Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.
Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^ dan yang paling penting. Tidak terima bashing. Kalau tidak suka, silakan menyingkir.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : M
Pairing : SasuSaku
Genre : Hurt/comfort & Romance
.
.
.
Manusia itu terlahir dengan penuh kenaifan, kemunafikan dan pikiran yang seperti saringan. Mengatakan kalau dia bahagia, maka aku juga akan bahagia bahkan meski dia bersama orang lain. Tapi bagiku itu hanyalah omong kosong. Mencintai, artinya dia harus menjadi milikku. cinta itu sederhana, kalau kau mencintainya. cintai dia. kalau kau membencinya. jauhi dia. kalau kau cemburu. maka katakan kalau kau cemburu. dan jika marah. maka marahlah. dan pada akhirnya, dia tetap tidak memiliki pilihan. begitulah cinta, tidak memiliki apa pun kecuali cinta itu sendiri.
Chapter 8: Selfish.
"Tolong turunkan kecepatnya, Sasuke-san." Sakura berucap lirih.
"Memangnya kenapa Sakura?"
"Kumohon." pintanya sekali lagi.
Melihat Sakura yang sepertinya ketakutan melihat cara mengemudi Sasuke yang terbilang sangat ekstrim, wajah gadis itu pucat dan dalam keadaan mencengkram sabuk pengamanya dengan sangat kencang. Sakura tidak habis pikir kenapa sepertinya anak lelaki selalu senang melarikan mobil dalam kecepatan tinggi.
"Baik-lah." Akhirnya Sakura dapat menarik nafas lega setelah benar-benar lepas dari kemungkinan mati karena terkena serangan jantung akibat menyaksikan bagaimana aksi Sasuke yang dengan lihai menyalip kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang ditengah padatnya jalanan kota pagi itu.
"Sebaiknya aku turun disini saja."
Kata-kata Sakura sukses membuat Sasuke yang sedang berkonsentrasi penuh pada jalanan yang ada dihadapanya menoleh kearah gadis itu dengan tatapan heran.
"kenapa?"
"Kurasa, sebaiknya mereka tidak melihatku pergi bersamamu." Jelas Sakura takut-takut.
Tubuh gadis itu terdorong dengan sedikit keras saat Sasuke menghentikan mobil ferari berwarna abu-abu metalik kesayangannya dengan sangat tiba-tiba.
"Apa maksudmu. Kau malu kalau mereka tau kau berangkat kesekolah bersamaku!" desis Sasuke marah.
"Bu…bu..kan… tentu saja bukan. Aku hanya…..!" Sakura tidak sanggup meneruskan kata-katanya, takut kalau Sasuke bear-benar marah.
Sasuke tahu kalau Sakura tidak bermaksud seperti yang ia tuduhkan, dia sangat mengerti kalau apa yang Sakura rasakan justru terbalik dengan yang ia inginkan, dan hal itulah yang membuat Sasuke sangat marah. Kenapa gadis itu selalu saja berusaha menjauhinya. Takut akan keberadaanya dan yang lebih penting merasa tidak pantas kalau mereka bersama.
Sasuke membuang muka. "Aku sudah mengatakan, aku tidak ingin kita membahas masalah ini lagi. Berhentilah membuatku marah."
Intonasi suara Sasuke menurun namun terdengar semakin mengancam, Sasuke sedikit merasa bersalah saat melihat Sakura mengkeret ketakutan karena dirinya, namun segera dienyahkanya pikiran itu, sesekali dia harus bertindak tegas pada gadis itu, agar dia mengerti.
Kedatangan Sasuke selalu dibarengi dengan kedatangan kelima temannya dan tentu saja pemandangan yang terlihat selalu sama dengan yang Sakura saksikan setiap harinya, yakni teriakan histeris para sisiwa KHS, hanya saja sekarang Sakura menyaksikan sendiri bagaimana hysteria dan antusiesme penggemar Sasuke dan teman-temanya dari sudut pandang yang berbeda.
Naruto lagi-lagi tentu saja bersama calon istrinya, merangkul pinggang ramping gadis itu dengan kemesraan yang tidak dibuat-buat. Sai membukan pintu mobil dan membantu kekasihnya, Ino turun dari dalam mobil mahal miliknya. Shikamaru masih saja menguap dan membuat wajah Temari merengut kesal. Gaara bergandengan tangan dengan Matsuri, lebih tepatnya digandeng paksa. Sedang kan Neji sibuk menarik, a.k.a menyeret paksa Tenten dari dalam mobil.
"Mau sampai kapan kau di dalam sana. Ayo turun!" perintah Neji kasar.
"Tidak mau." Tenten membuang mukanya kesamping, tidak perduli.
"Ayo cepat." akhirnya dengan sisa kesabaran Neji menarik Tenten keluar dari dalam mobil.
Semua orang cengok melihat pasangan Neji-Tenten yang selalu saja bertengkar di mana pun bertemu muka, dan sialnya mereka sekelas pula. Belum lagi Neji yang dengan sangat tegas memaksa Tenten untuk pindah tempat duduk disebelahnya hingga membuat gadis berambut cokleat panjang yang selalu dicepol dua itu mem-protes keras keputusan sepihak itu.
Dan yang membuat hysteria semakin menjadi-jadi adalah kenyataan bahwa sang pangeran Uchiha sudah menggandeng seorang gadis sebagai kekasihnya yang ter-anyar. Lebih mengejutkan lagi, ternyata Sakura-lah yang menjadi calon pendamping sang penguasa.
"Eh… siapa gadis itu? Cantik sekali. Aku tidak pernah melihatnya!" salah seorang sisiwi berbisik ditelinga temanya.
"Iya. Cantik sekali." Komentar itu justru membuat wajah Sakura sontak memerah.
Sedangkan Sasuke tenang-tenang saja menghadapi situasi seperti ini karena memang sudah sangat terbiasa, namun kalau ada pro maka pasti ada kontra. Tidak sedikit yang memuji kecantikan Sakura, tapi juga banyak yang mencibir meremehkan.
"Bukan-kah dia Sakura yang itu. Bagaimana mungkin dia bisa bersama dengan Sasuke-kun. Aneh sekali."
"lihat saja penampilannya. Dia pasti sengaja melakukan itu agar Sasuke-kun tertarik padanya. Dasar wanita perebut pacar orang."
"Iya. Padahal baru kemaren Sasuke-kun putus dari Karin-san dan sekarang sudah bersama gadis miskin itu."
Sejak awal Sakura sangat yakin dan tahu kalau hal inilah yang akan diterimanya. Walaupun hinaan dan cacian sudah akrab di telinga Sakura, numan tetap saja setiap kali mendengarnya Sakura merasa sakit. Genggaman tangan Sakura yang melonggar membuat Sasuke semakin mengetatkan genggaman tanganya pada tangan Sakura yang terasa dingin dan berkeringat.
"Kau tidak perlu menghiraukan kata-kata mereka." Ucap Sasuke datar.
"Tapi apa yang mereka katakan itu ada benarnya Uchiha-san." Sakura menyandarkan tubuhnya di kawat penyangga, saat ini mereka sedang berada di atap pada jam istirahat.
Sasuke duduk di depan Sakura, ditatapnya intens sepasang mata emelald yang selalu bersinar redup. Tangannya terangkat untuk membelai sisi wajah Sakura yang memerah karena dinginnya angin yang berhebus.
"Jangan dengarkan apa-pun yang mereka katakan. Cukup lihat aku saja, tidak perlu dengarkan yang lain."
Sakura hanya diam, bingung ingin menjawab apa.
Disandarakanya kepala Sakura ke dadanya yang bidang, membiarkan Sakura menyamankan dirinya didalam pelukan Sasuke, Sakura melingkarkan lengannya di pinggang pemuda yang telah lama membuat hatinya terjerat. Sasuke meletakkan dagunya di puncak kepala Sakura, sesekali mengecupnya atuapun membelai rambutnya dengan lembut.
-SAKURA-
"Sasuke-kun duluan saja. Aku harus mengembalikan buku ini ke perpustakaan lebih dahulu."
Sasuke minta Sakura untuk berhenti memanggilnya dengan sufick-san yang menurutnya sangat mengganggu ditelinga, dan Sakura dengan senang hati memenuhi kemauan pemuda tampan itu.
"Perlu aku temani." Sasuke masih tidak rela melepaskan Sakura sendirian walau-pun hanya mengantarkan buku.
"Ah… tidak perlu. Mereka pasti sudah menunggumu, aku tidak apa-apa. Sungguh!" Sakura berusaha meyakinkan Sasuke.
"Hn."
Sakura berjalan dengan langkah ringan menuju ke perpustakaan sambil mendekap buku setebal dua centi itu di dadanya, sampai saat melewati koridor sebelah selatan, kakinya tersandung kaki seseorang yang dilintangkan ditengah jalan hingga keseimbangnya goyah dan akhirnya terjatuh.
"Hei wanita jalang. Kau yang telah merebut Sasuke-kun dari tangan ku, dan aku akan membuatmu menyesal." Ternyata Karin sudah berdiri di depan Sakura bersama dengan ke-dua orang temanya.
Sakura memejamkan matanya saat tangan Karin melayang untuk menampar bagian wajahnya. namun sebuah teriakan membuat Karin dengan sangat terpaksa menghentikan penganiayaanya.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?"
"Bukan urusanmu." Jawab Karin ketus.
"Kau tentu tidak ingin aku terpaksa melaporkanmu pada Uchiha-san 'kan?" ancamnya.
"Ceh." Melihat pemuda itu serius dengan kata-katanya yang akan mengadukan Karin kepada Sasuke membuatnya seketika kehilangan nafsunya. Dia tidak ingin menerima amukan Sasuke.
Setelah Karin pergi, pemuda itu segera membantu Sakura berdiri dan membereskan bukunya yang terjatuh dilantai.
"Terima kasih Nozomi-kun. Kau sudah membantuku." ucap Sakura sungguh-sungguh.
"kau mau kemana Sakura?" tanya nozomi sambil menyerahkan kembali buku yang telah dipungutnya dari lantai kepada Sakura.
"Aku ingin ke-perpustakaan."
"Benarkah, kalau begitu kita sama-sama saja. Kebetulan aku juga ingin kesana"
"Boleh."
Mereka berjalan menuju ke arah perpustakaan yang terletak di lantai dasar sambil mengobrol ringan. Nozomi adalah teman pertama Sakura, lebih tepatnya orang yang pertama kali mau mengajak Sakura berbicara, mereka akrab karena sering bertemu diperpustakaan. Nozomi tidak menghiraukan kata-kata teman sekelasnya untuk menjauhi Sakura dan justru balik membela ataupun membantu Sakura saat sedang kesulitan, tapi tentu saja ia tidak bisa selalu ada disamping gadis itu.
Sakura tersentak kaget saat ternyata Sasuke berdiri di depan pintu perpustakaan sambil menatap tajam ke arahnya dan juga Nozomi. Pemuda itu mundur beberapa langkah kebelakang saat merasakan aura pembunuh yang sangat kuat memancar dari dalam diri Sasuke.
"Sasuke-san." desis nozomi pelan.
Sasuke mengacuhkanya. "Dari mana saja kau?" tanya Sasuke tajam, tanpa mengalihkan matanya dari Sakura.
"Mengembalikan buku." jawab Sakura takut-takut.
Tatapan menusuk Sasuke kali ini diarahkannya pada Nozomi yang berdiri mematung diantara Sakura dan dirinya.
"Kalau lebih dari ini. Kau akan tau sendiri akibatnya." aliran darah diwajah nozomi serasa terhenti saat itu juga, pemuda itu seketika membeku mendengar ancaman bernada serius yang Sasuke tujukan padanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke segera menyeret Sakura pergi dengan dada yang dipenuhi oleh rasa marah dan cemburu. Bisa-bisanya Sakura bersama dengan pemuda lain sementara gadis itu terus berusaha untuk pergi darinya.
Sasuke tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya di ujung tangga yang mengarah ke atap sekolah. Pemuda itu membalikkan tubuhnya yang menghadap Sakura yang masih berada dalam cekalannya.
"Itu akan menjadi yang terakhir kalinya kau bertemu dengan dia. Kau mengerti."
Sakura hanya diam.
"Kau dengar aku." Suara Sasuke langsung naik dua oktaf.
Sakura mengangguk pasrah sebagai reaksi awal dari keterkejutanya, pasalnya dia tidak pernah menyaksikan Sasuke yang berlebihan seperti itu saat mendapati dirinya dengan seorang teman pria sedang mengobrol, dia merasa seperti kekasih yang kepergok selingkuh dengan lelaki lain.
"Bagus."
Lagi-lagi Sasuke harus dibuat kesal saat mendapati teman-teman satu gengnya di EVIL ternyata sudah berada di tempat di mana seharusnya Sasuke dapat menghabiskan waktu hanya berdua dengan Sakura, dan tentu saja ke-lima teman terbaiknya itu tidak akan melewatkan waktu tanpa idaman hati mereka, bahkan Neji yang masih berstatuskan jomblo-pun membawa pasangannya, tentu saja, tidak lain dan tidak bukan adalah musuh bebuyutanya sendiri. Rupanya pemuda bermabut coklat panjang itu berhasil memaksa Tenten hadir diantara mereka.
Lihat saja Temari yang memukul kepala shikamaru dengan sepatu berhak tinggi karena berhasil tidur diatas pangkuanya dalam hitungan detik, padahal gadis cantik berambut pirang itu sudah menyiapkan bekal makan siang untuk kekasihnya. Bagaimana Temari tidak berang, saat berinisiatif menyuapi shikamaru, pemuda malas itu malah tertidur. Alhasil, kepala shikamaru sekarang benjol.
"Aduh, sakit." Ringis shikamaru sambil memegangi kepanya yang masih terasa berasap akibat pukulan maut kekasihnya.
"Salahmu sendiri." Dengus Temari kesal.
"Iya maaf. Dasar merepotkan." Lagi-lagi mengeluh.
Selain itu masih ada Gaara dan Matsuri yang sibuk main suap-suapan, dan yang membuat aneh adalah mereka masih dalam taraf 'yang satu sibuk merayu sedang yang lain tetap keukeh berusaha mempertahankan kebungkamannya'
"Ayolah, Gaara-kun! Buka mulutnya. Sedikit saja." Matsuri masih bersikeras ingin menyuapkan bekal makanan yang sengaja dan khusus hanya dibuatkanya untuk Gaara.
"Aku bisa makan sendiri." Tegas Gaara.
"Tapi kan…. Aku hanya ingin menyuapimu. Seperti Naruto dan Hinata." Matsuri sengaja memasanga wajah se-inocent mungkin.
Gaara melirik kearah pasangan Namikaze-Hyuga yang sekarang sedang bercanda ria sambil Hinata tidak henti-hentinya menyuapi Naruto dengan sabar, sementara sahabat kuningnya itu terus saja menatap wajah Hinata yang cantik dengan wajah yang dipenuhi oleh cengiran. Bukan hanya Gaara yang menganggap Naruto konyol tapi juga Neji yang sesekali melirik penuh dendam kesumat pada calon adik iparnya itu, membuat cengiran diwajah Naruto semakin lebar, karena berhasil memancing pergerakan emosi Neji.
"Jangan samakan aku dengan sibodoh itu."
Telinga Naruto seketika menjadi super sensitive saat mendengar namanya disebut-sebut, pemuda penerus tunggal perusahaan Namikaze Company itu tidak terima dikatakan bodoh. Walau pun pada kenyataanya dia memang tidak sejenius para sahabatnya.
"Siapa yang bodoh. Enak saja kau mengataiku." teriak Naruto penuh dengan aura permusuhan.
Gaara mengacuhkan Naruto, membuat pemuda pirang jabrik itu semakin berang.
"Sudah lan Naruto-kun. Tidak baik bertengkar saat makan." tegur Hinata lembut.
"He he he. Maafkan aku Hinata-chan." Benar-benar tipe suami yang sangat patuh dan penurut.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sasuke tajam.
"Memangnya kenapa Teme? Ini kan tempat umum." jawab Naruto diplomatis.
"Ku tanya. Untuk apa kalian disini?" tegas Sasuke sekali lagi.
"Kami hanya ingin menikmati makan siang denganmu dan juga kekasih barumu." ucap Naruto dengan riang. "Benarkan Sakura-chan?"
-SAKURA-
"Pelan-pelan saja Naruto-kun." Tegur Hinata pada kekasihnya yang sekarang sedang berkonsentrasi penuh pada jalanan yang ada dihadapanya.
"Iya. Hinata-chan."
Naruto memusatkan penuh perhatianya pada jalanan yang sekarang sedang diguyuh hujan lebat, belum lagi minimnya penerangan membuat Naruto harus exstra hati-hati agar tidak keluar jalur. Dia sedikit menyesali keputusannya yang mengajak Hinata kembali saat cuaca sedang buruk seperti ini, pasalnya saat berangkat tadi cuaca terlihat baik-baik saja, bahkan cenderung cerah.
Mereka berada sekitar satu setengah jam perjalanan menuju kota, kalau dalam keadaan normal, pemuda yang bersama dengan Sasuke dan para sahabatnya memang yang sangat hobi ngebut, terbiasa melajukan kendaraan mereka diatas kecepatan rata-rata. Tapi dalam keadaan badai seperti ini, jangankan untuk melaju, bisa sampai dengan selamat saja sudah sangat untung, disaat seperti inlah kecekatan dan kehandalanya memainkan setir dapat diperghitungkan, agar tidak melenceng dari jalur.
Cuaca semakin buruk saja, Hinata terlihat gelisah ditempat duduknya. Daerah pinggiran kota tempat Naruto diminta untuk melakukan pemotretan disalah satu majalah bisnis ternama, yang menjadi alasan kenapa saat ini kedua pasangan kekasih itu terjebak didaerah jauh dari jangkauan penduduk. ketampanan pewaris nama Namikaze itu memang tidak bisa diremehkan, wajahnya sangatlah sering menghiasi cover utama majalah bisnis yang tidak tanggung-tanggung mempunyaI nama dikancah internasional.
"Naruto-kun awas…!" Hinata berteriak tertahan.
Naruto berusaha mempertahankan pegangan nya pada setir saat tiba-tiba saja ada pohon tumbang ditengah jalan aspal sempit yang mereka lalui hingga membuat Naruto terpaksa membanting setir dengan tiba-tiba kekanan untuk menghindari tabrakan, tapi sialnya sebatang pohon besar tepat menghadang laju mobil yang masih tidak stabil.
Hinata dapat mencium bau darah yang menguar diudara, ada cairan merah pekat yang mengalir sari sela-sela poni hitamnya, saat membuka mata yang terasa sangat berat akibat rasa perih dikeningnya, gadis itu terkejut mendapatai kondisi kekasihnya lebih parah daripada dirinya. Naruto tidaK sadarkan diri dengan keadaan kepala berlumuran darah dan wajahnya tergeletak diantara setir mobil. Seketika rasa panic dan khatir mendera perasaanya, belum lagi keadaan mereka yang jauh dari tempat tinggal penduduk dan terjebak ditengan badai ditempat terpencil.
"Naruto-kun bangun." Hinata mencoba menggoncangkan tubuh pemuda itu, tapi tidak ada reaksi. Setetes air bening membawahi pipinya.
To be continued.
R
E
V
I
E
W
if u don't mind?
Special thanks
hasni kazuyakamenashi stareels : ini udah up-date kok^^. Neji-Ten bentar lagi bakal nongol. Dan masalah lemon, agak susah she. Tapi kalo yang soft kayanya masih bisa diusahakan.
kanami gakura : thanks banget karena selama ini kamu udah mau bantu ngeluangin waktu memerikas semua typo yang aku sendiri enggk sadar. *peluk kanami.
Chiwe SasuSakuNaru, Tabita pinkyBunny & oh god aku lupa password
Ira-ira : kapan Sasuke menyatakan cinta? Hmmm..kapan yah? Author juga enggk tau. *dibuldoser. Sabar, tunggu saat yang tepat.
Rievectha Herbst : ya, Allah rie, namamu susah amat yah? Satu kata, ane kangen ma ente juga laura. *nangis kejer. Kamu satu dari yang juga bersedia mengkoreksi kesalahan yang dibuat author. Arigato teman.
Kuchiki lover : enggak apa, jangan nangis lagi yah.
Eunike yuen : pasti akan kulanjutkan. Yosh ganbatte…
Kamikaze Ayy a.k.a Ayhank-chan UchihArlinz : dongsae-ku yang satu ini emang enggak pernah ngelewatin buat kasih review fic-ku. Jeongma gumawo ayank.
Naomi Azurania. Keylan & Kikyo Fuzikasu.
Sindi 'KucingPink' : thank karena sudah nunggu fic ini setelah sekian lama baru bisa up-date. Dan kenapa sasuke pacaran dengan Karin, jawabannya gampang. Karena sasuke itu Bad boy, tapi tenang, dia cuma cinta sama sakura kok. Hehehe
Akhir kata. Salam JidatAyam.
