Bleach © Kubo Tite.

.

Side 2: The Ticker.

.

enjoy.

.

Berputar, terus berputar.

Waktu terus berputar.

.

Pagi yang sudah cukup terang dengan matahari yang sudah mulai mengintai Soul Society. Memakai seragam lengkap shinigami, dan membawa zanpakutou-nya di pagi hari, sudah beberapa hari ini menjadi kebiasaan perempuan pendek berambut hitam itu.

"Pergi berlatih lagi, Rukia?" tanya seorang teman, shinigami berambut merah panjang yang kebetulan berpapasan.

Perempuan itu, memperlihatkan warna iris matanya yang keunguan, namanya Kuchiki Rukia, tersenyum ringan. "Begitulah, tato-alis-fukutaichou."

"Jangan membuatku kesal pagi-pa-hei, kenapa kau memotong rambutmu?"

"Oh, ini?" Kuchiki Rukia memegang ujung rambutnya yang menggelayut liar di bawah telinganya. "Hasil latihan."

"Begitukah? Pantas kau terlihat aneh pagi ini. Sampai bertemu lagi di penobatanmu ya, Kuchiki-fukutaichou." Lambat laun sosok Abarai Renji menjauh, meninggalkan kesan terhadap lambaian tangannya dari belakang.

"Ma-maksudmu aneh? Hei, kembali kau, Renji!"

.

Jika kehidupan berputar seperti jarum jam, apakah jarum jamku berputar?

.

Deretan pasukan Gotei 13 yang berbaju serba hitam, berjajar rapi di ruang pertemuan. Dengan satu titik tujuan, Yamamoto Genryuusai Shigekuni-soutaichou.

"Otoribashi Rojurou sebagai taichou divisi 3 menggantikan Ichimaru Gin, Hirako Shinji sebagai taichou divisi 5 menggantikan Aizen Sousuke, Muguruma Kensei sebagai taichou divisi 9 menggantikan Kaname Tousen, dan Kuchiki Rukia sebagai fukutaichou divisi 13 menggantikan—"

"—Shiba Kaien."

Gotei 13 juga butuh perbaikan. Gotei sudah mengalami kerusakan sana-sini. Mengalami penghancuran dalam organisasi. Banyak perpecahan dan banyak korban. Banyak yang harus dipulihkan kembali.

Namun dengan suasana yang damai ini, Gotei pasti bisa pulih kembali, dan berjaya seperti era keemasannya kembali. Seperti dulu.

Meskipun sepertinya ada suatu titik yang hilang dari sini.

Kuchiki Rukia menengadah langit. Memandang shinigami-shinigami di depannya. Badannya pendek. Rukia butuh tempat tinggi...

...untuk bisa melihat semuanya. Untuk bisa melihatnya.

.

Seperti masa lalu dan masa depan.

Seperti menengok ke belakang lalu menengadah ke depan.

.

"Meraunglah, Zabimaru!"

Zanpakutou liar itu memanjang, melesat. Menubruk batu-batu. Menebas karang-karang di depannya. Terus memanjang sampai panjangnya tak terkira, besar dan panjang. Dan Zabimaru meraung ke langit dengan gagah perkasa.

Abarai Renji sudah memperkirakan lesatan Zabimaru. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, ia lebih berkonsentrasi pada perkembangan zanpakutounya.

"Sekarang!"

"Ban-kai!"

Sekelilingnya menggelepar, menyisakan Zabimarunya yang besar membumbung ke angkasa. "Sempurna!"

Dengan ini, Rukia pasti akan senang...

.

Apakah kehidupanku berputar? Seperti jarum jam? Seperti roda takdir?

.

"Percepat langkahmu!"

BRAK. Satu batu hancur. DUAR. Seonggok tanah retak. SRAK. Suara gesekan sepatu jerami dan batu pasir.

"Ugh!"

"Masih belum bisa menemukanku?"

Pedang beradu lagi. TRANG. Pita putih berputar-putar. Dua pedang dengan pita putih yang menari-nari. TRANG. Patah.

Kuchiki Rukia beradu dengan kecepatan tinggi. Pedang berayun di langit, lalu membentur tanah pasir. Ia meloncat, berdiri di langit dengan pijakan reiatsunya, menghadang setiap serangan di hadapannya.

"Sampai kapan kau akan terus bertahan?"

Diam. Tetap menangkis serangan-serangan dengan pedang seadanya. Semua yang rusak. Semua yang ia pakai untuk menghindar. Semua teknik bertahan yang pernah ia pelajari.

"Aku sudah bilang berkali-kali kalau aku tidak akan berbaik hati."

Diam. Tetap dalam posisi siaga untuk menghalau serangan, dan berusaha menambah kecepatan. Dan berusaha menghitung akurasi. Rukia tahu selama ini ia lemah dalam serangan pedang dan hanya mengandalkan kemampuannya dalam kidou. Selama ini, beberapa lama ini, ia terus berlatih untuk melancarkan serangan pedangnya.

"Kemarin aku sudah memotong rambutmu, bisa saja hari ini aku akan memotong kepalamu."

Sial. Sudah tiga hari namun belum menunjukkan kemajuan.

.

Jarum jam itu berhenti berputar.

.

"Aku akan memperlihatkannya kepadamu, karena kau yang paling dekat dengannya."

"Apa maksud anda—"

"Diam dan perhatikanlah, Rukia."

Kuugo Ginjou, shinigami pengganti pertama yang berkhianat, sekarang mulai melancarkan gerakannya dengan mendirikan organisasi "Xcution", dengan anggota-anggota manusia yang orangtuanya pernah diserang hollow sebelum ia lahir. Dengan itu, Ginjou mencari shinigami pengganti lainnya untuk bisa melaksanakan tujuannya: membalaskan dendam kepada Soul Society yang mengkhianatinya.

Sekarang ia menemukannya. Shinigami pengganti kedua—

—Kurosaki Ichigo.

"Hei, Ichigo, kenapa kau mau saja mempercayainya? Hei! Dengar aku! Dia orang jahat!"

Sejak kapan dia menjadi orang yang seperti itu?

"Masih mau dilanjutkankah, Rukia?"

Wajahnya yang hampa. Sorot matanya yang penuh kesedihan. Sorot matanya yang kehilangan harapan. Apa yang sebenarnya kau lakukan, Ichigo?

.

Berhenti, jarum jam itu terhenti.

Tanpamu, tidak akan berputar.

Berhenti, jarum jam yang baru mulai berputar.

.

Satu hal yang hilang. Hanya satu hal. Hanya satu dari seribu titik.

"Memikirkan dia, eh?"

Rukia tercengang. "Renji! Sejak kapan kau ada di sini?" Berusaha mengatur napas dan menata ketenangan.

Bintang-bintang berhamburan membentuk rasi di langit Soul Society. Dua orang yang memandangnya tampak kecil jika dilihat dari sana. Mereka yang melihat dari atap markas divisi pun hanya melihat titik-titik kecil yang bertebaran sesuai dengan konstelasinya.

"Kau tahu, aku memperhatikanmu sejak lama," ujar Renji singkat. Kembali menatap langin bertabur bintang. "Tapi aku tidak mau mengganggumu, karena aku tahu apa yang membuatmu terdiam di sini."

Diam. Keduanya sama-sama diam. Rukia terdiam oleh perkataan Abarai Renji. Renji terdiam untuk menikmati ketenangan malam di Soul Society.

"Kau tahu?"

Renji menatap Rukia yang tidak berani menatapnya dan hanya menunduk. "Aku tahu."

Rukia menengadah, melihat wajah sahabatnya yang menatapnya lurus. Membaca matanya. Lalu tersenyum tipis.

"Kau tidak tahu."

Hela napas. Tundukan. Berkacak pinggang.

"Apa yang aku tidak tahu?"

Rukia tersenyum lagi. "Tidak ada yang perlu kau ketahui, Renji."

Tidak ada, eh? "Apa maksudmu? Bukankah aku ini sahabatmu?"

Diam. Keduanya menatap bintang-bintang lagi. Dengan hati penuh pertanyaan. Aku juga tidak tahu tentang itu.

"Kau merindukannya?"

Rukia menghela napasnya lembut. Menatap langit. "Kenapa? Karena katamu bintang adalah pecahan reiatsu? Kaien-dono hidup di hatiku sekarang, ia yang bilang begitu."

Rukia berbicara kepada bintang. Renji menatap iris mata violet itu lekat. "Kau merindukan dia."

Dan Rukia berhasil dipancingnya. Menoleh ke arah Renji. "Siapa?"

"Ichigo."

"Untuk apa?"

"Untukmu yang mulai keras kepala, seperti dia."

"Begitu? Siapa yang keras kepala?"

Adu mulut sepasang sahabat yang terus berlanjut di malam penuh bintang.

.

Roda takdir yang baru berputar.

.

"Apakah kalian semua bersedia melakukan hal ini?"

Diam. Hanya anggukan seluruh pasang mata yang bisa dilihat Yamamoto-soutaichou.

"Benar-benar bersedia?"

Diam lagi.

"Kami melakukannya demi balas budi. Apakah itu kurang cukup untuk meyakinkan?"

Yamamoto-soutaichou melihat refleksinya di pedang itu. Lalu melihat refleksi semua taichou dan fukutaichou yang terkena di pedang itu.

"Soul Society berhutang besar padanya."

"Apakah Soutaichou tidak mau percaya?"

Ya, pertarungan besar itu membuat mereka kehilangan. Terlalu banyak kehilangan. Dan kehilangan shinigami pengganti satu itu sudah cukup membuat mereka berhutang besar.

"Pegang pedang ini dengan tangan kalian, alirkan reiatsu kalian sebanyak mungkin."

Dan banyak lengan langsung menyambar pedang itu.

"Sekali lagi, masa depan Soul Society akan bergantung darinya."

.

Roda takdir yang terhenti, seperti jarum jam yang berhenti berputar.

Hidup yang terhenti dalam rotasi.

.

"Kenapa saya... yang diperintahkan melakukan hal ini?"

Ukitake Juushirou menatap fukutaichou-nya lekat. Ramah senyumnya masih bisa dirasakan Rukia sekalipun matanya terpancang ke sebuah pedang perak yang merefleksikan wajahnya. Tangan kanan Ukitake-taichou yang lembut, yang membelai rambutnya.

"Karena aku tahu hanya kau yang bisa melakukannya."

Rukia menegakkan kepalanya, menatap taichou-nya yang lembut. "Hanya aku?"

"Ya, lagipula, dia orang yang sangat penting bagimu kan?"

Orang yang sangat penting...

"Hei, Rukia! Lama tak berjumpa!"

"Aku menolak semua opinimu. Lagipula, orang yang diselamatkan seharusnya diam dan berteriak 'tolong aku!'!"

"Aku sama sekali tidak terhibur dengan kata-katamu! Lagipula aku juga tidak memasang wajah sedih!"

"...Terima kasih."

...orang yang sangat penting baginya.

Yang menyelamatkan hidupnya dan membagi takdir yang ia belokkan.

Ichigo...

"Ya. Saya bersedia."

.

Kapan akan mulai berputar kembali?

.

- t h e . e n d –

"When the two that share destiny part and reunite, beyond the frame of time the ceased clock will awake and start to tick once again." –Kubo Tite (Chapter 460 Spread –for Bleach: Ressurection Soul 6)

A/N:

Tahukah anda kalau puisi ini idenya berasal dari spread Kubosen mengenai Bleach: Ressurection Soul 6 yang legendaris (alay) itu? hiya, kalo kalian nebak2 saya bikin fanfic ini karena terinspirasi puisi aduhai yg bilingual itu, anda tidak salah 8D saya meleleh karena puisi itu, makanya saya ngeship IchiRuki /loh /ganyambung.
belakangan ini saya jadi konsumen kompulsif puisi2nya Kubosen, abis mereka indah dan dalem banget sih. oh iya, Rukia di sini IC kah? Ichigo di chapter 1 IC kah? /telatwoi lupa soalnya. cerita di chapter 2 ini selain makian Rukia ke Ichigo itu semuanya saya yg ngarang. cuma wondering aja Rukia ngapain aja sih selama 17 bulan setelah winter war itu. dan saya ngarang cerita bahwa rambut Rukia ditebas Shirayuki-hime lol udah ah malu.
dan itu Rukia berduaan sama Renji lama amat ya eh kalian pacaran? turun turun! /plak
btw saya menggalaukan 2 orang berparas mirip, om Kaien dan bang Ichi. haha Rukia kamu kok bisa jatuh cinta (ngarang) pada 2 pria bewajah sama sih? buat aku satu dong /eh eh eh

Terima kasih sudah membaca ^^ tolong review ya? mau kan? mau dong /maksa

Mitoia.

P.S. SEGERA beritahu saya kalau ada typo. (berlaku u/ chapter 1 juga)