Warning:GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.

Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^

Disclaimer:Naruto © Masashi Kishimoto

Rated:M

Pairing:SasuSaku

Genre:Hurt/comfort & Romance

.

.

.

.

.

Chapter 7: My Prerogative.

Sasuke menggandeng tangan Sakura dan menuntunnya menuju ke suatu tempat yang Sakura tidak tahu, lagi-lagi Sakura harus dibuat terkagum-kagum dengan keadaan di dalam rumah Sasuke yang lebih tepat disebut sebagai istana daripada rumah.

Sasuke ternyata sudah membawa Sakura ruang keluarga, di mana ke-lima teman-teman Sasuke sudah menunggu dengan pasangan mereka masing-masing, minus Neji yang masih berstatuskan jomblo tentu saja.

Ada Naruto yang sedang bercanda dengan Hinata dan sesekali dihadiahi deathglare paling mengerikan oleh Neji, jikalau pemuda berambut panjang dan beriris perak itu mendapati Naruto dengan gemas mencium atau menyentuh salah satu bagian tubuh adiknya, membuat Naruto seketika menghentikan kegiatanya dengan wajah di tekuk masam.

Gaara sibuk mengacuhkan Matsuri yang sedang berceloteh dengan riang, menceritakan semua yang telah dilaluinya, hal-hal yang dia sukai, hobinya, sampai kebiasaan jeleknya yang ternyata sangat tidak menyukai berbagai sayuran hijau. Cowok bermata azure itu tampak bosan dan sesekali menghela nafas berat, sampai akhirnya Gaara tidak tahan lagi dan menghadiahi Matsuri sebuah kecupan singkat di bibir hingga mampu membuat gadis itu terbungkam sambil tersipu malu.

Shikamaru masih saja menguap bosan bahkan sekalipun Temari sudah menceramahinya panjang lebar tentang kebiasaan jelek Shikamaru yang suka tertidur di mana-pun dia berada, bahkan saat shikamaru menemui kedua orang tuanya siang tadi untuk sekedar obrolan singkat dan gadis pirang yang merupakan kakak kesayangan Gaara itu mendapati calon suaminya di bawah meja dengan wajah mengantuk. Akhirnya Temari dengan berang memukul bagian belakang Shikamaru dengan keras, mengakibatkan benjolan sebesar kentang di atas kepalanya.

Sedangkan Sai dan Ino yang merupakan pasangan paling romantic diantara teman-teman Sasuke tentu saja sedang mojok berduaan sambil Ino yang mendengarkan rayuan gombal khas kekasihnya dengan wajah merona malu, saling melepaskan rindu setelah selama kurang lebih seminggu tidak bertemu karena keharusan Ino yang pergi keluar negeri untuk kepentingan modeling yang digelutinya.

"Hay. Teme." Suara baritone sikuning jabrik segera menyapa pendengaran Sasuke.

"Hn." Sasuke hanya menjawab seadanya.

Sakura segera bersembunyi di belakang tubuh Sasuke, Sasuke mengetatkan genggaman tangannya pada kelima jari-jari Sakura yang sekarang terasa semakin dingin, dia mengerti kalau Sakura merasa canggung dan sedikit takut pada kehadiran teman-temannya. Sasuke mengelus lembut permukaan tangan Sakura dengan jempolnya, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Hay Sakura-chan." Kali ini sapaan Naruto membuat kening Sasuke berkerut masam, chan? Sejak kapan Naruto memanggil Sakura dengan sufick chan.

Sakura hanya manjawab sapaan Naruto dengan senyum tipis, dia merasa tidak yakin apakah harus menjawab sapaan sahabat Sasuke yang mempunyai sifat paling periang dibandingkan dengan kelima teman-temannya itu.

Sasuke menarik Sakura untuk duduk di sampingnya.

"Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat cantik malam ini." Naruto adalah orang kedua yang memuji penampilan Sakura.

"Ooh ya. Hinata, kenalkan! Ini Sakura, kekasih baru, Teme! Dan Sakura, ini Hinata. Tunanganku." Naruto memperkenalkan Sakura kepada sesosok gadis anggun dengan rambut sewarna rambut Sasuke yang biru donker.

Gadis bermata perak itu sangat mirip dengan Neji, tentu saja karena Hinata dan Neji terlahir kembar. Yang membedakan hanya sifat mereka yang sangat berbeda, kalau Neji lebih terkesan angkuh dan sombong, maka Hinata adalah kebalikannya.

Gadis yang telah resmi menyandang status sebagai kekasih pewaris Namikaze company sejak kelas sepuluh itu memang pantas disebut-sebut sebagai salah satu dari kumpulan gadis tercantik se-KHS, sifatnya sangat anggun dan sopan, tipe pemalu yang justru tidak percaya diri dengan segala kelebihanya. Tidak heran kalau Hinata mampu membuat sahabat baik Sasuke itu merasa sangat tergila-gila.

Perkenalan kedua gadis cantik itu justru malah terasa sangat kaku, Sakura yang pada dasarnya merasa kurang percaya diri untuk menjadi teman seorang yang sempurna seperti Hinata. Sedangkan Hinata yang terlahir pemalu juga merasa bingung dengan apa yang harus di lakukanya. Karenanya mereka hanya saling melemparkan senyuman satu sama lain.

"Bukankah kau bilang kau ingin berterima-kasih pada Gaara. Karena itu aku membawamu kemari." Sakura menatap wajah Sasuke dengan tatapan heran.

Sakura menarik nafas. "Eum… sabaku-san!" panggil Sakura pelan, membuat sepasang mata tajam Gaara menoleh ke arahnya.

Kalau tidak ingat kata-kata tajam Sasuke yang mengatakan kalau saat berbicara ia tidak boleh menunduk dan harus menatap mata lawan bicaranya, Sakura pasti sudah menundukan wajahnya dalam-dalam karena merasa gugup.

Sakura kembali mengumpulkan keberaniannya sebelum mulai berbicara kembali. "Terima kasih karena kau telah menyelamatkan aku." Sakura akhirnya bisa juga mengatakan kata-katanya. Ternyata tidak se-mengerikan yang dia kira.

"Hn," ternyata Gaara dan Sasuke sama sekali tidak ada bedanya.

"Hey Sakura-chan. Apa yang saja yang sudah kau lakukan bersama Teme semalam?" tanya Naruto polos sambil tetap mempertahankan wajah polosnya. Seketika itu juga wajah Sakura kembali memerah saat mengingat bagaimana Sasuke menciumnya dengan sangat bernafsu tadi sore.

Tiba-tiba saja terdengar suara berisik, berupa teriakan kencang yang Sakura yakin suara seorang gadis seusia dirinya disertai dengan masuknya seorang gadis berambut cokelat yang dicepol dua, tepatnya gadis itu dipaksa untuk masuk.

"Apa-apaan kau Neji? Apa maksudmu membawaku kemari dengan cara seperti ini, hah? kau harus mejelaskannya tuan Hyuga." Tenten berteriak sejadi-jadinya sambil menuding kasar wajah calon Heiress Hyuga itu.

Neji hanya terseyum meremehkan yang membuat Tenten semakin kesal.

"Ugghhh….. apa mau-mu Hyuga?" intonasi suara Tenten menurun tetapi tetap tersirat adanya kekesalan.

"Apa salah kalau aku mengajak partnerku untuk datang berkunjung kerumah temanku?" jawab Neji diplomatis.

"Aku tekankan sekali lagi padamu. Aku ini partner-mu, dan bukannya kekasihmu. Jadi kau tidak berhak memaksaku datang kemari. Kau mengerti."

"Lalu kenapa?" lagi-lagi Neji memberikan pernyataan.

"Kalau begitu aku mau pulang."

Sebelum Tenten sempat melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, Neji segera mencengkram pergelangan tangan gadis tomboy itu dan segera saja mendaratkan sebuah kecupan di bibir perawannya.

"Apa-apaan kau?" teriak Tenten sejadi-jadinya, sekarang dia sudah benar-benar murka dan merasa terhina.

Tenten melayangkan tinju maut nya ke wajah Neji dan berhasil di tangkis oleh Neji dengan sangat mudah, akibatnya Tenten merasakan bagaimana perbedaan kekuatan antara wanita dan pria yang sesungguhnya. Neji memelintir tangan Tenten ke belakang dan memitingnya dengan kekuatan penuh, tidak ingin mangsanya berhasil melepaskan cekalannya, walau bagaimanapun, Tenten adalah gadis yang tidak bisa diremehkan kekuatannya. Gadis tomboy itu adalah pemegang sabuk hitam kejuaraan nasional, dan dia bisa dengan mudah melumpuhkan dua orang pria bertubuh dua kali lebih besar dari tubuhnya dengan sekali hantam.

"Aaarrrggghhh… sakit Neji. Apa-apaan kau, lepaskan aku!" Tenten berteriak sambil menolehkan kepalanya kebelakang menatap Neji yang sedang menyeringai.

"Tidak akan. Sebelum kau memohon kepadaku."

"Di dalam mimpimu Hyuga." Tenten masih tidak mau menyerah.

Neji kembali menampilkan seyuman khas devilnya sambil menekan lebih kencang pitingan tanganya pada lengan Tenten, membuat gadis itu semakin mengencangkan jeritanya.

"Iya.. ampun… tolong lepasakan aku. Aku mohon!" Neji segera melepaskan cekalanya dan kembali duduk ketempat semula.

Naruto hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku pasangan unik itu, pemandangan Neji yang menjahili Tenten yang selalu meledak-ledak adalah hal yang sudah sangat jamak di kalangan warga KHS.

"Sakit tahu. Kau itu selalu saja membuatku kesal." ucap Tenten berang.

Neji tidak megindahkan kata-kata kasar Tenten. Itu sudah sangat biasa diterimanya.

"Kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahu aku." Kali ini tatapan marah Tenten tertuju pada Ino, kekasih Sai dan juga merupakan sahabat baiknya selain Hinata tentu saja. Walaupun berperilaku dan mempunyai hobi seperti anak laki-laki, namun tidak bisa di pungkiri, Tenten juga merupakan salah satu gadis yang paling di-incar di-KHS.

"Maaf Tenten sayang. Aku tidak sempat memberitahumu." jawab Ino sambil tersenyum pada temanya.

"Berhentilah memanggilku dengan sebutan seperti itu, Ino!" ucap Tenten sambil menghempaskan bokongnya pada salah satu bangku diruangan itu.

"Memangnya kenapa?" tanya Ino polos.

"Itu menjijikan!"

Wajah Ino langsung cemberut seketika. "Kenapa kau selalu bertingkah seperti itu? Kau itu 'kan perempuan!"

"Kau itu Haruno Sakura-kan?" Tenten langsung mengalihkan pembicaraan, begitu teman pirangnya yang super feminim itu sudah mulai menyinggung tentang masalah gender yang seharusnya dia terima, yakni kodratnya sebagai wanita.

Sakura sempat agak terkaget saat mendengar ada orang yang mengajaknya berbicara untuk yang pertama kalinya, minus Sasuke dan teman-temanya tentu saja, tetapi kemudian gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kecil.

"Pantas sepertinya aku pernah melihatmu. Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau juga dipaksa seperti ku?"

Sakura terdiam dengan pernyataan skeptic yang Tenten lemparkan padanya, dia bingung harus menjawab apa. Kalau ditanya apakah dia terpaksa, dia sendiri juga tidak mengerti, ada perasaan yang memaksanya untuk pergi dari tempat indah ini, tapi di sisi lain dia juga sangat menikmati keberadaan Sasuke di sampingnya.

"Itu sama sekali bukan urusanmu." Tenten mengerutkan kening nya begitu mendengar ternyata Sasuke-lah yang menjawab pertanyaannya dengan nada sinis yang mengancam.

"Memangnya kau sudah putus dari wanita berambut merah itu?" pernyataan Tenten segera saja membuat mata Sasuke berkilat tajam.

Sasuke tidak menjawab.

Naruto menyadari perubahan raut muka Sasuke yang mengeras kalau sudah bersinggungan dengan masalahnya dan Sakura. Pemuda raven itu menjadi super sensitive.

Sasuke kembali menyeret Sakura pergi, kali ini ke sebuah ruang makan yang sangat mewah, ada meja berbentuk bundar di tengah ruangan yang sudah ditata dengan sedemikian rupa hingga nampak berkesan anggun dan terlalu berlebihan jika hanya sekedar untuk makan malam, ada berbagai macam hidangan mewah yang di letakan di atasnya.

Di-ikuti oleh teman-teman Sasuke yang sepertinya malam ini memang khusus datang untuk makan malam bersama, Sakura menghempaskan bokongnya di salah satu kursi yang telah di tarikan oleh Sasuke yang bersikap layaknya seorang pria sejati. Sakura sempat merasa bingung saat menyaksikan makanan yang di letakkan di depan matanya.

Tenten yang sepertinya masih kesal berat pada Neji, memilih untuk duduk diantara Naruto dan Hinata, berusaha berada dalam jarak sejauh mungkin dari pemuda tampan berambut coklat panjang yang hanya tersenyum tipis menyaksikan tingkah laku Tenten yang menurutnya seperti anak kecil.

Alis kiri Neji terangkat sambil tetap menatap wajah Tenten yang berkerut masam.

"Kenapa tidak duduk di sampingku saja?" sebaris pertanyaan yang hanya ditujukan oleh Neji pada gadis dengan rambut dicepol dua yang sekarang duduk berseberangan dengan dirinya.

"Tidak sudi." tegas Tenten sambil memonyongkan bibirnya.

"Kenapa?" tanya Neji polos. Kali ini pemuda memberikan senyuman menggodanya yang sangat langka.

"Tidak perlu pura-pura bodoh." Mata Tenten semakin melotot tajam.

Neji dan Tenten memang acap kali berkomunikasi seperti itu. Melalui tatapan mata, walaupun tidak ada suara teriakan Tenten atau pun desahan menggoda Neji, namun semua orang yang ada di dalam ruangan itu menyadari dengan sangat jelas, pasangan unik itu diam-diam saling melempar argumentasi.

Sedikit banyak gadis yang berambut permen karet itu tentu saja pernah melihat bagaimana tata-cara orang kaya menyantap hidangan, namun sekali-pun ia tidak pernah bermimpi bahwa ia juga akan mengalaminya. Minimnya pengalaman membuat Sakura merasa canggung, bahkan Naruto yang paling menunjukkan tidak-adanya tanda-tanda bangsawan di dalam dirinya saja terlihat sangat berwibawa.

"Kau tidak suka makanannya. Aku bisa menyuruh orang untuk menggantinya. Katakan saja apa yang kau inginkan!" Sasuke yang duduk persis di samping kiri Sakura berbisik pelan sementara yang lain sudah mulai menikmati hidangan yang disediakan oleh chef ternama yang sengaja dipekerjakan oleh keluarga Uchiha.

"Tidak, tentu saja tidak!" Sakura menjawab sambil menggeleng dengan cepat. Takut Sasuke salah paham.

Sasuke menarik piring Sakura kehadapanya dan mulai memotong-motong daging stick dengan bumbu itu menjadi potongan-potongan kecil, lalu meletakannya kembali kahadapan Sakura.

"Makanlah."

Sakura mulai menusuk daging kecoklatan itu dengan garpu lalu dengan perlahan memasukannya ke dalam mulut, Sakura sangat yakin kalau makanan itu adalah makanan terlezat pertama yang pernah dirasakannya, namun ia cukup tau diri untuk tidak berteriak dan bersikap memalukan, setidaknya tidak di depan Sasuke dan teman-temanya.

"Hey Gaara, bagaimana dengan project-mu?" Sai bertanya sambil tetap mengunyah makananya dengan santai.

"Cukup sukses, walau-pun tender kali ini tidak terlalu sesuai dengan yang kuharapkan." Jelas sekali Gaara tidak tertarik dengan projeck yang sekarang sedang ia tangani.

"Kudengar, itu akan menjadi salah satu pusat Kondominium terbesar di Konoha. Apa yang membuatmu kecewa?" sambung Naruto sambil memotong-motong daging stick-nya.

"Well. Sebenarnya, penduduk sekitar kurang menyetujui pembangunan Kondominium dilakukan di sekitar pemukiman mereka. Mereka bersikeras ingin mempertahankan tempat tinggal mereka."

Sebenarnya Gaara juga kurang setuju kalau pembangunan dilakukan di sekitar pemukiman yang padat penduduk seperti itu, namun apa daya, tanah yang sekarang mereka tempati adalah tanah yang secara resmi diakui oleh pemerintah milik keluarga besar Sabaku. Dan ayahnya telah memerintahkan untuk segera menyelesaikan proyek pembangunan itu secepatnya.

"Beberapa hari yang lalu mereka bahkan sempat melakukan demo besar-besaran di depan kantor ayahku dan berujung menjadi ajang tawuran." ucap Naruto kesal. "Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan, bukankah itu sangat berbahaya."

"Memang seperti itu-lah perilaku orang yang tidak berpendidikan. Selalu saja bersikap frontal." Sahut Neji sinis.

"Ceh. Kau itu selalu saja menghina orang yang tidak sederajat dengan mu. Kau pikir kau itu siapa? Tuan sempurna." Sindir Tenten yang duduk diseberangnya.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya?" kata-kata menyinggung Tenten sama sekali tidak membuat Neji merasa bersalah.

"Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka telah lama tinggal di sana!" ucap Gaara kalem.

Sakura mendengarkan percakapan mereka dalam diam, dan sekarang Neji dan Tenten sudah mulai terlibat dalam pertengkaran seru sambil tetap mengunyah makanannya, namun entah kenapa semakin lama rasa daging steak yang pertama kali sangat gurih sekarang mulai tercampur dengan rasa lain yang tidak menyenangkan, seperti rasa basi dan muntahan yang digabung menjadi satu, akibatnya perut Sakura mulai terasa mual dan perih. Belum lagi tenggorokannya yang sekarang terasa sakit saat menelan makanan.

Disambarnya segelas air-putih yang memang disediakan untuk dirinya, dan langsung menegaknya hingga setengah gelas. Kegiatan Sakura yang menghentikan makanya bahkan sebelum setengah dari daging panggang itu habis, membuat Sasuke sedikit mengerutkan keningnya heran.

"Kenapa tidak dihabiskan?"

Pertanyaan Sasuke membuat Sakura reflek menoleh dan cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

Semua orang menolehkan kepalanya kearah mereka saat Sasuke membawa Sakura pergi dari ruang makan tanpa alasan dan kembali membawa Sakura menuju kamar pribadinya dengan gaya bridal-style. Yang lain hanya terdiam menyaksikan perubahan seorang Sasuke yang awalnya adalah seorang yang tidak peduli pada orang lain dan selalu memasang tampang stoic sekarang berubah menjadi pribadi yang sangat peduli dan hangat.

"Kurasa Teme benar-benar menyukai Sakura, aku senang dia bahagia." Komentar Naruto hanya dijawab dengan senyum menggoda teman-temanya, minus shikamaru yang justru malah menguap lebar.

"Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya kalian bicarakan." Tentu saja, ke-lima teman Sasuke itu baru sadar kalau hanya mereka-lah yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada sohib lengket mereka. Jadi tidak heran kalau Tenten menyuarakan pertanyaan yang sama dengan yang ingin diketahui oleh kedua teman wanitanya.

"Teme sudah lama menyukai Sakura-chan!" Naruto akhirnya menjawab pertanyaan itu.

"Souka? Kalau begitu kenapa Sasuke justru malah menjalin hubungan dengan wanita lain?" Lagi-lagi pertanyaan Tenten tepat mengenai sasaran.

"Kalau yang itu tanyakan saja pada Teme. Kami juga tidak mengerti."

"Bagaimana kalian bisa tidak tahu, Sasuke-kan teman kalian!" seru Ino. "kalau dia hanya bermaksud mempermainkan Sakura, kasian kan gadis itu. Dia sudah cukup menderita." Walaupun Ino tidak pernah mengenal Sakura, namun Ino cukup tahu tentang perlakuan teman-teman sekelasnya pada Sakura.

"Kurasa Teme tidak akan melakukan itu. Dia sudah menaruh perhatian pada Sakura sejak lama." Bela Naruto, memang bukan salah Ino kalau gadis itu masih tidak percaya pada Sasuke, mengingat reputasi Sasuke dikalangan gadis yang cukup buruk.

Setelah meletakan Sakura di tempat tidurnya, Sasuke langsung menyambar telpon genggam yang tergeletak begitu saja diatas meja disamping tempat tidur dan berbicara dengan cepat dengan orang diseberang sana sambil tanganya menggengam tangan Sakura.

"Kenapa kau lama sekali kabuto?" Tuding Sasuke sambil mendudukan dirinya di kursi yang sama setiap kali mereka berada dikamar pribadinya.

"Kau tau, Tuan Uchiha, aku hanya punya dua tangan. Dan aku meninggalkan pasienku dirumah sakit untukmu."

Sasuke hanya mendengus sambil membuang muka tidak peduli. Kalau ditanya apakah dia peduli pada orang-orang dirumah sakit yang mungkin sekarang sedang sekarat menanti maut, maka jawabanya adalah tidak, dia tidak peduli, yang dia pedulikan hanyalah gadis yang sedang berbaring ditempat tidurnya dengan wajah pucat.

"Katakan Sakura, apakah perutmu terasa mual dan tenggorokanmu terasa sakit saat menelan makanan?" Kabuto, dokter muda yang selalu mengenakan kacamata itu.

Sakura hanya mengangguk kecil.

"Sebaiknya untuk sementara waktu, Sakura tidak boleh memakan makanan yang agak keras. Dan usahakan untuk mengkonsumsi air-putih sebanyak-banyaknya," Kali ini kabuto berbicara pada Sasuke. "jangan lupa vitamin yang kuberikan diminum secara teratur."

"Apa perlu di-infus?" Pertanyaan Sasuke membuat mata Sakura melotot kaget.

"Untuk sementara tidak perlu. Tapi kalau dia masih kesulitan makan, ada kemungkinan dia harus dirawat secara intensif."

Sakura menghembuskan nafas lega mendengarnya.

Saat kabuto telah pergi meninggalkan mereka, Sasuke kembali duduk disamping tempat tidur Sakura sementara gadis itu justru malah menutupi wajahnya dengan selimut.

"kau harus makan Sakura." Ucap Sasuke sambil menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.

Sakura hanya menggeleng saat ia merasakan selimut yang menutupinya terangkat dan wajah Sasuke berda persis diatas wajahnya, Sakura bahkan bisa merasakan hembusan nafas Sasuke dan mencium aroma citrus bercampur lilac yang menguar dari tubuh pemuda tampan itu. Wajahnya seketika merona.

"Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan, kau tidak ingin masuk rumah sakit 'kan?"

Sakura menggeleng.

Sasuke membantu Sakura bangun dan bersandar pada penyangga tempat tidurnya, satu orang pelayan segera meletakan nampan makanan yang berisikan sup dan hidangan lainya yang khusus disediakan untuk Sakura diatas tubuhnya yang terbungkus selimut tebal.

tangan Sasuke bergerak mengambil sendok sup yang berada disalah satu sisi mangkuk, menyendokan isinya dan mengarahkanya ke-mulut Sakura, berniat menyuapi gadis itu, Sakura membuka mulutnya dan dengan susah payah menelan kembali makananya dengan wajah memerah. Tenggorokanya terasa sedikit sakit.

"Aku sudah terlalu lama berada disini. Apa tidak masalah, kurasa aku hanya bisa merepotkan saja." Sakura kembali melayangkan argument yang telah lama dipendamnya, keinginan untuk pergi.

Sorot mata Sasuke melembut, namun kedua sisi rahangnya mengeras.

"jadi kau ingin pergi?" tukas Sasuke tajam.

"A..aku…"

"Kau tidak suka ada di sini?" Pertanyaan Sasuke membuat Sakura merasa bingung harus menjawab apa, tentu saja dia senang berada disini, berada sangat dekat dengan pemuda yang dicintainya, namun walau bagaimanapun dia harus kembali ke panti.

Sasuke kembali melanjutkan aktifitasnya menyuapi Sakura, setelahnya keadaan justru semakin canggung diantara mereka.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung." ucap Sakura penuh penyesalan.

Dia tidak mengerti, ada banyak gadis yang ingin bisa sedekat ini dengan Sasuke dan rela mati karenanya, namun gadis yang sedang ada dihadapanya ini justru malah berkeras ingin pergi. Apa yang salah, bukan-ka gadis itu mecintainya, ataukah Sasuke yang salah dalam menyimpulkan perasaan sakura tehadapnya selama ini.

-SAKURA-

Sakura membuka matanya perlahan, berusaha membiasakan diri dengan keadaan disekitar yang terlihat redup karena minimnya penerangan, mengingat sekarang sudah jam tiga pagi.

Bisa dia rasakan berat tubuh Sasuke yang menindihnya, lengan pemuda itu memeluk tubuh mungilnya dengan sangat erat seakan takut Sakura akan lepas. Diperhatikanya sejenak wajah tampan Sasuke yang telihat sangat polos kalau sedang tertidur, berbeda sekali dengan roman wajah Sasuke saat pemuda itu sehari-harinya yang terkesan angkuh dan dingin.

Saat Sakura berusaha menggeser lengan kekar Sasuke yang menindih tubuhnya dengan sepelan mungkin agar sipemilik tangan tidak terusik, saat itu pula-lah Sakura tersentak kaget saat mendapati sepasang onyx tajam sedang menatapnya penuh selidik.

"Mau kemana kau?" tanya Sasuke tajam.

"Ke..ke..toilet." Sakura mengutuk dirinya yang selalu mendadak gagap kalau berhadapan dengan Sasuke.

"Bohong..!" tuduh pemuda itu.

"Aku harus pulang." ucap Sakura pada akhirnya.

Awalnya Sakura memang terbangun secara tidak sengaja, namun kemudian sebuah ide tiba-tiba melintas dikepalanya. Bahwa inilah satu-satunya kesempatan untuk pergi, walaupun dia merasa senang disini, namun bukan berarti Sakura tidak mengerti kalau Sasuke telah memperlakukanya terlalu berlebihan hingga ia merasa seperti seorang tawanan.

"Kalau yang kau maksud dengan pulang adalah kembali ketempat itu, kau hanya membuang tenagamu. Mereka tidak akan peduli, mereka akan lebih senang kalau kau tidak ada."

Kata-kata Sasuke memang benar, dia tahu kalau orang dipanti mungkin akan lebih senang kalau dirinya pergi, tapi dia juga tidak seharusnya terus berada ditempat ini.

"Kenapa Uchiha-san? Kenapa kau membawaku kemari?" suara Sakura terdengar sangat lirih.

"Apakah perlu alasan khusus?"

"Aku hanya bertanya-tanya, kalau yang kau katakan itu benar, bahwa mereka akan lebih bahagia kalau aku tidak ada, bukankan itu juga berarti aku tidak seharusnya ada di sini."

Pertanyaan Sakura tepat mengenai titik yang paling rawan hingga sanggup membuat seorang Sasuke tidak mampu berkata-kata.

Sasuke menatap lekat-lekat sepasang mata emerald dihadapanya.

"Aku tidak ingin mendengarmu membahas tentang masalah ini lagi. Sekarang tidurlah."

Sakura mentap punggung Sasuke yang sekarang berbaring membelakangi dirinya dengan pandangan sendu, lalu mulai memejamkan kembali matanya.

to be continued.

R

E

V

I

E

W

if you don't mine.

spesial thanks

Eunike yuen. Moochi boo. Kikyo Fujikazu. Pink uchiha. Chiwe SasuSakuNaru. Kanami Gakura. Naomi azurania. Ayhank-chan UchihArlinz. uchiha ayura males login. Uchiharuno phorepeerr. hasni kazuyakamenashi stareels. Zhion. Ruru. Keylan. iraira. eet gitu. sindi 'kucing pink. Sweet kireIcha.

mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan nama.