Mr. Halloween
.
Genre : Romantic, Hurt/Comfort
Rate : T
Cast :
Lee Hyuk Jae as Main character
Jang Wooyoung as 1st namja
Nichkhun as Hyuk Jae's Oppa
Warning : Yaoi, Genderswitch, umur bukan umur asli
Disclaimer : Semua cast yang ada di FF ini adalah milik Tuhannya masing-masing. Tapi FF ini tetep milik saya seorang. Dan FF ini saya buat dengan support sobat saya, si cungkring Sinta Ramadhani. We are Mrs. Halloween. Hahahaha...
.
Mr. Halloween
.
Tiba-tiba sinar matahari sudah menerobos masuk lewat celah tirai jendela dan membangunkanku. Ku lihat jam beker di dekat tempat tidurku. Pukul 5.30. aku segera bangun dan mandi. Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan meja makan.
"Eomma. Appa. Aku berangkat."
"Namjachingumu tidak menjemputmu?"
"Dia bukan namjachinguku, Appa. Aissshhh... Jinjja...!" aku melangkah dengan menggerutu.
.
Namun entah mengapa, aku nyaman saat berada di dekat Youngie. "Youngie? Aisshh.. Sejak kapan aku memanggilnya Youngie? Ughhh.. Aku mulai gila karena Appa ini." Aku memukul kepalaku sendiri saat aku akan berjalan ke kelas.
"Mwoya ige?"
"Huaaaa..! YAAAAHHH...! Kau selalu mengagetkanku." Aku memukul lengan Wooyoung.
"Appooo."
"Biar tahu rasa...!" aku pergi meninggalkan Wooyoung.
"Aisshhh.. Jinjja." suara itu yang terdengar saat aku mulai menjauh. Sesampainya di kelas, aku langsung menuju tempat dudukku yag dekat dengan jendela dan menerawang. Langit pagi selalu terlihat bagus dari sini.
.
"Hyukkie." Itu suara Chansungie. Aku menoleh mencari sumber suara itu. Kulihat Chansungie berjalan ke arahku.
"Annyeong Sungie. Tumben datang pagi?"
"Aku belum mengerjakan PR Biologi. Pinjam donk?"
"Aissshh.. Kau ini selalu."
"Kau kan Master of Biology sih. Bantu sahabatmu sekali saja kan tidak apa-apa."
"Masalahnya ini setiap hari. Setiap ada tugas Biologi."
"Kau jahat sekali padaku, Hyukkie. Eh iya. Tadi malam aku telepon ke rumahmu tapi kata Lee Eomma, kau sedang pergi. Kemana?" Sungie memang memanggil Eommaku denga sebutan Eomma juga. Seperti aku memanggil Eommanya dengan panggilan Hwang Eomma.
"Aku pergi ke pesta Halloween."
"MWO? Kau tidak mengajakku?"
"Aku saja di ajak. Masak mau mengajak?"
"Nuguya?"
"Young-ah."
"Young-ah?" Chansungie terlihat bingung.
"Jang Wooyoung."
"Woo Hyung?"
"Hyung?" Giliran aku yang bingung. Kemarin aku lihat dia keluar dari kelas 2F deh. Apa jangan-jangan dari kelas pacarnya?
"Hem. Woo hyung itu sebenarnya sunbae. Tapi karena pernah sakit tahunan, jadi dia menjadi sama tingginya dengan kita."
"Sakit? Tahunan? Sakit apa?"
"Mana aku tahu. Dia sakit saat SMP."
"Ohhh..." bibirku membulat. "Cepat kerjakan PRmu." ujarku pada Chansung. Aku kembali menenggelamkan diriku pada lembutnya langit pagi Seongbuk.
.
Mr. Halloween
.
"Kau mau kemana setelah ini?" tanya Chansung padaku. Bel pulang sekolah memang sudah terdengar 5 menit yang lalu. Tapi aku masih malas beranjak dari kursiku.
"Temani aku ke atap." Aku langsung berdiri dan menggandeng –atau lebih tepatnya menyeret Chansung bersamaku.
"Mau apa kemari?" tanya Chansung setelah kami berada di atap sekolah.
"Ani. Tiba-tiba ingin ada di sini." Aku menoleh ke Chansung. "Kau mau pulang?" Chansung mengangguk. "Arraseo. Pulang juga tidak apa. Oh iyha Sungie. Kalau Eomma tanya aku dimana, bilang saja aku sedang bersama Young-ah. Arra?"
"Mian tidak bisa menemanimu, Junnie."
"Nan gweanchanha. Titip salam ke Hwang Eomma."
"Ok." Kulihat punggung Chansug semakin menjauh. Kuraih ponselku yang terasa bergetar di saku jaketku.
"Yeoboseyeo?"
"Apa yang sedang kau lakukan di atas sana, bocah kecil?"
"Young-ah." Ada perasaan senang saat mendengar suaranya.
"Panggil aku Oppa, adik kecil."
"Adik kecil? Yaaahhh..! Aku bukan anak kecil."
.
Tuuuuuuuttttttttt...
.
"Selalu saja seperti itu. Menutup telepon tanpa permisi. Dasar namja gila." Aku menggerutu sendiri. Tiba-tiba...
"Siapa yang namja gila?" aku menoleh ke arah suara itu.
"Young-ah."
"Tadi aku mengatakan apa, adik kecil? Panggil aku Oppa." Dia duduk di sebelahku.
"Aku bukan adik kecil."
"Kalau begitu panggil aku Oppa."
"Andwae." Aku mencibirnya. Dia tertawa sebentar.
"Yaaahh...! Aku lebih tua darimu, tahu tidak?"
"Buktinya kau masih setingkat denganku khan? Berarti kita seumuran."
"Kau tidak mengerti." Tatapannya meredup. Dia beranjak dari sebelahku menuju pinggiran atap sekolah. Aku menyusulnya.
"Waeyo, Oppa?" aku mencemaskannya.
"Aku sakit."
"Sakit? Sakit apa? Sebelah mana?" aku mengguncang badannya. Tatapannya tetap kosong dan menghadap ke depan.
"Hahahahaha..." tiba-tiba dia tertawa. Aku mengernyitkan dahi.
"Waeyo?"
"Sakitku dulu. Bukan sekarang."
"Dulu?"
"Haduuuhh.. Aku dulu pernah sakit yang yaaa bisa dibilang parah. Oleh karena itu sekolahku telat. Kau mau lihat KTPku?"
"Untuk apa?"
"Aku lahir 1 tahun lebih dulu darimu, Babo..!"
"Yaaaahh...! Aku tidak babo." Aku mengerucutkan bibirku.
"Neomu yeppeo, little yeosaeng."
"Gomawo, babo Oppa. Hahahahahaha..."
.
Dan sejak hari itu, hubunganku dan Youngie Oppa semakin dekat. Entah hubungan apa yang sedang kami jalani ini. Yang kami tahu, kami saling membutuhkan satu dengan yang lain. Hampir setiap malam, panggilan telepon dan pesan darinya lah yang selalu aku tunggu. Entah mengapa, aku nyaman dengan hubungan ini.
.
Mr. Halloween
Satu bulan kemudian...
.
"Yeoboseyo?"
"Yeosaeeeeng..." ahh suara itu yang aku tunggu sepanjang sore ini. Perlahan, senyum terulas di bibirku.
"Ne' Oppa."
"Ayo jalan-jalan. Besok tidak ada tugas kan?"
"Ne' aku free tugas malam ini. Waeyo?"
"Aku sudah di depan. Ayo jalan-jalan."
"Mwo? Omona~"
"Sudah. Ganti baju cepat. Kutunggu 5 menit lagi. Kalau telat, akan kutinggal."
"Aisshhh... Selalu seperti itu. Arraseo arraseo.." KLIK..!
Aku berlari menuju kamar lemariku-kamar khusus yang digunakan sebagi tempat baju, aksesoris, sepatu dan lainnya-untuk segera berganti baju. 5 menit. Seperti biasanya. Kebiasaannya yang tak pernah berubah jika mengajakku keluar.
.
4 menit kemudian...
.
"Eomma Appa. Aku keluar sebentar ya. Di depan sudah ada Woo Sunbae yang menungguku." Aku segera mencium pipi Eomma dan Appa bergantian.
"Hati-hati. Jangan pulang malam-malam."
"Tenang saja Eomma. Aku akan pulang seperti biasanya. Annyeooong.." aku melambaikan tanganku sebelum menutup pintu dan berlari ke ujung gang. Aku melihat Youngie Oppa sudah berada di sana.
"Lama sekali sih?"
"Mian. Salah sendiri kesini tiba-tiba. Hayoooo..."
"Hehehehe... Aku kan rindu padamu, adik manis." ucapnya sambil menusuk-nusuk pipiku dengan telujuknya. Senyumku merekah.
"Kita mau kemana?"
"Banpo, Eottae?"
"Gajaaa..."
"Ini helmmu. Cepat pakai."
"Arra."
"Pegangan yha?" aku sangat hafal dimana aku harus meletakkan tanganku saat Youngie Oppa sudah berkata seperti itu. Tanganku harus melingkari pinggangnya. Aku tersenyum mengingat pertama kali peraturan ini di buat.
.
-Flashback : ON-
.
"Yeoboseyo?"
"Jalan-jalan yuuuukkkk..."
"Astaga Oppa. Lihat sekarang jam berapa." Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 9.30 malam. Apalagi saat ini mulai memasuki musim dingin. Tentu akan sangat dingin sekali di luar sana.
"Tapi aku sudah di depan rumahmu."
"Mwooo? Yaahhh..! Ap-" ucapanku segera dipotong olehnya.
"Sudah keluar saja. Eommamu juga sudah mengizinkan."
"Eomma?" tak lama kemudian, Eomma masuk ke dalam kamarku.
"Wooyoung-sshi sudah menunggu di bawah, chagi. Segera ganti bajumu. Cepat cepat. Kasian dia." Aku melongo. "Kok malah bengong. Ayo ganti baju."
"N..Ne' Eomma. Oppa. Kututup dulu. Mau ganti baju." KLIK..! Eomma sudah keluar kamar beberapa saat lalu. Tapi aku masih mengerjap tidak percaya. Lima menit kemudian aku sudah siap.
"Ahh itu anaknya, Wooyoung-sshi." ujar Appa yang sedang asyik berbincang dengan Youngie Oppa. WHAAT? BERBINCANG? APA-APAAN INI?
"Heeehh..! Kok malah bengong di sini. Cepetan sana ke ruang tamu." ujar Eomma.
.
Mr. Halloween
.
"Kok bisa sih?" Aku menoleh ke arah Youngie Oppa yang sedang menikmati cappucinno panasnya. Sekarang kami sedang duduk di pelataran Namsan Tower.
"Kok bisa apanya?"
"Izin ke Eomma Appa."
"Youngie gitu lho."
"Aisshhh. Kau ini Oppa. Narsis parah."
"Hahahaha.. Minum vanilla lattemu. Nanti dingin." ujar Youngie Oppa.
"Ayo pulang. Sudah mau jam 11. Besok kita masih sekolah." ujarku.
"Ahh aku lupa kalau besok masih hari Sabtu. Emmm malam minggu kemana?"
"Lihat TV di rumah. Waeyo?"
"Aku main ya?"
"Terserah Oppa deh." Tiba-tiba, tanganku yang-memangsengaja-tidak terbungkus sarung tangan digenggamnya. Kurasakan tanganku menghangat. Dia tersenyum padaku.
"Gaja kita pulang. Kau sepertinya sudah mulai kedinginan." Kami menuju tempat motor Youngie Oppa di parkir. Aku memasang helmku dan naik ke atas motornya.
"Sudah Oppa."
"Pegangan ya?"
"Ne'." seketika itu juga, aku memegang sisi kanankiri jaketnya.
"Lho kok begini?"
"Lalu kau ingin tanganku seperti apa, Oppa?"
"Seperti ini baru benar." Tangannya langsung menarik kedua tanganku dan melingkarkan di pinggangnya. Wajahku tiba-tba memanas. Di menoleh ke arahku.
"A..Apalagi?"
"Kau tahu, aku nyaman jika posisimu selalu seperti ini saat kita berboncengan." ujar Youngie Oppa yang membuat wajahku semakin merah.
"Ha?"
"Peraturan pertama saat dibonceng Jang Wooyoung, harus berpegangan seperti ini. Tidak boleh menolak. Peraturan kedua... Hemmmm... Nanti kapan-kapan deh. Hahahaha..."
"Peraturan macam apa itu. Aku tidak mau."
"Eitss... Dilarang menolak Jang Wooyoung. Arra?"
"Sekali tidak mau ya tidak mau, Oppa jelek."
"Yeosaeng manis. Nanti aku cium lho ya kalau tidak mau menurut. Mau dicium?"
"Mwo? Oppa yadoooong..." aku memukuli punggungnya.
"Hahahahaha... Sudah sudah. Gaja kita pulang." Dia menyalakan mesin motornya. "Ingat peraturan pertama berboncengan dengan Jang Wooyoung, Yeosaeng kecil."
"Ne' Oppa jelek." Aku melingkarkan tanganku hingga ke perutnya. Kulihat dia tersenyum kecil dan menumpangkan tangan kirinya yang bebas di atas kedua telapak tanganku. Aku menyenderkan kepalaku ke punggungnya. Nyaman dan hangat.
.
BRUUUUUMMMMMM...!
.
-Flashback : OFF-
.
Mr. Halloween
.
"Yaaaahhh...! Kembalikan topikuuu... Oppaaaaa..."
"Panggil aku Oppa ganteng. Baru kuberikan." Youngie Oppa berlari menjauhiku. Namun tiba-tiba ia berhenti. Di keluarkan ponsel dari sakunya. "Yeoboseyo?"
"..."
"Kau mau kembali? Jinjjayo?"
"..."
"Aku akan menjemputmu, chagiya. Tenang saja."
DEG..!
'Cha..chagiya?' Entah mengapa hatiku sakit. Aku memegangi dadaku yang terasa sesak ini. Kulihat dia mengakhiri panggilannya dan berjalan ke arahku.
"Nugu Oppa?"
"Hehehe.. Besok saja kuberitahu. Gaja kita pulang, yeosaeng kecil." Aku tersenyum kecut. Dia merangkul bahuku. Menempelkan pelipisnya ke pelipisku.
"Oppa."
"Hem?" dia menoleh padaku masih dengan posisi yang sama, merangkul bahuku sambil berjalan.
"Anio. Jangan pergi jauh-jauh dariku, arra?"
"Memangnya aku akan pergi kemana?"
"Entahlah. Perasaanku mengatakan Oppa akan pergi dariku."
"Hei hei. Dengarkan aku, yeosaeng kecil." Youngie Oppa menangkupkan kedua tangannya ke pipiku. Hangat. "Aku, Jang Wooyoung, tidak akan kemana-mana. Aku, Jang Wooyoung, akan terus ada di samping yeosaeng kecilku, Lee Sang Jun. Arraseo?"
"Ne' Oppa." Aku tersenyum dan tanpa basa-basi, dia mencium puncak kepalaku. Pipiku menghangat. Heii..! Ada apa ini?
"Gaja kita pulang." Aku mengangguk.
.
Mr. Halloween
.
"Adik kecil..." aku menoleh ke arah suara itu. Suara yang sangat ku kenal.
"Hai Oppa. Museun iriya?"
"Nanti pulang sekolah ada acara?"
"Ani. Wae?" Youngie Oppa terlihat senang.
"Jangan pulang dulu ya. Ada sesuatu yang mau kutunjukkan."
"Mwoya?"
"Lihat saja nanti, arraseo? Bye adik kecilku." ujarnya sambil mencubit pipiku lalu berlari menjauh sambil tertawa-tawa.
"Yaaaahhh...! Appooo..." gerutuku sambil mengelus-elus pipiku yang memerah. Namun tak lama kemudian aku tersenyum. "Ku harap ini bukan berita buruk, Oppa. Perasaanku sudah tidak enak dari kemarin."
.
Aku berjalan menuju kelas. Kelasku terletak di lantai dua. Belakang kelasku, menghadap langsung ke taman belakang sekolah. Dan kalian tahu? Tempat dudukku adalah tempat paling strategis saat kau butuh udara saat berbagai penjelasan sudah memenuhi paru-parumu.
Mengapa? Karena tempat dudukku terletak di samaping jendela yang menghadap langsung kebun bunga sekolah yang ada di taman belakang. Hmmmm... Bayangkan betapa segar mata ini saat musim semi tiba.
Aku berjalan santai mendekati tempat dudukku. Teman satu bangkuku, Chansungie, sedang sibuk bertanding game dengan Junho, saudara sepupunya yang juga satu kelas dengan kami berdua. Aku menopang kepalaku di atas pinggiran jendela yang tingginya hanya memandang lurus ke arah taman sekolah.
Daun pohon maple sudah mulai berubah warna. Pemandangan yang cukup menyegarkan. Di tambah lagi angin musim ini yang lumayan dingin. Aku menghela nafas dan menutup mataku.
Ku rasakan ada tepukan lembut di pundakku. Aku segera membuka mataku dan ku temukan wajah Chansungie dan Junho khawatir. "Gwaenchanhayo?"
"Ahh.. Nan gwaenchanha. Firasatku tiba-tiba tidak enak. Hmmm... Mungkin hanya perasaanku saja." Aku menjauhkan badanku dari kisi jendela. "Sudah main lagi sana aku mau ke kamat mandi." Aku berjalan keluar kelas. Setelah keluar dari kamar mandi, entah mengapa aku merasa malas kembali ke kelas. Maka aku memutuskan untuk pergi ke tempat kesukaanku, pohon maple di taman sekolah.
.
Taman terlihat sepi. Mungkin hanya aku yang berada di sana. Segera ku posisikan dudukku senyaman mungkin untuk membaca novel yang kubawa. Sesaat kemudian aku tenggelam dalam imajinasiku sendiri.
Angin musim gugur yang berhembus perlahan membuatku bergidik. Ku eratkan jaket yang kupakai. Aku menutup bukuku. Mengapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak begini?
Aku segera berdiri dari tempatku dan berniat untuk kembali ke kelas. Namun langkah kakiku terhenti saat kudengar suara yang sangat familiar dengan telingaku. Ku simak baik-baik suara itu. Terdengar suara yeoja juga di sana. Ku dekati sumber suara itu. Aku terkesiap.
.
"Jadi kau akan pindah ke kota ini, chagi?"
"Ne' Oppa. Sayangnya aku tidak bisa satu sekolah denganmu."
"Gwaenchanha. Yang penting, kau akan selalu ada untukku di sini. Jangan tinggalkan aku lagi ya. Aku kesepian."
"Aissshh.. Bukannya kau sudah punya teman kencan baru? Siapa namanya?"
"Nuguya? Aniya. Tidak ada yang bisa menggantikanmu, chagi." Kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Youngie Oppa memeluk yeoja itu dan memanggilnya chagi. Ku remas dadaku. Ada rasa sakit yang terasa di sana. Aku sudah tidak tahan. Aku segera melangkah untuk meninggalkan tempat tersebut. Sayangnya...
"Oppa. Itu..." suara yeoja itu terdengar keras.
"Nuguya?" aku tetap berjalan. Agak lambat. "Hyuk Jae...!" Dia memanggilku.
Memanggil namaku untuk pertama kali setelah sekian lama dia memanggilku 'adik kecil'. Aku menoleh ke arahnya. Kupaksakan sebuah senyum untuknya.
"Ne' Oppa?" aku masih berusaha tersenyum. Remasan di dadaku kubiarkan tetap di sana. Aku melihatnya berjalan ke arahku sambil menggandeng yeoja itu.
"Hyukkie-ah. Perkenalkan, ini yeojachinguku. Choi Sulli. dia dari Busan. Kau tahu kan kalau aku juga dari Busan tetapi aku ikut Appa pindah kemari? Aku sudah mengenalnya dari SMP." Youngie Oppa menjelaskan padaku dengan menggebu-gebu. Aku tersenyum.
"Sulli imnida. Bangbseumnida. Ahh Hyuk Jae-sshi. Gomawoyo."
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Youngie Oppa yang memberi tahuku. Ahh gomapseumnida karena sudah menjaga Youngie Oppa selama ini."
"Mwo? Anio." tanyaku cepat.
"Jangan seperti itu, Hyuk Jae-sshi. Mungkin selama ini Youngie Oppa sudah merepotkanmu. Setelah ini, aku berjanji dia tidak akan merepotkanmu lagi." Aku memaksakan untuk tersenyum. Setelah itu, Sulli segera pamit. Dia biarkan aku dan Youngie Oppa berbicara berdua.
"Ne' Hyukkie-ah. Sulli akan pindah ke sekolah ini. Gomawo untuk semuanya ya."
"Gomawo? Memangnya selama ini aku melakukan apa?"
"Kau sudah menemaniku menunggu Sulli jadi aku tidak kesepian lagi. Padahal selama ini aku pikir aku akan mati karena rindu dengan Sulli yang jauh di Busan. Namun, karena kau ada di sampingku, aku jadi tidak kesepian lagi hingga Sulli datang."
.
NYUT...!
.
Jadi aku hanya pelarian? Hanya mainan yag ia mainkan selagi menunggu yeojanya?
"Jadi aku berhasil mengalihkan perhatianmu agar tidak merindukan Sulli-sshi sampai dia datang kemari, begitu Oppa?"
"Gomawo, Hyukkie-ah. Hmm... Aku mau kembali ke kelas. Tidak ikut?"
"Ahh aku mau di sini dulu. Aku belum selesai membaca bukuku." alasanku.
"Arraseo. Sekali lagi, gomawo Hyukkie-ah. Jeongmal gomawo."
"Ne' Oppa."
.
Kulihat punggung Youngie-Oppa menjauh dan semakin menghilang. Tiba-tiba hatiku terasa kebas. Mati rasa. Ku remas lagi dadaku. Ada perasaan sakit di sini. Dan segera saja, air mataku terjun bebas. Himpitan ini semakin terasa sakitnya. Kulepas remasanku hingga seragamku terlihat kusut. Ku hela nafas panjang dan kuhapus air mataku. Aku segera berjalan ke arah kelas.
.
Flashback : OFF
.
Yaahh sejak saat itu, dalam hati aku sudah berniat untuk mulai membenci tanggal itu. Tanggal yang seharusnya tidak pernah ada. Sehingga aku tidak pernah merasakan rasa sakit ini. Tanggal 31 OKTOBER..!
.
To Be Continued
.
Annyeong Annyeong..
Ini part duanya yha..
Mian kalo kemarin sempat kepanjangan..
Pasti bosen bacanya yha?
Babo emang Authornya..
So,
RnR please?
