Disclaimer : Bleach © Tite Kubo.

Say YES! © Yanz Namiyukimi-chan

Warning : AU, OOC, typo(s), Twoshoot, Sequel dari Putri Tidur.

DON'T LIKE DON'T READY!

Ichigo belum pernah sekali pun mendapat pengakuan dari Rukia bahwa gadis itu menyukainya. Padahal status mereka sudah PACARAN!

.

.


.

.

Hari terus berlanjut dan tanpa terasa waktu telah berjalan cepat. Satu bulan tanpa terasa sudah berlalu. Dan itu tandanya Rukia gagal jadi mak comblang!

Oke, sejak kapan Rukia jadi mak comblang? Memangnya Rukia bisa? Tentu saja! Dengan pengalaman yang tidak ada sama sekali, hasil bisa dilihat 'kan? Gagal total! Ya, GAGAL TOTAL!

Sepertinya keberuntungan tidak ada bersama dengannya. Tapi yang perlu dipertanyakan adalah Rukia jadi mak comblang siapa? Tentu saja, siapa lagi jika bukan Ulquiorra yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis cantik bernama Orihime Inoue. Bagaimana bisa? Sejak kapan Ulquiorra curhat pada Rukia?

Oke, ia tidak bisa menceritakan detail-nya mengenai masalah ini. Yang jelas di sini ia hanya membantu mendekatkan Ulquiorra dan Orihime. Ulquiorra ternyata sudah menyukai Orihime sejak lama bahkan sebelum mereka bertemu di acara perkenalan waktu itu. Namun ternyata semuanya tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkannya. Melakukan perkenalan, pendekatan, lalu menjadi teman. Setelah itu menyatakan perasaan yang terpendam selama ini. Lalu status pun berubah, UlquiHime pacaran!

Ya, terlihat sederhana dan gampang bukan? Namun nyatanya tidak semudah itu. Apalagi ia mendapat semprotan dari sang target dengan mata berkaca-kaca bahwa ia telah menduakan Kurosaki-kun—Rukia dikira bermain dibelakang Ichigo alias disangka selingkuh dengan Ulquiorra. Ya, karena ternyata gadis yang disukai Ulquiorra itu sudah mempunyai orang yang disukai yaitu Ichigo Kurosaki yang saat ini berstatus pacarnya. Dan itu membuat si muka datar patah hati.

Jika Ulquiorra tidak bisa mendapatkan Orihime itu bisa gawat! Apalagi sekarang waktunya sudah tidak ada lagi. Ia akan benar-benar bertunangan dengan Ulquiorra. Rukia memandang bayangannya di cermin. Sosok dirinya yang memakai bedak tipis dan lipgloss di bibirnya. Hingga bibirnya semakin berwarna pink merekah. Tanpa blash on, tanpa mascara, tanpa eyeliner. Hanya riasan sederhana itu yang menempel pada wajah Rukia. Namun Rukia tampak menjadi berbeda. Rambutnya yang digulung ke belakang dan gaun hitam yang elegan melekat pada tubuh kecilnya, itu sudah cukup membuat Rukia tampak cantik di hari pertunangannya.

Rukia tertunduk, meremas gaun yang hanya memiliki panjang selutut itu. Tangannya berkeringat dingin. Ia tidak menyangka hari ini benar-benar akan datang. Kami-sama, tolong aku. Rukia hanya bisa berharap bahwa akan ada sang dewa penyelamat yang dikirim untuknya. Membawanya kabur membatalkan ikatan antara sepasang manusia yang seharusnya tak pernah ada.

.

.


.

.

Sekarang Ichigo terjebak dalam keramaian orang-orang dewasa pecinta bisnis. Sungguh jika bukan karena ayahnya yang tidak bisa datang menghadiri undangan salah satu rekan bisnisnya, Ichigo tidak mau berada di sini untuk mewakilinya. Jenuh dan bosan. Benar-benar menguasai suasana hati Ichigo saat ini. Berbicara dengan orang yang bukan seusianya memang terasa jenuh dan juga tidak bisa tersikap leluasa, mengingat orang yang di sekelilingnya adalah orang-orang yang penuh sopan santun.

Ada beberapa yang memandang Ichigo dengan penuh ketertarikkan. Melihat paras Ichigo yang memang enak dipandang dan sikap Ichigo yang terkesan ramah, membuat mereka mudah menyukainya. Ichigo hanya bisa tertawa hambar saat di antara mereka berniat mengenalkan anak perempuannya pada Ichigo. Tentu saja ia tidak bisa menerimanya.

Ichigo sudah mempunyai seorang kekasih. Walaupun ia seorang playboy, tapi saat ini hatinya sedang terobsesi pada Rukia. Menaklukkan wanita lain itu gampang! Sekali bertemu, pasti mereka akan langsung jatuh cinta pada Ichigo. Memang beginilah nasib orang-orang tampan. Mudah membuat orang jatuh cinta!

Semua mengalihkan perhatiannya—termasuk Ichigo—saat mereka mendengar lengkingan suara dari microphone dan di ikuti oleh suara deheman seseorang. Di atas sebuah podium, berdiri seorang pria berambut pirang panjang diikat ke belakang dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya, tersenyum ramah dan mulai mengeluarkan suaranya.

"Kami ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada hadirin yang sudah mau menghadiri pesta ini. Dan ada berita yang membahagiakan, ternyata sang tuan rumah kita bukan hanya ingin merayakan kesuksesan kerjasama perusahaan kita. Malam ini juga, akan diselenggarakan pertunangan anak semata wayangnya," suara pria itu bergema ke setiap sudut ruangan dan tak lupa pria itu menebar senyum hangatnya.

Suara tepuk tangan pun terdengar riuh di dalam ruangan megah itu. Ichigo juga ikut memberi tepuk tangannya meski begitu malas ia melakukannya. Berharap pesta yang membosankan ini segera berakhir. Ichigo melonggarkan ikatan dasi merah yang ia pakai. Ia mulai merasa gerah dan tidak nyaman dengan pakai formalnya yang ia gunakan. Lagi-lagi suara pria itu kembali bergema, namun Ichigo tidak bisa menangkap sepenuhnya apa yang dibicarakannya.

Suara tepuk tangan kembali riuh, kali ini untuk menyambut kehadiran seseorang. Ichigo yang sedari tadi acuh dengan keadaan sekitarnya kini terdiam terpaku saat secara tidak sengaja mata hazel-nya menangkap sosok yang familiar baginya. Kini sosok itu benar-benar menjadi pusat perhatian para tamu.

Gadis mungil itu menuruni tangga secara perlahan. Gaun malamnya sedikit bergoyang mengikuti langkah anggunnya. Tangannya tengah menggandeng seorang pria paruh baya yang tampil gagah dan berwibawa di sampingnya.

Kesan gothic lagi-lagi melekat pada sosok itu. Bagi Ichigo, Rukia benar-benar seperti boneka gothic. Kulitnya sudah berwarna pucat, memakai gaun selutut berwarna hitam. Sorot mata yang polos. Ditambah riasan yang sederhana. Bahkan Ichigo tidak yakin bahwa Rukia itu berdandan. Tak ada yang berbeda dari dandanan Rukia setiap harinya, hanya saja bibir tipis itu sekarang tampak lebih merekah.

"Wah, jadi ini putri Kuchiki itu? Wajahnya mirip sekali dengan Hisana, istri Byakuya."

"Wajahnya memang mirip Hisana, tapi sepertinya pesona yang dimilikinya menurun dari Byakuya."

"Ya! Tahu begini, aku 'kan bisa menjodohkannya dengan putraku!"

Ichigo tertohok. Tak menyangka sang tuan rumah yang sedari tadi belum muncul adalah ayah Rukia, Byakuya Kuchiki. Orang yang sedari Ichigo tunggu-tunggu kemunculannya agar ia bisa dengan cepat menyampaikan pesan ayahnya yang tidak bisa hadir dan segera get out dari pesta membosankan ini. Ya, ampun! Kenapa bisa ia benar-benar lupa dengan marga Rukia!

Rukia dituntun untuk menaiki podium. Entah sejak kapan Ulquiorra beserta ayahnya sudah berada di atas podium menyambut kedatangannya. Acara pertunangan pun segera dimulai. Ulquiorra mengambil salah satu cincin pada kotak yang disodorkan padanya. Dan tanpa ragu ia menyematkan cincin itu di jari Rukia. Suara tepuk tangan meriah dan senyum bahagia mewarnai acara pertunangan itu.

Ichigo merenggut gelas yang berisi wine dari seorang pelayan yang melintas di hadapannya. Tanpa segan ia menghabiskannya dalam sekali teguk. Sekarang Ichigo merasakan dirinya mulai gila. Tidak waras. Tak punya akal sehat lagi. Ia tertekan berada di sini.

Kenapa? Kenapa mereka masih bisa tersenyum bahagia meski dirinya ada di sini berusaha menahan perih hatinya. Ingin sekali Ichigo berteriak jika gadis yang berada di atas podium itu adalah kekasihnya! Rukia adalah kekasihnya! Ichigo tidak rela! Sampai kapan pun ia tidak akan pernah rela jika Rukia-nya menjadi milik orang lain.

Brengsek!

Rukia ragu saat akan memasangkan cincin berwarna keperakan itu pada jari manis Ulquiorra. Apa ia akan pasrah saja terbelenggu dalam ikatan ini tanpa kesepakatan dari keduanya—Ulquiorra dan Rukia. Apa Kami-sama tak berniat untuk menolongnya lepas dari semua ini? Atau Kami-sama ingin menunjukkan sebuah takdir padanya? Bahwa ia memang harus bertunangan dengan Ulquiorra?

Rukia menatap mata kehijauan itu. Entah apa yang sedang ada dipikiran Ulquiorra, kenapa mau-maunya pemuda itu ditunangkan seperti ini? Bukankah ia cinta pada Orihime Inoue? Bukankah mereka juga sepakat untuk membatalkan pertunangan ini? Atau—ya ampun! Jangan-jangan saking patah hatinya karena Orihime, ia jadi nekat mau saja ditunangkan seperti ini?

Oh, My God! Apa yang harus ia lakukan?

"Rukia!" panggil Byakuya pelan melihat putri yang tiba-tiba melamun. Rukia mempat terlonjak kaget mendengar suara ayahnya.

"Cepat pasangkan cincinnya di jari Ulquiorra," bisik Byakuya.

Rukia kembali memfokuskan diri. Tanpa sadar ia menahan napasnya. Sekarang ia tidak peduli. Toh, ini hanya pertunangan bukan pernikahan. Kenapa ia begitu pusing dengan masalah ini? Ia masih punya waktu agar ikatan ini tidak berlanjut kejenjang berikutnya—pernikahan. Ya, ia masih mempunyai waktu dan itu bisa dipikirkan nanti.

PRANG!

Rukia kembali tersentak kaget saat mendengar suara pecahan beling yang begitu jelas di telinganya. Membuat Rukia tanpa sengaja menjatuhkan cincin yang ada dalam genggamannya. Mata violet itu membulat tak percaya saat menemukan sosok yang telah membuat kekacauan di pesta yang diselenggarakan ayahnya.

"I—Ichigo?" seru Rukia tercekat. 'Kenapa bisa ia ada di sini?'

Ichigo tertunduk dalam. Pecahan gelas itu berserakan di sekitar kakinya—karena dibanting untuk meluapkan emosi. Semua menatap Ichigo dengan heran dan penuh tanda tanya.

Ini salah mereka! Salah mereka yang telah memancing emosinya! Apalagi wajah murung Rukia itu—arrghh! Ia tahu! Ia tahu Rukia tidak pernah menerima pertunangan ini. Ichigo tahu, raut wajahnya yang terlihat begitu resah, lelah dan—apa mungkin hal ini yang telah membuat Rukia terlihat aneh akhir-akhir ini?

Ck, orang berengsek! Kenapa mereka memaksanya jika Rukia memang tidak mau! Ichigo membatin. Ia begitu kesal menyadari apa sebenarnya terjadi.

Kedua tangan Ichigo terkepal erat di sisi tubuhnya, namun tak lama kemudian kepalan tangan itu melemas. Membuat tangan itu hanya bisa terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ia harus bisa tetap mengendalikan emosinya jangan sampai ia bertindak fanatik. Pandangan Ichigo terfokus pada cincin yang tergeletak tak jauh dari kakinya. senyum menyeringai, Ichigo mendapat sebuah ide gila!

Dalam keheningan yang saat ini belum bisa dipecahkan oleh siapa pun, Ichigo mulai mengambil langkah pelan—setelah merunduk mengambil cincin yang tergeletak pasrah di dekat kakinya. Keheningan yang tercipta membuat suara ketukan sepatu Ichigo terdengar jelas di telinga. Langkah itu terdengar tenang dan santai.

Mata hazel itu terfokus pada satu sosok Rukia, tak berniat mengalihkannya untuk menatap sosok lain. Beberapa orang merasa kagum dengan aura yang dipancarkan Ichigo. Sungguh mempesona!

Ichigo berhenti tepat di hadapan Rukia. Rukia tetap bergeming bak patung yang tidak bisa bergerak. Tak berniat sedikit pun mendongak menatap sosok yang berdiri di hadapannya. Ia hanya bisa menatap dada bidang Ichigo yang ada tepat di depan wajahnya. Pikirannya benar-benar kosong.

Ichigo memasang wajah datar. Ia hanya bisa menatap puncak kepala gadis mungil itu saat ini. Ichigo meraih salah satu tangan Rukia, di sana sudah terpasang cincin yang membuat gadis itu terikat. Ichigo mengusap lembut punggung tangan Rukia dengan ibu jarinya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menyentuh Rukia seperti ini. Memeluknya, menciumnya, meski gadis itu tidak suka.

SRET!

Rukia langsung mengangkat kepalanya. Memandang terkejut atas tindakkan pemuda berambut orange itu pada cincinnya. Dengan sedikit menyunggingkan bibirnya, Ichigo memasangkan cincin—yang dipungutnya—pada jari Rukia. Menggantikan tempat cincin yang sebelumnya telah ia lempar seenaknya tanpa izin.

"Maaf, tapi Rukia adalah kekasihku! Tidak mungkin aku membiarkannya bertunangan dengan orang lain."

Tanpa menunggu lagi Ichigo menarik tangan Rukia, berniat membawa gadis itu membawa kabur. Hei! Mungkin saja 'kan jika orangtua Rukia tetap memaksa pertunangan itu dan Ichigo yang ditendang keluar. Ya, kadang orangtua itu senang bertindak egois.

Rukia benar-benar tak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Bener-benar tidak mengerti. Tiba-tiba saja tangannya sudah ditarik seperti ini. Hanya satu pertanyaan yang hinggap di kepala Rukia saat ini: bagaimana pertunangannya dengan Ulquiorra?

Perlahan senyum manis tersungging di bibir tipis Rukia, begitu tahu apa yang diharapkannya benar-benar terjadi. Tuhan benar-benar telah mengirimkan dewa penolong untuknya! Hatinya bergemuruh. Ia merasakan gejolak yang begitu mendebarkan di dadanya. Sungguh rasanya sampai ingin meledak. Rukia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi bukankah yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya pertunangannya dibatalkan?

Rukia membalas genggaman tangan Ichigo. Rukia benar-benar bersyukur dengan kehadiran pemuda itu di pesta pertunangannya. Dan… berbuat nekat!

Rukia tidak bisa membayangkan jika pertunangannya dengan Ulquiorra benar-benar terjadi. Padahal tadi ia benar-benar sudah pasrah. Keajaiban memang selalu datang tiba-tiba!

Rukia memberikan senyum tulus yang belum pernah Ichigo dapatkan selama ini—walau Ichigo tidak tahu karena ia sibuk dengan pikirannya membawa kabur kekasihnya. Tanpa sadar Rukia ikut mempercepat laju kaki pendeknya berusaha mengimbangi langkah lebar kaki Ichigo. Entah kenapa ia begitu bersemangat dalam acara pelarian ini. Ia tidak peduli Ichigo akan membawanya pergi ke mana. Untuk saai ini Rukia hanya akan mengikuti Ichigo ke mana pun lelaki itu pergi.

Arigatou, Ichigo.

.

.


.

.

Entah Ichigo itu bodoh, tolol, idiot, atau tak punya otak? Karena pada kenyataannya ia tidak benar-benar membawa kabur putri Kuchiki—kekasihnya yang akan ditunangkan dengan orang lain. Ia hanya membawa lari Rukia ke taman belakang kediaman Kuchiki. Ya, kadang apa yang ada di dekat itu selalu dihiraukan sedangkan yang berada jauh di sana selalu diperhatikan. Ya setidaknya jika mereka—para utusan Kuchiki yang datang untuk merebut Rukia dari Ichigo—tidak akan menyangka jika pemuda berambut orange dan sang putri Kuchiki yang telah dibawa kabur masih berada di kediaman Kuchiki. Tapi jika itu tidak sesuai dengan pikirannya bagaimana? Bagaimana jika mereka tahu Ichigo dan Rukia ada di taman itu tanpa harus repot-repot mencari dulu di luar sana? Pasti riwayat hidup mereka tamat sampai di sini saja!

Mereka saling menarik napas pendek. Walau kenyatannya Ichigo dan Rukia hanya berlari ke taman belakang milik Kuchiki, tapi itu sudah membuat paru-paru mereka terasa tersiksa kehabisan napas. Dalam keadaan masih saling bergandengan tangan satu sama lain, Rukia menarik napas dalam-dalam membiarkan oksigen memenuhi organ paru-parunya. Ini benar-benar melelahkan. Bagaimana jika mereka terus berlari ke gerbang depan kediaman Kuchiki jika—

Tiba-tiba Rukia merasakan remasan di tangannya lebih erat daripada sebelumnya. Rukia menoleh dan mendapati Ichigo yang sedang memperhatikannya dalam diam. Napas pemuda berkepala jeruk itu terlihat masih memburu. Dadanya masih naik turun dengan cepat. Mereka saling bertukar pandang dalam diam. Angin berhembus pelan menemani udara dingin malam ini.

"Arigatou," seru Rukia memecah keheningan di antara mereka.

"Hanya itu saja?" ucap Ichigo dengan ekspresi tak berarti di wajahnya.

Rukia terdiam menatap kedua bola mata hazel itu lebih dalam. Dengan gerakan cepet Rukia mengambil satu langkah maju kemudian menjijitkan kedua kakinya.

Cuuppp~

"Arigatou. Hontou ni arigatou," bisik lembut Rukia di telinga Ichigo.

Ichigo membeku, terkejut. Ichigo tak pernah menyangka jika ini reaksi yang akan diberikan Rukia padanya. Ichigo merasakan desiran cepat di dadanya. Namun, entah kenapa reaksi Rukia yang seperti itu membuatnya resah dan bimbang.

"Apa kau menyukaiku, Rukia?"

Rukia sedikit tampak terkejut. Lagi-lagi Ichigo mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.

Ichigo meremas kembali tangan Rukia. Menatap dalam dan penuh harapan pada kekasihnya. Ia ingin sebuah kejelasan tentang perasaan gadis mungil itu padanya. Ichigo tidak mau terus terbelenggu dalam perasaan resah, bimbang dan takut kehilangan seperti ini.

Rukia terdiam. Lagi-lagi ia merasakan perasaan itu. Perasaan yang berusaha Ichigo sampaikan padanya. Resah, kalut, harapan. Rukia tertunduk dalam. Tidak mungkin ia menatap Ichigo sambil mengatakan hal seperti itu 'kan? Dengan jantung yang berdebar-debar Rukia berusaha mengeluarkan suaranya meskipun pelan.

"Mungkin."

.

.


.

.

Byakuya Kuchiki memperhatikan pemandangan langka di matanya. Di balik dinding kaca yang secara leluasa menampilkan taman belakang kediamannya, ia bisa melihat putrinya sedang bersama pemuda berambut orange yang telah mengaku-ngaku sebagai kekasih putrinya.

"Bya-kun apa kita tunda pertunangannya atau kita batalkan saja?" tanya sang istri yang setia berada di sampingnya.

Byakuya menggeleng pelan, "Entahlah Hisana. Aku tidak tahu."

Kejadian beberapa waktu yang lalu masih mengejutkannya.

Hisana menyentuh lembut bahu suaminya, "Kurasa tidak apa-apa jika Rukia memang mempunyai pilihannya sendiri. Lagipula sepertinya lelaki itu baik."

Lagi-lagi Byakuya menggelengkan kepalanya. Lalu menatap Hisana, "Aku tidak bisa membayangkan jika nanti aku mempunyai cucu berambut… orange?" ucapnya sambil mengerutkan dahinya.

Ya, ampun! Sampai kapan pun Byakuya tidak bisa membayangkannya. Selama ini tak ada satu pun keturunan Kuchiki yang mempunyai rambut mencolok seperi itu.

Kami-sama masa' cucuku berambut orange, sih?

.

.


.

.

"Ohayou, Ichigo-kun~" sapa seorang gadis bertubuh sintal sambil menghadiahi pipi Ichigo dengan sebuah kecupan.

Ichigo terkekeh geli mendapati aksi dari mantan kekasihnya itu, "Ohayou."

"Aisssh!" mata Senna menyipit melihat pemandangan di bawahnya. Beraksi tidak suka. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Rukia yang berdiri tak jauh darinya. Yang sedari tadi ikut memperhatikan pemandangan di luar sana dari kelas mereka. Memperhatikan pemuda dengan ciri khas rambut orange yang baru saja datang ke sekolah mereka dengan wajah ceria, semangat dan—menggebu-gebu?

"Kalau dipikir-pikir kenapa ada mau jadi pacarnya, jika setiap hari harus melihat kekasihmu bermesraan dengan wanita lain?" tanya Senna heran.

"Bukankah kau mengidolakannya dan berharap suatu hari bisa menjadi kekasihnya? Dan kenapa sekarang kau bertanya seperti itu?" jawab Rukia dengan santainya. Terkesan menyindir.

Senna merasakan wajahnya mulai memanas, "Sekarang tidak lagi!" bantahnya. "Kalau dipikir-pikir hanya orang bodoh yang mau diperlakukan seperti itu!"

Senna tak bermaksud mengatai Rukia bodoh—karena saat ini Rukia-lah yang sedang menjadi kekasih Ichigo—ya, itu hanya pemikirannya saja. Lagipula temannya satu ini tidak menyukai Ichigo Kurosaki 'kan?

Rukia terdiam tidak menanggapi Senna, sebelum akhirnya menghela napas. Ada perasaan ngilu di hatinya saat melihat pemandangan tadi. Jujur saja Rukia tidak mengerti. Sebelumnya ia tidak penah merasakan hal seperti ini. Apa itu tandanya perasaanya mulai berubah?

"Kami-sama, jangan membuat perasaanku berkembang lebih dari ini."

Senna langsung menoleh mendengar bisikkan halus dari temannya itu—Rukia. Memasang raut wajah tak percaya.

A—apa? Ti-tidak mungkin Rukia—

.

.


.

.

Dua remaja itu saling terdiam di antara keheningan yang terjadi di atap sekolah itu. Menatap satu sama lain yang menyiratkan ingin menyampaikan sesuatu.

"Aku ingin kita putus, Rukia."

Rukia sempat menahan napas sejenak. Jadi ini yang ingin disampaikan oleh Ichigo padanya?

Ichigo menatapnya serius seolah yang diucapkannya bukanlah salah satu tindakkan konyolnya. Terlihat Rukia memasang raut wajah kecewa. Jadi Ichigo benar-benar mengatakannya?

"Gomen, Rukia. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini," Ichigo tertunduk sebagai tanda penyesalannya. Dan Rukia tetap bungkam. Namun tanpa diketahui Rukia, dibalik raut wajah yang tersembunyi itu terdapat seringai kecil.

"Baiklah."

Ichigo dengan cepat mengangkat kepalanya. Dilihatnya Rukia sedang menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya sambil menengadah menatap langit biru.

"Mungkin sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini."

Ichigo hanya mengangguk menanggapi ucapan Rukia. Ichigo tahu gadis itu akan dengan mudah menerima keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka ini. Tidak menangis, merajuk, memohon padanya untuk tetap mempertahankan hubungan mereka seperti kebanyakan mantan kekasihnya dulu.

"Tapi kita masih bisa berteman 'kan?"

Rukia melirik pemuda jangkung itu saat mendengar permintaanya. "Tentu saja. Kenapa tidak?" seru Rukia sambil menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas atap sekolah yang sengaja di pasang.

Ichigo tersenyum puas, "Syukurlah jika begitu."

Hening kembali. Mereka kehabisan bahan pembicaraan. Ya, karena memang tidak ada pembicaraan yang harus dibicarakan lagi 'kan? Namun karena ini suasana menjadi terasa kaku.

"Baiklah sepertinya aku harus kembali," ucap Ichigo sedikit merasa risih dengan suasana canggung itu. Rukia menganggukan kepalanya mengizinkan Ichigo pergi dari hadapannya. Ichigo pun mengundurkan diri membuka pintu atap sekolah itu dan meninggalkan Rukia sendirian.

Kakinya menuruni tangga dengan tenang. Kemudian lagi-lagi seringai kecil itu bertengger bibirnya. Ichigo menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu atap sekolah yang belum jauh ia tinggalkan.

"Kali ini, akan kubuat kau yang mengejar-ngejarku, Rukia," serunya pelan tak lepas dari seringainya yang kini semakin terlihat lebar mengingat rencana hebat yang sudah ia rancang dengan otaknya.

Ya, kita tinggal tunggu saja tanggal mainnya.

.

.


.

.

Rukia tetap diam di atap sekolahnya. Menikmati angin sepoi-sepoi yang membelai wajahnya. Menatap langit cerah yang berwarna biru yang berhiaskan awan yang berarak terbawa oleh angin. Tak peduli dengan keadaan sekolahnya yang mulai riuh oleh siswa-siswinya yang ingin segera pulang ke rumahnya masing-masing.

Berjam-jam ia berada di sini. Tapi tak sedikit pun ia berniat beranjak dari sana walaupun jam pelajarannya telah selesai. Rukia belum mau pergi meninggalkan atap sekolah yang membuat dirinya merasa tenang itu.

Rukia menoleh, memandang lautan manusia yang mulai meninggalkan sekolahnya. Lewat bahunya sendiri ia bisa melihat Ichigo di antaranya. Lelaki berambut mencolok itu sedang memeluk mesra pinggang seorang gadis cantik yang ia ketahui adalah Orihime Inoue. Namun tak ada perubahan yang berarti pada ekspresi Rukia saat ini.

Kaki jenjang itu berhenti melangkah. Kemudian pandangan mereka bertemu. Ichigo cukup terkejut melihat Rukia yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Namun kemudian ia tersenyum penuh arti.

"Kurosaki-kun?" Ichigo mengalihkan pandangannya pada gadis di sampingnya—kekasihnya yang baru.

"Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang Inoue!" seru Ichigo sambil menebar senyum manis pada kekasihnya.

Orihime Inoue mengangguk pelan sambil menyembunyikan rona di wajahnya.

Permainan baru saja akan di mulai, Rukia. Ichigo bersiul senang.

Rukia menghela napas. Kemudian kembali menjelajahi langit secara bebas. "Kita lihat saja nanti. Siapa yang terjebak dalam permainan ini, Kurosaki Ichigo. Kau atau aku?"

.

OWARI

.

Wkwkwkwk kenapa akhirnya jadi gini? *ngakak sendiri* Ichigo di kasih hati minta jantung ya? XD Semoga kalian senang dengan sequel Putri Tidur-nya :D

Yan berniat buat kelanjutan cerita ini dalam mini chapter tapi gak tahu juga. Soalnya yang ini juga yang ditunda-tunda terus XD tapi ada yang memaksa juga buat bikin chap yang panjang *lirik seseorang*

Special's Thanks Review : narusaku20, XenNa Scarlet, Sabaku no Rei, Tarijakartaryayukinekarikari , nenk rukiakate, Wakamiya Hikaru,

Sai : Hahaha… Makasih udah RnR fic Yan. Em… Hitsu gak tahu tuh, tapi klo Yan bikin sequel lagi mungkin nasib Hitsu nanti bakal Yan certain :D

Diosas : Hehehe… sepertinya para author lain lebih seneng liat Ruki yang kayak gitu daripada Ichigo. Thanks udah RnR :D

Chadeschan : Emm… Rukia? Setelah baca Chapter ini perasaan Rukia menurutmu gimana? *nyengir*

Taviabeta-Primavera : Wkwkkw apa di Chap ini Rukia udah bisa dikatakan menyatakan perasaannya? *digampar

Yutha-chan : Apa ini udah termasuk update kilatkah? XD Thanks udah RnR.

Yan emang lagi fokus sama fic pertama Yan di fandom Naruto. Soalnya banyak yang minta cepetan update! Namun nyatanya Yan ngelantarin fic itu dua bulan lebih wkwkwk *ditabok rame-rame*

Sampai ketemu lagi di fic yang lainnya ya! Semoga aja Yan bisa bikin kelanjutan dari alur cerita fic ini. Hahaha… Yan mau berencana bikin Rukia dan Ichigo saling jealous gitu. Jadi tunggu kelanjutannya hanya di Jealous VS Jealous Bye Bye…^^