Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.
Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : M
Pairing : SasuSaku slight NejiTen
Genre : Hurt/comfort & Romance
.
.
.
Chapter 13: Begins
"Cheers….." mereka semua serentak membenturkan permukaan gelas masing-masing sambil tertawa.
Untuk merayakan resminya hubungan Neji dan Tenten mereka semua sepakat mengadakan pesta besar-besaran di sebuah klub mewah yang khusus diperuntungkan hanya untuk kalangan atas. Mereka mengundang seratus orang yang terpilih secara acak untuk datang keacara, karena basic-nya Neji memang tidak terlalu suka acara yang terlalu ramai dan sebagian dari undangan tentu saja adalah orang-orang yang telah mereka rekomendasikan untuk datang secara resmi. Mereka masing-masing hanya boleh membawa satu orang teman, itu pun dengan syarat harus menunjukan kartu identitas beserta surat undangan.
Naruto menegak habis wine-nya dengan sekali tegukan besar. "Selamat teman, akhirnya kau terlepas dari kutukan jomblo." ucap Naruto sambil menyorongkan gelas minumnya yang telah kosong ke arah Neji.
Malam ini Tenten tampil cantik dengan gaun perak satin yang melekat di tubuhnya, sementara rambutnya yang ikal bergelombang dibiarkan tergerai lembut di punggungnya membuat seorang Neji tidak bisa berhenti berkedip saat menatapnya waktu pemuda itu datang untuk menjemputnya di rumah Ino tadi sore. Untuk yang satu ini sepertinya Tenten harus berterimakasih pada sahabat pirang nya itu karena telah berhasil meruntuhkan wajah seorang Hyuga Neji yang selalu datar tanpa emosi.
"Mereka serasi sekali." ucap Sakura yang sekarang sedang menatap Tenten dan Neji yang sedang berdansa di dance-floor dari bangku VVIP.
"Mau berdansa denganku?" ajak Sasuke sambil menatap kedua bola mata emerald Sakura dengan seringai jahil dibibirnya.
Sakura tersenyum. "Aku tidak bisa berdansa Sasuke-kun."
Sasuke tidak berkomentar dan langsung menyeret Sakura menuju lantai dansa, musik berubah menjadi sendu. Sasuke meletakkan tangan kirinya di pinggang Sakura sementara tangan kanan Sakura diletakkannya di lehernya. Kelima jari-jari mereka saling terpaut.
Dengan luwes Sasuke merangkul pinggang Sakura dengan mesra, pelan-pelan namun pasti Sasuke membimbing Sakura untuk mengikuti langkahnya. Walaupun pada awalnya kaki Sasuke sempat terinjak beberapa kali namun sekarang Sakura sepertinya sudah bisa bergerak dengan leluasa mengikuti irama musik yang membuat suasana hingar-bingar seketika diselimuti atsmosfir keromantisan, gadis itu cepat belajar rupanya. Sakura menyandarkan kepalanya di dada Sasuke sambil terus bergerak secara singkron bersama Sasuke.
-SAKURA-
Bukannya melepaskan tubuh Sakura yang menempel erat di tubuhnya, Sasuke justru malah mengetatkan pelukan nya pada tubuh polos gadisnya yang berada diatas nya. Kepala gadis itu terkulai lemas di dada bidangnya, napas keduanya masih memburu, kulit yang lengket dan kotor karena keringat sama sekali tidak menyurutkan niat keduanya untuk tetap saling membagi kehangatan. Hanya selembar selimut tebal yang melindungi tubuh telanjang keduanya dari cuaca malam yang dingin.
Wajah gadis itu memerah, sementara bibirnya sedikit terbuka, berusaha menghirup udara yang terasa kering dari paru-paru nya melalui mulut sebanyak mungkin, seakan menantang Sasuke untuk kembali melumat bibir merah menggoda gadis yang sekarang berbaring di atas tubuh telanjang nya. Sasuke kembali melumat bibir Sakura yang terlihat agak bengkak dengan beringas. Sepertinya Sakura sudah sangat kelelahan dengan aktifitas yang baru saja mereka lakukan, tetapi tetap tidak menghentikan erangan halus yang meluncur dari sela-sela bibirnya saat Sasuke kembali memasukkan lidahnya ke dalam mulut gadisnya yang lembap dan hangat.
Sakura meletakkan kedua tangannya di depan dada Sasuke dan mendorong tubuh pemuda itu sedikit menjauh dari tubuhnya hingga bibir mereka yang saling melumat terlepas.
"Sasuke-kun, aku benar-benar sudah lelah!" tampang memelas Sakura justru malah semakin membangkitkan gairah pemuda itu kembali menjamah tubuh gadisnya. Seulas senyum menggoda diberikannya pada Sakura.
Tubuh Sakura sudah benar-benar lemas sekarang, tetapi dia tahu bahwa dia tidak akan mungkin bisa menghindar lagi sekarang. Sasuke akan menemukan cara untuk memulai kembali permainan panas mereka. Karena posisi mereka yang saling menempel, Sakura bisa merasakan dengan jelas saat sesuatu yang mengganjal di bagian bawah tubuhnya kembali mengeras, menciptakan sensasi menyenangkan yang sanggup membuat bulu kuduk nya meremang.
-SAKURA-
"Kau masih bertengkar dengan Sasuke?" tanya Ino sambil memperhatikan pantulan dirinya dicermin. Tangan berkuku lentik milik Ino dengan cekatan membenahi riasan sederhana wajah nya dengan menggunakan seperangkat alat make-up.
Gadis itu menengadah menatap mata Ino sesaat melalui pantulan kaca. "Kami tidak bertengkar."
Ino memang berpikir kalau Sakura dan Sasuke bertengkar karena apa yang telah diperbuat oleh Sasuke dan teman-temannya terhadap Akira tempo hari.
"Lantas kenapa wajah Sasuke masam seperti itu?" kali ini gadis beriris aquamarine itu membalikkan tubuhnya menatap sepasang emerald yang sedang menyandar pada dinding kamar mandi.
Sakura lantas menceritakan kejadian tadi pagi saat jam pelajaran olahraga baru saja berakhir. Ino tidak tahu karena memang saat itu Ino sedang ada di ruangan kepala sekolah. Saat itu Sasuke berkeras melarang Sakura pergi ke cafetaria menemani Tenten membeli minuman dengan alasan yang tidak masuk akal. Gadis yang memiliki rambut sewarna bunga Sakura itu tentu saja tidak akan pernah berani membantah kata-kata Sasuke. Tapi lain Sakura, maka lain pula Tenten. Gadis tomboy bercepol dua itu dengan tegas berani menyuarakan kekesalannya pada Sasuke seakan dirinya telah melakukan tindakan criminal kelas dunia hanya dengan mengajak Sakura menemaninya membeli minuman, membuat mata Sasuke berkilat tajam.
"Kenapa kau harus mengajak Sakura? Kenapa bukan yang lain saja?" desis Sasuke dengan suara yang ditekan.
Neji sama sekali tidak berkomentar, apalagi berniat untuk melerai perdebatan konyol keduanya. Neji sadar, secara teknis, Sasuke memang lebih berhak atas Sakura karena gadis itu kekasihnya. Tapi tentu saja, hanya akan dia simpan argument itu untuk dirinya sendiri, dari pada berani berpendapat dan mendapatkan tuduhan memihak dari kekasihnya. Bisa gawat kalau hal itu berimbas pada hubungan mereka yang baru seumur jagung.
Mungkin karena lelah beradu urat dengan Sasuke, Tenten lantas menyeret Sakura pergi bersamanya tanpa memperdulikan apakah Sasuke mengizinkan atau tidak.
"Sudahlah Teme, Sakura juga tidak akan bisa kabur darimu." Membuat bocah berambut durian itu mendapatkan deatglare dari sahabatnya.
Tetapi hal yang membuat seorang Uchiha terbakar api kemarahan sama sekali bukanlah hal itu. Saat berada di cafetaria, entah bagaimana ceritanya, tubuh Sakura yang terdorong—oleh segerombolan gadis yang berteriak-teriak histeris saat menyaksikan kedatangan Sasuke beserta kelima temannya—dan kemudian terjatuh di atas tubuh seorang pemuda yang sialnya, berada ditempat perkara kejadian. Untuk yang pertama kalinya, secara ajaib Sasuke mau menginjakkan kakinya ditempat yang mereka anggap tidak pantas—rupanya pemuda raven itu masih tidak rela melepaskan gadisnya pergi darinya meski pun hanya untuk sesaat seakan cafetaria adalah sarangnya para penyamun—dan saat kelima pemuda itu datang, tempat itu seketika berubah persis seperti dipenuhi sekawanan nasar yang sedang kelaparan. Jeritan histeris terdengar di mana-mana.
Mata onyx pemuda raven itu berkilat tajam saat mendapati tubuh gadisnya berada dalam dekapan seorang pemuda tidak dikenal dalam posisi yang bisa membuat siapa pun yang melihat menjadi salah paham seketika, belum lagi fakta bibir kedua orang yang terbaring di lantai itu saling menempel.
Sasuke segera menarik tubuh Sakura yang masih menindih tubuh pemuda itu dengan agak kasar dan menyeret gadis itu pergi dari tempat kejadian perkara. Mencengkram lengan gadis itu dengan demonstrative di depan semua mata. Suasana seketika menjadi hening. Kelima teman Sasuke hanya bisa menatap prihatin pada pemuda beruntung sekaligus malang tersebut, entah nasib buruk apa yang akan menimpanya nanti karena telah dengan lancang berani menyentuh milik Sasuke yang paling berharga.
Sasuke merasa sangat marah hingga bahkan tidak memperdulikan pekik kesakitan Sakura saat Sasuke dengan beringas menyeret tubuh Sakura yang berontak ke arah kamar mandi diruang pribadinya, membuka paksa jas sekolah beserta rompi yang melekat di tubuh gadis itu, guyuran air shower membasahi tubuh keduanya hingga benar-benar kuyup.
Sasuke mendorong tubuh Sakura hingga membentur tembok kamar mandi dibelakangnya dan mulai melumat kasar bibir gadis itu, marah, kesal dan frustasi, memaksa sisi posesif Sasuke semakin muncul kepermukaan hingga batas maksimal saat menyaksikan tubuh gadis yang telah menjadi miliknya berada di dekapan orang lain.
Sakura meronta di dalam dekapan nya, berusaha mendorong tubuh Sasuke menjauh dengan sisa-sisa tenaga agar bisa melepaskan ciuman Sasuke yang terasa menyakitkan. Sasuke baru benar-benar melepaskan ciumannya saat isakan pelan meluncur dari sela-sela bibir gadisnya. Napas keduanya memburu, wajah Sakura memerah karena berusaha menahan tangis, ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya sedangkan bibirnya terlihat sedikit bengkak. Sasuke berusaha menekan gelegar api kemarahan di dadanya mengingat penolakan gadis itu terhadap ciuman nya.
Sakura refleks memejamkan matanya saat kepalan tangan Sasuke melayang di udara dan mendarat persis hanya beberapa centi di samping wajahnya. Terdengar suara retakan mengerikan saat tinju Sasuke menghantam tembok yang terbuat dari marmer dan menyebabkan sebentuk lubang menganga di dinding. Wajah gadis itu semakin memucat, membayangkan kepalan tangan Sasuke menghantam wajahnya, sudah bisa dipastikan tengkorak kepalanya akan remuk seketika.
Tentu saja Sakura tidak menceritakan bagian saat Sasuke menciumnya secara paksa, Ino tidak harus tahu karena itu urusan pribadinya dengan Sasuke. Dia hanya menceritakan bagian yang memang telah diketahui oleh orang banyak.
"Pantas saja dia sangat marah!" Ino berkomentar ringan, sama sekali sudah tidak heran lagi. Mengingat Sasuke adalah tipikal pacar yang tidak pernah mau susah-susah berusaha menutupi kecemburuan dan sifat posesifnya pada Sakura. Kadang-kadang Ino berpikir, hubungan kedua orang itu mulai tidak sehat, tapi apa yang bisa dia lakukan, dia sama sekali tidak punya hak untuk mencampuri masalah percintaan kedua orang itu.
-SAKURA-
Mata Sasuke yang sedari tadi sibuk menatap layar komputer di hadapannya sembari kesepuluh jemari nya dengan lincah menari di atas keyboard, melirik ke arah Sakura yang sepertinya telah tertidur dengan posisi telungkup dilantai yang beralaskan karpet tebal. Gadis itu terlelap sambil kedua tangannya memegang sebuah buku.
Pemuda itu baru saja hendak menggendong tubuh Sakura saat telinganya tidak sengaja menangkap suara ketukan, di selingi dengan terbukanya pintu mewah berpelitur unik itu secara perlahan. Ebisu membungkuk dengan hormat ke arah Sasuke sementara pemuda itu meneruskan kembali kegiatannya yang sempat tertunda, yakni memindahkan tubuh Sakura kembali ke tempat tidur sebelum gadis itu jatuh sakit karena posisi yang tidak baik saat tidur, belum lagi cuaca di luar yang masih dingin.
"Madara-Sama ingin berbicara dengan anda."
Madara menghempaskan sebuah artikel yang sanggup membuat mata seorang Uchiha Sasuke berkilat tajam saat menatapnya.
"Kau harus menjelaskan semua itu Sasuke." Kata-kata tajam pria berusia lebih dari setengah abad itu membuat suasana menjadi semakin senyap.
Artikel itu berisikan banyak keterangan tentang Uchiha Sasuke yang sedang menjalin hubungan special dengan seorang gadis yang berasal dari kelas menengah ke bawah, disertai dengan adanya bukti berupa foto-foto saat Sasuke sedang bersama Sakura, dan yang paling membuat Sasuke kesal, adanya tulisan yang menyinggung soal kejadian di mana Sakura secara tidak sengaja berciuman dengan seorang pemuda tidak dikenal dicafetaria sekolah. Tertulis dengan huruf kapital 'pengkhianatan sang kekasih'
Sasuke meremas artikel itu dengan seluruh kekuatan.
"Jangan pernah berpikir, hanya karena aku sedang tidak berada disini, maka aku tidak tahu kau menyembunyikan seorang gadis di kamarmu." tegas Madara sambil menatap mata onyx yang dia wariskan pada Sasuke.
"Aku tidak menyembunyikannya. Dia kekasihku." ucap Sasuke lantang.
"Aku sama sekali tidak melihat perbedaan antara keduanya." Madara berucap tenang, khas orang dewasa yang telah berpengalaman menghadapi remaja penuh hormon yang masih sangat tidak stabil.
Sasuke menarik napas kesal. "Apakah hanya itu tujuanmu berbicara denganku?" cucunya yang satu ini sepertinya memang tidak terlahir dengan sopan-santun yang cukup.
"Kau tentu masih ingat dengan rencana pertunanganmu dengan Shion bukan?" Kata-kata Madara berhasil memancing sepasang mata onyx Sasuke berkilat tajam.
"Aku tidak akan pernah sudi bertunangan dengan gadis yang tidak kuharapkan." tegas Sasuke penuh penekanan, dia tidak akan pernah mau melepaskan Sakura hanya demi obsesi kakeknya bisa bekerjasama dengan salah satu keturunan bangsawan yang mempunyai asset property pembangunan yang sangat menjanjikan.
"Kau mencintai gadis itu?" Putus Madara sambil menyeruput kopi yang dihidangkan untuknya.
"Iya." Sasuke berucap tegas.
"Kalau begitu kau tentu sudah mengetahui konsekwensinya?" Madara menatap wajah Sasuke yang duduk di seberang meja dengannya.
Mata pemuda itu menyipit. "Apa maksudmu?"
Madara tidak menjawab, membiarkan saja Sasuke mencerna baik-baik semua yang telah ia ucapkan. Tentu saja Sasuke sangat mengerti ke mana arah pembicaraan mereka sedang berlangsung, tidak mudah menjalin hubungan dengan keluarga Uchiha. Gadis itu harus dihadapkan pada bahaya yang sesungguhnya saat dia menjalin hubungan dengan Sasuke, semua orang akan berusaha memanfaatkan keberadaan Sakura di samping Sasuke sebagai peluang bagi mereka yang berusaha ingin mendapatkan kedudukan ataupun menjatuhkan keluarga Uchiha, menilik keberadaan Sakura yang di claime sebagai kelemahan dari pertahan keluarga besar Uchiha yang tidak bisa ditembus.
"Apa hanya itu yang ingin kau bicarakan denganku?" Sasuke memejamkan matanya perlahan, menarik nafas perlahan dan kemudian menghembuskannya dengan agak frustasi.
Seulas senyum tersungging di wajahnya. "Tentu saja tidak, aku ingin kau segera meresmikan pertunanganmu dengan Shion."
"Memang apa untungnya kalau aku melakukan hal itu?" Sasuke menatap tajam wajah pria yang masih terliha berwibawa diusianya yang sudah tidak muda lagi itu.
"Kau bisa mengalihkan perhatian mereka, dengan segera mereka akan melupakan keberadaannya dari sisimu dan kau bisa bebas menjalin hubungan dengannya. Dan lagipula kau juga bisa memutuskan pertunanganmu dengan Shion setelahnya."
Kedua alis Sasuke merapat saat mata pemuda itu menyipit, berusaha mencari jejak kebohongan diwajah orang yang telah ia kenal seumur hidupnya itu. Tipikal orang tua yang penuh ambisi dan rela mengorbankan banyak hal demi ke-egoisan sendiri.
"Kau boleh saja berpikir kalau aku adalah orang tua yang kejam, Sasuke. Tapi kau adalah cucuku, dan aku ingin kau bahagia dengan pilihanmu."
Sasuke terdiam mendengar nada lembut yang jarang dia dengar dari mulut kakeknya, dibalik wajahnya yang terkesan angkuh dan kaku, kakeknya itu hanyalah orang tua yang telah banyak mengalami pahit manis kehidupan. Kehilangan satu-satunya putra yang ia cintai adalah merupakan sebuah cobaan yang sangat berat, dan juga dengan adanya fakta Itachi yang menolak menjadi penerus kekayaan Uchiha dan memutuskan untuk mengurus salah satu cabang perusahaan di London menjadikan Sasuke satu-satunya harapan.
Seulas semyum tersungging di bibir Sasuke. "Terimakasih kek,"
-SAKURA-
Sakura membuka matanya saat merasakan matahari menerobos masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan kamar yang terang. Sasuke tidak ada di mana pun. Aneh.
Matanya membelalak sempurna saat melirik ke arah jam dinding dan waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi. Dia terlambat, apakah Sasuke sudah berangkat ke sekolah tanpa dirinya?
Sakura mengernyit heran saat mendapati pintu ternyata terkunci dari luar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Kenapa Sasuke tidak ada di mana pun dan kenapa Sasuke meninggalkannya sendirian?
Gadis itu terdiam. Tidak ada hal yang bisa dia lakukan untuk bisa keluar dari dalam kamar dan Sakura sangat yakin Sasuke sekarang menempatkan penjaga di depan pintu untuk mengurungnya. Keanehan bukan hanya dari perilaku Sasuke yang tiba-tiba berubah dingin dan seakan berusaha sengaja menjaga jarak dengannya tapi juga dari semua akses multi media yang dicabut Sasuke dari kamarnya. Tidak ada telepon yang bisa tersambung, televise yang hanya bisa dipakai untuk menonton dvd dan sejenisnya.
Ini sudah minggu ketiga Sakura merasa Sasuke benar-benar memenjarakannya di dalam kamar. Gadis itu entah harus merasa seperti apa saat mendapati pintu yang biasanya terkunci rapat dan hanya terbuka saat pelayan mengantarkan makanan untuknya itu sedikit terbuka. Suasana lorong terlihat sangat lengang.
Sasuke sempat tersentak kaget saat mata onyx-nya mendapati seonggok kepala dipenuhi rambut berwarna sugarplum sedang menatap hampa pada lorong ruang kosong di hadapan nya. Gadis itu tampak bingung pada apa sedang dia lakukan, yakni berdiri dengan canggung di samping pintu. Sakura tidak melihat keberadaannya, tapi Sasuke dapat melihat siluet seorang gadis berseragam pelayan sedang menuju kearah Sakura.
Tiba-tiba saja ada tangan yang menarik lengannya kasar hingga tersentak kembali masuk kedalam kamar. Sasuke menyerat Sakura dan mendorong tubuh gadis itu hingga terhempas keatas tempat tidur. Mengunci kembali pintu kamar hingga terdengar suara klik dua kali.
"Jangan pernah mencoba keluar lagi dari sini!" ucap Sasuke tajam.
Sakura meremas pelan kelima jemarinya yang terasa berkeringat saat matanya mendapati wajah datar Sasuke yang sedang menatapnya dengan kedua mata yang berkilat marah, pemuda itu tidak mengatakan apapun dan hanya menatapi wajah Sakura dengan tatapan aneh. Wajah Sasuke terlihat sangat lelah.
"Mulai sekarang kau tidak perlu pergi kesekolah sampai batas yang ku tentukan." Seperti tersambar petir. Kata-kata Sasuke bahkan terdengar sangat menusuk dan syarat akan penekanan, pemuda itu sedang tidak ingin dibantah.
Sakura mendongak menatap Sasuke berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya yang bersemu pucat, sekolah adalah harapannya. Dan sekarang Sasuke melarangnya untuk meneruskan pendidikannya. "Kenapa?" hanya sebaris kalimat itu yang sanggup meluncur keluar dari mulutnya.
"Haruskah aku mengatakan alasannya padamu." ucap Sasuke dingin. Mendengar kata-kata Sasuke yang terkesan sangat tidak perduli itu membuat Sakura merasa seperti ada sesuatu yang mengahantam tepat dijantungnya dan membuatnya kesulitan bernafas. Rasanya dia ingin sekali menangis menjerit saat itu juga.
Sakura semakin terdiam, menggigit pelan bibir bawahnya untuk meredam agar tangisnya tidak meledak keluar. Dia sudah tidak bisa lagi membendung aliran airmata yang semenjak tadi ditahannya, sedangkan Sasuke tetep berkeras dengan kebungkamannya. Sebagian dari hati kecil Sasuke tentu saja merasa sangat bersalah, dia sadar telah menyakiti gadis itu. Ingin sekali rasanya dia merengkuh tubuh rapuh itu kedalam pelukannya dan menenangkan gadis itu, mengatakan kalau semua tidak akan berlangsung lama.
Tetapi agar semua ini tetap berjalan lancar seperti yang sejak awal dia rencanakan bisa berjalan dengan mulus. Setelah ini semua berakhir, Sasuke ingin sekali bisa mengumumkan pada semua orang kalau gadis yang sedang ada dihadapannya ini adalah miliknya seorang kepada khalayak umum. Untuk itu kali ini dia terpaksa harus menahan keinginannya.
Gadis itu tidak boleh mengetahui perihal pertunangannya dengan Shion yang akan berlangsung kurang dari beberapa jam lagi. Sakura pasti akan merasa kecewa dan terluka, karena itu Sasuke memblokir semua akses yang memungkinkan Sakura tidak bisa terhubung dengan dunia luar dengan mengurungnya didalam kamar dan tidak membiarkannya pergi kesekolah. Pasalnya, untuk meluluskan tujuan Sasuke agar Sakura dan dirinya dapat menjalin hubungan dengan Sakura tanpa harus membahayakan keselamatan Sakura, Sasuke harus melakukan pengumuman besar-besaran atas pertunangannya agar focus pihak media masa segera teralih.
Sasuke lebih memilih beranjak dari kamarnya sebelum benar-benar melihat airmata dipipi gadis itu tumpah dan membuat semua pertahanannya runtuh seketika. Menghela nafas pelan, Sasuke membawa langkahnya menuju kearah ruang tamu. Ada banyak orang yang sedang berlalu lalang untuk menata ruangan mewah tersebut hingga sedemikian rupa untuk menyambut para tamu yang akan segera berdatangan sebentar lagi. Mungkin dia juga harus segera bersiap-siap sekarang. Pikir Sasuke!
-SAKURA-
Seorang pelayan perempuan membawa nampan kosong bekas makan Sakura yang baru saja dia ambil dari kamar gadis itu. Matanya menangkap siluet dua orang pelayan berseragam setelan semi formal berjalan dengan sedikit tergesa-gesa melewati lorong utama Manshion megah Uchiha dan kemudian berhenti didepannya dengan langkah pelan.
"Sebaiknya kau segera bergegas, mereka membutuhkan kita dibawah." Bisik mereka dengan suara pelan.
Gadis berseragam pelayan itu mengangguk tanda mengerti. Dengan sedikit tergesa-gesa dia beranjak dari depan pintu. Pasalnya sekarang mereka sedang sangat diburu waktu. Pesta pertunangan antara calon pewaris tunggal Uchiha Corporation akan segera meresmikan hubungannya dengan putri tunggal seorang bangsawan pengusaha kaya raya. Dan bukan hanya para petinggi Negara yang datang keperhelatan bergengsi itu, tetapi keluarga Uchiha juga sengaja mengundang awak media dalam jumlah yang minimal. Tapi sanggup membuat berita ini dinobatkan sebagai berita yang paling menggemparkan tahun ini.
Ketiga orang pelayan wanita itu segera beranjak dari lorong dan menuju ketempat pesta sedang berlangsung dengan meriah di aula utama manshion Uchiha, tanpa menyadari adanya kunci yang masih dibiarkan menggantung dilubang kunci.
Sakura membuka matanya ketika waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam saat merasakan adanya hembusan angin yang masuk kedalam kamar melalu jendela yang dibiarkan terbuka. Matanya masih terasa panas setelah membiarkan dirinya menangis hingga membengkak dan jatuh tertidur, perasaan sakit itu kembali hinggap. Tanpa terasa matanya kembali hendak mengeluarkan tetesan air saat pikirannya kembali melayang pada pertengkarannya dengan Sasuke. Matanya tanpa sengaja mendapati sedikit cahaya yang merambat masuk kedalam kamar melalui celah pintu yang tidak tertutup. Sakura tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Awalnya gadis itu merasa heran mengapa diwaktu yang sudah menunjukan hampir tengah malam manshion masih ramai dengan suara orang-orang yang sepertinya sedang sibuk mengerjakan seseuatu.
Dengan mengerahkan sedikit keberanian. Sakura melangkahkan kakinya beranjak menuju pintu dan melongokkan kepalanya keluar. Dia melihat dua orang pelayan wanita yang sedang membawa nampan berisi minuman dengan langah agak terburu-buru namun juga tetap berhati-hati agar tidak menumpahkan minuman yang mereka bawa. Gadis itu kembali memasukkan kepalanya kedalam saat melihat—lagi-lagi seorang pelayan melintas di korodir, tapi kali ini membawa nampan berisi makanan—melintas menuju kesuatu tempat.
Setelah memastikan situasi disekitar cukup aman, Sakura memutuskan untuk mencari tahu kemana perginya para pelayan itu. Menerlusuri lorong manshion Uchiha dengan sedikit perasaan gelisah, takut-takut tertangkap basah oleh seseorang sedang menyelinap keluar kamar tanpa sepengetahuan Sasuke. Langkahnya menuntunnya kearah aula utama manshion dan terkajut saat mendapati pemandangan yang tersuguh dihdapannya.
Bukan masalah seberapa mewah pesta yang sedang berlangsung didepan matanya—yang ternyata dirahasiakan Sasuke darinya—tetapi lebih kenyataan yang harus diterimanya. Di depan kedua matanya, pertunangan itu berlangsung dengan sangat meriah. Mata emeralnya mendapati Sasuke yang sedang menggandeng mesra seorang gadis berambut pirang ketengah pesta. Sasuke nampak menyentuh siku gadis itu perlahan dan menunduk penuh perhatian.
Pemuda raven itu sedang berpelukan hangat dengan sahabat pirangnya, Namikaze Naruto yang datang bersama Hinata yang tampil menawan dengan gaun ungu melekat membalut tubuh sempurnanya. Sasuke tampak agak lelah namun tidak menutupi raut kegembiraan yang tercetak jelas diwajah sempurna pemuda itu.
Bukan hanya Naruto yang datang bersama pasanganya yang hadir di pesta itu melainkan keempat teman mereka yang lain, yang tentu juga datang dengan memboyong serta pasangan resmi mereka. Dengan kata lain, hanya dirinya yang tidak mengetahui perihal pertunangan Sasuke selama ini. mereka berenam nampak sangat menikmati pergelaran pesta yang sedang berlangsung. Gambaran-gambaran kebersamaan mereka tumpang tindih didalam benaknya. Inikah alasan Sasuke menahannya didalam kamar? Agar dia tidak mendapati kenyataan Sasuke telah menghinatinya.
Sakura menggigit pelan bibirnya saat menyadari kenyataan kalau Sasuke tidak pernah sekalipun mengatakan mencintainya dan bersedia menajalin hubungan dengannya. Dia sendirilah yang bersalah karena terlalu terlena dengan semua kenyamanan yang pemuda itu tawarkan tanpa ada kejelasan mengenai hubungan mereka. Sudah jelas, mereka berasal dari kalangan status sosial yang berbeda, mana mungkin Sasuke tulus mencintai seorang gadis yang tidak memiliki apapun seperti dirinya. Gadis yang tadi bersama Sasuke—yang sudah jelas adalah calon istrinya—jelas jauh lebih pantas bersanding disamping Sasuke.
Tanpa terasa airmata mengalir dari kedua pipinya.
-SAKURA-
Sasuke menghela napas lelah dan kemudian menghempaskan tubuhnya disofa yang memang disediakan untuk para tamu bersantai saat pesta sedang berlangsung, pesta pertunangan pura-pura ini—menurut Sasuke—terasa sangat membosankan, tertuma menyadari kenyataan kalau bukan Sakuralah yang sekarang sedang berdiri disampinya dan diperkenalkan sebagai calon isterinya didepan khalayak umum melainkan seorang gadis asing yang tidak baru beberapa minggu dikenalnya. Pesta ini lebih seperti ajang untuk menunjukkan kekuasaan dan pamer kekayaan. Dia lelah karena merasa menghianati kepercayaan Sakura, bertunangan dengan orang lain meski untuk kepentingan hubungan mereka terasa seperti pelanggaran besar terhadap sesuatu yang murni.
Tangan Sasuke bergerak untuk mengucap permukaan wajahnya dengan sedikit kasar, membuat Naruto yang duduk persis didapannya mengernyit heran.
"Ada apa, Sasuke? Kau tampak sangat lelah." tanya Naruto prihatin. Dia tahu Sasuke tidak mengingkan pertungan ini.
Sasuke menghela nafas berat. "Ya, kurasa aku akan beristirahat sebentar." ucap Sasuke pada akhirnya.
"Pergilah, kami akan urus sisanya." Neji menepuk bahu Sasuke pelan. Dia mengerti kalau Sasuke membutuhkan sedikit ketenangan sekarang.
Dengan langakah setengah diseret Sasuke menggiring tubuhnya menuju kekamar pribadinya. Berharap bisa mendapatkan sedikit ketenangan dengan melihat wajah Sakura saat sedang tertidur. Dahinya mengernyit heran saat mendapati pintu yang seharusnya tertutup, terbuka sedikit. Dengan perasaan gamang, Sasuke membuka daun pintu hingga terbuka dan mendapati kamar mereka telah kosong, pemuda itu memeriksa kedalam kamar mandi dan tetap tidak menemukan gadis itu dimanapun. Rasa dingin menjalar ditubuhnya, hal yang menjadi ketakutannya menjadi kenyataan. Gadis itu pergi. Tubuh Sasuke seketika melemas, merosot tanpa tenaga kelantai.
To be continued.
R
E
V
I
E
W
Big thanks:
Animea Lover Ya-Ha. Eet gitu. Aoi ciel. mysticious. Cerry kuchiki. Yue-chan. SS SK. Uchiha Hime is poetry celemot. Sindy si kucing pink. Eunike Yuen. Me. Sung rae ki. Hasni kazuyakamenashi strateels. Kawaiikomsue. Risma-chan. Cloud54. Aozu misora. Harappa. Karasu uchiha. Sung Rae Ki. Eet gitu. Uchiha elfsparyo. Sasusaku. Mey hanazaki. Ran murasaki NH. Lucy uchio. Black lily. Karasu uchiha. Kirara Yukanza. Yue-chan. Kikyo Fujikazu. bakung hijau. Andy's AySakura. NarumiArya. Nympalion. miyank. inai chan. mey hanazaki. kawaiikomusume. risma-chan. NN. Pepz kunimitshu. Natsuki kostuka. Riestiyani aurora. Fumiki Ai. Dan juga untuk semua silent reader.
Gomen karena tidak bisa membalas review kalian satu persatu.
entah kenapa belakangan ini aku merasa agak kurang puas dengan chapter yang kutulis.
huft,
kalau ada yang ingin melayangkan protes pada chapter ini, aku terima dengan senang hati.
akhirnya perjuangan ku selama tiga tahun tidak sia-sia.
Aku LULUS.
untuk kalian yang hari ini juga berbahagia sepertiku,
aku ucapkan.
SELAMAT ATAS KELULUSANNYA!
