MOSH..MOSH MINNA!

Ya ampuuuun ni fic masih ada yang nungguin ternyata… Vida pikir ni fic dah di tinggalin..hiks vida jadi terharu..

Oh ya,untuk chapter kali ini vida special kan buat Ana Cii BoccaghCelewwed yang udah special bahkan PM d FB buat lanjutin ni fic….Vida sangat terharu makasih ya Ana chan,,,..

Oh ya, yang udah mau reading sama review dan masih setia nunggu juga makasich banyak ya..

Okey Vida akan lanjuuut ini fic….!*Dasar author tidak bertanggung jawab,,,*

Disaclaimer

.

.

Bleach

Tite Kubo

.

.

Author

Vida Tranquila

.

.

Rate

T

.

.

Warning

Gaje,Abal,Garing,Ancur,Typo,Eyd ancur, AU,OOC!

POKOK NE

REVIEW AGAIN LAH!

^0^

/

Hold Me Ulquiorra

.

.

Aitakatta

.

.

Chapter 10


Langit semakin berwarna orange menandakan sebentar lagi dia akan tenggelam dan di gantikan oleh bulan. Tapi sang violet belum juga membuka matanya. Di tempat lain sang emerald tengah menahan sakit untuk sekian kalinya dari kasar dan kerasnya dari setiap sentuhan cambuk dari sang majikan.

"Hahahahahahahaha!" Hanya tawa sang pyshco yang terdengar menggema di sore itu.

Ctar!Ctar!

Beberapa kali cambuk itu menyentuh kulit putih pucat yang awalnya mulus kini di hiasi warna merah yang menetes.

"Kenapa? Kau menatapku seperti itu Ulquiorra?" Tanya pria berambut coklat yang bernama Aizen itu, Ulquiorra tidak menjawab tapi hanya menatap dingin. Aizen pun menjadi kesal dan menarik rambut hitam Ulquiorra kasar sehingga membuat Ulquiorra sedikit meringis.

"Ungh.."ringisnya.

"Huuh.." Aizen pun melepas cengkramanya di rambut Ulquiorra membuat tubuh ramping itu terjatuh dengan amat keras ke lantai berkeramik putih yang berhiasi tetesan darah segar dari tubuh yang jatuh itu. Aizen pun melangkah meninggalkan Ulquiorra, tepat di depan pintu dia berhenti. "Oh ya, tadi siang aku menangkap seekor kelinci lucu yang nakal. Pasti menyenangkan bila bermain dengannya. Hahahahahaha" Dengan tawa yang menggema sosok Aizen pun menghilang dari hadapan Ulquiorra yang terduduk lemas namun tangannya masih terantai.

"Kelinci?" Gumam Ulquiorra.

"Onna…" Tatapan Ulquiorra yang sedari tadi tajam dan dingin kini terlihat sendu saat sebuah sosok melintas di benaknya,lalu mungkin karena dia seekor kucing hidungnya mencium sebuah bau.

"Bau ini!" Gumamnya.

BLAAAM!

"STOICK BRENGSEEEK!" Berbarengan dengan suara pintu kamar yang dimana ada Ulquiorranya terbuka dengan suara keras di barengi suara besar lainnya membuat Ulquiorra terkejut. Sedingin-dinginya Ulquiorra tetap punya jantung yang bisa terkejutkan. Lalu emeraldnya berhasil menangkap sosok pria berotot dengan rambut birunya di hiasi bola mata biru langit cerah dengan raut wajah yang entah kenapa terlihat khawatir.

"Grimm..jow.." Ucap Ulquiorra terbata.

"Grimmjow! Sudah kubilang kita harus hati-hati, kau malah bisa membuat kita dalam bahaya." Seru pria berambut perak dengan mata sipitnya.

"Gin-sama.." Kembali Ulquiorra terbata.

"Stoick,lu nggak apa-apa?" Tanya Grimmjow sambil berjalan dengan cepatnya ke arah Ulquiorra yang terantai.

"Kenapa kau bisa ada disini? Dan juga?" Ulquiorra menatap Grimmjow lalu bergantian melirik Gin yang ada di belakang pria berambut biru itu.

"Gin-sama menceritakan semuanya padaku,jadi aku langsung melesat kemari. Tapi karena aku lupa jalan jadi agak sedikit tersesat." Jawab Grimmy sambil nyengir Ulquiorra memandang malas.

"Itu karena kau langsung pergi begitu saja meninggalkan aku, dasar! Dan akhirnya selama 4 jam aku menghabiskan waktu untuk mencarimu." Protes Gin kesal,Grimmjow nyengir Ulquiorra sudah semakin malas menatap Grimmjow.

"Sudahlah, yang terpenting kau harus di lepaskan dulu!" Seru Grimmjow sambil menarik rantai yang mengikat Ulquiorra. Dan dengan sekali tarikan sekuat tenaga rantai itu terputus membuat Gin harus memasukan lagi kunci yang bisa membuka rantai itu,Ulquiorra pun tersungkur dan dengan cepat Grimmjow menopang tubuh Ulquiorra.

Ulquiorra terdiam sejenak.' Rasanya aku mencium baunya..'Gumamnya.

"Pakailah ini." Gin memberikan sebuah jubah putih yang mirip seperti jas lab, Ulquiorra pun memakainya menutupi garis-garis tubuhnya yang terluka.

"Gin-sama!" Panggil Ulquiorra Gin pun melirik. "Aku mencium bau Rukia di sekitar sini! Apa maksudnya itu!" Dengan nada yang sedikit di tekan Ulquiorra menatap Gin tajam.

"Aizen-sama sepertinya menangkap Rukia. Tadi Aizen-sama memberitahuku sebelum aku menemui Grimmjow." Jawab Gin tentu saja sang mata emerald itu terbelalak.

"APA MAKSUDMU GIN SAMA!" Grimmjow menarik kerah putih dari kemeja pria sipit itu. "Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal." Seru Grimmjow semakin mempererat cengekramannya.

"Kau! Bukannya kau berjanji akan melindunginya!" Suara Ulquiorra begitu dingin dengan tatapan tajamnya.

"Tenanglah kalian berdua. Aizen sepertinya belum melakukan apa-apa pada Rukia-chan." Gin mencoba menenangkan.

"Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan melepaskanmu!" Ancam Ulquiorra dingin dan penuh tekanan yang menandakan bahwa dia sangat serius bahkan dapat membuat Grimmjow merinding.

"Ulquiorra." Gumam si kucing biru.

"Grimmy,bisakah kau melepaskan cengkramanmu dari kerah kemejaku?" Pinta Gin dan Grimmjow pun menurutinya.

"Kita harus mencari Rukia sekarang." Seru Grimmjow.

"Tapi,Ulquiorra terluka." Ujar Gin.

"Lukaku akan segera sembuh,tak perlu khawatir."

"Tapi dimana Rukia di kurung?"

"Heem.."Ulquiorra berfikir. "Gin-sama, apa kau tidak tahu dimana Rukia berada? Aizen tidak memberitahumu?" Tanya Ulquiorra.

Gin menggeleng. "Tidak,dia tidak memberitahuku.."

"Ck sial!" Decak Grimmjow.

Ulquiorra menatap Grimmjow lekat. "Ke..kenapa kau menatapku seperti itu hah!" Grimmjow jadi merasa risih karena di tatap seperti itu.

"Kau, membawa benda milik Rukia?"

"Heeh?"

"Aku menciumnya dari tubuhmu. Bau Rukia." Ujar Ulquiorra sambil sedikit mengendus.

"Eh..?" Grimmjow mengerutkan alis.

MIAAAW…

Suara seekor kucing yang berhasil mendapat perhatian mereka bertiga muncul dari balik pintu,seekor kucing Persia berbulu pirang dengan mata emeraldnya.

"Kau! Tia." Panggil Ulquiorra.

Miaaaaw!

Kucing itu pun berbalik lagi dan berlari seolah meminta mereka bertiga mengikuti.

"Bau Rukia.. Kita harus mengikutinya." Seru Ulquiorra dan tanpa babibu lagi mereka lagsung mengikuti sosok kucing Persia itu.

Beberapa lorong mereka lewati dengan hati-hati agar tidak tertangkap oleh para ilmuwan dan para penjaga.

Miaaaw!

Kucing Persia itu berhenti tepat di depan sebuah pintu yang bertuliskan."Animal Laboratory"

"Ini!" Mata Gin yang sipitpun terbelalak.

"Kau tahu tempat ini Gin-sama?" Tanya Ulquiorra.

"Ini! Tempat dimana semua manusia di kurung untuk menjadi bahan percobaan." Jelas Gin.

"Maksudnya, Rukia akan di jadikan bahan percobaan?" Mata biru itu melotot kaget.

"Lebih baik kita cepat." Titah Ulquiorra. 'Pantas saja aku tidak bisa mencium baunya.'

"Ya.." Jawab Gin dan Grimmjow berbarengan. Dan lalu merekapun membuka dan masuk ke dalam ruangan gelap yang penuh dengan tabung-tabung besar.

Sebelum pintu putih itu tertutup sang emerald memandang lagi ke arah kucing cantik itu. "Arigatou Tia."

Mata sang kucing itu pun terbelalak dan pintu pun tertutup seutuhnya. Perlahan kucing itu pun berubah menjadi sosok wanita cantik dengan mata emeraldnya. "Gadis itu begitu berharga untukmu ya sampai kau rela mengucapkan terima kasih padaku Ulquiorra." Ujarnya pada diri sendiri, dan seorang ilmuwan melihat dia namun dengan cepat ilmuwan itu di buat pingsan dan bajunya di lepas dari tubuh sang ilmuwan itu lalu di pakainya.

Hanya tabung-tabung raksasa yang dapat di lihat sepanjang mereka mulai memasuki ruangan yang bertuliskan "Animal Laboratory"

"Apa-apaan ini!" Seru Grimmjow terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ini sungguh kejam sekali!" Ujar Gin dengan sesekali mengerutkan dahi dan alisnya melihat apa yang ada di dalam tabung raksasa itu.

Yah, yang ada di dalam tabung raksasa itu setiap tabungnya berisi satu makhluk yang bisa menyerupai manusia,hewan, bahkan makhluk yang tidak dapat di ucapkan oleh kata-kata tentang wujud mereka.

"Ini semua percobaan yang gagal." Lanjut Gin.

Ulquiorra tidak berkomentar tapi terus berlari,yang ada di pikiran dia hanyalah secepatnya menemukan Rukia dan mencegah Aizen membuat gadis mungil itu menjadi makhluk seperti yang ada di dalam tabung raksasa itu.

'Onna..'Gumamnya.

Lari mereka pun di percepat bagaikan di belakang mereka ada sebuah batu besar tengah mengguling ke arah mereka dengan cepat dan siap meremukan setiap tulang mereka.

"Sial,dimana sebenarnya Rukia berada!" Gerutu Grimmjow sambil terus berlari dan bola matanya melirik ke kanan dan kiri.

Tiba-tiba Ulquiorra berhenti di depan sebuah tabung yang berhasil membuat bola mata Gin yan sipit tak terlihat menjadi terbuka, emerald semakin memancarkan amarahnya dan Grimmjow terjatuh karena menabrak Gin yang tiba-tiba berhenti di depannya.

"Kenapa malah berhenti mendadak, sial!" Gerutu Grimmjow sambil menarik tubuh Gin.

"Onna."

"Rukia-chan.."

"Haaah? Rukia?" Grimmjow pun melirikan bola mata birunya ke arah yang di lihat oleh Ulquiorra dan Gin,dan betapa terkejutnya saat melihat sosok yang sedari tadi di cari oleh mereka bertiga tengah terkurung di dalam tabung yang penuh dengan air berwarna hijau kekuningan membuat tubuh gadis mungil itu seolah tengah melayang-layang. "RUKIA!" Seru Grimmjow sambil memukul-mukul tabung raksasa yang mengurung tubuh gadis mungil itu. "RUKIA! BANGUN RUKIA! SIAL! BAGAIMANA MEMBUKA INI!" Grimmjow terus memukul-mukul kaca tabung itu dengan sekuat tenaga namun tak ada retakan sedikitpun.

Raut wajah pucat Rukia membuat wajah tenang yang selalu dingin milik Ulquiorra kini berubah dengan seribu tanda ke khawatiran.

"Gin-sama, apa kau tidak tahu bagaimana cari membuka tabung ini!" Seru Ulquiorra,Gin pun hanya menggeleng.

"selama 5 tahun di samping Aizen aku belum pernah ke dalam sini." Jawab Gin.

"Ck sial!" Grimjow terus memukul-mukul tabung kaca itu sampai kedua tangannya berdarah.

"Pasti ada tombol yang dapat membuka tabung ini!" Ulquiorra mulai berfikir dan emeraldnya memperhatikan sekeliling tabung bahkan setiap sudut ruangan.

"Ada!" Seru Gin sambil berjongkok di bawah tabuk yang melayang di atas kepalanya setinggi 30cm dengan di topang kaki-kaki besi di ujung tabung. Dengan cepat Gin menekan tombol berwarna merah dan perlahan tabung kaca itu menurun dan menjatuhkan tubuh mungil Rukia dan dengan sigap Ulquiorra menangkap tubuh Rukia dan membawanya kepelukannya.

"Onna!Onna! Sadarlah!" Ulquiorra memanggil-manggil Rukia,dan perlahan sang violet itu pun membuka dari dalam kelopak yang di hiasi bulu mata hitam yang panjang.

"Ul..qui..orra.." Bibir mungil Rukia memanggil pelan nama Ulquiorra.

"Onna"

Lalu dengan cepat tanpa bisa dihindari sebuah tinju menerjang ke arah Ulquiorra membuatnya terpental kebelakang.

"DASAR KAU KUCING BODOH! KEMANA SAJA KAU HAAH! MEMBUATKU KHAWATIR, DATANG SEENAKNYA,PERGI SEENAKNYA! KAU PIKIR RUMAHKU HOTEL BAYAR SAJA KAU TIDAK! DASAR KAU KUCING BODOH JELEK, AHO!BAKA…BAKA…BAKA..!" Rukia dengan tiba-tiba marah-marah membuat 2 orang yang di belakangnya sweetdrop mode-on. "Aku…aku..aku benar-benar khawatir tahu! Dasar baka neko!" Bulir-bulir air mata mengalir dari pelupuk matanya yang violet melintas cepat di pipinya yang putih.

Ulquiorra terdiam. "Gomenasai." Hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya.

"Fuh! Hahahahahahaha! Kau tidak berubah sama sekali ya Rukia-chan dari saat kita pertama bertemu dulu!" Tawa Gin meledak. Rukia yang menyadari bahwa ada orang lain di belakangnya langsung blushing.

"Eh..an..andakan yang dulu.."

"Mau menangkap Ulquiorra tapi di halangi olehmu dengan berani." Sambung Gin.

"Syukurlah kau tidak apa-apa Rukia." Grimmjow pun tersenyum lega.

"Grimmy!" Seru Rukia.

"Ini, gantilah bajumu dengan ini." Grimmjow memberikan jaketnya yang berwarna coklat dengan bulu yang melingkar di tudungnya ke Rukia karena melihat baju gadis mungil itu basah akibat terkurung di dalam tabung.

"A..arigatou." Rukia pun pergi ke belakang tabung yang paling ujung untuk berganti baju."Bagaimana cara kita keluar dari sini?"

"Kalian semua tidak akan bisa keluar dari sini!" Suara yang berat namun penuh tekanan berasal dari arah mereka datang.

"Aizen!" Seru Ulquiorra,Gin,Grimmjow.

"Aizen sensei.." Lirih Rukia merasa masih tidak percaya kalau yang mengurungnya adalah senseinya , mau tidak mau gadis bermata violet ini harus percaya karena yang ada di hadapannya dengan memandangnya nanar adalah sensei yang ia sayangi.

"Kalian tidak akan ku biarkan lari." Seru Aizen sambil berjalan mendekati mereka berempat dengan sekolompok ilmuwan di belakangnya.

Ulquiorra tetap tenang dan mengamati seluruh penjuru lab yang di penuhi tabung raksasa, Grimmjow menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Rukia, Gin hanya tersenyum ala rubahnya.

"Kalian semua tidak akan lolos dari tempat ini dan akan kujadikan bahan percobaan ku." Ujar pria berambut coklat, tatapannya yang tajam melirik ke arah pria berambut perak. "Gin..tidak kusangka kau menghianatiku." Lirihnya pelan seolah begitu merasa kecewa.

"Kucing bodoh!" Panggil Ulquiorra.

Yang biasanya di panggil seperti itu pun melirik dengan tatapan kesalnya. "Siapa yang kucing bodoh hah! Stoick brengsek!" Geram Grimmjow.

"Lindungi Rukia dengan mempertaruhkan nyawamu! Aku akan menghalangi mereka!" Ujar Ulquiorra.

Mendengar itu Rukia pun terbalalak. "Apa maksudmu Ulquiorra!"

"Stoick brengsek! Kau.."

"Ulquiorra, kau punya rencana?"Tanya Gin tetap tenang.

"Yah…"

"Apa itu?" Tanya Gin.

"Aku akan membuka semua tabung yang ada disini, dan menciptakan ledakan dengan membuka setiap tabung yang melayang itu." Tangannya yang ramping menunjuk ke arah tabung yang di pasang melayang di setiap dinding.

"Tunggu dulu!" Seru Gin mengetahui kalau rencana yang di buat Ulquiorra akan sangat berbahaya. "Kalau seperti itu, kau akan.."

"Karena itu Grimmjow, kau harus membawa Rukia dari sini dan menerobos mereka." Ujar Ulquiorra serius.

"Tu..tunggu dulu Ulquiorra! Aku tidak mau meninggalkanmu." Seru Rukia sambil menggenggam tangan pucat Ulquiorra.

Emeraldnya menatap Rukia tenang. "Tenang saja onna, aku pasti bisa keluar dari sini."

"Apa yang sedang kalian bicarakan Hah!" Seru Aizen.

"GRIMMJOW SEKARANG!" Sebuah teriakan yang mengartikan bahwa rencana di mulai dan dengan cepat Grimmjow menggendong Rukia di pundaknya. "Gin-sama, tolong kau bantu kucing bodoh itu!"

Gin mengeluarkan pistolnya dan menembaki beberapa ilmuwan, Grimmjow menerobos dengan cepat kumpulan ilmuwan itu.

"Kalian tidak akan kubiarkan lolos..!" Geram Aizen yang kemudian hampir menembak Grimmjow tapi dengan cepat Ulquiorra dapat menahanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu!" Dengan cepat Ulquiorra mengarahkan pistol yang ada di tangan Aizen dan menarik pelatuknya menambak tombol merah bertuliskan All Open membuat semua tabung terbuka dan membuat ruangan itu di penuhi air lalu tembakan kedua mengarah ke arah tabung yag ada di langit-langit membuat semburan gas.

Grimmjow terus berusaha menerobos bersama Gin.

"Grimmjow ayo kembali, kita bantu Ulquiorra!" Rukia terus meronta dalam gendongan Grimmjow,tapi Grimmjow tidak menggubrisnya.

"Pintu sudah dekat, ayo cepat Grimmjow!" Seru Gin,dan dengan mempercepat langkah lari akhirnya mereka bertiga berhasil keluar dari Lab las Noches.

DUAAAAAAR!

Tiba-tiba sebuah ledakan yang menghancurkan seluruh Lab Noches menjadi puing-puing.

Bola mata Rukia terbelalak melihat puing-puing itu, bukan karena melihat setumpukan beton yang hancur tapi membayangkan tubuh Ulquiorralah yang menjadi puing-puing juga.

"Tidak mungkin!" Gin terdiam melihat setumpukan beton itu menjadi pazzle.

"Hei, si stoick brengsek sudah berhasil menyelamatkan diri kan?" Grimmjow pun terpaku.

"Tapi,dia tidak terlihat di manapun!" Gin menyapu seluruh puing-puing namun tidak menemukan sosok yang mereka cari.

"Ul..qui..orra!" Butir-butir air mengalir di pipi Rukia perlahan. "ULQUIORRAAAAA!"

"STOICK BRENGSEEEEEK! KENAPA KAU MALAH IKUTAN MATIIII!" Grimmjow pun ikut berteriak.

"Berisik tahu! Lagipula siapa yang mati!" Sosok serba pucat itu keluar dari semak-semak, dengan tubuhnya yang tidak di tutupi sehelaipun..*Author nosebleed..,,

"Ulquiorra!" Seru Rukia.

"Stoick brengsek!"

"Syukurlah.." Gin merasa lega.

Dan dalam hitungan detik Rukia sudah melesat pergi kedalam pelukan orang yang selama ini dia rindukan,namun dia kembali menendang Ulquiorra saat menyadari dia tidak pake baju.

"Ke..kenapa kau tidak pake baju?" Tanya Rukia gagap.

"Itu karena aku tadi berubah jadi kucing untuk meloloskan diri." Jawab Ulquiorra.

"Ck! Sial! Kau memang selalu seenaknya.!" Gerutu Grimmjow.

"Yang suka seenaknya itu kau dasar kucing bodoh!"

"Hahahaha…" Gin hanya tersenyum rubah.

Dan mereka pun kembali terseyum bersama. Aizen pun di tangkap oleh kepolisian karena kesalahannya menggunakan manusia dan hewan untuk percobaan bersama ilmuwan bawahannya. Sebelum dia di masukan mobil polisi dia menatap gin, bukan tatapan dendam tapi tatapan sendu dan penyesalan, mungkin dia sudah menganggap Gin sebagai bawahan. Tidak, mungkin sudah dia anggap sebagai teman Gin pun hanya diam karena mungkin dia pun merasakan hal yang sama.

Hari-hari kembali seperti semula, saatnya festival budaya!

"Ayo cepat, sebentar lagi pengunjung pada datang!" Seru gadis bermata violet dengan gaun maidnya yang berwarna biru tua dengan renda dan celemek yang berkibar.

"Aku tidak mauuu!" Seru cowok bermata biru dengan rambutnya yang biru juga dari balik tirai ruang ganti

"Aku juga tidak sudi.." Suara dingin dan tajam pun keluar dari balik tirai itu

"Kalian ini! Sudah janga banyak bicara dan mengeluh, katanya mau membantu!" Seru Rukia.

"Bantu sich bantu! Tapi kenapa harus jadi maid sich!" Tirai pun terbuka memperlihatkan sosok dua cowok macho dengan otot di hiasi kostum maid biru muda yang berkibar-kibar dan sosok dingin dengan kostum maidnya yang begitu manis berwarna hitam.

"GYAAAAA!Ulquiorra kawaaaai!" Teriak para cewek.

"Grimmy, kau..lucu sekali! Wkwkwkwkwk" Para cowok ngakak.

"URUSAAAAI!" Teriak Grimmjow, Ulquiorra diam tanpa kata tapi wajahnya terlihat memerah karena kulit putih pucatnya..

"Ulquiorra….Sebagai maid kau harus banyak tersenyum." Ujar pria yang berambut perak itu dengan senyum rubahnya. Ulquiorra tidak menjawab dan tetap stay cool meski terlihat sekali kalau dia memerah.

"Gin-san.." Seru Rukia.

"Urusai! Kau tidak perlu ikut-ikutan Gin-sama!" Geram Ulquiorra.

Pletak..

Gin menjitak kepala Ulquiorra.

"Hei, sudah kubilang panggil aku otousan." Ujar Gin.

"Iya Ulquiorra. Kau kan sudah di adopsi bersama Grimmjow untuk jadi anaknya Gin-san. Jadi kau harus memanggilnya Otousan." Celetuk Rukia.

Ulquiorra diam.

Diam…

Diam..

Diam..

"O..otousan.." Dengan malu-malu Ulquiorra menyebut kata otousan.

Diam..

Diam..

Diam..

"KYAAAAAAA! KAWAIIIIII!" Teriak semua orang yang ada di kelas itu.

"Urusai!" Gerutu Uliquiorra malu-malu.

"Hahahahaha!" Semuanya pun tertawa.

Bahagia, itulah aura yang terpancar saat ini.

Senang sekali, itulah yang dirasakan gadis bermata violet itu yang tanpa sadar tersenyum lembut membuat sang pemilik emerald dingin ini tak henti menatapnya dan tanpa di ketahui semua orang dia menarik tubuh mungil itu ke dalam balik tirai ruang ganti. Dan membuat Grimmjow celingak-celinguk mencari Rukia.

"Ul…ulquiorra!" Rukia pun terkejut.

"Jangan senang sendiri. Lalu bagaimana denganku onna."

"Ba..bagaimana apanya?" Rukia pun jadi deg-degan.

"Aku sudah di angkat menjadi anak oleh Gin-sama, itu artinya aku bukan seekor kucing peliharaan lagi."

"Ja..jadi."

"Aku bisa memilikimu kan."

"Eh..i..itu.."

Tanpa banyak yang di katakan Rukia pun mengerti apa maksud Ulquiorra. Perlahan-lahan wajah mereka pun mendekat.

Beberapa centi.

"ULQUIORRA!" Teriak para penghuni kelas.

"STOICK BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU! RUKIA MILIKKU!"

"Ka..kalian.." Rukia pun jadi malu.

"Siapa yang milikmu Hah!" Deathglare Ulquiorra.

"Siapa yang berani menyentuh adikku yang manis hah.." Aura hitam keluar dari balik pria berambut panjang hitam sebahu.

"Bya..byakuya nii-san!" Rukia terkaget-kaget.

"Hai Rukia-chan. Sudah lama tidak bertemu imouto ku sudah jadi dewasa ya."Goda perempuan yag mirip dengan Rukia.

"Hisana nee-san! Ke..kenapa ada disini?"

"Kami dengar Festival budaya di sekolahmu hari ini,jadi kami datang kemari untuk memberi kejutan tapi ternyata malah kami yang di kejutkan.." Ujar lembut perempuan yang bernama Hisana itu.

"E..etto.."

"Beraninya kau mendekati imouto ku yang manis hah!" Geram Byakuya.

"STOICK BRENGSEK!"

"Kyaaa! Kalian berdua berani sekali.."

Kelas pun menjadi ribut, Ulquiorra tetap diam tenang meski semua orang menekannya, Rukia hanya bisa salting dan blushing.

Waah, sepertinya hari-hari Rukia akan kemabli di hiasi keributan, tapi mungkin untuk sekarang akan lebih menyenangkan.

Hohohohoho…..

Owari

WKWKWKWKWKWKWK!

Owari..owari!

Akhirnya ini Fanfic Owari dengan gaje…*author di siksa.

ByakuHisa pun muncul di saat-saat terakhir.

Grimmjow: "Ini belum berakhir! Oooyy..Rukia miliku, dasar! Kembalikaaan!"

Ulquiorra : Mimpi kucing bodoh! Lagian kenapa malah owari,aku belum sempat mencium onna ku.

Byakuya : Tidak akan kuberikan padamu! Lagipula, kenapa aku sebentar sekali munculny.*pundung di pojokan.

Hisana: HOHOHOHO.

Gin: Ulquiorra dan Grimmjow jadi putra q, aku benar-benar sabar diam di rumah dengan adanya mereka, perabotan ku rusak semua.*curhat

Aizen: Aku di tangkap ya, kapan aku bebas.

Vida kabur lewat belakang.

JANGAN LUPA REVIIIIEW YAAAA!