NIHAOO!

Seperti biasa Vida akan selalu menyapa kalian terlebih dahulu.!^^

Dan tak lupa dan tak mungkin Lupa bagi Reader yang sudah menyempatkan diri untuk membaca apalagi Review fic gaje Vida ini. VIDA UCAPIN ARIGATOOOOU!

Gomene karena Vida tidak membalas Review-an Reader di PM. Soalnya Vida gak ke warnet,biasanya karena sibuk*boonk* pengayaan,maklumlah kelas 3*jadi situ bangga*

Makasich banget ya minna yang udah Review, Vida bales disini bolehkan.. OK! QT bales Review!

Relya Schiffer: Nee-saaan!*langsung meluk terus kena tonjok* Arigatou udah Review lagi! Mm..Ulquiorra bakal di rape Aizen*di hajar oleh massa* Boonk kok! Ya..pokonya baca aja Chapter 9 nya,mungkin akan terjawab*kena deathglare dech*

EJEY series: Ejey-san makasih yach mau REVIEW lagi!*mau meluk tapi langsung di deathglare* Hahahaha! Ni fic emang selalu nyaris berubah .. Iya nich,Gin pengganggu*di bankai Gin* Aizen memang selalu jadi pengacau*author ngibrit* OK ARIGATOU DAH REVIEW YACH!*teriak langsung di sumpel bakiak*

Merai Alixya Kudo: Merai-chan makasih udah mau Review fic q ini. Aku seneng kamu udah meriview yang Ichiruki sekarang yang Ulquiruki,Vida jadi terharu*lebay mode on* Ini udah Update! Makasich YAH!

Just Ana: Makasih dah review apalagi bilang ni fic keren*idungnya terbang*. Memang,tapi Rukinya gak nyadar kalau Aizen adalah gurunya. Di chap ini bakal ada jawabannya. Makasih udah REVIEW ya! Ini Udah Update!^^

Yurisa-Shirany Kurosaki: Ini udah Update!^^.. Iya nich,Aizen biang keladi*kena deathglare* Makasih ya Udah Review!

Ok! Vida ucapin ARIGATOUUUUUU!*di sumpel bakiak*

Buat yang udah nyempetin buat Review Fic gaje ini! Meski Abal,Gaje,Typo bertebaran,EYD ancur, Tapi minna masih mau Review! Jadi terharu!

Ok! Vida udah banyak ngomong lebih baik LETSS GOOO!

Disaclaimer

.

.

Bleach

Tite Kubo

.

.

Author

Vida Tranquila

.

.

Rate

T

.

.

Warning

Gaje,Abal,Garing,Ancur,Typo,Eyd ancur, AU,OOC!

POKOK NE

REVIEW AGAIN LAH!

^0^

/

Hold Me Ulquiorra

.

.

Cat Which Go

Dedaunan yang hijau kini berubah menjadi kemerahan dan berguguran di tanah,memenuhi halaman. Ya..musim gugur telah tiba. Semua orang sibuk dengan membersihkan dedaunan yang berguguran. Begitu juga dengan para siswa SMU Karakura yang tengah sibuk dengan urusan Festival Budayanya.

Bermacam-macam kreatifitas para siswa terwujud dalam acara Festifal Budaya ini. Ini juga bisa di bilang perlombaan antar kelas,ada kelas yang membuat café,stan-stan makanan,stan-stan permainan,rumah hantu, bahkan café maid juga ada. Wedding Cosplay,stan meramal, juga bermacam-macam permainan lain tersalurkan dari ide para siswa di Festival Budaya ini. Bahkan katanya di acara puncak ada sebuah Event khusus,entahlah apa.

Semua bekerja dengan semangat mendekor kelas masing-masing,sama seperti gadis bermata violet ini yang tengah sibuk memasang ini dan itu di dinding kelasnya entah mau membuat apa kelas 2-3 ini.

"Rukia! Tolong pasangkan ini di sebelah sana." Seru salah satu siswa yang berambut merah yang di kuncir satu sambil memberikan beberapa hiasan dinding ke Rukia yang tengah sibuk menancapkan paku payung di helaian kain berwarna putih dan berenda biru..

"OK! Serahkan padaku Renji." Sahut Rukia lalu mengambil beberapa hiasan dinding berbentuk pita berwarna hijau emerald.

Emerald..

Entah kenapa saat melihat warna emerald Rukia jadi terdiam. Bengong menatap pita berwarna hijau emerald itu,ya..mengingatkan dia pada seseorang. Seseorang yang memiliki warna mata yang sama seperti pita yang kini ada di tangannya. Beberapa saat Rukia terdiam,tatapan matanya yang sejak tadi semangat kini berubah menjadi sendu.

Ulquiorra.. .. .. ..

Terlintas sebuah nama di benaknya. Ulquiorra,ya nama itu yang terlintas di benaknya saat melihat warna hijau emerald ini. Ulquiorra si kucing penghisap darah yang selalu menggoda Rukia,selalu melindunginya,membuat keadaan rumahnya yang tenang berubah drastis,selalu membuat dadanya berdebar-debar,dan yang lebih parah,Ulquiorralah yang kini terus ada di dalam benak Rukia.

Tiba-tiba Rukia mencengkram erat pita hijau itu sampai terbentuk lipatan di pitanya. Kesal,amarah yang meluap,tatapan nanar,kini Rukia di penuhi rasa kesal yang amat sangat.

'DASAR KUCING MENYEBALKAN! BERANINYA DIA PERGI BEGITU SAJA TANPA BILANG APA-APA. MEMBUATKU TERUS MEMIKIRKANNYA! KU KUTUK KAU! RASAKAN INI KUCING MENYEBALKAN!' Sambil menancapkan paku payung di tengah pita dan menempelkannya di dinding dan berkali-kali di pukul dengan palu sekuat tenaga,entah kenapa keluar aura dingin berwarna hitam dari tubuh Rukia. Raut mukanya kini bagaikan orang yang mau nyantet. Sampai-sampai para siswa lain hening di buatnya.

"Hei! Si Rukia kenapa?" Tanya cowok berambut orange alias Ichigo teman Rukia sambil berbisik.

"Meneketehe! Tadi kan gak kenapa-kenapa." Sahut Renji masih sambil berbisik juga.

Sementara para siswa malah mandangin Rukia yang entah kenapa terus memaku paku payung itu sampai nancep ke tembok dan pitanyapun sedikit LOOCH! Rukia malah semakin kesal mandangin pita hijau itu sambil di dalam hatinya bergumam.

"Rasakan ini kucing menyebalkan!"

"Hei! Ini mau di taruh dimana?" Tiba-tiba sebuah suara keras memecahkan keheningan,semua pun melirik ke arah pemilik suara itu. Terlihat oleh pasang-pasang mata sosok Grimmjow yang tengah membawa beberapa kotak kardus yang kelihatannya berat.

"Taruh disana saja Grimmjow." Seru gadis berambut hijau toska yang kini sedang memasang beberapa lampu hias di dinding. Grimmjow pun menuruti perintahnya dan meletakan kardus-kardus itu di tempat yang di tunjukan.

"Thanks ya bro,udah mau ngebantuin. Padahal loe nggak ada hubungannya sama kelas ini." Seru Ichigo ambil menepuk bahu Grimmjow.

"Gak masalah,gw juga nggak ada kerjaan."

"Hei! Kembalikan!" Teriak salah satu siswa yang tengah berlari mengejar siswa lainnya,dan tak sengaja menabrak tangga yang kini menjadi pinjakan Neliel. Dan tanpa pertahanan yang kokoh juga keseimbangan,maka tangga pun oleng membuat Neliel terjatuh dari tangga. Tapi sebelum tubuh Neliel menyentuh tanah,sebuah lengan besar menahannya dan membawanya ke sebuah pelukan.

Bola mata hazel itupun membulat saat mendapati bola mata biru kini berada dekat dengannya.

"Grimm..jow.." Katanya pelan.

Ya..kini posisi Grimmjow tengah mendekap Neliel di kedua lengannya. Melindungi pemilik mata hazel itu dari rasa sakit karena tubuhnya hampir membentur tanah. "Kau baik-baik saja?" Tanya Grimmjow. Neliel tidak menyahut malah berblushing-ria.

"A..aku tidak apa-apa.." Ujarnya terbata-bata dan buru-buru menjauhkan diri dari Grimmjow,Grimmjow pun tidak mencegahnya. 'Ada apa denganku?'Tanya Neliel dalam hatinya.

Semua siswa yang menjadi penonton entah mengapa malah pada nyengir.

'Hehehehe..Ternyata Neliel begitu ya..Hehehehe..' Begitulah batin para siswa yang menonton.

Rukia yang sedari tadi di sibukan memasang pita di dinding meski ada sebuah retakan atau sobekan di dindingnya yang entah kenapa membuat Rukia begitu kesal pun turun dari tangga yang menjadi pinjakannya.

"Memasang pita sudah selesai,apa ada yang lain?" Tanya Rukia dengan nada yang amat sangat menakutkan.

Semua yang memandang langsung bergidik ngeri.

"Ng..ngak ada." Sahut Ichigo selaku ketua kelas. Rukia yang mendengar itu langsung berjalan keluar kelas dengan langkah yang perlahan sambil menyebar aura kemarahan dari tubuhnya,yang lain cuman bisa sweetdrop.

"Si Rukia kenapa ya? Kok kelihatannya BT banget,padahal tadi dia nggak kenapa-napa?" Kata Tatsuki,cewek yang selalu bersama Rukia ini merasa keadaan Rukia beberapa hari ini aneh.

"Aku juga tidak tahu,akhir-akhir ini dia aneh. Selalu marah-marah sendiri,kalau lagi kumat pasti raut wajahnya menakutkan. Apa dia lagi datang bulan ya?" Renji memberikan jawaban sambil meluk dirinya sendiri.

Mata hazel Neliel kini tertuju pada sosok Grimmjow yang sedari tadi diam.

"Hei Grimmjow? Apa kau tahu kenapa Rukia seperti itu?" Tanyanya pada Grimmjow.

"Aku juga tidak tahu,di rumahpun dia seperti itu." Sahut Grimmjow.

'Rumah!' Batin semua orang.

"Apa maksudmu di rumah? Kalian tinggal bersama?" Seru semua orang dengan nada mengintrogasi. Grimmjow pun langsung salting sendiri dan mengingat kembali apa yang di katakan Rukia.

"Jangan sekali-kali mengatakan pada teman-teman ku atau pada siapapun kalau kalian berdua tinggal di rumahku,bisa di anggap cewek gatel aku nanti. MENGERTI! Kalau sampai melanggar kalian akan ku buat menjadi kucing terlantar."

Grimmjow langsung merinding sendiri mengingatnya,apalagi sekarang dia merasa lebih merinding saat dapat tatapan tajam dari semua orang yang ada di dalam kelas.

"Kenapa kau tidak menjawab Grimmjow?" Desak Neliel,Grimmjow semakin salah tingkah.

Gluk! Dengan menelan ludah dengan susah payah Grimmjow hanya bisa berdalih. "Ka..kalau ke rumahnya maksudku."

Semua mata masih tertuju padanya,dan untuk kedua kalinya Grimmjow menelan ludah dengan susah payah.

"Begitu ya. Kirain kau tinggal dirumahnya! Hahahahaha.." Seru Ichigo sambil tertawa.

"Iya benar. Itukan nggak .." Renji pun ikut tertawa.

"Hahahahaha.." Grimmjow pun tertawa lega.

"Tapi aku juga merasa ada yang aneh akhir-akhir ini." Kata cewek berambut orange senja dengan dada besarnya.

"Apa yang aneh Orihime?" Tanya Tasuki yang kini berdiri di sampingnya.

"Ulquiorra-kun!" Serunya sambil mengangkat satu jarinya.

"Ulquiorra?" Semua diam tak mengerti.

"Benar!" Seru Orihime lagi sambil mengangguk sendiri. "Apa akhir-akhir ini kalian pernah melihat Ulquiorra-kun?" Lanjutnya lagi.

"Eh,kalau si Ulquiorra terakhir kali ku lihat waktu di villa Aizen sensei." Sahut Renji sambil mencoba mengingat-ngingat.

"Benar! Aku juga,terakhir lihat waktu kita ke hutan." Kali ini Ichigo angakat suara.

"Setelah ada insiden Rukia dan Ulquiorra jatuh ke jurang,kita tidak pernah melihatnya lagikan." Ishida pun ikut menambahkan. Semua orang kini tertuju lagi pada sosok Grimmjow yang malah asyik makan permen lollipop yang entah dia dapat darimana.*loh nyolong tuh?*author di cakar*

"A..apa?" Tanya Grimmjow yang merasa risih karena terus di tatap.

"Saat itu,yang membawa Rukia kembali ke villa hanya kau. Apa yang terjadi pada Ulquiorra? Apa kau bertemu dengannya?" Rentetan pertanyaan,rentetan tatapan tajam kini tertuju lagi pada Grimmjow. Untuk kesekian kalinya Grimmjow mencoba menelan ludah paksa.

"I..itu. Dia tiba-tiba saja pergi." Akhirnya Grimmjow bicara setelah di beri tatapan tajam gratis dan gak tanggung-tanggung banyak banget.

Mendengar jawaban Grimmjow semua orang diam.,

"Apa maksudnya?" Tanya Tatsuki,cewek berambut hitam itu jadi bingung sendiri dengan memposisikan kedua tangannya di pinggang.

"Aku juga tidak tahu,setelah berbicara panjang lebar,dia pergi begitu saja." Jelas Grimmjow lagi. "Setelah saat itu,aku tidak pernah melihatnya lagi.

Semua kini diam lalu mengangguk-ngangguk sendiri. "Jadi begitu ya. Hm..pantas saja si Rukia jadi BT." Kata Orihime,cewek berdada besar dan berambut orange senja ini ngangguk-ngangguk sendiri. Grimmjow langsung pasang tampang bingung.

"Memang ada hubungannya dengan Rukia kalau si Stoick brengsek itu tidak ada." Kata Grimmjow sambil memonyongkan bibirnya.

"TENTU SAJA ADA KAN!" Semua orang mengambil satu suara dan berteriak membuat Grimmjow terpaksa tutup kuping.

"Memang apa hubungannya?" Grimmjow udah mah nggak ngerti plus pasang tampang oon mode-on.

Semua orang langsung cengok sendiri.

"Kau benar-benar tidak menyadarinya.." Kata Orihime sambil menatap Grimmjow tajam,Grimmjow cuman geleng-geleng.

"HAH! Padahal sudah sangat jelas terlihatkan."

"Apanya?"

"Kalau Rukia itu menyukai ULQUIORAA-KUN." Lanjut Orihime sambil menekankan kata Ulquiorra.

"AAAPPUUUAAA!" Grimmjow dan Ichigo berteriak kaget pake big toa. Lah kok Ichigo ikutan teriak.

"Kau kenapa Ichigo?" Tanya Neliel.

"Eh,nggak .." Ujar cowok berambut orange itu sambil senyum di paksakan. Ya di saat semua orang sibuk membicarakan Rukia. Hanya dua orang yang terdiam dalam hening. Yang satu Grimmjow dan yang satu lagi Ichigo.

Ada apa dengan mereka?

Di saat itu pun Rukia yang kini tengah duduk di sebuah kursi kayu di taman sekolah. Menikmati sakura yang berguguran dengan tatapan sendunya. Dan terlontar sebuah nama dari bibir mungilnya.

Ulquiorra.. .. ..


Di saat yang sama di sebuah ruangan yang luas dan serba putih,hanya suara dari sebuah cambuk dan suara tawa yang menggema di dalamnya. Memperlihatkan sosok yang berdiri tegak dengan sesekali mengayunkan cambuknya dengan sekuat tenaga sampai terdengar bunyi CTAR ke sosok yang terduduk terantai dengan tenangnya dan tanpa ekspresi,meski sudah terkena beberapa cambukan dan tubuhnya yang putih pucat nan ramping di hiasi goresan-goresan luka.

CTAR!

Untuk sekian kalinya suara cambuk yang menyentuh tubuh putih pucat itu menggema kembali.

"Hahahahaha…" Tawa yang meledak dari sosok berambut coklat klimis dengan terus mengayunkan cambuknya ke sosok yang terduduk terantai di hadapannya.

Sosok yang tak melawan itu hanya menatap dingin dengan kedua pasang mata hijau emeraldnya. Meski wajahnya yang tampan kini di hiasi tetesan darah yang mengalir dari lukanya,tapi tatapannya tidak berubah seakan tak ada rasa sakit.

Setelah beberapa menit ayunan cambuk itupun berhenti dengan seiringnya tetesan keringat lelah dari tubuh pemiliknya.

"Kau memang menarik. Peliharaan yang tak pernah membuat ku bosan Ulquiorra." Ujar pemuda berambut coklat klimis itu.

Ulquiorra hanya menatap dingin saja.

"Apa kau sudah selesai Aizen-sama?" Ujar pemuda berambut perak dengan senyum rubah yang tak pernah hilang dari wajahnya.

"Ya. Hari ini sudah selesai,rasanya stress yang menumpuk sudah hilang. Aku mau istirahat,urus sisanya Gin." Titahnya pada pemuda bernama Gin itu lalu meningalkan ruangan yang menjadi saksi bisu sebuah penyiksaan.

Pemuda berambut perak itu hanya membungkuk memberi hormat dan tersenyum biasa. Lalu setelah sosok Aizen menghilang,Gin pun melangkahkan kakinya ke arah sosok Ulquiorra yang terduduk lemas terantai. Kedua tangannya yang di rantai menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Tetetsan darah segar menetes dari garis-garis lukanya. Kulit putih pucatnya kini di hiasi warna merah,namun ada yang tak berubah darinya yaitu tatapan matanya yang menyilaukan dari kedua sepasang emerald itu.

Ibu jari dan telunjuk ramping Gin mendongakkan dagu Ulquiorra,di tatapnya sosok Ulquiorra yang menatapnya wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Kau ini.. Benar-benar bisa bertahan ya. Padahal ku kira kau tidak akan bisa bertahan." Seringai licik terlukis di wajah Gin yang kini berbicara pada Ulquiorra,sedangkan Ulquiorra tidak menyahut malah menatapnya dingin.

"Apa kau tak punya rasa sakit yah. Ulquiorra?" Lanjutnya lagi sambil terus mendekatkan wajahnya ke wajah Ulquiorra.

"Berhenti bicara,cepat lepaskan rantai ini." Ujar Ulqiorra dingin. Gin hanya menyeringai mendengar perintah Ulquiorra lalu melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan Ulquiorra. Tubuh Ulquiorra kini berdiri dan duduk di sebuah sofa putih yang ada di dalam ruangan itu. Ulquiorra memutar-mutar pergelangan tanganya yang terasa keram. Bagaimana tidak keram,karena beberapa jam tadi kedua tanganya di rantai.

Gin menuangkan teh dari sebuah teko antik ke sebuah cangkir yang antik pula,lalu meletakannya di meja depan Ulquiorra.

"Minumlah,kau akan merasa lebih baik."

Ulquiorra hanya diam. Gin memandang Ulquiorra lagi,lagi-lagi sebuah seringai terlukis di wajahnya.

"Apa kau benar-benar bisa bertahan Ulquiorra,aku jadi tidak yakin kalau melihat kondisimu sekarang." Ujar pemuda berambut perak itu dengan nada sindirannya.

Ulquiorra menatap dingin,sambil memjamkan mata sebentar lalu menatap kembali sosok yang ada di hadapannya dengan dingin dia berkata. "Itu bukan urusanmu,lebih baik kau kerjakan apa yang menjadi tugasmu. Gin-sama."

Gin hanya menyeringai. "Tentu saja,kau tak perlu khawatir." Gin pun berjalan menuju pintu keluar dari ruangan itu,tapi tepat saat di bibir pintu dia berhenti lagi. "Tapi aku tak bisa menjamin kalau dia yang mendatangi bahayanya. Jaa-ne." Setelah mengatakan itu sosok penuh senyum rubah itupun pergi dengan di akhiri suara BLAM yang menandakan sosoknya sudah menghilang.

Hening..

Itulah yang menghiasi suasana ruangan luas yang bagai penjara ini. Dan sosok yang tak kalah dingin dengan hawa cuaca di luar. Ulquiorra duduk terdiam,menyeruput teh hangatnya lalu menatap langit-langit.

"Onna." Gumamnya. "Ugh.." Erangnya dalam sunyi dan menahan sakit dari luka yang terus memberinya warna merah yang mengalir di tubuh putih pucatnya.


Keesokan harinya.. ..

Seperti biasanya,keadaan SMU Karakura masih di sibukan dengan festival budaya yang tinggal 2 minggu lagi. Di kelas 2-3 pun masih sama,sibuk dengan acara dekorasi kelas.

"Rukia,tolong kau ambilkan peralatan yang lain di ruang peralatan ya." Seru siswa yang kini tengah memukul-mukul palunya ke arah paku yang membuat beberapa hiasa dinding terpasang.

"OK!" Sahut Rukia.

"Biar ku bantu." Ichigo yang melihat Rukia hampir keluar kelas pun mengejarnya,Rukia hanya tersenyum.

Dalam perjalanan menuju ruang peralatan Ichigo dan Rukia hanya diam tak ada yang bicara,meski Ichigo mencoba membuka pembicaraan tapi melihat raut wajah Rukia entah kenapa dia urungkan lagi niatnya.

Setelah menempuh beberapa menit akhirnya mereka sampai di ruang peralatan yang jadi tujuan mereka. Rukia mencari-cari apa yang di minta dan di butuhkan. Butuh waktu beberapa menit untuk mencari di tengah tumpukan kardus-kardus yang menumpuk.

"Aku menyukaimu Rukia." Entah kenapa dalam hening,Ichigo mengatakan itu yang membuat Rukia menabrakan kepalanya ke sebuah lemari besi di depanya.

"Kau bilang apa Ichigo?" Tanya Rukia memperjelas sambil mengusap-ngusap kepalanya karena sakit.

"Disini tidak ada suara ribut Rukia,kau pasti mendengar apa yang ku katakan." Ujar Ichigo tegas.

Ya..di dalam ruang peralatan ini tidak bising dan hanya ada mereka berdua di dalamnya,dan sudah jelas kalau Rukia mendengar apa yang di katakan Ichigo.

"Ta..tapi aku.." Rukia tidak tahu harus berkata apa,entah kenapa dia merasa serba salah. "Bu..bukankah kau hanya menganggapku sebagai teman kecil saja.."

Banar,Rukia dan Ichigo hanya teman sejak kecil. Tapi bukan berarti perasaan cinta tidak bisa tumbuh bukan.

"Benar.." Ichigo beranjak dari tempatnya yang sedari tadi hanya bersandar ke dinding,lalu dia berjalan perlahan mendekati Rukia,tepat di depan Rukia dia berhenti dan menatap sosok Rukia. "Tapi bukan berarti aku tidak bisa menyukaimukan,dan perasaan ku ini sudah ada sejak dulu Rukia. Apa kau tak pernah menyadarinya." Ujar Ichigo lagi sambil mengangkat wajah Rukia agar menatapnya.

Kini wajah Rukia tengah di hiasi semburat merah,tak tahu harus berkata apa. Perlahan tapi pasti,wajah Ichigo mendekat ke wajah Rukia,perlahan dan perlahan bibir itu meraih bibir mungil pemilik mata violet itu. Menciumnya lembut,Rukia hanya membulatkan kedua matanya. Tapi sekejap entah kenapa sosok Ulquiorra terlintas di benaknya dan membuat Rukia mendorong tubuh Ichigo sehingga membuat Ichigo mundur beberapa langkah.

Kedua mata coklat itu hanya membulat mendapat perlakuan itu,menatap kembali sosok Rukia yang kini menutup bibirnya dengan punggung tangannya.

"Apa kau benar-benar menyukai Ulquiorra?" Sebuah pertanyaan kini terlontar lagi dari Ichigo yang untuk kedua kalinya membuat sang violet membulat dan memandang mata coklat itu.

Rukia tidak menjawab atau menyangkal. "Jadi begitu ya." Ujar Ichigo lagi sambil menghela nafas. "Tapi Rukia,aku ingin kepastian bukan kebisuan dalam arti keterkejutan."

Rukia hanya diam lagi. Kini tangannya yang sedari tadi menutup bibirnya sudah turun,Rukia memutar tubuhnya membelakangi Ichigo. "Aku tidak tahu.." Lirihnya. "Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia melakukan ini padaku,aku.. Apa aku menyukainya,sampai terus memikirkanyya."

Kali ini kedua mata coklat itu yang membulat mendengar pernyataan Rukia,tapi kini menyipit kembali. Dengan gerakan yang cepat di raih dan di rangkulnya tubuh mungil itu alam dekapannya. Rukia kembali di buat cengok.

"Kau benar-benar bodoh,perasaan sendiri saja tak bisa memahami. Apalagi menyadari perasaan orang lain." Ujar Ichigo sambil terus memeluk Rukia dari belakang,Rukia tidak melawan.

"Go..gomene.."Lirih Rukia.

Ichigo terdiam sesaat,tapi sebuah senyuman terukir di wajahnya dan dengan cepat menjitak kepala Rukia.

"Apaan sich! Sakit tahu!" Gerutu Rukia yang sambil mengusap-ngusap kepalanya.

Tiba-tiba tawa Ichigo menggema di ruangan yang sempit itu membuat sang violet bingung. "Kenapa kau tertawa!"

"HAHAHAHA! Karena kau yang membuatku tertawa." Lagi-lagi perkataan Ichigo hanya membuat Rukia bingung.

"Sudahlah,ayo cepat ambil peralatannya,teman-teman pasti sudah menggerutu." Lanjut Ichigo sebelum memberikan Rukia kesempatan untuk berkomentar. Rukia hanya mencibir saja dan mengambil barang-barang yang di butuhkan dan bersama Ichigo meninggalkan ruang peralatan.

Di tengah perjalanan menuju kelas pun mereka hanya diam,tak ada yang berani membuka pembicaraan seakan canggung.

"A..anu Ichigo." Akhirnya Rukialah yang menghancurkan rasa canggung ini. Ichigo pun menoleh.

"Hmm." Sahutnya sambil melingkarkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

"Gomen,aku.." Lirih Rukia,seakan tak sanggup untuk mengatakannya. Kini kedua tangan Ichigo berada di samping tubuhnya lagi. Memandang wajah Rukia dari samping yang terus menunduk. Ichigo mengerti apa yang di maksud Rukia.

"Hahahaha! Kau ini benar-benar Midget yang bodoh dan lola ya!" Cibir Ichigo,yang berhasil mendapat deathglare dari Rukia,Rukia pun mengembungkan pipinya karena kesal. "Sudah kukatakan aku tidak apa-apa. Tapi si Ulquiorra kasian juga ya."

"Memang ada apa dengan si Ulquiorra?" Tanya Rukia pake nada kesal,mata coklat Ichigo melirik Rukia dari ekor matanya.

"Ada dech!" Cibir Ichigo sambil menjulurkan lidahnya. Dan tawa pun meledak kembali,Rukia pun kesal namun ikut tertawa. Dalam hati dia bersyukur kalau persahabatannya dengan Ichigo akan baik-baik saja,meski tadi merasa tidak enak tapi kini sudah tidak apa-apa. Ya..meski Rukia tidak menyadari arti dari tawa Ichigo yang lepas mengandung arti patah hati yang mencoba bahagia meski terpaksa.

DUUK!

Karena saking asyiknya tertawa sampai tidak melihat ke depan dan akhirnya menabrak.

"Go..gomenasai!" Seru Rukia sambil menundukan kepalanya,Ichigo pun ikutan meminta maaf.

"Apa yang sebenarnya yang kalian tertawakan sehingga tidak menyadari ada orang di depan." Ujar sosok yang ada berdiri di hadapan Ichigo dan Rukia. Terlihatlah dari sepasang violet dan coklat,sosok yang berkacamata dengan rambut coklatnya.

"A..Aizen sensei..Gomenasai.." Seru Rukia lagi saat mengetahui yang di tabraknya itu senseinya sendiri.

"Sudahlah tidak apa-apa. Lain kali perhatikan jalan kalian ya." Ujar Aien sensei lembut.

"I..iya.. Gomenasai."Sahut Ichigo dan Rukia berbarengan.

Aizen sensei hanya tersenyum. "Sudahlah,kembali ke kelas kalian,bukankah kalian masih banyak tugas dengan mendekorasi kelas kalian."

"I..iya,kalau begitu kami permisi." Ujar Rukia yang pergi meninggalkan Aizen lalu di ekori Ichigo. Rukia pergi begitu saja tanpa menyadri sebuah seringai licik terlukis di wajah sosok seorang sensei itu.

Rukia dan Ichigo pun kembali berjalan menuju kelas2-3.

"Aizen sensei itu baik ya." Ujar Rukia.

"Ya..menurutku juga begitu,apalagi katanya kalau dia itu sangat suka pada binatang." Sahut Ichigo.

"Eh..suka binatang."

"Iya,kata murid lain ada yang lihat kalau Aizen sensei memelihara beberapa binatang liar."

"Oooh! Aku juga suka binatang,tapi tak sanggup kalau harus ,,kecuali.." Rukia menggantungkan perkataannya karena satu sosok terlintas lagi di benaknya. Ya..seekor kucing berbulu biru juga kucing yang berbulu putih dan bermata emerald.

Ichigo memandang Rukia yang menggantungkan perkataannya. "Kecuali apa?"

"Eh..apa..ah tidak kok..hahahaha…"

Ichigo hanya mengangkat alis.

Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di kelas 2-3.

"Kalian ini lama sekali. Ke Hong Kong apa ngambilnya.." Gerutu Renji yang kini lagi memaku meja yang di hiasi beberapa bunga kertas dan plastic berwarna-warni.

"Gomene..Tadi ketemu Aizen sensei dulu." Ujar Rukia sambil cengengesan

"Oooh.." Renji hanya ber-oh-ria.

"Mana Grimmjow?" Tanya Ichigo.

"Lagi ngambil meja bersama Neliel.. Kenapa?" Tanya Kira.

"Tadinya aku mau minta bantuan dia untuk mengangkat beberapa kayu buat papa nama." Sahut Ichigo.

"Waduch.." Tiba-tiba suara melengking Keigo mendapat perhatian dari semuanya.

"Ada apa sich Keigo?" Tanya Chizuru.

"Ini.. Lampu hiasannya kurang,juga paku yang hampir habis.." Jawab Keigo sambil mengelap keringat yang ada di jidatnya dengan punggung tangannya.

"Kalau itu kan bisa di ambil di ruang peralatan.." Decak Chizuru.

"Kayaknya nggak ada lagi yang tersisa,sepertinya udah di pake sama kelas lain." Ichigo yang menyambung.

"Trus gimana dong.."

Semua pun berposisi berfikir.

"Di rumah sensei banyak,kalau kalian mau boleh pinjam." Tiba-tiba sebuah suara berat memecahkan keheningan karena para siswanya tengah berfikir,dan sontak membuyarkan pikiran mereka dan membuat mereka menoleh ke arah pemilik suara itu.

"Aizen sensei!" Seru semuanya.

"Bagaimana? Ada yang mau membantuku untuk mengambilnya.." Ujar Aizen sensei lagi.

Lalu sebuah tangan terangkat. "Biar aku saja." Ujar Rukia.

Mata Aizen membulat lalu menyipit kembali. "Baiklah,ayo. Kebetulan aku membawa mobil." Ujarnya. Rukia pun mengangguk dan pergi bersama senseinya itu. Tak menyadri sebuah seringai licik penuh kepuasan terlukis di wajahnya.


Di tempat parkir..

Aizen sensei membukakan pintu depan samping supir mobil BMW hitamnya,mempersilahkan Rukia untuk masuk,lalu diapun masuk kea rah sebaliknya. Setelah memasukan kuci dan menghidupkan mobilnya,BMW hitam itupun melaju. Hanya perlu 15 menit untuk mencapai rumah megah serba putih itu dan berhasil membuat Rukia tercengang.

'Aku pernah dengar kalau Aizen sensei itu kaya,tak kusangka sekaya ini.' Batin Rukia sambil cengok memandangi pemandangan indah di depannya. Ya pemandangan sebuah bangunan ala barat yang bercat putih. Air mancur yang di tengah ada sebuah patung putrid duyung yang mengeluarkan air dari kendinya,sebuah taman mawar yang indah dan terawat. Tercium aroma teh dari segala penjuru,sudah dapat di pastikan kalau pemilik rumah ini sangat menyukai teh.

Setelah mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya,Aizen pun mempersilahkan Rukia untuk duduk di sofa ruang tengahnya.

"Akan ku buatkan teh hangat dulu ya."

"Ti..tidak usah. Aku tak ingin merepotkan.."

"Tidak sopan kalu tidak menyuguhi tamu,meski itu murid sendiri."

"Mm.. Oh ya sensei.. Apa benar sensei menyukai binatang?"

Aizen terdiam sesaat dulu. "Ya..aku sangat menyukai bermacam-macam binatang."

"Binatang apa yang paling sensei suka?"

"Kucing.. Kucing berbulu putih dengan mata hijau emeraldnya."

Eh.. Rukia terdiam dulu. Entah kenapa sosok itu begitu familiar di ingatannya.

"Sudahlah,sensei akan buatkan teh dulu." Ujar aizen. "Oh ya Rukia-chan." Panggilnya,Rukia pun menoleh. "Jangan sekali-kali kau pergit ke belakang rumah ini ya. Di situ berbahaya."

"Ah iya.."

Setelah itu Aizen pun pergi dan menghilang di belokan kanan.

Rukia hanya diam.

Kucing berbulu putih dan bermata hijau emerald ya. Kenapa sangat mirip dengan sosoknya. Gumam Rukia.

MIAW!

Sebuah suara yang mirip eongan seekor kucing membuat Rukia terkejut. Di lihatnya seekor kucing Persia berbulu pirang dengan mata emeraldnya.

"Mata yang indah.." Gumamnya. Sosok kucing itu mengingatkan Rukia pada sosok Ulquiorra kalau berubah menjadi kucing. "Puss..puss..sini.." Goda Rukia pada kucing itu,tapi kucing itu malah berlari dan reflek Rukia pun mengikutinya. "Eh..tunggu aku tidak akan menyakitimu." Serunya sambil mencoba mengejar kucing berburu pirang itu. Setelah beberapa menit Rukia berhasil menangkap kucing itu.

"Tertangkap kau.." Seru Rukia merasa puas saat berhasil memeluk kucing Persia itu. 'Lembut..Persia,sama seperti dia.' Gumamnya dalam hati,tapi langsung dia geleng-gelengkan kepalanya seolah tak ingin berfikir lagi. 'Kenapa aku harus memikirkannya terus sich menyebalkan. Lebih baik aku kembali,Aizen sensei mungkin mencariku.'Gumamnya. Tapi langkahnya terhenti saat mendapati dirinya sudah ada di luar rumah.

"Ya ampun aku mengejar kucing ini sampai keluar,aku tidak sadar. Ngomong-ngomong ini dimana? Kalau di perhatikan sepertinya ini halaman belakang. Eh tunggu! Bukannya Aizen sensei melarangku untuk tidak ke halaman belakang rumahnya. Aku harus cepat.."

"Diam kau No 10! Dasar binatang tidak tahu diri." Langkah Rukia terhenti saat mendengar sebuah suara dari arah sebuah bangunan yang bercat putih dan tertutup.

Lalu rasa penasaran tumbuh dalam diri Rukia,Rukia pun berjalan perlahan kea rah bangunan itu. Mendaekati pintunya yang terbuat dari besi.

"Tidak di kunci.." Gumamnya pelan saat berhasil membuat celah di pintu besi itu,mencoba melihat ke dalam bagaikan seorang pencuri.

Kedua bola mata violetnya membulat saat melihat pemandangan yang kini terpangpang di hadapanya. Berbagai orang yang berpakain layaknya seorang ilmuwan,beberapa tabung besar yang di dalamnya terdapat makhluk yang mirip manusia tapi seperti bukan manusia juga. Lalu beberapa binatang aneh,manusia aneh yang di kurung dan di rantai.

Ada juga setengah manusia dan setengah binatang yang sedang di siksa,suara tangisan bayi,suara raungan yang terdengar memilukan. Dan yang membuat Rukia lebih terkejut lagi sehingga tidak sadar kalau kucing yang ada di pelukannya telah melompat pergi.

"Laboraturium LAS NOCHES"

Sebuah papan nama yang sangat besar terpasang di atas bangunan ini.

"Las Noches.." Gumamnya penuh dengan keterkejutan.

"Cepat! Aizen-sama tidak suka menunggu!" Seru seorang ilmuwan sambil mendorong sebuah kereta yang membawa beberapa kurungan yang di dalamnya ada beberapa binatang.

"A..aizen-sama.." Gumamnya lagi masih dengan ekspresi keterkejutannya.

"Bagimu yang hanya makhluk buatan di laboraturium Las Noches dan di ciptakan oleh Aizen-sama. Kalau tidak salah namanya Ai..Ai..apa gitu. Ku dengar Aizen sensei sangat menyukai binatang. Aku sangat suka kucing,apalagi kucing berbulu putih dan mata hijau emeraldnya."

Beberapa ingatan terlintas di benak Rukia,membuat tubuhnya bergetar merinding tidak percaya yang kini ada di fikirannya.

"Wah..wah..! Aku memang sangat menyukai kucing,tapi aku paling benci jika kucing itu nakal dan tidak mendengar apa kata majikannya." Sebuah suara membuat Rukia tersontak lagi dan memutar tubuhnya.

Kini kedua mata violetnya membulat lagi menatap sosok yang ada di depannya. Sosok yang tengah menyeringai licik dan tatapan yang menakutkan.

"A..i..z..e..n..sen.." Belum sempat Rukia menyelesaikan ucapannya. Perutnya terasa sakit yang membuatnya kehilangan ke sadarannya. Tubuh mungil Rukia di tangkap dengan mudah oleh sosok yang kini menyeringai itu.

"Kucing nakal.." Ujarnya di tengah hawa dingin yang menusuk,juga hembusan angin yang menerbangkan beberapa daun merah yang berguguran.

Back to School.. .. ..

"Hei minna! Ini di taruh di mana?" Seru Grimmjow yang sudah kembali bersama Neliel dengan menggotong sebuah meja panjang kira-kira 1 meter dua buah.

"Di sana saja." Seru Keigo yang lagi mengelap kaca. Grimmjow dan Neliel pun mengangguk dan menaruh meja yang mereka gotong di tempat yang di tunjuk oleh Keigo.

"Fuh.." Grimmjow mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya.

"Ini..pakailah." Ujar Neliel sembari memberikan sebuah sapu tangan berwarna orange muda kepada Grimmjow. Grimmjow pun mengambil sapu tangan itu.

"Thanks.." Ujarnya lalu mengelap keringatnya dengan sapu tangan itu. Bola matanya yang biru menelusuri seisi ruangan kelas yang lagi di dekor. "Mana Rukia?" Tanyanya pada siapa pun.

"Oh..Si Rukia tadi sama Aizen sensei, katanya mau mengambil beberapa lambu hias." Sahut Renji yang lagi meneguk air mineralnya.

"Eh..Aizen.." Gumam Grimmjow,entah kenapa nama itu seakan tidak asing.

"Ada apa Grimmjow?" Tanya Neliel yang bingung dengan ekspresi Grimmjow.

Grimmjow yang melamun pun kaget dan menoleh ke cewek berambut hijau toska itu. "Ah tidak apa-apa kok."

"Aku keluar dulu ya,mau beli minum.." Seru Grimmjow sambil berlari keluar kelas.

"Eh,si Rukia lama banget yah. Ada apa ya?" Gumam Ichigo.

Di jalan yang ramai,Grimmjow berlari menuju sebuah penjual minuman otomatis.

"Di sini banyak minumannya. Tapi kenapa tidak keluar-keluar! WOOOI! KELUARIN DONG WOOI!" Seru Grimmjow sambil ngegoyang-goyangkan mesin penjual otomatis itu.


A/N: Maklum Grimmjow baru pertama tuh,jadi agak deso!=_="

Author di cakar.. ..

Lanjut.. ..


"Meski kau goyang-goyangkan seperti itu,minumannya tidak akan keluar. No 6." Terdengar sebuah suara yang membuat Grimmjow menoleh.

Kini bola matanya yang biru membulat dengan mimik wajah penuh keterkejutan.

"Ah! Sekarang kau punya nama ya. Grimmjow Jaegarjaquez."

"Ka..kau..?"

Siapakah yang ada di hadapan Grimmjow?

Apa yang akan terjadi pada Rukia?

Apa Ulquiorra dan Rukia dapat bertemu kembali?

Yang jelas..

TBC

SELESAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAI!*teriak pake toa langsung kena timpug*

Waaah! Chapter ini puanjang banget! Disini si Ichi nembak Rukia,aduch gomen ya gak di terima.

Ichigo: Kenapa gw di tolak sama si midget!

Vida: Gomen,kan pairingnya UlquiRuki.

Ichigo: HUH!*kesal*

Aizen:Seperti biasa,kehadiranku selalu jadi jahat ya?

Vida: Udah dari sananya kali!

Gin: Apa kehadiran ku tidak bisa di perbanyak ya Vida-san?*sedih*

Vida:Go..gomene Gin-san. Tapi mau gimana lagi.

Gin: *pundung di pojokan*

Vida:*bingung*

Rukia:Apa yang akan terjadi padaku nich? Jangan-jangan aku bakal di..*mikirin yang mesum* KYAAA! TIDAAAAK!*teriak histeris*

Vida:Te..tenanglah Rukia,ini bukan rate M. Gak akan sampe kayak gitu kok.

Rukia:Beneran…*puppy eyes*

Aizen:Paling di colek-colek dikit*wajah mesum*

Rukia:*pucat pasi*

Vida:*lempar besi 100 kg kea rah Aizen* Dasar abnormal!Dasar pyschopat!

Ulquiorra: Kenapa di sini aku jadi orang yang teraniaya! Sakit nich!

Vida: Ulquiorra! Gomene sakit yach!*sok perhatian*

Orihime:*tiba-tiba dateng* Ulquiorra-kun tidak apa-apa?

Ulquiorra: Onna..

Orihime: Akan ku obati lukamu. Sotten Keshun!

Ulquiorra: Arigatou onna*smile*

Orihime: Daijoge,asal Ulquiorra tidak apa-apa.

Ulquiorra: Aku baik-baik saja onna,bukankah kau sedang menyembuhkan ku.

Orihime:*blushing* mm..

Munculah bunga-bunga cinta..

Dan author sweetdrop!

Vida:WOOI! Ini pairing UlquiRuki bukan UlquiHime! Kalian jangan bikin cerita sendiri dong! Kan udah gw buatin UlquiHime! Yaitu Secret in Las Noches*piip!kenapa malah promosi*

Ulquiorra:Apanya,cuman 3 chapter gitu.*deathglare*

Vida:Apa loe bilang*deathglare*

Ichigo:*pundung* Kenapa gw harus di tolak ama si midget!

Orihime: Cup..cup..cup.. Bukannya Vida-san udah bikini IchiRuki,di rate M lagi.

Ichigo*langsung bling-bling* Bener juga ya.! HAHAHAHAHA!

Rukia*blushing* URUSAAAI!

Ichigo:Oh ya,UlquiHime juga kan di buatin rate Mnya..

Orihime:*blushing* Ku..kurosaki-kun tak perlu bilang. Lagipula Oneshot kok!

Ichigo:Hhahahahaha!

Sementara Auhtor lagi perang deathglare sama Ulquiorra padahal gak mau berantem nanti di sangkanya KDRT alias Kekerasan Dalam Rumah Tangga cz Author dah kawin sama Ulquiorra*langsung kena timpug Ulquiorra fc ni orang yang ngomong*

Ichigo,Rukia,Orihime,Gin,Aizen:Jika ada typo dan EYD yang ancur mohon di maafkan,karena Authornya gak sempet untuk ngedit cz lagi berantem sama suaminya Ulquiorra*Vida langsung blink-blink trus kena timpug,Ulquiorra langsung ngedeathglare* POKONYA REVIEW MINNA!

Arigatou Gozaimasu!

^0^

REVIEW

REVIEW

REVIEW

/