Rikuo-sama menerima bunga-bunga ini sebagai ucapan terima kasih dan ungkapan rasa sayangku," kata Shouhei sambil tersenyum senang.
"Rikuo-samaaa! Mezu sudah berdandan cantik khusus untukmu hari iniii!" Mezumaru pun berjalan di lorong dengan gaun panjang kreasi Wakana-sama dengan wajah bangga.
Gozumaru tidak berteriak-teriak seperti yang lain, tetapi ia celingukan juga, sepertinya mencari Rikuo dengan sebungkus kotak misterius di pelukannya.
Kappa memperhatikan seluruh anggota keluarga Nura yang sedang gencar mencari Master mereka yang entah kenapa sepertinya tak dapat ditemukan sejak pagi, dari kolam tempatnya biasa bersantai.
"Sungguh… aku tak mengerti mereka," kata Kappa sambil tiduran di air, mencoba melihat warna langit di musim dingin.
Kappa berkedip heran saat mendapati sang Master sedang bersembunyi di atas pohon, di balik batang utama pohon Sakura terbesar di rumah tersebut. Ia terlihat kedinginan pula karena memakai baju tipis di hari sedingin itu.
"Sandaime?" panggil sang Kappa pelan.
Rikuo-sama kontan memekik pelan, sepertinya mendengarnya. Lalu menengok ke Kappa di kolam. Saat melihat sang siluman air, Sandaime menempelkan jari telunjuknya di depan mulut. "Ssst!" dan mendesis, menyuruhnya diam.
Kappa berkedip dua kali sebelum mengangguk. Rikuo-sama masih terus berada di atas pohon dan mengintip ke arah rumah. Setelah yakin semua sudah tidak ada dalam jarak pandangnya, ia melompat turun dan menghampiri Kappa di kolam.
"Kappa, apa kau tidak kedinginan di air? Aku saja di sini yang melihatmu merasa kedinginan," tanya Rikuo-sama sambil berjongkok di tepi kolam, wajahnya sedikit pucat dan bibirnya mulai berubah warna menjadi lebih gelap. Nafasnya juga mengepulkan asap putih.
"Ah, suhu seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding suhu di gunung di tengah musim dingin, Sandaime," Kappa meringis ringan.
"Oh...," Rikuo-sama mengangguk ringan sambil membetulkan kaca matanya yang melorot.
"Kenapa Sandaime bersembunyi? Bukankan ini hari kasih sayang? Semua mencari Anda," kata Kappa kemudian.
Air muka Sandaime berubah menjadi sedikit tertekan. "Yah… sebetulnya kalau mereka tidak mengejar-ngejar diriku sepanjang hari dan memaksaku memakan entah apa yang mereka buat itu, aku tidak keberatan menghabiskan waktu bersama mereka," katanya pelan dengan awan hitam di atas kepalanya. "Ah… kenapa selalu aku yang kena imbas di saat-saat begini, sih…?" keluhnya pelan, terlihat lelah.
Kappa berkedip-kedip lagi sebelum tertawa kecil. Sandaime meliriknya dengan wajah heran. "Kadang-kadang rasa sayang mereka bisa menyesakkan ya?" tanyanya kemudian.
Rikuo menghela nafas panjang. Aku ingin bisa santai hari ini mumpung libur…," katanya sambil memejamkan mata lemas.
Kappa terdiam sebentar. "Ah, kalau begitu," iapun mendapat ide. Tiba-tiba ia menjulurkan tangan berselaputnya, meraih yukata sang Sandaime dan menariknya ke dalam kolam.
"Hyaaah!" Sandaime berteriak kaget saat dia tercebur ke air. "Di—dingiii…eh?" Ia lalu mengerjap-kerjapkan matanya dengan wajah terkejut. "Lho… tidak dingin?" Ia terlihat bingung.
"Kappa memiliki ilmu khusus untuk menyesuaikan suhu lingkungan dengan suhu tubuhnya sendiri. Asalkan Sandaime tetap didekatku, Sandaime tidak akan kedinginan," kata Kappa sambil tersenyum, menarik tubuh Rikuo-sama untuk mendekapnya.
"Oh… ini sangat nyaman…," kata pemuda berambut cokelat-hitam itu balas mendekap tubuh Kappa sambil tersenyum, merasa hangat.
Kappa terkekeh pelan. "Sandaime seperti anak kecil," katanya.
"Eeh, memang aku masih anak-anak, kan?" kata Rikuo-sama dengan sedikit cemberut.
"Anda benar, Sandaime," kata Kappa sambil tersenyum ramah.
"Tapi… di sini benar-benar nyaman ya…, jadi tidak ingin kemana-mana…," Rikuo-sama menutup matanya dan mengeratkan pelukannya di tubuh Kappa. "Hei, Kappa, untuk sementara, sembunyikan aku di sini ya? Setidaknya sampai mereka bosan mencariku," lanjutnya sambil menatap Kappa dengan pandangan memohon yang sangat manis dan lucu.
"Duh, Sandaime bisa jadi malas kalau di sini terus," kata Kappa sambil mengelus-elus rambut Rikuo.
"Biar saja. Hari ini kan libur," Rikuo-sama menimpali dengan sok cuek, lalu ia menguap, sepertinya mengantuk.
Kappa terkekeh lagi sambil menggelengkan kepala, menyembunyikan tubuh Rikuo dalam air.
Yah… sekali-kali bermalas-malas pun tak apa. Sandaime sudah berjuang dengan keras sampai sekarang. Biarlah dia istirahat dulu…—pikir Kappa, mencium rambut Rikuo dengan lembut. Kali ini saja… biar aku yang menemaninya….
Lalu Kappa pun tertidur juga dalam suasana yang santai tersebut bersama sang Sandaime di dalam pelukannya.
End of Sin 7: Sloth
Seven Deadly Sins, COMPLETED!
A/N: Yup, dengan ini, lengkap sudah tantangan Seven Minutes in Heaven! Waks, yang terakhir ini kurang impak! Yah…nulisnya sambil malas-malasan juga sih… macam temanya *ngakak* Entah kenapa anggota Nura yang paling santai adalah Kappa, jadi tanpa sadar pengen membuat Kappa dan Rikuo bersantai dan bermalas-malasan di air! XDDD
Nah, bagaimana keseluruhan cerita bertema Seven Deadly Sins ini? Menyenangkan? Ditunggu lagi komentarnyaaa!
