Go Go Married: It's SasuSaku!
.
Skaicards © the story
Inspiration from We Got Married © MBC
All character© Masashi Kishimoto
.
Sasu x Saku
.
Pardon, but its OOC or should not?._.
Typo.
.
Turut berduka cita atas berpulangnya kak Nanda (author Kang Mas Neji Ganteng) semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amin...
.
Sorry if this story is not like what you expected before
.
E P I
SODE
#3
Autumn Vacanza, Go Go Go!
.
Seorang perempuan bertubuh ramping dengan kepala dipenuhi oleh helai rambut berwarna merah muda turun dari sebuah bus berwarna kuning. Perempuan itu membawa sebuah koper berwarna hitam serta sebuah tas ransel berwarna merah. Kaos tanpa lengan dengan warna jingga polos dirangkap sebuah sweater yang tampak kebesaran di badan mungilnya serta sebuah jeans hitam yang melekat pas di kaki-kaki jenjangnya, terlihat menjadi pilihan Sakura, nama gadis itu, pagi ini. Gadis tersebut kemudian tampak menyeret kopernya ke sebuah bangunan yang ada di seberang jalan dengan kaki yang melangkah ringan. Senyum sumringah tidak henti-hentinya menghiasi wajah manis perempuan yang lahir di musim semi itu.
Setelah sampai di pelataran depan bangunan tersebut, ia segera merogoh ponselnya dan menekan sebuah tombol yang merupakan speed dial. Gadis tersebut kemudian menempelkan ponselnya ke telinga sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru pelataran. Manik matanya menangkap betapa banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya sembari membawa sebuah koper maupun tas kerja.
"Moshi-moshi," sapa Sakura saat sambungan yang ia lakukan sudah terhubung. Gadis itu kemudian mengarahkan kedua viridiannya ke papan besar di atas bangunan yang bertuliskan 'Stasiun Kereta Tokyo'.
"Hn, ada apa?" balas suara di seberang sana.
"Apa kau sudah berada di dalam stasiun?" tanya Sakura. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi dengan tangan kiri menyeret koper miliknya, karena ia sedang memegangi ponselnya menggunakan tangan kanan.
"Sudah, kau di mana?" Sakura melewati pintu masuk stasiun kereta tersebut. Ia menatap sekeliling sebentar.
"Masih berjalan, kau menggunakan pakaian apa?" tanya gadis beriris emerald tersebut. Ia kemudian menghentikan langkahnya lagi, menunggu jawaban dari seseorang di seberang sana.
"Jaket berwarna biru tua, dekat kursi tunggu," suara laki-laki itu menyusup ke dalam indra pendengaran Sakura. Dengan segera, gadis itu menuju ke area tunggu, satu-satunya tempat yang menyediakan kursi bagi para penumpang yang menunggu keberangkatan kereta.
Sesampainya di sana, kedua mata viridian miliknya bergerak ke kanan lalu ke kiri untuk mencari keberadaan Sasuke Uchiha, suaminya, yang katanya menggunakan jaket berwarna biru tua. Setelah dua menit menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, akhirnya ia bisa menemukan pria berambut raven dengan model rambut mencuat ke belakang yang duduk di sebuah kursi tunggu bagian kanan, dekat tembok yang jendelanya tengah menampilkan suasana di luar yang cukup padat. Gadis itu pun kembali menggerakkan kedua kakinya untuk menghampiri Sasuke.
Suara bising yang tadi terdengar samar-samar mendadak berubah menjadi nama Sakura dan Sasuke menggema di dalam ruangan yang luas tersebut ketika gadis berkepala merah muda itu berjalan mendekati bangku yang Sasuke duduki, membuat laki-laki itu mengangkat kepala yang sedari tadi ia tundukkan. Kedua bola mata miliknya menangkap sosok bersurai merah muda dengan dua manik viridian melekat di tiap bola matanya –siapa lagi kalau bukan Sakura? berdiri di hadapannya. Gadis itu tersenyum kemudian membungkukkan badannya.
"Ah, selamat pagi," sapa Sakura. Sasuke langsung berdiri dan membalas salam gadis itu.
"Lama tidak berjumpa," ucap laki-laki itu sembari menyunggingkan senyum tipis.
"Hm, bagaimana dengan filmmu di Korea?" Sakura mendudukkan dirinya di sebuah bangku yang persis berada di sebelah Sasuke diikuti pemuda tersebut.
Sasuke tampak berpikir sebentar. Laki-laki itu melirik ke arah Sakura dan memasang tampang seakan-akan pertanyaan gadis itu sangatlah sulit.
"Untuk film itu lumayan baik, tapi ada yang buruk," jawabnya dengan nada dibuat putus asa. Sakura menautkan kedua alis tipis miliknya. "Ada yang buruk?" Sasuke mengangguk sambil memasang raut kecewa di wajahnya.
"Memangnya Gary Stu sepertimu membuat suatu kesalahan?" gadis itu melontarkan pertanyaan atas ketidakpercayaannya.
Sasuke memutar kedua bola matanya lalu mengulurkan tangannya ke arah Sakura untuk mengacak rambut merah muda gadis itu dengan gemas, "Aku bilang ada yang buruk, kan? Bukan filmku buruk," timpalnya.
Sakura membenahi rambutnya yang terlihat kusut, "Sepertinya aku harus menggunakan wig setiap kali akan bertemu denganmu," keluhnya. "Memangnya apa yang buruk itu?"
"Kau ingin tahu?" laki-laki itu mengubah gestur tubuhnya. Ia menopang salah satu sisi kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada punggung bangku dan memberikan tatapan 'kau-benar-benar-ingin-tahu-he?' pada gadis itu yang langsung direspon dengan anggukan yang cukup tegas.
Belum sempat Sasuke mengutarakan apa yang ia maksud dengan ada yang buruk pada Sakura, suara pemberitahuan dari ruang informasi menginterupsinya. Mereka berdua pun bergegas menuju ke gerbong yang tertera di tiket yang sedari tadi dibawa oleh laki-laki bermanik hitam itu.
"21A, 22B, Ah di sini…" Sakura menunjuk ke tempat duduk yang di bagian punggungnya memiliki bordiran bertuliskan 21A serta 22B saat mereka sudah sampai di salah satu gerbong kereta. Sasuke pun langsung meletakkan koper mereka di bagasi atas, sementara ransel yang mereka kenakan tetap mereka bawa. Mereka pun langsung mendudukkan diri dengan Sasuke di kursi 21A dan Sakura di 22B.
Tidak butuh waktu lama, kereta yang mereka tumpangi tersebut segera melaju dengan perlahan. Jendela-jendela di sisi kanan serta kiri gerbong terlihat tengah menampilkan pemandangan yang tampak seperti film berjalan, membuat Sakura memekik senang.
"Kau suka?" tanya Sasuke sembari ikut memandangi luar melalui jendela di samping gadis bermanik viridian itu. Sakura manggut-manggut, "Sudah lama aku tidak naiki kereta," ujarnya.
"Eh, Sasuke, apa kau sudah sarapan?" tanya gadis itu dengan tangan yang bergerak mengambil ransel merah miliknya yang ia letakkan di samping ransel putih Sasuke. Sasuke menggeleng, "Aku langsung ke stasiun setelah wawancara dengan salah satu majalah tadi," jawabnya.
Gadis itu tertawa kecil sambil memasukkan tangannya ke dalam tas dan…
"Tara! Aku membuatkan bekal untuk Sasuke-kun," ujarnya diiringi senyuman lebar. Sasuke membentuk kernyitan samar di dahinya. Gadis itu pun membuka kotak bekal yang ia bawa dan menunjukkan beberapa onigiri yang berjejer rapi di dalamnya.
"Sasuke-kun suka onigiri, kan?" tanya Sakura.
"Hn," respon laki-laki itu dengan aura yang menguar bahagia. Entah karena perlakuan istrinya atau karena bertemu dengan onigiri kesukaannya. Bingung.
Sakura kemudian mengambil sepasang sumpit dari dalam tasnya dan menjepit sebuah onigiri yang ada di kotak bekal. Gadis itu lalu menyodorkannya ke depan mulut Sasuke.
"Itadakimasu," ucap pemuda bermanik onyx itu sambil melahap suapan dari istrinya. Dalam waktu yang tidak begitu lama, Sasuke menghabiskan seluruh onigiri yang dibuat oleh Sakura dengan cara disuapi. Sementara Sakura yang melihat Sasuke makan dengan begitu lahapnya hanya bisa tersenyum geli.
"Ah, kau suka jus tomat, kan?" Sakura bertanya sembari mengeluarkan sebuah botol bening berisi cairan merah kental dari dalam tasnya lalu menyodorkan botol tersebut ke laki-laki itu.
"Minumlah."
Bukannya lekas membuka penutup botol itu dan meminum jus tomat dari istrinya, Sasuke malah mengernyitkan dahinya heran. "Ada apa ini?" tanyanya.
Sakura yang dilontari pertanyaan ambigu seperti itu menelengkan kepalanya. Sasuke yang paham kemudian menerangkan bahwa ia merasa heran dengan Sakura yang hari ini menyiapkan bekal serta sebotol jus tomat untuknya. Gadis itu terkikik geli dan menjawab seadanya.
"Sasuke-kun itu merupakan artis yang memiliki banyak fangirls, Sasuke-kun juga sangat sibuk, jadi aku tidak ingin dianggap sebagai istri yang tidak bertanggungjawab dengan menelantarkan Sasuke-kun, membuat dia kelaparan karena tidak tahu makanan dan minuman kesukaannya," ucapnya polos. Sementara itu Sasuke yang mendengar penuturan Sakura langsung mencubit pipi istrinya.
.
(INTERVIEW)
"Bagaimana tanggapanmu mengenai perlakuan Sakura-san padamu?"
Sasuke mengangguk seraya menyunggingkan senyum tipis, "Dia benar-benar kriteria istri idealku dan sepertinya fansku tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku karena Sakura begitu memperhatikanku dengan baik."
.
"Lucu," ucap laki-laki itu sambil tersenyum lembut.
"Oh iya," Sasuke mengambil ransel miliknya dan menarik keluar sebuah amplop berwarna pink. Ia lalu membuka surat tersebut dan membacakan isinya, "Di stasiun pemberhentian nomor 25 kalian akan turun. Selamat bersenang-senang," laki-laki itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama yang juga terdapat dalam amplop.
"Ah, ini alamat serta nomor telepon tempat itu," ujarnya seraya menyerahkan kartu nama tadi ke Sakura. Gadis tersebut kemudian membaca baik-baik tulisan yang tertera.
"Oh ya Sakura, apa benda yang kau sukai?" suara Sasuke menginterupsi kegiatan Sakura. Perempuan bermata hijau klorofil itu mendengung sesaat sebelum akhirnya berkata bahwa ia senang dengan mahkota.
"Kalau Sasuke?" tanya perempuan itu balik.
"Aku menyukai pakaian," jawabnya.
"Ah, kau mengoleksi hoodie dan jaket, kan?" Sasuke mengangguk, "Dari mana kau tahu?"
Sakura mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya dan menggoyang-goyangkannya di depan Sasuke, "Sasuke Uchiha special edition!"
Laki-laki itu mendengus menahan tawa. Ia mengambil alih majalah tersebut kemudian membuka halamannya satu per satu.
"Ah, Sasuke-kun, aku suka ini," gadis itu menunjuk sebuah gambar di mana Sasuke tengah berdiri sambil merangkul pundak Gaara, salah satu artis yang berada di manajemen yang sama dengannya.
"Memang kenapa?" Sasuke menatap wajah gadisnya yang berbinar seolah menimbulkan efek bunga-bunga di sekelilingnya.
"Karena Gaara-san terlihat keren," jawabnya dengan jujur. Sasuke yang duduk di sampingnya sudah mengubah ekspresi wajahnya menjadi tidak mengenakkan.
"Kau menyukai Gaara?"
"Hm, dia cukup bertalenta, hampir semua peran bisa ia lakukan dan ia juga tampan," tuturnya enteng.
.
(INTERVIEW)
"Bagaimana perasaanmu saat Sakura-san berbicara mengenai laki-laki lain di hadapanmu?"
Sasuke memandang kamera dengan gelengan kepala dan tatapan tidak percaya, "Rasanya aku ingin meneror Gaara agar dia tidak meracuni pikiran istriku."
.
"Oh ya, Sasuke-kun, kau belum mengatakan apa maksud 'ada yang buruk'-mu tadi," Sakura mengingatkan. Sasuke yang masih dilanda angin cemburu ini hanya membalasnya dengan dengusan. Menyadari itu Sakura sedikit memiringkan kepalanya keheranan dengan sebelah alis ia naikkan.
"Kenapa Sasuke-kun?" Sakura memajukan bibirnya beberapa senti, pertanda ia tidak paham. "Kau cemburu ya aku memuji Gaara barusan?" tanya gadis itu yang tepat sasaran.
Sasuke membuang wajahnya saat Sakura mulai menyenteri wajahnya dengan cengiran jahil. Dan Sakura terus terusan melakukan aksi mengusili pemuda bermata onyx tadi, hingga akhirnya tangan Sasuke langsung membekap mulutnya.
"Hn, jangan bicara tentang Gaara lagi," putus Sasuke sepihak membuat mulut Sakura yang masih ditangkup oleh laki-laki itu mengeluarkan tawa geli.
.
(INTERVIEW)
"Apa yang kau dapat dari ucapan Sasuke-san waktu itu?"
"Cemburu?" tebak Sakura sambil tertawa kecil, "Bukankah menyenangkan bisa melihat Sasuke dengan tampang kesal seperti itu?" tanya gadis bersurai merah muda itu.
.
"Dan maksudku dengan ada yang buruk itu, aku merindukanmu," ucap Sasuke dengan seringaian terlukis di paras tegasnya. Sakura yang tadinya tengah tertawa mendadak membisu. Kedua pipinya mulai memanas dengan semburat merah tipis terpoles di permukaannya.
"Memerah lagi, he?" Sasuke mencubit pipi istrinya itu dengan gemas, membuat Sakura harus mengaduh kesakitan terlebih dahulu baru dilepaskan.
Kereta berwarna abu-abu yang sedari tadi melaju dengan kecepatan rata-rata tersebut kini terlihat mulai menurunkan kecepatannya dan berhenti di sebuah pemberhentian. Seorang gadis bersurai merah muda dengan seorang laki-laki berambut raven tampak menuruni undakan gerbong dengan si gadis yang memimpin di depan. Sementara itu laki-laki di belakangnya terlihat tengah menjinjing dua koper besar yang turut dibawa turun.
"Ah, suasananya menyenangkan," ucap gadis bermata viridian tersebut sembari merentangkan kedua tangannya. Ia tampak begitu menikmati udara segar yang mengelilinginya serta pemandangan yang terbentang di kedua mata hijaunya. Gadis tersebut kemudian menoleh ke arah Sasuke dan segera membantu laki-laki musim dingin tersebut dengan membawa koper miliknya sendiri.
"Alamatnya di mana?" tanya Sasuke sambil mengenakan sebuah topi sport berwarna putih. Laki-laki itu kemudian mengambil sebuah topi sport lagi dengan warna yang sama dan memasangkannya ke kepala merah muda di sampingnya.
"Arigatou," ucap gadis itu yang kini tengah merogoh saku celana jeansnya untuk mengambil kartu nama yang mencantumkan alamat yang harus mereka tuju. Setelah mendapatkannya, gadis itu kemudian mengulurkan kertas kecil yang kaku itu ke Sasuke. Laki-laki tersebut menghentikan langkahnya untuk mengambil ponsel miliknya. Ia kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya dan…
"Ah, cukup dekat dari sini, ayo!" Sasuke memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas lalu mulai menggandeng gadisnya itu.
Selama di perjalanan, mereka memilih untuk diam dan lebih menikmati keadaan sekitar yang jarang sekali mereka temui. Ya memang benar karena keadaan Tokyo yang begitu padat sangatlah berbeda dengan tempat ini yang memiliki lahan yang luas di mana pepohonan tumbuh dengan suburnya.
Setelah berjalan untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Sasuke dan Sakura sampai di sebuah tempat dengan rumah mungil berdiri di antara rerumputan hijau yang terawat dengan sebuah gazebo di samping pelataran. Dan pula, sebuah jalan setapak terlihat membelah rerumputan hijau tadi yang langsung menuju ke balkon depan rumah berdinding kuning pudar itu.
"Terlihat sepi," ucap Sakura sambil menelengkan kepalanya ke arah Sasuke. Laki-laki itu mengangguk menyetujui dan segera menelpon nomor yang tertera di kartu nama.
"Moshi-moshi… kami sudah di depan rumah… ah, ya, anda ada di dalam?... hm, baiklah," laki-laki beriris obsidian itu menutup sambungan dan menggidikkan kepalanya seolah memberitahu Sakura untuk menuju ke rumah tersebut.
Saat sudah mencapai pintu utama rumah tersebut, Sakura dan Sasuke menghentikan langkah mereka "Permisi," ucap Sasuke dengan suara baritonenya. Ia mengetuk pintu di hadapannya sebanyak tiga kali. Sesaat kemudian suara langkah kaki orang berlari dari balik pintu itu terdengar semakin mendekat ke arah mereka.
CKLEK.
"Ah, selamat datang," ucap seorang wanita tua dengan badan sedikit membungkuk. Kedua insan itu dengan reflek membalas sapaan perempuan tua tadi yang langsung mempersilakan Sakura serta Sasuke untuk masuk ke dalam.
"Sebelumnya kamar ini hanya ada dua dan kamar yang bisa digunakan hanya kamar ini, jadi nanti malam sepertinya kalian akan tidur bersama, kalin sudah menikah, kan?" wanita tua itu menyunggingkan senyum yang seolah ditujukan untuk anaknya.
Sasuke dan Sakura yang mendapati pertanyaan seperti itu hanya bisa saling bertatapan canggung hingga laki-laki raven itu mengangguk dan membenarkan perkataan wanita tersebut barusan.
"Baguslah kalau begitu, kalian bisa berjalan-jalan setelah merapikan barang, nanti saya tunjukkan jalannya," wanita tua itu pun mulai melangkahkan kakinya ke belakang rumah, meninggalkan Sakura dan suaminya yang kini sedang memasuki sebuah kamar yang tidak begitu luas dengan sebuah ranjang yang muat untuk dua orang.
Sakura melompat-lompat kecil dengan raut muka kebingungan. "Bagaimana kita nanti tidurnya?" tanya gadis itu dengan gusar. Sasuke yang sedari tadi hanya memperhatikan istrinya itu kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang. Sebuah seringaian menyeruak keluar dari bibir tipisnya, "Apakah itu masalah? Bukankah kita sudah menikah?" Sasuke mengganti posisinya. Ia tiduran dengan kepala ditopang sebuah lengan kekar miliknya menghadap ke Sakura.
Gadis yang merasa dijahili oleh Sasuke-kunnya itu langsung mengambil guling dan menghantamkannya dengan mulus ke kepala yang mirip pantat ayam itu.
"Sudah sana keluar, aku mau berganti pakaian," suruh gadis itu dengan nada dibuat ketus padahal ketara sekali ia tengah menahan malu. Sasuke menuruni ranjang beralaskan kain putih tersebut. Saat ia berjalan melewati Sakura, laki-laki itu menyempatkan diri berkata, "Hati-hati nanti malam," yang ia tutup dengan sebuah auman seperti singa. Sakura yang mendengar itu lagi-lagi hanya bisa menimpuk Sasuke dengan guling yang masih ada di tangannya.
.
(INTERVIEW)
"Apa yang kau pikirkan saat wanita tersebut mengatakan bahwa kalian akan tidur sekamar?"
Sakura menundukkan wajahnya dan menangkup mukanya dengan kedua telapak tangannya, "Rasanya aku ingin segera ditelan bumi," jawabnya. Sepertinya benar-benar malu.
.
Sakura telah berganti pakaian dengan sebuah hoodie merah marun serta celana jeans selutut. Sementara itu Sasuke dengan hoodie dark blue tanpa mengganti celana yang sebelumnya ia kenakan. Mereka tampak berjalan beriringan menuruni sebuah tanah miring yang ditumbuhi rerumputan. Tadi, wanita tua itu mengatakan bahwa di dekat sini terdapat sebuah danau yang sering dikunjungi oleh wisatawan dengan padang bunga yang cukup menarik. Hal itu pun langsung disetujui oleh Sakura, satu-satunya pihak dan Sasuke hanya menurutinya.
Sesampainya di danau itu pemandangan padang bunga tersuguh dengan indahnya di hadapan mereka. Sakura langsung menarik Sasuke ke tengah-tengah hamparan bunga yang memiliki kelopak berwarna-warni.
"Bukankah ini menarik?" tanya gadis berkepala merah muda itu sambil menggerakkan tangannya untuk merasakan bunga-bunga yang tumbuh di tangkai hijau yang menjulang ke atas. Sasuke menanggapi ucapan Sakura barusan dengan senyuman tipis. Ia lebih memilih duduk dan memandangi sekitarnya.
"Sasuke kau ingin ikut ke sana tidak?" tawar Sakura dengan telunjuk yang mengarah ke sebuah danau. Sasuke menggeleng dan menyuruh gadis itu untuk ke sana duluan, dia masih ingin menikmati hembusan angin musim gugur di sini dan mengatakan bahwa dirinya akan menyusul Sakura.
Gadis itu pun melenggang pergi meninggalkan Sasuke yang langsung mencabut beberapa bunga dan mengumpulkan beberapa ranting lunak di sekelilingnya. Jemari Sasuke yang terampil itu langsung memilintir ranting lunak tadi membentuk sebuah lingkaran dan menyusupkan tangkai hijau yang masih memiliki bunga itu ke sela-sela ranting tadi.
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit akhirnya Sasuke berhasil menyelesaikan aktivitasnya. Laki-laki itu kemudian menyembunyikan karyanya di balik punggung tegapnya dan berjalan ke arah Sakura yang kini tengah duduk di samping sebuah pohon rindang.
"Sakura," panggil Sasuke. Gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang dan menepuk-nepuk tanah di sampingnya, bermaksud menyuruh laki-laki itu untuk duduk. Sasuke yang paham maksud Cherynya itu segera berjalan mendekat dan menaruh pantatnya di samping Sakura.
"Hei, tutup matamu," suruh Sasuke membuat perempuan beriris viridan tersebut mengernyit bingung. Baru saja ia akan melontarkan sebuah pertanyaan, Sasuke sudah terlebih dahulu menatapnya dengan pandang menyipit tajam seolah berkata 'jangan-kebanyakan-tanya'. Sakura pun menutup kedua matanya. Melihat itu, Sasuke kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Dengan hati-hati ia meletakkan sebuah mahkota yang terbuat dari ranting, bunga, tangkai, dan tanaman sulur yang tampak cantik itu ke kepala Sakura.
Sakura membuka matanya dan mengambil sesuatu di atas surai merah muda miliknya. Dilihatnya sebuah mahkota yang tampak begitu cantik dari balik kedua emerald miliknya.
"Bagaimana bisa?" tanya Sakura dengan pandangan kagum. Sasuke yang melihat tatapan takjub keluar dari jade istrinya hanya bisa menyeringai dengan bangga. Ia kemudian mengambil mahkota itu dan meletakkannya kembali ke kepala sang istri.
"Terimakasih," ucap Sakura pada Sasuke dengan muka bersemu. Sasuke tersenyum tipis. Ia menggerakkan telunjuk tangannya ke pipi gadis itu untuk mengelusnya.
.
(INTERVIEW)
"Mengapa kau membuatkan Sakura-san sebuah mahkota bunga?"
"Hn, dia menyukai mahkota dan saat kita sampai ke danau tersebut, dia tampak senang melihat berbagai macam bunga yang tumbuh di sana. Jadi, bukankah itu artinya aku sudah membuat dia senang dua kali dalam satu waktu?" Sasuke balik bertanya dengan seringaian bertengger di parasnya.
.
"Terimakasih juga untuk onigiri dan jus tomat tadi pagi," balas Sasuke. Gadis itu hanya tersenyum lebar. Tiba-tiba Sasuke yang duduk di sampingnya itu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang istri, "Mau naik perahu?" tanya Sasuke. Mata onyxnya tertuju pada sebuah perahu coklat yang bertengger di bibir danau. Sakura menerima uluran tangan suaminya dan berjalan menuju perahu tersebut.
Sesampainya di sana, mereka segera menaiki perahu tersebut dengan Sasuke yang mendayungnya. Saat ini langit tengah menampakkan bias cahaya sore dari sang mentari seakan-akan menambah kesan romantis di antara mereka. Baru saja mereka sampai di tengah danau, tiba-tiba genangan air menyusup di antara jemari Sakura yang hanya mengenakan sandal itu. Ia melirik sebentar ke bawah dan memandang Sasuke dengan mata sedikit melebar.
"Sasuke-kun," ucap gadis itu, menarik perhatian Sasuke yang sedari tadi tertuju pada sekeliling danau ke gadis di hadapannya ini.
"Hn? Kenapa?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu menunjuk ke bawah kakinya.
"Hah, perahunya bocor?" pekik laki-laki itu kaget. Ia segera mendayung perahu untuk segera sampai di bibir danau sambil bertanya, "Kau bisa berenang, kan?" Sakura mengangguk. Dan benar saja, belum sampai di pinggir danau, mereka sudah tercebur ke dalam sungai, membuat sepasang suami istri itu basah kuyup.
"Yah, basah," ucap Sakura. Mereka masih berada di dalam danau. "Bagaimana kalau berenang?" tawar Sasuke dan tanpa menunggu jawaban istrinya ia langsung mengajak perempuan dengan mahkota bunga di surai merahnya menyusuri danau tersebut. Sesekali mereka tampak saling mencipratkan air.
"Ya, Sasuke-kun curang! Tanganmu kan lebih besar!" protes Sakura.
Sasuke hanya menjulurkan lidahnya tanpa membalas ucapan gadis itu. Ia lebih memilih terus melanjutkan acara menciprati istrinya tersebut. Namun hal tersebut harus mereka sudahi melihat langit yang mulai menggelap karena matahari sudah berarak menuju ke peraduannya. Mereka harus pulang, kan?
Sasuke dan Sakura pun keluar dari dalam danau dengan kondisi yang benar-benar basah kuyup. Baru saja Sakura akan berjalan pulang, Sasuke menutup jalan gadis itu dengan tubuhnya yang berjongkok.
"Ku gendong, naiklah," ucap Sasuke dengan seringaian sambil menolehkan kepalanya ke belakang. Sakura langsung melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu sementara Sasuke memegang kedua kaki Sakura.
.
Gadis dengan kepala di penuhi surai merah muda yang membingkai wajah manisnya itu terlihat tengah bersin-bersin setelah dia dan suaminya makan malam. Ia kini tengah mengenakan sebuah selimut putih di balik punggungnya dan melangkah ke sebuah gazebo untuk melihat bintang yang bertaburan di langit malam ini. Diikuti seorang laki-laki dengan jaket tebal yang membawa dua cangkir teh lemon hangat dari dalam rumah.
"Minumlah," ucap Sasuke sambil menyodorkan secangkir teh lemon ke Sakura. Gadis itu menerimanya dan segera menyeruput cairan berwarna cokelat bening dari dalam cangkir tersebut melewati kerongkongannya.
"Arigatou," laki-laki itu mengangguk dan menempatkan diri di belakang Sakura dengan kaki di kanan kiri tubuh gadis itu. Tangan kekarnya ia gunakan untuk melingkari bahu Sakura, berusaha membagi kehangatan.
Lama mereka terdiam dengan posisi itu sambil mengangkat wajah ke atas menatap langit hingga akhirnya laki-laki berambut raven itu buka suara. "Kau suka rasi bintang apa Sakura?" tanya Sasuke. Sakura menyeruput teh lemon miliknya dan menjawab, "Semua, karena jika salah satunya hilang, langit akan kosong," gadis itu kembali menyeruput cairan dari dalam cangkir tersebut.
"Benar juga," ucap Sasuke sambil mengacak rambut Sakura. "Ayo masuk, sudah malam, nanti flumu tidak segera sembuh lagi," gadis itu mengangguk dan mereka pun mulai beranjak dari dalam gazebo menuju rumah.
Sesampainya di kamar, Sakura tidur di bagian ranjang yang bersebelahan dengan tembok sementara Sasuke tidur di sampingnya. Mereka tidur dengan hanya dibatasi sebuah guling putih yang tadi siang Sakura gunakan untuk menimpuk kepala Sasuke.
"Hei, tidurlah," laki-laki bermanik obsidian itu berujar dengan tangan mengelus kepala Sakura. Gadis itu pun mengangguk dan terlelap dengan cepat. Sasuke yang menyadari itu, menaikkan selimut Sakura sampai ke leher gadisnya. Setelah itu ia segera mengikuti gadis itu ke alam mimpi dengan posisi lengan yang menutupi kedua matanya yang terpejam.
.
(INTERVIEW)
"Bagaimana hari itu menurutmu?"
"Sangat menyenangkan," jawab gadis itu.
.
"Aku menyukainya,"
"Kenapa?"
"Karena menghabiskan waktu seharian dengannya membuat bebanku seolah terangkat," laki-laki itu terlihat mengulum senyum.
.
Layar TV itu menampilkan Sakura dan Sasuke yang tengah terlelap seraya menggenggam tangan masing-masing dengan posisi saling berhadapan. Di layar itu pula, muncul sebuah tulisan berwarna putih yang berbunyi, "Dan kita akan saling membagi kebahagian bersama, di pernikahan kita…" lalu diikuti sebuah tulisan lainnya, "…Hingga akhir." yang menandakan selesainya episode ketiga dari variety show G2M ini.
.
E P I
SODE
#3
E N D
.
Gadis berambut hitam itu langsung mematikan TV 21 inch miliknya dan membereskan sampah makanan serta kaleng minum yang sedari tadi menemani dirinya menonton Go Go Married. Perempuan itu kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.
Sesampainya di kamar dengan nuansa putih itu, si gadis berambut hitam tadi langsung menyalakan komputer miliknya dan menyalakan koneksi internet. Jemarinya dengan lincah menari di atas keyboard saat browser di layar komputer itu sudah menampilkan halaman website Mission for G2M! –yang hanya dibuka sebelum episode kelipatan empat berlangsung, pada bagian kolom missBOXion. Setelah selesai menyumbmit misi tadi, ia segera menutup browsernya dan berharap semoga misinya bisa terlaksana.
.
A/N:
Gary Stu: perfect.
Oke seharusnya diupdate hari Sabtu malam, tapi karena saya bakal sibuk akhirnya saya ngebut menyelesaikan episode tiga hari ini. Yosh! Saya gila selama beberapa hari belakangan karena kelewat sibuk dan parahnya, saya juga belum punya ide untuk episode tiga ini. alhasil, saya harus berulang kali ngubek-ubek youtube, nginget-inget scene romantis drama korea yang pernah saya tonton, muter balik otak dengan mikir apa hal romantis yang bisa dilakuin sepasang kekasih. Omaigad dan jadilah fic seperti ini. apa aneh? alur kecepeten? kurang memuaskan? belum panjang? romancenya kurang? amburadul? Aduh, maaf ya : ( saya sudah berusaha di antara waktu yang sibuk ini. huhuuuu ;_;
Dan untuk kepentingan episode selanjutnya, Apa yang kalian mau tanyakan tentang Sakura dan Sasuke di sini? boleh lebih dari satu pertanyaan kok, misalnya: Sasuke lebih memilih tomat atau cherry (Sakura)? Kapan kalian akan berlibur lagi? pertanyaan nyentrik juga diterima dengan lapang dada. Khukhu~
Jadi saya mohon bantuannya ya^^
Oke, balas review:
Mimi: mungkin agak berbeda ya atau sama? Kalau acara itu mungkin tergolong reality show, sementara WGM ini adalah variety show^^ hehehe terimakasih reviewnya.
Kitty Kuromi: gakpapa^^ ini sudah dilanjut, terimakasih reviewnya hehehe
sasa-hime: iya terinspirasi dari WGM^^ wah, banyak yang suka sweetpotato ya, saya khuntoria nih heheh… termakasih reviewnya.
Matsumoto Tsuki: terimakasih reviewnya khukhukhu… ya, syukur kalau terkesan manis :3 saya bikinnya sampai ngobrak-abrik otak /lebay
Zia-kun: terimakasih ya reviewnya^^ iya makasih ya atas pengertiannya heheh. Syukur kalo enggak terkesan memaksa khukhukhu…
Uchiha Athena: iya^^ victoria, tapi kayaknya lucu ya, rambut pendek Sakura di kucir ke samping khukhu^^ terimakasih reviewnya…
Mameha: terimakasih reviewnya. Ah, kita sependapat. Saya juga jadi bingung ini saya pakai karakter Sasuke atau Sai, tapi ini sudah saya reduce lho OOC-nya, bagaimana? Maaf ya kalo kurang memuaskan *bungkuk-bungkuk*
hime hime chan: amin, semoga BTSnya bisa dibuat segera khukhukhu^^ dan syukur kalau sudah paham. Ehm, terimakasih ya reviewnya :3
Rei Fujisaki 27: benaaaaar^^ G2M ini hanya naskah saja, tapi mereka hanya diberi arahan, bukan teks naskah segepok untuk dihafalkan khukhu~ terimakasih ya reviewnya… soal suka atau enggak, saya sangat mengusahakan iya karena di bio saya tertulis kalo saya ini hardcore savers kekeke^^
Lrynch Fruhling: ah ini sudah saya panjangin lho, bagaimana? Kurang panjang?._. kekeke dan di sini saya mengusahakan Sasuke IC, tapi entah tetep OOC atau enggak khukhu… terimakasih ya reviewnya^^
Neerval-Li: ah, terimakasih ne untuk reviewnya, hm, iya ya… mereka memang belum romantis ;_; tapi makasih ya karena kesetujuan anda untuk OOC walaupun saya tetap harus pelan-pelan menguranginya. Belum kok^^ kalau ide lancar saya memang bisa ngetik cepat, kalau macet ya kayak ini, beberapa hari aja gak selesai-selesai khukhu~
R'Fee: ini sudah diupdate… terimakasih ya reviewnya. Uh, iya tapi kalo gak stay cool lagi… saya bisa dibakar Sasuke FC, padahal saya ini penganut 4S… Siksa Sasuke Semakin Seru kekeke
Xyz: iya terimakasih ya reviewnya^^
forhead and chickenbutt x3: terimakasih ya^^ syukur kalo sweet khukhu…
Sung Rae Ki: santai… saya sudah mempersiapkannya kok heheh^^ untuk adegan cemburunya khukhu… terimakasih ya reviewnya… ini sudah update heheh
TheIceBlossom: saya juga suka adegan itu! *berasa Dora xD* iya amin ya semoga BTSnya jadi *ngesot* terimakasih reviewnya^^
Anon: iya terimakasih ya^^ ini sudah update
Reflies: terimakasih ya reviewnya^^khukhu…
Connince; gakpapa^^ terimakasih ya reviewnya… ehm, saya juga suka bagian itu… khukhu Xd
uchiha reya: hm, sebenernya saya bukannya mau bikin fic ini lho, tapi mengenai school-fic tapi karena saya gak bisa dan selalu macet, akhirnya saya milih untuk pakai plan B ini khukhu^^ terimakasih ya reviewnya…
snout: sudah dilanjut, terimakasih reviewnya^^
oke, done. Terimakasih juga ya untuk silent reader^^ apa tidak berniat untuk ngobrol dengan saya xD kekeke ya sudahlah. Kritik, saran, tanggapan, perbaikan, protes, flame, cacian, makian? I open it widely :3
REV
IEW
