Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.

Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : M

Pairing : SasuSaku slight NejiTen

Genre : Hurt/comfort & Romance

.

.

.

Chapter 12: Last memori.

"Lagi-lagi kau membawaku ketempat yang aneh." Tenten memprotes saat Neji membawanya kesebuah tempat asing diluar Kota. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan salju putih. Cuaca juga masih terlalu dingin untuk jalan-jalan.

"Kau itu berisik sekali." ucap Neji datar.

"Heh… memangnya siapa yang menyuruhmu membawaku kemari. Daripada jalan-jalan ditempat yang membeku seperti ini, lebih baik aku pulang saja." Urat-urat kemarahan mulai bermunculan di kepala Tenten.

"Kau itu. Bisa tidak, tidak berteriak sehari saja?"

"Bisa saja. Tapi aku tidak mau." Tenten mendengus sambil melakukan kebiasaan jeleknya, yakni membuang muka.

Neji tidak berkomentar lagi, pemuda itu turun dari dalam mobil.

"Ayo turun." Perintah Neji tegas.

"Untuk apa? Aku tidak mau."

Neji membuka paksa pintu penumpang dan menarik Tenten keluar dari dalam mobil dengan sedikit kasar. Tenten adalah tipikal gadis yang tidak bisa dirayu dengan kata-kata, apalagi diancam, menghadapi Tenten butuh trick dan sedikit kekerasan.

"Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri. Tidak usah pegang-pegang." Tenten menepis kasar tangan Neji yang memegang tangannya.

Aneh. Neji tidak membalas perlakuan kasar Tenten seperti biasanya. Pemuda itu hanya diam sambil duduk diatas penutup mesin mobil.

"Aku sudah bosan seperti ini. Tapi kau tidak pernah mengerti." Tiba-tiba saja Neji berucap, nada suaranya terdengar getir.

"Kau itu bicara apa?" Tenten benar-benar tidak mengerti sekarang.

Bertahun-tahun mengenal Neji, tidak pernah membuat Tenten bisa mengerti sikap Neji yang cenderung selalu menyebalkan saat bersamanya. Berbeda dengan pribadinya yang selalu nampak datar dan kalem, Neji justru sangat jahil tapi tetap penuh dengan misteri. Dulu, sewaktu masih kecil, Neji hampir selalu berada di sampingnya, menjaganya setiap saat. Tenten kecil selalu melihat Neji sebagi pangeran berkuda putih yang diciptakan khusus hanya untuknya. Namun seiring dengan waktu yang terus berjalan, segalanya mulai berubah, mereka menjadi semakin jauh dan entah sejak kapan mereka mulai bertengkar saat saling bertemu pandang.

Neji bangkit dari duduknya dan mengulurukan tangan kearah Tenten. "Ayo ikut aku."

Awalnya Tenten sempat ragu-ragu untuk menyambut uluran tangan Neji, tapi kemudian Tenten menggenggam tangan besar Neji dan membiarkan pemuda itu menggiringnya menuju kesuatu tempat.

Sekarang ini didepan mereka berdiri sebuah pohon besar yang hanya satu-satunya ditempat ini. Sepintas pohon besar itu seperti pohon mati, sama sekali tidak ada daun yang tumbuh dirantingnya. Tentu saja, karena sekarang ini sedang musim dingin. Tenten memperhatikan dengan seksama, entah kenapa sepertinya sangat familiar.

"Apa aku pernah kesini sebelumnya?" tenten bertanya pada Neji yang seakrang sedang mendongakan kepalanya, menatap langit yang mulai menunjukan semburat merah-jingga melalui sela-sela ranting pohon.

Neji menatap Tenten persis dimanik matanya. "Kau tidak ingat?" Neji malah balik bertanya.

Tenten mengalihkan matanya dari mata Neji, menatap kembali batang pohon yang berwarna coklat kayu.

"Entahlah,"

Neji berjongkok, mengais-ngais tanah dengan menggunakan ranting pohon yang patah yang entah dia dapat dari mana.

"Apa yang kau lakukan?"

Pekerjaan tangan Neji segera saja menciptakan lubang menganga ditanah yang tertutupi salju. Tenten bisa melihat kotak kecil berwarna perak yang tekubur di dalam tanah. Setelah membersihkan kotak perak itu dari jejak tanah yang menempel, Neji memberikan kotak itu pada Tenten.

Neji mendekati Tenten dengan tatapan aneh dikedua bola matanya, membuat Tenten mundur selangkah kebelakang hingga dia bisa merasakan batang pohon menghimpit punggungnya.

"Mau apa kau?"

Neji tidak menjawab tetapi justru malah mengulurkan tangannya kedepan, mencengkram kedua lengan Tenten yang sekarang memegang kotak berukiran berwarna perak itu persis didepan dadanya. Kepanikan menyergapnya, belum lagi kenyataan mereka hanya berdua ditempat sepi. Apa yang akan dilakukan Neji? Kalau mengingat perbandingan kekuatan mereka yang tidak seimbang. Yah, meskipun memiliki kemampuan martial art, bukan berarti Tenten mempunyai cukup nyali untuk menciat-ciat pemuda dihadapannya ini, bisa-bisa dirinya yang akan berakhir tragis.

Dengan hanya menggunakan tangan kirinya Neji menahan kedua lengan Tenten dengan diatas kepalanya. Wajah Tenten seketika memucat saat merasakan tangan Neji hampir nyaris menyentuh dadanya.

Pemuda itu sekarang sedang melucuti syal putih yang dipakainya hingga membuat lehernya yang telanjang terekspos sempurna, sensasi dingin menyergap kulitnya. Teten berusaha sekuat tenaga untuk tidak menejerit, lagipula kalaupun dia melakukan itu, Tenten hopeless kalau ada seseorang yang mendengarnya.

"Apa yang mau kau lakukan?" pekik Tenten frustasi.

Neji menarik rantai kalung yang menggantung dileher Tenten hingga bandul kalung yang serupa kunci perak kecil sekarang berada persis di depan matanya. Neji melepaskan cengkramannya.

Diambilnya kotak perak yang berada digenggaman tangan Tenten dan kemudian mencocokan kunci dengan lubang kunci yang ada dikotak perak itu hingga terdengar suara klik.

"Kau ingat ini?" Neji menunujukan botol kecil yang terbuat dari kaca bening kepada Tenten.

Gadis dengan rambut dicepol dua itu refleks merebut botol itu dari tangan Neji. Sejurus kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman geli yang menawan. Gadis itu mengangguk.

"Aku menunggumu disini waktu itu. Tapi kau tidak datang" Neji berucap lirih.

Sepintas memori tentang dirinya dan Neji ditempat ini melintas dikepalanya, tentu saja dia tidak mengenali tempat ini, karena setiap kali mereka dibawa kemari saat itu pasti sedang musim gugur. Mereka berdua sering bermain disini, dulu, saat keduanya masih sama-sama bocah. Neji pernah berjanji untuk menjadi pangerannya suatu saat nanti saat mereka telah dewasa, namun janji itu menguap begitu saja, tentu saja dia masih ingat dengan setiap kata yang diucapkan Neji kecil saat itu. Tapi Tenten bahkan tidak pernah berpikir kalau Neji masih mengingat semua itu, lebih daripada dirinya.

"Maafkan aku." Suara Tenten bergetar saat mengucapkannya.

Waktu itu mereka pernah berjanji bahwa pada malam perayaan ulang tahun Tenten yang ke-15, mereka akan lemari lagi dan membuka kapsul waktu yang pernah mereka tanam disini saat mereka berusia delapan tahun. Tapi meskipun Neji menunggu hingga matahari terbit disebelah timur, Tenten tidak pernah datang, dia sangat kecewa saat itu karena membiarkan janji yang terikrar hampir tujuh tahun yang lalu melambung hingga membuatnya hancur berkeping-keping.

"Bukan 'kah kau pergi berkencan dengan gadis itu?" tuduh Tenten.

"Gadis yang mana?"

"Sasame Fuma." Wajah Tenten berubah menjadi masam saat menyebutkan nama gadis yang pernah menjadi kekasih Neji lebih dari setahun yang lalu.

Neji terkekeh geli. "Aku tidak pernah berkencan dengannya. Memangnya kenapa? Kau cemburu?"

Tepat. Wajah Tenten memerah saat mendengar kata-kata Neji.

"Tidak. Mana mungkin aku cemburu pada pemuda jadi-jadian sepertimu." Tenten memalingkan wajahnya kesamping, menghindari Neji menangkap basah rona wajahnya yang berubah warna.

"Bagaimana kalau kita buka saja sekarang."

Wajah Tenten semakin merah saat membaca isi kertas kecil yang ditulisnya dengan tulisan cakar ayam yang tentu saja warnanya telah berubah lusuh kerena terkubur selama bertahun-tahun.

'Bagaimana bisa aku menulis janji sepeti ini?' pikir Tenten panik 'Neji tidak boleh melihatnya.'

Tenten buru-buru meremas kertasnnya dan menggenggam erat kertas itu di dalam genggaman tangannya begitu merasakan lengan kekar yang memeluk pinggangnya dengan mesra.

"Bagaimana? Kapan kau bersedia melakukannya?" tanya Neji sambil menciumi leher Tenten yang tidak tertutupi syal yang waktu itu dibuangnya.

"Apa? Melakukan apa?" Tenten masih berusaha berkelit.

"Menjadi pendampingku."

"Eh," Tenten reflek melepaskan pelukan Neji ditubuhnya dan membalikan tubuhnya menghadap Neji yang sekarang sedang memandangnya dengan seringai nakal di bibirnya. "Kenapa kau bisa tahu?"

"Well, karena kau tidak datang. Jadi aku buka saja. Aku tidak sangka kau menulis harapan seperti itu."

Terlambat, Dia tidak bisa menghindar lagi. Neji sudah berbuat curang dengan membuka paksa kotak kapsul waktu mereka tanpa sepengetahuannya, padahal kunci kotak yang dibuat khusus itu hanya ada satu. Dan kunci itu sudah ada bersama Tenten sebagi bandul kalung semenjak lama, walaupun dulu dia sempat bertanya pada dirinya sendiri apa fungsi kunci itu, dan sekarang semua sudah terjawab, bagaimana bisa dia melupakan janji yang telah dia buat.

"Bagaimana kau melakukannya? Kuncinya 'kan ada padaku."

"Sebenarnya aku juga punya. Untuk jaga-jaga."

"Curang… kau benar-benar curang. Kenapa kau membaca harapanku dimasa depan tanpa sepengetahuanku." Tenten meneriaki Neji dengan perasaan yang diselimuti oleh emosi kemarahan bercampur dengan rasa malu.

"Salah sendiri. Bagaimana kau bisa melupakan janji kita semudah itu, padahal aku selalu menunggumu."

"Tunggu dulu…. Jangan bilang kalau kau yang membuat semua mantan kekasihku memutuskan hubungan denganku?"

Dalam hidupnya sebagai remaja, tentu saja Tenten pernah merasakan indahnya masa-masa berpacaran tapi entah kenapa hubunganya tidak pernah berjalan lancar, selalu saja ada kendala dan berujung dengan perpisahan, dan yang paling aneh, setelah putus jejak mereka seolah hilang seperti ditelan bumi. Pernah Tenten mendapati mantan kekasihnya disalah satu pusat perbelanjaaan, dan saat melihat dirinya, pemuda itu malah lari terbirit-birit seolah melihat hantu.

"Itu semua bukan murni kesalahanku."

"Berarti kau mengaku salah 'kan? Kau mengaku bahwa kau lah pelaku hancurnya hubungan percintaanku. Tega-teganya kau mencoba membuatku menjadi perawan tua." Tenten berterik-teriak kalap didepan wajah Neji.

"Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang seharusnya menjadi milikku." Neji berucap tenang sambil membawa Tenten kedalam rengkuhan kedua lengannya yang kokoh.

"Aku bukan milikmu." Raut wajah Tenten masih dipenuhi oleh guratan kekesalan, walaupun sekarang wajahnya menjadi merah kembali. Dia merasa hangat berada didalam dekapan lengan Neji yang memeluknya.

"Tentu saja kau milikku. Karena kau calon istriku!" ucap Neji penuh penekanan sambil mengetatkan pelukannya.

Wajah Tenten sekarang sudah seperti ketumpahan cat berwarna merah pekat, gadis itu menyembunyikan wajahnya didada Neji sambil mendengarkan detak jantung pemuda yang memeluknya. "Bagaimana kau bisa berkata bahwa aku adalah calon istrimu, sedangkan kau saja tidak pernah melamarku."

"Kau lupa bahwa aku pernah melamarmu disini tujuh tahun yang lalu."

Tenten menggeleng tanpa mengangkat wajahnya. "Kau pasti berbohong."

Neji memegang lembut kedua bahu Tenten dan membuat wajah mereka bertatapan. Tenten menundukan wajahnya yang memerah sementara Neji masih tetap setia dengan ekspresi wajahnya yang datar dan tenang.

Neji membuka pengait rantai kalung yang membelit lehernya dan kemudian menggenggam sebuah cincin berlian yang dijadikannya bandul kalung yang selama ini tersembunyi dibalik kemejanya.

Pemuda itu berlut dihadapnnya. "Tenten, mau kah kau menikah denganku." Neji mengucapkannya dengan penuh keyakinan.

Tenten menggigit bibir bawahnya dengan gemas, lalu kemudian memberikan senyuman malu-malu disertai dengan anggukan yakin. Neji menyunggingkan senyuman bahagia sambil memasangkan cincin berlian itu kejari masih Tenten lalu kemudian menggecup permukaan telapak tangan Tenten dengan lembut.

-SAKURA-

"Kyaaaaa…Sasuke-kun…. Ayo jangan sampai kalah"

"Ayo Neji senpai…"

"Ooohhhh…. Gaara-kun semakin tampan saja."

"Senpai kereeeenn… gyaa….!"

Sakura duduk sendirian dibangku istirahat pemain sambil memperhatikan Sasuke dan teman-temannya bermain basket dengan semangat, karena jumlah mereka genap, maka mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Sasuke, Naruto dan Gaara melawan Neji, Shimakamaru dan Sai. Sekarang ini mereka saling berebut mendapatkan bola untuk bisa mencetak angka tertinggi dan keluar menjadi pemenang. Walaupun cuaca masih berada dititik rendah, sama sekali tidak bisa menghalangi niat keenam pemuda itu membuat geger satu sekolah dengan mempertontonkan kebolehan mereka menggiring bola dilapangan hingga membuat para gadis histeris bahkan hingga ada yang jatuh pingsan.

Lapangan basket ini dibatasi oleh pembatas kawat, sehingga meskipun jumlah penonton yang ingin menonton pertandingan basket Sasuke dan teman-temannya dari jarak dekat dan berada di posisi Sakura sekarang ini membludak, mereka tidak bisa masuk karena ada dua orang dari klub judo yang menjaga dipintu masuk. Jadilah para wanita yang sedang histeris itu hanya bisa mencengkram erat pembatas kawat yang menjadi penghalang mereka untuk mendekat.

Tiba-tiba saja ada lengan yang merangkul bahunya hingga membuat Sakura menolehkan kepalanya kesamping. "Ino…. Kau mengagetkanku saja."

Ino datang bersama dengan Temari, Tenten, Matsuri dan tentu saja Hinata yang telah berhasil keluar dari rumah sakit setelah meyakinkan kakak kembarannya yang kelewat protective padanya bahwa kondisinya sudah membaik. Mereka berlima sekarang sedang mendudukan dirinya disamping Sakura. Sakura sama sekali tidak perlu repot-repot bertanya mengenai bagaimana kelima gadis itu bisa berada disini sementara banyak gadis yang histeris karena tidak bisa masuk.

"Kenapa kau nonton sendiri? Jahat sekali tidak ajak-ajak kami." Ino protes sambil memonyongkan bibirnya yang tersapu lipgloss berwarna pink menggoda. Membuat para pemuda tidak bisa berhenti menatapnya dengan pandangan bernafsu.

"Gomen…. Aku pikir kalian tidak akan mau menonton. Kupikir basket itu membosankan."

"Kenapa? Mereka 'kan keren." tegas Ino sambil memandang dengan mata berbinar pada kekasihnya yang sekarang sedang men-drible bola dengan lihai sebelum direbut oleh Sasuke yang dengan gesitnya membawa bola ke arah ring lawan.

"Mereka 'kan kaya. Kenapa mereka harus susah-susah memperbutkan bola yang hanya ada satu. Kenapa tidak beli saja satu lusin."

Kelima gadis itu tetawa renyah mendengarkan argument Sakura yang menurut mereka sangat polos. Sakura ikut tertawa kecil, dia hanya bermaksud untuk menggoda teman-teman barunya.

"Iya juga ya? Kenapa aku tidak pernah memikirkannya!" Tenten berkomentar sambil mengembalikan tatapannya pada Neji yang sedang berlari menuju kearah ring.

"Kenapa kau menatap Neji seperti itu."

Tenten langsung salah tingkah mendengar kata-kata Ino yang menyelidik. "Ah… bukan apa-apa!

"Kau bohong. Pasti sudah terjadi sesuatu diantara kalian. Kemarin Neji yang mengantarmu dari rumah sakit 'kan? Dan waktu aku menelponmu tadi malam, Nagane bilang kau belum pulang. Dan lagi waktu aku telpon ke ponselmu, tidak aktif." Serentetan pernyataan Ino membuat Tenten terpojok. Apa yang harus dia katakan? Lagi-lagi semburat merah menghiasi wajahnya yang putih, apalagi kalau mengingat malam panas yang telah dilaluinya bersama pemuda beriris amethyst yang sekarang telah resmi menjadi kekasihnya.

"Kalian tidak tahu ya, kemaren, Neji dan Tenten berkencan, dan mereka sudah resmi sekarang." ucap Sakura sambil menyungginggkan seulas seyuman ramah.

"Benarkah?" pekik Ino, temari dan Matsuri secara bersamaan.

Sakura menggangguk membenarkan. "Tanya saja pada Hinata. Kurasa dia tahu."

"Kenapa kau tidak memberitahu kami?" tunding Ino pada Tenten. "Kalian berdua juga." Kali ini Ino menatap dengan penuh antusias pada Hinata yang hanya memasang senyum maklum, sedangkan Sakura sudah terkekeh geli.

Ino memprotes, karena sepertinya sebentar lagi posisi Ino sebagai ratu gossip akan tergeser. Bagaimana bisa dia tidak mengertahui berita yang paling up-to-date sekarang ini. Neji yang sepertinya tidak pernah menunjukan ketertarikan pada lawan jenis, sekarang malah menyadang status sebagai kekasih dari sahabat tomboy nya.

"Sudah lah. Aku tidak mau membahasnya lagi." Wajah Tenten sekarang sudah penuh dengan semburat merah yang sangat kentara. "Dan lagipula aku 'kan sudah bilang jangan memberitahu mereka, kenapa kalian berdua jadi kerja sama seperti itu."

"Jangan menyalahkan mereka. Kau yang salah. Punya pacar tidak memberitahu teman sendiri. Kau anggapa kami ini apa." Kali ini temari yang buka suara.

"He he he….." Tenten malah nyengir. "Gomen…. Aku tidak ingin kalian tahu karena aku malu."

"Baiklah. Kau dimaafkan. Tapi ada sayaratnya." ucap Ino sambil merangkul bahu Tenten.

"Apa?"

"Kau harus mentraktir kami semua di kantin, hari ini."

"Apa…? Aku tidak mau, perutmu itu seperti karung. Makanmu 'kan banyak sekali, padahal badanmu setipis tripleks begitu. Kalau yang lain aku senang-senang saja. Tapi kalau kau aku tidak mau." tolak Tenten terang-terangan, membuat yang lain terkikik geli.

"Kau bilang aku setipis trifleks. Kau saja yang tidak tahu ini adalah tubuh sempurna yang diinginkan semua gadis. Aku ini langsing dan bukannya kurus. Bilang saja kau iri padaku." ucap Ino sambil memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna tanpa cela.

Mereka semua tertawa.

"Hei… apa yang kalian lakukan?" tidak dinyana ternyata Naruto dan yang sudah ada di samping mereka sambil menunjukan cengiran khasnya.

"Rahasia." ucap Ino sambil menjulurkan lidahnya kearah Naruto.

Hinata berdiri dan memberikan botol minuman yang ada digenggaman tangannya pada Naruto dengan wajah yang bersemu merah. "Ini Naruto-kun."

"Terima kasih Hinata-chan." Naruto tersenyum sambil memamerkan deretan gigi-gigi putihnya yang terawat.

Hinata semakin menundukan wajahnya yang sekarang sudah semakin merah, membuat orang-orang mendesah iri atas kemesraan mereka.

"Ooohhhh….. manisnya. " desah Ino sambil memperhatikan pasangan Namikaze-Hyuga dengan mata berbinar.

Para penonton seperti tersihir menyaksikan adegan opera sabun yang diperankan Hinata dan Naruto ditengah lapangan dengan wajah merona, bahkan sampai ada yang pakai acara nosebleed segala.

Sekali ini Neji membiarkan saja adiknya dengan sikuning jabrik itu menunjukan kemesraan didepan umum, itu memang sudah sangat jamak terjadi semenjak kedua orang yang dilanda badai cinta itu terikat hubungan. Dia melirik ke arah Tenten yang sedang tersenyum memperhatikan kedua sahabatnya.

Sasuke duduk di samping Sakura dan merangkul bahu gadis itu sambil menyeka keringat yang mengalir dipelipisnya dengan menggunakan handuk kecil yang disampirkan dibahu.

"Kau mau minum?" Sakura menyerahkan sebotol air mineral yang masih baru itu ketangan Sasuke.

Pemuda itu mengambil beotol air mineral dari tangan Sakura lalu kemudian membuka penutupnya dengan sekali gerakan. Sakura mengernyit heran saat Sasuke justru malah mengembalikan botol air minum itu kepadanya.
"Minum!"

Walaupun tidak mengerti, akhirnya Sakura menurut saja dan meminum air mineral itu sedikit. Gadis berambut soft pink itu memperhatikan dengan seksama saat Sasuke meletakan permukaan botol di bibirnya persis ditempat Sakura meminumnya dan mulai menegak habis isinya hingga benar-benar tandas.

Indirect kiss. Ciuman secara tidak langsung rupanya, karena Sasuke memiliki kebiasaan aneh, tidak mau meminum air dalam kemasan dari tempatnya langsung. Menurutnya itu tidak steril. Tapi Sasuke melakukannya hanya karena Sakura meminum air itu terlebih dahulu.

"Aku punya kejutan untukmu." Sasuke berbisik tepat ditelinga Sakura hingga membuat wajah gadis itu merona merah.

"Apa?" Sakura menatap wajah Sasuke yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Meminta jawaban dari pernyataan yang menggantung.

Sasuke hanya memberikan seulas senyum menawan dan membuat para fans girl kelima pemuda itu menjadi semakin histeris dan berteriak kalap.

"Hei Neji!" panggil Naruto. "Bagaimana? Sudah beres?"

"Tentu." jawab Neji sambil menandaskan isi minumannya.

Ino menatap kelima pemuda itu dengan pandangan melongo, dan semakin melongo lagi saat Gaara yang paling sering tidak berekspersi diantara kelima pemuda itu justru malah tersenyum tipis, sangat tipis tapi sanggup membuat penggemarnya menjerit.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tenten lah yang menyuarakan keingintahuan Ino "Hei Neji, apa yang sudah beres? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?"

"Tunggu saja, kami punya kejutan untuk kalian!" jawab Naruto bersemangat, cengiran lebar menghiasi wajahnya.

"Ooh ya! Apa?" Tanya Ino antusias.

"Kalau kuberitahu sekarang namanya bukan kejutan lagi."

-SAKURA-

Sakura digiring menuju kesebuah tempat yang sebelumnya hanya pernah dia dengar saja, karena tempat itu khusus diperuntungkan bagi para anak-anak popular di sekolah. Ada sebuah gazebo mewah persis ditengah-tengah taman beserta beberapa sofa berwarna kuning gading.

Kelima gadis itu terkecuali Sakura sudah bisa menduga kejutan apa yang sedang dipersiapkan oleh keenam pemuda tampan itu apabila dibawa kemari, apa lagi dengan adanya sekelompok siswa yang bergerombong disekitar taman. Gadis beambut softpink itu masih belum menyadari keadaan sampai iris matanya melihat seorang gadis berambut coklat yang pernah dia temui saat berkerja di club malam, sedang berjongkok sambil matanya meneteskan airmata dan tubuh yang kotor.

Saat Sasuke dan yang lainnya sudah duduk ditempat yang disediakan, seseorang memberikan aba-aba dan mulai melempari gadis itu dengan menggunakan tepung, telur busuk dan yang paling menyakitkan tentu saja dengan menggunakan balon karet yang telah diisi air terlebih dahulu. Dia merasa tempat ini seperti singgasana yang disediakan untuk melihat aksi pemancungan seorang budak yang telah berani membangkang pada tuannya.

Sakura menatap wajah Sasuke yang duduk disampingnya, tidak ada ekspresi apa-pun diwajah pemuda itu, kecuali matanya yang menatap datar pada pemandangan mengenaskan yang disuguhkan di hadapannya. Dan rupanya kejutan Sasuke belum berhenti sampai disitu saja, beberapa siswa yang merupakan anggota klub judo masuk menarik paksa seorang pemuda bermabut putih yang telah dalam kondisi tidak berdaya, darah mengalir dari pelipisnya dan wajah juga tubuh yang dipenuhi lebam kebiruan.

Kedua anak klub judo itu mendorong tubuh Akira dengan kasar hingga jatuh tersungkur disamping tubuh kekasihnya yang menangis sesenggukan karena menahan sakit sekaligus meratapi nasib buruk yang menimpanya.

"Apa ini kejutan yang kalian maksud?" Ino bertanya pada Sasuke yang masih tidak mengeluarkan suara. Berbeda dengan Naruto yang sepertinya menikmati sekali pertunjukan yang ada dihadapannya.

"Kenapa?" suara Sakura nyaris sepelan bisikan.

Pemuda itu menoleh kearah gadisnya yang menatap dengan sorot mata kecewa.
"Kenapa kau melakukan semua ini pada mereka?"

"Karena mereka memang pantas menerimanya." putus Sasuke tegas.

Sasuke memalingkan wajahnya, menatap hampa pemandangan tragis yang dia ciptakan dengan scenario sempurna dan bukankah seharusnya Sakura senang karena Sasuke membalas perlakuan yang pernah mereka lakukan padanya beberapa waktu yang lalu. Kesalahan yang Sasuke lakukan sejauh ini hanya-lah selalu salah dalam menilai karekter gadis yang dia cintai, tidak pernah mengerti bahwa gadis itu lebih sering menyalahkan diri sendiri atas semua yang sudah terjadi.

"Apakah semua ini karena aku?"

Sakura akui, dia memang masih dengan sangat jelas mengingat semua perlakuan kedua orang itu padanya, bayang-bayang buruk saat Akira berusaha merenggut kehormatannya menari dalam pikirannya, tapi dia tahu bahwa semua itu sudah berlalu dan bukankah karena hal itu dia sekarang bisa bersama dengan Sasuke. Sakura sama sekali tidak marah atau pun benci, apalagi sampai berniat untuk membalas dendam. Kalau begini caranya, bukankah itu berarti mereka tidak ada bedanya dengan kedua orang itu.

"Kalau benar seperti itu, berarti aku juga bersalah. Kenapa kau tidak menghukumku juga?"

Sasuke mengacuhkan gadis itu, sama sekali tidak berniat balas menatap mata Sakura yang memandangnya pedih.

Diamnya Sasuke membuat Sakura menyadari satu hal yang sempat terlewatkan dipikirannya, bahwa Sasuke tidak melakukan semua itu demi Sakura, melainkan demi dirinya sendiri. Untuk memuaskan keegoisan Sasuke dengan menamengkan rasa sakit Sakura sebagai alasan.

Gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan di-iringi tatapan heran dari teman-teman Sasuke. Untuk pertama kalinya Sakura merasa kecewa pada pemuda yang dia cintai.

.

.

.

To be continued.

Special thaks:

Mohon maaf karena tidak bisa update cepat seperti yang kalian inginkan.

Animea Lover Ya-Ha. Eet gitu. Yue-chan. SS SK. Uchiha Hime is poetry celemot. Sindy si kucing pink. Liu'z ly'y chen'z. afi. Eunike Yuen. Fifah kyew. Me. Sung rae ki. Ma samba. Hasni kazuyakamenashi strateels. Huicergo montediesberg. uchiha elfsparyo. Vanilla yummy. Kawaiikomsue. Risma-chan. Cloud54. Narumi Aida-lyprSS. Aozu misora. Harappa. Karasu uchiha. Sung Rae Ki. Eet gitu. Uchiha elfsparyo. Sasusaku. loper. Mey hanazaki. Ran murasaki NH. Lucy uchio. Mbmalesbanget. Obisinyx virderal. Pepz kunimitshu. Riestiyani aurora. Dan juga untuk semua silent reader.

Author Note: entah kenapa aku merasa bagian terakhir itu kurang memuaskan. Seperti ada sesuatu yang tidak sesuai. Kalau kalian menyadari letak kejanggalannya, kalian boleh protes dan memberitahuku apa yang menurut kalian lebih bagus.

Sekali lagi. Review if u still went this fic to keep continued.