Warning:GAJE, OOC, TYPO bertebaran, AU, adegan kekrasaan, dll.
Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^
Disclaimer:Naruto © Masashi Kishimoto
Rated:M
Pairing:SasuSaku
Genre:Hurt/comfort & Romance
.
.
.
.
.
Chapter 5: Breaking The Rules.
Ke-esokan harinya, Sasuke menemui Sakura seusai sekolah di tempat yang telah mereka sepakati, Sasuke melihat Sakura yang sedang mengamati bunga liar berwarna ungu yang tumbuh di sekitar taman sebelah barat KHS dengan wajah serius sambil mencatat sesuatu pada buku yang ada di genggaman tangannya. Gadis itu sempat terpekik kaget saat merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya lembut.
"Uchiha-san."
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Sasuke sambil duduk di samping Sakura yang sudah duduk dalam posisi bersila d iatas rumput.
"Tidak ada. Hanya sedang mengamati bunga liar ini. Aku ingin tau apakah ini bisa bermanfaat." Seulas senyuman mengembang di wajah gadis itu.
"Lalu. Apakah kau sudah mendapatkan keterangan apakah bunga ini mempunyai khasiat?"
Sasuke hanya diam saja, tapi dalam diam pemuda itu memperhatikan setiap kata yang Sakura ucapkan, gadis sewarna dengan permen karet itu menjelaskan apa yang dia tahu dengan sangat lugas seakan bunga itu adalah hal yang paling menarik untuk dibicarakan.
Desir angin menerbangkan helaian rambut panjang Sakura yang di kuncir satu di atas hingga membuat Sasuke terpesona. Tidak henti Sasuke mengagumi kecantikan alami milik gadis yang telah lama mengisi relung hatinya itu. Tidak ada satu hal-pun yang sanggup membuat Sasuke berpaling darinya.
Tangan Sasuke terangkat untuk menyentuh frame kacamata Sakura lalu kemudian menariknya dengan sangat perlahan hingga terlepas, Sakura terlalu kaget untuk bereaksi seperti seharusnya yakni menepis tangan Sasuke. Tetapi gadis itu hanya membiarkan saja saat Sasuke meletakkan kacamata nya di atas rumput.
Tapi masih ada satu hal lagi yang mengganjal, Sasuke mendekatkan wajahnya hingga Sakura dapat merasakan helaan nafas Sasuke membelai lembut wajahnya, seketika tubuhnya terasa kaku seakan mati rasa. Dengan cekatan Sasuke melepaskan ikatan rambut Sakura begitu saja hingga membuat rambut panjangnya tergerai lembut di punggungnya.
"kau lebih cantik kalau seperti ini." Bisik Sasuke pelan di telinga Sakura hingga membuat wajah gadis itu terasa sangat panas.
Bibirnya bergerak menuju tulang selangka Sakura yang berwana merah menggoda lalu kemudian mengecup pipi mulus itu dengan sangat lembut. Ada perasaan aneh yang berdesir di dadanya saat merasakan sentuhan Sasuke yang terasa sangat memabukan, seakan ada ribuan lebah yang menyengat seluruh tubuhnya hingga bergetar hebat tetapi bukan rasa sakit yang dia rasa melainkan rasa senang yang memuncak hingga rasanya semua beban terangkat dari punggungnya.
Terus di kecupnya dengan lembut seluruh permukaan wajah Sakura yang sekarang telah terbebas dari benda yang mengganggu, mulai dari pipi, hidung, kening, hingga dagu. Belum puas juga, sekarang Sasuke menggerakan bibirnya menuju rahang Sakura hingga bibirnya menempel persis di sudut bibir gadis itu.
"Katakan sesuatu Sakura!" bibir Sasuke yang bergerak pelan di permukaan sudut bibirnya membuat Sakura terhipnotis. Suara Sasuke terdengar begitu menggoda di telinga Sakura.
"Apa?" Tanya Sakura hati-hati.
"Katakan, kalau kau menyukaiku." Suara Sasuke terdengar ringan namun sarat akan paksaan.
Kepala Sakura terasa sangat ringan, semua upaya berpikir dan segala logikanya selama ini seketika menguar keudara begitu saja. Tidak ada hal lain yang sanggup Sakura pikirkan kecuali pria muda yang sekarang berada persis di depanya, dalam posisi yang sangat dekat.
Buruh segenap upaya bagi Sasuke untuk menghentikan dirinya sementara Sakura sudah begitu dekat denganya. Ingin rasanya Sasuke merengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukanya yang menenangkan dan tidak akan pernah melepaskannya lagi meski pun hanya untuk sesaat. Tapi Sasuke masih mempunyai stok kesabaran yang cukup untuk menilai bagaimana reaksi Sakura terhadap keberadaannya dan saat ini berakhirlah semua yang telah dinantikan oleh pemuda itu.
Awal nya ciuman itu hanyalah sebuah sentuhan yang sangat lembut namun seiring dengan lamanya penantian Sasuke membuat ciuman itu seketika berubah menjadi lumatan yang menuntut, Sasuke dengan sangat tidak sabar menggigit bibir Sakura dan memasukan lidahnya ke dalam mulut Sakura, mengabsen satu persatu giginya yang tersusun rapi, menjelajahi seluruh mulut Sakura dengan lidahnya.
Sakura membalas lumatan Sasuke dengan tidak kalah antusias, tangan gadis itu bergerak untuk mencengkram permukaan kemeja putih Sasuke sedangkan Sasuke menekan bagian belakang Sakura untuk memperdalam ciuman mereka. Semua perasaan yang mereka pendam selama ini tumpah ruah menjadi satu dalam ciuman pertama mereka yang akan menjadi awal dari segalanya.
Mereka baru melepaskan ciuman itu setelah nafas kedua anak manusia itu sudah benar-benar membutuhkan pasokan udara. Sakura menghirup oksigen yang terasa kering dari paru-paru dengan rakus, seluruh wajahnya sekarang sudah lebih merah dibandingkan dengan buah tomat kesukaan Sasuke.
Sasuke menarik tubuh Sakura dan memeluknya dengan sangat erat, membiarkan kepala gadis itu menyandar pada dadanya yang bidang. Sakura membalas pelukan Sasuke hingga membuat seulas senyuman menawan merekah diwajah Sasuke. Dihirupnya dalam-dalam bau wangi yang menguar dari tubuh Sakura, berusaha mematrinya di dalam ingatanya.
Sasuke semakin mengetatkan pelukannya, meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi belaka, bahwa sekarang Sakura ada di sini, bahwa gadis itu memang benar-benar ada dalam rengkuhanya. Sakura mendengar dengan sangat jelas bagaimana jantung Sasuke berdetak dengan sangat kencang, tidak kalah dengan jantungnya yang sepertinya sudah akan melompat keluar dari tempatnya.
Kebahagiaan itu meluruh dengan sangat cepat, secepat sentakan rasa indah yang mereka rasakan. Kata-kata mereka yang mengatakan kalau Sakura hanyalah seorang gadis miskin dengan paras yang sangat biasa membuat Sakura merasakan perasaan kecewa juga terluka, bagaimana mungkin dia membiarkan Sasuke menciumnya padahal mungkin saja laki-laki itu hanya berusaha mempermainkan perasaanya seperti yang kerap dilakukanya terhadap banyak wanita, kalau mengingat perbedaan status mereka yang sangat mecolok.
Pelukan itu meluruh seiring dengan perasaan sakit yang mendera, pria itu tetaplah tidak terjangkau meskipun mereka sudah sedekat ini. Mereka benar, dia tidak akan pernah pantas untuk mendapatkan seseorang sempurna seperti Sasuke, kebahagian tidak akan pernah menghampiri kehidupanya.
Sasuke merasakan pelukan Sakura yang semakin mengendor hingga akhirnya benar-benar terlepas.
"Kenapa Sakura?" Sasuke menatap wajah Sakura yang serubah menjadi murung. Berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan, ingin tahu kenapa tiba-tisa Sasuke merasa Sakura seakan menciptakan jarak.
Sakura hanya menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Maafkan aku, Uchiha-san! Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi."
Sakura segera berlari dari tempat itu, pergi meninggalkan Sasuke yang masih terdiam sebelum air mata yang ditahannya tumpah. Dia tidak ingin menunjukan kelemahanya walau bagaimanapun. Sakura memang sudah sangat terbiasa diperlakukan rendah dan seakan bukan manusia pada umumnya, tapi tidak bisa dipungkiri hatinya tetap terasa tersayat saat orang-orang menatapnya dengan penuh kebencian dan rasa jijik. Namun untuk kali ini entah kenapa rasanya Sakura lebih memilih seribu kali diperlakukan seperti itu dari pada harus merasa kecewa tehadap orang yang telah lama membuatnya terjerat dan kemudian menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
Sasuke masih tidak beranjak dari tempatnya semula, pria itu terlalu shock saat menyadari rasa sakit yang menusuk tepat di jantungnya ketika perasaan tertolak melandanya. Sasuke tersenyum miris, rasa sesak itu dengan cepat menjalar hingga seluruh tubuhnya terasa mati rasa dalam artian yang sebenarnya. Ingin rasanya dia membunuh semua orang yang telah menyakiti Sakura selama ini.
"Aaaarrrrrrggggggghhhhhhhhh…." Teriakan Sasuke menggema hingga ke seluruh penjuru sekolah.
-SAKURA-
Sakura melepaskan baju seragam yang dipakainya dan melirik jam dinding yang sekarang menunjukan pukul dua pagi. Ruangan ini sangat sepi, berbeda sekali dengan keadaan di luar yang dipenuhi oleh hingar-bingar music dansa romantic yang mengalun di udara malam yang semakin dingin.
Sakura terpekik kaget dan reflek menutupi handuk terdekat yang sempat diraihnya untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka saat melihat ada seorang pemuda yang dengan lancang masuk ke dalam bilik tempat Sakura berganti pakain.
"Sssssttttt….jangan berisik, nanti ada yang mendengar."
Akira melompat ke-arah Sakura saat menyadari gerak-gerik Sakura yang sepertinya akan melakukan ancang-ancang untuk melarikan diri, membuat gadis itu semakin mengetatkan cengkaraman jari-jarinya pada sehelai kain yang menjadi penutup bagian atas tubuhya yang terbuka. Sakura semakin merapatkan tubuhnya pada dinding hingga tersudut, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari pemuda itu.
"Mau apa kau?" Tanya Sakura gentar sambil tetap berusaha melepaskan pelukan Akira pada tubuhnya,
"Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin mengajak mu bersenang-senang." Sekelebat perasaan tidak nyaman memenuhi benaknya saat merasakan ada tangan dingin yang membelai wajahnya dengan lembut.
"Tidak….lepas kan aku…..tolong" Sakura berteriak sekencang-kencangnya sambil tetap meronta berusaha melepaskan diri dari jerat pemuda berambut putih itu.
"Hhhhaaaahhhhha….. kau berteriak pun percuma, tidak akan ada yang datang untuk menolongmu, kau tau." Sakura tidak perduli, dia tetap saja meneriakkan bantuan yang terasa sia-sia, berharap ada seseorang yang mendengar teriakan minta tolong-nya dan memberikannya bantuan.
Akira melemparkan tubuh Sakura dengan sangat kasar dan bernafsu hingga terbaring telentang dilantai dan langsung menindih tubuh gadis yang telah tidak berdaya itu di bawah tubuhnya.
Sakura berusaha setengah mati menahan berat tubuh Akira yang berada di atas tubuhnya dengan cara meletakkan tangannya di dada pemuda itu. Saat Akira mendaratkan wajahnya untuk menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Sakura, gadis itu menelengkan wajahnya ke samping hingga bibir pemuda itu mendarat di leher jenjangnya.
Merasakan benda lunak yang men-lilati permukaan kulit lehernya yang sensitive membuat Sakura semakin beringas berusaha melepaskan dirinya, sadar Akira lengah karena terlena oleh nafsu membuat Sakura berhasil menendang-kan lututnya pada bagian selangkangan pemuda itu hingga Akira memekik kesakitan dan refleks melepaskan cekalan-nya pada Sakura.
Tidak meyia-nyia-kan kesempatan itu Sakura segera menegakkan tubuhnya berusaha mencapai pintu, belum sempat kenop pintu dicapainya Sakura lagi-lagi merasakan tubuhnya yang mulai melemah menghantam dinginya lantai marmer.
"Aaaarrrrgggghhhh….tidak…. lepaskan aku." Akira tidak perduli, dicekik-nya leher Sakura dengan kencang hingga gadis itu memekik kesakitan.
"Dasar wanita jalang." Akira menampar wajah Sakura dengan kencang hingga wajah gadis itu terlempar kesamping, ada darah yang mengalir dari sudut-sudut bibirnya.
Sakura benar–benar telah merasa pasrah terhadap apa yang akan terjadi padanya, dia sudah tidak sanggup mlawan saat Akira menarik handuk yang menutupi tubuhnya hingga kini ia benar-benar topless. Pemuda itu sesaat terpesona pada pemandangan indah yang tersaji dihadapanya.
Akira menatap tubuh Sakura dengan pandangan lapar, mulai dari wajahnya yang cantik, bibirnya yang ranum, lehernya yang jenjang hingga kedua bukit payudaranya yang tegak menantang dan dengan ukuran yang di atas rata-rata. Sungguh, Sakura adalah pemandangan paling indah yang pernah dilihatnya di dalam hidupnya.
Saat Akira menarik bawahan Sakura untuk bisa langsung menikmati hidangan utama, Sakura bergerak mundur untuk menghindar. Tetap di teruskanya kegiatanya yakni melucuti bagian bawah Sakura hingga akhirnya gadis itu benar-benar polos tanpa sehelai benang-pun menutupi seluruh tubuh sempurnanya.
"Kau sungguh sangat cantik, sayang." Puji Akira tanpa mengalihkan pandanganya dari tubuh telanjang Sakura.
"Jangan…." Pinta Sakura lirih sambil merengsek menjauhi tubuh Akira sambil berusaha menutupi bagian tersensitif tubuhnya dengan tangan, walaupun tidak ada gunanya. Air mata mengenang di kedua pelupuk matanya.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu." Bisiknya. Sakura hanya menggeleng, berusaha menyanggah pernyataan itu.
Akira kembali menindih tubuh Sakura dan memberikan kecupan-kecupan bernafsu disertai sesekali menggigit telinga Sakura ataupun lehernya yang tidak bercela, tangan kananya dipakai untuk mencengkram erat kedua tangan Sakura diatas kepala gadis itu agar Sakura tidak bisa melawan lagi sedangkan tangan kirinya digunakan untuk meremas payudara Sakura yang terasa sangat kenyal.
"Eng…." Sakura menggeliat, bukan karena merasa nikmat. Tetapi karena merasakan perasaan tidak nyaman di tubuhnya saat dengan kasar Akira meremas payudaranya.
Gaara menajamkan pendengarannya saat telinganya menangkap suara teriakan minta tolong seorang gadis, Gaara sangat yakin kalau pendengarannya tidaklah mungkin salah. Teriakan itu memang sudah tidak terdengar lagi saat gara mendekati asal sumber suara, ada dua orang pria yang berwajah sangar yang berdiri di depan sebuah pintu yang di atasnya tertulis ruang ganti karyawan wanita. Segera saja otak jeniusnya mencerna keadaan.
Kedua orang berwajah sangat tersebut menjadi ciut seketika saat menyadari siapa yang berdiri di depan mereka.
"Aku ingin masuk. Jangan halangi jalanku." Suara baritone dingin itu terkesan memerintah.
Mereka saling berpandangan, bingung harus membiarkan seorang pemimpin Yakuza masuk dan membuat kegiatan tuan mereka terganggu atau melarangnya dan lalu setelahnya berakhir dengan tubuh terpotong mengambang di sungai dalam keadaan tidak bernyawa. Mereka bergidik mebayangkan yang terburuk kalau mereka menentang orang dengan segudang refutasi tidak menyenangkan, kemarahan tuan yang sekarang menjadi bos mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemuda berambut merah yang ada di depan mereka ini.
"Silahkan tuan…." Mereka mepersilahkan pemuda bertato kanji ai di keningnya itu masuk.
Tepat saat Sakura merasa bahwa harapannya telah pupus seketika, saat itu juga ada tangan kekar yang menarik tubuh telanjang Akira dengan kasar menyingkir dari atas tubuhnya hingga membuat seluruh tubuhnya tere-ekspos secara sempurna.
Pemuda mesum itu terlempar dengan sangat kencang hingga punggungnya terbentur dengan keras, Sakura tidak dapat melihat dengan jelas pemuda yang telah menyelamatkan dirinya dari cengkraman seorang pemuda kurang ajar karena disebabkan oleh matanya yang memang kabur karena banyaknya air mata yang mengalir dari kedua bola mata indahnya.
Gaara dengan segera mendaratkan pukulan maut kepalan tangannya ke wajah pemuda yang telah dengan sangat lancang berusaha melakukan pemerkosaan pada seorang gadis yang telah lama Gaara ketahui sebagai gadis yang di-idamkan oleh sahabat baiknya hingga pria itu ter-kapar tidak berdaya.
Gaara melepaskan jeket merah yang dikenakannya lalu kemudian meletakannya hingga menutupi seluruh tubuh telanjang Sakura yang masih menangis sesenggukan.
"Kau tidak apa-apa." Tanya Gaara lembut, dia berusaha bersikap sehati-hati mungkin, berusaha mengerti kalau gadis itu masih merasa shock dan takut. Dengan sisa-sisa tenaganya, Sakura mengangguk.
"Sakura…." Suara baritone seorang pemuda berambut raven yang sudah sangat familiar menyapa pendengaran Gaara.
"Apa yang terjadi?" Sasuke benar-benar melupakan gaya cool yang menjadi ciri khas Uchiha hingga tidak mampu menyembunyikan suaranya yang sarat akan kecemasan.
Gaara tidak menjawab. Pemuda itu hanya menatap kosong dan dingin pada seonggok tubuh telanjang dalam keadaan berlumuran darah disudut ru angan.
Pemuda itu sangat panic sekaligus murka saat menyaksikan kondisi Sakura yang hanya tertutupi selembar kain yakni jaket Gaara, wajah gadis itu dipenuhi lebam-lebam yang mulai membiru, bercak-bercak merah di leher putih Sakura yang Sasuke yakin hasil karya dari pemuda yang hampir menodai gadis yang ia cintai. Bahkan airmata masih belum kering di wajahnya.
Seketika itu juga Sasuke benar-benar sudah tidak mampu menahan emosinya, bayangan Sakura yang menangis meminta tolong menari di dalam benaknya. Tidak ada satupun yang berhak menyentuh apa yang seharusnya hanya menjadi miliknya seorang.
Sasuke mendekat kearah pria yang telah sadarkan diri itu, yang sekarang sedang memegangai rahangnya yang sepertinya patah karena hantaman Gaara barusan. Dengan langka-langkah panjang Sasuke mendekat kearah Akira yang sepertinya masih belum sadar dengan keadaan dirinya yang sedang berada di ambang maut.
Kembali Sasuke melayangkan pukulan secara bertubi-tubi ke seluruh bagian wajah Akira hingga seluruh wajah pemuda itu menjadi tidak berbentuk karena menerima pukulan dari Sasuke yang sepertinya mengerahkan seluruh tenanganya untuk menghancurkan wajah pria itu.
"Ampun Uchiha-san. Saya minta maaf." Sasuke semakin marah, tetap tepat sebelum Sasuke mendaratkan pukulan mautnya, pemuda yang sedang kalap karena emosi itu menghentikan pukulannya saat mendengar suara Sakura.
"Jangan Uchiha-san. Hentikan."
Sasuke menginjak bagian paling vital dari tubuh Akira dan ditekan dengan kekuatan penuh sebagai penutup dari perbuatan pemuda itu pada pada Sakura hingga membuat suara teriakan kesakitan Akira menggema keseluruh ruangan sempit itu.
"…." Dengan seiring tenggelamnya suara teriakan, maka saat itu juga Akira tidak sadarkan diri dalam keadaan bugil.
"Terimakasih…." Ucap Sakura pelan sambil menatap sepasang mata azure Gaara yang sekarang masih berjongkok disamping tubuhnya yang terasa seperti mati rasa.
Sakura berusaha berdiri dengan sisa-sisa tenanganya, Gaara terkesiap dan berusaha membantu gadis itu tetapi Sakura dengan isyarat halus mengatakan kalau dirinya bisa berdiri sendiri, tetapi belum apa-apa gadis itu sudah jatuh tumbang tidak sadarkan diri. Dengan sigap Sasuke menangkap tubuh lemah Sakura kedalam pelukanya dan lalu kemudian menggendongnya.
Tanpa berpikir lagi Sasuke segera pergi dari tempat terkutuk ini dengan Sakura yang tidak sadarkan diri berada dalam gendonganya. Pemuda raven itu terlihat sangat cemas dan seketika itu juga kehadiran Gaara menjadi terlupakan, tetapi sebelum mencapai ambang pintu, Sasuke menghentikan langkahnya.
"Terima kasih. Kau telah menyelamatkanya." Ucap Sasuke sambil menolehkan sedikit kepalanya ke-arah Gaara.
Gaara tersenyum saat mendengar ucapan yang baru pertama kali ia dengar dari mulut Sasuke selama lebih dari sepuluh tahun menjadi sahabat. Rupanya kehadiran gadis itu telah benar-benar membuat Sasuke menjadi pribadi yang lebih bersahabat meskipun tentu saja sikap dingin dan angkuhnya masih lebih banyak mendominasi.
to be continued.
R
E
V
I
E
W
Terima kasih untuk yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca fic-ku dan memberikan review yang sangat membangun. dan untuk mereka yang bertanya, apakah fic ini dipublish ulang. itu sangat benar.
