Warning:GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.

Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^

Disclaimer:Naruto © Masashi Kishimoto

Rated:M

Pairing:SasuSaku

Genre:Hurt/comfort & Romance

.

.

.

.

.

Chapter 3: AWAY.

Sakura perlahan membuka matanya yang masih terasa sangat berat, mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha manghilangkan kabut yang menghalangi penglihatanya. Dia masih merasa agak pusing, tapi rasanya aneh. Pandanganya masih tetap saja kabur, dia meraba-raba daerah sekitar tempat tidurnya dan menemukan kacamata yang yang telah telepas dan tergeletak disamping tempat tidur dan memakainya kembali.

"Dimana aku?" dia mendengar dirinya sendiri berbisik. Seingatnya waktu itu dia tiba-tiba merasa sangat pusing saat perjalanan menuju keruang kesehatan hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sebentar dan semua tiba-tiba menjadi gelap. Sakura masih berusaha mengingat, sampai dia ingat sepertinya ada orang yang menolongnya dan kemungkinan orang itu juga-lah yang mengantarnya kemari tapi meskipun dicoba berulang kali, dia tetap tidak bisa mengingat wajah orang itu dengan jelas.

Sakura mengedarkan pandanganya meneliti suasana ruangang sekolah KHS yang bernuansa putih dan biru muda. Aneh, tidak ada siapa-siapa. Padahal biasanya selalu ada kak Shizune sang asisten kepala sekolah, Sunade-Sama. Pandangan Sasuke tertumbuk pada makanan yang dihidangkan diatas meja dekat tempat tidurnya. Ada secarik kertas!

'makan lah'

Hanya sebaris kata itu sajalah yang tertera disana, tidak ada nama ataupun kata-kata yang lainya. Tapi satu kata itu cukup mampu membuat senyum bahagia Sakura mengembang diwajahnya.

Sakura menikmati berbagi makanan yang bagi Sakura tergolong sangat mewah karena dia memang sangat jarang bisa menikmati sesuatu seperti ini walaupun hanya bubur dan lauk beserta air putih saja tapi itu saja sudah sangat membuat Sakura bersyukur. Diberi makan saja sudah untung. Lebih sering dia malah sama sekali tidak diberi makan oleh orang-orang dipanti.

Sakura kembali ke-kelas setelah diarasa dirinya sudah cukup kuat untuk melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda. Bagi sebagian murid disini, bisa berbaring di uks dan melarikan diri dari rutunitas harian yaitu dijejali oleh rumus-rumus dan pelajaran adalah sebuah anugerah tapi tidak bagi Sakura yang hanya siswa miskin yang berhasil masuk ke-KHS dengan prestasi adalah sesuatu yang harus dipertahankan dengan kemampuan otaknya dan tidak bisa hanya bersantai-santai ria kalau tidak inginKHS terlepas dari genggaman.

Bagi orang-orang seperti Sakura yang tidak mempunyai apa-apa lagi selain kepintaran, KHS adalah neraka. Disini adalah tempat dimana seluruh predator dari yang kelas kakap seperti Sasuke cs terkumpul menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang mudahnya di tindas dan dijadikan budak oleh mereka yang terlahir dengan segudang kesempurnaan dan kekuasaan.

Tapi Sakura terus bertahan. Walau bagaimanpun dia ingin masuk kesekolah ini bukan untuk mendapatkan kesenangan melainkan demi memperoleh masa depan yang lebih baik. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa berguna nantinya dan ia bisa membuktikan kepada mereka-orang-orang dipanti asuhan, bahwa ia akan membalas semua jasa mereka selama ini yang sudah mau menampungnya hingga saat ini.

Saat Sakura melangkahkan kakinya kedalam kelas, ternyata sudah ada Orochimaru-Sensei yang sedang menerangkan pelajaran untuk murid-murid yang walaupun bosan tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya pasrah mendengarakan ceramah Orochimaru dari pada ketahuan beraktifitas didalam kelas dan berakhir dengan mendapatkan hukuman lebih baik pura-pura bersikap manis.

Sakura mengetuk pelan pintu mewah yang terbuat dari kayu coklat yang berpelitur indah itu.

"Maaf Sensei aku terlambat." Jawab Sakura sambil berdiri dengan canggung didepan pintu.

Orochimaru menatap Sakura dengan pandangan sakartis yang sangat menusuk. Dia tidak suka kalau ada siswa yang tidak disiplin ada dikelasnya.

"Dari mana saja kau Haruno.?" Tanya Orochimaru tajam.

"Aku…." Belum juga Sakura menjawab salah satu dari pengikut Karin menyahut dan mendahului dirinya berbicara.

"Dia pasti bolos Sensei. Sakura kan memang sering seperti itu." Ucap tayuya sambil di-iringi oleh gelak tawa Karin dan teman-temanya.

"Diam kalian.." suara orochimaru yang sangat dingin mampu meredam semua gelak tawa itu hingga hanya menyisakan kesunyian yang mencekam membuat keringat dingin Sakura mengalir semakin deras.

"Apa benar itu Sakura.?" Tanya orochimaru skeptis.

"Tidak Sensei. Itu tidak benar!" jawab Sakura sambil menundukan wajahnya dalam-dalam.

"Kalau begitu kenapa kau terlambat."

Sakura diam saja. Dia tidak ingin menjawab bahwa tadi ia berada di-uks karena disuruh oleh Kakashi Sensei.

"Kalau begitu sekarang kau akan kuhukum. Keluar dari kelas ku dan sepulang sekolah nanti kau harus membersihkan seluruh koridor sekolah."

"Baik Sensei..!"

-SAKURA-

Tubuh Sakura terlempar kesamping dengan sangat keras karena tamparan yang dilayangkan seorang wanita berparas cantik dan bertubuh sintal yang merupakan pemilik sebuah club malam yang cukup terkenal di-kota Konoha tempat dimana Sakura bekerja selama setahun terakhir ini.

"Aku sudah mengatakan berulang kali padamu, jangan sampai terlambat masuk kerja. Kalau kau tidak punya niat serius, sebaiknya kau berhenti saja dari tempat ini. Dasar tidak berguna" teriak wanita itu lantang.

Sakura masih diam tidak bergerak sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan barusan.

"Gomenasai ne, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Sakura lirih.

Wanita itu diam saja. Lalu menghembuskan nafas kesal.

"Kali ini kau ku maafkan. Tapi lain kali kalau kau mengulanginya, maka kau akan rasakan sendiri akibatnya."

"Arigato." Sakura beranjak dari tempatnya dengan sedikit tertatih-tatih berusaha meninggalkan ruangan pribadi milik wanita paruh baya yang masih terlihat menawan itu.

Sebenarnya sudah sejak lama Sakura benci berada ditempat dimana kenistaan dan maksiat dibiarkan merajalela. Ingin sekali rasanya dia berhenti bekerja ditempat ini, tapi kalau dia melakukan itu maka kepala panti mengancam bahwa Sakura harus berhenti sekolah dan hanya bekerja dipanti saja.

Sakura selalu berusaha melindungi dirinya dari rayuan para hidung belang yang selama ini berusaha menggodanya dengan memakai pakaian berupa kaos kaki panjang yang tebal hingga menutupi kakinya yang jenjang karena dia harus menggunakan rok mini yang benar-benar super pendek sebagi pakaian kerja.

Dan usahanya selama ini berhasil, hampir tidak ada satupun orang yang mau memesan dirinya yang dari segi penampilan tentu saja tidak di anggap menarik oleh para pengunjung. Rambut pink panjang yang dikepang dua, dan tentu saja kacamata yang tebalnya hampir setebal kacamata kuda mambuat orang yang meskipun hanya sekali memandang saja menjadi tidak berminat.

Sakura reflek menutup kedua matanya saat merasakan dingingnya alcohol yang menciptakan aroma menyengat mendarat diwajahnya yang mulus, seorang pelanggan wanita yang Sakura kenali juga adalah salah satu murid di-KHS menyiram wajah Sakura dengan sangat tidak berperasaan hanya karena Sakura tidak sengaja menumpahkan minuman ke pakaian mahal wanita itu.

Sang pia yang adalah pasangan kencan gadis itu hanya bisa terkikik dengan logat melecehkan saat menyaksikan Sakura diperlakukan layaknya bukan manusia.

"Lihat apa yang sudah apa yang kau lakukan gadis miskin. Gara-gara kau, bajuku jadi basah semua." Gadis itu berteriak dengan sangat keras hingga menyebabkan semua mata memandang kearah mereka.

"Maaf. Saya sama sekali tidak sengaja." Ucap Sakura bergetar.

"Maaf… Maaf, katamu. Kau tahu berapa harga baju ini! Satu tahun gajimu-pun tidak akan mampu untuk menggantinya. Kau tau" ucapnya sambil mencengkram dagu Sakura dengan sangat kasar hingga membuat Sakura meringis kesakitan.

"Dasar kau, wanita jalang." Desis gadis itu dan langsung mendorong tubuh Sakura hingga terjerembab dan jatuh menghantam dinginya lantai marmer malam itu. Kacamata Sakura terlepas dan jatuh entah di mana, membuat gadis itu harus bersusah payah meraba-raba lantai hingga akhiranya dia menemukan benda itu dan kembali memakainya.

Pria yang adalah teman kencan wanita itu melongo untuk seperkian detik lamanya saat menyaksikan kecantikan Sakura yang ternyata terlihat sangat alami ketika kacamatanya terlepas. Dia tidak menyangka bisa melewatkan barang seindah itu selama ini. Iya! dia memang sudah sangat sering kemari, tempat dimana orang-orang melepaskan penat setelah seharian beraktifitas dan didaulat sebagai tempat nongkrong remaja-remaja kaya raya yang paling up to date saat ini.

"Sudahlah Yuhi-chan. Dia kan sudah mengatakan kalau dia tidak sengaja, lupakan sajalah. Lagi pula tidak ada untungnya bagimu kalau kau mengotori tanganmu hanya untuk mengerjai gadis miskin seperti dia." Ucap sang pria sambil mengelus mesra gadis yang bernama Yuhi itu.

"Tapi kan Akira-kun. Dia ini sudah mengotori baju ku." Rengek Yuhi manja.

"Nanti aku belikan yang baru." Bujuknya halus.

Yuhi terkikik manja. "Baiklah!"

Begitu menyadari ternyata Sakura masih memandangi mereka tanpa beranjak dari tempatnya semula dengan pandangan kosong segera membuat emosi Yuhi yang sudah sempat mereda menjadi naik lagi.

"Apa lihat-lihat. Cepat pergi dari hadapan ku, dasar gadis cupu!" bentaknya hingga membuat Sakura terhenyak dan segera pergi dari tempat itu.

Sasuke mengalihkan pandanganya ketempat lain, memandangi segerombolan gadis cantik yang berusaha merayunya. Tadinya dia berniat datang ketempat ini untuk sekedar mengalihkan pikirannya dari gadis berambut pink yang selama ini terus saja menghantui dirinya. Membuatnya tidak bisa berhenti mengkhawatirkan kondisi gadis itu.

Tidak dia sangka ternyata dia melihat seonggok kepala yang dipenuhi rambut sewarna dengan permen karet menyeruak diantara lautan manusia dan yang paling membuatnya kaget ternyata Sakura adalah salah satu pelayan ditempat ini. Perasaan kecewa dan marah sempat memenuhi benaknya hingga ia mendengar kesaksian salah seorang teman satu profesi Sakura bahwa gadis itu selama di sini diperlakukan kurang lebih sama dengan keadaan saat di panti.

Sasuke menghela nafas kesal dan menegak wine-nya dengan satu tegukan besar hingga seluruh isinya tandas. Sasuke memejamkan matanya saat merasakan minuman penenang berkadar alcohol ringan itu melalui tengorokannya dan berakhir dilambungnya.

"Teme…..?" panggil Naruto pada sahabatnya. "kau kenapa, sepertinya kau terlihat kesal."

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang tidak mood."

"Ooohhh…" Naruto yang dari sananya memang sudah lemah otak dibandingkan kelima temanya yang jenius hanya bisa ber-oh ria mendengar jawaban sakartis yang dilemparkan oleh temanya itu.

Tapi tidak dengan Gaara. Selain Naruto, Sasuke bisa terbilang lebih dekat dengan Gaara sehingga dia sangat mengerti bagaimana watak Sasuke yang keras dan cenderung sangat emosional, dia sadar betul kalau temanya yang satu itu sedang berusaha keras menahan perasaanya.

to be continued.

R
E
V
I
E
W